Posts Tagged With: Surat Filipi

Filipi 2:3-4. Hidup Bersama dengan yang Lain


dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Filipi 2:3-4).

Sementara mengunjungi sebuah jemaat di Kishabpur sub-district (di Bangladesh), saya telah diberitahukan tentang satu titik setempat yang menarik. Meskipun ini adalah sebuah wilayah pertanian dengan populasi yang sangat padat, namun ini juga merupakan habitat dari populasi langur abu-abu yang sangat besar, atau biasa disebut juga Langur Hanoman.

Ini adalah satu mahluk hitam yang menarik, monyet berekor panjang, dengan rambut abu-abu panjang yang hidup dalam kelompok berukuran sedang. Mereka makan dedaunan, buah-buahan, dan sayur-mayur lainnya.

Saya bertanya pada penduduk lokal, “Apakah monyet-monyet tidak menimbulkan kerusakan besar kepada tanaman pertanian disini?” Jawaban mereka sangatlah menarik. “Kami memberi mereka makan. Selama kami memberikan kepada mereka sesuatu, mereka tidak akan mengganggu tanaman pertanian. Jika mereka datang dan kami menolak, mereka akan membuat kekacauan di malam hari dan menghancurkan ladang dan buah-buahan.”

Melalui diskusi kami selanjutnya, saya menemukan bahwa para petani telah belajar bahwa monyet-monyet akan sedikit-banyak dipuaskan jika sesuatu diberikan dengan sukarela kepada mereka. Jika mereka datang dan mengambil langsung dari ladang, mereka akan mengambil lebih, dan bahkan lebih dari yang mereka butuhkan.

Saya meninggalkan tempat itu dengan kesan yang berbeda, bahwa baik monyet-monyet maupun manusia sama-sama puas dengan relasi mereka. Monyet-monyet cukup tenang dan jelas merasa aman. Penduduk lokal pun merasa bangga dengan harta milik mereka berupa satu sumberdaya alamiah yang unik.

Yang lebih menarik lagi bagi saya adalah bahwa kedua spesies yang berbeda ini telah belajar untuk hidup bersama (to get along together), lebih baik daripada yang manusia dapat lakukan. Rahasia mereka adalah bahwa -setidaknya- satu pihak dalam relasi itu bersedia untuk hidup dengan prinsip mencari kesejahteraan pihak lain.

Manusia menyadari bahwa mereka lebih baik menolong monyet-monyet ketimbang secara egois mencoba menyimpan segala sesuatu bagi diri mereka sendiri. Monyet-monyet juga telah belajar untuk menerima apa yang dengan sukarela manusia berikan kepada mereka. Tidak ada tindakan egois ataupun tamak.

(by Michael E. Brooks @ http://www.forthright.net)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , | Leave a comment

Filipi 3:1b-14. Jati Diri Hamba Tuhan


Nats: Filipi 3:1b-14
Oleh: Ibu Helen

Entah kapan, Bu Helen, rekanku sesama mahasiswa STTRI Indonesia, men-sharing-kan Filipi 3:1b–14, tentang Figur Jati Diri Hamba Tuhan. Beliau melontarkan pertanyaan retorika, “Apa parameter pertumbuhan hamba Kristus?

1. Jemaat bayi rohani dan bertumbuh, atau rumah ibadahnya yang bertumbuh?
2. Jemaat punya rumahtangga baik, atau sekadar menikah saja?
3. Jemaat yang sakit diperhatikan, atau gereja memiliki fasilitas rumahsakit?
4. Jemaat yang meninggal terurus, atau gereja memiliki fasilitas rumah duka?

Sebagai hamba Tuhan, kita harus meng-up grade- gaya hidup, dan bukan sekadar menjadi “manteg” (maniac technology). Waspadalah, karena pertumbuhan rohani bisa mandeg, sementara skill kita meningkat.

(Disampaikan pada Ibadah Chapel STTRI Indonesia, 2005 [?])

Categories: Tulisan | Tags: , , , | Leave a comment

Filipi 1:12-26. Bersukacita dalam Kehidupan yang Ditujukan kepada Kristus


Nats: Filipi 1:12-26
Oleh: Ev. NT. Prasetyo

Sabtu sore, 20 September 2008, Komisi Pemuda GKKK Jayapura berangkat rame-rame untuk melaksanakan pelayanan penjara di Lembaga Permasyarakatan (LP) Abepura.Eh, tidak disangka, teman-teman kelas X sangat berminat untuk ikut (cewek-cewek pula). Alhasil, kami bersebelas orang pun pergi (kesebelasan baru, nich)! Mereka-mereka yang berangkat: Ev. NT. Prasetyo, Tobias, Bung Roni, Pauline Wataha, Astrid, Lydia Wataha, Teroce, Victor, Sintia, Gabriela, Olivia.

Di dalam persekutuan penjara, Ev. NT. Prasetyo berkotbah dari Surat Filipi, dan mengingatkan jemaat bahwa tujuan hidup kita sebagai orang Kristen bukanlah sekadar “mencari bahagia”. Kalau hanya sebatas itu tujuan hidup kita, maka kita tidak perlu menjadi orang Kristen. Apa sebab? Karena di luar Kristus pun, kita bisa mendapatkan “kebahagiaan”.

Ev. NT. Prasetyo mengingatkan bahwa ketika Paulus menulis surat kepada jemaat di Filipi, ia sedang berada dalam penjara. Namun alasan pemenjaraan Paulus bukanlah sesuatu yang memalukan. Paulus dipenjara karena Injil yang mulia. Dan bagi Paulus, hidup dan matinya adalah untuk Kristus (bukan sekadar untuk mencari bahagia semata). Demikian Paulus pun tetap bisa bersukacita dalam penjara.

Kepada jemaat, Ev. NT. Prasetyo menantang agar mereka bangkit demi Terang Injil di Tanah Papua. Banyak tantangan dari Tanah Jawa berdatangan, dan jangan sampai Terang Injil di Tanah Papua, semakin redup karena ulah masyarakat Papua sendiri!

Dalam ibadah itu pun, rekan pemuda kita ada yang bersaksi. Tujuan kesaksiannya adalah untuk menguatkan, bahwa meskipun ikut Tuhan ada kesusahan, namun percayalah Tuhan tahu yang terbaik bagi umatNya dan kemuliaanNya. Seusai ibadah, kami pun duduk-duduk sebentar untuk menyaksikan para penghuni LP bertanding futsal. Kepada pengurus, teman-teman kelas X mengusulkan agar dilain waktu, kita berkunjung juga ke Rumah Sakit Jiwa!

Minggu sore, 21 September 2008, Komisi Pemuda GKKK Jayapura, diundang oleh Komisi Pemuda GKKK Kotaraja untuk menghadiri perayaan ulangtahun mereka. Teman-teman pemuda kita yang ikut menghadiri perayaan ulangtahun Komisi Pemuda Gereja Kristen Kalam Kudus Kotaraja, yaitu: Pak Imars, Ev. NT. Prasetyo, Tobias, Bung Roni, Eddy, Icha, Astrid, Megy, Ita, Nike, Jenny, dan Athy. Perjalanan ke sana memang tidak dekat, tapi kita bisa menikmati kebersamaan (walau sebentar), dan itu harus disyukuri.

(Oleh Ev. NT. Prasetyo. Dimuat di Warta Dwi Mingguan Komisi Pemuda, 8 Oktober 2008, dalam artikel yang berjudul “Go Again….“)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , | Leave a comment

Filipi 3:1-21. Dasar, Gaya Hidup, dan Pengharapan Kristen


Nats: Filipi 3:1 – 21
Oleh: Ev. NT Prasetyo, M.Div.

Paulus hendak mengakhiri suratnya dengan berpesan kepada jemaat agar mereka “bersukacitalah dalam Tuhan” (3:1a). Luarbiasa karena pesan ini diberikan oleh seseorang yang sedang menderita dalam pemenjaraan (entah itu tahanan rumah ataukah tahanan kurungan). Ingat bahwa tema utama Surat Filipi ini adalah “Bagaimana hidup di dalam dunia yang memusuhi iman Kristen.” Dan dalam hidup di tengah-tengah dunia yang macam ini, Paulus di akhir suratnya berpesan agar jemaat “bersukacita di dalam Tuhan” (bukan di luar Tuhan).

Apa artinya bersukacita di dalam Tuhan dapat menjadi jelas dari pembacaan lebih lanjut atas pasal 3 ini. Ayat 1b – 4 mencatat peringatan Paulus kepada jemaat, bahwa “dunia yang memusuhi orang Kristen” itu ternyata ada di tengah-tengah jemaat sendiri, yaitu orang-orang Yahudi Kristen. Orang-orang Yahudi Kristen ini mengajarkan pengajaran yang bertentangan dengan yang Paulus ajarkan. Orang-orang Yahudi Kristen ini disebut oleh Paulus sebagai “anjing-anjing”; “pekerja-pekerja yang jahat”; dan juga “penyunat-penyunat palsu” (3:2).

Mengapa orang-orang Kristen Yahudi ini disebut anjing-anjing? Ingat Amsal 26:11, “Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya.” Orang-orang Yahudi Kristen ini seperti anjing yang kembali ke muntahnya. Mereka telah mendengar tentang kabar baik/Injil yang memerdekakan. Di dalam Injil diajarkan bahwa kita dibenarkan atau dipandang benar oleh Allah, karena kehidupan Kristus yang benar itu diperhitungkan kepada kita ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus. Jadi bayangannya adalah seperti kita yang bertubuh kotor, ditutupi dengan jubah yang putih bersih, demikianlah kita yang berdosa ditutupi oleh kehidupan Kristus yang benar itu, sehingga ketika Allah Bapa memandang saya, Ia memandang Kristus yang benar dan bukannya memandang saya yang najis dan cemar ini. Ketika kita mempercayai/beriman bahwa hal ini terjadi atas kita, pembenaran Allah itu berlaku atas kita. Inilah Injil yang diberitakan Paulus. Kamu dapat membaca ini nanti di pasal 3:9.

Orang-orang Yahudi Kristen mengajarkan kebalikan dari ajaran Paulus. Mereka mengajarkan bahwa kita dibenarkan Allah tidak cukup hanya dengan beriman kepada Tuhan Yesus saja. Tapi perlu ditambah dengan sunat dan pelaksanaan hukum-hukum Yahudi lainnya. Mereka mementingkan sunat jasmani, dan tidak hanya sunat hati. Mereka bekerja keras untuk meyakinkan orang akan ajaran mereka, bahkan mendesak orang untuk melakukan ajaran mereka. Karena itu Paulus menyebut mereka “pekerja jahat” dan “penyunat palsu.”

Di ayat 4 b, Paulus menyindir orang-orang Kristen Yahudi itu. Mereka sangat bangga sekali dengan keyahudian mereka, dan menurut mereka, itulah juga yang menjadi dasar bagi Allah untuk membenarkan mereka. Namun Paulus mengatakan, kalau mau bicara soal bangga dengan keyahudian, maka Paulus sebetulnya bisa menyatakan rasa bangganya lebih lagi (baca ayat 5-6). Intinya, kalau Paulus mau mencari pembenaran Allah berdasarkan keyahudiannya, maka ia bisa saja berbangga hati karena dia adalah orang Yahudi yang “betul-betul Yahudi.” Tapi apa ujar Paulus terkait keyahudiannya? Baca ayat 7 – 9.

Melalui ayat 7, Paulus tidak bermaksud mengatakan bahwa asal-usulnya tidaklah penting. Bukan demikian! Kita harus tetap mengetahui dan menghargai asal-usul kita. Namun yang Paulus hendak katakan adalah bahwa, asal-usul tidak dapat menjadi dasar untuk memperoleh pembenaran dari Allah. Kita boleh bangga dengan asal-usul kita, namun jangan membanggakannya sebagai dasar bagi pembenaran Allah. Pembenaran Allah hanya dapat kita sambut melalui sarana iman. Tidak perlu ditambahi sunat, atau praktek-praktek agama Yahudi lainnya. Bagi Paulus, sunat jasmani dan praktek-praktek agama Yahudi lainnya itu kini dianggap sampah. Di zaman kita ini, masih ada agama yang mensyaratkan untuk penganutnya disunat dahulu kalau mau dipandang benar oleh Allah. Agama Kristen tidak lagi mempersoalkan sunat jasmani. Bagi kita yang penting sekarang adalah sunat hati yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Paulus menulis dalam Roma 2:29, “Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.” Jadi kalau sekarang ini orang Kristen mempraktekkan sunat jasmani, alasannya bukan lagi alasan rohani, melainkan lebih karena alasan kesehatan.

Ayat 10-11 mengungkapkan apa yang menjadi cita-cita terbesar Paulus dalam hidupnya. Paulus sedang menderita dalam pemenjaraan. Namun kehendaknya yang terbesar bukanlah “lepas dari penjara.” Ia jauh sekali dari sifat egois. Meskipun ada di penjara, yang ia pikirkan hanyalah kepentingan jemaat dan kepentingan Injil. Obsesinya bukanlah menjadi Bintang Israel Idol yang dikenal orang, sebaliknya ia ingin mengenal Kristus. Jadi, obsesinya bukan untuk dikenal dunia melainkan mengenal Kristus yang bukan berasal dari dunia! Ia juga ingin mengenal kuasa kebangkitan Kristus. Bahkan ia ingin menderita, mati, dan bangkit seperti Kristus. Obsesi terbesar Paulus adalah Kristus, Kristus, dan Kristus.

Ayat 12-14 menjelaskan sikap Paulus bahwa ia tidak mau bersikap seolah-olah ia telah mencapai apa yang dicita-citakannya. Seumur hidupnya, ia akan berjuang untuk mencapai tujuan hidupnya itu. Dalam perjuangan mencapai cita-cita dan obsesinya itu, dia mengharapkan hadiah. Dan hadiah itu ternyata bukan uang, ketenaran, ataupun kenyamanan, melainkan “panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Jadi, “panggilan sorgawi” itu sendiri sudah merupakan hadiah! Seperti para peserta Olympiade yang dipanggil untuk mewakili negaranya dalam perhelatan internasional itu. Yang menjadi kebanggaan para peserta Olympiade itu adalah bahwa mereka telah “terpanggil” (terpilih) untuk menjadi duta bagi negaranya. Bahkan meskipun mereka kalah sekalipun, mereka tetap akan merasa bangga karena sudah terpilih sebagai duta negara. Mereka sudah terpanggil sebagai utusan, dan itu sudah merupakan hadiah.

Ayat 15-16 merupakan ajakan Paulus agar jemaat memiliki pikiran dan obsesi yang sama. Dan ia mengajak agar jemaat terus bertumbuh “menurut jalan yang telah kita tempuh.” Terus baca Alkitab; terus rajin bersekutu; terus rajin bersaksi; dst. Sampai akhirnya Tuhan menyingkapkan tujuan hidup yang agung tersebut kepada kita.

Dalam ayat 17, Paulus mengajak jemaat agar mengikuti teladannya; mengikuti contohnya. Seberapa banyak diantara kita yang berani mengatakan kalimat ini, “Ikutilah contohku”. Siapa yang berani!? Paulus tidak hanya OMDO (Omong Doang); ia tidak NATO (No Action Talk Only). Ia mempraktekkan kebenaran dan tidak sekadar mengajarkan kebenaran. Karena itu dengan berani ia berkata, “Ikutilah contohku; ikutilah teladanku!”

Dalam ayat 18-19, Ia mengingatkan jemaat agar jangan mengikuti contoh buruk. Paulus prihatin karena ada orang-orang yang duniawi; yang menjadi seteru/musuh salib Kristus. Yakobus 4:4 mengingatkan kita, “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” Kalau Kamu mengaku orang Kristen, tapi memilih untuk bersahabat dengan keduniawian, maka kamu adalah musuh Allah, atau musuh salib Kristus. Yang dimaksud keduniawian adalah sebagaimana tercantum dalam 1 Yohanes 2:16, “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia”. Hati-hati gunakan matamu; hati-hati godaan hawa nafsu; dan hati-hati dengan kesombongan. Ayat 19 mengingatkan bahwa semua ini membawa kita kepada kebinasaan atau neraka/hukuman kekal.

Dalam ayat 20-21, kita diingatkan oleh Paulus dua hal: (1). Status kita saat ini (present). Kita adalah warga negara sorga. Jadi hiduplah selayaknya penghuni sorga. Kalau kamu sekarang ini hidup dalam hawa nafsu; mata jahat; kesombongan; kamu lebih cocok hidup di neraka. (2). Pengharapan kita dimasa datang (future). Tuhan Yesus akan datang kembali untuk kita. Kita akan mengalami kebangkitan. Tubuh kita akan diubahkan menjadi tubuh yang mulia. Ada janji bahwa kita akan memiliki masa depan yang cerah bersama-sama dengan Kristus. Itu adalah bagian kita.

Jadi dari seluruh kotbah ini, kita belajar:
1. Sadarlah bahwa pembenaran dari Allah hanya Kamu peroleh melalui sarana iman. Percayalah kepada Tuhan Yesus bahwa Ia telah mati menebus dosamu, dan bahwa kebenaranNya telah diperhitungkan kepada kamu.
2. Tujukanlah hidupmu untuk mengenal Allah dan kuasaNya; untuk menjadi serupa dengan Kristus dalam segala hal.
3. Hiduplah di dunia tanpa menjadi duniawi. Hiduplah di dunia dengan gaya hidup seorang warga negara sorgawi.
4. Ingatlah bahwa di masa mendatang kita akan mengalami kehidupan yang sangat baik bersama Kristus.

(Khotbah ini disampaikan oleh Ibu Sarce Mangisu, dalam Ibadah Komisi Remaja, Minggu/11 November 2012)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , | Leave a comment

Filipi 2:1-4. “One Request: Bersehatilah!”


Nats: Filipi 2:1-4
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Dari nats ini ada tiga pelajaran yang dapat kita pelajari:

1. Ayat pertama, Paulus seolah hendak menggugat, kalau memang jemaat Filipi itu baik dan sehati dengan Paulus, Paulus tentunya dapat meminta kebaikan hati mereka.

2. Ayat kedua, Paulus mengajukan permohonannya kepada jemaat Filipi, “Aku mohon, jadilah sehati-sepikir dalam satu tujuan yang sama!” Paulus sebagai rasul yang ada dalam penjara, tidak memikirkan kepentingannya sendiri! Bahkan dari dalam penjara sekalipun, yang menjadi permintaan Paulus adalah untuk kepentingan oranglain! Luarbiasa!

Ingat minggu lalu, saya kotbah tentang tema besar Surat Filipi? Tema Surat Filipi adalah “seperti apa hidup di dalam dunia yang (hostile) melawan Tuhan?!” Kita pun hidup dalam dunia yang melawan Tuhan [contoh....]. Nah, apa yang Tuhan tuntut dari kita untuk kita menjalani kehidupan di tengah-tengah dunia macam ini? Satu hal saja, “Sehati dalam tujuan yang sama!” Dan apa tujuan hidup orang Kristen? Katekismus Westminster (materi katekisasi berbentuk tanya-jawab) menyatakan, “Memuliakan Allah dan menikmati Allah selama-lamanya.” Kita harus sehati, kompak, bersatu, untuk mencapai tujuan ini!

3. Ayat 3-4, Paulus memberikan tips bagaimana agar kita dapat hidup bersehati dalam Kristus:
a. Lakukan segala sesuatu bukan untuk diri sendiri melainkan untuk kepentingan oranglain [contoh....].
b. Rendahkanlah diri dan pandang oranglain lebih penting daripada diri sendiri [contoh....].

(Dikotbahkan dalam Persekutuan Komisi Pemuda GK Kalam Kudus Jayapura, Kamis/11 Oktober 2012).

Categories: Tulisan | Tags: , , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

%d bloggers like this: