Posts Tagged With: Penguasaan Diri

1 Korintus 9:25. Dua Persiapan Pertandingan


Nats : 1 Korintus 9:25
Oleh : Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Dalam 1 Korintus 9:25 dicatat, “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal.” Pernahkah kalian mengikuti pertandingan atau perlombaan? Saya pernah mengikuti perlombaan karaoke ketika saya masih remaja. Saya sudah naik ke atas panggung dan hendak menyanyikan nyanyian berjudul “Kemesraan Ini”, tapi sampai di atas panggung saya lupa syairnya. Alhasil saya hanya diam, meskipun para penonton terus menyoraki dan memberi semangat kepada saya. Saya kurang persiapan. Belum lagi, untuk bernyanyi, kita juga harus mempersiapkan kesehatan; kita harus menguasai diri, menghindari menyantap gorengan atau minum es.

Ketika remaja saya juga pernah ikut perlombaan lari marathon. Saya begitu kelelahan. Begitu tiba di garis finish, saya langsung tepar atau telentang kelelahan dan ingin muntah. Mengapa itu terjadi? Karena saya tidak pernah berlatih atau berolahraga secara rutin. Saya kurang menguasai diri, sehingga begitu perlombaan berlangsung, saya kelelahan. Belum lagi, setelah perlombaan, malam harinya badan saya pegal-pegal semua, karena tidak terbiasa berolahraga.

Saya juga pernah mengikuti pertandingan bulutangkis. Saya memang hobi bulutangkis, tapi saya jarang berlatih. Akibatnya, ketika bertanding, musuh hanya mempermainkan saya, dan kadang membiarkan saya mencetak angka “belas kasihan.”

Kalian, siswa-siswa kelas 6, saat ini sedang dalam persiapan untuk bertanding! Pertandingan yang akan kalian jalani ini sangat serius. Saya melayani di Jayapura, dan saya telah melihat sekolah lain, telah dari jauh-jauh hari mempersiapkan siswa-siswanya kelas 6 untuk mengikuti Ujian Akhir Nasional SD. Mereka telah berlatih bahkan sampai kepada hal-hal teknis. Jadi, kalian akan bertanding dengan banyak teman-teman SD dari berbagai tempat.

Rasul Paulus mengatakan “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal.” Saat menulis kalimat ini, Rasul Paulus sedang dalam pertandingan, yaitu pertandingan iman. Rasul Paulus sedang berjuang untuk mengabarkan Injil. Dia sedang bertanding untuk mengabarkan kabar baik agar orang-orang yang belum kenal Tuhan Yesus, bisa mengetahui dan percaya kepada Tuhan Yesus. Tuhan Yesus yang telah mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa umatNya, dan Dia telah bangkit dari kematian demi keselamatan kita.

Dalam pertandingan iman itu, Rasul Paulus belajar menguasai diri dalam segala hal. Seperti ketika kita hendak bertanding olahraga, kita pun harus menguasai diri. Dalam pertandingan yang akan kalian hadapi besok Senin, kalian akan menghadapi salah satu pertandingan dalam kehidupan kalian; suatu pertandingan untuk menguji kemampuan kalian setelah kira-kira enam tahun belajar di SD; suatu pertandingan untuk menguji iman kalian juga.

Ada dua persiapan untuk menghadapi pertandingan itu:

1. Persiapan jasmani dan mental.

Kalian harus menjaga kesehatan agar tidak sakit. Jangan makan sembarangan. Kalau kalian alergi makan ulat sagu, jangan makan. Saya pernah memakan ulat sagu hidup [dan ada pula yang digoreng] sekitar 7 ekor. Ternyata saya alergi, dan saya mengalami gatal-gatal [dan sakit perut] yang sangat parah. Padahal besoknya saya ada jadwal kotbah di gereja. Akhirnya, keesokan harinya saya tidak jadi kotbah; saya tidak dapat bertanding.

Jaga diri juga agar terhindar dari kecelakaan. Jangan main sepeda di jalan raya sambil mengangkat-ngangkat ban depan sepeda. Kalau kalian celaka, kalian tidak dapat mengikuti ujian. Kuasai dirimu.

Kurangi waktu untuk bermain-main. Persiapkan diri dengan membaca ulang materi-materi yang telah dipelajari. Seperti yang telah disampaikan kepala sekolah kalian, materi kelas 4 dan 5 akan keluar sebanyak 40 prosen, dan selebihnya adalah materi kelas 6. Jadi kalian harus pelajari materi-materi itu. Kalau ada yang belum kalian pahami, tanya teman atau tanya Bapak/ibu guru.

2. Persiapan rohani.

Untuk apa kita berkumpul siang ini? Untuk beribadah memohon kekuatan dari Tuhan untuk menempuh pertandingan yang harus kalian hadapi. Saya punya cerita tentang dua orang anak manusia, yang satu bernama Henokh, anaknya Bapak Kain, dan yang satunya lagi bernama Enos, anaknya Bapak Set. Kisahnya dicatat dalam Kejadian 4.

Kalau kalian ingat, Adam dan isterinya adalah manusia pertama. Mereka kemudian memiliki dua anak, yaitu Kain dan Habel. Nah, Kain membunuh Habel, tapi Tuhan memberikan anak yang lain pengganti Habel, yaitu Set. Kain memiliki anak, yaitu Henokh, sedangkan Set memiliki anak, yaitu Enos.

Kain dikutuk Tuhan karena kejahatannya. Kain dibuang dan menjadi pengembara; orang yang berjalan tanpa arah dan tujuan. Tapi Kain berusaha menebus masalah dosanya, dengan cara membangun kota, sebagai tanda pemberontakan kepada Tuhan. Kain lalu menamai kota itu, Henokh. Kalau dahulu Jayapura disebut Soekarnopura, maka kota yang didirikan Kain diberi nama Henokh; Kota Henokh.

Kain mendirikan kota kecil, karena ia tidak mau memenuhi bumi seperti yang Tuhan perintahkan. Puncak pemberontakan manusia adalah pada peristwa kota dan menara Babel. Dengan mendirikan kota itu, Kain bermaksud menunjukkan pemberontakkan kepada Tuhan. Kain bersikap sombong.

Tapi berbeda dengan Enos. Arti nama Enos adalah rapuh; mudah pecah. Kalau kalian melihat kotak-kotak kayu pengiriman barang, sering ada tulisan Fragile, artinya mudah pecah. Uniknya, dicatat dalam Kejadian 4, pada zaman Enos, orang mulai memanggil nama Tuhan. Atau dalam Alkitab berbahasa Korea, “Orang mulai beribadah dan memanggil nama Tuhan.” Jadi, manusia di zaman Enos, sadar bahwa dirinya adalah manusia berdosa; mereka sadar bahwa diri mereka rapuh dan pecah, namun mereka tetap mau datang beribadah dan memanggil nama Tuhan. Bagaimana dengan kalian? Ketika kita berkumpul disini untuk berdoa, sebetulnya kita sedang mengakui kepada Tuhan bahwa kita lemah dan butuh pertolongan Tuhan.

Hal lain terkait persiapan rohani adalah tentang kejujuran. Hati-hati, mungkin akan ada Bapak/ibu guru atau bahkan teman-teman yang mengajak kalian bertindak tidak jujur atau curang. Jangan terayu bujukan setan.

Beberapa waktu lalu, Gubernur Papua yang baru menebang pohon beringin besar yang ada di depan kantor gubernur. Menurut informasi, biasanya orang mempraktekkan penyembahan berhala di bawah pohon beringin itu. Di situ menjadi sarang setan. Dan pengaruh setan-setan itu diantaranya mendorong untuk orang selingkuh.

Dalam rangka ujian akhir nasional ini, akan nampak juga setan-setan. Tidak bekerja menampakkan diri secara langsung, melainkan akan bekerja dari balik pikiranmu. Mereka bekerja di balik pikiran orang-orang sehingga ada guru-guru yang membiarkan siswanya berlaku curang, dengan pura-pura membaca koran.

Kalian harus ingat, dibalik tindakan semacam ini ada pengaruh setan di belakangnya. Kalian harus berani menolaknya. Jadilah terang bagi siswa-siswa sekolah lain. Di dalam generasi kalian, Papua memiliki harapan. Jangan sampai kalian dikenal sebagai siswa-siswa dari Kampung Harapan saja, tapi biarlah melalui diri kalian Papua memiliki harapan. Cukup para pejabat itu saja yang tidak jujur. Kita serahkan mereka ke dalam tangan Tuhan. Kepada isteri saya, saya pernah berkata, “Di dalam generasi kalian, Papua memiliki harapan.”

Dalam pertandingan duniawi, Paulus mencatat, “Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.” Jadi kalau untuk mahkota yang fana saja orang berani berjuang, apalagi kita demi mahkota yang kekal melalui ujian karakter dan iman yang kita hadapi.

(Disampaikan dalam Ibadah Persiapan UN SDN Inpres Kampung Harapan, Jayapura, Jumat/3 Mei 2013)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Galatia 5:22-23. Jadilah Gentle dan Jadilah Kota yang Bertembok!


Nats: Galatia 5:22-23
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Galatia 5:22-23 menunjukkan kepada kita tentang 9 karakter Kristen yang sebetulnya merupakan kesatuan; yang merupakan karya Roh Kudus dalam diri setiap orang Kristen, dan harus terus dilatih. Namun secara khusus, pada kotbah hari ini saya akan mengkhususkan diri membahas karakter kedelapan dan kesembilan, yaitu tentang kelemahlembutan dan penguasaan diri, dikaitkan dengan persiapan diri kalian untuk menyambut Ujian Nasional SMA.

Dalam dunia pergaulan anak muda di Indonesia, seringkali seorang pemuda/remaja pria, takut menolak ajakan temannya untuk, misalnya, berbuat curang, merokok, tawuran, melihat video porno, dan sebagainya, dengan satu alasan: Takut dibilang “tidak gentle”. Menurut dunia pergaulan anak muda di Indonesia, gentle itu dikaitkan dengan kejantanan atau kelaki-lakian. Sampai tahap ini, pendapat ini betul! Dalam bahasa Inggris adalah kata gentleman yang artinya pria. Tapi yang salah adalah, jika kejantanan atau kelaki-lakian atau gentle, selalu dikaitkan dengan kekerasan atau kekuatan fisik atau keberanian untuk melanggar aturan.

Sebaliknya, dalam Kamus Bahasa Inggris, kata gentle justru berarti “lemah lembut”. Kalau Anda menyaksikan adegan film-film Barat, seorang laki-laki yang mengambilkan barang oranglain yang jatuh; atau seorang laki-laki yang memberikan tempat duduk di bus umum kepada seorang lanjut usia, dinilai telah bersikap “gentle” atau lemah lembut.

Kelemahlembutan dalam Galatia 5:23, menggunakan bahasa Yunani PRAUTES. Kata PRAUTES ini berarti berwatak halus atau lembut dan bukannya kasar; kualitas yang menenangkan dan bukannya menggelisahkan; suatu kualitas yang diharapkan dari seorang teman dan bukan musuh; penguasa yang baik dan bukannya bengis; binatang yang jinak dan bukannya liar; atau pengobatan yang ringan dan bukannya berat. Jadi, adalah keliru jika Anda berpikir bahwa seorang pria yang gentle adalah pria yang kekar; macho; bertato; keras; dan berani melanggar aturan. Sebaliknya, pria yang gentle atau seorang gentleman adalah seorang pria yang lemah lembut.

Pikiran kita, orang-orang muda di Indonesia, perlu diformat ulang. Pria yang gentle itu justru pria yang lemah lembut. Dan kelemahlembutan yang sejati itu bukan hanya sekadar topeng untuk menaklukkan wanita, tapi ekspresi dari hati yang juga lemah lembut. Kelemahlembutan sebagai buah Roh adalah kelemahlembutan yang muncul dari hati yang terdalam; suatu karakter yang tercetak di dalam hati kita.

Jangan salah paham! Pria yang lemah lembut bukanlah pria yang lemah gemulai. Saya justru mendorong kalian yang pria untuk memiliki gestur yang selayaknya seorang pria! Namun lemah lembut yang saya maksud disini, lebih menunjuk pada sikap atau cara kita berbicara kepada oranglain. Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan definisi “lembut” sebagai “baik hati (halus budi bahasanya); tidak bengis; tidak pemarah.”

Ada satu tokoh Alkitab, yang terkenal sebagai seorang pria yang paling gentle! Siapa dia? Mari kita membaca Bilangan 12:3, “Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.” Musa adalah seorang gentleman, paling gentle dari semua manusia lainnya di muka bumi ini. Padahal, siapakah Musa? Dia seorang pemimpin bangsa dengan karakter pemarah! Latar belakang pendidikannya sebagai pangeran Mesir yang punya keahlian berperang, membuatnya makin kasar! Melihat seorang Mesir menganiaya orang sebangsanya, Musa emosi lalu membunuh orang Mesir itu! Namun pada saat yang bersamaan, TUHAN mengenal dan membentuk Musa menjadi seorang paling gentle di atas muka bumi ini. Musa, si pemarah, diproses Tuhan untuk menjadi seorang yang lemah lembut.

Seperti Musa, milikilah hati yang gentle; yang lemah lembut; yang mau diproses oleh Tuhan! Yakobus 1:21 menyatakan, “Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.” Praktek Ujian Nasional di Indonesia penuh hal-hal kotor dan kejahatan. Tapi seorang yang gentle, akan memilih untuk membuang hal-hal kotor dan jahat itu, dan sebaliknya justru menerima Firman yang tertanam di dalam hati kita.

Tokoh lain di dalam Alkitab yang juga dicatat sebagai Pribadi yang lemah lembut adalah Tuhan kita, Yesus Kristus! Ada tiga ayat Alkitab yang menyatakan hal itu. Dengan merujuk pada Zakaria 9:9 di Perjanjian Lama, Matius 21:5 mencatat, “Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut….” Rasul Paulus juga pernah memberi peringatan kepada jemaat Korintus dengan menulis, “demi Kristus yang lemah lembut dan ramah (Surat Korintus)” Bahkan Yesus Kristus sendiri menyatakan, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11:29). Jadi Yesus adalah Pribadi yang lemah lembut; Ia adalah seorang gentleman!

Dalam kelemahlembutanNya, Yesus telah memberikan kepada Kamu sebuah kuk! Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kuk adalah kayu lengkung yang dipasang di tengkuk kerbau (lembu) untuk menarik bajak (pedati dsb). Jadi, Tuhan mengundang kita untuk bekerja bagi Dia dan untuk bekerja di ladangNya. Dan untuk saat ini, bagaimana cara Kamu bekerja bagi Dia? Dimana ladang yang Tuhan sediakan bagimu? Saat ini kamu bekerja bagi Yesus dengan cara belajar! Dan dimanakah ladangnya? Di dunia pendidikan! Jadi aktivitasmu belajar di dunia pendidikan adalah wujud kamu bekerja bagi Dia, di ladangNya!

Apa yang Yesus janjikan jika Kamu memikul kukNya? Apa yang Yesus janjikan jika Kamu bekerja bagi Dia di ladangNya? Ketenangan! Kelemahlembutan Yesus memberikan kepada kita ketenangan! Hati-hati dengan bujukan pihak-pihak yang justru tidak akan membawa ketenangan batin kepadamu! Mungkin akan ada oknum-oknum guru pengawas dari sekolah lain yang akan membiarkan Kamu melakukan kecurangan, tapi ingatlah, itu tidak akan membawamu kepada ketenangan sebagaimana yang Yesus ajarkan! Jangan biarkan iblis dan antek-anteknya merebut ketenangan yang Yesus telah sediakan bagimu! Dengan berbuat curang, Kamu akan kehilangan ketenangan yang sejati! Hatimu akan menuduhmu dan jiwamu akan selalu mengingat, siapa Kamu sebetulnya pada detik-detik terakhir perjuanganmu di bangku SMA!

Karena itu, sebagai orang muda, jangan mudah terpengaruh untuk melakukan hal-hal yang negatif, hanya karena takut dibilang “tidak gentle”! Dalam rangka Ujian Nasional, mungkin temanmu akan ada yang menganggapmu “tidak gentle”, hanya karena Kamu tidak mau (dan mereka menganggap Kamu, tidak berani) untuk berlaku curang; untuk mencontek; untuk bekerjasama; untuk memanipulasi hasil Ujian Nasional. Jangan pernah terpengaruh dengan bujukan-bujukan jahat ini! Karena gentle tidak identik dengan keberanian melanggar aturan.

Gentle berarti lemah lembut seperti Kristus. Gentle berarti memikul kuk yang Tuhan berikan. Gentle berarti kita mendapatkan ketenangan! Dan orang yang tenang memiliki pikiran dan hati yang jernih untuk menghadapi apapun tantangan dalam hidup ini, bahkan ia sanggup menaklukkan apa saja! Itu sebabnya Yesus mengatakan, “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” Orang-orang yang gentle, akan memiliki bumi! Orang-orang yang gentle, akan sanggup menghadapi apapun tantangan dalam hidup ini, bahkan menaklukkannya!

Karakter terakhir yang harus kita miliki sebagai orang Kristen adalah penguasaan diri. Kata Yunani yang digunakan adalah enkrateia, yang artinya memiliki kekuasaan atas dirinya sendiri atau mampu mengendalikan dirinya sendiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengendalian juga memiliki arti mengekang atau menahan (misalnya, hawa nafsu). Lalu apa arti hawa nafsu? KBBI menjelaskan bahwa hawa nafsu artinya dorongan hati yang kuat untuk berbuat kurang baik. Apabila kita hendak meringkasnya, penguasaan diri berarti mengendalikan atau menahan segala dorongan hati untuk berbuat kurang baik.

Berbuat curang itu baik atau tidak baik? Memanipulasi Ujian Nasional itu baik atau tidak baik? Menguasai diri artinya kita berjuang menahan diri untuk tidak mengikuti segala dorongan hati kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan tidak baik itu.

Menguasai diri tidak hanya harus Kamu praktekkan nanti saat Ujian Nasional berlangsung, tapi juga dari sejak sekarang! Kuasai dirimu terhadap godaan menonton televisi berlebihan; godaan bermain-main terlalu banyak; godaan untuk malas membaca buku-buku pelajaran berulang-ulang; godaan untuk selalu update status di situs jejaring sosial! Saya pernah berkelakar kepada salah seorang putera pak pendeta yang sangat baik dan ramah kepada saya. Saya katakan kepadanya, “Kamu baik, ramah, ganteng. Tapi ada satu yang kurang, yaitu kebanyakan nonton film!” Lalu saya katakan kepadanya lagi, “Tapi Oom percaya bahwa setelah Oom mengatakan ini, Kamu pasti akan lebih banyak membaca dan belajar!” Saya percaya dia memperhatikan pesan saya. Tapi lebih celaka lagi bagi Kamu, yang selama ini telah membiarkan dirimu hangus dalam dosa pornografi. Yakinlah, kecanduanmu itu akan sangat mengganggu konsentrasimu untuk belajar ataupun untuk menjalani hidup keseharianmu. Tapi tidak pernah ada kata terlambat untuk bertobat!

Amsal 25:28 mencatat, “Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.” Tembok memberikan perlindungan bagi penduduk kota. Memungkinkan penduduk suatu kota hidup terhormat karena terlindung dari musuh-musuh mereka. Kota yang temboknya runtuh, maka bangsa yang hidup di dalamnya akan hidup tercela. Itu sebabnya dalam Kitab Nehemia, kita membaca Nehemia, juru minum Raja Artahsasta, sangat berduka ketika mendengar bahwa tembok Yerusalem telah menjadi puing-puing dan masyarakat di dalamnya hidup tercela.

Raja Artahsasta pun nampaknya menyadari keberadaan tembok bagi sebuah bangsa sangatlah penting. Sampai-sampai ia mengijinkan Nehemia –juru minumnya, orang kepercayaannya yang menentukan hidup-mati sang raja terkait dengan masalah minuman yang dikonsumsinya– diijinkannya pergi ke Yerusalem untuk membangun tembok kota Yerusalem. Mungkin raja memiliki juru minum lainnya, tapi tetap saja, membiarkan orang kepercayaan pergi seketika waktu, itu adalah tindakan yang mempertaruhkan nyawa sendiri. Ini berarti keberadaan sebuah tembok memang sangat dianggap penting di zaman itu.

Orang yang tidak menguasai diri bagaikan kota yang roboh temboknya. Ini berarti, orang tersebut tidak bisa menjadi tempat yang aman bagi siapapun, termasuk dirinya sendiri. Ini berarti, orang tersebut menimbulkan cela bagi oranglain dan diri sendiri. Contohnya adalah terkait dengan gosip. Menjelang ujian nasional, jadikan ini momen untuk melatih dirimu tidak bergosip. Jangan buang-buang waktu untuk membicarakan kekurangan oranglain. Kalau Engkau tidak sanggup menguasai diri terhadap gosip, Engkau menimbulkan cela bagi oranglain dan bagi dirimu sendiri. Engkau menjadi kota yang tidak aman. Orang tidak bisa lagi percaya dengan dirimu. Perhatikan, ketika engkau bergosip, teman gosipmu justru akan berpikir, “Wah, sekarang saja dia menggosipkan orang kepada saya, jangan-jangan di hadapan oranglain, dia juga menggosipkan saya.” Orang yang bergosip adalah kota yang roboh temboknya. Pakailah baik-baik waktu yang ada untuk mengisi diri dengan ilmu pengetahuan dan bukannya dengan sampah gosip. Pakailah waktu baik-baik untuk belajar pelajaran di sekolah dan juga belajar Firman TUHAN.

Salah satu contoh orang-orang yang menguasai diri dengan baik adalah para tukang kayu, tukang bangunan, dan tukang batu di zaman Raja Yosia. Sebagai “tukang”, uang tentu menjadi sesuatu yang menggiurkan bukan? Tapi apa yang kita baca tentang para tukang di zaman Raja Yosia? Kitab 2 Raja-raja 22:3-7 mencatat, “Dalam tahun yang kedelapan belas zaman raja Yosia maka raja menyuruh Safan bin Azalya bin Mesulam, panitera itu, ke rumah TUHAN, katanya: “Pergilah kepada imam besar Hilkia; suruhlah ia menyerahkan seluruh uang yang telah dibawa ke dalam rumah TUHAN yang telah dikumpulkan dari pihak rakyat oleh penjaga-penjaga pintu; baiklah itu diberikan mereka ke tangan para pekerja yang diangkat untuk mengawasi rumah TUHAN, supaya diberikan kepada tukang-tukang yang ada di rumah TUHAN untuk memperbaiki kerusakan rumah itu, yaitu kepada tukang-tukang kayu, tukang-tukang bangunan dan tukang-tukang tembok, juga bagi pembelian kayu dan batu pahat untuk memperbaiki rumah itu. Tetapi tidak usahlah mengadakan perhitungan dengan mereka mengenai uang yang diberikan ke tangan mereka, sebab mereka bekerja dengan jujur.
Mereka berprofresi “hanya” sebagai tukang. Tapi integritasnya, tidak kalah dari Daniel atau Yusuf yang adalah pejabat tinggi negara itu! Mereka jujur! Mereka adalah kota yang bertembok, karena membuat oranglain bisa mempercayai mereka. Mereka menjadi tempat yang aman untuk diberi kepercayaan, dan hidup terhormat.

Penguasaan diri adalah seperti tembok. Memberikan Kamu kehormatan dan menjauhkan Kamu dari cela. Penguasaan diri bukan berarti kamu menahan diri untuk tidak tersenyum lalu tampil sok wibawa, bukan! Bukan demikian! Justru ketika Kamu tidak ramah dikala sebetulnya harus ramah, itu berarti Kamu juga kurang menguasai diri! Saya pernah diundang makan malam bersama dengan suami-isteri orang Barat dan satu keluarga Indonesia. Tapi malam itu, saya sedang ada masalah pribadi. Saya sibuk dengan pikiran saya, dan bersikap tidak ramah kepada oranglain. Saya diam saja. Tapi dengan diamnya saya, bukan membuat saya tambah berwibawa, justru memberi kesan sombong. Itu berarti, dengan “diam” saya telah tidak menguasai diri.
Ujian Nasional kali ini adalah sebuah ujian bagimu, apakah Kamu akan menjadi pribadi yang menguasai diri atau tidak! Penguasaan diri adalah sebuah praktek kehidupan yang sangat penting bagi orang-orang non Kristen sekalipun, contohnya dalam Budhisme! Dan mereka melatih penguasaan diri itu dimulai dari pikiran! Menurut Budhisme, dengan mendisiplinkan pikiran kita (seperti misalnya dengan praktek meditatif atau vipassana), kita akan mendapatkan kebijaksanaan yang sejati atau pencerahan (panna). Dan pencerahan itu ujung-ujungnya akan membawa kita kepada nirwana (suatu keadaan tanpa samsara; tanpa penderitaan yang diakibatkan oleh keinginan-keinginan atau hawa nafsu). Jadi, dalam Budhisme, penguasaan diri dipraktekkan untuk mendapatkan “sorga” (bukan dalam pengertian tempat, melainkan keadaan).

Tanpa bermaksud merendahkan penganut agama lain, tapi saya hendak memperkenalkan bahwa konsep kekristenan berbeda. Penguasaan diri bukanlah praktek hidup untuk mendapatkan “sorga”, melainkan sebaliknya, karena kita telah berstatus sebagai anak-anak Kerajaan sorga, maka kini harus mengekspresikannya dalam sebuah gaya hidup yang penuh penguasaan diri.

Jadi kalau Anda menolak untuk berbuat curang, bukan supaya dapat sorga, melainkan karena Anda sudah berstatus sebagai anak-anak Kerajaan Sorga. Jadi kalau Anda menolak untuk berlaku tidak jujur, bukan supaya dapat sorga, melainkan karena Anda sudah berstatus sebagai anak-anak Kerajaan Sorga. Pertanyaannya sekarang, sungguhkah Kamu telah memiliki kepastian bahwa status Kamu detik ini adalah warga negara Kerajaan Sorga? Status itu hanya dapat Kamu peroleh ketika Kamu dilahirkan kembali oleh Roh Allah. Ketika kamu percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi Kamu; yang telah mati menebus Kamu dari dosa-dosamu di atas kayu salib, pada saat itulah Kamu beroleh status baru, yaitu menjadi warga negara sorga.

Sebagai jaminannya, Tuhan memberikan Roh Kudus di dalam kehidupanmu. Dan Roh Kudus itu menghasilkan karakter baru dalam dirimu, yang kita kenal sebagai Buah Roh. Kita hidup untuk mengekspresikan apa yang kita miliki di dalam diri kita, yaitu Roh Kudus. Itu sebabnya, karakter kelemahlembutan dan penguasaan diri ini disebut sebagai Buah Roh. Artinya, hasil yang sewajarnya yang muncul dari dalam diri kita karena ada Roh Kudus di dalam hidup kita.

Nah, kalau memang betul Kamu ini sudah berstatus sebagai warga negara sorga, ekspresikanlah itu! Hiduplah dengan gaya hidup seorang warga negara sorga! Apakah seorang warga negara sorga akan berlaku curang? Apakah seorang warga negara sorga akan bertindak tidak jujur? Apakah seorang warga negara sorga akan malas belajar? Saya rasa tidak!

Dalam rangka menyambut Ujian Nasional tahun 2013 ini, saya berpesan, ekspresikan Buah Roh dalam dirimu! Melalui perbuatanmu, tunjukkan KTP-mu sebagai warga negara sorga! Jadilah seorang gentleman dan milikilah penguasaan diri! Dan jadilah pemenang, baik dalam prestasi akademik, maupun dalam perjuangan iman!

Jangan takut dan jangan merasa bahwa Kamu sedang berjuang sendiri. Kami, guru-gurumu dari Sekolah Kristen Kalam Kudus Jayapura juga memiliki perjuangannya sendiri. Termasuk kami para rohaniwan juga mengalaminya. Saya pernah diundang kotbah di salah satu sekolah negeri yang kurang menyukai guru-guru di Kalam Kudus. Mereka berpandangan guru-guru dari sekolah kita “sok gentle”; mereka berpandangan bahwa kita ini terlalu jujur. Suatu hari saya diundang kotbah di sekolah tersebut. Baru saja saya hendak mulai berkotbah, tiba-tiba listrik di ruangan saya mati. Di kemudian hari saya mendengar, bahwa listrik di kantor guru tidak mati. Tapi listrik di ruangan tempat saya kotbah, tidak hidup. “Wah, saya disabotase,” pikir saya. Bayangkan kalau sampai seorang hamba Tuhan yang hendak berkotbah disabotase. Saya terpaksa mengubah isi kotbah saya, dan tetap berkotbah. Seusai ibadah, kepala sekolah di sekolah itu mengabaikan saya dan tidak bersikap ramah terhadap saya. Tapi saya harus tetap mengendalikan diri. Jadi kepada Kamu semua saya mendorong untuk maju terus. Kamu tidak berjuang sendiri dalam Ujian Nasional ini!

(Dikotbahkan dalam Ibadah Persiapan Ujian Nasional 2013, SMA Kristen Kalam Kudus Jayapura, Jumat/12 April 2013).

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Proudly powered by WordPress Theme: Adventure Journal by Contexture International.

%d bloggers like this: