0

Apa yang Kita Pelajari dari Buku ‘Mengenal Allah Lebih Dekat’


Bab 4: Allah Menyelamatkan Orang Berdosa.

  1. Apa sebetulnya realita kehidupan kita? Dalam bab ini kita dibukakan fakta bahwa kita semua adalah orang berdosa (Roma 3:23), dan sebagai orang berdosa kita mengalami kematian rohani (bdk. Efesus 2:1). Anak Allah diutus dan dilahirkan ke dunia, lalu dinamai Yesus karena Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa (Mat.1:21); dan itu semua Ia lakukan karena Allah Bapa begitu mengasihi ciptaanNya (Yoh.3:16).
  2. Bagaimana Yesus menyelamatkan kita? Dengan memberi diriNya mati untuk segala dosa kita; Ia memikul dosa kita; Ia menggantikan kita, agar kita dipulihkan; hidup untuk kebenaran; dan dapat dibawaNya ke Sorga (1Pet.3:19; 2:24).
  3. Bagaimana kita menerima keselamatan yang Ia telah kerjakan? Dengan percaya atau beriman kepada Dia (Roma 10:9-10; Efesus 2:8-9), dan berhenti mengandalkan perbuatan baik kita atau usaha kita sendiri.
  4. Apa yang Allah janjikan kepada kita pada detik kita percaya? (Yoh.5:24). Pertama, kita tidak turut dihukum bersama dunia ini; Kedua, beroleh hidup kekal; dan Ketiga, pindah dari dalam maut kepada hidup.

Bab 5: Jaminan Keselamatan

  1. Apa yang Tuhan janjikan kepada murid-muridNya?
    Yesus berkata-kata kepada kita, mengenal kita, dan memimpin kita. Dan Ia pasti memberikan hidup kekal, supaya murid-muridNya tidak binasa sampai selama-lamanya/terpelihara imannya (Yoh.10:27-30).
  2. Apa tanda yang menjadi bukti bahwa kita akan menerima apa yang dijanjikan kepada kita?
    Roh Kudus menjadi materai ketika kita percaya kepada Yesus; Roh Kudus menjadi semacam uang muka (down payment. Yun.: Arabon); Roh Kudus menjadi jaminan bahwa  kita akan menerima sepenuhnya keselamatan/penebusan itu kelak (Efesus 1:13-14).
  3. Apa yang kita harus lakukan setelah diselamatkan?
    Mengerjakan (mengisi) keselamatan itu dengan takut dan gentar kepada Tuhan; kita harus terus bertekun. Dan kalaupun kita dapat menghendaki dan mengerjakan semuanya ini, itu adalah karena sesungguhnya Allah yang bekerja di dalam kita (Filipi 2:12-13).

Bab 6: Roh Kudus dan Lahir Baru

  1. Bagaimana kita mengalami keselamatan dari Allah?
    Bukan dengan perbuatan baik kita, tetapi karena Allah melahirbarukan kita oleh Roh Kudus; Allah menghidupkan kita dari kematian rohani (Titus 3:5; Yoh.3:5; Yeh.36:25-27).
  2. Mengingat saya sudah pernah dilahirkan dari benih ayah biologis saya, maka dari benih apa lagi saya dapat dilahirkan kembali?
    Dari benih yang tidak fana, yaitu Firman Allah yang hidup dan kekal (1Pet.1:23).
  3. Apa yang terjadi dengan diri kita ketika Allah melahirbarukan kita?
    Menjadi ciptaan baru (2Kor.5:17).
  4. Mengapa penting untuk kita dilahirkan kembali dari Allah?
    Karena kita sudah mati rohani akibat keberdosaan kita, karenanya untuk beroleh kehidupan kekal, hanya Allah yang kekal dan Maha Pencipta yang mampu menghidupkan apa yang mati itu (Efesus 2:1).
  5. Kehidupan macam apa yang seharusnya nampak dari hidup kita yang ‘katanya’ sudah dilahirkan baru?
    Kita harus hidup menghasilkan buah-buah pertobatan kita (Matius 3:8).

Bab 7: Iman Sejati vs. Iman Semu

Apa yang saya dapat pelajari dari tokoh Zakheus (Lukas 19:1-10) dan dari tokoh anak muda kaya (Markus 10:17-22) tentang iman?

  • Baik Zakheus maupun anak muda kaya itu sama-sama Yahudi; sama-sama kaya, dan sama-sama berlari mendekati Yesus.
  • Perbedaannya, anak muda kaya datang menghampiri Yesus dan mengambil sikap tubuh ‘merendah,’ tapi hatinya tidak mau ‘merendah’ dalam relasi vertikalnya dengan Allah (ia sudah merasa cukup bermoral dalam memenuhi hukum-hukum terkait relasi antar-manusia/horizontal), dan ia berharap dengan itu, sudah cukup untuk diterima dalam relasi vertikalnya dengan Allah. Namun Yesus berhasil menunjukkan bahwa hartanyalah yang menjadi ilah dari anak muda kaya itu, bukan Allah sejati. Anak muda kaya ini belum sungguh-sungguh memiliki iman sejati, karena yang ia andalkan bukanlah Allah sejati.
  • Sedangkan Zakheus, kebalikan dari anak muda kaya tadi. Ia menghampiri Yesus bukan dengan tubuh merendah, tapi justru ‘meninggikan’ dirinya dengan naik pohon (bukan dalam artian sombong, tapi karena ingin tahu seperti apa Yesus itu, mengingat badannya pendek). Ketika Yesus ‘membuka pintu’ (kesempatan) untuk terjadi persekutuan dengan Zakheus, Zekheus meresponinya dengan ‘membuka pintu’ rumahnya; satu harta yang bersifat sangat pribadi. Zakheus makan bersama Yesus, dan makan bersama merupakan lambang persekutuan.
  • Keterbukaan Zakheus kepada Yesus Kristus menunjukkan iman sejatinya, dan kerinduannya untuk mengalami pembaruan dari kehidupannya yang berdosa.

Bab 8: Siapakah Orang Kristen Itu?

    1. Siapa dan memiliki ciri seperti apakah orang Kristen itu?
      Orang yang disebut Kristen adalah orang yang sama yang disebut murid (Kis.11:26). Kristen artinya pengikut Kristus, dan ini memiliki pengertian yang sama dengan kata ‘murid’, karena murid artinya pengikut. Orang Kristen artinya murid Kristus. Orang Kristen/Murid Kristus, menampilkan ciri: (1) Memberitakan Injil bahwa Yesus adalah Tuhan (Kis.11:19-20); (2) Tangan Tuhan menyertai mereka (Kis.11:21); (3) Setia kepada Tuhan (Kis.11:23); (4) Tekun belajar Firman (Kis.11:26, sampai satu tahun lamanya).
    2. Apa ciri utama orang Kristen?
      Saling mengasihi seperti Allah telah lebih dahulu mengasihi kita (Yoh.13:34, 35).
    3. Apa identitas kita di hadapan Allah, dan bagaimana cirinya?
      Kita dikenali Allah sebagai domba-dombanya, dan identitas itu dapat nyata terlihat dari perilaku kita kepada sesama, yaitu memperlakukan sesama kita seperti kita ingin bersikap kepada Tuhan kita (Matius 25:31-46).

Bab 9: Syarat-syarat Menjadi Murid

  1. Sikap mendasar apa yang perlu kita miliki sebagai murid Yesus?
    Sikap miskin di hadapan Allah. Orang yang miskin adalah orang dalam kondisi yang bergantung kepada pertolongan pihak lain yang lebih mampu. Jadi miskin di hadapan Allah, artinya bergantung kepada Allah. Makin dewasa rohani seseorang, maka ia semakin menjadi seperti kanak-kanak di hadapan Allah, yaitu punya sikap hidup bergantung kepada Allah. Dalam hal keselamatan kita bergantung kepada Allah (tidak mengandalkan kekuatan kita), demikian juga dalam menghidupi keselamatan, kita pun tetap bergantung kepada Allah, sampai nafas ini berhenti (Matius 5:3).
  2. Sikap apa yang menjadi wujud konkret bergantung kepada Allah sebagai murid Yesus?
    Sikap bergantung kepada Allah bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Melainkan memiliki sikap menyangkal diri atau menyangkal ke-AKU-an kita, dan memikul salib Tuhan. Menyangkal diri dan pikul salib, artinya mati bagi diri sendiri dan hidup bagi Allah; artinya say no to ourself, dan say yes to God; artinya not depending to our own agenda, melainkan depending to God’s perfect agenda, to God’s time, and in God’s way (Matius 16:24).
  3. Sikap apa lagi yang harus ada dalam diri seorang murid Yesus?
    Roma 12:1 dimulai dengan frasa, “Karena itu.” Maksudnya, ada kaitan penjelasan di Roma 12:1 ini dengan 11 pasal sebelumnya. Kesebelas pasal sebelumnya membahas tentang doktrin Kristen, utamanya doktrin keselamatan. Nah, setelah dalam 11 pasal kita belajar doktrin, sekarang apa aplikasinya? Frasa ‘karena itu’ menjadi semacam pintu pembuka yang menyatakan ‘what next’ setelah kita belajar doktrin. Apa aplikasi dari 11 pasal doktrinal yang sudah dipelajari? Nah, dalam 12:1 inilah kita menemukan aplikasi awal. Kita diminta mempersembahkan tubuh kita sebagai: (1) Persembahan hidup (karena sudah ada tubuh yang terpecah dan mati bagi kita, yaitu tubuh Yesus Kristus), dan persembahan hidup artinya kita sepenuhnya ada untuk Allah; (2) Persembahan yang kudus, artinya kita dipisahkan atau dikhususkan bagi Allah, bukan artinya kita menarik diri dari keramaian dan semedi, tetapi memiliki gaya hidup yang berbeda; dan (3) Berkenan kepada Allah, artinya menyenangkan Allah. Kalau hanya berhenti pada gaya hidup berbeda, maka orang Farisi pun melakukannya. Kita harus memiliki sikap hati yang rindu selalu menyenangkan Allah, dan bukan sekadar mengubah perilaku atau gaya hidup (Roma 12:1).

 

Iklan
0

Ulasan Buku: John Calvin: Sebuah Hati untuk Ketaatan, Doktrin, dan Puji-pujian


John Calvin: Sebuah Hati untuk Ketaatan, Doktrin, dan Puji-pujian oleh Burk Parsons, editor. Surabaya: Momentum, 2014. xxviii + 264 halaman. Rp. 97.500,- (harga Jayapura)

John Calvin Sebuah Hati untuk Ketaatan, Doktrin, dan Puji-pujian

Meminjam kata-kata endorsement yang ditulis oleh John Blanchard, buku ini “menyingkapkan Calvin bukan sebagai seorang penghasut doktrinal, tetapi sebagai seorang pendeta yang penuh kasih, penginjil yang penuh semangat, dan konselor yang simpatik, dan di atas segalanya, sebagai seseorang yang peduli untuk menyerahkan seluruh pemikiran dan kehidupannya ke dalam ketaatan kepada Allah” (ii). Dan inilah pula keunggulan buku ini.

Buku ini berhasil menyingkapkan sosok Calvin, bukan hanya buah pikirannya, tetapi aspek-aspek kepribadian, pelayanan, dan kehidupannya yang tidak banyak dikenal orang. Seandainya saja setiap orang yang menuduh Calvin sebagai sosok yang dingin, kaku, bahkan kejam, mau meluangkan waktunya sejenak untuk membaca dan merenungkan isi buku ini, kemungkinan besar perspektif mereka tentang Calvin (bahkan mungkin Calvinisme) akan berubah.

Sebagai contoh, dalam kasus hukuman mati terhadap tokoh bidat anti-Trinitarianisme, Michael Servetus, pada tahun 1553. Para penuduh Calvin perlu membaca bab dua yang ditulis Derek W.H. Thomas terkait kasus ini. Thomas menjelaskan, “Hukuman matinya [Servetus] bukanlah sebuah contoh akan ketidaktoleransian Calvinisme, tetapi contoh dari penghakiman sipil abad ke enam belas di Eropa Tengah.” Lebih lanjut, “Dia [Servetus] telah dinyatakan bersalah oleh pengadilan sipil yang terdiri dari dua puluh lima orang, dan Calvin sendiri sudah menghabiskan berjam-jam dengan Servetus, dan mendorong dia untuk bertobat untuk menghindari keputusan yang terelakkan. Permintaan Calvin untuk hukuman mati dengan cara yang tidak terlalu menyakitkan (Servetus dibakar) ditolak. Para tokoh Reformasi yang dianggap lebih lunak, termasuk Martin Bucer dan Philip Melanchton, sepenuhnya menyetujui kematiannya” (25). Dan apabila ada orang yang masih menuduh bahwa kekristenan reformatoris tidak berperikemanusiaan, maka perlu diketahui bahwa ketika berada di wilayah kekuasaan Katolik, nasib Servetus pun tidak lebih baik. Mengapa? Karena perkara Servetus lebih terkait dengan gaya “penghakiman sipil abad ke enam belas di Eropa Tengah” (25).

Hati Calvin sebagai seorang pendeta sangat terlihat menonjol dalam buku ini. Kesalehan Calvin sebagai seorang pendoa disingkapkan dalam buku ini. Kecerdasannya sebagai intelektual Kristen tidak perlu diragukan lagi terpampang jelas dalam buku ini. Dan tidak salah jika buku ini memiliki sub judul: Sebuah Hati untuk Ketaatan, Doktrin, dan Puji-pujian, karena buku ini mengungkapkan fondasi rangkap tiga dari Calvinisme Calvin, yaitu “ketaatan, doktrin, dan puji-pujian – hati yang taat kepada Allah yang alkitabiah, pikiran yang mengejar doktrin yang alkitabiah tentang Allah, dan seluruh keberadaan kita diserahkan untuk memberikan puji-pujian bagi-Nya” (6).

Membaca tentang ketaatan Calvin dapat menjadi satu dorongan kesalehan bagi kita. Tulisan Harry L. Reeder, misalnya, menjadi salah satu bab yang dapat mengobarkan kembali semangat kesalehan kita, belajar dari teladan hidup seorang John Calvin. Reeder menulis, “Pelayanan yang mengubahkan dunia dan mentransformasi sejarah ini mengalir dari pembelajaran yang tekun, di mana seorang pria berlutut untuk membaca halaman-halaman Kitab Suci, mengemban beban kebutuhan orang-orang lain, dan dengan setia melayani Tuhan dan Juruselamatnya. Siapakah pria ini? Dia adalah John Calvin, sang pelayan gereja” (75). Sebelumnya Reeder menulis, “Luar biasanya, pelayanan penggembalaan yang mengubahkan dunia ini mengalir dari seorang pria yang ciri karakter utamanya adalah ketaatan” (74).

Terlepas dari kesalahan cetak kecil seperti yang terdapat di halaman 225 (kata ‘hukum’ dicetak ‘hokum’), secara keseluruhan buku ini sangat baik untuk menjadi pengantar bagi para pembaca pemula untuk mengenal sosok dan pemikiran Calvin, sebelum melangkah untuk membaca karya klasik tentang Calvin, seperti karya François Wendel, misalnya. Dan tidak hanya bermanfaat bagi para pembaca pemula, bahkan para pendeta pun dapat beroleh kekuatan dari buku ini, khususnya ketika membaca tentang figur Calvin sebagai “seorang pendeta bagi para pendeta” (74). Buku ini dapat menunjukkan teladan Calvin, bagaimana seorang pendeta reformatoris dapat menjalani panggilan pelayanannya.

Sebagai sebuah kumpulan esai dari banyak penulis, buku ini menawarkan kekayaan perspektif tentang Calvin. Bab pertama hingga bab delapan menggambarkan tentang sosok Calvin, terutama dalam pelayanan Calvin di Jenewa sebagai seorang pendeta. Bab sembilan hingga bab 19 menyingkapkan pikiran-pikiran Calvin tentang beragam topik, misalnya terkait soteriologi dan kristologi Calvin. Tulisan setiap bab yang tidak terlalu panjang (sekitar enam sampai sebelas lembar di setiap babnya), meringankan beban pembaca yang cepat bosan.

Tidak hanya mengungkap topik-topik doktrinal yang penting dan mendasar dalam teologi Calvin, buku ini juga menunjukkan hal-hal praktis yang penting bagi gaya hidup reformatoris. Dua hal tersebut misalnya terkait misi-penginjilan dan praktek doa. Sebagaimana diungkapkan Reeder, “Tuduhan stereotipikal yang paling diketahui adalah bahwa Calvin hanya peduli tentang doktrin dan tidak tertarik dengan penginjilan dan misi” (72). Ini tentu pandangan yang tidak tepat. Reeder menyingkapkan, “Semangat Calvin sebagai seorang pendeta/penginjil disingkapkan dalam banyak cara” (72), melalui kotbah, pengajaran di kelas katekisasi, kunjungan orang sakit, melatih para pengkhotbah untuk memberitakan Injil, dan bahkan mengutus misi ke luar negeri (72-3).

Terkait praktek doa, Calvin yang lebih banyak dikenal dalam penekanannya dalam kedaulatan Allah, menulis dalam salah satu tafsirannya, “Berhenti berdoa ketika Allah tidak menjawab doa kita dengan cepat merupakan tanda pasti bahwa kita tidak pernah menjadi umat percaya” (261). Dan “Bagi Calvin, doa tidak dapat dicapai tanpa disiplin. Ia menuliskan, ‘Jika kita tidak menetapkan jam-jam tertentu dalam satu hari untuk berdoa, hal ini akan mudah terlupakan’” (254). Seorang John Calvin adalah seorang intelektual Kristen, tetapi terlebih dari itu, ia adalah salah satu orang salehnya Tuhan.

Oleh: NT. Prasetyo

0

Ulasan Buku: A Short History of Christian Doctrine: From the First Century to the Present


A Short History of Christian Doctrine: From the First Century to the Present oleh Bernhard Lohse, Philadelphia: Fortress Press, 1985. xiv + 304 halaman.

A Short History of Christian Doctrine, Bernhard Lohse

Di bagian Prakata untuk Edisi Amerika tahun 1966, Lohse menulis bahwa tujuan dari buku yang aslinya berbahasa Jerman dan berjudul Epochen der Dogmengeschichte ini, tidak lebih dari sebuah upaya “to break new ground.” Apa maksudnya? Di dalam Pengantar untuk Edisi Amerika tahun 1985, Lohse menyatakan bahwa di sekitar tahun 1950–1960-an, di negeri-negeri berbahasa Jerman tidak ada buku tentang sejarah dogma yang muncul. Memang untuk dekade-dekade sebelumnya ada buku-buku tentang sejarah dogma, yang ditulis oleh sejarawan-sejarawan gereja yang hebat, seperti misalnya, Adolf von Harnack, Friedrich Loofs, dan Reinhold Seeberg. Namun di sekitar dekade awal dari abad ke-20 Masehi, tidak ada upaya baru yang telah dibuat untuk memaparkan keseluruhan sejarah dogma, setidaknya di dalam bahasa Jerman. Untuk mengisi kekosongan ini, seorang penerbit Jerman, Kreuz Verlag, mendorong Lohse untuk menulis sebuah buku, yang oleh Badan Penerbit Kristen [BPK] Gunung Mulia, edisi Indonesianya diberi judul Pengantar Sejarah Dogma Kristen (diterjemahkan oleh Dr. AA. Yewangoe).

Lohse menyanggupi, namun itu pun hanya membahas periode atau epos-epos yang Lohse pikir lebih penting untuk diketahui gereja secara keseluruhan. Dan tidak hanya menyajikan pandangan baru tentang dogma atau pun sejarah dogma, buku ini juga berupaya menyajikan pemahaman baru tersebut didalam sebuah garis besar (outline) sejarah dogma, dan kemudian mendemonstrasikan validitasnya. Itulah sebabnya buku ini dikatakan sebagai sebuah upaya “to break new ground.”

Lohse berharap, beragam upaya baru untuk memaparkan sejarah dogma akan membantu membangunkan kembali sebuah pemahaman tentang makna sesungguhnya dari dogma di dalam gereja Protestan. Upaya dan harapan inilah yang setidaknya dapat kita tafsirkan sebagai main-claim dari karya Lohse ini. Menurutnya, di dalam dogma-dogma gerejawi, kita telah mendapatkan satu warisan yang tidak boleh ditolak. Jika benar bahwa gereja di masa kita, satu dalam iman dan pengakuan dengan gereja para pendahulu kita, maka warisan ini harus diterima secara bertanggungjawab dan diperlakukan sebagai sesuatu yang instrinsically valid.

Sebagai pengantar, Lohse memaparkan terlebih dahulu pengertian dogma dan naturnya, serta sekilas tentang sejarah dogma. Menurut Lohse, pada masa modern orang mulai berpikir untuk terbebas dari dogma. Hal itu disuarakan bahkan oleh para ahli sejarah dogma seperti Adolf van Harnack. Ada setidaknya tiga alasan mengapa hal ini menjadi tuntutan: (1). Seringkali dikatakan bahwa seseorang dapat menjadi seorang Kristen yang baik dan tulus tanpa harus mempercayai dogma tertentu; (2). Dogma-dogma seringkali bertumbuh didalam satu situasi unik dan tak terulang lagi, dan bahwa dogma-dogma itu karenanya sangat bergantung pada konteks sejarahnya; (3). Seringkali dogma –di dalam satu pengertian yang ketat– tidak dapat dianggap lebih baik, jika dibandingkan dengan Alkitab itu sendiri.

Namun apa arti dogma itu sendiri? Lohse memaparkan beberapa pandangan tentang apa itu dogma baik menurut pihak Protestan maupun Katolik. Meskipun demikian, secara luas dogma dipahami sebagai proposisi doktrinal. Dan orang sering mengatakan bahwa keputusan Konsili Nicea pada tahun 325 Masehi adalah dogma yang pertama. Namun sebetulnya, melalui Konsili Nicea para bapak gereja lebih bermaksud untuk menetapkan sebuah pengakuan iman. Tokoh bernama Basil Agunglah yang untuk pertamakalinya pada pertengahan abad IV Masehi memperkenalkan pembedaan antara kerygma Kristen dan dogma-dogma di dalam pengertian proposisi-proposisi iman. Kemudian, signifikansi didaktik dari dogma ditekankan pertamakalinya di dalam Formula Chalcedon pada tahun 451 melalui perkataan, “Kami mengajarkan bahwa seseorang harus mengaku….

Lebih lanjut, Lohse membahas tentang infallibilitas dari dogma menurut pandangan Gereja Kuno, menurut pandangan Gereja Katolik dari abad pertengahan, maupun menurut pandangan Protestan. Menurut Lohse, Gereja Kuno tidak menganggap dogma memiliki sifat infallibilitas mutlak, karena bagaimana pun, terhadap dogma itu gereja masih bisa memberikan makna baru yang sebelumnya tidak dimiliki oleh dogma tersebut. Ini berbeda dengan pandangan Gereja Katolik di abad pertengahan yang berpandangan bahwa karena gereja adalah depositum fidei (yaitu pandangan bahwa kepada gereja telah dipercayakan harta kebenaran tertentu dimana tidak ada dari antara kebenaran itu dapat hilang), maka pada Konsili Trent dan pada Konsili Vatikan Pertama, Gereja Katolik mengklaim infallibilitas dari dogma-dogmanya. Tentang ini kemudian dibahas secara lebih mendalam oleh Lohse dalam Bab 7.

Pihak Protestan sudah tentu memandang konsep infallibilitas dogma menurut Gereja Katolik ini tidaklah valid. Luther dan para reformator memang mengenali adanya otoritas dari keputusan-keputusan konsili Gereja Kuno, namun mereka dapat melakukan itu karena mereka mengenali bahwa dalam isi keputusan-keputusan konsili itu, sesuai dengan Kitab Suci dan mewakiliki satu garis yang perlu untuk memberikan batasan melawan bidat-bidat. Konsekuensinya, para reformator seperti Luther, Calvin, dan Zwingli, memahami dogma hanya sebagai sebuah konfesi (pengakuan orang percaya). Karenanya menurut Lohse, di dalam gereja Protestan konsep tradisional dari dogma akan lebih baik untuk dipahami di dalam pengertian konfesi atau pengakuan doktrinal. Tentang ini kemudian dibahas secara mendalam oleh Lohse dalam Bab 8.

Lohse juga memaparkan tentang kesinambungan sejarah dogma yang berawal dari tantangan Kristus sendiri kepada para muridNya melalui pertanyaan, “Tapi katamu, siapakah Aku ini?” (Matius 16:15). Setelah kebangkitan Yesus dari kematian, doa-doa orang percaya yang tidak lagi tertuju hanya kepada Bapa melainkan juga kepada Yesus, membuka jalan untuk perkembangan dogma-dogma tentang Trinitas dan Kristologi. Adanya ritual baptisan, perjamuan Tuhan, pekabaran Injil dan misi gereja ke seluruh dunia, juga perjumpaan dengan dunia filsafat, semakin memajukan perkembangan dogma-dogma dalam gereja Kristen. Lohse mengakui bahwa dalam perkembangannya, dogma-dogma itu cenderung menuntun kepada iman yang kelihatan dari luar saja dan menjadi sebuah formulasi belaka, meski demikian tetaplah menjadi fakta bahwa iman tanpa dogma dan tanpa pengakuan, akan senantiasa berada dalam bahaya dimana seseorang tidak lagi betul-betul mengenal apa yang sesungguhnya ia percayai, dan akhirnya terjatuh pada level religiusitas belaka.

Dari sejarah perkembangannya, Lohse menilai bahwa semua dogma, berurusan dengan masalah-masalah sentral yang secara fundamental sangatlah penting di zamannya masing-masing, namun juga di masa depan; dogma dan konfesi menjadi satu bentuk katekismus dari kebenaran-kebenaran Kristen yang paling penting bagi orang-orang di zamannya masing-masing, namun juga di masa depan. Karenanya, orang percaya haruslah menaruh perhatian, baik kepada kesinambungan dari perkembangan dogma di masa lalu, namun juga kepada aktualitas dari pertanyaan-pertanyaan dan tugas-tugas yang ada di masa kita hidup.

Dan di dalam bab terakhir dari bukunya ini, yaitu Bab 9, Lohse memaparkan bagaimana gereja masih harus terus merespon pada tema-tema baru yang muncul terkait dengan iman Kristennya, misalnya saja tentang kesatuan gereja, sebagai Tubuh Kristus. Lohse mengingatkan –setidaknya sampai dua kali– bahwa generasi gerejawi masa kini, seperti halnya juga dengan para pendahulunya, diperhadapkan pada tugas untuk memberikan jawaban, baik melalui perkataan maupun perbuatan, atas pertanyaan Tuhan Yesus, “Katamu, siapakah Aku ini?” Jawaban atas pertanyaan ini harus diberikan di dalam cara yang baru, namun jika jawaban itu keluar dari iman maka akan menjadi jawaban yang satu dengan iman dan pengakuan para bapak-bapak gereja di masa lalu.

Lohse sendiri secara tegas tetap berpegang bahwa isi esensial dari pengakuan iman Kristen adalah iman kepada Allah Tritunggal, dimana secara khusus ketika berbicara tentang doktrin dosa dan anugerah, maka imannya berpegang pada doktrin Reformasi tentang Pembenaran oleh Iman. Dan di dalam semangat ekumenikal dari bapak-bapak gereja, di dalam bab-bab lainnya Lohse kemudian membahas sejarah perkembangan dogma-dogma Kristen seperti misalnya tentang kanon dan kredo; doktrin tentang Tritunggal; Kristologi; Doktrin Dosa dan Anugerah; Firman dan Sakramen; serta tentang Pembenaran (Justification).

Sesudah bab terakhir dari buku ini, Lohse kemudian mencantumkan tabel kronologis. Bagi pembaca yang memerlukan ringkasan sejarah ketika membaca bab demi bab, harus mau repot untuk membuka halaman-halaman bagian belakang dan membaca tabel kronologis ini, demi mendapatkan gambaran sejarah yang lebih jelas. Begitupula ketika menemukan kesulitan untuk memahami makna istilah tertentu di dalam tubuh utama tulisan, pembaca juga harus mau repot untuk membuka halaman-halaman di bagian belakang buku untuk membaca glosarium atau penjelasan istilah-istilah.

Untuk siapa buku ini ditujukan? Mengutip pernyataan penerjemah edisi Amerika tahun 1966, F. Ernest Stoeffler, meskipun buku ini memiliki nilai untuk dipelajari para ahli di dalam bidang sejarah, namun utamanya buku ini tidak ditulis untuk mereka. Menurut Stoeffler, Profesor Lohse mengalamatkan buku ini utamanya untuk memenuhi kebutuhan pembaca yang lebih luas di gereja kontemporer, yaitu orang-orang gereja, para pendeta, para mahasiswa teologia, dan orang-orang awam yang mempelajari teologi. Namun apabila pernyataan Stoeffler itu benar, yakni bahwa Lohse menujukan bukunya ini kepada pembaca yang lebih luas yang notabene bukan ahli sejarah, maka nampaknya orang-orang non-sejarawan itu harus berupaya untuk “mengunyah” isi buku ini, dan bukan sekadar “mencicipinya,” apabila ingin betul-betul menangkap maksud dari tulisan Lohse. Pastinya –sekali lagi– melalui buku ini Lohse berupaya menyajikan pandangan baru tentang dogma atau pun sejarah dogma di dalam sebuah garis besar (outline) sejarah dogma, demi membangunkan kembali sebuah pemahaman di tengah-tengah gereja Tuhan tentang makna sesungguhnya dari dogma di dalam gereja Protestan.

Oleh: NT. Prasetyo

0

Sejarah Terbentuknya Yayasan Kalam Kudus Indonesia (YKKI) cabang Keerom


Terbentuknya YKKI cabang Keerom, berawal dari keprihatinan rekan-rekan rohaniwan di Kabupaten Keerom (diantaranya Pdt. Soebandi dan isteri, Ev. Sayekti) atas kondisi TK-TK berlabel Kalam Kudus di wilayah Keerom (TK di Arso 3; di Arso 4; dan di Arso 11).

Awal tahun 2015, Ev. Sayekti mencoba menyampaikan keprihatinannya kepada rekan-rekan di Gereja Kalam Kudus Jayapura (GKKK) dan YKKI cabang Jayapura. Sampai akhirnya Senin, 6 April 2015, setelah persekutuan rutin rohaniwan di hari Senin, Ev. Sayekti bertemu dan mengadakan percakapan dengan PLT Direktur Pelaksana Sekolah Kristen Kalam Kudus (SKKK) Jayapura, Ibu Trifosa Lily Susanti, di kantor GKKK Jayapura. Ibu Trifosa Lily segera menindaklanjuti keprihatinan Ev. Sayekti tersebut dengan menghubungi Pengawas Pusat dari YKKI, Bpk. Ishak Montolalu.

Bersama Ibu Trifosa Lily, Pak Ishak segera menindaklanjuti dengan mengadakan SIDAK (Inspeksi Mendadak) sebanyak empat kali ke TK-TK berlabel Kalam Kudus yang ada di wilayah Keerom, masing-masing ke Arso 11 (Selasa, 7 April), ke Arso 4 (Selasa, 14 April), ke Arso 3 (Jumat, 17 April), dan terakhir ke Arso 11 kembali sekitar dua atau tiga minggu kemudian. Dan dari hasil sidak tersebut, diputuskanlah untuk diadakan pertemuan dengan rekan-rekan sepelayanan di Keerom, membicarakan dan merencanakan pembentukan Badan Pengurus (BP) YKKI cabang Jayapura.

Di pertengahan Bulan Mei, tepatnya pada hari Minggu, 24 Mei 2015, diadakanlah pertemuan perdana untuk membentuk rancangan kepengurusan BP YKKI di GKKK Jayapura Pos Pelayanan Arso 4. Adapun hasil rancangan awalnya adalah sebagai berikut:

Ketua                                                    : Bpk. Yakub (Arso 4)

Wakil                                                    : Pdt. Polikarpus Wopari

Sekretaris                                           : Bpk. Slamet (Arso 10)

Bendahara                                          : Ibu Hutabarat (Arso 10)

Bidang Kerohanian                         : Pdt. Soebandi (Arso 10)

Bidang Sumber Daya Manusia    : Bpk. Tabuni (Arso 11)

Bidang Sarana-Prasarana              : Bpk. Agus (Arso Swakarsa)

Bidang Pengembangan Pendidikan:

Bidang

Rancangan ini akan diajukan untuk disahkan oleh YKKI Pusat di Jakarta.

0

Ulasan Buku: Tertikam oleh Pemberontakan Kita


Tertikam oleh Pemberontakan Kita oleh Steve Jeffrey, Mike Ovey, dan Andrew Sach, diterjemahkan oleh Maria Fenita. Surabaya: Momentum, 2012. xviii+368 halaman. Rp.100.000,-

Melalui buku ini, tiga sarjana teologi dengan latar pendidikan doktoral berbeda, berupaya mewakili Kaum Injili membela Doktrin Substitusi Penal (7). Ketiga sarjana itu adalah Steve Jeffrey (Ph.D. dalam bidang Fisika dari Oxford University), Mike Ovey (Ph.D. dalam teologi Trinitarian dari King’s College di London), dan Andrew Sach (Ph.D. dalam bidang mekanisme otak dari University of York). Buku yang aslinya berjudul Pierced for Our Transgressions: Rediscovering the Glory of Penal Substitution ini memaparkan argumen ketiga penulis, bahwa Doktrin Substitusi Penal memiliki tempat sentral dalam teologi Kristen; pengaruh yang signifikan secara praktis; dapat dipertanggungjawabkan secara historis; dan bahwa semua keberatan yang diajukan terhadap doktrin ini dapat dijawab secara komprehensif (19).

Sudah banyak buku ditulis tentang substitusi penal, dari mulai yang bersifat akademis hingga yang bersifat populer. Jika demikian, mengapa buku ini masih diperlukan? Kompilasi tulisan ketiga penulis ini penting karena tiga hal. Pertama dan utama adalah karena “kritik-kritik terhadap substitusi penal yang muncul dari kesalahpahaman, tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda, dan kebingungan yang diakibatkannya di dalam komunitas Kristen tampaknya justru semakin meningkat.” Dalam konteks inilah, muncul signifikansi kedua, yaitu ketiga penulis, “berusaha mengumpulkan penelitian yang mendetail atas perikop-perikop kunci Alkitab, pertimbangan mengenai isu-isu teologis dan doktrinal yang penting, dan survei yang komprehensif tentang pengajaran Gereja Kristen sepanjang zaman di dalam satu buku.” Jeffrey, Ovey, dan Sach juga mencatat satu signifikansi lain dari buku ini, yaitu dalam hal penyampaiannya. Ketiganya berupaya untuk menghasilkan karya tulis yang berada di tengah-tengah, maksudnya dapat dipahami (readable) oleh orang-orang Kristen tanpa pelatihan teologis formal, tetapi juga tetap dapat dinikmati oleh para sarjana dan akademisi (18).

Sebagai sebuah definisi, Doktrin Substitusi Penal menyatakan bahwa ‘Allah memberi diriNya sendiri (di dalam pribadi AnakNya) sebagai ganti kita untuk menderita kematian, hukuman, dan kutuk, yang sebetulnya adil untuk ditimpakan kepada umat manusia yang telah terjatuh sebagai hukuman atas dosa.’ Namun doktrin “inti dari Injil” ini (9), telah mendapat tantangan dari berbagai pihak, bahkan dari kalangan Kristen sendiri. Selama satu setengah abad, doktrin ini mendapat tantangan dari “balik pintu-pintu tertutup akademi kesarjanaan liberal,” tetapi “belakangan ini kritik-kritik terhadap substitusi penal telah disuarakan oleh beberapa teolog dan pemimpin gereja Injili yang berpengaruh, dan menimbulkan badai kontroversi di dalam komunitas Kristen” (13).

Beberapa teolog terkenal dan tokoh Kristen yang menggugat doktrin ini diantaranya adalah C.H. Dodd. Sebagai seorang direktur dari panitia yang memproduksi New English Bible (Revised Standard Version, 1946), Dodd mengaburkan rujukan “propisiasi (meredakan; mengalihkan murka),” sebuah konsep penting dalam doktrin substitusi penal. Pandangan Dodd ditentang dengan penuh semangat oleh kaum Injili seperti Leon Morris dan Roger Nicole, juga oleh pengkotbah terkenal seperti Martyn Llyod-Jones (11). Tokoh lain bernama Steve Chalke dan Alan Mann menerbitkan buku berjudul The Lost Message of Jesus (2003). Dalam buku itu mereka menyebut doktrin substitusi penal sebagai “bentuk pelecehan anak kosmis,” sebuah tuduhan yang menimbulkan kehebohan yang cukup besar. Dari kalangan Injili, tokoh terkenal seperti Joel Green dan Brian McLaren (tokoh pemimpin gerakan Emerging Church di Amerika Serikat) juga muncul menggugat Doktrin Substitusi Penal (13).

Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi dua bagian besar. Bagian pertama yaitu Bab 2-5 adalah bangunan argumen tentang Doktrin Subtitusi Penal yang dibela oleh ketiga penulis. Mereka menjelaskan, “dalam bagian pertama buku ini, kami membangun argumen positif bagi substitusi penal, secara biblikal, teologis, pastoral, historis” (18-19). Sedangkan bagian kedua, yaitu Bab 6-13, lebih bersifat apologetis, karena bertujuan untuk menjawab berbagai kritik yang dilontarkan melawan doktrin ini.

Argumen positif secara biblikal atas Doktrin Substitusi Penal, dijelaskan di Bab 2. Dalam bagian ini, ketiga penulis berusaha membuktikan bahwa doktrin ini diajarkan dengan jelas di dalam kitab suci. Sebuah kalimat penting mereka nyatakan, yaitu bahwa “para murid Yesus dikenal melalui kepercayaan mereka yang rendah hati kepada segala sesuatu yang telah Allah katakan,” termasuk terkait Doktrin Substitusi Penal ini. Meskipun dunia mencemooh doktrin ini dan menyebutnya barbar, atau tidak adil, atau bodoh, atau sebutan buruk lainnya (21). Dengan menggali beberapa nats khusus mulai dari Keluaran 12 hingga 1Petrus 2 dan 3, ketiga penulis memperkaya pemahaman kita akan doktrin ini sebagaimana yang dinyatakan Allah melalui firmanNya.

Argumen positif secara teologis atas Doktrin Substitusi Penal ini dijelaskan di bab 3. Dengan menggambarkan bangun teologi Kristen sebagai sebuah jigsaw puzzle, ketiga penulis berusaha menunjukkan “tempat” dari kepingan yang bernama “Doktrin Substitusi Penal” di dalam gambar besar teologi Kristen (95-97). Ada tema-tema besar dalam teologi Kristen yang diungkap ketiga penulis, dan “substitusi penal memiliki tempat yang mendasar di dalam teologi Kristen. Doktrin ini pas berada ditengah jigsaw untuk melengkapkan gambar yang luar biasa.” Jadi dalam bangun teologi Kristen yang digambarkan sebagai sebuah jigsaw puzzle yang besar itu, “substitusi penal terletak tepat di tengah-tengahnya” (147).

Argumen positif secara pastoral atas Doktrin Substitusi Penal ada di Bab 4. Ketiga penulis berupaya menunjukkan implikasi doktrin ini terhadap keyakinan orang percaya atas jaminan kasih dan kebenaran Allah; pemberian jawab atas hasrat manusia akan keadilan Allah; dan terhadap realitas dosa manusia. Tidak diletakkannya topik ini dalam bab terakhir menjadi petunjuk bagi pembaca bahwa aplikasi terkait topik ini bukanlah sebuah tambahan atau tempelan, melainkan bagian penting yang harus direnungkan, dan tentu dipraktekkan.

Terakhir, argumen positif secara historis dijelaskan di Bab 5. Bagi pembaca yang tertarik dengan sejarah, bagian ini paling menyenangkan. Tidak hanya karena memperkaya pembaca dengan informasi tentang fakta kehidupan tokoh Kristen, tetapi juga dapat makin meneguhkan keyakinannya akan kepentingan dan kebenaran Doktrin Substitusi Penal. Apalagi “pertanyaan tentang pedigree (silsilah) historis telah mendapatkan signifikansi lebih lanjut di dalam beberapa tahun terakhir ini, karna semakin banyak jumlah orang yang menyarankan bahwa substitusi penal adalah sebuah doktrin baru” (164).

Di Bab 5, ketiga penulis mendiskusikan sejumlah orang dan organisasi, yang terentang dari mulai para Bapak Gereja berbahasa Latin dan Yunani, hingga tokoh-tokoh utama dalam kelompok Injili Modern (164). Meskipun tokoh-tokoh dan organisasi tersebut memiliki ciri khas teologi masing-masing, “semua penulis ini, tanpa terkecuali, mempercayai Doktrin Substitusi Penal” (165). Jeffery, Ovey, dan Sach mengakui bahwa survei sejarah yang mereka jabarkan sangatlah terbatas. Figur-figur penting seperti Martin Luther, John Wesley, dan Jonathan Edwards, dan juga sarjana seperti Louis berkhof hingga gembala jemaat seperti John Piper, telah mereka lewatkan. Meski demikian, poin yang dapat ditunjukkan tentang doktrin ini adalah jelas, bahwa mereka semua mempercayainya (208).

Selesai membaca bagian pertama, maka masuklah kita ke dalam bagian besar kedua yang bersifat apologetis. Salah satu kritik modern terpenting yang direspon dalam buku ini adalah tuduhan “pelecehan anak kosmis” (124-125. Lebih spesifik lagi lihat Bab 9, sub-bab 2). Pembaca diminta untuk belajar mendengar sungguh-sungguh, kritik yang orang sampaikan tentang doktrin ini, dan barulah pembaca dapat menghadapi keberatan-keberatan mereka dengan berani, dan berusaha menjawabnya dengan bijaksana dan koheren (209-10).

Dengan sikap ini, ketiga penulis memberikan contoh yang baik kepada setiap cendekiawan injili untuk berpolemik secara adil (berusaha sebaik mungkin membiarkan pihak lain bersuara dengan segenap kekuatan mereka), tidak memaksa (mengundang para pembaca untuk mengambil keputusan mereka sendiri), dan tanpa mengorbankan kesatuan Kristen (209-11). Jeffery, Ovey, dan Sach menekankan, “Satu hal yang pasti: Buku ini tidak akan menolong siapapun jika satu pihak yang terlibat dari perdebatan ini memilih tidak mau berdialog. Tanpa diskusi, progresnya pasti lambat, jika bukan mustahil” (212).

Bagi kepentingan pembaca awam, urutan pembacaan dapat diubah untuk mempermudah pembaca memahami isi buku. Pembaca dapat membaca Bab 3 lebih dahulu, sebelum membaca Bab 2. Dengan demikian, pembaca awam dapat tertolong untuk lebih dahulu melihat letak penting doktrin ini dalam bangun teologi mereka. Apalagi di bagian awal Bab 3, ketiga penulis memberikan definisi tentang apa itu substitusi penal (97). Sementara itu istilah teologis yang muncul seperti misalnya ‘propisiasi’ dan ‘ekspiasi’ (yang artinya membersihkan atau mengampuni), dapat diletakkan dalam daftar kosakata tersendiri di halaman terpisah (73-74). Ini juga berlaku untuk istilah-istilah lain yang muncul kemudian seperti misalnya partisipasi dan substitusi (79), perspektif baru Paulus atau new perspective of Paul (80-87), rekapitulasi (126, 131), dan simplisitas (136). Ungkapan Indonesia kebenaran-keadilan atau benar-adil yang dapat ditemui hampir di sepanjang buku ini, mungkin juga baik untuk dijelaskan dalam catatan kaki sebagai terjemahan bahasa Indonesia untuk kata Inggris righteousness.

Terlepas dari beberapa kesalahan ketik yang dapat ditemukan di beberapa halaman buku ini, saya percaya buku ini dapat meneguhkan iman banyak orang Kristen terkait pokok terpenting dari apa yang dipercayainya. Bagi para pelajar teologi tingkat pertama, buku ini dapat memberikan peta untuk memahami Doktrin Keselamatan, secara khusus Doktrin Substitusi Penal. Bagi para penginjil dan pengkotbah, bagian apendiks buku ini sangatlah penting, karena bagian ini membahas tentang penggunaan ilustrasi yang tepat untuk menggambarkan aspek-aspek yang ada pada Doktrin Substitusi Penal. Bagi orang Kristen secara umum, buku ini merupakan karunia Tuhan yang lahir di jaman kita untuk menolong kita melakukan apa yang Tuhan kehendaki, yaitu siap sedia di segala waktu memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggung jawab tentang pengharapan yang ada pada kita tetapi dengan lemah lembut dan hormat dan dengan hati nurani yang murni (1Petrus 3:15-16).

(Pdt. Nurcahyo Teguh Prasetyo, M.Div. Ulasan buku ini dimuat dalam Jurnal Teologi Reformed Indonesia, Volume 3, Nomor 2, Juli 2013, halaman 146-149. Telah disunting ulang)

0

Maleakhi 4. Hidup dalam Masa Penghakiman Allah


Pasal empat Kitab Maleakhi adalah akhir untuk pembahasan Kitab Maleakhi. Kitab ini mengakhiri Perjanjian Lama, dan secara singkat telah mengajarkan kepada kita, bahwa pada akhirnya, manusia (umat Allah sendiri) gagal untuk memahami maksud dan rencana Allah. Bahkan para pemimpin umat gagal utk setia kepada Tuhan. Pada akhirnya, Maleakhi adalah pembuka dari satu periode panjang yang terdiri dari 400 tahun masa diamnya Allah. Allah berhenti berkata-kata sampai 400 tahun. Pasal 4 ayat 1-6 yang kali ini dibahas akan memberi pelajaran penting bagi Israel, tapi juga bagi kita.

Apa implikasi ayat-ayat nubuatan ini bagi kehidupan kita di masa kini. Untuk memahami implikasinya, pertama-tama kita perlu memahami sifat nubuat dalam konteks Maleakhi ini. Nubuat yang disampaikan Maleakhi ini berbicara tentang keadaan di masa yang akan datang, tetapi persoalannya pada masa depan yang mana?

Kita sering memahami bahwa Perjanjian Lama dan segala hal di dalamnya, termasuk nubuatan-nubuatan menunjuk kepada mesias atau kedatangan Mesias, yang kemudian kita kenal sebagai Yesus Kristus. Namun berbicara tentang hari penghakiman dalam konteks Maleakhi ini, menunjuk kepada kedatangan Yesus yang manakah? KedatanganNya yang pertama (itu artinya sudah terjadi) ataukah kedatanganNya yang kedua (yang masih kita nanti-nanti)?

Kita perlu memahami bahwa ketika para nabi perjanjian Lama mendapatkan dan menyampaikan nubuat tentang masa depan, sebetulnya para nabi itu seperti seorang yang sedang menatap sebuah gunung dihadapannya. Dari perspektif nabi tersebut nampak seolah-olah hanya ada satu gunung dengan satu puncak gunung alias satu penggenapan nubuatan. Namun ternyata seiring dengan waktu, menjadi nyata bahwa sebetulnya yang sedang dilihat nabi itu adalah pegunungan atau deretan dataran tinggi, dengan dua Puncak Gunung atau dua titik penggenapan. Jadi nubuatan maleakhi ini sebetulnya menunjuk kepada kedatangan Yesus yang pertama (puncak pertama dari sebuah pegunungan), tetapi juga mencapai kedatangan Yesus yang kedua (puncak kedua dari pegunungan yang sama).

Ayat 1-3

A. Pelajaran Pertama: Dimana Posisimu?

Ayat 1a, mencatat, bahwa sesungguhnya hari itu datang (atau dalam versi firman Allah yang hidup disebut sebagai hari penghakiman), menyala seperti perapian atau dapur api.

Dalam bagian ini, sang nabi memperingatkan umat Allah untuk Waspada. Mengapa? Karena hari penghakiman tersebut akan berdampak kepada setiap orang. Dalam pembacaan kita lebih lanjut, dampak tersebut berbeda pada orang yang berbuat fasik ada umat Tuhan yang takut akan namaNya.

Peringatan ini perlu, karena umat di zaman Maleakhi adalah umat yang sedang berputus asa dan kecewa, karena meskipun mereka telah kembali dari pembuangan dan kini ada di tanah kelahiran mereka kembali, tetapi kejayaan mereka masih juga tidak seperti masa dahulu kala. Umat di jaman Maleakhi adalah umat yang kecewa karena meskipun sudah ada bait Allah kembali dan tembok tembok Yerusalem sudah dibangun kembali, tetapi kemuliaan Tuhan sebagaimana yang dibuatkan oleh Nabi Hagai tidak juga nampak sehebat jaman Salomo. Di jaman Maleakhi adalah umat yang mulai meragukan kebaikan Tuhan, dan mulai menganggap sepi pentingnya ibadah kepada Tuhan, dan mulai memandang bahwa kehidupan orang fasik dan orang benar tidak ada bedanya, sehingga tidak ada untungnya untuk terus hidup bagi Tuhan.

Menghadapi kondisi umat seperti ini, tepatlah Apabila sang nabi memperingatkan umat untuk Waspada menghadapi hari penghakiman yang sedang akan datang.

Hari penghakiman itu adalah hari pemurnian dengan api. Ini bisa dipahami sebagai api yang sesungguhnya atau juga api dalam pengertian metafora, misalnya bermakna penganiayaan, siksaan, atau penindasan (1Petrus 4:12 menggambarkan siksaan yang dialami manusia sebagai nyala api).

Apapun arti api tersebut, satu hal yang pasti, hari penghakiman itu membawa dampak. Dampak dari hari penghakiman tersebut dicatat di dalam ayat 1b dan ayat 2-3. Di ayat 1b, hari penghakiman dicatat berdampak kepada orang-orang fasik. Dikatakan bahwa setiap orang yang berbuat fasik atau sombong dan jahat, menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang akan datang itu. Bahkan dikatakan akan dimusnahkan seperti pohon yang dibakar sampai ke akar-akarnya, tidak ditinggalkan akar dan cabang satupun. Ini sebetulnya menunjukkan bahwa di hari penghakiman, segala perbuatan dan hasil karya orang fasik tersebut akan terbukti tidak tahan uji di hadapan allah yang kudus. Semua pekerjaan orang fasik sia-sia, dan tidak ada satupun yang bernilai kekal. Meskipun dalam hidup yang sementara ini, perbuatan mereka atau karya-karya mereka itu, nampak sangat dapat dibanggakan dan membangkitkan kesombongan. Namun pada hari penghakiman, semua terbukti sia-sia. Peringatan ini sangat keras ditujukan kepada umat Tuhan yang mulai kembali hidup dalam kesia-siaan dosa.

Perjanjian Baru mencatat bahwa kedatangan Yesus yang pertama bukanlah untuk menghakimi (Yohanes 3:17), tetapi pada saat yang sama juga untuk menghakimi (Yohanes 9:39). Jadi mana yang benar? Apa maksudnya Ia datang bukan untuk menghakimi tetapi juga untuk menghakimi?

a. Kedatangan Yesus kali pertama bukanlah untuk menghakimi:

Yohanes 3:17 mencatat bahwa Yesus diutus ke dunia bukan untuk menghakimi, maksudnya bukan untuk menjatuhkan hukuman yang sepenuh-penuhnya kepada dunia. Yohanes 16:11 memang mencatat perkataan Yesus bahwa, “penguasa dunia ini telah dihukum,” tetapi hukuman yang telah dijatuhkan itu belum dilaksanakan sepenuhnya. Penghukuman yang sepenuhnya atas dunia masih ditunda. Dalam hal penghukuman ini ternyata berlaku juga sifat ‘already but not yet.’ Hukuman memang sudah dijatuhkan, tapi belum dieksekusi/direalisasikan sepenuh-penuhnya. Inilah artinya kedatangan Yesus yang pertama bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan. Pernyataan ini diulang kembali dalam Yohanes 12:47.

b. Kedatangan Yesus kali pertama memang untuk menghakimi:

Pada saat yang sama, Yohanes 9:39 mencatat bahwa Yesus datang kedalam dunia untuk menghakimi, maksudnya disini adalah untuk menunjukkan kepada seseorang seperti apa sebetulnya posisinya dihadapan kebenaran. Jadi kedatangan Yesus ke dunia pada kali yang pertama adalah penggenapan dari nubuatan Maleakhi, yaitu bahwa melalui kedatangan Yesus Kristus pada kali yang pertama, menjadi jelas posisi beberapa orang di hadapan kebenaran. Misalnya, menjadi jelas bahwa orang-orang Farisi adalah orang-orang yang oleh Yesus dikatakan sebagai buta rohani. Jadi melalui kedatangan Yesus kali yang pertama, penghakiman atas dunia telah berlangsung, penghakiman yang melaluinya penghukuman sudah dijatuhkan, meski belum diwujudkan sepenuhnya. Penghakiman Yesus melalui kedatanganNya yang pertama ini, lebih bersifat menyatakan ‘siapa di pihak siapa.’ Itulah sebabnya Yesus mengatakan kepada Pilatus bahwa, “Aku datang ke dalam dunia ini, supaya aku memberi Kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suaraKu” (Yoh.18:37).

Beberapa bukti lain menunjukkan bahwa kedatangan Yesus adalah penggenapan nubuatan Kitab Maleakhi:

Di Injil Lukas, Yesus dicatat mengatakan kalimat lain yang dengan lebih jelas menunjukkan sifat penghakiman dari kedatanganNya yang pertama, “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah nyala!” (Lukas 12:49). Dan kemudian di ayat ayat 51 mencatat perkataan Yesus, “Kamu menyangka, bawa aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kataKu kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.” Kalimat Yesus ini jelas memperlihatkan bahwa kehadiran Yesus yang pertama adalah penggenapan Maleakhi 4:1.

Sudah jelas bagi kita, kedatangan Yesus yang pertama adalah hari penghakiman, tetapi ini baru salah satu puncak dari deretan pegunungan janji Allah. Masih ada puncak yang terakhir, yaitu kedatangan Yesus yang kedua untuk melaksanakan penghakiman puncak. Yesus, selama hidup di dunia, berkali-kali menyebutkan tentang akan adanya hari penghakiman (menunjuk ke masa depan). Pada hari penghakiman puncak di masa depan ini, Petrus mencatat bahwa “unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api” (2Petrus 3:10). Pada hari penghakiman puncak itu, Yesus melaksanakan sepenuhnya penghukuman, yang sebelumnya sudah dijatuhkan Allah atas dunia dalam kedatanganNya yang pertama.

Jadi, hari penghakiman Tuhan yang diberitakan Maleakhi, mencangkupi rentang waktu dari mulai mulai kedatangan Yesus pertama, hingga kedatangan Yesus kedua. Jadi, masa hidup kita saat ini, adalah masa penghakiman Allah atas dunia. Setiap orang dituntut untuk menyatakan posisinya di hadapan Kebenaran. Jika kita terhitung sebagai orang fasik, maka hukuman-hukuman yang dicatat dalam Maleakhi 4:1b, sedang berlaku atas diri kita, yaitu segala jerih payah kita sia-sia dan tidak bernilai kekal, dan hukuman puncaknya akan kita alami di masa depan. Matius 3:12 dan Lukas 3:17 menggambarkan orang fasik sebagai debu jerami yang akan dibakar dalam api yang tak terpadamkan (neraka). Rasul Paulus juga meneguhkan apa yang diberitakan Maleakhi ini dalam 1Korintus 3:12-15, secara khusus dalam konteks kehidupan di antara umat Tuhan sendiri. Jika dasar pekerjaan kita selama di dunia adalah jerami, maka kita akan kehilangan upah kita dan menderita kerugian (rugi waktu, rugi tenaga, rugi kesempatan, dsb.), meskipun sebagai anak Tuhan, kita sendiri akan tetap diselamatkan (tapi sekali lagi, dalam kondisi merugi).

Aplikasi I: Penghakiman TUHAN melalui kedatanganNya yang pertama bermaksud menantang kita untuk menyingkapkan kepada kita, dimana posisi kita sedang berpihak sebenarnya! Evaluasi diri, sedang ada di pihak siapakah Anda saat ini?

B. Pelajaran Kedua: Adakah Lima Ciri ini Ada Pada Kita?!

Dampak yang berbeda dari hari penghakiman dialami oleh orang-orang yang takut akan Tuhan. Ayat 2 mencatat bahwa bagi orang-orang yang takut akan nama Tuhan akan mengalami beberapa hal berikut ini:

  1. Baginya akan terbit surya atau matahari kebenaran.
  2. Sinar atau sayap matahari itu membawa kesembuhan.
  3. Umat akan keluar dengan bebas.
  4. Umat akan berjingkrak-jingkrak atau melompat-lompat kegirangan seperti anak sapi atau anak lembu yang dilepaskan dari kandangnya.
  5. Umat akan menginjak-nginjak orang-orang fasik atau orang-orang jahat seperti menginjak-injak abu di bawah telapak kaki.

Ini adalah 5 hal yang akan terjadi pada umat Tuhan pada hari penghakiman. Mendengar 5 janji yang luar biasa Seperti ini, seyogyanyalah umat Tuhan yang sedang kecewa itu, bangkit kembali pengharapannya.

Ayat 2-3 adalah janji Allah yang indah bagi umat Tuhan di zaman Maleakhi. Dan puncak dari janji yang indah itu adalah Pribadi dan karya Yesus Kristus. Coba evaluasi diri, apakah kelima ciri ini ada pada diri kita:

  1. Bagi umatNya, akan terbit surya atau matahari kebenaran, yaitu Yesus Kristus (Lukas 1:78).
  2. Sinar atau sayap matahari itu membawa kesembuhan. Artinya Yesus Kristus membawa pemulihan, tidak hanya jasmani, tetapi utamanya rohani.
  3. Umat akan keluar dengan bebas. Artinya Yesus menghadirkan kemerdekaan sejati.
  4. Umat akan berjingkrak-jingkrak atau melompat-lompat kegirangan seperti anak sapi atau anak lembu yang dilepaskan dari kandangnya. Artinya, Yesus menghadirkan sukacita luarbiasa.
  5. Umat akan menginjak-nginjak orang-orang fasik atau orang-orang jahat seperti menginjak-injak abu di bawah telapak kaki. Artinya, kita turut memerintah bersama-sama dengan Kristus, dan di masa depan akan bersama-bersama Kristus menghakimi dunia ini (1Kor.6:2). Memerintah disini artinya kita memiliki kuasa untuk menyatakan apa yang menjadi ketetapan Tuhan dan setelah membuat penilaian, menolak apa yang jahat.

Aplikasi II: Evaluasi diri apakah kelima ciri orang yang takut akan TUHAN di atas sudah menjadi ciri kehidupan kita?!

C. Pelajaran Ketiga: Hadapi Masa Penghakiman; Bergaul dengan Firman TUHAN!

Kesaksian kitab suci semakin jelas menunjukkan bahwa Maleakhi 4:1-3 berbicara tentang Yesus Kristus dan kedatanganNya yang membawa serta penghakiman, dimulai dari kedatanganNya yang pertama kali hingga kedatanganNya kembali kelak. Hari ini kita hidup di masa-masa penghakiman Allah atas dunia.

Datangnya Hari Tuhan yang didahului pemulihan, akan disertai api. Api penghakiman, yaitu api siksaan yang memurnikan! Sebuah api penyucian. Orang Katolik sering membicarakan tentang api penyucian setelah seseorang mati. Namun sesungguhnya, api penyucian itu berlangsung selama orang hidup, karena iman diuji selama seseorang itu hidup, dan Alkitab mengatakan bahwa orang hidup hanya sekali lalu kemudian mati dan dihakimi. Jadi kehidupannyalah yang akan dihakimi. Dan api penyucian yang berwujud siksaan dan penderitaan itu sudah berlangsung dari sejak zaman Yesus datang pertama kali, hingga kelak pada kedatanganNya yang kedua.

Jangan selalu memikirkan penganiayaan dengan bayangan siksaan badan dan terpenggalnya kepala. Banyak orang di negeri Barat dianiaya oleh orang-orang sekuler. Ada kasus besar pernah terjadi di salah satu negara bagian di Amerika. Seorang guru pernah memasukkan dua eksemplar buku cerita Alkitab di daftar buku-buku di perpustakaan kelasnya. Pihak sekolah tidak senang, lalu menuntutnya ke pengadilan. Ini akhirnya menjadi kasus besar. Guru itu tidak dilarang memasukkan buku bacaan tentang Muhammad atau tentang Budha atau tentang agama timur. Namun dilarang dan tidak boleh memasukkan buku tentang cerita Alkitab. Ancamannya, penjara! Di negara bagian lain, pendeta di Amerika bisa dipenjara jika menolak menikahkan orang-orang sesama jenis.

Di Kitab Wahyu pernah digambarkan tentang dua orang saksi yang memberi kesaksian, tetapi kemudian dibunuh. Banyak orang Kristen menafsirkan sosok dua orang ini secara harafiah. Namun Kitab Wahyu disampaikan dalam simbol-simbol. Saya percaya dua orang saksi itu menunjuk kepada Gereja Tuhan yang dari zaman PL dan mulai zaman PB memberi kesaksian tetapi kemudian dianiya oleh dunia ini. Pemulihan memang dijanjikan, tetapi itu mendahului Hari Penghakiman yang datang disertai api, Api yang Memurnikan.

Bagaimana kita dapat bertahan di tengah api yang memurnikan ini? Nasehat Ahok kepada anaknya tentang pentingnya belajar Alkitab, sangat berguna bagi kita. Bagaimana Ahok menjelaskan kepada anaknya tentang pentingnya membaca Alkitab? Ahok bergumul tentang hal itu, tetapi akhirnya, kesempatan itu datang ketika anaknya menghadapi ujian negara. Ia bertanya kepada anaknya, dan ini percakapan mereka:
Besok ujian apa? Kalo besok ujian Bahasa Indonesia, apakah Kamu belajar Fisika malam ini?”
Tidak. Nggak, Pa! Kalau besok (ujian) Bahasa Indonesia, kita belajar Bahasa Indonesia malam ini!
O gitu ya?! Kenapa gak belajar Fisika aja?
“Ya, ngapain?!”
Gimana kalo besok gurumu itu bilang begini, ‘besok ujiannya gak kasih tau kamu! Pokoknya besok ujian aja!’
Gak fair, gak fair, gak fair!
Kalo gurumu memang edan gimana? Trus memang maksain kamu, pokoknya besok datang ujian!
Wah, kalo gitu, Pa, kita mesti baca semua. Mesti belajar semua mata pelajaran yang mungkin, yang kita sudah belajar!
Kamu berani gak, tidak belajar? Padahal sudah hafal nih! Besok khan ujian bahasa Indonesia? Berani gak, gak belajar?!
Gak, gak, Pa! Bisa gak lulus!
Lalu Ahok mulai masuk ke topik belajar Alkitab. Ahok berkata,
Kita hidup ini, tiap kali kita bangun pagi, itu sama seperti kamu teriak gurunya tidak fair. Banyak orang dalam hidup ini berteriak, ‘hidup ini tidak adil buat saya, tidak fair buat saya’.
Lalu Ahok melanjutkan, “Kenapa? Sudah tahu hidup dunia ini tidak adil, ujiannya nggak jelas mau ujian apa tiap bangun pagi, Kamu masih kagak mau belajar lagi. Gimana gak fair?! Itulah kira-kira kehidupan kita. Kita setiap kali bangun pagi, seperti anak yang menghadapi ujian negara, kita tidak tahu …. Ini lebih parah dari pada sekolah. Kalo sekolah empat mata kuliah, empat mata pelajaran, kita masih inget: Matematik, bahasa Inggris, bahasa Indonesia, gitu ya?! Fisika! Kita inget! Empat! Paling belajar empat! Tapi kalo dalam hidup ini, kita gak pernah tahu pagi ini akan menghadapi orang ngapain kita. Kita gak tahu akan muncul masalahnya apa. Nah, untuk menghadapi ujian hidup seperti itu, Anda berani sekali tidak belajar!?” Maksudnya, belajar Alkitab. 

Dimasa ini bergaullah dengan Firman Tuhan, karena dengan bergaul dengan Firman Tuhan kita dapat bertahan dalam kehidupan yang penuh ujian.

Aplikasi III: Sadarilah bahwa penghakiman TUHAN datang sebagai api pengujian, bergaullah dengan Firman TUHAN untuk siap menghadapi setiap ujian iman.

Ayat 4-6

D. Pelajaran Keempat: Hiduplah Senantiasa Berpusatkan Kristus!

Pelajaran apa lagi yang dapat kita renungkan dari ayat berikutnya? Ayat 4-6 menyatakan ajakan Tuhan kepada umat untuk:

  1. Memandang ke masa lalu, dimana ada Musa dan hukum Tuhan, dan…
  2. Memandang ke masa depan, dimana ada Elia dan berita pertobatannya.

Menarik, dari enam ayat yang kebanyakan berbicara tentang masa depan, nanti, nanti, dan nanti, ternyata ada satu ayat, yaitu ayat 4, yang mengajak kita menengok ke belakang! Menengok ke masa lalu! Menengok ke zaman Musa dan hukum-hukumnya. Hukum Musa membuat orang menyadari dirinya bersalah dan berdosa, dan bahwa diri mereka najis, cemar, kotor. Namun hukum Musa (dan banyak hal besar di Perjanjian Lama, dari mulai Bait Allah, upacara korban, bahkan tokoh-tokoh) menunjuk kepada Yesus Kristus. Perjanjian Lama berbicara tentang Yesus Kristus. Jadi pusat Perjanjian Lama adalah Yesus Kristus.

Di ayat lima, Maleakhi kemudian mengajak pembacanya kembali melihat ke masa depan. Masa ketika Hari Tuhan akan tiba, dan utusan Tuhan, yaitu Elia, akan berjalan mendahului dan mempersiapkan jalan bagi Sang Mesias. Di Perjanjian Baru dijelaskan oleh Yesus sendiri bahwa Elia itu adalah Yohanes Pembaptis. Yohanes telah menjadi pembuka jalan bagi Sang Mesias, yaitu Yesus Kristus. Dan Yohanes, mengarahkan pandangan umat kepada Yesus Kristus. Jadi ayat lima sebetulnya juga memusatkan perhatian orang kepada Yesus Kristus.

Ayat 4 dan 5 seperti sebuah jembatan yang menghubungkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Bagi orang Kristen, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidaklah terpisahkan, dan keduanya berpusatkan kepada Yesus Kristus.

Kehadiran Musa dan Elia dalam Maleakhi 4:4-6 mengingatkan kita juga kepada peristiwa transfigurasi yang dicatat dalam Perjanjian Baru, yaitu peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung. Dalam peristiwa itu, diri Yesus bersinar cemerlang, dan Musa (yang sudah mati) dan Elia (yang sudah naik ke sorga), bertemu dengan Yesus dan bercakap-cakap dengan Yesus. Mereka bercakap-cakap tentang tujuan kedatangan Yesus atau misi Yesus. Baik dari catatan di Maleakhi, maupun dalam peristiwa Transfigurasi, jelas yang menjadi pusat dari Musa (mewakili PL) dan Elia (pembuka jalan PB) adalah Yesus Kristus, Sang Mesias yang kedatanganNya akan didahului Elia.

Yesus Kristus yang menjadi pusat PL dan PB, yang kedatanganNya didahului Elia ini, akan memulihkan segala sesuatu. Digambarkan di ayat 6, kehadirannya akan “mengembalikan hati bapa-bapa kepada anak-anaknya, dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya.” Demikian pemulihan segala sesuatu akan terjadi. Harapan akan terjadinya pemulihan relasi, dijanjikan dalam ayat terakhir Kitab Maleakhi.

Aplikasi IV: Arahkan hidupmu agar berpusatkan Kristus, karena itulah kesimpulan akhir dari berita Perjanjian Lama Kristen!

Ini empat pelajaran bagi kita melalui Maleakhi 4:1-6. Pertama, Evaluasi diri, dimana posisimu saat ini di hadapan kebenaran?! Kedua, Evaluasi diri apakah kita sudah memiliki kelima ciri orang yang takut akan TUHAN?! Ketiga, Berjaga-jaga menghadapi api siksaan dengan bergaul dengan firmanNya. Keempat, Hiduplah dengan senantiasa berpusatkan kepada Kristus.

Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.

(Pdt. NT Prasetyo, M.Div. Ibadah Umum I-III di Gereja Kristen Kalam Kudus Jayapura, Minggu/9 April 2017).

0

Matius 25:31-46. Anak-Anak Kerajaan: Sebuah CIRI dan Bukan CARA


Renungan khotbah kali ini terambil dari Matius 25:31-46. Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia versi terjemahan baru, memberi judul perikop, “Penghakiman Terakhir.”

Ayat 31 mencatat demikian, “apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaanNya.” Perikop ini diawali dengan pernyataan tentang kedatangan Anak Manusia, yaitu Yesus Kristus, atau yang biasa kita sebut dengan istilah kiamat. Kata Takhta dalam perikop ini mengindikasikan bahwa yang datang itu adalah sosok raja.

Menarik, apabila kita memperhatikan ayat-ayat sebelumnya, kita akan menemukan adanya 2 perumpamaan, yaitu:

  1. Perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh di Matius 25:1-13, dan
  2. Perumpamaan tentang talenta di Matius 25:14-30.

Kedua perumpamaan ini memperingatkan kita akan TANGGUNGJAWAB. Dalam perumpamaan pertama, manusia harus bertanggung jawab untuk berjaga-jaga menyambut kedatangan Tuhan, secara khusus bertanggung jawab dengan waktu mereka. Dalam perumpamaan kedua, manusia harus bertanggung jawab mengelola apa yang Tuhan percayakan, sebelum Tuhan datang kembali. Hal yang dipercayakan itu disebut ‘talenta,’ yang dalam konteks kehidupan kita merupakan apapun yang Tuhan percayakan untuk kita kelola, bisa berupa bakat, harta, atau apapun. Intinya, kedua perumpamaan diatas mengingatkan kita tentang TANGGUNGJAWAB. Demikianlah perikop yang kita bahas kali ini, harus kita baca dalam kaitannya dengan kerajaan Allah atau kerajaan surga, dan tanggungjawab. Dan di ayat 31, kita bertemu dengan Raja kerajaan tersebut, yang dicatat akan datang dan bertakhta, dan meminta pertanggungjawaban.

Tanggung jawab apa yang diminta? Sebelum menjawab hal itu, kita berjumpa dengan ayat 32, yang memberitahukan kepada kita siapakah anak-anak kerajaan dan siapa yang termasuk anak-anak kebinasaan. Anak-anak kerajaan dan anak-anak kebinasaan berasal dari suku-suku bangsa. Ayat 32 mencatat kalimat, “semua bangsa akan dikumpulkan di hadapanNya.” Dan terhadap bangsa-bangsa itu akan diadakan pemisahan. Anak-anak kerajaan akan dipisahkan dari anak-anak kebinasaan, dan keduanya berasal dari bangsa-bangsa tersebut.

Ayat 32 mencatat bahwa sang raja itu bagaikan gembala yang memisahkan domba dari kambing. Ayat 33 menjelaskan bahwa domba-domba ditempatkan di sebelah kanannya, sedangkan kambing-kambing ditempatkan di sebelah kirinya. Ayat 34 menjelaskan kepada kita bahwa yang di sebelah kanan adalah mereka yang diberkati oleh Tuhan dan menerima kerajaan surga. Artinya anak-anak kerajaan itu digambarkan sebagai domba domba. Dan ayat 32 telah mencatat tindakan Tuhan adalah memisahkan domba atau anak-anak kerajaanNya dari kambing atau dari mereka yang bukan terhitung sebagai anak-anak kerajaanNya. Dari suku-suku bangsa yang menghadap Tuhan, Ia memisahkan domba-domba kepunyaanNya dari kumpulan besar manusia yang dikumpulkan dihadapanNya.

Ayat 34 menjelaskan keadaan anak-anak kerajaan, dan dapat kita kontraskan dengan keadaan anak-anak kebinasaan di ayat 41:

  1. Pada ayat 34, dicatat bahwa tentang keadaan anak-anak kerajaan itu, mereka adalah orang-orang yang diberkati oleh Bapa di surga, dan kepada mereka diberikan oleh Tuhan, kerajaan yang telah disediakan bagi mereka sejak dunia dijadikan. Kalimat terakhir ini menarik, karena ternyata bagi anak-anak kerajaan, kerajaan surga ternyata telah disediakan bagi mereka, bahkan dari sejak sebelum mereka ada. Jadi, ternyata Tuhan dari sejak mulanya sudah mengetahui siapa milik kepunyaanNya. Dia telah menyediakan kerajaan surga, bahkan sebelum anak-anak kerajaan itu ada. Jadi tentang anak-anak kerajaan, kita membaca adanya Anugrah pemilihan Allah.
  2. Namun berbeda ketika Alkitab berbicara tentang anak-anak kebinasaan. Ayat 41 tidak mengatakan, “hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.” Kalimat dalam ayat ini hanya berkata bahwa “api yang kekal itu telah tersedia untuk iblis dan malaikat-malaikatnya.” Ini berbeda dengan bunyi ayat ke 34.

Jadi, tentang anak-anak kerajaan, Tuhan menggunakan kalimat yang bersifat Anugerah, bahwa kerajaan Allah itu tersedia bagi mereka, dari sejak dunia dijadikan; jauh sebelum anak-anak kerajaan itu sendiri ada.

Namun berbeda halnya dengan anak-anak kebinasaan, Tuhan menggunakan kalimat yang bernada tanggung jawab, yaitu bahwa api kekal itu tersedia bagi iblis dan malaikat-malaikatnya, tetapi bukan bagi manusia ciptaanNya. Sehingga apabila realitanya ada manusia yang masuk neraka, maka itu adalah tanggung jawab manusia itu pribadi.

Pernyataan di atas tentu menimbulkan ketidak selarasan di dalam pikiran kita yang terbatas. Adalah lebih mudah untuk mengatakan bahwa, jika ada orang-orang yang masuk surga, maka surga itu telah menjadi tempat yang Allah siapkan bagi mereka sejak dunia dijadikan, dan sebaliknya jika ada orang-orang yang masuk neraka, maka neraka itu telah menjadi tempat yang Allah siapkan bagi mereka sejak dunia dijadikan. Pernyataan yang satu, dengan tegas mengimplikasikan pernyataan yang lain.

Namun tidak demikian adanya dengan pernyataan Alkitab. Alkitab malah menimbulkan ketidak selarasan dalam pikiran kita yang terbatas. Alkitab hanya menyatakan, bahwa tentang kerajaan sorga, itu telah disediakan dari sejak dunia ada bagi anak-anak kerajaan, sedangkan tentang api kekal, apabila sampai ada manusia yang masuk ke tempat itu maka itu adalah tanggung jawabnya pribadi, karena sebetulnya tempat itu adalah untuk iblis dan malaikat-malaikat-nya.

Ayat 35-36 mengungkapkan ciri-ciri dari anak-anak kerajaan. Dan di ayat 37 dinyatakan bahwa anak-anak kerajaan yang memiliki ciri-ciri tersebut berstatus sebagai orang-orang benar. Jadi tindakan memperhatikan sesama yang paling hina ternyata adalah ciri orang-orang benar. Orang-orang benar itu sendiri tidak menyangka bahwa perhatian mereka kepada sesama yang paling hina adalah pelayanan kepada sang raja sendiri. Mereka melakukan pelayanan itu dengan setulus hatinya, tanpa bermaksud menyogok sang raja, atau menjilat sang raja, demi mendapatkan hak masuk kerajaan itu. Ini tersirat dari ayat 37-40. Singkatnya, perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan anak-anak kerajaan sebagaimana yang didaftarkan dalam ayat-ayat diatas adalah CIRI anak-anak kerajaan, dan bukan CARA untuk mendapatkan kerajaan surga. Sekali lagi, perhatikan perbedaan antara CIRI dan CARA, karena perbedaan ini adalah perbedaan yang membedakan kita dengan mereka yang tidak seiman.

Ayat 41-45 menjadi ciri dari anak-anak kebinasaan. Orang dengan ciri ini, dinyatakan dalam ayat 46a, bahwa mereka akan masuk ke tempat siksaan yang kekal alias neraka. Namun, orang benar, yang memiliki ciri-ciri berbeda masuk ke dalam hidup yang kekal. Sekali lagi kita menemukan frasa ‘orang benar.’ Singkatnya, orang-orang benar dicirikan dengan perbuatan-perbuatan baik, dan bukannya dicirikan dengan perbuatan-perbuatan yang sebaliknya.

Perikop ini hanya berhenti sampai pada titik ini. Namun apabila kita terus melanjutkan pembacaan kita sampai kepada surat-surat Paulus, maka kita akan menemukan bahwa status ‘benar’ kita bukankah karena jasa-jasa atau kebaikan kita sendiri, melainkan status ‘benar’ disini diperoleh karena Kristuslah yang membenarkan kita. Kebenaran Kristus diperhitungkan kepada kita, sebaliknya dosa-dosa kita diperhitungkan ke atas Kristus. Di atas kayu salib Kristus menanggung hukuman yang seharusnya kita terima, dan sebaliknya kita dipandang benar oleh Allah, karena kebenaran Kristus diperhitungkan ke atas kita.

Apa implikasi dari pelajaran kita hari ini:

1. Evaluasi diri Anda.

Apabila saya mengaku diri saya adalah anak-anak kerajaan, sudahkah saya menampilkan ciri-ciri sebagai anak-anak kerajaan?

2. Marilah kita berjuang sebagai anak-anak kerajaan untuk memperluas kehadiran nilai-nilai kerajaan itu ke dalam berbagai bidang kehidupan, melalui profesi kita masing-masing.

Mungkin kita tidak bisa, secara literal, mempraktekkan ciri-ciri yang tercantum diatas. Mungkin kita tidak bisa, betul-betul menampung orang asing di rumah kita, atau memberi makan orang yang kelaparan, atau mengunjungi orang-orang di penjara, tapi kita bisa menciptakan kondisi-kondisi dimana itu dimungkinkan untuk terjadi. Contohnya seperti apa yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok di DKI Jakarta (Maaf, saya pakai contoh ini, karena, toh, kita di Jayapura, tidak sedang dalam masa Pilkada untuk memilih dia sebagai salah satu calon).

Ahok mungkin tidak bisa, secara literal, menampung orang-orang miskin di rumahnya, karena bisa-bisa rumahnya tidak cukup bila orang miskin se-DKI Jakarta menginap di rumahnya. Namun melalui jabatannya dan pengaruhnya, ia dapat mengupayakan terciptanya kondisi agar keadilan sosial dapat diwujudkan. Jadi bukan sekedar bantuan sosial, melainkan keadilan sosial. Demikian juga kita, melalui profesi, harta, tenaga, pikiran, waktu, dan segala sumber daya lain yang kita miliki, kita bisa mengupayakan terciptanya kondisi-kondisi dimana nilai-nilai Kerajaan Allah hadir dan meluas dalam berbagai bidang kehidupan.

Dua hal ini adalah tanggungjawab kita sebagai anak-anak kerajaan. Siapkah kita?

(Pdt. NT. Prasetyo, M.Div. Persekutuan Rayon Petra, Jumat, 7 April 2017, di kediaman Pak Rocky dan Bu Siane).