Mempertanyakan Saksi Yehuwa [dan Yahweisme]


Aku dapat berharap supaya (istilah-istilah Latin untuk menjelaskan Tritunggal) itu dikuburkan saja, hanya jika di tengah-tengah semua orang iman yang berikut ini disetujui: bahwa Bapa dan Anak dan Roh Kudus adalah satu Allah, namun pada saat yang sama Anak bukanlah Bapa, Anak itu juga bukan Roh, tetapi mereka dibedakan oleh satu kualitas yang istimewa/khas” (John Calvin dalam Institutio).

Selama dua hari batinku bergulat dengan Galatia pasal 1 dan 2 yang telah kubaca kemarin. Apa yang sebenarnya Tuhan hendak ajarkan kepadaku melalui kedua pasal itu. Aku semakin merasakan pentingnya untuk menggumuli bagian tersebut, terutama setelah perjumpaanku dan percakapanku dengan para pengikut Saksi Yehuwa sehari sebelumnya.

Dengan jelas, Galatia 1 menyatakan keheranan Paulus atas sikap jemaat di Galatia yang dengan segera berpaling dari Injil yang sejati. Galatia 1:6–7 mencatat kegusaran Paulus demikian, “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus.” Dengan tegas, Paulus menekankan dalam dua ayat berikutnya bahwa siapa pun atau apa pun yang menyampaikan Injil lain, yang tidak seperti Paulus atau para rasul ajarkan, maka ‘terkutuklah dia!’

Isi Majalah Menara Pengawal yang diberikan oleh pengikut-pengikut Saksi Yehuwa itu kepadaku, diawali dengan tulisan yang berisi kritikan mereka terhadap praktek kekristenan “arus utama” yang telah berkembang luas selama ini, yang dengan sengaja tidak menggunakan istilah “Yahweh” untuk menyebut Allah, melainkan menggantinya dengan kata “adonai” atau “kyrios” (Tuhan). Padahal Paulus sendiri menyebut Allah yang sejati itu dengan sebutan “kyrios” (terutama menunjuk kepada Yesus, di dalam pengenalan Paulus bahwa Yesus itu sendiri memang adalah Tuhan). Demikian pengajaran para Saksi Yehuwa tidak berkesesuaian dengan Injil yang dibawa Paulus, dan bagi Paulus itu hanyalah bentuk dari Injil lain yang tentangnya Paulus berkata, “terkutuklah!” (Bukan saya yang berbicara, tapi Tuhan melalui Paulus)

Sebenarnya mengenai “keberanian” Saksi Yehuwa [dan juga para penganut Yahweisme] dalam mengklaim penggunaan nama “Yahweh” saja, sudah mengundang tanda tanya bagiku, karena ketika Perjanjian Lama itu sendiri diwariskan kepada umat percaya dari mulanya, kitab itu diwariskan sebagai kumpulan kata dan kalimat yang tidak mengandung huruf hidup! Jadi bahkan para teolog pun tidak bisa memastikan pengucapannya yang sebetulnya, apakah Yahweh ataukah Yehova.

Aku mempertanyakan keberanian para pengikut Saksi Yehuwa untuk “ngotot” menyebut NAMA Yahweh. Tidakkah mereka mengerti bahwa dalam kebudayaan Timur Dekat Kuno (konteks dimana Alkitab Perjanjian Lama ditulis dan kisah-kisah Alkitab Perjanjian Lama terjadi), “pemberian” nama kepada satu mahluk menunjukkan penguasaan atas mahluk itu. Ketika dalam Kejadian 2, TUHAN Allah membawa binatang-binatang kepada Adam untuk Adam namai, itu berarti TUHAN Allah mempercayakan otoritasNya atas binatang-binatang itu kepada Adam. Juga ketika orangtua memberi nama anaknya, bukankah itu berarti menunjukkan bahwa orangtua berkuasa di atas anaknya. Nah, TUHAN Allah tidak mungkin dikuasai siapapun, apalagi oleh ciptaanNya. Bahkan ketika TUHAN Allah memperkenalkan diri kepada Musa, Ia hanya memperkenalkan diriNya sebagai “Aku, ya, Aku“; “Akulah Dia“; YHWH. TUHAN Allah tidak akan membiarkan diriNya dikuasasi siapapun. Kalau sekarang, Saksi Yehuwa “ngotot” menyebut nama YHWH, tidakkah itu berarti mereka sebetulnya berniat menguasai TUHAN Allah? (Mereka tentu akan menyangkal ini; tetapi perbuatan mereka mengindikasikan itu).

Biarkanlah TUHAN menjadi TUHAN! Masih untung TUHAN Allah itu beranugerah memperkenalkan diriNya kepada kita dengan sebutan-sebutan yang menunjukkan PribadiNya berdasarkan pekerjaanNya: YHWH Rapha; YHWH Nissi; dsb. AnugerahNya yang besar menjadi lebih nyata lagi ketika TUHAN Allah, tidak hanya merendahkan diri dalam perkara sebutan bagiNya saja, Allah Bapa bahkan mengutus Putera TunggalNya turun ke dunia, dan diperkenalkan dengan nama yang dapat kita panggil setiap saat di dalam kasih-kekaguman dan kegentaran, yaitu YESUS KRISTUS. Nama YHWH adalah nama Perjanjian (Kovenan) yang TUHAN Allah nyatakan kepada Israel. Sebelumnya, Ia dipanggil dengan sebutan umum, Elohim. Namun kita harus ingat, bahwa dalam Yehezkiel dan Yeremia 31, ada janji tentang Perjanjian Baru (Kovenan Baru), dan penyataan TUHAN Allah mencapai puncaknya dalam satu nama Pribadi, yaitu Yesus Kristus. Itulah nama yang menurut Surat Kisah Para Rasul 4:12, “di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.

Tapi seharusnya kita sadar bahwa itupun karena perkenananNya saja. Sebetulnya kita tidak layak menerima apapun pernyataan DiriNya. Orang Yahudi sangat menghormati TUHAN Allah, karena itu mereka sadar bahwa mereka tidak cukup suci untuk berani menyebut YHWH. Mereka menggantinya dengan Adonai. Tetapi para pengikut Saksi Yehuwa dengan berani menyebut nama YHWH (dan jangan-jangan juga menilai bahwa orang Kristen seluruhnya tersesat dan menyembah berhala).

Di dalam percakapanku dengan Saksi Yehuwa, mereka mengklaim bahwa gereja Kristen “arus utama” yang telah berkembang selama ini, tidak lagi menguduskan nama Allah! Namun bagaimana mereka sendiri menguduskan nama Allah, apabila versi Inggris dari organisasi ini saja bernama “Jehova” witnesses dalam versi bahasa Inggrisnya, sedangan dalam versi Indonesianya bernama Saksi “Yehuwa”?! Jadi yang betul Jehova atau Yehuwa?!

Mereka juga mengklaim bahwa di dalam Doa Bapa Kami dinyatakan, “Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah namaMu, datanglah KerajaanMu”, dan berdasarkan kalimat doa yang diajarkan Yesus ini, maka Kerajaan Allah baru datang jikalau gereja mau menguduskan nama Allah itu! Namun tanda tanya di batinku kemudian muncul, apakah orang-orang Saksi Yehuwa itu menguduskan nama Allah dengan menafsirkan Doa Bapa Kami secara demikian? Mengingat Yesus mengajarkan kita berdoa dengan menyapa Allah sebagai Bapa, bukan Yehuwa! Dalam hal ini, Saksi Yehuwa tidak konsisten.

Di dalam Majalah Menara Pengawal, orang-orang Saksi Yehuwa itu juga mengambil ilustrasi keseharian yang menyatakan bahwa ketika kita diijinkan oleh seseorang untuk menyebut mereka dengan namanya, itu adalah kehormatan! Menurutku ini relatif. Temanku, seorang misionaris Amerika, memang tidak keberatan jika aku bisa memanggilnya dengan nama saja. Mungkin kedengaran lebih demokratis. Namun di pihak lain, di dalam pengalamanku sebagai orang Asia, seorang teman remajaku pernah menegur aku karena aku “di dalam kepolosanku” menanyakan nama dari seseorang yang usianya lebih tua di atasku! Menurutnya, itu tidak sopan! Bahkan ketika aku bergaul dengan orang Barat sekalipun, salah seorang temanku yang berasal dari Australia mengungkapkan perasaan senangnya ketika ada seseorang yang menyapa dia dengan “Sir” atau “Mister”, dan tidak langsung menyebut nama! Bahkan aku pernah mendapatkan sebuah informasi bahwa praktek di dunia Barat dimana seorang anak memanggil nama orangtuanya dengan nama saja, sebetulnya bukanlah sebuah praktek yang berlaku umum di kalangan orang-orang Barat. Di dalam sebuah film (yang bukan Kristen), diperlihatkan rasa bahagia seorang pria atau wanita, ketika anak angkatnya memanggilnya dengan sebutan “ayah” atau “ibu”. Dan memang, kita sebagai anak-anak angkatnya Allah (alias menjadi anak Allah karena adopsi), juga diajarkan oleh Tuhan Yesus untuk menyapa Allah dengan sebutan “Bapa”. Bahkan Yesus sendiri, Anak Tunggal Allah, yang berstatus “anak” bukan karena adopsi itu, menyapa Allah dengan sebutan “Bapa”.

Sebenarnya banyak lagi bantahan yang bisa diajukan kepada penafsiran-penafsiran Alkitab dari pihak Saksi Yehuwa. Ada satu buku bagus yang telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia, yang berisi kisah pertobatan dari salah seorang petinggi Saksi Yehuwa, beserta bantahan-bantahannya atas penafsiran-penafsiran pihak Saksi Yehuwa. Aku pernah memiliki buku itu, namun kemudian hilang entah kemana karena dipinjam orang. Sedangkan buklet terbitan Radio Bible Class yang berjudul “Apakah Orang Kristen Percaya Tiga Allah” juga menunjukkan kekeliruan tafsiran dari pihak Saksi Yehuwa terkait penolakan mereka terhadap Doktrin Tritunggal. Ada juga buku yang ditulis Ir. Herlianto, M.Th. berjudul, “Saksi Yehuwa: Apa dan Bagaimana Mereka?

Dan Surat Galatia pasal 1–2 sendiri memperlihatkan kepadaku usaha Paulus untuk menunjukkan kepada jemaat akan kesejatian Injil yang ia bawa. Kesejatian itu dilihat dari beberapa fakta berikut:

1. Bagaimana Injil itu telah diterima (Galatia 1:11–12). Paulus menyatakan bahwa Injil itu telah diterimanya melalui penyataan Tuhan Yesus sendiri kepadanya, dan bukan berasal dari manusia, dan bukan ia terima untuk menyenangkan manusia.

2. Siapa yang membawa Injil itu (Galatia 1:13–2:10). Injil itu sendiri tidak terlepas dari siapa yang membawa Injil itu.

a. Kuasa yang telah dihasilkan Injil itu dalam kehidupan si pembawa (Galatia 1:13–24). Paulus menyaksikan bagaimana Injil itu telah mengubahkan hidupnya secara radikal! Ada kuasa luarbiasa di dalam Injil yang ia beritakan; sebuah kuasa yang mentransformasi secara radikal kehidupan seseorang! Dan perubahan ini adalah perubahan yang disaksikan banyak orang, dan membawa kemuliaan Allah, mengingat ada seorang penganiaya Injil, kini justru menjadi pembela Injil yang paling gigih yang pernah ada!

b. Pengutusan yang jelas dalam diri si pembawa, berkenaan dengan penyebaran Injil itu (Galatia 2:1–10). Injil sejati yang diterimanya itu juga bukan Injil yang membawa Paulus untuk hidup pasif dan “biasa-biasa saja”. Injil sejati itu menghasilkan visi baru! Sebuah visi yang spesifik, dan bersifat misioner! Injil yang mencerminkan kasih Allah kepada dunia yang berdosa ini! Injil yang menghasilkan pengutusan, tak peduli apapun tantangannya, demi membawa dunia yang jatuh kembali kepada PenciptaNya.

3. Pemurnian yang muncul berkenaan dengan hadirnya Injil itu (Galatia 2:11–21). Injil itu tidak hanya mentranformasi secara radikal kehidupan si pembawa, namun juga membawa tranformasi kepada kehidupan di sekitar si pembawa! Injil sejati menghasilkan transformasi sosial! Injil sejati menyingkapkan dan mengkoreksi dosa-dosa struktural! Injil sejati menerobos dunia yang berdosa untuk menghadirkan shalom Allah seutuh-utuhnya di dalam segala area hidup! Jadi Injil sejati tidak hanya membawa pemulihan hubungan manusia dengan Allah saja, namun juga hubungan manusia dengan dirinya sendiri; dengan sesamanya manusia; dan dengan seluruh alam ciptaan lainnya. Injil yang sejati bersifat holistik!

Bagaimana dengan Saksi Yehuwa?! Siapakah pembawa ajaran ini dan bagaimana kesaksian hidupnya?! Bagaimanakah dengan koreksi demi koreksi dalam pengajaran mereka tentang tanggal kedatangan Tuhan; tentang relasi dengan pemerintah; dan entah apa lagi?! Bukankah dahulu Saksi Yehuwa mengajarkan bahwa orang tidak boleh menghormat kepada bendera negara?! Apakah ini suatu Injil yang bersifat holistik?! Bandingkan dengan Injil yang dibawa oleh Paulus! Bandingkan dengan Injil yang diproklamasikan oleh para reformator gereja, seperti Martin Luther dan John Calvin!

Doa: Biarlah terangMu menerangi kami, ya, Tuhan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s