0

Ulasan Buku: Tertikam oleh Pemberontakan Kita


Tertikam oleh Pemberontakan Kita oleh Steve Jeffrey, Mike Ovey, dan Andrew Sach, diterjemahkan oleh Maria Fenita. Surabaya: Momentum, 2012. xviii+368 halaman. Rp.100.000,-

Melalui buku ini, tiga sarjana teologi dengan latar pendidikan doktoral berbeda, berupaya mewakili Kaum Injili membela Doktrin Substitusi Penal (7). Ketiga sarjana itu adalah Steve Jeffrey (Ph.D. dalam bidang Fisika dari Oxford University), Mike Ovey (Ph.D. dalam teologi Trinitarian dari King’s College di London), dan Andrew Sach (Ph.D. dalam bidang mekanisme otak dari University of York). Buku yang aslinya berjudul Pierced for Our Transgressions: Rediscovering the Glory of Penal Substitution ini memaparkan argumen ketiga penulis, bahwa Doktrin Substitusi Penal memiliki tempat sentral dalam teologi Kristen; pengaruh yang signifikan secara praktis; dapat dipertanggungjawabkan secara historis; dan bahwa semua keberatan yang diajukan terhadap doktrin ini dapat dijawab secara komprehensif (19).

Sudah banyak buku ditulis tentang substitusi penal, dari mulai yang bersifat akademis hingga yang bersifat populer. Jika demikian, mengapa buku ini masih diperlukan? Kompilasi tulisan ketiga penulis ini penting karena tiga hal. Pertama dan utama adalah karena “kritik-kritik terhadap substitusi penal yang muncul dari kesalahpahaman, tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda, dan kebingungan yang diakibatkannya di dalam komunitas Kristen tampaknya justru semakin meningkat.” Dalam konteks inilah, muncul signifikansi kedua, yaitu ketiga penulis, “berusaha mengumpulkan penelitian yang mendetail atas perikop-perikop kunci Alkitab, pertimbangan mengenai isu-isu teologis dan doktrinal yang penting, dan survei yang komprehensif tentang pengajaran Gereja Kristen sepanjang zaman di dalam satu buku.” Jeffrey, Ovey, dan Sach juga mencatat satu signifikansi lain dari buku ini, yaitu dalam hal penyampaiannya. Ketiganya berupaya untuk menghasilkan karya tulis yang berada di tengah-tengah, maksudnya dapat dipahami (readable) oleh orang-orang Kristen tanpa pelatihan teologis formal, tetapi juga tetap dapat dinikmati oleh para sarjana dan akademisi (18).

Sebagai sebuah definisi, Doktrin Substitusi Penal menyatakan bahwa ‘Allah memberi diriNya sendiri (di dalam pribadi AnakNya) sebagai ganti kita untuk menderita kematian, hukuman, dan kutuk, yang sebetulnya adil untuk ditimpakan kepada umat manusia yang telah terjatuh sebagai hukuman atas dosa.’ Namun doktrin “inti dari Injil” ini (9), telah mendapat tantangan dari berbagai pihak, bahkan dari kalangan Kristen sendiri. Selama satu setengah abad, doktrin ini mendapat tantangan dari “balik pintu-pintu tertutup akademi kesarjanaan liberal,” tetapi “belakangan ini kritik-kritik terhadap substitusi penal telah disuarakan oleh beberapa teolog dan pemimpin gereja Injili yang berpengaruh, dan menimbulkan badai kontroversi di dalam komunitas Kristen” (13).

Beberapa teolog terkenal dan tokoh Kristen yang menggugat doktrin ini diantaranya adalah C.H. Dodd. Sebagai seorang direktur dari panitia yang memproduksi New English Bible (Revised Standard Version, 1946), Dodd mengaburkan rujukan “propisiasi (meredakan; mengalihkan murka),” sebuah konsep penting dalam doktrin substitusi penal. Pandangan Dodd ditentang dengan penuh semangat oleh kaum Injili seperti Leon Morris dan Roger Nicole, juga oleh pengkotbah terkenal seperti Martyn Llyod-Jones (11). Tokoh lain bernama Steve Chalke dan Alan Mann menerbitkan buku berjudul The Lost Message of Jesus (2003). Dalam buku itu mereka menyebut doktrin substitusi penal sebagai “bentuk pelecehan anak kosmis,” sebuah tuduhan yang menimbulkan kehebohan yang cukup besar. Dari kalangan Injili, tokoh terkenal seperti Joel Green dan Brian McLaren (tokoh pemimpin gerakan Emerging Church di Amerika Serikat) juga muncul menggugat Doktrin Substitusi Penal (13).

Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi dua bagian besar. Bagian pertama yaitu Bab 2-5 adalah bangunan argumen tentang Doktrin Subtitusi Penal yang dibela oleh ketiga penulis. Mereka menjelaskan, “dalam bagian pertama buku ini, kami membangun argumen positif bagi substitusi penal, secara biblikal, teologis, pastoral, historis” (18-19). Sedangkan bagian kedua, yaitu Bab 6-13, lebih bersifat apologetis, karena bertujuan untuk menjawab berbagai kritik yang dilontarkan melawan doktrin ini.

Argumen positif secara biblikal atas Doktrin Substitusi Penal, dijelaskan di Bab 2. Dalam bagian ini, ketiga penulis berusaha membuktikan bahwa doktrin ini diajarkan dengan jelas di dalam kitab suci. Sebuah kalimat penting mereka nyatakan, yaitu bahwa “para murid Yesus dikenal melalui kepercayaan mereka yang rendah hati kepada segala sesuatu yang telah Allah katakan,” termasuk terkait Doktrin Substitusi Penal ini. Meskipun dunia mencemooh doktrin ini dan menyebutnya barbar, atau tidak adil, atau bodoh, atau sebutan buruk lainnya (21). Dengan menggali beberapa nats khusus mulai dari Keluaran 12 hingga 1Petrus 2 dan 3, ketiga penulis memperkaya pemahaman kita akan doktrin ini sebagaimana yang dinyatakan Allah melalui firmanNya.

Argumen positif secara teologis atas Doktrin Substitusi Penal ini dijelaskan di bab 3. Dengan menggambarkan bangun teologi Kristen sebagai sebuah jigsaw puzzle, ketiga penulis berusaha menunjukkan “tempat” dari kepingan yang bernama “Doktrin Substitusi Penal” di dalam gambar besar teologi Kristen (95-97). Ada tema-tema besar dalam teologi Kristen yang diungkap ketiga penulis, dan “substitusi penal memiliki tempat yang mendasar di dalam teologi Kristen. Doktrin ini pas berada ditengah jigsaw untuk melengkapkan gambar yang luar biasa.” Jadi dalam bangun teologi Kristen yang digambarkan sebagai sebuah jigsaw puzzle yang besar itu, “substitusi penal terletak tepat di tengah-tengahnya” (147).

Argumen positif secara pastoral atas Doktrin Substitusi Penal ada di Bab 4. Ketiga penulis berupaya menunjukkan implikasi doktrin ini terhadap keyakinan orang percaya atas jaminan kasih dan kebenaran Allah; pemberian jawab atas hasrat manusia akan keadilan Allah; dan terhadap realitas dosa manusia. Tidak diletakkannya topik ini dalam bab terakhir menjadi petunjuk bagi pembaca bahwa aplikasi terkait topik ini bukanlah sebuah tambahan atau tempelan, melainkan bagian penting yang harus direnungkan, dan tentu dipraktekkan.

Terakhir, argumen positif secara historis dijelaskan di Bab 5. Bagi pembaca yang tertarik dengan sejarah, bagian ini paling menyenangkan. Tidak hanya karena memperkaya pembaca dengan informasi tentang fakta kehidupan tokoh Kristen, tetapi juga dapat makin meneguhkan keyakinannya akan kepentingan dan kebenaran Doktrin Substitusi Penal. Apalagi “pertanyaan tentang pedigree (silsilah) historis telah mendapatkan signifikansi lebih lanjut di dalam beberapa tahun terakhir ini, karna semakin banyak jumlah orang yang menyarankan bahwa substitusi penal adalah sebuah doktrin baru” (164).

Di Bab 5, ketiga penulis mendiskusikan sejumlah orang dan organisasi, yang terentang dari mulai para Bapak Gereja berbahasa Latin dan Yunani, hingga tokoh-tokoh utama dalam kelompok Injili Modern (164). Meskipun tokoh-tokoh dan organisasi tersebut memiliki ciri khas teologi masing-masing, “semua penulis ini, tanpa terkecuali, mempercayai Doktrin Substitusi Penal” (165). Jeffery, Ovey, dan Sach mengakui bahwa survei sejarah yang mereka jabarkan sangatlah terbatas. Figur-figur penting seperti Martin Luther, John Wesley, dan Jonathan Edwards, dan juga sarjana seperti Louis berkhof hingga gembala jemaat seperti John Piper, telah mereka lewatkan. Meski demikian, poin yang dapat ditunjukkan tentang doktrin ini adalah jelas, bahwa mereka semua mempercayainya (208).

Selesai membaca bagian pertama, maka masuklah kita ke dalam bagian besar kedua yang bersifat apologetis. Salah satu kritik modern terpenting yang direspon dalam buku ini adalah tuduhan “pelecehan anak kosmis” (124-125. Lebih spesifik lagi lihat Bab 9, sub-bab 2). Pembaca diminta untuk belajar mendengar sungguh-sungguh, kritik yang orang sampaikan tentang doktrin ini, dan barulah pembaca dapat menghadapi keberatan-keberatan mereka dengan berani, dan berusaha menjawabnya dengan bijaksana dan koheren (209-10).

Dengan sikap ini, ketiga penulis memberikan contoh yang baik kepada setiap cendekiawan injili untuk berpolemik secara adil (berusaha sebaik mungkin membiarkan pihak lain bersuara dengan segenap kekuatan mereka), tidak memaksa (mengundang para pembaca untuk mengambil keputusan mereka sendiri), dan tanpa mengorbankan kesatuan Kristen (209-11). Jeffery, Ovey, dan Sach menekankan, “Satu hal yang pasti: Buku ini tidak akan menolong siapapun jika satu pihak yang terlibat dari perdebatan ini memilih tidak mau berdialog. Tanpa diskusi, progresnya pasti lambat, jika bukan mustahil” (212).

Bagi kepentingan pembaca awam, urutan pembacaan dapat diubah untuk mempermudah pembaca memahami isi buku. Pembaca dapat membaca Bab 3 lebih dahulu, sebelum membaca Bab 2. Dengan demikian, pembaca awam dapat tertolong untuk lebih dahulu melihat letak penting doktrin ini dalam bangun teologi mereka. Apalagi di bagian awal Bab 3, ketiga penulis memberikan definisi tentang apa itu substitusi penal (97). Sementara itu istilah teologis yang muncul seperti misalnya ‘propisiasi’ dan ‘ekspiasi’ (yang artinya membersihkan atau mengampuni), dapat diletakkan dalam daftar kosakata tersendiri di halaman terpisah (73-74). Ini juga berlaku untuk istilah-istilah lain yang muncul kemudian seperti misalnya partisipasi dan substitusi (79), perspektif baru Paulus atau new perspective of Paul (80-87), rekapitulasi (126, 131), dan simplisitas (136). Ungkapan Indonesia kebenaran-keadilan atau benar-adil yang dapat ditemui hampir di sepanjang buku ini, mungkin juga baik untuk dijelaskan dalam catatan kaki sebagai terjemahan bahasa Indonesia untuk kata Inggris righteousness.

Terlepas dari beberapa kesalahan ketik yang dapat ditemukan di beberapa halaman buku ini, saya percaya buku ini dapat meneguhkan iman banyak orang Kristen terkait pokok terpenting dari apa yang dipercayainya. Bagi para pelajar teologi tingkat pertama, buku ini dapat memberikan peta untuk memahami Doktrin Keselamatan, secara khusus Doktrin Substitusi Penal. Bagi para penginjil dan pengkotbah, bagian apendiks buku ini sangatlah penting, karena bagian ini membahas tentang penggunaan ilustrasi yang tepat untuk menggambarkan aspek-aspek yang ada pada Doktrin Substitusi Penal. Bagi orang Kristen secara umum, buku ini merupakan karunia Tuhan yang lahir di jaman kita untuk menolong kita melakukan apa yang Tuhan kehendaki, yaitu siap sedia di segala waktu memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggung jawab tentang pengharapan yang ada pada kita tetapi dengan lemah lembut dan hormat dan dengan hati nurani yang murni (1Petrus 3:15-16).

(Pdt. Nurcahyo Teguh Prasetyo, M.Div. Ulasan buku ini dimuat dalam Jurnal Teologi Reformed Indonesia, Volume 3, Nomor 2, Juli 2013, halaman 146-149. Telah disunting ulang)

Iklan
0

Maleakhi 4. Hidup dalam Masa Penghakiman Allah


Pasal empat Kitab Maleakhi adalah akhir untuk pembahasan Kitab Maleakhi. Kitab ini mengakhiri Perjanjian Lama, dan secara singkat telah mengajarkan kepada kita, bahwa pada akhirnya, manusia (umat Allah sendiri) gagal untuk memahami maksud dan rencana Allah. Bahkan para pemimpin umat gagal utk setia kepada Tuhan. Pada akhirnya, Maleakhi adalah pembuka dari satu periode panjang yang terdiri dari 400 tahun masa diamnya Allah. Allah berhenti berkata-kata sampai 400 tahun. Pasal 4 ayat 1-6 yang kali ini dibahas akan memberi pelajaran penting bagi Israel, tapi juga bagi kita.

Apa implikasi ayat-ayat nubuatan ini bagi kehidupan kita di masa kini. Untuk memahami implikasinya, pertama-tama kita perlu memahami sifat nubuat dalam konteks Maleakhi ini. Nubuat yang disampaikan Maleakhi ini berbicara tentang keadaan di masa yang akan datang, tetapi persoalannya pada masa depan yang mana?

Kita sering memahami bahwa Perjanjian Lama dan segala hal di dalamnya, termasuk nubuatan-nubuatan menunjuk kepada mesias atau kedatangan Mesias, yang kemudian kita kenal sebagai Yesus Kristus. Namun berbicara tentang hari penghakiman dalam konteks Maleakhi ini, menunjuk kepada kedatangan Yesus yang manakah? KedatanganNya yang pertama (itu artinya sudah terjadi) ataukah kedatanganNya yang kedua (yang masih kita nanti-nanti)?

Kita perlu memahami bahwa ketika para nabi perjanjian Lama mendapatkan dan menyampaikan nubuat tentang masa depan, sebetulnya para nabi itu seperti seorang yang sedang menatap sebuah gunung dihadapannya. Dari perspektif nabi tersebut nampak seolah-olah hanya ada satu gunung dengan satu puncak gunung alias satu penggenapan nubuatan. Namun ternyata seiring dengan waktu, menjadi nyata bahwa sebetulnya yang sedang dilihat nabi itu adalah pegunungan atau deretan dataran tinggi, dengan dua Puncak Gunung atau dua titik penggenapan. Jadi nubuatan maleakhi ini sebetulnya menunjuk kepada kedatangan Yesus yang pertama (puncak pertama dari sebuah pegunungan), tetapi juga mencapai kedatangan Yesus yang kedua (puncak kedua dari pegunungan yang sama).

Ayat 1-3

A. Pelajaran Pertama: Dimana Posisimu?

Ayat 1a, mencatat, bahwa sesungguhnya hari itu datang (atau dalam versi firman Allah yang hidup disebut sebagai hari penghakiman), menyala seperti perapian atau dapur api.

Dalam bagian ini, sang nabi memperingatkan umat Allah untuk Waspada. Mengapa? Karena hari penghakiman tersebut akan berdampak kepada setiap orang. Dalam pembacaan kita lebih lanjut, dampak tersebut berbeda pada orang yang berbuat fasik ada umat Tuhan yang takut akan namaNya.

Peringatan ini perlu, karena umat di zaman Maleakhi adalah umat yang sedang berputus asa dan kecewa, karena meskipun mereka telah kembali dari pembuangan dan kini ada di tanah kelahiran mereka kembali, tetapi kejayaan mereka masih juga tidak seperti masa dahulu kala. Umat di jaman Maleakhi adalah umat yang kecewa karena meskipun sudah ada bait Allah kembali dan tembok tembok Yerusalem sudah dibangun kembali, tetapi kemuliaan Tuhan sebagaimana yang dibuatkan oleh Nabi Hagai tidak juga nampak sehebat jaman Salomo. Di jaman Maleakhi adalah umat yang mulai meragukan kebaikan Tuhan, dan mulai menganggap sepi pentingnya ibadah kepada Tuhan, dan mulai memandang bahwa kehidupan orang fasik dan orang benar tidak ada bedanya, sehingga tidak ada untungnya untuk terus hidup bagi Tuhan.

Menghadapi kondisi umat seperti ini, tepatlah Apabila sang nabi memperingatkan umat untuk Waspada menghadapi hari penghakiman yang sedang akan datang.

Hari penghakiman itu adalah hari pemurnian dengan api. Ini bisa dipahami sebagai api yang sesungguhnya atau juga api dalam pengertian metafora, misalnya bermakna penganiayaan, siksaan, atau penindasan (1Petrus 4:12 menggambarkan siksaan yang dialami manusia sebagai nyala api).

Apapun arti api tersebut, satu hal yang pasti, hari penghakiman itu membawa dampak. Dampak dari hari penghakiman tersebut dicatat di dalam ayat 1b dan ayat 2-3. Di ayat 1b, hari penghakiman dicatat berdampak kepada orang-orang fasik. Dikatakan bahwa setiap orang yang berbuat fasik atau sombong dan jahat, menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang akan datang itu. Bahkan dikatakan akan dimusnahkan seperti pohon yang dibakar sampai ke akar-akarnya, tidak ditinggalkan akar dan cabang satupun. Ini sebetulnya menunjukkan bahwa di hari penghakiman, segala perbuatan dan hasil karya orang fasik tersebut akan terbukti tidak tahan uji di hadapan allah yang kudus. Semua pekerjaan orang fasik sia-sia, dan tidak ada satupun yang bernilai kekal. Meskipun dalam hidup yang sementara ini, perbuatan mereka atau karya-karya mereka itu, nampak sangat dapat dibanggakan dan membangkitkan kesombongan. Namun pada hari penghakiman, semua terbukti sia-sia. Peringatan ini sangat keras ditujukan kepada umat Tuhan yang mulai kembali hidup dalam kesia-siaan dosa.

Perjanjian Baru mencatat bahwa kedatangan Yesus yang pertama bukanlah untuk menghakimi (Yohanes 3:17), tetapi pada saat yang sama juga untuk menghakimi (Yohanes 9:39). Jadi mana yang benar? Apa maksudnya Ia datang bukan untuk menghakimi tetapi juga untuk menghakimi?

a. Kedatangan Yesus kali pertama bukanlah untuk menghakimi:

Yohanes 3:17 mencatat bahwa Yesus diutus ke dunia bukan untuk menghakimi, maksudnya bukan untuk menjatuhkan hukuman yang sepenuh-penuhnya kepada dunia. Yohanes 16:11 memang mencatat perkataan Yesus bahwa, “penguasa dunia ini telah dihukum,” tetapi hukuman yang telah dijatuhkan itu belum dilaksanakan sepenuhnya. Penghukuman yang sepenuhnya atas dunia masih ditunda. Dalam hal penghukuman ini ternyata berlaku juga sifat ‘already but not yet.’ Hukuman memang sudah dijatuhkan, tapi belum dieksekusi/direalisasikan sepenuh-penuhnya. Inilah artinya kedatangan Yesus yang pertama bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan. Pernyataan ini diulang kembali dalam Yohanes 12:47.

b. Kedatangan Yesus kali pertama memang untuk menghakimi:

Pada saat yang sama, Yohanes 9:39 mencatat bahwa Yesus datang kedalam dunia untuk menghakimi, maksudnya disini adalah untuk menunjukkan kepada seseorang seperti apa sebetulnya posisinya dihadapan kebenaran. Jadi kedatangan Yesus ke dunia pada kali yang pertama adalah penggenapan dari nubuatan Maleakhi, yaitu bahwa melalui kedatangan Yesus Kristus pada kali yang pertama, menjadi jelas posisi beberapa orang di hadapan kebenaran. Misalnya, menjadi jelas bahwa orang-orang Farisi adalah orang-orang yang oleh Yesus dikatakan sebagai buta rohani. Jadi melalui kedatangan Yesus kali yang pertama, penghakiman atas dunia telah berlangsung, penghakiman yang melaluinya penghukuman sudah dijatuhkan, meski belum diwujudkan sepenuhnya. Penghakiman Yesus melalui kedatanganNya yang pertama ini, lebih bersifat menyatakan ‘siapa di pihak siapa.’ Itulah sebabnya Yesus mengatakan kepada Pilatus bahwa, “Aku datang ke dalam dunia ini, supaya aku memberi Kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suaraKu” (Yoh.18:37).

Beberapa bukti lain menunjukkan bahwa kedatangan Yesus adalah penggenapan nubuatan Kitab Maleakhi:

Di Injil Lukas, Yesus dicatat mengatakan kalimat lain yang dengan lebih jelas menunjukkan sifat penghakiman dari kedatanganNya yang pertama, “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah nyala!” (Lukas 12:49). Dan kemudian di ayat ayat 51 mencatat perkataan Yesus, “Kamu menyangka, bawa aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kataKu kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.” Kalimat Yesus ini jelas memperlihatkan bahwa kehadiran Yesus yang pertama adalah penggenapan Maleakhi 4:1.

Sudah jelas bagi kita, kedatangan Yesus yang pertama adalah hari penghakiman, tetapi ini baru salah satu puncak dari deretan pegunungan janji Allah. Masih ada puncak yang terakhir, yaitu kedatangan Yesus yang kedua untuk melaksanakan penghakiman puncak. Yesus, selama hidup di dunia, berkali-kali menyebutkan tentang akan adanya hari penghakiman (menunjuk ke masa depan). Pada hari penghakiman puncak di masa depan ini, Petrus mencatat bahwa “unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api” (2Petrus 3:10). Pada hari penghakiman puncak itu, Yesus melaksanakan sepenuhnya penghukuman, yang sebelumnya sudah dijatuhkan Allah atas dunia dalam kedatanganNya yang pertama.

Jadi, hari penghakiman Tuhan yang diberitakan Maleakhi, mencangkupi rentang waktu dari mulai mulai kedatangan Yesus pertama, hingga kedatangan Yesus kedua. Jadi, masa hidup kita saat ini, adalah masa penghakiman Allah atas dunia. Setiap orang dituntut untuk menyatakan posisinya di hadapan Kebenaran. Jika kita terhitung sebagai orang fasik, maka hukuman-hukuman yang dicatat dalam Maleakhi 4:1b, sedang berlaku atas diri kita, yaitu segala jerih payah kita sia-sia dan tidak bernilai kekal, dan hukuman puncaknya akan kita alami di masa depan. Matius 3:12 dan Lukas 3:17 menggambarkan orang fasik sebagai debu jerami yang akan dibakar dalam api yang tak terpadamkan (neraka). Rasul Paulus juga meneguhkan apa yang diberitakan Maleakhi ini dalam 1Korintus 3:12-15, secara khusus dalam konteks kehidupan di antara umat Tuhan sendiri. Jika dasar pekerjaan kita selama di dunia adalah jerami, maka kita akan kehilangan upah kita dan menderita kerugian (rugi waktu, rugi tenaga, rugi kesempatan, dsb.), meskipun sebagai anak Tuhan, kita sendiri akan tetap diselamatkan (tapi sekali lagi, dalam kondisi merugi).

Aplikasi I: Penghakiman TUHAN melalui kedatanganNya yang pertama bermaksud menantang kita untuk menyingkapkan kepada kita, dimana posisi kita sedang berpihak sebenarnya! Evaluasi diri, sedang ada di pihak siapakah Anda saat ini?

B. Pelajaran Kedua: Adakah Lima Ciri ini Ada Pada Kita?!

Dampak yang berbeda dari hari penghakiman dialami oleh orang-orang yang takut akan Tuhan. Ayat 2 mencatat bahwa bagi orang-orang yang takut akan nama Tuhan akan mengalami beberapa hal berikut ini:

  1. Baginya akan terbit surya atau matahari kebenaran.
  2. Sinar atau sayap matahari itu membawa kesembuhan.
  3. Umat akan keluar dengan bebas.
  4. Umat akan berjingkrak-jingkrak atau melompat-lompat kegirangan seperti anak sapi atau anak lembu yang dilepaskan dari kandangnya.
  5. Umat akan menginjak-nginjak orang-orang fasik atau orang-orang jahat seperti menginjak-injak abu di bawah telapak kaki.

Ini adalah 5 hal yang akan terjadi pada umat Tuhan pada hari penghakiman. Mendengar 5 janji yang luar biasa Seperti ini, seyogyanyalah umat Tuhan yang sedang kecewa itu, bangkit kembali pengharapannya.

Ayat 2-3 adalah janji Allah yang indah bagi umat Tuhan di zaman Maleakhi. Dan puncak dari janji yang indah itu adalah Pribadi dan karya Yesus Kristus. Coba evaluasi diri, apakah kelima ciri ini ada pada diri kita:

  1. Bagi umatNya, akan terbit surya atau matahari kebenaran, yaitu Yesus Kristus (Lukas 1:78).
  2. Sinar atau sayap matahari itu membawa kesembuhan. Artinya Yesus Kristus membawa pemulihan, tidak hanya jasmani, tetapi utamanya rohani.
  3. Umat akan keluar dengan bebas. Artinya Yesus menghadirkan kemerdekaan sejati.
  4. Umat akan berjingkrak-jingkrak atau melompat-lompat kegirangan seperti anak sapi atau anak lembu yang dilepaskan dari kandangnya. Artinya, Yesus menghadirkan sukacita luarbiasa.
  5. Umat akan menginjak-nginjak orang-orang fasik atau orang-orang jahat seperti menginjak-injak abu di bawah telapak kaki. Artinya, kita turut memerintah bersama-sama dengan Kristus, dan di masa depan akan bersama-bersama Kristus menghakimi dunia ini (1Kor.6:2). Memerintah disini artinya kita memiliki kuasa untuk menyatakan apa yang menjadi ketetapan Tuhan dan setelah membuat penilaian, menolak apa yang jahat.

Aplikasi II: Evaluasi diri apakah kelima ciri orang yang takut akan TUHAN di atas sudah menjadi ciri kehidupan kita?!

C. Pelajaran Ketiga: Hadapi Masa Penghakiman; Bergaul dengan Firman TUHAN!

Kesaksian kitab suci semakin jelas menunjukkan bahwa Maleakhi 4:1-3 berbicara tentang Yesus Kristus dan kedatanganNya yang membawa serta penghakiman, dimulai dari kedatanganNya yang pertama kali hingga kedatanganNya kembali kelak. Hari ini kita hidup di masa-masa penghakiman Allah atas dunia.

Datangnya Hari Tuhan yang didahului pemulihan, akan disertai api. Api penghakiman, yaitu api siksaan yang memurnikan! Sebuah api penyucian. Orang Katolik sering membicarakan tentang api penyucian setelah seseorang mati. Namun sesungguhnya, api penyucian itu berlangsung selama orang hidup, karena iman diuji selama seseorang itu hidup, dan Alkitab mengatakan bahwa orang hidup hanya sekali lalu kemudian mati dan dihakimi. Jadi kehidupannyalah yang akan dihakimi. Dan api penyucian yang berwujud siksaan dan penderitaan itu sudah berlangsung dari sejak zaman Yesus datang pertama kali, hingga kelak pada kedatanganNya yang kedua.

Jangan selalu memikirkan penganiayaan dengan bayangan siksaan badan dan terpenggalnya kepala. Banyak orang di negeri Barat dianiaya oleh orang-orang sekuler. Ada kasus besar pernah terjadi di salah satu negara bagian di Amerika. Seorang guru pernah memasukkan dua eksemplar buku cerita Alkitab di daftar buku-buku di perpustakaan kelasnya. Pihak sekolah tidak senang, lalu menuntutnya ke pengadilan. Ini akhirnya menjadi kasus besar. Guru itu tidak dilarang memasukkan buku bacaan tentang Muhammad atau tentang Budha atau tentang agama timur. Namun dilarang dan tidak boleh memasukkan buku tentang cerita Alkitab. Ancamannya, penjara! Di negara bagian lain, pendeta di Amerika bisa dipenjara jika menolak menikahkan orang-orang sesama jenis.

Di Kitab Wahyu pernah digambarkan tentang dua orang saksi yang memberi kesaksian, tetapi kemudian dibunuh. Banyak orang Kristen menafsirkan sosok dua orang ini secara harafiah. Namun Kitab Wahyu disampaikan dalam simbol-simbol. Saya percaya dua orang saksi itu menunjuk kepada Gereja Tuhan yang dari zaman PL dan mulai zaman PB memberi kesaksian tetapi kemudian dianiya oleh dunia ini. Pemulihan memang dijanjikan, tetapi itu mendahului Hari Penghakiman yang datang disertai api, Api yang Memurnikan.

Bagaimana kita dapat bertahan di tengah api yang memurnikan ini? Nasehat Ahok kepada anaknya tentang pentingnya belajar Alkitab, sangat berguna bagi kita. Bagaimana Ahok menjelaskan kepada anaknya tentang pentingnya membaca Alkitab? Ahok bergumul tentang hal itu, tetapi akhirnya, kesempatan itu datang ketika anaknya menghadapi ujian negara. Ia bertanya kepada anaknya, dan ini percakapan mereka:
Besok ujian apa? Kalo besok ujian Bahasa Indonesia, apakah Kamu belajar Fisika malam ini?”
Tidak. Nggak, Pa! Kalau besok (ujian) Bahasa Indonesia, kita belajar Bahasa Indonesia malam ini!
O gitu ya?! Kenapa gak belajar Fisika aja?
“Ya, ngapain?!”
Gimana kalo besok gurumu itu bilang begini, ‘besok ujiannya gak kasih tau kamu! Pokoknya besok ujian aja!’
Gak fair, gak fair, gak fair!
Kalo gurumu memang edan gimana? Trus memang maksain kamu, pokoknya besok datang ujian!
Wah, kalo gitu, Pa, kita mesti baca semua. Mesti belajar semua mata pelajaran yang mungkin, yang kita sudah belajar!
Kamu berani gak, tidak belajar? Padahal sudah hafal nih! Besok khan ujian bahasa Indonesia? Berani gak, gak belajar?!
Gak, gak, Pa! Bisa gak lulus!
Lalu Ahok mulai masuk ke topik belajar Alkitab. Ahok berkata,
Kita hidup ini, tiap kali kita bangun pagi, itu sama seperti kamu teriak gurunya tidak fair. Banyak orang dalam hidup ini berteriak, ‘hidup ini tidak adil buat saya, tidak fair buat saya’.
Lalu Ahok melanjutkan, “Kenapa? Sudah tahu hidup dunia ini tidak adil, ujiannya nggak jelas mau ujian apa tiap bangun pagi, Kamu masih kagak mau belajar lagi. Gimana gak fair?! Itulah kira-kira kehidupan kita. Kita setiap kali bangun pagi, seperti anak yang menghadapi ujian negara, kita tidak tahu …. Ini lebih parah dari pada sekolah. Kalo sekolah empat mata kuliah, empat mata pelajaran, kita masih inget: Matematik, bahasa Inggris, bahasa Indonesia, gitu ya?! Fisika! Kita inget! Empat! Paling belajar empat! Tapi kalo dalam hidup ini, kita gak pernah tahu pagi ini akan menghadapi orang ngapain kita. Kita gak tahu akan muncul masalahnya apa. Nah, untuk menghadapi ujian hidup seperti itu, Anda berani sekali tidak belajar!?” Maksudnya, belajar Alkitab. 

Dimasa ini bergaullah dengan Firman Tuhan, karena dengan bergaul dengan Firman Tuhan kita dapat bertahan dalam kehidupan yang penuh ujian.

Aplikasi III: Sadarilah bahwa penghakiman TUHAN datang sebagai api pengujian, bergaullah dengan Firman TUHAN untuk siap menghadapi setiap ujian iman.

Ayat 4-6

D. Pelajaran Keempat: Hiduplah Senantiasa Berpusatkan Kristus!

Pelajaran apa lagi yang dapat kita renungkan dari ayat berikutnya? Ayat 4-6 menyatakan ajakan Tuhan kepada umat untuk:

  1. Memandang ke masa lalu, dimana ada Musa dan hukum Tuhan, dan…
  2. Memandang ke masa depan, dimana ada Elia dan berita pertobatannya.

Menarik, dari enam ayat yang kebanyakan berbicara tentang masa depan, nanti, nanti, dan nanti, ternyata ada satu ayat, yaitu ayat 4, yang mengajak kita menengok ke belakang! Menengok ke masa lalu! Menengok ke zaman Musa dan hukum-hukumnya. Hukum Musa membuat orang menyadari dirinya bersalah dan berdosa, dan bahwa diri mereka najis, cemar, kotor. Namun hukum Musa (dan banyak hal besar di Perjanjian Lama, dari mulai Bait Allah, upacara korban, bahkan tokoh-tokoh) menunjuk kepada Yesus Kristus. Perjanjian Lama berbicara tentang Yesus Kristus. Jadi pusat Perjanjian Lama adalah Yesus Kristus.

Di ayat lima, Maleakhi kemudian mengajak pembacanya kembali melihat ke masa depan. Masa ketika Hari Tuhan akan tiba, dan utusan Tuhan, yaitu Elia, akan berjalan mendahului dan mempersiapkan jalan bagi Sang Mesias. Di Perjanjian Baru dijelaskan oleh Yesus sendiri bahwa Elia itu adalah Yohanes Pembaptis. Yohanes telah menjadi pembuka jalan bagi Sang Mesias, yaitu Yesus Kristus. Dan Yohanes, mengarahkan pandangan umat kepada Yesus Kristus. Jadi ayat lima sebetulnya juga memusatkan perhatian orang kepada Yesus Kristus.

Ayat 4 dan 5 seperti sebuah jembatan yang menghubungkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Bagi orang Kristen, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidaklah terpisahkan, dan keduanya berpusatkan kepada Yesus Kristus.

Kehadiran Musa dan Elia dalam Maleakhi 4:4-6 mengingatkan kita juga kepada peristiwa transfigurasi yang dicatat dalam Perjanjian Baru, yaitu peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung. Dalam peristiwa itu, diri Yesus bersinar cemerlang, dan Musa (yang sudah mati) dan Elia (yang sudah naik ke sorga), bertemu dengan Yesus dan bercakap-cakap dengan Yesus. Mereka bercakap-cakap tentang tujuan kedatangan Yesus atau misi Yesus. Baik dari catatan di Maleakhi, maupun dalam peristiwa Transfigurasi, jelas yang menjadi pusat dari Musa (mewakili PL) dan Elia (pembuka jalan PB) adalah Yesus Kristus, Sang Mesias yang kedatanganNya akan didahului Elia.

Yesus Kristus yang menjadi pusat PL dan PB, yang kedatanganNya didahului Elia ini, akan memulihkan segala sesuatu. Digambarkan di ayat 6, kehadirannya akan “mengembalikan hati bapa-bapa kepada anak-anaknya, dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya.” Demikian pemulihan segala sesuatu akan terjadi. Harapan akan terjadinya pemulihan relasi, dijanjikan dalam ayat terakhir Kitab Maleakhi.

Aplikasi IV: Arahkan hidupmu agar berpusatkan Kristus, karena itulah kesimpulan akhir dari berita Perjanjian Lama Kristen!

Ini empat pelajaran bagi kita melalui Maleakhi 4:1-6. Pertama, Evaluasi diri, dimana posisimu saat ini di hadapan kebenaran?! Kedua, Evaluasi diri apakah kita sudah memiliki kelima ciri orang yang takut akan TUHAN?! Ketiga, Berjaga-jaga menghadapi api siksaan dengan bergaul dengan firmanNya. Keempat, Hiduplah dengan senantiasa berpusatkan kepada Kristus.

Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.

(Pdt. NT Prasetyo, M.Div. Ibadah Umum I-III di Gereja Kristen Kalam Kudus Jayapura, Minggu/9 April 2017).

0

Matius 25:31-46. Anak-Anak Kerajaan: Sebuah CIRI dan Bukan CARA


Renungan khotbah kali ini terambil dari Matius 25:31-46. Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia versi terjemahan baru, memberi judul perikop, “Penghakiman Terakhir.”

Ayat 31 mencatat demikian, “apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaanNya.” Perikop ini diawali dengan pernyataan tentang kedatangan Anak Manusia, yaitu Yesus Kristus, atau yang biasa kita sebut dengan istilah kiamat. Kata Takhta dalam perikop ini mengindikasikan bahwa yang datang itu adalah sosok raja.

Menarik, apabila kita memperhatikan ayat-ayat sebelumnya, kita akan menemukan adanya 2 perumpamaan, yaitu:

  1. Perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh di Matius 25:1-13, dan
  2. Perumpamaan tentang talenta di Matius 25:14-30.

Kedua perumpamaan ini memperingatkan kita akan TANGGUNGJAWAB. Dalam perumpamaan pertama, manusia harus bertanggung jawab untuk berjaga-jaga menyambut kedatangan Tuhan, secara khusus bertanggung jawab dengan waktu mereka. Dalam perumpamaan kedua, manusia harus bertanggung jawab mengelola apa yang Tuhan percayakan, sebelum Tuhan datang kembali. Hal yang dipercayakan itu disebut ‘talenta,’ yang dalam konteks kehidupan kita merupakan apapun yang Tuhan percayakan untuk kita kelola, bisa berupa bakat, harta, atau apapun. Intinya, kedua perumpamaan diatas mengingatkan kita tentang TANGGUNGJAWAB. Demikianlah perikop yang kita bahas kali ini, harus kita baca dalam kaitannya dengan kerajaan Allah atau kerajaan surga, dan tanggungjawab. Dan di ayat 31, kita bertemu dengan Raja kerajaan tersebut, yang dicatat akan datang dan bertakhta, dan meminta pertanggungjawaban.

Tanggung jawab apa yang diminta? Sebelum menjawab hal itu, kita berjumpa dengan ayat 32, yang memberitahukan kepada kita siapakah anak-anak kerajaan dan siapa yang termasuk anak-anak kebinasaan. Anak-anak kerajaan dan anak-anak kebinasaan berasal dari suku-suku bangsa. Ayat 32 mencatat kalimat, “semua bangsa akan dikumpulkan di hadapanNya.” Dan terhadap bangsa-bangsa itu akan diadakan pemisahan. Anak-anak kerajaan akan dipisahkan dari anak-anak kebinasaan, dan keduanya berasal dari bangsa-bangsa tersebut.

Ayat 32 mencatat bahwa sang raja itu bagaikan gembala yang memisahkan domba dari kambing. Ayat 33 menjelaskan bahwa domba-domba ditempatkan di sebelah kanannya, sedangkan kambing-kambing ditempatkan di sebelah kirinya. Ayat 34 menjelaskan kepada kita bahwa yang di sebelah kanan adalah mereka yang diberkati oleh Tuhan dan menerima kerajaan surga. Artinya anak-anak kerajaan itu digambarkan sebagai domba domba. Dan ayat 32 telah mencatat tindakan Tuhan adalah memisahkan domba atau anak-anak kerajaanNya dari kambing atau dari mereka yang bukan terhitung sebagai anak-anak kerajaanNya. Dari suku-suku bangsa yang menghadap Tuhan, Ia memisahkan domba-domba kepunyaanNya dari kumpulan besar manusia yang dikumpulkan dihadapanNya.

Ayat 34 menjelaskan keadaan anak-anak kerajaan, dan dapat kita kontraskan dengan keadaan anak-anak kebinasaan di ayat 41:

  1. Pada ayat 34, dicatat bahwa tentang keadaan anak-anak kerajaan itu, mereka adalah orang-orang yang diberkati oleh Bapa di surga, dan kepada mereka diberikan oleh Tuhan, kerajaan yang telah disediakan bagi mereka sejak dunia dijadikan. Kalimat terakhir ini menarik, karena ternyata bagi anak-anak kerajaan, kerajaan surga ternyata telah disediakan bagi mereka, bahkan dari sejak sebelum mereka ada. Jadi, ternyata Tuhan dari sejak mulanya sudah mengetahui siapa milik kepunyaanNya. Dia telah menyediakan kerajaan surga, bahkan sebelum anak-anak kerajaan itu ada. Jadi tentang anak-anak kerajaan, kita membaca adanya Anugrah pemilihan Allah.
  2. Namun berbeda ketika Alkitab berbicara tentang anak-anak kebinasaan. Ayat 41 tidak mengatakan, “hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.” Kalimat dalam ayat ini hanya berkata bahwa “api yang kekal itu telah tersedia untuk iblis dan malaikat-malaikatnya.” Ini berbeda dengan bunyi ayat ke 34.

Jadi, tentang anak-anak kerajaan, Tuhan menggunakan kalimat yang bersifat Anugerah, bahwa kerajaan Allah itu tersedia bagi mereka, dari sejak dunia dijadikan; jauh sebelum anak-anak kerajaan itu sendiri ada.

Namun berbeda halnya dengan anak-anak kebinasaan, Tuhan menggunakan kalimat yang bernada tanggung jawab, yaitu bahwa api kekal itu tersedia bagi iblis dan malaikat-malaikatnya, tetapi bukan bagi manusia ciptaanNya. Sehingga apabila realitanya ada manusia yang masuk neraka, maka itu adalah tanggung jawab manusia itu pribadi.

Pernyataan di atas tentu menimbulkan ketidak selarasan di dalam pikiran kita yang terbatas. Adalah lebih mudah untuk mengatakan bahwa, jika ada orang-orang yang masuk surga, maka surga itu telah menjadi tempat yang Allah siapkan bagi mereka sejak dunia dijadikan, dan sebaliknya jika ada orang-orang yang masuk neraka, maka neraka itu telah menjadi tempat yang Allah siapkan bagi mereka sejak dunia dijadikan. Pernyataan yang satu, dengan tegas mengimplikasikan pernyataan yang lain.

Namun tidak demikian adanya dengan pernyataan Alkitab. Alkitab malah menimbulkan ketidak selarasan dalam pikiran kita yang terbatas. Alkitab hanya menyatakan, bahwa tentang kerajaan sorga, itu telah disediakan dari sejak dunia ada bagi anak-anak kerajaan, sedangkan tentang api kekal, apabila sampai ada manusia yang masuk ke tempat itu maka itu adalah tanggung jawabnya pribadi, karena sebetulnya tempat itu adalah untuk iblis dan malaikat-malaikat-nya.

Ayat 35-36 mengungkapkan ciri-ciri dari anak-anak kerajaan. Dan di ayat 37 dinyatakan bahwa anak-anak kerajaan yang memiliki ciri-ciri tersebut berstatus sebagai orang-orang benar. Jadi tindakan memperhatikan sesama yang paling hina ternyata adalah ciri orang-orang benar. Orang-orang benar itu sendiri tidak menyangka bahwa perhatian mereka kepada sesama yang paling hina adalah pelayanan kepada sang raja sendiri. Mereka melakukan pelayanan itu dengan setulus hatinya, tanpa bermaksud menyogok sang raja, atau menjilat sang raja, demi mendapatkan hak masuk kerajaan itu. Ini tersirat dari ayat 37-40. Singkatnya, perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan anak-anak kerajaan sebagaimana yang didaftarkan dalam ayat-ayat diatas adalah CIRI anak-anak kerajaan, dan bukan CARA untuk mendapatkan kerajaan surga. Sekali lagi, perhatikan perbedaan antara CIRI dan CARA, karena perbedaan ini adalah perbedaan yang membedakan kita dengan mereka yang tidak seiman.

Ayat 41-45 menjadi ciri dari anak-anak kebinasaan. Orang dengan ciri ini, dinyatakan dalam ayat 46a, bahwa mereka akan masuk ke tempat siksaan yang kekal alias neraka. Namun, orang benar, yang memiliki ciri-ciri berbeda masuk ke dalam hidup yang kekal. Sekali lagi kita menemukan frasa ‘orang benar.’ Singkatnya, orang-orang benar dicirikan dengan perbuatan-perbuatan baik, dan bukannya dicirikan dengan perbuatan-perbuatan yang sebaliknya.

Perikop ini hanya berhenti sampai pada titik ini. Namun apabila kita terus melanjutkan pembacaan kita sampai kepada surat-surat Paulus, maka kita akan menemukan bahwa status ‘benar’ kita bukankah karena jasa-jasa atau kebaikan kita sendiri, melainkan status ‘benar’ disini diperoleh karena Kristuslah yang membenarkan kita. Kebenaran Kristus diperhitungkan kepada kita, sebaliknya dosa-dosa kita diperhitungkan ke atas Kristus. Di atas kayu salib Kristus menanggung hukuman yang seharusnya kita terima, dan sebaliknya kita dipandang benar oleh Allah, karena kebenaran Kristus diperhitungkan ke atas kita.

Apa implikasi dari pelajaran kita hari ini:

1. Evaluasi diri Anda.

Apabila saya mengaku diri saya adalah anak-anak kerajaan, sudahkah saya menampilkan ciri-ciri sebagai anak-anak kerajaan?

2. Marilah kita berjuang sebagai anak-anak kerajaan untuk memperluas kehadiran nilai-nilai kerajaan itu ke dalam berbagai bidang kehidupan, melalui profesi kita masing-masing.

Mungkin kita tidak bisa, secara literal, mempraktekkan ciri-ciri yang tercantum diatas. Mungkin kita tidak bisa, betul-betul menampung orang asing di rumah kita, atau memberi makan orang yang kelaparan, atau mengunjungi orang-orang di penjara, tapi kita bisa menciptakan kondisi-kondisi dimana itu dimungkinkan untuk terjadi. Contohnya seperti apa yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok di DKI Jakarta (Maaf, saya pakai contoh ini, karena, toh, kita di Jayapura, tidak sedang dalam masa Pilkada untuk memilih dia sebagai salah satu calon).

Ahok mungkin tidak bisa, secara literal, menampung orang-orang miskin di rumahnya, karena bisa-bisa rumahnya tidak cukup bila orang miskin se-DKI Jakarta menginap di rumahnya. Namun melalui jabatannya dan pengaruhnya, ia dapat mengupayakan terciptanya kondisi agar keadilan sosial dapat diwujudkan. Jadi bukan sekedar bantuan sosial, melainkan keadilan sosial. Demikian juga kita, melalui profesi, harta, tenaga, pikiran, waktu, dan segala sumber daya lain yang kita miliki, kita bisa mengupayakan terciptanya kondisi-kondisi dimana nilai-nilai Kerajaan Allah hadir dan meluas dalam berbagai bidang kehidupan.

Dua hal ini adalah tanggungjawab kita sebagai anak-anak kerajaan. Siapkah kita?

(Pdt. NT. Prasetyo, M.Div. Persekutuan Rayon Petra, Jumat, 7 April 2017, di kediaman Pak Rocky dan Bu Siane).

0

Tiga Makna Salib


Kita sangat sering sekali melihat orang menggunakan aksesoris salib. Orang juga banyak berbicara tentang salib. Bahkan di tengah-tengah kekristenan modern hari ini. Kita juga bisa melihat berita tentang salib itu, tidak hanya sebatas mimbar, tetapi juga dipertontonkan melalui pertunjukan-pertunjukan drama bahkan film di layar lebar.

Namun Apakah sebetulnya artinya salib itu? Jangan-jangan kita sudah tidak lagi memahami karena salib menjadi sekedar aksesoris di dalam kehidupan kekristenan modern, sama seperti kalau kita melihat kemeriahan natal di Jepang sana atau bahkan di negeri-negeri barat. Kemeriahan itu sudah lebih memiliki makna komersil atau ekonomi. Jadi pernak-pernik yang dijual terkait dengan Natal, bahkan mungkin juga terkait dengan Paskah, sudah terlepas sama sekali dari makna yang sesungguhnya. Karena itu saudara-saudara, penting bagi kita untuk terus disapa oleh firman Tuhan, untuk terus belajar memahami apa arti sebetulnya dari semua aktivitas keagamaan yang kita kerjakan. Jangan-jangan, itu semua sudah tidak bermakna lagi, terutama ketika kita sebentar lagi akan bersama-sama memperingati Jumat Agung dan Minggu kebangkitan (Paskah), apa makna dari semua itu.

Hari ini saudara-saudara mari kita merenungkan tiga bagian firman Tuhan tentang apa makna salib bagi orang Kristen, karena salib sudah menjadi aksesoris yang seringkali tidak lagi mengangkat mata kita kepada pengorbanan Tuhan kita, melainkan telah berbalutkan emas bahkan berlian sehingga salib sekedar menjadi sebuah status elite atau status kemewahan atau status yang terlepas sama sekali dari makna kehadiran Tuhan.

Pertama, dari bacaan kita, Roma 6:6, kita mau belajar apa artinya salib bagi kita, melalui surat yang ditulis oleh Rasul Paulus kepada Jemaat di rumah, di Roma. Paulus mengingatkan, “karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.

Ada satu hal yang turut disalibkan ketika kita mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, dan menerima dia sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Ketika kita mengakui diri kita bahwa kita adalah orang berdosa; ketika kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan dan beriman bahwa melalui kematian Kristus, pada saat itulah manusia lama kita telah turut disalibkan. Yang dimaksud manusia lama adalah segala keinginan keinginan jahat, segala keinginan-keinginan kita yang berdosa telah turut disalibkan.

Bukankah ini kabar baik? Berapa banyak di antara kita yang bergumul dengan dosa-dosa kita? Kita begitu terikat. Kita merasa terjebak. Kita merasa sulit lepas. Kita putus asa. Kita merindukan jalan keluar, tetapi kita tidak mampu, sampai kemudian firman Tuhan ini menyatakannya kepada kita. Ketika kita percaya kepada Yesus, manusia lama kita, keinginan-keinginan jahat, keinginan-keinginan berdosa kita, turut disalibkan.

Saudara saudara, dengan demikian tubuh dosa kita, kecenderungan dosa yang ada dalam hidup kita yang sudah muncul dari sejak kita lahir, hilang kuasanya, tidak lagi berkuasa atas kita, karena tubuh dosa kita telah turut disalibkan bersama Tuhan kita.

Saudara saudara, karena itu bagi setiap kita yang merasa diperbudak oleh dosa, mari kita datang kepada Salib Tuhan Yesus, karena tubuh dosa kita disalibkan bersama penyaliban Tuhan kita. Firman Tuhan mengatakan jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Ketika seseorang telah dimerdekakan, setelah lepas dari dosa, mengapakah dia mau kembali kepada kehidupan yang berdosa itu? Kehidupan yang membawa kepada penderitaan semata-mata? Kehidupan yang manis kelihatannya diawal, tetapi membawa kepada kepahitan yang tidak henti-hentinya?

Inilah kuasa salib yang pertama, bahwa tubuh dosa kita, segala keinginan-keinginan dosa kita, telah turut disalibkan. Karena itu biarlah ini menjadi kabar baik yang pertama buat kita, ketika kita di hari-hari menjelang, duduk di gereja mendengarkan Khotbah Firman Tuhan, dan mengikuti perjamuan kudus. Sementara kita memperingati kematian Tuhan kita, mari kita juga berdoa kepada Tuhan. Datang kehadiratNya, dan menjadikan momen itu sebagai momen pribadi kita dengan Tuhan. Dan kita berkata kepada Dia, “Tuhan, ini aku orang berdosa. Aku duduk di tengah-tengah keramaian jemaat, tetapi aku ingin secara pribadi berurusan dengan Engkau. Aku ingin mengakui diriku orang berdosa, aku ingin dilepaskan dari belenggu dosa. Aku ingin hidup merdeka di dalam Tuhan, seperti banyak anak-anak Tuhan hidupnya sungguh-sungguh bermakna dan berarti, hidup tidak dilewati hanya hari demi hari tanpa arti, tetapi sungguh-sungguh memiliki makna sejati. Biarlah itu menjadi doa kita dihadapan Tuhan, ketika kita menyambut roti dan anggur di gereja kita masing-masing. Kita duduk di hadirat Tuhan dan mengatakan kepada Tuhan, “Tuhan, aku percaya kepada kebaikanMu, kebaikanMu itulah yang membenarkan aku, kebaikanMu dinyatakan melalui penyaliban, dan aku percaya kematianMu adalah bagiku, menggantikan aku, dan kini aku serahkan hidupku kepada Tuhan. Semua dosa-dosaku, beban hidupku, beban pelanggaranku, aku letakkan di bawah kaki Salib Tuhan.

Saya pernah membaca sebuah cerita yang sangat terkenal, diangkat dari tulisan seorang hamba Tuhan/rohaniwan kelompok Puritan di Inggris, di Inggris, yang judul novelnya dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “Perjalanan Musafir,” atau “The Pilgrim’s Progress.” Di dalam kisah ini digambarkan tentang seorang Kristen yang hidup dibebani dengan beban dosa yang sangat berat, sampai ketika dia berjumpa dengan salib Kristus di atas bukit, dan ketika dia datang kepada Tuhan, datang kepada salib Kristus itu, beban dosa itu terlepas dan terguling jatuh, terlepas dari dirinya, dan kemudian dia dimerdekakan dari dosa.

Saudara-saudara, biarlah momentum menjelang peringatan kematian dan kebangkitan Tuhan kita, kita menjadi orang-orang yang betul-betul mau berurusan dengan Tuhan secara pribadi. Dan ketika tiba waktunya kita menghadap Tuhan, kita meletakkan seluruh beban dosa kita di bawah kaki Salib Tuhan, dan segala keinginan keinginan jahat dan keinginan-keinginan dosa kita turut disalibkan.

Saudara-saudara, kita tidak lagi menjadi hamba dosa, karena dosa itu hilang kuasanya. Ada sebuah api lain, api yang lebih besar menghanguskan kita. Cinta kepada rumah Tuhan, Cinta kepada FirmanNya, menghaluskan kita. Sehingga semua api-api kecil yang lain, yang sifatnya membawa kenikmatan-kenikmatan yang sementara, api-api itu hilang kuasanya, karena dihanguskan oleh api yang lebih besar, yaitu api dari Tuhan Yesus Kristus.

Kedua, makna salib yang kedua, kita dapat baca dari Kolose 2:14-15. Kepada Jemaat Kolose, Paulus memberikan sebuah berita, yang sebetulnya kalau kita renungkan sungguh-sungguh, membawa sukacita bagi kita. Karena dalam Kolose 2:14-15 ini, dicatat apa artinya salib Kristus bagi kita. Dinyatakan dari ayat 13, “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaran, dan oleh karena tidak di sunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan dia -dalam hal ini dengan Kristus- sesudah ia mengampuni segala pelanggaran kita.” Bagaimana caranya? Ayat 14 menyatakan, “dengan menghapuskan surat hutang yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita, dan ditiadakannya dengan memakukannya pada kayu salib.” Melalui ayat 14 ini, kita membaca tentang surat utang atau hutang yang dimaksud adalah hutang kita kepada Allah, bukan hutang kita kepada iblis. Kita berhutang kepada Allah, yaitu kebenaran.

Kita diciptakan Tuhan sebagai gambar dan rupaNya yang seharusnya hidup di dalam kebenaran, tetapi ketika dosa itu hadir di dalam kehidupan manusia, kita tidak mampu lagi hidup menurut kebenaran. Pikiran kita selalu memberontak kepada Tuhan, perasaan kita selalu berpusat kepada diri sendiri, dan kehendak kita selalu melakukan yang jahat yang mengikuti nafsu kedagingan kita.

Kita tidak sanggup untuk menyenangkan Tuhan, sebagaimana yang menjadi standar Tuhan. Karena itu kita disebut sebagai orang-orang berhutang. Kita berhutang kebenaran kepada Allah. Di dalam terjemahan Alkitab yang lain, yaitu terjemahan Alkitab versi firman Allah yang Hidup (FAYH), kita bertemu dengan istilah daftar dosa. Daftar ini adalah daftar pelanggaran-pelanggaran hukum yang kita lakukan, dan dengan daftar ini, iblis mendakwa kita. Seolah-olah kita ada dalam situasi pengadilan, dan iblis memperlihatkan kepada Allah Bapa, daftar dosa-dosa kita, “Ini dosa-dosa dari seseorang yang bernama Nurcahyo,” dan iblis mendakwa, mendakwa, mendakwa, dan menuduh kita. Dia mengancam kita. Daftar hutang itu diperhadapkan kepada kebenaran Allah, dan sudah jelas kita harus membayar hutang itu. Dengan apa? Dengan nyawa kita, dengan hidup kita.

Namun disinilah anugerah Allah besar kita alami, karena ketika kita percaya Yesus, ketika kita dihidupkan secara rohani oleh Allah, ketika kita mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, maka surat hutang itu -sebagaimana dinyatakan dalam Kolose 2:14- dipakukan diatas kayu salib. Karena apa? Karena ada pribadi lain yaitu Anak Allah yang menjadi manusia, yaitu Yesus Kristus, telah memikul surat hutang itu. Dia yang membayar hutang kita kepada Allah. Dengan apa? Dengan kehidupannya yang benar itu, dipertukarkan, diperhitungkan kepada kita, sedangkan hutang-hutang kita, pelanggaran dan dosa-dosa kita, Ia pikul dalam tubuhNya, sehingga Dia mati di kayu salib, menggantikan kita. Harusnya kita yang membayar hutang itu dengan nyawa kita, tetapi Yesus Kristus menggantikan kita. Dialah yang membayar hutang kita kepada Allah, dan Dia membayar dengan darahNya yang mahal.

Di dalam darah ada nyawa manusia, artinya hutang kita seharga nyawa kita, tetapi Kristus menggantikan kita. Dia menggantikan orang-orang yang berhutang ini. Dialah yang memikul hutang itu. Dia yang membayarnya bagi kita. Dia yang melunasi dengan darahNya, tercurah dari atas kayu salib. Dengan demikian di hadapan salib Kristus, kita bukan lagi orang yang berhutang. Hutang kita telah lunas dibayar, dengan darah yang mahal. Oleh siapa? Oleh Yesus Kristus yang menggantikan kita. Karena itu di ayat 15, peristiwa ini adalah peristiwa perayaan.

Kolose 2:15 mengatakan demikian tentang kematian Yesus, yaitu bahwa melalui kematian Yesus, Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa -maksudnya iblis- yang mendakwa kita, dan menjadikan mereka tontonan umum, dalam kemenanganNya atas mereka. Di dalam terjemahan lain dikatakan, kemenangan terjadi melalui kematianNya di atas kayu salib. Karena itu, seperti nyanyian, “Karena SalibMu, ku menang…. Karena SalibMu, ku hidup….” Itulah yang terjadi melalui peristiwa salib.

Di dalam salib, ada kemenangan, karena orang-orang yang berhutang dan didakwa oleh setan, kini dimerdekakan oleh Tuhan. Ayat 15, kalau digambarkan di dalam konteks bangsa Romawi di jaman Yesus, maka gambarannya adalah seperti seorang jendral perang yang pulang berperang dan memasuki kota Roma dengan segala kemegahan. Jenderal itu naik kereta perang dan kemudian pasukannya berdiri di belakangnya, dan para musuh-musuhnya yang telah ditaklukkan itu, berjalan di depannya.

Ayat 15 memberikan gambaran bahwa ketika Yesus mati di kayu salib itu seperti sebuah perayaan kemenangan. Ada seorang jenderal besar, masuk kota Roma, dan musuh-musuhnya itu terbelenggu, berjalan di hadapannya. Mereka menjadi tontonan umum, mereka, yaitu iblis dipermalukan. Si jahat dipermalukan. Dalam apa? Dalam kemenangan Kristus atas musuh-musuh rohani ini. Peristiwa salib adalah peristiwa kemenangan, karena Yesus Kristus merebut orang-orang yang tadinya dicengkeram oleh iblis, kini menjadi miliknya. Kita semua yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat adalah orang-orang yang telah direbut Tuhan dari tangan iblis, dari dakwaan iblis. Kita dimerdekakan oleh Tuhan, kita tidak lagi menjadi orang berhutang, kita menjadi milik Sang Pemenang, milik Kristus. Karena itu di dalam teologi Kerajaan Allah, ketika Yesus mati di atas kayu salib, itu adalah momen kemenangan dimana Kerajaan Allah ditegakkan di atas muka bumi ini.

Jadi, Kerajaan Allah sudah ditegakkan dan kita kini disebut sebagai umat pemenang. Roma pasal 8 mencatat bahwa kita adalah umat pemenang, di dalam kemenangan Kristus. Kini kita hidup sebagai umat pemenang, kita bukan lagi orang-orang yang kalah, justru sekarang tugas kita adalah mengisi kemenangan itu. Seperti bangsa Indonesia hari ini bertugas untuk mengisi kemerdekaan demikian kita harus mengisi kemerdekaan yang telah Tuhan capai bagi kita.

Iblis masih terus bekerja. Dia adalah pihak yang kalah, yang masih terus berusaha merongrong kemenangan kita. Namun Rasul Paulus mengingatkan, siapakah yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus? Tidak ada saudara-saudara! Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Dia telah menang, dan kita tubuhNya, turut menikmati kemenangan melalui salib Kristus.

Ketiga, kita belajar makna salib dari Ibrani 2:14-15. Bagian Firman Tuhan ini menyatakan, “karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga -Kristus- menjadi sama dengan mereka -menjadi sama menjadi manusia- dan mendapat bagian dalam keadaan mereka supaya oleh kematiaNya, Ia memusnahkan dia, yaitu iblis, yang berkuasa atas maut, supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan, oleh karena takutnya kepada maut.” Di dalam versi Firman Allah yang Hidup (FAYH), kalimatnya lebih sederhana lagi, yaitu bahwa dengan kematian Yesus di atas kayu salib, Yesus mematahkan kuasa iblis. Kata memusnahkan di dalam Alkitab Terjemahan Baru kita kurang menggambarkan apa yang terjadi, karena seolah-olah iblis sudah hilang sama sekali. Kenyataannya iblis masih bekerja. Maka apa yang sebetulnya dikalahkan oleh Tuhan? Kuasanya. Iblis dipatahkan kuasanya melalui kematian Tuhan Yesus, tetapi dia sendiri masih ada, dan masih bekerja. Sampai kapan? Sampai nanti tiba waktunya iblis dihukum selama-lamanya di dalam neraka, ketika Yesus datang yang kedua kalinya.

Kematian Yesus mematahkan kuasa iblis. Iblis tidak lagi berkuasa atas kematian manusia. Setiap orang yang mati, iblis berniat untuk mencuri jiwanya untuk membawanya menjadi bagian dia, yaitu untuk menyesatkan dan membawa orang kepada kebinasaan. Namun kini orang tidak perlu lagi takut mati. Itu yang dimaksud dengan Ibrani 2:15. Orang tidak perlu lagi takut kematian karena apa? Karena orang yang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan juruselamatnya kini tidak dapat lagi dituduh oleh iblis. Mengapa? Karena dia sudah menjadi milik Kristus, Kristus yang mengasihi kita. Dan Tuhan Yesus Berjanji di dalam Injil Yohanes, tidak seorang pun akan merebut mereka dari tanganKu, dari tangan Bapa. Jadi kalau kita sudah menjadi milik Kristus, jaminannya adalah aman. Jiwa kita dilindungi aman di dalam tangan Tuhan. Karena itu orang-orang Kristen tidak takut terhadap kematian, karena apa? Karena kuasa iblis sudah dipatahkan. Kuasa iblis yang mendakwa itu, yang bersiap untuk merenggut jiwa kita ketika kita mati, sudah dipatahkan pada detik kita percaya kepada Tuhan Yesus.

Pasca serangan kelompok teroris yang terkait Al-Qaeda, yaitu Al-Shabaab, pada hari Sabtu (4/4) di Universitas Garissa, Nairobi, yang mengakibatkan terbunuhnya 150 orang Kristen, Presiden Kenya, Uhuru Kenyyata menyerukan warganya untuk mengingat bahwa kekuasaan Tuhan melampaui kekuatan kejahatan. Sementara itu, negara itu berkabung dan tengah memakamkan mereka yang menjadi korban.

Presiden Uhuru Kenyatta, seperti dikutip Christian Examiner, mengatakan Kenya akan mengalami situasi “penuh dengan penderitaan dan kemarahan yang besar,” namun dia meminta warganya untuk mengingat pesan Paskah yang baru saja diperingati. “Keluarga dan komunitas yang tejatuh harus mencari penghiburan dengan mengingat bahwa setelah kejahatan dalam penyaliban pada hari Jumat (Agung), dan ketika Iblis berpikir bahwa dia telah menang, harapan datang pada hari Minggu” (Tautannya Klik Disini).

Pernyataan Presiden Uhuru diatas memperlihatkan pandangannya bahwa kemenangan Kristus baru terjadi di Hari Minggu Kebangkitan, dan peristiwa kematian Yesus di atas kayu salib adalah sebuah kekalahan. Mungkinkah Presiden Uhuru terpengaruh aksi kelompok musik-tari Korea yang menampilkan cerita berjudul Redeemer? Dalam tampilan tersebut digambarkan bahwa ketika Yesus mati, iblis tertawa. Gambaran yang berbeda nampak dalam film karya Mel Gibson, “The Passion of Christ.” Ketika Yesus mati di atas kayu salib, iblis digambarkan berteriak kalah.

Jadi mana yang benar? Kelompok musik-tari Korea dan Presiden Kenya, Uhuru Kenyyata, atau Mel Gibson?

Kita melihat tepatlah gambaran yang diberikan oleh Mel Gibson salah seorang sutradara Hollywood yang membuat film Passion Of The Christ. Perhatikan di dalam film itu, ketika Yesus mati dikayu salib iblis itu berteriak. Dia berteriak meneriakkan teriakan kekalahan karena kuasanya dipatahkan. Pada detik Yesus mati, tersedia lah penebusan. Setiap orang yang percaya kepada Yesus tidak lagi menjadi milik iblis. Iblis tidak lagi menjadi bagian dari si jahat, karena itu kematian Yesus diiringi oleh teriakan kekalahan iblis.

Memang beberapa orang telah salah menafsirkan tentang kematian Yesus dan mereka kurang teliti, hingga saya pernah juga menyaksikan salah satu tayangan drama dari Korea tentang kematian Yesus, dan digambarkan di sana ketika Yesus mati iblis tertawa. Ini gambaran yang tidak alkitabiah, karena justru ketika Yesus mati, kuasa iblis dipatahkan. Lebih tepat gambaran yang diberikan oleh Mel Gibson dalam filmnya Passion Of The Christ. Ketika Yesus mati, terjadi penebusan, jiwa-jiwa diselamatkan, baik yang percaya di masa lalu kepada Mesias, maupun yang akan datang, yang akan percaya kepada korban Yesus Kristus dan diselamatkan menjadi milik Tuhan. Sehingga dalam kematian Kristus, Iblis berteriak meneriakkan teriakan kekalahan.

Inilah tiga berita tentang apa arti kematian Tuhan Yesus Kristus di atas kayu salib.

Pertama, melalui kematianNya di atas kayu salib, keinginan-keinginan jahat kita dan keinginan-keinginan berdosa kita telah turut disalibkan atau dimatikan, sehingga kita menghidupi kehidupan yang baru. Ada api yang baru. Kita jijik terhadap dosa. Kita tidak lagi berniat dengan sengaja hidup dalam dosa seperti yang lalu-lalu.

Kedua, melalui salib daftar dosa kita atau daftar utang kebenaran kita kepada Allah disalibkan juga, karena ada korban lain yang menanggung, jadi kita tidak lagi menjadi orang yang berhutang. Kita telah ditebus dan harganya lunas dibayar oleh Tuhan Yesus Kristus. Itulah makna salib yang kedua, yaitu bahwa daftar dosa kita atau daftar pelanggaran dan hutang-hutang kebenaran kita kepada Allah turut dipakukan di atas kayu salib.

Ketiga, salib Kristus juga artinya dipatahkannya kuasa iblis. Iblis yang siap mendakwa kita, iblis yang siap merenggut jiwa kita, dipatahkan kuasanya oleh kuasa salib Kristus, sehingga sekarang setiap orang kristen tidak takut mati, seperti Paulus yang kemudian juga diikuti oleh Basuki Tjahaya Purnama ketika dia bekerja di DKI. Dia mengatakan bahwa mati adalah keuntungan. Hidup adalah Kristus, tetapi mati adalah keuntungan, karena itu adalah satu pintu lain yang terbuka untuk kita berjumpa dengan Tuhan yang kita kasihi. Kematian tidak menakutkan kita karena kuasa iblis dipatahkan melalui salib Kristus. Kerajaan Allah telah ditegakkan di atas muka bumi.

Biarlah tiga bagian Alkitab yang hari ini kita renungkan dan kita dengarkan, sungguh-sungguh membawa sukacita kepada kita ketika kita memasuki Minggu sengsara, memperingati kematian Tuhan di Jumat Agung, dan memperingati kemenangan Tuhan. Biarlah kita sungguh-sungguh menghayatinya, bukan lagi sebagai sebuah ritual keagamaan belaka, tetapi kita sambut dengan ucapan syukur. Kita berkata kepadaNya, “Tuhan, aku bersyukur karena melalui kematianMu, aku menang. SalibMu memberi kemenangan dan semakin sempurna ketika Engkau bangkit dari kematian.”

(Disampaikan Pdt. NT. Prasetyo, M.Div. Kotbah Radio setiap Jumat, 7 April 2017).

0

Kotbah Efesus 2:1-3. Masa Lalu yang Menipu


Berbicara masa lalu seringkali dianggap menjadi hal yang tidak berguna. Bukankah Paulus mengajarkan bahwa aku melupakan apa yang dibelakangku dan menngarahkan diri pada apa yang dihadapanku? Namun masa lalu ternyata dapat memberi pelajaran mendalam.

Hari ini saya akan berkhotbah dari Efesus 2, lalu berbicara tentang masa lalu Paulus yang dapat memberi pelajaran bagi kita.

Ayat 1, kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Di dalam alkitab terjemahan lain versi firman Allah yang hidup kalimatnya berbunyi demikian, dahulu saudara maksudnya, Jemaat efesus, dikutuk Allah, dan binasa karena dosa. Jadi dalam ayat ini paulus mengatakan bahwa Jemaat efesus memiliki masa lalu kehidupan yang dikutuk Allah, yang binasa karena dosa.

Ayat 2. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja diantara orang-orang durhaka. Dalam versi firman Allah yang hidup, ayat ini berbunyi demikian, saudara ikut dengan orang banyak dan seperti juga orang yang lain, saudara penuh dengan dosa, taat kepada iblis, penguasa kerajaan angkasa, yang sampai sekarang pun masih bekerja dalam hati orang-orang yang melawan Tuhan. Jadi melalui ayat ini, paulus mengingatkan kehidupan masa lalu Jemaat efesus yang penuh dengan dosa, taat kepada iblis. Iblis yang tidak hanya hadir di masa lalu, tetapi yang masih bekerja di dalam hati manusia sampai sekarang, yaitu hati orang-orang yang melawan Tuhan atau durhaka.

Ayat 3. Sebenarnya dahulu Kami semua, ini artinya termasuk Paulus juga, gak terhitung di antara mereka. Maksudnya diantara orang-orang yang dipengaruhi iblis tadi. Lebih lanjut paulus mengatakan di ayat ini, kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging, dan menuruti kehendak daging, dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain, maksudnya mereka yang tadi dikatakan dipengaruhi iblis. Di dalam terjemahan Alkitab versi firman Allah yang hidup, ayat 3 ini berbunyi sebagai berikut, dahulu kita semua sama saja dengan mereka. Maksudnya mereka yang dipengaruhi iblis. Hidup kita menunjukkan kejahatan yang bersarang dalam diri kita. Kita melakukan setiap perbuatan jahat yang kita kehendaki atau yang kita pikirkan. Kita dilahirkan dengan naluri jahat dalam diri kita, dan berada di bawah murka Allah seperti orang lain.

Melalui 3 ayat ini kita dapat belajar beberapa hal. Pertama, tentang iblis. Ternyata markas Iblis bukankah di neraka seperti yang muncul di film-film. Di film-film sering digambarkan kerajaan neraka berperang dengan kerajaan surga, seolah-olah itu adalah Dua kerajaan yang seimbang kekuatannya. Dari ayat ini kita membaca bahwa Markas Iblis adalah di alam semesta ini, di angkasa, dibalik pikiran-pikiran jahat manusia, dibalik sistem-sistem dunia ini. Sedangkan menurut Kitab Wahyu, neraka adalah tempat iblis dihukum. Tentang iblis kita juga belajar, bahwa dia bekerja di balik pikiran jahat manusia. Dan inilah yang berbahaya.

Kedua, tentang kehidupan di masa lalu, ketika seseorang ada di luar Kristus. Kehidupan orang-orang yang ada di luar Kristus, digambarkan dalam 3 ayat ini sebagai kehidupan yang:
1. Dikutuk Allah.
2. Binasa karena penuh dosa.
3. Taat kepada iblis.
4. Hidup di dalam hawa nafsu daging atau menunjukkan kejahatan yang bersarang dalam diri. Hidup menuruti kehendak daging atau melakukan setiap perbuatan jahat yang kita kehendaki.
5. Hidup menuruti pikiran yang jahat atau buatan jahat yang kita pikirkan.
6. Menghidupi naluri jahat yang ada dalam diri kita sejak kita dilahirkan.
7. Hidup kita pantas dimurkai Allah atau berada di bawah murka Allah. Inilah 7 fakta kehidupan masa lalu jemaat Efesus.

Apabila kita membaca 7 fakta kehidupan di atas, kita langsung membayangkan, bahwa hidup masa lalu jemaat Efesus rusak benar, dan Kita langsung membayangkan kehidupan seseorang pemabuk, pelacur, zinah, koruptor, pencuri, penjahat, sampah masyarakat, terpidana yang hidup di balik teralis penjara. Itulah yang kita bayangkan, ketika kita membaca 7 ciri kehidupan masa lalu di atas.

Namun yang menarik adalah perkataan Paulus di ayat 3. Paulus menyatakan bahwa dirinya terhitung sebagai orang yang masa lalunya memiliki 7 ciri yang buruk itu. Mengapa perkataan Paulus menjadi menarik?

Coba kita bandingkan dengan pernyataan Paulus dalam surat Filipi pasal 3 ayat 5-6. Dalam nats ini kita membaca tentang masa lalu Paulus. Mari kita mendaftarkannya. Inilah masa lalu Paulus:
1. Disunat pada hari ke-8 mengikuti hukum agama Yahudi, sesuai firman Tuhan dan perjanjian Tuhan.
2. Berasal dari bangsa Israel artinya terhitung sebagai umat pilihan Allah.
3. Dari suku Benyamin, artinya dia satu garis keturunan dengan raja pertama Israel yaitu saul. Bahkan nama Ibrani Paulus adalah saulus, mirip seperti nama raja pertama Israel. Dalam hal ini paulus adalah nama romawinya, karena juga memiliki kewarganegaraan Romawi. Kasus penggunaan nama Paulus ini mirip apa yang dilakukan orang Tionghoa masa kini. Nama Paulus akhirnya banyak dipakai mengingat konteks hidupnya adalah lingkungan helenisme, dan juga karena arah khusus pelayanan Paulus adalah menginjili orang-orang Non-Yahudi.
4. Orang Ibrani asli, artinya dia termasuk pewaris kitab Perjanjian Lama, firman Allah yang ditulis dalam bahasa Ibrani. Atau dalam terjemahan Alkitab versi firman Allah yang hidup, dikatakan oleh Paulus bahwa saya orang Yahudi tulen.
5. Pendiriannya terhadap hukum Taurat, menggolongkan Paulus sebagai orang Farisi, artinya paulus itu orang yang termasuk dalam kumpulan masyarakat Yahudi yang dengan ketat menjaga dan memelihara pelaksanaan hukum-hukum agama dan adat istiadat Yahudi. Farisi adalah salah satu partai dalam masyarakat Yahudi, yang bersifat konservatif. Mereka mempercayai Perjanjian Lama, dan berita tentang kebangkitan orang mati. Berbeda dengan partai saduki, yang lebih bersifat liberal, karena tidak mempercayai kebangkitan orang mati.
6. Bahkan aktivitas Paulus adalah penganiaya jemaat. Atau dalam alkitab versi firman Allah yang hidup, di ayat 6 ini paulus sedang berbicara tentang ketulusannya beragama. Dikatakan bahwa, saya demikian tulusnya, sehingga saya menganiaya Sidang Jemaat kristen.
7. Tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat, paulus tidak bercacat. Atau dalam versi firman Allah yang hidup dikatakan bahwa saya berusaha menaati setiap peraturan dan adat istiadat Yahudi sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya.

Saudara-saudara, apakah saudara melihat seperti ada ketidakkonsistenan dalam berita Alkitab, seolah ada ketidakkonsistenan dari pernyataan Paulus. Di dalam surat efesus, paulus menggolongkan hidup masa lalunya sebagai orang yang dikutuk Allah. Namun di surat filipi, ia memperlihatkan kehidupan masa lalu yang penuh prestasi keagamaan.

Apa yang bisa kita pelajari, dari 2 fakta yang nampak tidak konsisten ini. Sebetulnya keduanya Bukannya tidak konsisten. Paulus justru hendak menunjukkan, bahwa prestasi keagamaannya di masa lalu justru adalah kehidupan di bawah kutuk dan murka Allah. Karena kehidupan keagamaannya itu, adalah kehidupan keagamaan di luar Kristus, bahkan menganiaya Kristus.

Bapak Ibu Saudara saudara, apa yang Paulus Tuliskan dalam dua suratnya ini, menjadi peringatan bagi kita, yang bergiat di dalam aktivitas dan perilaku perilaku keagamaan. Perilaku keagamaan kita, tidak menjamin bahwa kita sedang hidup dalam kebenaran Allah. Menyedihkan sekali, karena di Papua ini, saya pernah mendengar ada pelayan gerejawi yang mengancam kepada Jemaat bahwa keselamatan hanya kita peroleh ketika kita menjadi anggota gereja tertentu, karena menurutnya visi gereja tersebut adalah mempersiapkan Jemaat masuk surga, sehingga disimpulkan nya apabila ada orang di luar gereja tersebut maka orang tersebut tidak masuk surga. Bukankah ini sebuah kesesatan yang parah, yang hadir dalam kehidupan bergereja kita? Belajar dari pengalaman Paulus, fakta bahwa kita menjadi anggota Jemaat dari gereja tertentu, bahkan fakta bahwa kita aktif melayani, tidak menjamin bahwa kita sudah lolos dari murka Allah, bahwa kita sudah hidup di dalam pembenaran dari Allah.

Bukankah bangsa kita hari ini, sedang menjadi saksi mata betapa keagamaan itu justru menganiaya kebenaran. Bukankah negeri kita hari ini, sedang diramaikan dengan aksi-aksi keagamaan yang justru menindas kebenaran. Namun, sama seperti Paulus di masa lalu, kaum beragama ini betul-betul tulus berpikir bahwa dirinya sedang membela Allah, sedang membela kebenaran, sedang membela kitab suci.

Paulus justru menelanjangi kaum beragama. Jika kita tidak Waspada, iblis justru bekerja dibalik prestasi keagamaan manusia, persis seperti kehidupan masa lalu Paulus. Ia mengatakan dirinya terhitung sebagai orang-orang yang mentaati iblis, mentaati di dalam kehidupan keberagamaannya. Mengerikan sekali bukan? Ternyata manusia bisa tertipu. Prestasi keagamaan, perilaku keagamaan, justru dapat menjadi penghalang kita menemukan kebenaran sejati. Kita tertipu, dan tidak perlu heran, karena iblis adalah bapa segala dusta (Yohanes 8:44).

Pesan ini menjadi penting bagi kita yang hidup di timur Indonesia. Mungkin kita sudah dari lahir beragama Kristen, aktif sekolah minggu, mengenal pelayanan Kristen dari sejak muda, tetapi semua religiusitas itu tidak menjamin bahwa kita telah sungguh-sungguh mengalami kehidupan dimana Allah membenarkan kita melalui iman kita kepada Karya Kristus di kayu salib.

Di dalam masa menjelang Minggu paskah, kita diingatkan untuk berhati-hati terhadap jebakan religiusitas, yang justru berpotensi membuat kita merasa diri kita baik-baik saja, sudah cukup aman, tidak ada masalah, padahal kita belum hidup didalam Kristus dan kebenarannya. Kehidupan yang di luar Kristus dan kebenarannya, apabila mengacu dari Roma 8 ayat 5 sampai ayat 16, dicirikan setidaknya oleh dua hal: 1. Hidup dalam hawa nafsu daging, dalam konteks ini, hidup mengandalkan kebaikan sendiri untuk memperoleh hidup kekal. 2. Tidak hidup di dalam pimpinan Roh Kudus. Orang yang sudah jelas-jelas milik Kristus adalah orang-orang yang hidup oleh roh, dipimpin oleh Roh Kudus, roh itu bersaksi di dalam batin kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Ini biasa disebut the internal testimoni of The Holy spirit. Kesaksian roh kudus di dalam batin kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.

Dari semua kebenaran ini, apa yang perlu kita lakukan:

Pertama, berseru kepada Allah seperti yang pemazmur lakukan dan dicatat dalam mazmur 19:13, siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari. Jangan sampai kita tulus beragama, tetapi ketulusan yang sesat. Karena ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut (Amsal 14:12).

Kedua, bersandar pada fakta Efesus 2 ayat 4 sampai 10 melalui iman kita. Ayat 8 secara khusus menunjukkan kepada kita istilah diselamatkan oleh Anugerah melalui iman (saved by Grace through faith). Percaya artinya bersandar, yaitu kepada apa yang Kristus kerjakan bagi kita melalui kehidupan, kematian, dan kebangkitanNya. Kalau memang Allah Bapa telah menetapkan Dia menjadi jalan bagi kita, iman berarti bersandar pada penyataan dan kenyataan itu. Tidak mengandalkan kebaikan kita untuk beroleh pembenaran Allah, melainkan pada kebaikan Kristus.

(Oleh Pdt. NT. Prasetyo, M.Div., Ibadah BPUK Perum. Jaya Asri, Jayapura, Papua, Kamis/6 April 2017)

0

Efesus 1:3-14. Doksologi kepada Tritunggal


Di akhir kebaktian kita selalu menyanyikan doksologi. Apakah itu? Doksologi berasal dari kata Yunani: doxa artinya kemuliaan dan logia artinya perkataan. Jadi doksologi adalah perkataan-perkataan untuk memuliakan Allah. Dalam pembacaan kita hari ini dari Efesus 1:3-14, kita membaca doksologi yang dituliskan penulis Surat Efesus kepada Allah Tritunggal.

Menurut seorang penafsir, dalam teks aslinya, ayat 3 sampai ayat 14 adalah satu kalimat. Dan dalam 12 ayat tersebut, tertulis puji-pujian kepada tiga Pribadi, yaitu Pribadi Allah Bapa atas karyaNya; Pribadi Allah Yesus Kristus; dan Pribadi Allah Roh Kudus. Ketiganya adalah Pribadi yang dapat dibedakan tetapi Esa adanya.

Pujian kepada Allah Bapa (ayat 3-6)
3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.
4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.
5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,
6 supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

Di dalam bagian ini, kita melihat ada struktur berikut ini:

Kiastik Efesus 1 ayat 3-6

Pada bagian ini, penulis Surat Efesus memuji-muji Allah. Perhatikan di ayat 3 dan 6, ia memuji Allah Bapa karena Pribadi dan KaryaNya. Karya Allah Bapa yang dinyatakan di sini adalah karyaNya untuk:
1. Memilih kita sebelum dunia dijadikan supaya kudus dan tak bercacat di hadapanNya;
2. Menentukan kita dari semula untuk (diadopsi) menjadi anak-anakNya.

Dalam kemahatahuanNya, Allah tahu bahwa manusia yang Ia ciptakan akan jatuh dalam dosa (Kejadian 3). Ia tahu bahwa semua manusia akan berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Namun Allah bukanlah Pribadi yang terkejut atau terkaget-kaget karena peristiwa-peristiwa. Dia adalah Allah yang Maha Mengetahui.

Dalam Pra-pengetahuannya, Ia tahu bahwa pribadi yang bernama NT. Prasetyo akan terlahir di keluarga Kristen tetapi akan senantiasa menyakiti Dia. Ia tahu bahwa saya akan memiliki hati dan pikiran yang memusuhi Dia dan kebenaranNya (Kolose 1:21). Ia tahu bahwa saya akan bersembunyi ketika guru sekolah minggu saya datang menjemput untuk pergi ke kebaktian sekolah minggu. Ia tahu bahwa saya akan memaki-maki kakak saya sementara di ruang sebelah -di rumah kami- sedang dilaksanakan kebaktian umum, sehingga akhirnya saya dihukum berdiri di dekat pohon duku. Ia tahu bahwa di masa remaja saya akan menjadi playboy kelas teri, naksir banyak wanita, tetapi tiada satu pun yang berbalas. Ia tahu semuanya. Dalam pra-pengetahuanNya, Ia pun tahu, bahwa pada usia 15 tahun, akhirnya NT. Prasetyo akan bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupnya. Namun bukan berdasarkan pra-pengetahuanNya itulah Ia memilih saya; dan bukan berdasarkan pra-pengetahuanNya itulah Ia menentukan saya dari semula (predestinasi) untuk diadopsi menjadi anakNya. Sama sekali bukan!

Allah Bapa, memilih dan menentukan (predestinasi) saya sebelum dunia dijadikan, untuk hidup kudus sebagai anak-anakNya, bukan karena pra-pengetahuanNya, tetapi -seperti yang dinyatakan di ayat 5- karena “kerelaan kehendakNya.” Allah Bapa memilih dan mempredestinasikan saya bukan karena Ia tahu sebelumnya bahwa saya akan menerima Dia suatu hari kelak. Bukan! Allah Bapa memilih dan mempredestinasikan saya karena Ia kerelaan kehendakNya. Saya tidak layak, tetapi Ia berkehendak dengan rela untuk menerima saya sebagai anakNya, melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus.

Penganut teologi Arminian percaya bahwa Allah memilih dan menentukan kita menjadi anak-anakNya karena pra-pengetahuanNya, yaitu karena Ia tahu bahwa kelak kita akan menerima Dia dan tidak menolak Dia ketika Injil diberitakan. Jadi, seolah Allah tidak mau kecewa, maka Ia memilih yang Ia tahu sebelumnya bahwa orang-orang itu akan menerima Dia. Inilah perbedaan teologi Reformed dengan teologi Arminian. Kebalikan dari penganut Arminian, penganut teologi Reformed percaya akan kedaulatan Allah, bahwa Allah memilih dan menentukan kita menjadi anak-anakNya bukan karena pra-pengetahuanNya; bukan karena Ia tahu bahwa kelak kita akan menerima Dia ketika Injil diberitakan, tetapi karena kerelaan kehendakNya.

Perhatikan di ayat 3 dan 6, ada frasa “mengaruniakan” dan “dikaruniakanNya.” Jadi Allah memilih dan menentukan kita menjadi anak-anakNya adalah karena kasih karunia semata. Sesungguhnya tiada satu pun dari antara kita yang berlayak di hadapanNya untuk diadopsi menjadi anak-anakNya. Kita semua ini sepantasnya binasa. Namun di dalam kerelaan kehendak dan kasih karuniaNya, Ia memilih dan menetapkan kita dari sekian juta manusia, untuk menjadi anak-anakNya. Sekali lagi, seharusnya tidak satupun dari kita yang layak menerima perlakukan murah hati semacam ini. Sepantasnyalah kita yang memusuhi Pencipta kita sendiri dalam hati dan pikiran, menerima hukuman. Sama pantasnya seperti seorang anak yang durhaka kepada orangtuanya, sepantasnyalah menerima hardikan bahkan pukulan. Seharusnya kita semua binasa di bawah murka Allah. Sungguh terpujilah kemurahan hatiNya atas kita.

Pujian kepada Yesus Kristus (ayat 7-12)
7 Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,
8 yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.
9 Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus
10 sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.
11 Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan—kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya—
12 supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.

Disini Pribadi Yesus dipuji karena karya PenebusanNya lewat darahNya yang menghasilkan pengampunan dosa. Allah Bapa memilih dan menentukan kita dari semula untuk menjadi kudus sebagai anak-anakNya. Namun itu tidak dapat terjadi jika Pribadi Anak Allah, yaitu Yesus, tidak Ia utus ke dunia untuk mengerjakan karya keselamatan itu.

Ingat, semua manusia berdosa dan ada di bawah murka Allah. Bapa mengutus PutraNya yang Tunggal; yang paling dikasihiNya, untuk menjadi manusia, sama seperti kita. Ia turut dicobai, hanya saja Ia tidak berdosa. Ia adalah Pribadi yang Benar, dan tidak ada manusia yang seperti Dia karena semua manusia telah berdosa. Ia adalah satu-satunya yang suci dan tak bercacat (Ibrani 4:15, “…sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa“).

Yesus menggantikan kita menerima hukuman Allah. Ia yang benar diperhitungkan sebagai orang berdosa, sedangkan kita yang berdosa diperhitungkan sebagai orang benar. Dosa-dosa kita ditimpakan kepada Yesus yang tergantung di kayu salib, sebaliknya kebenaran Kristus diperhitungkan kepada kita, orang berdosa. Di atas kayu salib itulah, terjadi penebusan dosa. Hutang dosa kita kepada Allah Bapa, dibayar oleh Yesus Kristus dengan darahNya yang mahal. Keselamatan, kita terima memang dengan cuma-cuma atau gratis, tapi bukan berarti keselamatan itu murahan dan gratisan, karena harga yang harus dibayar oleh Sang Anak Allah teramatlah sanga mahal, yaitu dengan nyawaNya dan darahNya sendiri (1 Petrus 1:19).

Ini pun -sekali lagi- terjadi karena kasih karunia dan kerelaanNya (ayat 7, 9, dan 11). Semua karya Yesus ini adalah untuk mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus sebagai Kepala” (ayat 10). Jadi, Kristus adalah otoritas di atas segala sesuatunya. Ia adalah kepala. Yang memegang kuasa atas segala sesuatu. Pada akhirnya, semua akan bertekuk lutut di bawah kakiNya. Dan ketika itu terjadi, melalui penebusanNya, kita telah berstatus sebagai anak-anakNya, yang telah ditebus dengan harga yang mahal.

Sesungguhnya kita adalah orang-orang yang telah ditebus dengan harga yang mahal. Kita adalah orang-orang yang mahal. Itu sebabnya, tidak ada alasan untuk kita menjadi rendah diri. Sekalipun mungkin orang menghina kita karena kekurangan fisik kita; karena kelemahan mental kita; karena sebab-sebab apapun juga, ingatlah bahwa Yesus Kristus telah menebus kita dengan darahNya yang mahal. Sungguh terpujilah karuniaNya atas kita.

Pujian kepada Roh Kudus (ayat 13-14)
13 Di dalam Dia kamu juga—karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu—di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.
14 Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Disini Pribadi Roh Kudus dipuji karena dua karyaNya:
1. Memeteraikan orang percaya (ayat 13);
2. Menjadi jaminan bagi orang percaya (ayat 14).

Roh Kudus sebagai meterai. Jangan bayangkan meterai disini seperti meterai di zaman kita. Meterai yang dimaksud disini adalah cairan lilin panas untuk menutupi bagian tengah gulungan kertas, lalu di atas cairan lilin panas itu dicetakkan sebuah alat cetak (stempel). Hasilnya, lilin itu akan menjadi cetakan dari stempel tersebut. Lilin itu menjadi ‘karakter’ dari stempel tersebut.

Gulungan surat bermeterai

Meterai mengindikasikan bahwa isi surat itu dilindungi; tidak boleh sembarangan memperlakukan surat itu, karena meterai juga mengindikasikan kepemilikan. Apabila Roh Kudus memeteraikan kita, itu berarti kita ini ada yang punya; ada yang memiliki. Siapa yang memiliki itu? Tentu Allah sendiri. Dan sebagai milik Allah, kita dilindungi olehNya. Oleh sebab itu, iman orang percaya akan terpelihara oleh Tuhan. Yesus berjanji, “dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Yohanes 10:28).

Roh Kudus juga menjadi jaminan kita. Jaminan disini berasal dari kata Yunani Arrabon, atau uang muka (down-payment). Atas iman kita, kita akan menerima sesuatu yang besar, yaitu hidup kekal bersama Allah Pencipta. Namun selama kita masih hidup di dunia ini, Roh Kudus diberikan kepada setiap anak-anak Tuhan sebagai pembayaran di muka. Artinya, kita pasti akan menerima yang selebihnya.

Ketika saya kredit rumah, uang muka yang diberikan cukup besar. Namun saya bersyukur, ada fasilitas yang diberikan sehingga kami bisa mencicil uang muka untuk kredit rumah. Roh Kudus yang hadir dalam hidup kita, adalah uang muka yang luarbiasa. Bayangkan, uang mukanya adalah salah satu Pribadi Allah Tritunggal sendiri. Hanya saja bedanya dengan kredit rumah, Roh Kudus tidak datang dalam bentuk cicilan. Ia hadir sepenuhnya dalam kehidupan kita, menjadi jaminan bahwa berkat yang teramat besar akan kita terima kelak.

Berkat besar apa yang salah satunya akan kita terima? Kebangkitan dari antara orang mati. Yesus Kristus telah dibangkitkan Allah dengan kuasa Roh Allah dan mendapatkan tubuh kemuliaan. Ia disebut sebagai buah sulung. Sebagaimana tanaman di perkebunan pada musim panen, ketika sudah ada buah sulung yang muncul, akan dilanjutkan dengan buah-buah selanjutnya. Kebangkitan Yesus dari kematian oleh Roh Kudus, akan disusul dengan kebangkitan orang percaya dari antara orang mati (1 Korintus 15:20; Kolose 1:18). Roh Kudus akan membangkitkan kita dari kematian (Roma 8:11).

Kehadiran Roh Kudus sebagai meterai dan jaminan ini mengajarkan kepada kita untuk tidak mudah putus asa dalam perjuangan iman kita. Kita harus bertekun di dalam iman, meskipun cobaan dan tantangan kita hadapi. Karena janji Allah bagi kita sangatlah luarbiasa. Ia memelihara iman kita. Ia juga menyediakan warisan yang luarbiasa bagi kita di kemudian hari. Sungguh terpujilah karya Allah Roh Kudus dalam hidup kita.

Pelajaran ini membuat kita makin memaknai doksologi ketika kita menyanyikannya. Kita sadar bahwa kita yang tak berlayak ini sungguh telah memperoleh karunia Allah yang luarbiasa. Dan karena itu, selayaknyalah kita memuji-muji Dia:

Puji Allah Bapa, Putera,
Puji Allah Rohol Kudus,
Ketiganya yang Esa,
Pohon s’lamat sumber berkat,
Amin.

(Oleh Ev. NT. Prasetyo, M.Div. Disampaikan dalam Ibadah GKKK Pos Pelayanan Doyo Baru, Minggu, Juni 2015).