Posts Tagged With: Kitab Yosua

Yosua 19:40-48. Belajar dari Sikap Suku Dan


Nats: Yosua 19:40-48
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Sebelum ada catatan tentang pemberian wilayah Timnat-Serah kepada Yosua, ayat 40 mencatat jatuhnya undi ketujuh untuk Suku Dan. Suku Dan mendapatkan wilayah di sebelah Timur Wilayah Benyamin (Lihat Peta). Jadi, bersama-sama dengan Suku Benyamin, wilayah mereka membentuk satu garis batas yang memisahkan antara Efraim dan Yehuda. Bacalah ayat 47! Dalam Alkitab terbitan LAI, dikatakan, “Karena daerah bani Dan telah menjadi terlalu sempit untuk mereka.” Namun dalam Alkitab bahasa Inggris NIV, dikatakan, “(But the Danites had difficulty taking possession of their territory…)”atau dalam terjemahan Indonesianya, “Namun orang-orang Dan telah mengalami kesulitan untuk menguasai wilayah milik mereka.” Dalam versi yang lain bahkan dikatakan, “The Danites failed to conquer their territory” atau dalam terjemahan Indonesianya, “Orang-orang Dan gagal untuk menaklukkan wilayah mereka.”

Map-Canaan-Twelve-Tribes (1)

Jadi, nampaknya, orang-orang Dan kesulitan bahkan gagal menaklukkan bagian tanah yang diundikan bagi mereka. Apabila merujuk pada Kitab Hakim-hakim 1:34, kita mendapatkan informasi mengapa Suku Dan gagal menaklukkan wilayah yang diundikan kepada mereka adalah karena, “Orang Amori mendesak ke sebelah pegunungan dan tidak membiarkan mereka turun ke lembah.” Nampaknya Suku Dan menyerah begitu saja menghadapi desakan orang-orang Amori, dan memilih untuk menaklukkan wilayah lain di ujung paling Utara dari wilayah Israel, yaitu Kota Lesem (Lihat Peta). Janji penyertaan TUHAN tidak mereka pegang sungguh-sungguh, dan mereka memilih mengalah menghadapi tantangan keadaan. Mereka membiarkan tantangan itu yang menang!

Tanah yang Suku Dan dapatkan berdasarkan undi sebetulnya hanya kecil saja. Namun untuk hal kecil yang TUHAN telah percayakan saja, mereka telah tidak setia. Mereka punya mentalitas mau gampangnya saja. Mereka melihat jauh di Utara sana ada kota yang lebih kecil lagi yang mudah ditaklukkan, maka mereka pun memilih untuk mengalah pada tantangan, dan memilih untuk menggarap yang mudah-mudah saja. Pada hal kecil mereka telah tidak setia, maka bagaimana TUHAN akan mempercayakan mereka hal-hal yang lebih besar lagi?

Seringkali kita punya mentalitas seperti orang-orang Dan ini! Mudah menyerah hadapi tantangan! Mau enaknya dan gampangnya saja! Tidak setia dalam perkara kecil yang telah dipercayakan. Seperti anak SD yang menolak untuk belajar Matematika karena dianggapnya susah, dan maunya hanya menggambar saja. Alhasil dia tidak naik kelas.

Kalau Anda tidak setia dengan uang atau harta yang TUHAN percayakan, jangan harap TUHAN akan percayakan yang lebih banyak lagi. Kalau Anda tidak setia dengan waktu sedikit yang TUHAN berikan, mengapa pula Anda menuntut umur panjang? Kalau Anda tidak setia dalam banyak hal-hal kecil lainnya, jangan harap TUHAN akan percayakan hal-hal yang lebih lagi bagi Anda.

(Disampaikan dalam Persekutuan karyawan Sekolah Kristen Kalam Kudus Jayapura, Rabu/17 Mei 2013)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , | Leave a comment

Yosua 19:40-20:9. Tiga Pelajaran dari Pembagian Terakhir


Nats : Yosua 19:40 – 20:9
Oleh : Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Bangsa Israel melakukan penetapan dan pengundian untuk membagi Tanah Perjanjian yang sebagian besarnya telah berhasil mereka taklukkan. Pasal 14-21 dari Kitab Yosua mencatat pembagian tersebut.

Kota-kota Perlindungan (Peta 1)

Map-Canaan-Twelve-Tribes (1)
(Peta 2)

Dalam Yosua 19:40 – 20:9, ada tiga pelajaran yang dapat kita pelajari:

1. Sikap mudah menyerah menghadapi tantangan.
Sebelum ada catatan tentang pemberian wilayah Timnat-Serah kepada Yosua, ayat 40 mencatat jatuhnya undi ketujuh untuk Suku Dan. Suku Dan mendapatkan wilayah di sebelah Timur Wilayah Benyamin (Lihat Peta 2). Jadi, bersama-sama dengan Suku Benyamin, wilayah mereka membentuk satu garis batas yang memisahkan antara Efraim dan Yehuda.

Bacalah ayat 47! Dalam Alkitab terbitan LAI, dikatakan, “Karena daerah bani Dan telah menjadi terlalu sempit untuk mereka.” Namun dalam Alkitab bahasa Inggris NIV, dikatakan, “(But the Danites had difficulty taking possession of their territory…)”atau dalam terjemahan Indonesianya, “Namun orang-orang Dan telah mengalami kesulitan untuk menguasai wilayah milik mereka.” Dalam versi yang lain bahkan dikatakan, “The Danites failed to conquer their territory” atau dalam terjemahan Indonesianya, “Orang-orang Dan gagal untuk menaklukkan wilayah mereka.”

Jadi, nampaknya, orang-orang Dan kesulitan bahkan gagal menaklukkan bagian tanah yang diundikan bagi mereka. Apabila merujuk pada Kitab Hakim-hakim 1:34, kita mendapatkan informasi mengapa Suku Dan gagal menaklukkan wilayah yang diundikan kepada mereka adalah karena, “Orang Amori mendesak ke sebelah pegunungan dan tidak membiarkan mereka turun ke lembah.” Nampaknya Suku Dan menyerah begitu saja menghadapi desakan orang-orang Amori. Ada dua bangsa di wilayah yang sama, maka tidak heran wilayah pun terasa sempit. Suku Dan pun memilih untuk menaklukkan wilayah lain di ujung paling Utara dari wilayah Israel, yaitu Kota Lesem (Lihat Peta 2), ketimbang untuk mengeksekusi berkat yang telah TUHAN sediakan bagi mereka. Janji penyertaan TUHAN tidak mereka pegang sungguh-sungguh, dan mereka memilih mengalah menghadapi tantangan keadaan. Mereka membiarkan tantangan itu yang menang!

2. Kepemimpinan yang Bertanggungjawab.
Pembagian milik pusaka dilakukan oleh bangsa Israel. Pembagian tersebut diawali dengan pemberian Hebron kepada Kaleb, dan diakhiri dengan pemberian Timnat-Serah kepada Yosua. Kalau kita ingat, kedua orang itu adalah dua mata-mata yang setia dan percaya kepada TUHAN ketika bangsa Israel diminta mengintai Tanah Perjanjian. Sementara kesepuluh pengintai lainnya akhirnya mati di padang gurun bersama-sama seluruh bangsa Israel yang seangkatan dengan mereka, hanya Yosua dan Kaleb yang TUHAN ijinkan masuk dan mendiami Tanah Perjanjian karena kesetiaan dan kepercayaan mereka kepada TUHAN.
Yosua adalah pemimpin bangsa Israel; pengganti Musa. Namun, dalam hal pembagian tanah, namanya dicatat paling terakhir. Setelah Kaleb dan suku-suku lain mendapatkan pembagian tanah, barulah milik pusaka Yosua ditentukan. Ini menunjukkan betapa Yosua bukanlah tipe pemimpin yang serakah. Ia adalah pemimpin yang bertanggungjawab untuk memastikan bahwa janji TUHAN bagi orang-orang sebangsanya tergenapi. Ia harus memastikan bahwa semua suku telah mendapatkan undian tanah pusaka, barulah setelah itu dirinya (19:49-50). Yosua adalah bagaikan seorang kapten kapal yang bertanggungjawab, yang memastikan keselamatan awak-penumpangnya lebih dahulu.

3. Mencari Perlindungan pada tempat yang tepat.
TUHAN lalu menetapkan adanya enam kota perlindungan bagi setiap orang yang tanpa sengaja telah membunuh oranglain (Lihat Peta 1). Letak enam kota perlindungan itu sangat strategis, yaitu termasuk dalam 48 kota milik orang-orang Lewi (suku yang dikhususkan untuk melayani TUHAN) yang tersebar di seluruh wilayah Israel (Yosua 21:41). Enam kota itu juga terletak, tiga di sebelah Barat Sungai Yordan, dan tiga di sebelah Timur Sungai Yordan. Masing-masing di ujung Utara, tengah, dan Selatan. Kota-kota itu adalah Kadesh di wilayah Naftali; Sikhem di wilayah Manasye; dan Hebron di wilayah Yehuda. Sedangkan di sebelah Timur ada Golan di sekitar wilayah Manasye, lalu Ramoth di sekitar wilayah Gad, dan Bezer di dekat wilayah Ruben (Lihat Peta 1 dan bandingkan dengan Peta 2).

Ketika ada orang yang terbunuh di antara bangsa Israel, penuntut darah yang adalah anggota keluarga terdekat dari korban, akan melaksanakan hukuman mati bagi si pelaku (lihat Bilangan 35). Namun ada kemungkinan, seorang penuntut darah akan membalas kematian korban tanpa memperhatikan lebih dahulu pokok persoalannya. Untuk mencegah terjadinya tindakan yang tidak adil, maka TUHAN menetapkan adanya enam kota perlindungan, sehingga setiap orang yang melakukan tindak pembunuhan secara tidak sengaja atau tanpa niatan sebelumnya, dapat melarikan diri ke salah satu dari enam kota perlindungan itu.

Ketika pelaku tiba di pintu gerbang kota, ia harus diadili di situ. Pada zaman dahulu, pintu gerbang kota adalah tempat berkumpulnya para tua-tua kota, melakukan transaksi ekonomi atau mengadakan sidang pengadilan. Dan para tua-tua di kota itu, harus mempraktekkan apa yang diajarkan dalam Bilangan 35. Si pelaku tindak pembunuhan secara tidak sengaja atau tanpa niat itu, jika memang terbukti demikian, akan dilindungi selama ada di dalam kota perlindungan, dan baru bebas kembali ke kampung halamannya, setelah ketika Imam Besar yang melayani pada zaman itu meninggal dunia (ada pemberian amnesti).

Sistem kota perlindungan ini merupakan ketetapan TUHAN untuk mengatasi kecenderungan manusia yang kerap bertindak semena-mena dan tidak adil (main hakim sendiri); menyalahgunakan hukum untuk memuaskan nafsu-dendamnya. TUHAN menetapkan adanya enam kota perlindungan, untuk memastikan orang yang belum tentu bersalah, mendapatkan peradilan yang seadil-adilnya. Tidak hanya itu, kota-kota orang Lewi dipilih, agar si pelaku yang telah diadili juga tinggal diantara para pelayan TUHAN, dan memperoleh pembinaan disana. Jadi, pelaku suatu kesalahan, akan mendapatkan pembinaan kerohanian yang baik.

Suatu kesalahan (misal: pembunuhan yang tidak disengaja) memang menghasilkan konsekuensi (yaitu, dikejar-kejar perasaan bersalah dan bahkan penuntut darah), dan menghasilkan sanksi (yaitu, menjadi ‘tahanan kota’), namun masyarakat/komunitas juga tetap memiliki tanggungjawab, yaitu membina kembali (dan tugas pembinaan ini, secara khusus dipercayakan kepada orang-orang Lewi).

Untuk memperoleh penanganan kesalahan yang terbaik sebagaimana yang TUHAN telah tetapkan, pelaku kesalahan harus mau berjalan di dalam sistem yang TUHAN telah tetapkan. Apabila mereka mau menggunakan sistem mereka sendiri dalam menyelesaikan masalah dosa mereka, ya, berkat pembinaan rohani, bahkan pemulihan, yang seharusnya mereka terima mungkin tidak akan pernah mereka dapatkan. Jadi, pelaku kesalahan haruslah mencari perlindungan pada tempat yang tempat. Jangan bersikap seperti Kain, yang dalam Kejadian 4:17 dicatat, telah berusaha mengatasi masalah dosanya (mencairkan kutukan TUHAN) dengan caranya sendiri.

Aplikasi:
Seluruh bagian ini memberikan kepada kita pelajaran. Dalam kehidupan dan pelayanan kita, kita akan menghadapi tantangan dan pencobaan, atau musuh-musuh rohani. Pertanyaan bagi kita:

1. Akankah kita mengalah kalah dalam menghadapi pencobaan, dan mengabaikan begitu saja janji-janji TUHAN kepada kita?

2. Adakah kita telah berdoa kepada TUHAN (dan melakukan tindakan-tindakan Alkitabiah yang perlu) meminta adanya kepemimpinan rohani yang bertanggungjawab untuk menuntun kita menggenapi janji-janji TUHAN atas kita, ataukah kita hanya bisanya menyalahkan saja kepemimpinan yang ada?

3. Ketika kita mengalami kegagalan/kesalahan/dosa, adakah kita berlari kepada TUHAN sebagai “kota perlindungan” kita dan meminta pembinaan rohani dari komunitas orang percaya, ataukah kita berupaya terus mengatasi masalah dosa kita dengan hikmat dan pikiran kita sendiri? Dan bagaimana pula tanggungjawab kita sebagai komunitas, untuk memberikan pembinaan rohani bagi saudara kita yang telah jatuh dalam dosa?

(Disampaikan dalam Persekutuan Doa Pagi Guru Unit SDK Kalam Kudus Jayapura, Rabu/16 Mei 2013)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Yosua 18:1-28. Menilai Situasi di dalam Kepemimpinan Ilahi


Nats: Yosua 18:1-28
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Ayat 1 mencatat, “Maka berkumpullah segenap umat Israel di Silo, lalu mereka menempatkan Kemah Pertemuan di sana, karena negeri itu telah takluk kepada mereka.” Dapatkah Saudara menunjukkan lokasi Silo di peta? (Lihat Daerah Efraim).

Map-Canaan-Twelve-Tribes (1)

Dalam ayat 1 ini disinggung tentang Kemah Pertemuan atau Tabernakel. Tabernakel bukanlah tempat dimana umat Allah berkumpul untuk beribadah bersama, melainkan tempat dimana Allah sendiri berjumpa –dengan membuat janji, dan bukan kebetulan– dengan umatNya. Di dalam Tabernakel ada Tabut Perjanjian (The Ark of Covenant). Dan Tabernakel tetap ada di Silo hingga masa Samuel (1 Samuel 4:3).

Ayat 2 mencatat, “Pada waktu itu masih tinggal tujuh suku di antara orang Israel, yang belum mendapat bagian milik pusaka.” Ketujuh suku yang dimaksud adalah Benyamin, Simeon, Zebulon, Isakhar, Asyer, Naftali, dan Dan.

Apa kata Yosua kepada mereka? Ayat 3 mencatat, “Sebab itu berkatalah Yosua kepada orang Israel: ‘Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu?’” Apa maksudnya menduduki? Penaklukkan Kanaan harus diikuti dengan pendudukkan, yang mensyaratkan adanya sebuah survei (tiga orang dari setiap suku), lalu satu pembagian yang adil, dan kemudian satu penaklukkan sepenuhnya atas tanah itu (hal ini dipraktekkan oleh umat Israel. Lihat ayat 4-5 dan 8-9). Karenanya harus dibedakan antara perang-perang nasional untuk menduduki yang dipimpin oleh Yosua, dengan perang-perang suku meski juga untuk menduduki (Hakim 1-2).

Perhatikan! Bahkan ketika para pemimpin yang saleh seperti Yosua masih hidup, bangsa Israel sudah bermalas-malasan. Tuhan sudah melimpahkan berkatNya atas bangsa Israel, mereka tinggal mengeksekusi. Tapi mereka bermalas-malasan untuk melakukannya. Mengapa? Karena sikap puas diri. Mereka berpikir bahwa prestasinya sudah cukup baik, sementara Tuhan berkata belum. Lebih dari 40 tahun sebelumnya, mereka melakukan sebaliknya, ketika Tuhan bilang jangan maju, mereka malah berinisiatif maju (lihat Bilangan 14:39-45). Bangsa Israel tidak mau menuruti pimpinan Tuhan, lebih senang melakukan apapun yang benar menurut pandangannya sendiri.

Apa yang mereka lakukan ini sudah merupakan dosa isteri Adam beribu-ribu tahun sebelumnya, sebagaimana dicatat dalam Kitab Kejadian pasal 3. Setelah ular menggodanya, apa catatan Alkitab tentang isteri Adam? “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya” (Kejadian 3:6). Steve Jeffery, Mike Ovey, dan Andrew Sach, menulis, “Pemberontakan Hawa pada dasarnya adalah tindakan menggunakan otonomi, di mana ia menempatkan imannya bukan pada apa yang telah Allah nyatakan, melainkan pada penilaiannya sendiri terhadap situasi tersebut.”

Menghadapi suatu situasi dengan menempatkan iman kita pada penilaian kita sendiri terhadap situasi tersebut, bukan berdasarkan penilaian Tuhan, itulah ancaman yang selalu mengintai kehidupan umat Tuhan di sepanjang abad dan tempat. Dalam kasus bangsa Israel di zaman Yosua, mereka melakukan semua itu, bahkan ketika masih ada pemimpin-pemimpin yang saleh. Mereka melihat situasi, dan menilainya berdasarkan penilaian sendiri, lalu memilih untuk bermalas-malasan.

Yosua memerintahkan bangsa itu untuk mengeksekusi berkat Tuhan. Dan ayat 6 pun mencatat perintah Yosua, “Kamu catat keadaan negeri itu dalam tujuh bagian dan kamu bawa ke mari kepadaku; lalu aku akan membuang undi di sini bagi kamu di hadapan TUHAN, Allah kita.” Mungkin melalui Imam Besar sebagai petugas resmi tertinggi untuk membuang undi. Kemungkinan mereka menggunakan Urim dan Tumim (Kel.28:30; 1 Samuel 2:28). Lebih lanjut pada ayat 7, Yosua menjelaskan, “Sebab orang Lewi tidak mendapat bagian di tengah-tengah kamu, karena jabatan sebagai imam TUHAN ialah milik pusaka mereka, sedang suku Gad, suku Ruben dan suku Manasye yang setengah itu telah menerima milik pusaka di sebelah timur sungai Yordan, yang diberikan kepada mereka oleh Musa, hamba TUHAN.” Warisan orang-orang Lewi adalah pelayanan keimaman (lihat Yos.13:14 dan Ulangan 18:1-8).

Membaca ayat 6 ini tidakkah kita tersadarkan, sementara suku-suku Israel bermalas-malasan, para pelayan Tuhan pun terancam telantar. Semakin lama bangsa Israel bermalas-malasan untuk menetapkan batas-batas tempat tinggalnya, semakin lama pula para pelayan Tuhan mendapatkan tempat tinggal yang pasti, mengingat mereka harus tinggal tersebar di antara semua suku. Dan kalau pekerjaan para pelayan Tuhan terhambat, maka pelayanan kepada Tuhan pun terhambat.

Pada ayat 11-28 dicatat tentang wilayah yang diperuntukkan bagi Suku Benyamin. Perhatikan bahwa daerah hasil undi yang diperuntukkan bagi Suku Benyamin dan Dan (19:40-48) merupakan sebuah zona pemisah antara Suku Yehuda dan Suku Efraim, dua suku dominan di Israel. Kedua suku itu, yaitu Benyamin dan Dan, akan memainkan satu peran yang signifikan di dalam lingkaran kisah di Kitab Hakim-hakim (bdk. Hak. 3:12-36; 13:1-16:31).

Pada Kitab Hakim-hakim ini mencatat dua epilog (Bagian akhir dari sesuatu yang dibicarakan, yaitu pasal 17-18 tentang Mikha dan berhalanya dalam pengaruhnya kepada Suku Dan, serta pasal 19-21 tentang pengalaman mengerikan seorang Lewi di wilayah Suku Benyamin). Kedua epilog ini memiliki kesamaan:

1. Melibatkan orang Lewi yang melintas diantara Betlehem (di Yehuda) dan Efraim, melewati batas Benyamin-Dan.
2. Kedua epilog mencatat adanya 600 pejuang (yaitu mereka yang memimpin Suku Dan, dan mereka yang selamat dari antara Suku Benyamin).

Kedua epilog ini dicatat untuk memberikan gambaran kemerosotan yang terjadi di zaman Hakim-hakim, karena tidak adanya raja atau pemimpin. Setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri (suatu kalimat yang dicatat berulang-ulang di sepanjang Kitab Hakim-hakim). Dan kemerosotan mereka itu sebetulnya sudah dimulai dari zaman Yosua sebagaimana dicatat dalam Yosua 18 ini. Ada pemimpin saja mereka sudah malas, apalagi kalau tidak ada kepemimpinan?!

Semua ini memberikan kepada kita beberapa pelajaran:

1. Ketika Anda melihat situasi apapun, termasuk terkait kepemimpinan di atas Anda yang ada tanpa kepemimpinan yang rohani; jangan nilai situasi dengan sudut pandang Anda sendiri, melainkan berdoa dan minta pimpinan Tuhan!

Saya sendiri masih saja melakukan kesalahan ini. Ketika dahulu pihak yayasan pendidikan yang menaungi isteri saya menempatkan isteri saya untuk mengajar di Tangerang (sementara saya di Papua), saya marah-marah melalui email kepada pihak yayasan itu. Kemudian isteri saya dipindahkan ke Papua, tapi 26 km dari tempat saya tinggal. Itu pun saya marah-marah. Baru di kemudian hari saya tahu bahwa ada rencana Tuhan yang baik. Kini saya jadi malu kalau karena peristiwa itu.

2. Ketika Anda sudah mendapatkan pimpinan Tuhan dalam menilai situasi tertentu, taati, lakukan, dan jalani. Percaya Tuhan membuat segala sesuatu di bawah kepemimpinanNya dan waktuNya, baik adanya!

(Disampaikan dalam Persekutuan Doa Pagi, Unit SDK Kalam Kudus Jayapura, Rabu/1 Mei 2013)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Yosua 15:1-19. Mengalahkan Raksasa dan Menerima Berkat Berlipat


Nats: Yosua 15:1-19
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Dalam bagian Alkitab ini, kita belajar tentang pembagian tanah kepada Suku Yehuda, dan secara khusus kepada Kaleb bin Yefune. Untuk menolong kita, mari kita melihat peta.

Map-Canaan-Twelve-Tribes

Perhatikan lokasi tanah Suku Yehuda ada!

Wilayah tempat Suku Yehuda ada ini, dahulu adalah wilayah yang dimasuki keduabelas pengintai dalam Bilangan 13. Dari kedua belas pengintai itu, hanya ada dua orang, yaitu Kaleb bin Yefune dari Suku Yehuda dan Yosua/Hosea bin Nun dari Suku Efraim, yang percaya kepada TUHAN. Sepuluh pengintai lainnya, meragukan TUHAN. Akhirnya, seluruh bangsa itu dihukum TUHAN berputar 40 tahun di padang gurun. Padahal mereka sudah sedikit lagi masuk ke Tanah Kanaan.

Di wilayah yang dimasuki keduabelas pengintai itu, terdapat raksasa-raksasa. Dan karena raksasa-raksasa inilah, mereka kemudian merasa takut. Bangsa Israel secara hiperbola sampai mengatakan bahwa tubuh mereka seperti belalang saja dibandingkan raksasa-raksasa itu. Raksasa dalam pikiran dan hati mereka, telah terlebih dahulu mengalahkan mereka. Mereka sudah kalah sebelum bertanding. TUHAN pun murka atas ketidakberimanan mereka, lalu menghukum bangsa Israel berputar 40 tahun di padang gurun.

Setelah 40 tahun, Yosua dipilih TUHAN untuk memimpin Israel menaklukkan seluruh Tanah Kanaan. Ketika tiba pembagian tanah kepada keduabelas suku, Suku Yehuda mendapatkan bagian paling Selatan dan negeri itu. Dan Yosua 15:13-14 mencatat bahwa terdapat kaum raksasa (orang-orang Enak) di sana. Kaleb yang dahulu berhasil mengalahkan raksasa-raksasa dalam pikiran dan hatinya, kini betul-betul mengalahkan raksasa yang sungguhan. Tidak tanggung-tanggung, ada tiga raksasa yang dienyahkannya, yaitu Sesai, Ahiman, dan Talmai.

Di sini kita belajar bahwa TUHAN memberikan upah kepada hamba-hambaNya yang setia. Tapi upah Kaleb tidak sampai di situ saja. Kalau kita membaca bagian-bagian Alkitab berikutnya, kita belajar bahwa TUHAN memberikan berkat dua kali lipat kepada Kaleb.

Ibu-ibu tentu pernah tahu kisah-kisah legenda atau dongeng yang menceritakan adanya sayembara demi mendapatkan seorang puteri raja. Dan biasanya, dalam cerita-cerita itu, seorang pangeran gantenglah yang mendapatkannya. Ternyata kisah semacam itu juga ada di dalam Alkitab.

Dalam Yosua 15:16, Kaleb membuat sayembara, dan menyatakan bahwa barangsiapa menggempur Debir atau Kiryat-Sefer, akan mendapatkan anak perempuan Kaleb, Akhsa. Dan ternyata, Otniel-lah yang ‘memenangkan’ sayembara itu. Dan tahukah Anda siapa Otniel?

Otniel adalah keponakan Kaleb. Jadi nampaknya pernikahan antar sepupu dimungkinkan dalam kebudayaan saat itu. Namun fakta yang lebih hebat lagi adalah Otniel ini di kemudian hari menjadi hakim pertama Israel. Kalau kita membaca Kitab Hakim-hakim 3:7-11, kita mendapati bahwa Otniel adalah hakim yang membebaskan Israel dari penindasan bangsa Aram-Mesopotamia. Dan sekali lagi, siapakah Otniel, sang pahlawan ini? Keponakannya Kaleb.

Jadi kita melihat disini, upah yang TUHAN berikan kepada Kaleb atas ketaatannya berlipat. Kaleb tidak hanya memperoleh kemenangan atas raksasa-raksasa; Kaleb tidak hanya beroleh tanah; tapi Kaleb juga beroleh menantu yang menjadi hakim pertama dan pahlawan Israel. Tapi semua diawali dengan berani mempercayakan diri kepada TUHAN, dan mengalahkan terlebih dahulu raksasa-raksasa di dalam hati dan pikiran kita. Saya tidak bisa bayangkan jika dahulu, Kaleb juga seperti kesepuluh pengintai yang murtad itu! Mungkin sekarang ini dia tidak memperoleh berkat berlipat kali ganda sebagaimana yang kini ia peroleh.

Sebagai kesaksian, ada waktu dimana saya – karena terlalu royal menolong orang – mengalami kesulitan keuangan. Di malam hari, saya mengeluh kepada TUHAN, dan bahkan isteri saya sampai menegur saya. Keesokan paginya, saya melayani di salah satu kantor guru. Pagi itu, guru-guru disitu sedang marah-marah dan menggosip karena masalah “kekurangan uang.” Saya saat itu ada di tengah-tengah mereka. Lalu salah seorang dari guru itu meminta saya mentraktir mereka minum. Tapi saya dengan lugas berkata, “Bu, uang saya di rekening BANK tinggal Rp. 50.000,-. Yang tersisa hanya uang di kantong celana saja. Dan saya harus bertahan hidup dengan uang di kantong itu. Bulan ini saya harus lebih lagi berjalan dengan iman.” Saya berharap, kata-kata saya itu dapat “menemplak” guru-guru yang semula sedang ribut tentang “kekurangan uang” itu. Saya pun tersadarkan, mungkin TUHAN sengaja mengijinkan saya ada dalam situasi kesulitan keuangan seperti itu, agar paginya saya dapat menegur oranglain yang melakukan dosa yang sama dengan saya, “mengeluh dan bersungut-sungut“. Saya pun kemudian merasa bersyukur kepada TUHAN.

Jadi kita belajar, ketika kita menghadapi tantangan, musuh pertama yang harus kita kalahkan adalah raksasa-raksasa ketakutan di dalam pikiran dan hati kita. Bagaimana kita dapat mengalahkan raksasa-raksasa yang sungguhan, jika kita sudah kalah lebih dahulu melawan raksasa-raksasa dalam pikiran dan hati kita?! Percayakanlah dirimu kepada TUHAN, kalahkan raksasa-raksasa ketakutan dan ketidakpercayaan dalam pikiran dan hatimu, karena sesungguhnya TUHAN telah menyiapkan berkat yang berlipat kali ganda sebagai upah, bagi anak-anakNya yang setia. Amin!

(Disampaikan dalam Persekutuan Doa Pagi Guru-guru Unit TKK Kristen Kalam Kudus Jayapura, Rabu/10 April 2013)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , , , | Leave a comment

Yosua 11:16-23. Facing the Giants!


Nats: Yosua 11:16-23
Oleh: NT. Prasetyo, M.Div.

Yosua dan bangsa Israel telah dipakai TUHAN untuk menghukum kejahatan bangsa Kanaan. Dan memberi diri dipakai TUHAN bukannya tanpa pengorbanan waktu. Waktu yang dibutuhkan oleh Yosua sendiri dicatat dalam ayat 18, “Lama Yosua melakukan perang melawan semua raja itu.” Butuh waktu lama, tapi Yosua tetap taat memberikan diri untuk dipakai TUHAN.

Ayat 20 pastilah menjadi bagian yang mengganjal nurani kita. Seperti biasa, jika Anda sudah mengambil posisi mencurigai TUHAN, maka seberapa pun gamblangnya penyataan Allah melalui FirmanNya, senantiasa menuntun Anda untuk mempertanyakan keputusan-keputusanNya. Dan alangkah bahayanya jika kita hanya menilai karakter TUHAN berdasarkan 1 ayat atau 1 perikop ini saja. Dikatakan di ayat 20, “Karena TUHAN yang menyebabkan hati orang-orang ini menjadi keras, sehingga mereka berperang melawan orang Israel, supaya mereka ditumpas, dan jangan dikasihani, tetapi dipunahkan, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.” Ayat ini dapat mengusik nurani kita dalam dua hal:

1. Dalam hal kekejaman terhadap Kanaan.

Namun kalau kita menyelaraskan perikop ini dengan beberapa ayat Alkitab lainnya, kita akan mulai belajar bahwa keputusan TUHAN justru seringkali menjawab perasaan keadilan kita. Beberapa ayat Alkitab lainnya yang perlu kita rujuk, misalnya Kejadian 15:13-16. Momen Yosua menaklukkan Negeri Kanaan ini adalah penggenapan dari Kejadian 15:16. Jadi pada masa Yosua memimpin penaklukkan atas Negeri Kanaan ini, kejahatan orang-orang Kanaan mencapai puncaknya. Dan salah satu bentuk kebiasaan jahat penduduk negeri itu (yang di kemudian hari diikuti oleh orang Israel) adalah mempersembahkan anak-anak untuk dibakar bagi berhala-berhala (2 Raj. 17:13-19). Jadi, Israel di zaman Yosua menjadi alat di tangan TUHAN untuk menghukum kejahatan penduduk Negeri Kanaan. Di kemudian hari, Israel sendiri pun akan dihukum oleh TUHAN karena meniru kejahatan penduduk-penduduk di sekitar mereka.

2. Pernyataan Alkitab lainnya yang cukup menggelisahkan mungkin adalah pernyataan bahwa “TUHAN yang menyebabkan hati orang-orang itu menjadi keras” (ayat 20).

Ini mengingatkan saya akan Firman TUHAN tentang Firaun yang hatinya juga dikeraskan TUHAN (Keluaran 4:21, dsb.) sehingga TUHAN pun menurunkan 10 tulah sebagai sebuah aksi tanding melawan ilah-ilah Mesir. Perang tanding antara TUHAN melawan ilah-ilah Mesir itu berlangsung dalam tiga babak (namun tidak akan saya terangkan dalam renungan kali ini).

Pernyataan “TUHAN mengeraskan hati” ini mungkin mengusik perasaan keadilan kita. Kalau ternyata TUHAN-lah yang mengeraskan hati Firaun, mengapa TUHAN masih saja menuntut pertanggungjawaban dari Firaun? Bukankah kalau “TUHAN yang mengeraskan hati Firaun“, berarti TUHAN-lah yang seharusnya bertanggungjawab atas dosa Firaun? Pertanyaan ini sebetulnya sama dengan pertanyaan, “Kalau TUHAN telah menentukan Yudas Iskariot untuk binasa, mengapakah Ia masih menuntut pertanggungjawaban kepada Yudas? Bukankah itu tidak adil?” Saya sudah pernah menjawab pertanyaan ini dalam diskusi rayon tentang Matius 26:17-25 dan hasil diskusi itu sudah saya publikasikan dalam blog saya http://ntprasetyo.wordpress.com/2013/03/18/matius-2617-25-ironi-perjalanan-iman-dan-isu-kedaulatan-allah/.

Namun untuk tulisan ini, pertanyaan gugatan di atas akan saya arahkan untuk menemukan jawabannya melalui sebuah bagian Alkitab lain, yaitu Roma pasal 9. Dalam pasal itu, pertanyaan gugatan kita di atas kembali diulangi (maksudnya terkait kasus pengerasan hati Firaun) dan jawaban atasnya telah diberikan dengan gamblang oleh Paulus.

Mengalahkan Raksasa-raksasa

Di ayat 21, Alkitab mencatat, “Pada waktu itu Yosua datang dan melenyapkan orang Enak dari pegunungan.” Yosua memimpin bangsa Israel untuk mengalahkan kaum raksasa yang sebelumnya telah menciutkan hati 10 pengintai Israel, yang menyebabkan Israel dihukum TUHAN untuk berputar di padang gurun selama 40 tahun (Bilangan 13:28). Pada peristiwa Bilangan 13 itu, hanya Yosua dan Kaleb yang beriman kepada TUHAN. Dan dalam kisah Yosua pasal 11 ini, kita melihat, Yosua yang dahulu ‘mampu’ mengalahkan raksasa di dalam pikirannya, kini ‘mampu’ mengalahkan raksasa yang sesungguhnya di dunia nyata. Jadi kemenangan Yosua atas raksasa-raksasa Kanaan, bukan dimulai dari Yosua pasal 11 ini, melainkan dimulai jauh sejak bertahun-tahun sebelumnya, yaitu dari sejak Bilangan 13; di dalam ketaatan dan kepercayaan Yosua kepada Allah.

Ayat 22 mencatat kemenangan total Yosua atas kaum raksasa Kanaan. Namun kaum raksasa itu ternyata masih tersisa, yaitu di Gaza, Gat, dan Asdod. Di kemudian hari, raksasa-raksasa terkenal dari Gat akan kembali mengancam umat Allah, dan itu dicatat dalam 1 Samuel 17:4 dan 2 Samuel 21:19. Dan seperti Yosua, TUHAN munculkan Daud dan juga Elhanan bin Yaare-Oregim, untuk mengalahkan raksasa-raksasa Gat yang sama-sama disebut sebagai Goliat itu. Sama seperti Israel yang harus mengalahkan raksasa-raksasa yang muncul lagi dan muncul lagi, demikian pula kita.

TUHAN akan mengalahkan dan menaklukkan kejahatan dan raksasa-raksasa yang menjadi musuh iman kita, namun kemenangan itu harus kita capai pertama-tama di dalam pikiran kita lebih dahulu; pikiran kita harus ditundukkan agar taat kepada Kristus dan kebenaranNya. Surat 2 Korintus 10:4-5 menyatakan kepada kita bahwa kita memiliki senjata rohani yang diperlengkapi dengan kuasa Allah untuk menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus. Roma 13:14 menyatakan bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah perlengkapan senjata terang yang harus kita kenakan. Efesus 6:13-18 mencatat perlengkapan senjata Allah yang harus dikenakan setiap anak-anak Tuhan yang pada intinya menunjuk pada Tuhan Yesus Kristus.

Jadi, Tuhan Yesus Kristus adalah senjata rohani kita, dan dengan senjata yang diperlengkapi kuasa Allah (atau Roh Kudus) ini, kita memiliki kekuatan untuk menaklukkan segala pikiran kepada Kristus, dimulai dari pikiran kita sendiri. Filipi 2:5 menyatakan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus“, dan biarlah melalui kuasa kematian Kristus yang menebus kita dan melalui kuasa kebangkitanNya yang menyelamatkan kita, kita dapat menggenapi ayat ini dalam kehidupan kita.

Bersama, melalui, oleh, dan di dalam Kristus dan kuasaNya, kita hadapi raksasa-raksasa kita (facing the giants) dan kalahkan raksasa-raksasa yang menjadi lawan iman kita, dimulai dari dalam pikiran kita. Untuk mencapai kemenangan itu memang butuh waktu, dan mungkin lama.

Yosua telah menjadi teladan Perjanjian Lama yang melalui kehidupannya kita dapat belajar. Ayat 23 kemudian mencatat, “Demikianlah Yosua merebut seluruh negeri itu sesuai dengan segala yang difirmankan TUHAN kepada Musa. Dan Yosua pun memberikan negeri itu kepada orang Israel menjadi milik pusaka mereka, menurut pembagian suku mereka. Lalu amanlah negeri itu, berhenti dari berperang.” Biarlah kemenangan pun kita peroleh dengan gilang-gemilang sebagaimana yang Yosua alami, dan kita pun tiba di negeri kekal warisan kita, yang aman dan tanpa ada peperangan.

(Disampaikan dalam persekutuan guru-guru SMA Kristen Kalam Kudus Jayapura dan persekutuan karyawan SKKK Jayapura, Rabu/20 Maret 2013).

Categories: Tulisan | Tags: , , , , | Leave a comment

Yosua 11:1-15. Menang dengan Menghargai Tradisi Sekaligus Mengembangkan Relasi Pribadi dengan Tuhan


Nats: Yosua 11:1-15
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Fokus perenungan kita pada hari ini adalah pada ayat 15, “Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, hamba-Nya itu, demikianlah diperintahkan Musa kepada Yosua dan seperti itulah dilakukan Yosua: tidak ada sesuatu yang diabaikannya dari segala yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.” Perintah Tuhan yang Yosua laksanakan adalah warisan Musa kepada dia.

Kita belajar disini penghargaan Yosua kepada warisan pendahulunya! Ketika pendahulunya, dalam hal ini, Musa, mewariskan perintah Tuhan untuk ia laksanakan, Yosua menghormatinya dan taat melakukannya. Yosua menjadi seorang pewaris yang setia. Meskipun dia hanya orang kedua yang menerima perintah Tuhan untuk menaklukkan Tanah Kanaan, namun ia tetap menghargai warisan iman pendahulunya.

Sikap Yosua ini dapat kita kontraskan dengan sikap isteri Adam (yang setelah kejatuhan barulah disebut “Hawa”). Adam adalah orang pertama yang mendengar mandat Tuhan, dan Hawa hanyalah orang kedua (dalam artian ia menerima mandat Tuhan dari mulut Adam, suaminya), dan bukan langsung dari mulut Tuhan. Namun berbeda dengan sikap Yosua, Hawa tidak menghormati Firman Tuhan yang terucap dari mulut “orang pertama”. Sikap yang berbeda ditunjukkan oleh Yosua. Meskipun Musalah yang menerima Firman Tuhan, tapi ketika Musa mewariskan perintah Tuhan itu kepada Yosua, Yosua menghormati dan menaatinya.

Pada zaman ini, ada orang-orang Kristen yang cenderung meremehkan tradisi. Tradisi disini saya mengerti sebagai warisan iman buah pergumulan berabad-abad dari Gereja Tuhan. Tapi ada orang-orang yang menganggap tradisi hanya sebagai hasil pemikiran otak manusia belaka. Orang-orang ini harus mendengar raja pengkotbah Calvinis dari Inggris bernama Charles Haddon Spurgeon yang pernah berkata, “Orang yang tidak mau memperhatikan pikiran dari otak orang lain menandakan bahwa ia sendiri tidak mempunyai otak.” Sebagaimana adanya kita saat ini, tidak dapat lepas dari perkembangan sejarah dan kebudayaan, termasuk juga dalam bidang teologia. Namun sayangnya, banyak orang Kristen, lebih tertarik untuk mendengar langsung “Suara Tuhan”, namun abai mendengarkan suara Tuhan melalui para pendahulu kita; melalui warisan iman yang nyata melalui tradisi gereja. Sikap seperti ini, tidak seperti sikap Yosua.

Seorang pendeta Karismatik pernah mengatakan dalam salah satu kotbahnya, “Apapun yang tidak kita hormati, tidak akan menolong kita, pada saat kita membutuhkannya.” Kalimat ini saya kutip disini, tapi dengan penekanan berbeda sebagaimana yang ia lakukan. Banyak kali, hidup kita terjebak untuk melakukan kebodohan-kebodohan atau bahkan kesesatan-kesesatan yang sebetulnya pernah dialami oleh para pendahulu-pendahulu kita. Manusia modern sering jatuh ke dalam lobang yang sama sebagaimana yang pernah dialami manusia-manusia di abad-abad sebelumnya. Padahal yang perlu kita lakukan hanyalah menghargai sejarah; menghargai tradisi; menghormati warisan iman dari para pendahulu kita; sarana yang melaluinya Tuhan juga berbicara! Namun kita tidak mau belajar seperti Yosua. Akibatnya, sebagaimana yang dikatakan oleh pendeta Karismatik tadi, apapun yang tidak kita hormati (termasuk di dalamnya tradisi; warisan iman para pendahulu kita), tidak dapat menolong kita, pada saat kita sebetulnya membutuhkannya untuk mengatasi tantangan-tantangan yang mirip di masa kita.

Memang ada pula tradisi yang salah dan sama sekali tidak patut kita perhatikan. Lalu bagaimana kita tahu bahwa suatu tradisi baik untuk kita hormati, taati, bahkan harus kita kejar?! “Peneguhan Tuhan” atas warisan iman yang Yosua telah terima dari Musa, itulah jawabannya! Ayat 1-5 menunjukkan betapa banyak musuh Yosua. Tetapi Tuhan meneguhkan Yosua untuk tetap berpegang pada misi Allah yang pernah Allah titipkan melalui Musa (ayat 6). Jadi, tradisi dan relasi kita pribadi dengan Tuhan harus berjalan bersama-sama.

Ironisnya, banyak orang Kristen di masa kini, cenderung hanya menekankan salah satu ekstrim saja. Ada yang terlalu menekankan tradisi dan mengabaikan relasi pribadi dengan Tuhan. Sebaliknya, ada orang-orang yang mengembangkan relasi pribadi dengan Tuhan, tapi sangat menganggap remeh tradisi. Sikap “either/or” seperti ini harus kita jauhkan. Kita harus belajar mengambil sikap “both/and”, baik kepada tradisi sekaligus juga relasi pribadi dengan Tuhan. Yosua mengembangkan keduanya. Ia menghargai warisan iman Musa, tapi juga mengembangkan relasi pribadi dengan Tuhan.

Dalam konteks kita, peneguhan itu dikerjakan Roh Kudus di dalam batin kita. Roh Kudus mengingatkan kita akan Firman yang Yesus ucapkan (Yohanes 14:26). Disitu Yesus mengatakan, “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Mungkin kebanyakan kekristenan yang kita pelajari, kita pelajari dari orang kedua, misalnya dari orangtua; guru sekolah minggu; guru; pendeta, tetapi kita harus tetap mengembangkan relasi pribadi dengan Tuhan, dan membiarkan Roh Kudus bekerja di hati kita untuk meneguhkan tradisi-tradisi inti (utama) Kristen yang di dalamnya kita harus bertumbuh, misalnya tentang Doktrin Penebusan Kristus.

Memang perbedaan latarbelakang budaya; karakter; konteks lingkungan, tetap dapat mempengaruhi penerimaan orang-orang terhadap kebenaran-kebenaran tertentu, sehingga ujung-ujungnya, diantara orang-orang yang sama-sama mengaku memiliki Roh Kudus, pada akhirnya memiliki tradisi teologia yang berbeda-beda. Namun saya percaya, dalam perbedaan dan keberagaman tradisi teologia yang diterima itu, Roh Kudus menolong setiap orang Kristen dari berbagai tradisi teologia itu untuk menerima tradisi-tradisi inti (utama) Kristen, sekali lagi, misalnya tentang Doktrin Penebusan Kristus.

Jadi, menghormati tradisi harus diiringi dengan relasi pribadi dengan Tuhan (dalam konteks kita, melalui Roh Kudus). Yosua menghormati kedua hal itu. Dan respon Yosua di ayat 7 terhadap peneguhan yang Tuhan telah berikan, sungguh membuat kita kagum. Setelah ia menerima peneguhan Tuhan, Yosua tidak menanti; tidak menunggu; sebaliknya ia “mendatangi” musuh-musuhnya. Ia berinisiatif mentaati Firman Tuhan yang ia warisi dari Musa dan yang Tuhan telah teguhkan. Ia berinisiatif-aktif! Luarbiasa!

Ayat 8 menunjukkan berkat Tuhan atas ketaatan Yosua. Bahkan di ayat 10 dicatat, musuh umat yang paling utama pun berhasil dibinasakan. Demikian kita membaca kemenangan Yosua atas musuh-musuh yang memiliki dua keunggulan: (1) yang jumlahnya begitu banyak “seperti pasir di tepi laut banyaknya”, dan (2) yang sangat kuat karena memiliki “sangat banyak kuda dan kereta” (ayat 4). Namun oleh berkat Tuhan, Yosua menang melalui penghargaannya atas dua hal: (1) Menghormati warisan iman pendahulunya; dan (2) Mengembangkan relasi pribadi dengan Tuhan. Dua hal penting yang orang-orang Kristen pada generasi ini harus setia lakukan!

(Disampaikan dalam Ibadah Doa Pagi, Guru SMA Kristen Kalam Kudus Jayapura, Rabu/13 Maret 2013).

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , | Leave a comment

Yosua 10. Karakter Allah yang Menuntut Respon Kita


Nats: Yosua 10
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Sebelum saya membahas nats ini saya akan membacakan bagi Bapak/Ibu sekalian, artikel yang saya peroleh dari internet berikut ini:

Bapak Harold Hill adalah presiden direktur dari perusahaan Curtis Engine, di Baltimore Maryland. Perusahaan beliau adalah bergerak di bidang pendidikan ke-antariksaan dan percobaan-percobaan yang berhubungan dengan semua masalah tata surya dan alam semesta.

Salah satu penemuan mereka yang dapat saya katakan menakjubkan adalah ketika mereka melakukan percobaan di Green Belt, Maryland. Percobaan mereka adalah men-cek kebenaran perhitungan manusia dalam sistem penanggalan yang dipakai sekarang ini, men-cek keabsahan dari posisi matahari, bulan, dan planet-planet di tata surya untuk jangka waktu 100 dan 1000 tahun ke belakang dari sekarang.

Sebenarnya inti utama dari percobaan mereka adalah agar mengetahui semua pergerakan alam semesta untuk masa yang akan datang, sehingga jika mereka akan mengorbitkan satelit, maka satelit tersebut akan diletakkan/di orbitkan pada posisi yang hampir tidak mungkin bertabrakkan dengan benda asing di alam semesta. Karena mereka berpikir bahwa sebuah satelit yang memakan biaya jutaan dollar Amerika, alangkah sayangnya jika sewaktu-waktu ditabrak misalnya oleh meteor atau komet.

Mereka menjalankan komputer untuk menghitung mundur untuk beberapa abad, tetapi hasil yang didapat adalah komputer selalu berhenti adalah sama, komputer mereka mengalami masalah penghitungan. Perlu anda ketahui, jika komputer tidak dapat melakukan suatu perhitungan, maka hasil yang didapat adalah aksi diamnya komputer, seperti tidak melakukan apa-apa. Mereka lalu memanggil ahli mekanik komputer, karena para ahli ini berpikir bahwa ini adalah kesalahan yang dibuat oleh komputer mereka.

Ketika para teknisi komputer memeriksa mesin komputer tersebut mereka tidak menemukan sedikit kesalahan pun pada mesin tersebut. Tetapi ketika para ilmuwan itu menunjukkan kesalahan yang dibuat oleh komputer,teknisi komputer juga bingung, “Apa masalahnya ya…”. Mereka terus mencari kesalahan yang dibuat oleh komputer mereka,akhirnya mereka menemukan sesuatu yang membuat komputer itu tidak bekerja. Mereka menemukan adanya HARI YANG HILANG dalam jangka waktu tertentu. Mengapa bisa demikian? Mereka tidak dapat menemukan jawabannya.

Akhirnya, salah seorang pekerja di perusahaan itu tetapi dari divisi yang berbeda dan seorang Kristen berkata kepada mereka, “Saya ingat ketika saya dulu sekolah minggu, guru sekolah minggu bercerita tentang matahari yang diam tidak bergerak satu hari penuh.” Orang-orang di sekitarnya tidak percaya apa yang dikatakan oleh orang Kristen tadi, kata mereka, “tolong buktikan dan tunjukkan kepada kami.”. Lalu orang tersebut membuka Alkitab dan menunjukkan pada mereka kitab Yosua 10:12-14, “Lalu Yosua berbicara kepada TUHAN pada hari TUHAN menyerahkan orang Amori itu kepada orang Israel; ia berkata di hadapan orang Israel: “Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, bulan, di atas lembah Ayalon!” Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh. Belum pernah ada hari seperti itu, baik dahulu maupun kemudian, bahwa TUHAN mendengarkan permohonan seorang manusia secara demikian, sebab yang berperang untuk orang Israel ialah TUHAN.

Alkitab menceritakan ketika pasukan Yosua dikelilingi oleh musuh-musuhnya, ia meminta kepada Tuhan agar tidak terjadi malam. Dan Alkitab mengatakan bahwa matahari, bulan, bintang dan semua tata surya diam tidak bergerak selama satu hari penuh. Setelah pembuktian tersebut, para ilmuwan berkata, “Inilah hari yang hilang itu!” Mereka kemudian melanjutkan penghitungan hari yang hilang itu agar komputer tidak lagi berhenti berproses.

Tetapi setelah program selesai diperbaiki, komputer tersebut tetap mengalami masalah, dan mereka menemukan kembali perhitungan yang baru bahwa hari yang hilang itu adalah 23 jam lebih 20 menit! Tidak 24 Jam atau satu hari penuh seperti yang dikatakan dalam Alkitab.

Berselang beberapa jam, pegawai Kristen tadi berkata kembali,”Saya ingat kejadian yang lain dalam Alkitab dimana matahari BERGERAK MUNDUR.” Ia membuka kitab II Raja-raja dimana Yesaya meminta kepada Tuhan agar matahari bergerak mundur sebanyak 10 derajat! Kitab 2 Raja-Raja 20:8-11, “Dan Hizkia bertanya kepada Yesaya, “Apakah yang akan menjadi tanda bahwa YAHWEH akan menyembuhkan aku dan aku akan pergi ke bait Allah pada hari yang ketiga?” Lalu Yesaya menjawab, “Ini akan menjadi tanda bagimu dari Tuhan, bahwa Tuhan akan melakukan suatu yang telah Dia katakan: Apakah bayang-bayang itu akan maju sepuluh tapak atau mundur sepuluh tapak?” Hizkia berkata, “Itu perkara mudah bagi bayang-bayang itu untuk memanjang sepuluh tapak. Sebaliknya, biarlah bayang-bayang itu mundur ke belakang sepuluh tapak.” Dan Nabi Yesaya berseru kepada Tuhan. Maka Dia membuat bayang-bayang itu mundur sepuluh tapak ke belakang melalui tapak bayang-bayang yang turun pada penunjuk matahari buatan Ahas.

Mereka terperanjat kaget, karena para ilmuwan tersebut tahu persis bahwa 10 derajat dari pergerakan matahari adalah tepat 40 menit! 24 jam permintaan Yosua kepada Tuhan dan 40 menit permintaan Yesaya kepada Tuhan adalah 24 jam dikurangi 40 menit = 23 jam lebih 20 menit. Hampir satu hari penuh alam semesta kehilangan harinya. Tepat seperti apa yang para ilmuwan hitung dengan komputernya. Artikel lain mengatakan bahwa NASA (Badan Antariksa Amerika Serikat) juga telah melakukan perhitungan serupa, dan membuktikan pandangan serupa.

Entah apakah cerita ini benar atau tidak, namun yang pasti setiap orang memiliki presuposisi, yaitu ide-ide tentang apa yang kita anggap benar. Bagi orang-orang Atheis, kisah dalam Yosua 10 dan banyak cerita spektakuler dalam Alkitab tidak mungkin terjadi. Mereka memiliki prepusosisi bahwa Alkitab tidak dapat dipercaya; mereka tidak mempercayai keberadaan Allah sebagaimana kita percaya. Sebaliknya, kita pun memiliki presuposisi bahwa Alkitab adalah Firman Allah, dan hanya cukup membaca Yosua 10 saja -tanpa harus ada bukti ilmiah- kita dapat percaya dengan apa yang Alkitab beritakan.

Apa yang dapat kita pelajari dari Yosua 10 ini? Yosua 10 diawali dengan kisah tentang Adoni-Zedek, raja Yerusalem yang memprakarsai suatu aksi militer terhadap Gibeon yang telah mengkhianati mereka. Nama Adoni-Zedek ini berarti “Tuhan adalah kebenaranku” mirip dengan nama Melkisedek yang berarti “Raja kebenaran”, seorang tokoh di zaman Abraham. Melkisedek adalah raja Salem, sementara Adoni-Zedek adalah penguasa di Yerusalem pada zaman Yosua.

Menghadapi tekanan dari lima kerajaan, bangsa Gibeon yang memiliki pahlawan-pahlawan itu meminta bantuan kepada bangsa penakluk mereka, Israel. Sudah menjadi hal yang lumrah di zaman itu, apabila satu bangsa membuat sebuah kovenan dengan bangsa taklukkan mereka, maka salah satu kewajiban bangsa penakluk adalah membantu bangsa yang ditaklukkan. Dan kovenan yang berkembang di zaman itu pulalah yang digunakan Allah untuk menjalin relasi dengan umatNya, sehingga kita mengetahui adanya kovenan antara Tuhan dan umatNya. Yosua pun datang berbondong-bondong dengan pasukanNya untuk membantu Gibeon.

Di dalam kisah ini, kita dapat membaca tindakan-tindakan yang menurut ukuran orang modern di zaman ini, nampak sebagai sebuah tindakan yang kejam. Misalnya dalam Yosua 10:24-26, “Setelah raja-raja itu dikeluarkan dan dibawa kepada Yosua, maka Yosuapun memanggil semua orang Israel berkumpul dan berkata kepada para panglima tentara, yang ikut berperang bersama-sama dengan dia: “Marilah dekat, taruhlah kakimu ke atas tengkuk raja-raja ini.” Maka datanglah mereka dekat dan menaruh kakinya ke atas tengkuk raja-raja itu. Lalu berkatalah Yosua kepada mereka: “Janganlah takut dan janganlah tawar hati, kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab secara itulah akan dilakukan TUHAN kepada semua musuhmu, yang kamu perangi.” Sesudah itu Yosua membunuh raja-raja itu, dan menggantung mereka pada lima tiang, dan mereka tinggal tergantung pada tiang-tiang itu sampai matahari terbenam.” Tidak ada orang modern yang mungkin mau melakukan tindakan sekejam ini, kecuali orang-orang garis keras.

Meski demikian, Tuhan ternyata mendukung pemusnahan yang Israel lakukan terhadap bangsa Amori (Kanaan) itu. Kalau kita membacanya hanya sudut pandang Kitab Yosua ini saja, maka akan jelas nampak bahwa Tuhan adalah Allah yang kejam. Namun kalau kita melihatnya dari perspektif keseluruhan Alkitab, maka kita akan menemukan bahwa seringkali itu menjawab “sense of justice” (perasaan keadilan) di dalam batin manusia.

Tuhan pernah berfirman kepada bangsa Israel dalam Kejadian 15:13-16, “Firman TUHAN kepada Abram: ‘Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya. Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak. Tetapi engkau akan pergi kepada nenek moyangmu dengan sejahtera; engkau akan dikuburkan pada waktu telah putih rambutmu. Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini, sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap’.” Jadi, setelah 400 tahun, keturunan Abram, yaitu Israel akan kembali ke negeri Kanaan, dan pada waktu itu, kedurjanaan atau kejahatan orang Amori menjadi genap atau mencapai puncaknya.

Pagi tadi pukul 04.30 WIT, sementara saya tidur-tidur ayam, tiba-tiba tetangga berteriak, “Tolong, tolong!” Saya mengira ada pertengkaran, karena lingkungan tempat saya tinggal sudah biasa melihat adanya pertengkaran. Namun kali ini, ternyata tetangga saya itu berteriak-teriak karena kemalingan. Maling itu memakai penutup wajah dan dengan pisau terhunus bersiap menusuk yang empunya rumah. Untunglah dia mengurungkan niatnya dan lari ke luar. Menghadapi kejahatan macam itu saja, kami tetangga-tetangga terpancing untuk memukuli maling itu seandainya tertangkap. Perasaan keadilan kita mendorong kita untuk membalas atau menghukum perbuatan jahat oranglain. Demikian, tindakan Allah untuk menghukum bangsa Kanaan akibat kejahatan mereka yang sudah mencapai puncaknya itu, justru menjawab perasaan keadilan kita [minimal perasaan keadilan dari korban-korban tindak kejahatan bangsa Kanaan].

Dukungan Allah untuk Israel menjadi alatNya menghukum kejahatan bangsa Kanaan, menjadi jelas dari dua bagian ayat-ayat berikut ini:

1. Ayat 11, “Sedang mereka melarikan diri di depan orang Israel dan baru di lereng Bet-Horon, maka TUHAN melempari mereka dengan batu-batu besar dari langit, sampai ke Azeka, sehingga mereka mati. Yang mati kena hujan batu itu ada lebih banyak dari yang dibunuh oleh orang Israel dengan pedang.” Disini dikisahkan bahwa yang mati akibat bebatuan lebih besar jumlahnya daripada yang dibunuh orang Israel. Jadi sebetulnya Tuhan dapat saja menghukum orang-orang Kanaan, cukup dengan melempari mereka bebatuan besar dari langit. Tapi tidak demikian adanya! Tuhan berkenan memakai umatNya untuk menjadi alat pekerjaanNya. Apabila murid-murid kita di sekolah bersikap bebal, Tuhan bisa saja turunkan batu dari langit untuk “menjitak” kepala mereka. Saat isteri yang kecil, kepalanya pernah terbentur, dan menurutnya ini bisa berakibat dua, yaitu bertambah pintar atau sebaliknya mengalami keterbelakangan mental. Puji Tuhan, isteri saya bertambah pintar. Demikian bisa juga Tuhan lakukan kepada murid-murid kita di sekolah. Namun tidak! Tuhan memakai cara lain. Ia berkenan memakai kita untuk menjadi alat kemuliaanNya, mendidik anak-anak itu!

2. Ayat 12-14, “Lalu Yosua berbicara kepada TUHAN pada hari TUHAN menyerahkan orang Amori itu kepada orang Israel; ia berkata di hadapan orang Israel: “Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, bulan, di atas lembah Ayalon!” Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh. Belum pernah ada hari seperti itu, baik dahulu maupun kemudian, bahwa TUHAN mendengarkan permohonan seorang manusia secara demikian, sebab yang berperang untuk orang Israel ialah TUHAN.” Disini dikisahkan bagaimana Tuhan mengijinkan Yosus melakukan “mujizat” terbesar di dunia, melebihi mujizat yang dilakukan Musa dengan membelah laut Merah. Meskipun bagi Israel, mujizat Musa tetaplah yang terpenting karena itu memiliki signifikansi langsung dengan Paskah atau penebusan.

Disini kita bisa belajar dua hal:

1. Tuhan sangat membenci kejahatan, dan Ia mau memakai kita menghambat pembusukkan dunia.
Cara Tuhan pada zaman Yosua untuk menghukum kejahatan adalah menggunakan bangsa lain. Tentu cara yang demikian tidak lagi berlaku pada zaman ini, dimana kini semangat dari hukum itulah yang lebih ditekankan. Bagi kita sebagai orang Kristen, Tuhan Yesus mengajarkan untuk menjadi “garam dan terang”. Menjadi terang artinya menjadi teladan, sedangkan menjadi garam, salah satu artinya adalah menjadi orang-orang yang Tuhan pakai untuk mencegah pembusukkan. Mungkin kita tidak mencegah pembusukan tidak lewat dunia militer, melainkan melalui dunia pendidikan. Disini kita harus belajar bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan masih berkenan memakai kita.

2. Tuhan sangat menepati janjiNya, dan Ia mau anak-anakNya juga setia pada janji mereka.
Pada Yosua 9, kita membaca bagaimana Yosua membuat perjanjian dengan bangsa Gibeon. Dan ketika di kemudian hari, Saul melanggar perjanjian itu, maka Tuhan pun murka dan menimpakan bencana kelaparan selama tiga hari kepada Israel. [Sampai kemudian Daud melakukan tindakan penebusan. Sebuah konsep yang mengingatkan kita bahwa atas kejahatan kita pun, kita memerlukan seorang Penebus untuk menyelamatkan kita, dan itu digenapi melalui peristiwa penyaliban Yesus].

[Melalui poin ini kita belajar bahwa sebagai pendidik, ketika kita memasuki institusi pendidikan tertentu, kita telah dengan tanpa paksaan mengikatkan diri pada komitmen atau perjanjian tertentu. Disinilah kita belajar untuk hidup konsekuen dengan komitmen yang telah kita buat. Demikian kita belajar dua karakter Allah, yaitu kemurahan hati dan kesetiaan Allah yang perlu kita teladani].

(Disampaikan pada Persekutuan Pagi Guru-guru SMA Kristen Kalam Kudus Jayapura).

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Refleksi tentang Kitab Yosua dan Hakim-hakim


Dari pelajaran tentang Kitab Yosua, saya diingatkan bahwa kitab sejarah ini bukan berfokus pada pribadi Yosua ataupun penaklukkan militer yang telah mereka lakukan. Sebaliknya, kitab sejarah ini memfokuskan perhatian kita kepada Yahweh yang berketetapan hati dan mampu untuk mewujudkan janji tanah yang dahulu dan turuntemurun Ia janjikan kepada Israel. Jadi, saya diingatkan untuk membaca Kitab Yosua dengan cara pandang yang lebih tepat, yaitu melihat apa yang Tuhan kerjakan, dan bukan fokus pada manusianya!

Dalam kitab sejarah ini saya melihat anugerah Allah kepada satu bangsa yang tegar tengkuk dan berkali-kali menyakiti hatiNya. Sebagai bangsa yang berulangkali Allah latih dan uji melalui berbagai tantangan namun berkali-kali pula gagal, bangsa Israel tetap mengalami anugerah Allah. Anugerah itu Allah tunjukkan dengan berkenan menepati janjiNya meski bangsa itu sudah berkali-kali tidak setia. Allah mendahului bangsa Israel sehingga membuat bangsa-bangsa di Kanaan menjadi takut. Allah sendirilah yang akan menghantar bangsa Israel menuju Tanah Kanaan. Semua instruksi berasal dari Tuhan. Saya melihat anugerah Allah dinyatakan sampai pada hal-hal yang sifatnya praktikal.

Bangsa Israel pun dapat berhasil memasuki Tanah Kanaan dengan pertolongan Tuhan yang berkuasa atas alam natural, dan mereka pun mendapatkan anugerah dimana Allah sendiri yang memberikan kepada mereka strategi tempur yang harus digunakan. Bahkan meskipun strategi itu nampak konyol, namun bangsa Israel justru mendapatkan kemenangan besar. Sebaliknya, ketika bangsa Israel tidak mengikuti strategi tempur yang Allah berikan, mereka mendapatkan kekalahan. Jadi, strategi Tuhan membawa kemenangan, sedangkan ketidaktaatan membawa kekalahan. Ini betul-betul menunjukkan anugerah Allah. Umat hanya diminta untuk percaya dan taat.

Allah juga memberi kemenangan demi kemenangan kepada Israel Melalui kampanye ke Selatan dan ke Utara, Tuhan menggenapkan janjiNya kepada Israel. Bahkan Tuhan mengatur agar Israel tidak sampai kalah jumlahnya dari binatang buas di hutan. Karena itu kemenangan demi kemenangan Israel, diberikan Allah tepat pada waktunya.

Ketika bangsa itu sudah mulai menduduki Tanah Kanaan, mereka ternyata tidak memusnahkan sepenuhnya, bangsa-bangsa yang tentangnya, Tuhan memerintahkan agar dimusnahkan. Jadi Israel tidak taat sepenuhnya, dan kelak ini akan menjadi jerat bagi Israel sendiri. Namun anugerah Allah tetap nyata karena meskipun Israel sudah tidak taat sepenuh hati, namun mereka tetap diijinkan Tuhan menduduki tanah itu. Jadi Allah tetap berkemurahan menggenapkan janjiNya kepada Israel, bahkan meskipun mereka terus berlaku tidak setia.

Dari keseluruhan kitab sejarah ini, saya memuji Tuhan karena kesetiaanNya dan perbuatanNya yang ajaib, dan karena Ia terus menuntun langkah dan perjalanan umatNya. Allah telah menunjukkan diriNya sebagai pahlawan yang diabaikan dan seringkali justru dikhianati oleh Israel melalui ketidaktaatan mereka. Namun herannya, Allah tidak pernah berhenti untuk menjadi pahlawan bagi mereka. Terpujilah Tuhan!

(Ditulis untuk memenuhi tugas matakuliah Grace in The Old Testament diajar oleh David L. Talley, Ph.D.)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , , | 1 Comment

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

%d bloggers like this: