Lebih untuk Dikasihi


Setelah mempelajari Alkitab selama dua minggu itu, saya sangat merasakan bahwa Allah tidak begitu suka dianalisa. Ia jauh lebih suka untuk dikasihi. Hampir setiap halaman firman-Nya berdesir dengan pesan ini” (Philip Yancey).

Membaca bukunya Philip Yancey yang berjudul ”Kekecewaan terhadap Allah”, betul-betul memaksaku untuk bertekun dalam refleksi demi refleksi. Dengan sangat baik, Philip Yancey telah membahasakan dan menyuarakan pengalaman-pengalaman orang-orang percaya di dalam suatu jalinan kalimat yang menarik dan menyentuh! Yah, setidaknya bagiku yang melankolik-sanguin, tapi entahlah bagi seorang analisator ulung. Bagaimana tidak?! Yancey telah menuliskan pengalaman-pengalaman yang mewakili perasaanku sendiri di sela-sela waktu di masa lalu tentang Allah yang kubaca dalam Alkitab, yakni tentang Allah yang memiliki perasaan mendalam; Allah yang dapat mengecap kebahagiaan, frustasi, amarah, menangis, dan meratap sedih; Allah yang tertegun menyaksikan manusia ciptaanNya menyembelih, membakar, mengorbankan anak-anak mereka; suatu antropopatisme (dimana Allah menggunakan emosi manusiawi untuk menjelaskan keberadaanNya) yang tentunya menunjuk pada realita yang lebih keras lagi; suatu Allah yang romantis, penuh kasih, namun juga menggetarkan, adil-bijaksana, dan mengagumkan!

Desiran pesan Alkitab yang mengingatkan bahwa Allah lebih suka dikasihi ketimbang dianalisa, kemudian menghantar Yancey untuk belajar berempati kepada Allah; suatu ajakan untuk merenungkan, “bagaimana rasanya menjadi Allah?” Suatu ajakan yang membawa Yancey untuk memulainya dari Kitab Kejadian. Dengan kreatif Yancey menunjukkan disana, bagaimana ungkapan ”sungguh amat baik” (Kejadian 1:31) untuk menggambarkan perasaan Allah atas segala yang telah dibuatnya, telah menjadi suatu ungkapan yang sesungguhnya penuh dengan passion dan antusiasme, kegembiraan permainan, kegirangan dan sukacita, lucu dan humoris, sebegitu meriahnya sampai-sampai penulis Amsal mengembangkan irama keriangan itu dengan kalimat berikut ini ketika menggambarkan hikmat Allah dalam penciptaan, “Aku ada sertaNya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenanganNya, dan senantiasa bermain-main di hadapanNya; aku bermain-main di atas muka bumiNya dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku” (Amsal 8:30 – 31).

Semua keriangan akan penciptaan di atas, kemudian disimpulkan Yancey dengan mengutip perkataan seseorang bernama Loren Eiseley, “di dalam inti alam semesta ada sebuah senyuman, sebuah getar sukacita yang diwariskan mulai sejak saat penciptaan. Seorang ayah atau ibu baru yang sedang mendekap erat seorang bayi, bayi saya, untuk pertama kalinya, tahu betul bagaimana rasanya. Dan seperti itulah perasaan Allah pada saat Ia memandang pada ciptaanNya dan menyebutnya baik. Pada mulanya, tidak ada kekecewaan. Yang ada hanyalah sukacita saja.

Allah melanjutkan karya seniNya, dengan menetapkan pilihan-pilihan! Untuk menghasilkan suatu karya, harus ada pembatasan; segala alternatif lain harus disingkirkan, agar sesuatu itu tercipta sebagaimana yang aku kehendaki untuk ciptakan! Bagaikan seorang penggambar, yang memutuskan untuk menggambar sesuatu, lalu ia mengambil sebatang pensil, dan hanya gambar hitam putihlah yang dapat dihasilkannya dengan pensil itu, tidak lebih! Demikian Allah mencipta! Yancey menulis, “Bersama setiap pilihan bebas, keterbatasan mengikuti juga.” Allah memilih untuk mencipta sebuah dunia dengan ruang dan waktu, suatu ”media” dengan batasan-batasan khas, dimana A dilanjutkan dengan B, lalu kemudian C, dan seterusnya. Dengan lebih jelas, Yancey melukiskan fakta ini dengan menulis, “Berfirmanlah Allah, hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup. Di balik kalimat ini tercakup ribuan keputusan: ikan dengan insang, dan bukannya paru-paru, dengan sisik dan bukannya bulu, dengan sirip dan bukannya kaki, dengan darah dan bukannya getah. Pada setiap taraf Allah Sang Pencipta itu menentukan pilihan sambil menghapuskan alternatif.

Sampailah kemudian Allah menciptakan manusia; sebuah keputusan yang beresiko. Karena di dalam kedaulatanNya, Allah memilih menciptakan manusia dengan kehendak bebas, dengan resiko bahwa mahluk yang bebas ini, akan dengan bebas pula mengkhianatiNya; meludahi wajahNya; menghinaNya hingga berkali-kali; tidak tahu berterimakasih; tidak menunjukkan hormat yang sepatutnya Allah terima; bahkan menolak pemberian terbesarNya; jalan satu-satunya yang masih Allah perkenankan untuk tersedia bagi keselamatan manusia, yaitu Putera Tunggal Sang Bapa sendiri, Yesus Kristus!

Doa: Tolonglah hambamu ini untuk hanyut dalam antusiasmeMu; gembira dalam kegembiraanMu; bergelak tawa dalam humor dan keramahanmu; menikmati ciptaan ini sebagai hasil karya seniMu yang membuatku mengagumiMu senantiasa; dan semakin menghargai akan semua pemberianMu; terutama Putera TunggalMu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s