Posts Tagged With: Nehemia

Nehemia 1. Berdoa dan Berusaha


Nats: Nehemia 1
Oleh: Rike

Mari, kita sekali lagi tundukkan kepala dan berdoa.

Doa: Bapa kami di dalam surga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga,…

Pembukaan

Kita bersama-sama membuka Kitab Nehemia, Nehemia pasal 1, akan menjadi bahan renungan kita di pagi hari ini. Saya akan membacakannya dan saudara/I bisa mengikutinya, di dalam alkitabnya masing-masing.

Baca: secara perlahan-lahan

Nehemia 1 : “Doa Nehemia bagi orang Israel”

Bapak/Ibu/Saudara/I, setelah kematian Salomo, kerajaan Israel terpecah menjadi dua_kerajaan utara dan selatan. Ibukota kerajaan utara ialah Samaria. Dalam tahun 722 SM kota itu direbut oleh bangsa Asyur dan banyak rakyatnya dijadikan tawanan. Hal yang hampir sama terjadi juga terhadap kerajaan selatan, Yehuda, ketika Yerusalem direbut oleh bangsa Babel pada tahun 586 SM. Dalam tahun 539 SM bangsa Babel sendiri dikalahkan oleh bangsa Persia_dan raja Persia mendorong sebagian orang Yahudi untuk kembali ke tanah air mereka. Kira-kira 50.000 orang kembali dan memulai tugas untuk membangun kembali Rumah Tuhan, tetapi kemudian mereka menjadi kecil hati dan hanya mampu membangun fondasinya saja.

Sejarah selanjutnya agak ruwet, tetapi rupanya kira-kira 16 tahun kemudian Allah mengirimkan dua orang nabi, Hagai dan Zakharia, untuk menggugah semangat rakyat. Mereka sudah menempati rumah mereka masing-masing, tetapi mengabaikan pembangunan kembali Rumah Tuhan. Sebagai akibatnya, pekerjaan pembangunan dimulai lagi dan kali ini Rumah Tuhan dapat diselesaikan.

Dalam tahun 486 serombongan lagi orang Yahudi kembali ke Yerusalem di bawah pimpinan Ezra. Ezra berusaha sebaik mungkin untuk membangun semangat bangsanya dan mengangkat moral serta kehidupan rohani mereka, tetapi ia banyak menemui kekecewaan. Beberapa tahun kemudian, sekitar tahun 445 SM Allah berbicara kepada seorang lain, yaitu Nehemia dan menugaskannya untuk secara khusus menekuni pembagunan kembali tembok kota yang sudah hancur itu.

Siapakah Nehemia? Nehemia adalah seorang juruminum raja, Nehemia mencicipi lebih dahulu anggur yang akan disajikan kepada raja untuk membuktikan bahwa minuman itu tidak mengadung racun. Hanya orang yang paling dipercaya dapat menduduki posisi tertinggi ini dalam istana raja Persia. Namun demikian, hati Neheia lebih cenderung untuk melakukan tugas yang Allah bebankan kepadanya. Ia digambarkan sebagai seorang pengusaha yang hidup dalam doa.

Bapak/Ibu/Saudara/I, masih dalam nuansa memasuki tahun baru, 2013, mungkin diantara kita masih ada yang ragu untuk menjalani hari-hari ini kedepan, mungkin mulai muncul keragu-raguan akan keadaan dan kondisi yang akan datang. Sebuah anugrah kita dapat melewati satu hari, namun berjuta misteri dan rahasia Allah, mengapa kita dapat melewatinya.
Kedepan mungkin akan ada banyak masalah yang akan datang disekitar kita, yang membuat kita tidak mampu mengubahnya, baik melalui strategi, metode, kemampuan, maupun melalui potensi kita. Bahkan mungkin melalui keberhasilan dan pengalaman di masa lampau, hal itu pun juga tidak dapat mengubah keadaan kita. Masalah disekitar kita selalu berkembang sesuai tuntutan perkembangan zaman, baik itu masalah ekonomi, keamanan, kesehatan, keluarga, study, dll. Apakah ada peluang bagi kita untuk mengubah keadaan?

Masalah

Pada saat Nehemiah hidup, bangsa Yehuda manjadi bangsa yang terbuang atau di tawan di negri asing. Sekitar 70 tahun bangsa Yehuda menjadi tawanan bangsa Babel, Media, Media Persia. Tak ada kekuatan untuk membebaskan diri. Kondisinya bagaikan berada di jalan buntut. Tetapi, melalui doa yang dipanjatkan oleh Nehemia, ternyata, dapat menjadi alat untuk mengubah keadaan.

Jikalau kita berada dalam kondisi tidak bisa mengubah keadaan, satu-satunya cara terbaik adalah berdoa, sebab doa bisa mengubah keadaan, Bagaimana hal itu bisa terjadi ? Nehemia memberikan kita contoh dan langkah-langkahnya.

Ada 3 poin yang saya renungkan dan dapat saya bagikan bagi saudara/i sekalian.

Poin yang pertama adalah:

1. Doa dengan terbeban

Dalam ayatnya yang ke 4, Nehemia berkata: “Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit (Neh 1:4).

a. Nehemia adalah seorang yang sukses

Sebagai orang buangan, kedudukannya sangat terhormat, yaitu menjadi juru minum raja (Kita bisa lihat itu di ay. 11 dan pasal 2:1). Ia termasuk golongan orang buangan yang berhasil, seperti Ester, Daniel, Sadrak, Mesak, Abednego, dll. Dalam keberhasilan pribadinya, ia mendengar dari Hanani (seorang dari Yehuda yang terluput dari penawanan), situasi yang sangat kontras dengan kondisi Nehemia, bahwa kondisi di Yerusalem sangat menyedihkan. Orang-orangnya menderita, tembok terbongkar, pintu-pintunya terbakar (ay.3)

b. Nehemia juga adalah seorang yang terbeban

Sikap, Nehemia yang demikian bisa kita lihat dari, tindakannya yang ketika mendengar, apa yang telah disampaikan oleh Hanani, Nehemia kemudian “…menangis…, berkabung (ay.4). Nehemia sangat, “terbeban” atas penderitaan bangsanya, keruntuhan kota, bahkan rusaknya kota Yerusalem.

Sebenarnya, Nehemia bisa berpikir egois: “yang penting aku sudah sukses” atau “yang penting tempatku aman, berkelimpahan”, atau “urusan Yerusalem adalah urusan Tuhan atau urusan para politikus dan bukan urusanku”.
Tetapi, Nehemia bukanlah orang yang demikian, Nehemia adalah orang yang peduli terhadap penderitaan umat Allah. Ia memikirkan masalah bangsanya dengan sangat serius, sangat terbeban. Ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Sehingga sikap dan raut mukanya terbaca oleh Raja Arthasastra (Neh. 2:2)

Hebatnya, Nehemia mengungkapkan sikap terbebanya dengan doa. Dan pada saat ditanya oleh sang Raja, apa keinginannya, Nehemia tidak langsung menjawab atau meminta kepada raja, tetapi kembali berdoa. “Lalu kata raja kepadaku: “Jadi, apa yang kauinginkan?” Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit” (Neh 2:4)

Orang yang sungguh-sungguh terbeban akan tampak di dalam kehidupan doanya. Mustahil kita terbeban akan penderitaan orang lain, namun membiarkan orang tersebut tetap menderita.

Nehemia memiliki sikap terbeban dengan hati yang murni. Terbeban karena terpanggil bukan karena pamrih. Zaman sekarang mungkin kita sering melihat atau mendengar berita tentang seorang tokoh terkenal yang peduli kepada sekelompok orang, tetapi ujung-ujungnya ada pamrih politik, pamrih ekonomi, pamrih popularitas. Nehemia tidaklah demikian, dia terpanggil untuk membangun Yerusalem, karena terbeban.

Poin kedua, dari bagian firman Tuhan ini adalah:

2. Doa dengan merendahkan diri

duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa …,(Neh 1:4 ITB)
…dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa (Neh 1:6). Nehemia memiliki hati yang terbeban, kemudian disampaikan kepada Allah dengan sikap merendahkan diri. Ayat 4, mengambarkan, Nehemia duduk menangsi dan berkabung, bedoa puasa selama beberapa hari.

a. Nehemia berkabung(tidak dibaca)

Berkabung atau meratap merupakan puncak kesedihan bagi orang Yahudi. Biasanya diperagakan dengan mengoyakan pakaian atau memakai pakaian khusus perkabungan berwarna hitam yang bahannya seperti “karung”. Masa perkabungan selama 7 hari, dengan menangis,meratap. Yang lebih demonstrative lagi dengan mencarik-carik pakaian, memukul dada,menyiram abu diatas kepala, berjalan dengan kaki telanjang,menarik dan menguting rambut (Kej. 37:29-34 Ruben_kembali ke sumur dan melihat bahwa Yusuf adiknya telah tiada dan Yakub_berkabung berhari-hari sebab anak yang dikasihinya telah tiada; 2 Samuel 13:19Tamar; Imamat 10:6). Inilah cara merendahkan diri dengan berkabung seperti itu. Yang kita ambil prinsipnya, bahwa doa pemohonan Nehemia ini sungguh-sungguh digumuli dengan meredahkan diri di hadapan Tuhan. Ia berdoa “siang dan malam” (Neh. 1:6). Bukan hanya doa secara pribadi, melainkan juga melibatkan orang-orang lain (ay. 1).

b. Nehemia adalah orang yang rendah diri

Nehemia sebenarnya layak sombong, karena dinegri orang lain ia bisa berprestasi. Ada kesempatan untuknya pamer membandingkan dengan sesamanya karena sebagai orang tawanan, ia bisa memiliki jabatan penting di istana. Namun, semua prestasi dan kejayaan harus ditinggalkan tatkala ia berhadapan dengan Allah. Nehemia merendahkan diri. Dalam doanya, ia memohon pengampunan dosa-dosa, baik dosa secara pribadi maupun dosa bangsanya (ay. 6). Nehemia percaya pada firman Tuhan bahwa orang yang berbalik kepada Tuhan, akan mendapatkan pertolongan dari-Nya (ay.7)

Poin ke tiga, yang menjadi poin terakhir saya, adalah:

3. Doa dengan berusaha.

Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini.” Ketika itu aku ini juru minum raja. (Neh 1:11). Nehemia mengharapkan satu hal: berhasil. Untuk berhasil, diperlukan doa dan usaha. Dalam rangka berusaha, maka Nehemia menggunakan potensi dan strategi yang didukung doa.

Usaha yang dilakukan oleh Nehemia adalah:

a. Pertama, Berusaha memanfaatkan potensi

… Ketika itu aku ini juru minuman raja. (Neh 1:11 ITB)
Kedudukan dan jabatan adalah potensi yang bisa digunakan untuk lobi akses hubungan yang lebih luas. Dalam proyek membangun negara memang sangat diperlukan lobi dan akses tingkat pejabat karajaan, seperti Nehemia.

b. Kedua, Berusaha menggunakan strategi.

Setelah raja memberi kesempatan kepada Nehemia, ia memakai strategi memohon surat rekomendasi atau surat jalan agar bupati-bupati yang wilayahnya akan dilewati memperlancar tujuannya. Juga, meminta surat pengatar agar Asaf, pengawas taman raja memberikan bantuan kayu-kayu dengan kualitas terbaik untuk pembangunan kota Yerusalem dan pintu gerbang Bait Allah (Neh. 2:7-8). Semua permohonan Nehemia ini dikabulkan oleh raja. Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku (Neh 2:8).

c. Ketiga, Nehemia berusaha dengan kerja keras.

Doa dan berpuasa, bukan berarti tanpan tantangan. Dalam perjalanan Nehemia dan rombongan ke Yerusalem banyak tantangan. Sanbalat menolak Yerusalem dibangun kembali, yang akhirnya memimpin perlawanan melawan Nehemia (Neh.2:10,19; 16:1-19). Perlawanannya dimulai dengan olok-olok, sampai akan dikacaukan dengan perang. Karena itu, Nehemia dan rakyatnya membangun Yerusalem, dengan siap berperang. Memang, Nehemia tetap mengandalkan doa (Neh. 4:9). Namun, juga ada pembagian tugas: sebagian membangun, sebagian siap siaga perang. Bahkan, sebagian lagi membangun dengan tangan kanan berpegang senjata untuk siap perang. (Neh. 4:1-23). Inilah berdoa dengan berusaha. Akhirnya, pekerjaan selesai (Neh. 6:15), dan seluruh cita-cita berhasil (Neh. 7:1).

Kesimpulan/Aplikasinya dalam kehidupan kita:
Doa dapat mengubah keadaan, sudah terbukti dalam kesaksian Nehemia. Ia berdoa dengan terbeban atas keadaan bangsanya, disertai sikap merendahkan diri dihadapan Tuhan, dan berusaha menggunakan potensi serta strategi secara maksimal. Pada akhirnya, segala cita-citanya berhasil.

Doa kita juga dapat mengubah keadaan. Mungkin saat ini kita ragu melewati semester ini dengan baik,bertemu kembali dengan rekan-rekan pelayanan yang tidak selamanya dapat menjalin kerjasama dengan baik, keluarga yang tak kunjung henti-hentinya memiliki masalah, dan mungkin masih banyak masalah yang lainnya. Namun, mari, masih dalam nuansa memasuki tahun yang baru, dengan Iman kita mau belajar berharap sebagaimana yang telah digambarkan oleh Nehemia, bahwa dengan doa dan usaha, maka keadaan yang saat ini kita meragukannya, itu akan kita lihat hasilnya, sebagaimana mengutip perkataan rasul Paulus kepada jemaat di Filipi

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus (Fil. 4:6-7). AMIN.

(Dikotbahkan dalam Ibadah Chapel Pagi STTRII Jakarta, Jumat/18 Januari 2013).

Categories: Tulisan | Tags: , , , , | Leave a comment

Nehemia 8:1-13. The Joy of The Lord is My Strength


Nats: Nehemia 8:1 – 13.
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Pengantar:
Anda mungkin pernah mendengar sebuah lagu yang syairnya berbunyi, “The joy of The Lord is my strength….” Kita sendiri bahkan mungkin pernah menyanyikannya. Namun mengertikah kita makna dari syair lagu tersebut? Syair lagu tersebut ternyata berasal dari Nehemia 8:11. Dalam terjemahan versi Lembaga Alkitab Indonesia, kata “strength” diterjemahkan menjadi “perlindungan.”

Isi Kotbah:
Dari Nehemia 8 kita dapat belajar tiga hal:

1. Berdasarkan latarbelakang nats, kita belajar bahwa segala sesuatu ada waktunya. Berdukacitalah karena dosamu; tapi bersukacitalah karena Tuhan ketika Tuhan memulihkanmu.

Bangsa Israel (Israel Utara dan kemudian Israel Selatan) dibuang oleh Tuhan keluar dari negeri yang awalnya telah diberikan Tuhan kepada mereka, akibat pemberontakan mereka kepada Tuhan. Ketika umat Allah mengkhianati perjanjiannya dengan Allah yang menyelamatkan mereka, maka Allah pun bertindak demi kesucianNya. Seruan Allah kepada bangsa yang memberontak ini adalah sebagaimana yang terdapat dalam Yoel 2:13, “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.” Namun umat justru “bergembira” karena dosanya, dan membawa penghukuman Allah atas mereka, yaitu dibuang!

Apakah kita seperti orang-orang Yahudi itu? Bergembira karena dosa-dosa kita? Bangga karena perbuatan-perbuatan dosa kita? Ada sebuah ilustrasi yang dapat menolong kita berpikir tentang topik ini: Pada zaman dahulu di Eropa, ada satu masa dimana para bangsawan justru membanggakan diri mereka bahwa mereka lama tidak mandi. Karena dalam pemikiran mereka, orang yang butuh mandi adalah orang yang tubuhnya kotor. Dan orang yang tubuhnya kotor adalah orang-orang yang tergolong menengah ke bawah; para pekerja dan buruh; orang-orang miskin. Sebagai orang kaya, mereka tidak merasa perlu mandi, karena mereka tidak perlu kerja berat seperti kelompok masyarakat yang menengah ke bawah. Karena itu, lama tidak mandi justru menaikkan gengsi, dan mereka justru berbangga karena hal itu. Lalu bagaimana caranya mereka menghilangkan bau badan mereka? Mereka rela merogoh kocek dan membuang uang dalam jumlah besar demi sebuah parfum. Padahal alam telah menyediakan cara yang murah dan sehat, yaitu mandi dengan air bersih setiap hari. Demikian orang-orang kaya Eropa di satu masa, di masa lalu, justru lebih bangga karena perilaku tidak sehat mereka.

Seringkali kita pun seperti itu. Ada perilaku-perilaku dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak sehat bagi kerohanian kita. Namun toh kita melakukannya, menikmatinya, dan bahkan berbangga karenanya. Ada pengusaha yang dengan bangga bercerita bagaimana ia berhasil “mengkadali” atau “mengakali” lembaga resmi penarik pajak. Ada pejabat yang dengan bangga bercerita bagaimana ia berhasil “mensiasati” pengawas keuangan sedemikian rupa sehingga praktek kotor di departemennya dapat tidak terlacak. Ada siswa yang dengan bangga bercerita bagaimana ia dengan tenang bekerjasama dengan pengawas ujian nasional sehingga hasil ujian nasionalnya tidak jatuh. Atau kalau kita berbicara tentang situasi menegangkan yang sedang mewarnai Jayapura akhir-akhir ini, kita melihat bahwa ada orang-orang yang justru berbangga kalau bisa melakukan penembakkan bahkan membunuh oranglain tanpa belaskasihan. Banyak orang justru bersukacita karena dosa dan keburukannya. Mereka tidak sadar bahwa justru dalam posisi itu, berlaku seruan Tuhan atas mereka, “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.

Kita hidup di dunia yang serba terbalik alias sungsang. Kita hidup di dunia yang tidak normal, sementara itu kita yang waras dituntut untuk berani tampil beda, dan terkadang – seperti ungkapan orang Jawa – “sing waras ngalah.” Dalam kehidupan dunia yang semacam ini, Allah menuntut manusia untuk menyesal dan bertobat sungguh-sungguh dengan menangisi kemalangan kita. Itulah yang juga terjadi atas umat Israel. Tapi mereka tidak mengoyakkan hati mereka sebagai tanda bertobat, alhasil mereka dihukum Tuhan, yaitu dibuang ke negeri asing.

Orang Ibrani dibiarkan Tuhan ada dalam pembuangan selama lebih dari 50 tahun, sebagai akibat dosa dan kejahatan mereka. Meskipun demikian, di tanah pembuangan Tuhan tetap menyertai mereka, sehingga banyak diantara umat Allah yang kemudian menjadi makmur dan sejahtera. Namun dalam batin mereka, mereka tetap merindukan pemulihan; rindu kepada Tanah Air.

Akhirnya, Kerajaan Babilonia; kerajaan yang ke dalamnya umat Allah dibuang, ditaklukkan oleh Koresy, Raja Media-Persia. Raja Koresy memerintahkan agar semua orang buangan kembali ke negeri masing-masing untuk beribadat sesuai keyakinannya. Orang-orang Ibrani bebas untuk kembali ke negeri mereka. Mereka pun pulang dalam empat rombongan:
1. Sesbazar, seorang Yahudi buangan, memimpin rombongan pertama kembali ke Tanah Yehuda. Perlengkapan Bait Allah yang semula dijarah pasukan Nebukadnezar, dikembalikan kepada orang Israel.
2. Zerubabel (cucu Raja Yoyakhin) dan Yosua (seorang imam), memimpin rombongan kedua kembali ke tanah air. Rombongan pertama dan kedua mulai membangun kembali Bait Allah.
3. Nehemia, penyaji anggur Raja Arthasasta I, diutus ke Yerusalem untuk memperbaiki tembok Yerusalem (Nehemia 1 – 2). Setelah Bait Allah selesai dibangun, 70 tahun kemudian Nehemia membangun Tembok Sekeliling Kota Yerusalem. Pada saat Nehemia ada di Tanah Yehuda, di negeri Persia, Ester menjadi Ratu dan Mordekhai menjadi pejabat tinggi di Kerajaan Persia.
4. Ezra, seorang terpelajar dan imam orang Yahudi, diberi kuasa untuk memperbarui tata ibadat keagamaan di Yerusalem. Ia memimpin rombongan keempat untuk kembali ke Tanah Yehuda (Ezra 7:1 – 10).

Dalam nats yang kita baca, Tuhan memerintahkan berkali-kali agar umatNya tidak berdukacita, melainkan bersukacita. Ketika Kitab Taurat dibacakan dan dijelaskan kepada umat, Nehemia 8:9 mencatat, “…semua orang itu menangis ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat itu.” Namun berkali-kali pula, Ezra dan para pemimpin umat mengingatkan, “Hari ini adalah kudus bagi TUHAN Allahmu. Jangan kamu berdukacita dan menangis!” (ayat 9). Bacaan ini menimbulkan kesan bahwa umat dilarang menyesal atas dosa-dosanya. Namun pembacaan yang teliti atas nats ini dapat mengingatkan kita bawa, masa penghukuman mereka sudah berakhir. Tuhan sudah mengembalikan mereka ke negeri mereka. Tuhan sudah memulihkan mereka. Bahkan umat telah bersekutu kembali dengan Tuhan dalam ibadah raya. Dan mengingat akan pemulihan Tuhan itu, umat dikehendaki untuk bersukacita karena Tuhan.

Ironisnya inilah yang seringkali terjadi kepada orang Kristen di masa ini: Kita seringkali tetap tertuduh oleh setan, meskipun sebetulnya banyak orang Kristen itu telah dipulihkan Tuhan dari hidup yang lama. Tuhan pun bertindak untuk memanggil kembali umatNya, salah satunya melalui gereja lokal yang ia tempatkan di sekitar orang tersebut. Gereja kemudian menegakkan kasih Allah kepada umat, dalam hal ini melalui “disiplin gereja,” sebagaimana seorang ayah yang mengasihi anaknya juga tidak segan untuk memukul anaknya ketika ia nakal.

Namun ketika masa disiplin gereja sekaligus pembinaan itu sudah lewat, dan kita melihat perubahan signifikan dalam diri orang yang jatuh itu, maka kita (dan terutama orang itu sendiri) tidak boleh lagi membiarkan dirinya dibelenggu masa lalu atau dosa-dosanya yang lama. Iblis memang akan selalu menuduh dan mendakwa orang percaya. Namun ingatlah bahwa dalam Mikha 7:19 dinyatakan, “Biarlah Ia (TUHAN) kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.” Kalau Tuhan telah melemparkan segala dosa kita ke dalam jurang-jurang laut, maka lihatlah ada papan tulisan di tepi jurang itu, yang berbunyi, “Dilarang memancing di tempat ini.” Dengan kata lain, jangan pancing-pancing lagi dosa Anda. Tuhan sudah pulihkan Anda, maka marilah kita sekarang bersukacita karena Tuhan!

Sedihnya, bahkan ada orang Kristen yang begitu tertuduhnya, sampai-sampai menghukum dirinya sendiri untuk tidak ikut perjamuan kudus. Padahal dengan mengikuti perjamuan kudus berarti orang percaya bersekutu dengan TuhanNya yang telah mengorbankan diri bagi umatNya dan menebus umatNya. Apabila seseorang mengalami disiplin gereja, lalu tidak diperbolehkan mengikuti perjamuan kudus sambil digembalakan sampai jangka waktu tertentu, maka tentu proses itu harus dilewati sebagai wujud kasih sayang Tuhan yang tidak hanya membelai tapi juga memukul anak-anakNya demi kebaikan anak-anakNya. Namun jangan sampai ketidak ikut sertaan dalam perjamuan kudus, adalah karena kita menghukum diri. Seolah kita hendak berkata, “Korban penebusan Kristus tidak cukup untuk menghapus dosa saya, sehingga saya masih harus menghukum diri saya sendiri.” Tampaknya Anda sedang merendahkan diri, namun sesungguhnya Anda sedang menghina Tuhan. Jadi, menangislah ketika Anda memang harus meratap karena dosa Anda, tapi bergembiralah ketika pengampunan Allah telah dicurahkan memulihkan Anda.

Semua ini mengingatkan kita kembali kepada Pengkhotbah 3:1, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.“Ketika tiba waktunya untuk kita menangisi dosa-dosa kita, maka janganlah kita bersukacita karena dosa-dosa kita; dan ketika tiba waktunya untuk kita bersukacita karena Tuhan, maka janganlah kita berdukacita dan bersedih hati. Namun banyak orang melakukan yang terbalik. Ketika mereka berdosa, mereka tidak menangisi dosa mereka melainkan bergembira karena dosa mereka. Namun ketika Tuhan menghukum mereka lalu memulihkan mereka, mereka tidak bersukacita karena Tuhan melainkan terus merasa tertuduh dan menangis kemalangan mereka sendiri.

2. “Bersukacita karena Tuhan itulah kekuatanku” artinya Tuhan menjadi sumber sukacita yang mendorong kita mampu melakukan apa saja dengan rela, demi menyukakan Tuhan.

Apa maksudnya kalimat “sukacita karena Tuhan adalah kekuatanku“? Bayangkan Anda mengasihi seseorang, misalnya: pacar Anda. Pacar Anda itu menjadi sumber sukacita Anda. Ketika ia menjadi sumber sukacita Anda, maka sebaliknya, apapun akan Anda lakukan demi menggembirakan hatinya juga. Apapun! Anda akan memiliki kekuatan untuk melakukan hal-hal yang bahkan kelihatan mustahil dilakukan sebelumnya, karena pacar Anda itu adalah sumber kegembiraan Anda. Demikian juga, ketika Tuhan menjadi sebagai sumber sukacita kita, itu akan melahirkan gairah besar di hati kita untuk mau dan “mampu” – dengan kuasa Roh Kudus – melakukan apa saja untuk balik menggembirakan hati Tuhan. Bahkan nyawa pun “mampu” kita relakan demi menyenangkan hati Tuhan; asal Tuhan yang telah menjadi sumber sukacita kita itu disenangkan hatinya.

3. Sukacita karena Tuhan memberikan kita kekuatan untuk mengarahkan hidup kepada oranglain/sesama kita yang membutuhkan.

Dalam ayat 11, antara Ezra atau Nehemia, mengatakan kepada umat, “Pergilah kamu, makanlah sedap-sedapan dan minumlah minuman manis dan kirimlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa….” Bersukacita karena Tuhan memberikan kita kekuatan untuk mengarahkan diri kepada oranglain yang membutuhkan. Bersukacita karena Tuhan memberikan kita kekuatan untuk peduli kepada sesama kita dan tidak hanya fokus pada kepentingan diri sendiri.

Penerapan:

Bagaimana kita dapat bersukacita karena Tuhan?

1. Ingat karya Tuhan dalam menyelamatkan kita dari dosa.
Setiap kita punya pengalaman bagaimana kita pertamakali mengenal atau menjadi murid Tuhan Yesus. Entah ada yang melalui cara-cara yang spektakuler seperti Paulus (Kis.9), atau mungkin ada juga melalui cara-cara yang kelihatan alamiah, seperti Timotius (2 Tim.3:15). Apapun metode yang Tuhan pakai untuk memanggil kita, namun lihatlah mujizat Allah berkenaan “pembaruan budi” yang Anda alami (Roma 12:2). Ingatlah bagaimana hati kita yang keras dan jauh dari Tuhan, dalam berbagai cara yang unik, ditundukkan oleh Tuhan. Mengingat itu semua dapat membangkitkan sukacita kita karena Tuhan, karena Tuhan telah menyelamatkan kita dari keadaan yang nampaknya tidak mungkin diubah.

2. Hitung berkat Tuhan satu persatu.
Kidung Puji-pujian Kristen (KPK) No. 50 berbunyi, “Bila G’lombang Kehidupan Menimpa, Hati Jadi Takut Dan Putus Asa, Jangan Lupa Berkat Tuhan Hitunglah, Pasti Kau Tercengang, Akan Karya-Nya.” Reff-nya berbunyi demikian, “Hitung Berkat Satu Persatu, Dan Lihatlah Karya Tuhanmu. Hitung Berkat Satu Persatu. Hitung Berkat Yang Melimpah Padamu.” Ketika kita telah menjadi anak Tuhan, Tuhan menyatakan pemeliharaanNya atas kita. Ingat dan renungkan berkat-berkat tuntunan Tuhan itu, itu akan menguatkan Anda menjalani kehidupan ke depan. Saya dan isteri sudah kira-kira dua tahun menikah, dan Tuhan belum karunai anak. Namun kalau orang bertanya tentang hal itu, kami hanya bisa bersaksi bahwa: Dari sejak kami masih lajang, hingga kami berkenalan, lalu mulai berpacaran dan menjalin hubungan hingga bertunangan, bahkan setelah kemudian menikah dan mencari rumah kontrakkan untuk tempat tinggal di Papua, kami merasakan betapa tuntunan Tuhan itu tepat waktunya dan baik adanya. Karena itu perkara anak atau keturunan, kami mempercayakan diri kami sepenuhnya kepada Tuhan yang tahu apa yang paling tepat dan paling baik. Berkat tuntunanNya di masa lalu yang membuat kami bersukacita karena Tuhan, memberikan kami kekuatan untuk melangkah ke depan.

3. Jangan putus asa bergumul dengan Firman Tuhan, yaitu Alkitab.
Berkat Tuhan kita peroleh diantaranya melalui pembacaan Firman Tuhan setiap hari. Namun ada masanya kita merasa jenuh dan membaca Alkitab seperti tanpa mendapatkan manfaat apa-apa. Ketika Anda merasa demikian, jangan hentikan pembacaan Alkitab Anda setiap hari. Terus bertekun, terus belajar Alkitab, akan tiba waktunya dimana kebenaran Alkitab itu tersingkap bagi Anda dan Anda terkagum-kagum dibuatnya. Ketika itulah Anda bersukacita karena hikmat Allah yang luarbiasa, dan itu memberikan Anda kekuatan untuk mengabdi terus kepada Tuhan. Hal yang sedemikian terjadi dalam diri umat Israel. Nehemia 8:13 mencatat, “Maka pergilah semua orang itu untuk makan dan minum, untuk membagi-bagi makanan dan berpesta ria, karena mereka mengerti segala firman yang diberitahukan kepada mereka.” Jadi, lanjutkan pembacaan Alkitab Anda setiap hari!

Penutup:
Kini kita mengerti syair lagu, “The joy of the Lord is my strength.” Mari kita tidak hanya berhenti sampai pada tahap menyanyikannya saja, namun mari kita bertekun untuk hidup di dalamnya. Kita ingat juga Mazmur nomor 64 ayat 11, “Orang benar akan bersukacita karena TUHAN dan berlindung kepadaNya; semua orang yang jujur akan bermegah.” Dan kita bermegah bukan karena dosa atau kejahatan kita, tapi kita bermegah karena Tuhan; kita bersukacita karena Tuhan; kita bergembira karena Tuhan.

(Dikotbahkan dalam Ibadah Umum, GK Kalam Kudus Kotaraja, Minggu, 17 Juni 2012. Yang dicetak miring ditambahkan kemudian).

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

%d bloggers like this: