Posts Tagged With: Kitab Keluaran

Keluaran 1:22-2:10. Ironi Firaun


Nats: Keluaran 1:22–2:10. Ironi Firaun.
Oleh: Sdr. NT. Prasetyo, S.Sos.

Dari mulai matinya Yusuf hingga bangkitnya seorang raja baru, ada rentang waktu ± 200 tahun. Raja baru yang bangkit kemungkinan bernama Ahmose, pendiri dari Dinasti ke-18, yang berhasil mengenyahkan penguasa-penguasa asing di Mesir, yang berkuasa sebelumnya, yaitu orang-orang Semit yang disebut Hyksos. Raja ini bergelar Firaun, yang artinya: Rumah Besar.

Di bawah pemerintahan Firaun baru ini, bangsa Ibrani – yang juga tergolong orang Semit – ditindas dan dipaksa untuk mendirikan kota-kota penyimpanan bahan pangan, salah satunya Kota Rameses. Kota Rameses terletak di dekat pemukiman orang Ibrani. Bangsa Ibrani ditindas dengan kerja paksa yang berat, termasuk diantaranya memompa air Sungai Nil ke ladang-ladang untuk mengairi ladang-ladang.

Karena strateginya tidak berhasil mengurangi populasi bangsa Ibrani, Firaun lalu memerintahkan bidan-bidan – diantaranya bernama Sifrah dan Pua – untuk mengamat-amati (ketika mereka menolong persalinan di atas dua batu persalinan) apakah yang lahir dari seorang ibu Ibrani itu bayi laki-laki ataukah perempuan. Jika laki-laki, mereka harus membunuhnya. Dan Sifrah dan Pua tidak melakukan perintah Firaun, sehingga Allah pun memberkati rumahtangga mereka. Nama Sifrah dan Pua sendiri adalah nama Semitis, bukan nama Mesir.

Ironi:

1. Firaun memanfaatkan sungai Nil untuk membinasakan Bangsa Ibrani; namun justru melalui sungai Nil pulalah “juruselamat” bangsa Ibrani diselamatkan.

Firaun memerintahkan semua rakyatnya agar setiap anak laki-laki yang lahir, dibuang ke Sungai Nil (1:22). Sungai Nil menjadi sebuah sarana/alat untuk membinasakan semua bayi laki-laki Ibrani. Namun kita mengetahui kisah tentang pasangan Ibrani yang berasal dari Suku Lewi, menyelamatkan anaknya yang sudah disembunyikan selama tiga bulan ini, juga dengan menggunakan sarana/alat: Sungai Nil. Pasangan Lewi ini membuat “peti kecil” (bahasa Ibrani yang digunakan sama dengan yang digunakan untuk kata “bahtera” Nuh). Jadi bayi Musa yang berumur tiga bulan ini, diselamatkan dengan “bahtera mini”. Firaun memanfaatkan Sungai Nil untuk membinasakan Bangsa Ibrani; namun justru melalui Sungai Nil pulalah “juruselamat” bangsa Ibrani diselamatkan.

2. Firaun hendak membinasakan Bangsa Ibrani; namun justru menjadi orangtua dari “juruselamat” bangsa Ibrani.

Ketika “bahtera mini” itu hanyut, puteri Mesir menemukannya. Kemungkinan puteri yang dimaksud disini adalah puteri terkenal dari Dinasti ke-18, yang dikemudian hari dikenal sebagai Ratu Hatshepsut. Dengan cerdik Maryam, kakak perempuan Musa, yang berusia sekitar 11 tahun lebih tua dari Musa, menawarkan diri untuk mencarikan inang penyusu. Puteri Firaun setuju, lalu Yokhebed (ibu Musa sendiri) dipanggil untuk menjadi penyusu Musa, bahkan diberi upah untuk melakukan tugas itu.

Jadi Musa dari sejak lahir, tetap diasuh oleh keluarganya sendiri di dalam iman Ibrani mereka, bahkan mendapatkan biaya hidup dari Puteri Mesir. Setelah bayi Musa beranjak dewasa, ia dibawa ke Istana Firaun. Lalu puteri Firaun menamainya, “Musa”, dan mendidik Musa kecil ini di dalam seluruh hikmat orang Mesir, juga membesarkan Musa dalam seluruh kemewahan Mesir. Firaun yang tadinya hendak membinasakan Bangsa Ibrani; kini justru menjadi orangtua dari “juruselamat” bangsa Ibrani.

3. Firaun membinasakan semua anak laki-laki Ibrani, dan mempertahankan anak perempuan saja; namun justru melalui figur-figur perempuanlah, ia dikalahkan.

Figur-figur perempuan itu diantaranya:
1. Bidan-bidang (1:17)
2. Para Ibu Ibrani (1:19)
3. Ibu dan kakak perempuan Musa (2:3–4, 7–9).
4. Puteri Firaun (2:5).
Firaun membinasakan semua anak laki-laki Ibrani dan mempertahankan anak perempuan saja; namun justru melalui figur-figur perempuanlah, ia dikalahkan.

Pelajaran buat kita: Roma 8:28, “Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu, untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi Dia; bagi setiap orang yang terpilih seturut rencanaNya.” Dan unik, karena TUHAN menyingkapkan kebenaran ini melalui ironi dalam kehidupan Firaun.

(Disampaikan dalam Persekutuan Rayon II GK Kalam Kudus Jayapura, Jumat/23 Mei 2008).

Categories: Tulisan | Tags: , , , | Leave a comment

Keluaran 3-4. Yang Lebih Membuat Musa Takut


Nats: Keluaran 3-4. Yang Lebih Membuat Musa Takut
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, S.Sos.

Menarik karena ketika di Midian, Tuhan mengutus Musa, lima kali Musa menjawab Tuhan dengan nada enggan dan mengekspresikan ketidakpercayaan dirinya. Dan menariknya lagi, dari lima kali ekspresi keengganan itu, empat yang terakhir menyiratkan ketidakpercayaan diri Musa untuk menghadapi bangsanya sendiri. Kalau kubaca Ibrani 11, jelas bahwa Musa tidak takut kepada Firaun. Namun ternyata yang paling ia takuti adalah bangsanya sendiri.

Musa sudah mengalami trauma, dimana dahulu pada 40 tahun awal kehidupannya, ia – di dalam segala background pendidikan, pelatihan, status sosial, kompetensi yang cemerlang di mata dunia – telah mengalami penolakan dari bangsanya sendiri, ketika ia bermaksud membela saudara sebangsanya sendiri dari orang Mesir yang menindas mereka.

Kisah Para Rasul 7 menjelaskan bagaimana Musa mengira bahwa saudara-saudara sebangsanya akan mengerti bahwa dirinyalah yang telah ditetapkan Allah untuk membebaskan mereka. Tetapi ternyata Musa mengalami penolakan, sehingga ketika Tuhan mengutus ia kembali, yang paling membuatnya enggan, bukanlah tugas itu sendiri; bukan Firaun maupun orang Mesir; melainkan bangsanya sendiri!

(Disampaikan pada Persekutuan Wanita GK Kalam Kudus Jayapura, Jumat/16 Mei 2008)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , | Leave a comment

Keluaran 25:21-22. Tabut KovenanNya


Nats: Keluaran 25:21-22. Tabut KovenanNya
Oleh: Sdr. NT. Prasetyo, S.Sos.

Keluaran 25:21–22, “Haruslah kauletakkan tutup pendamaian itu di atas tabut dan dalam tabut itu engkau harus menaruh loh hukum, yang akan Kuberikan kepadamu. Dan di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu, Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel.

Tuhan yang berbicara dari Tabut Kovenan, menunjukkan bahwa:

1. Allah berbicara dengan umatNya dalam Kovenan dan Pendamaian dengan umatNya.

2. Allah berbicara selaras, namun mengatasi hukum yang telah diberikanNya lewat loh batu yang tersimpan di dalam tabut. Jadi Allah siap diuji perkataanNya.

3. Allah berbicara sebagai penguasa yang mengatasi dan dilayani oleh kerub dan manusia.

4. Allah berbicara dengan perantaraan.

5. Dan sebetulnya, kalau kita mengingat emas yang dipakai untuk menyalut tabut ini, mengingatkan kita kepada kemuliaan dan kesucian Allah yang berbicara itu.

(Rabu/6 Februari 2008)

Categories: Tulisan | Tags: , , | Leave a comment

Keluaran 16-17. Beberapa Pelajaran bagi Umat


Nats: Keluaran 16-17. Beberapa Pelajaran bagi Umat
Oleh: Sdr. NT. Prasetyo, S.Sos.

Dari Keluaran 16:4 kita dapat belajar bahwa ”berkat”, pada saat yang sama adalah juga ”ujian” dari Tuhan. Karenanya dalam Keluaran 20:20 dicatat, ”supaya ada takut akan Tuhan dan tidak berbuat dosa.

Dari Keluaran 16:28, ”Berapa lama lagi kamu menolak mengikuti segala perintahKu dan hukumKu?” kita membaca teguran yang TUHAN tujukan kepada umatNya, karena:

1. Ayat 20: Ada jemaat yang bersikeras menyimpan manna sampai besok paginya, akibatnya berulat dan berbau busuk. Ini disebabkan karena dalam hati jemaat itu ada ”semak duri”, yaitu kekhawatiran dan keserakahan.

2. Ayat 27: Ada jemaat yang mencari manna di Hari Sabat. Tentang ini, ayat 30 mengajarkan: Beristirahatlah! Jangan gila kerja!

Sementara dari Kel.17:21, ada prinsip Yitro tentang kriteria pemimpin:

1. Membangun kompetensi.
2. Memiliki takut akan Allah.
3. Membangun akuntabilitas.
4. Memiliki kejujuran atau benci suap.

Untuk kelompok yang besar maupun yang kecil, kriterianya sama! Dengan demikian, selebihnya dari kepemimpinan adalah ”karunia” alias pemberian Tuhan, baik langsung maupun melalui oranglain.

(Senin/4 Februari 2008)

Categories: Tulisan | Tags: , | Leave a comment

Keluaran 14. Pemeliharaan TUHAN bagi UmatNya


Nats: Keluaran 14. Pemeliharaan TUHAN bagi UmatNya
Oleh: Sdr. NT. Prasetyo, S.Sos.

Anak-anak Sekolah Minggu di Gereja Kristen Jakarta aktif-aktif, berani dan cerdas! Tentang nats Firman Tuhan yang kubagikan buat mereka, aku sendiri mendapat suatu kebenaran menarik:

1. Karya Allah” membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir (gambar: Bangsa Israel melintasi laut Merah yang airnya tersibak dua) – Keluaran 14.

Bandingkan

Kita dilepaskan dari perbudakan dosa – Roma 8:15

2. Tuhan “memelihara” melalui Manna – Keluaran 16.

Bandingkan

Tuhan “memelihara” melalui Firman Allah, yaitu Alkitab – Ulangan 8:3

3. Tuhan “memelihara” dengan memberi air dari batu karang – Keluaran 17.

Bandingkan

Tuhan “memelihara” melalui doa kepada Yesus, sumber air hidup – 1 Kor.10:4 & Yoh.4:10

4. Tanah Kanaan

Bandingkan

Kehidupan kekal dan sukacita sorgawi.

Ayat hafalan dari Mazmur 100:5.

(Disampaikandi di Sekolah Minggu Gereja Kristen Jakarta, Minggu/21 Agustus 2005)

Categories: Tulisan | Tags: , , , | Leave a comment

Keluaran 17:8-16. Hasil Akhir Doa


Nats: Keluaran 17:8-16. Hasil Akhir Doa.
Oleh: Sdri. Ling-ling.

Entah kapan, Ci Ling-ling berkotbah dari Keluaran 17:8–16. Sebagai ilustrasi awal, dia menyinggung soal film The Lord of The Ring. Ada dua pihak yang perang: Sauron versus aliansi manusia – peri (The fellowship of the Ring). Dalam kehidupan Israel, Israel pernah perang melawan Amalek. Dan ada dua pihak yang bertempur disana: Yosua & pasukan Israel versus Pasukan Amalek, dan ada tokoh yang muncul disana: Musa, Harun, dan Hur.

Menurut Kej.36:12, “Timna adalah gundik Elifas anak Esau; ia melahirkan Amalek bagi Elifas. Itulah cucu-cucu Ada isteri Esau,” Amalek adalah cucu Esau. Dan Bilangan 24:20, Amalek adalah bangsa pertama yang melawan Israel, “Ketika ia melihat orang Amalek, diucapkannyalah sanjaknya, katanya: Yang pertama di antara bangsa-bangsa ialah Amalek, tetapi akhirnya ia akan sampai kepada kebinasaan.” Amalek memerangi Israel karena ingin merebut sumber air.

Dalam kasus Musa, Harun, dan Hur, Mazmur 28:2 menyebutkan, “Dengarkanlah suara permohonanku, apabila aku berteriak kepada-Mu minta tolong, dan mengangkat tanganku ke arah tempat-Mu yang maha kudus.” Jadi “mengangkat tangan” adalah ekspresi doa. Komunikasi Musa dengan Allah-lah yang menjadi penentu kemenangan pertempuran secara jasmaniah.

Hal terpenting dalam pergumulan doa kita adalah “Pengenalan akan Allah yang semakin dalam.” Dalam pergumulan doa Musa, kita melihat: Ketergantungan Musa yang mutlak kepada Allah. Bukti penyertaan kuasa Allah adalah tongkat.

Mengapa Musa tidak ikut berperang? Karena karakter pertempuran itu. Pertempuran itu adalah pertempuran dimana Allah sendiri yang berperang melawan Amalek (Ul.25:17–19; Kel.17:14). Amalek jelas-jelas memberontak kepada Allah, sehingga Allah-lah yang berperang. Sehingga Musa naik ke bukit, dan berdoa, dan bukannya membuat mujizat langsung dari tongkat. Hasil doa Musa, Allah dikenal sebagai Jehovah Nissi (Tuhan panji-panji Israel). Satu-satunya tempat dalam Alkitab dimana Tuhan disebut sebagai Jehovah Nissi.

Jehovah Nissi menunjukkan bahwa ketika Israel melangkah menuju Kanaan, Tuhan menyertai. Tuhan menjadi “penunjuk arah” bagi umatNya. Dari pergumulan doa Musa, kita belajar bahwa hasil terakhir dan tertinggi dari pergumulan doa kita adalah “pengenalan akan Allah”.

(Disampaikan pada Ibadah Chapel STTRI Indonesia, 2005 [?]).

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , , , | Leave a comment

Keluaran 33:1-14. Bimbingan TUHAN


Nats: Keluaran 33:1–14
Oleh: Ev. NT Prasetyo, M.Div.

Pada bulan ketiga, setelah orang Israel keluar dari Mesir, sampailah mereka di padang gurun Sinai. Mereka berkemah di depan Gunung Sinai/Horeb (Keluaran 19). Lebih dari satu kali, Musa naik ke atas gunung untuk berjumpa dengan TUHAN. Di atas gunung, TUHAN memberikan:
a. Hukum Moral, yaitu: Sepuluh perintah Allah (pasal 20:1 – 17, telah diringkaskan oleh Tuhan Yesus menjadi Hukum Kasih);
b. Hukum Sipil, yaitu: peraturan-peraturan untuk mengatur kehidupan Israel sebagai sebuah bangsa (tentu secara literal tidak berlaku bagi kita saat ini, namun kita bisa mengambil prinsip-prinsipnya);
c. Hukum Upacara, yaitu: aturan-aturan untuk menyelenggarakan kebaktian, perlengkapan, dan persembahan dalam upacara (ini pun tidak secara literal berlaku bagi kita, namun kita bisa mengambil prinsip-prinsipnya).

Keluaran 24:1 – 11 mencatat bagaimana Allah menjalin ikatan Perjanjian/Kovenan dengan umatNya, Israel. TUHAN memberikan loh batu yang diukir oleh jari Allah sendiri, yang berisi hukum dan perintah Allah. Loh batu ini menjadi semacam naskah/dokumen Perjanjian/Kovenan (Keluaran 24:12; 31:18).

Keluaran 32 kemudian mencatat sebuah tragedi terjadi. Bangsa Israel mendesak Harun untuk melanggar perintah pertama (32:1) dan kedua (32:4) dari sepuluh perintah Allah. Mereka tidak hanya membuat allah, tapi juga menggambarkan Allah yang menuntun mereka keluar dari Mesir sebagai seekor anak lembu emas. Melihat hal ini, Musa sangat marah, lalu membanting dan memecahkan loh batu yang dipegangnya. Ini menunjukkan bahwa bangsa Israel telah menghancurkan Perjanjian/Kovenan antara Allah dengan umatNya, dilambangkan dengan loh batu yang hancur berkeping-keping. TUHAN sendiri pun murka, dan melalui Musa dan Kaum Lewi, Allah menjatuhkan hukuman atas bangsa Israel.

Diskusikan:
1. Apa yang menjadi dasar bagi TUHAN untuk memerintahkan agar perjalanan dilanjutkan?
Jawab: Ayat 1 menunjukkan bahwa yang menjadi dasar bagi TUHAN untuk memerintahkan agar perjalanan dilanjutkan adalah JANJI-NYA SENDIRI kepada leluhur bangsa Israel. Jadi, TUHAN bertindak di atas dasar KARAKTER-NYA sendiri yang setia dan tidak pernah ingkar janji. Ini menjadi jaminan iman bagi kita. Apa yang baik yang pernah TUHAN janjikan secara pribadi kepada kita, mungkin belum kelihatan saat ini, namun percayalah bahwa TUHAN itu memiliki karakter yang dapat menjadi jaminan bagi iman kita. Ia adalah Allah yang setia dan tidak pernah ingkar janji.

2. Apa yang menjadi alasan bagi TUHAN sehingga Ia tidak turut berjalan di tengah-tengah bangsa Israel dan hanya mengutus malaikatNya?
Jawab:
Ayat 2 dan 5 menyatakan kesaksian dari pihak TUHAN tentang siapa itu orang Israel, yaitu orang-orang yang tegar tengkuk. Kesaksian ini diulang hingga dua kali, menunjukkan bahwa TUHAN sangat mengetahui kepribadian manusia yang terdalam, terlepas dari aktivitas keagamaan yang kita lakukan. Bangsa Israel memang menunjukkan tindakan penyesalan (ayat 4 – 5), dan TUHAN sendiri memang memerintahkan tindakan penyesalan semacam itu diperlihatkan (ayat 5). Namun sekali lagi, TUHAN sangat mengetahui kepribadian manusia yang terdalam, terlepas dari aktivitas keagamaan yang kita lakukan. TUHAN sangat tahu bangsa Israel tegar tengkuk, dan dengan segera dapat membangkitkan amarah TUHAN sehingga TUHAN harus membinasakan mereka, karena itu, TUHAN hanya mengutus malaikatNya saja untuk berjalan di depan bangsa Israel. Ini sebetulnya juga menunjukkan kesabaran TUHAN.

3. Mengapa Kemah Pertemuan, Musa letakkan jauh di luar perkemahan?
Jawab: Kemah Pertemuan dapat menunjuk kepada dua benda berbeda:
a. Tabernakel/Kemah Suci yang saat peristiwa di pasal 33 ini terjadi, masih belum dibuat (bdk. Kel.27:21). Lokasi Tabernakel terletak di pusat perkemahan Israel. Di sini TUHAN bertemu dengan umatNya sesuai petunjuk TUHAN.
b. Tabernakel/Kemah Pertemuan, yang merupakan tenda sementara dimana umat dapat berkonsultasi kepada TUHAN karena Tabernakel/Kemah Suci belum dibuat.
Mengapa Kemah Pertemuan diletakkan di luar perkemahan Israel, alasannya tentunya tidak jauh dari jawaban nomor 2. TUHAN sangat tahu bangsa Israel tegar tengkuk, dan dengan segera dapat membangkitkan amarah TUHAN sehingga TUHAN harus membinasakan mereka, karena itu, TUHAN tidak mau hadiratNya memasuki perkemahan Israel. Sekali lagi, ini sebetulnya juga menunjukkan kesabaran TUHAN.

4. Respon apa lagi yang ditunjukkan bangsa Israel melihat tanda-tanda kehadiran TUHAN?
Jawab: Ayat 8 – 9 menunjukkan bagaimana bangsa Israel berusaha menunjukkan hormatNya kepada TUHAN dengan bersujud di pintu tenda mereka masing-masing, setiap kali melihat tiang awan (lambang kehadiran Allah) berhenti di pintu Kemah Pertemuan, ketika Musa masuk dan ada di Kemah Pertemuan itu.

5. Keluaran 33:11 dicatat bahwa “TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya.” Namun dalam ayat 20 dicatat perkataan TUHAN kepada Musa, “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.” Ayat 11 dan 20 nampak bertentangan. Jadi mana yang benar? Musa dapat memandang wajah TUHAN ataukah tidak? Jadi, apa maksudnya “berhadapan muka”?
Jawab: Kedua-duanya benar. Ayat 11 hanya hendak menunjukkan bahwa Allah berkomunikasi dengan Musa secara langsung dan dengan kejelasan yang istimewa (special clarity), namun tanpa memperlihatkan wajahNya secara visual. TUHAN berbicara kepada hamba-hambaNya di dalam derajat kejelasan yang berbeda-beda. Kepada nabi-nabi lain, TUHAN berfirman/memberi nubuat, yang bagi nabi itu sendiri merupakan teka-teki dan misteri. Namun Musa itu termasuk nabi Perjanjian Lama yang unik, karena hanya dengan Musa-lah, TUHAN berkomunikasi secara langsung dan dengan kejelasan yang istimewa. Bilangan 12:6 – 8 dan Ulangan 34:10 menegaskan hal ini. Namun meskipun TUHAN berkomunikasi secara langsung dan dengan kejelasan yang istimewa, Musa tetap tidak dapat melihat wajah TUHAN secara langsung, dan tidak ada seorang pun yang dapat (ayat 20).

6. Apakah TUHAN itu punya anggota tubuh, seperti wajah? Tidakkah ini bertentangan dengan Yohanes 4:24?
Jawab: Yohanes 4:24 adalah benar! TUHAN adalah ROH, dan tidak punya tubuh jasmani seperti manusia. Lalu apa maksudnya, kata “wajah” dan “tangan” dalam Keluaran 33?

a. Bacalah Keluaran 33:14. Kata “Aku sendiri” disitu, dalam bahasa aslinya, secara literal juga berarti “wajahKu.” Jadi, ungkapan seperti misalnya, “wajah Allah,” bisa dimengerti sebagai “kehadiran TUHAN sendiri.” Jadi, kalau ada lagu rohani mengatakan, “dan kupandang wajahMu,” itu artinya: “kusadari kehadiranMu, TUHAN.”
b. TUHAN dapat juga berkata-kata seolah-olah Ia memiliki tubuh fisik, ini disebut gaya bahasa Antropomorfisme (antropo = manusia; morphem = bentuk).
c. TUHAN adalah ROH, namun bisa jadi Ia menampakkan diri kepada Musa dalam wujud-wujud bertubuh seperti manusia. Salah satu bentuknya dalam Perjanjian Lama, disebut Teofani (penampakan Allah dalam wujud manusia/malaikat).

7. Dari dialog TUHAN dengan Musa pada ayat 12 – 14, kita dapat belajar tentang cara TUHAN mewahyukan kehendakNya kepada umatNya! Bagaimana cara TUHAN mewahyukan kehendakNya itu?
Jawab: Meskipun kepada Musa, TUHAN berkomunikasi dengan kejelasan yang istimewa (special clarity), namun tetap Ia memberikan bimbinganNya secara bertahap (tidak sekaligus) kepada Musa. Ayat 12 menunjukkan pengakuan Musa bahwa TUHAN belum juga memberitahukan siapa (malaikat?) yang akan TUHAN utus untuk mendampingi Musa. Dan meskipun Musa mengungkapkan hal itu, jawaban TUHAN pun hanyalah “Aku mengenal namamu dan juga engkau mendapat kasih karunia di hadapanKu.” Dan ayat 13 mencatat permohonan Musa berikutnya, “beritahukanlah kiranya jalanMu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau.” Dan atas permintaan ini pun, TUHAN hanya berkata, “Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketentraman kepadamu.” Demikian, TUHAN memberikan bimbinganNya secara bertahap (tidak sekaligus) kepada Musa.

8. Dari semua pelajaran di atas, prinsip-prinsip apa saja yang harus kita jaga dan pahami tentang BIMBINGAN TUHAN?
Jawab: Prinsip-prinsip yang perlu kita pahami tentang bimbingan TUHAN:
a. TUHAN membimbing kita berdasarkan karakter dan janjiNya sendiri (bukan berdasarkan atas apa yang manusia inginkan atau apa yang manusia ingin capai). TUHAN akan membimbing kita kepada tujuan hidup yang selaras dengan karakter Allah sendiri. Mungkin kita sebagai orangtua ingin agar anak kita kelak menjadi dokter dan dapat uang banyak, namun “dapat uang banyak” tidaklah mencerminkan karakter Allah dan janji Allah kepada umatNya, sehingga Allah akan membimbing anak kita, seturut tujuan hidup (visi hidup) yang Allah telah tanamkan di dalam batin anak kita (termasuk melalui bakat dan minatnya). Tugas kita sebagai orangtua adalah membimbing anak mengarahkan diri kepada tujuan Allah yang telah Allah tanamkan dalam diri mereka.
b. TUHAN membimbing kita dengan menuntut kehidupan kudus dari pihak kita. Kehidupan yang tidak kudus, merintangi bimbingan TUHAN atas kita. Pertama-tama, kita menjadi tidak peka dengan arahan dari TUHAN; Kedua, kehidupan kita sendiri jadi terseok-seok karena harus menanggung akibat-akibat dari ketidakkudusan kita sendiri.
c. TUHAN membimbing kita secara bertahap dan tidak sekaligus. TUHAN mengendaki kesabaran dan ketekunan kita untuk terus bersekutu dengan TUHAN. Apabila Allah ingin cepat-cepat mencapai tujuan-tujuanNya, Ia dapat dengan mudah menyuruh malaikatNya. Namun Allah memilih untuk mencapai tujuan-tujuanNya melalui umatNya, dan karenanya Ia menghendaki ketekunan kita untuk bersekutu denganNya, serta kesabaran kita.
d. TUHAN membimbing kita dengan memberikan ketentraman/damai sejahteranya. Salah satu petunjuk bahwa kita masih berjalan di jalan-jalan yang sesuai bimbingan TUHAN adalah adanya damai sejahtera Allah yang menguasai hati kita. Apabila hati kita mulai tidak sejahtera, evaluasi diri, jangan-jangan kita sudah menyimpang.

(Disampaikan dalam Persekutuan Rayon Filadelfia, 2012)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Refleksi dari Keseluruhan Kitab Keluaran


Berkat Allah di sepanjang Kitab Keluaran:
1. Israel ditebus dari Mesir (pasal 1 – 18).

1.A. Israel di Mesir (1:1 – 12:36).
Allah memelihara kehidupan keluarga besar Yakub, melalui anaknya, Yusuf, yang telah menjadi pejabat di Mesir. Sekitar 70 jiwa telah Tuhan pelihara terlepas dari ancaman kematian akibat bencana kelaparan. Betapa rencana keselamatan Allah melalui garis mesianis tidak mungkin digagalkan bahkan oleh bencana pangan (1:1 – 6).
Allah memultiplikasikan jumlah umatNya. Dapat dibayangkan, dari beberapa perempuan mandul bernama Sara; Ribka; dan Rahel, telah bermultiplikasi menjadi satu bangsa yang tentang mereka dikatakan, “mereka bertambah banyak dan dengan dahsyat berlipat ganda, sehingga negeri itu dipenuhi mereka” (1:7).
Allah memperkokoh kehidupan umatNya dengan terus memultiplikasikan jumlah mereka (1:8 – 12). Niat jahat dari raja Mesir yang sengaja hendak menghentikan jumlah umat Allah, justru Allah jawab dengan, “makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu” (1:12). Lucu sekali, umat Israel adalah budak-budak yang disegani.
Allah bekerja melawan penguasa dunia melalui orang-orang sederhana yang takut akan Allah, seperti bidan Sifra dan Pua (1:13 – 17). Ketika raja Mesir memperberat kerja paksa atas orang Israel, dan bahkan secara lebih spesifik memerintahkan bidan-bidan untuk membunuh anak laki-laki orang Ibrani, Allah pun bekerja secara lebih spesifik pula. DipakaiNya dua orang bidan yang takut akan Allah untuk “mengalahkan” rencana jahat raja Mesir. Seorang raja Mesir, dikalahkan oleh dua orang perempuan.
Allah menunjukkan upahNya kepada para bidan dan – sekali lagi – kepada bangsa Israel. Tuhan menganugerahkan berkat rumahtangga kepada kedua orang bidan yang takut akan Tuhan itu, dan semakinlah orang Israel bermultiplikasi, sampai-sampai akhirnya raja memerintahkan seluruh rakyatnya untuk melemparkan segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Israel ke Sungai Nil. Sebuah tindakan yang menunjukkan bahwa sang raja jahat itu frustasi. Hebat sekali Allah kita, membuat musuh-musuhNya frustasi. Jadi jika kita mengalami tantangan dari musuh-musuh Allah, dan tantangan itu makin berat, jangan-jangan itu terjadi karena Allah telah membuat musuh-musuhNya itu makin frustasi (1:18 – 22).
Allah memberkati satu keluarga kecil dengan seorang anak laki-laki yang cantik. Dan melalui perempuan-perempuan Ibrani yang menjadi obyek penindasan, raja Mesir diperdaya (2:1 – 4).
Allah – dengan lebih kreatif lagi – memakai, bahkan puteri Mesir sendiri, untuk menyelamatkan umatNya (secara khusus, Musa). Disinilah saya justru melihat peristiwa “merampasi orang Mesir” itu sudah terjadi (2:5 – 10).
Allah menyelamatkan Musa untuk kedua kalinya, meskipun kali ini disebabkan karena kebodohan Musa sendiri (2:11 – 15). Bahkan kebodohan yang orang percaya 2
lakukan pun tidak akan menggagalkan rencana penebusan Allah; dan sebaliknya bahkan menggunakan itu untuk kepentingan Allah sendiri. Luarbiasa.
Allah memelihara Musa dalam pelariannya, dengan sebuah kehidupan rumahtangga (2:16 – 22).
Allah mendengar umatNya mengerang, dan mengingat perjanjianNya, dan memperhatikan umatNya (2:23 – 25). Betapa Allah kita adalah Allah yang penuh kasih setia.
Allah memberikan anugerah pengutusan kepada Musa untuk memimpin umat Allah keluar dari perbudakan Mesir (3:1 – 12).
Allah memperkenalkan namaNya sendiri kepada Musa dan kepada Israel (3:13 – 20).
Allah akan memenuhi kebutuhan umat untuk umat melakukan apa yang Allah perintahkan. Ini dialami Israel dalam peristiwa “merampasi orang-orang Mesir” (3:21 – 22). Pada waktu kemudian, bangsa Israel bisa membangun Tabernakel karena ada peristiwa ini. Dengan harta orang Mesir, orang Israel dapat beribadah kepada Tuhan. Luarbiasa. Peristiwa ini menjadi nyata dalam 12:35 – 38.
Allah menyertai Musa dengan tanda-tanda ajaib, untuk Musa berbicara kepada Firaun (4:1 – 9).
Allah mengutus Harun sebagai berkat buat Musa, sehingga Musa kini memiliki juru bicara, dan Allah memberikan Musa kuasa, salah satunya melalui tongkat yang ada pada Musa (4:10 – 17).
Allah memberikan berkat kepada Musa melalui restu mertuanya, untuk Musa dan keluarganya bisa kembali ke Mesir (4:18 – 23).
Allah mengaruniakan kepada Musa, isteri yang baik, sigap dan berani, sehingga Musa sendiri terhindar dari hukuman mati dari Allah (4:24 – 26).
Allah mengaruniakan kepada Musa dan Harun, perhatian dari bangsa Israel (4:27 – 31).
Allah dengan tanda-tanda yang ajaib, bertempur dan mengalahkan semua ilah-ilah Mesir (5:1 – 12:36).
1.B. Perjalanan dari Mesir ke Sinai (12:37 – 18:27).
Allah menetapkan perayaan Paskah bagi umat Allah; suatu bayang-bayang dari peringatan akan karya Allah melalui Yesus Kristus di kemudian hari, dan juga menetapkan tentang anak sulung dan Hari Raya Roti Tidak Beragi (12:1 – 28; 43 – 51 dan 13:1 – 16).
Allah menuntun umatNya keluar dari Mesir, dengan dinaungi tiang awan dan tiang api (12:39 – 42 dan 13:17 – 22). Ini pasti menjadi pemandangan yang luarbiasa menakjubkan: Ada obor berjalan di malam hari, dan tiang awan yang bergerak di siang hari.
Allah membuat keajaiban menyelamatkan umatNya dengan membelah Laut Merah demi menuntun umatNya melintasi dataran kering, lolos dari kejaran pasukan Firaun (14:1 – 31). Satu perbuatan besar yang membuat bangsa-bangsa takjub dan gentar kepada Allah dan umatNya. Mahabesar Tuhan yang sanggup membuat segala perkara mengherankan ini!
Allah membuat umatNya bernyanyi memuji kebesaran Tuhan (15:1 – 21). Sesungguhnya ketika kita masih bisa memuji Tuhan, itu adalah anugerah Tuhan. 3
Allah membuat keajaiban dengan menolong orang Israel mendapatkan air yang layak minum, tidak hanya itu, disana Tuhan memberikan “ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan kepada mereka dan disanalah Tuhan mencoba mereka.” Bahkan kemudian mereka sampai ke dua belas mata air, suatu tempat yang perhentian yang tepat sama jumlahnya dengan jumlah Israel, dengan pohon-pohon korma yang tepat jumlahnya pula (15:22 – 27).
Allah memberkati mereka dengan manna, roti dari sorga, selama 40 tahun lamanya. Luarbiasa Allah memelihara sehari demi sehari, tidak pernah umatNya berkekurangan (16:1 – 36).
Allah sekali lagi menyatakan mujizatNya kepada Israel, kali ini dari sebuah bukit batu. Bangsa itu bisa memperoleh minum, meskipun bangsa bebal itu terus saja mempertanyakan kebaikan Tuhan (17:1 – 7).
Allah senantiasa menjadi pelindung bagi Israel. Mesir dibinasakan. Kali ini Amalek pun dikalahkan. Hanya melalui sebuah tongkat yang terangkat, Tuhan memberikan kemenangan bagi Israel (17:8 – 16).
Allah berkasih karunia memberikan hikmat kepada Musa melalui perantaraan Yitro, mertuanya, sehingga Musa bisa lebih efektif memimpin umat Tuhan (18:1 – 27). Sungguh Tuhan baik kepada Musa, karena telah memberikan kepada Musa keluarga yang mendukung dia.
2. Israel mendapat karunia Kovenan dengan Yahwe dan Hukum Allah di Sinai (19:1 – 40:38).

2.A. Kovenan Allah dengan Israel (19 – 24).
Allah mengaruniakan kehormatan kepada Israel sehingga bangsa itu diperkenankan Tuhan untuk melihat kemuliaan Tuhan dari kaki gunung Sinai (19:1 – 25). Sebuah pemandangan yang sudah cukup menggetarkan umat itu.
Allah mengaruniakan kehormatan kepada Israel dengan mengadakan Kovenan dengan mereka yang strukturnya adalah sebagai berikut:
20:1 – 2a : Pendahuluan 20:2b : Prolog historis. 20:3 – 17 : Ketentuan-ketentuan umum. 20:18 – 23:33: Ketentuan-ketentuan khusus. 25:1 – 22 : Penyimpanan naskah Kovenan dan pembacaan periodik. (Ul.30:19; 31:28: Doa para saksi) (Imamat 16: Kutuk dan Berkat) 24:1 – 3 : Sumpah dari para hamba untuk taat. 24:4 – 18 : Upacara yang hikmat.
2.B. Membangun Tabernakel (25 – 40).
Allah dengan begitu kreatif menuntun umatNya untuk membangun Tabernakel beserta segala isinya, dan menetapkan segala hal berkaitan dengan keimamatan di tengah-tengah kehidupan bangsa Israel. Sungguh ajaib Tuhan, karena semua hal yang dibuat memiliki makna mesianik, dimana unsur-unsur dalam Tabernakel dan keimamatan bangsa Israel menjadi tipologi yang menunjuk kepada Mesias dan karya-karyaNya di kemudian hari (25:1 – 40:33).
Allah begitu baiknya kepada bangsa Israel, karena Ia berkenan tinggal di tengah-tengah mereka, dan penyertaanNya nyata melalui tiang awan dan tiang api (40:34 – 38). Jauh sebelum Perjanjian Baru mengajarkan tentang Imanuel, Allah di tengah-tengah kita. Bangsa Israel telah terlebih dahulu mengecap pengalaman ini. Sungguh besar anugerah Tuhan! Tidak berkesudahan kasih setiaNya! Bagi Israel di masa lalu, dan tentunya bagi kita umatNya di masa kini yang juga sedang berada di dalam pengembaraan menuju Rumah yang Kekal, melalui kehadiran Roh Kudus di dalam hati kita.

(Ditulis untuk memenuhi tugas matakuliah Grace in The Old Testament yang diampu David L. Talley, Ph.D., 29 Juli 2011)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Keluaran 14. Pemimpin: Taat Meski Disalahpahami


Salah satu keterampilan manajerial yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah “komunikasi”. Namun ada saat dimana suatu panggilan atau visi tidak dapat terkomunikasikan karena faktor kemendesakkan situasi atau minimnya media komunikasi; sehingga satu-satunya yang bisa diandalkan oleh para pengikut adalah: ‘kepercayaan’ kepada sang pemimpin.

Keluaran 14 memberikan kepada satu pelajaran kepemimpinan kepada kita. Menjadi seorang pemimpin, ada kalanya harus bersedia dan siap untuk bertindak seturut panggilan dan perintah Tuhan kepadanya, dengan resiko disalahpahami dan tidak dimengerti para pengikutnya, akibat situasi yang tidak memungkinkannya untuk berkomunikasi dengan para pengikutnya.

Dalam sebuah situasi urgen atau mendesak (hal ini ditunjukkan dalam Keluaran 12:11 dan 12:39), TUHAN memberikan sebuah perintah kepada Musa. Sebuah perintah yang akan membawa umat TUHAN berada dalam kondisi sulit. Namun itu bukannya tanpa maksud, karena TUHAN hendak menunjukkan kemuliaanNya melalui kesulitan umatNya. Perintah yang menuntun kepada kondisi sulit itu harus segera dipatuhi Musa.

Perintah itu makin membawa kesulitan bagi Musa karena Musa tidak memiliki waktu banyak dan media yang memadai untuk mengkomunikasikan maksud dari perintah TUHAN tersebut, mengingat jumlah orang yang dipimpinnya keluar dari Mesir adalah 600.000 pria, belum termasuk anak-anak beserta ternak-ternak mereka (Kel.12:37-38). Akibatnya: Sebagai pemimpin, Musa harus taat kepada TUHAN dengan meski beresiko untuk disalahpahami umat TUHAN sendiri.

Dan benar saja, umat TUHAN yang hanya dapat melihat fenomena menyalahpahami Musa. Keluaran 14:10 – 12 mencatat seruan mereka kepada Musa. Pada titik inilah, kepemimpinan Musa diuji! Dia harus tetap bersikap tenang dan yakin akan pimpinan TUHAN. Ayat 13 – 14 mencatat perkataan si pemimpin yang menenangkan, “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikanNya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.” Seorang pemimpin harus tetap tenang dan yakin, untuk bertindak di dalam ketaatan meskipun disalahpahami.

Ayat 15 mengungkapkan satu kalimat membingungkan yang TUHAN ucapkan kepada Musa, “Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepadaKu?” Entah apakah kalimat ini ditujukan kepada Musa seorang sebagai akibat tindakan individual yang telah dilakukan Musa, ataukah kalimat ini ditujukan kepada Musa sebagai representasi Israel sendiri sebagai bangsa yang telah berseru-seru mengeluh di ayat 10. Satu hal yang pasti, baik kepada Musa maupun kepada Israel, TUHAN memberikan perintah yang sama, “berangkat”. Taat saja, dan dalam keadaan mendesak serta minim media komunikasi ini, TUHAN akan membuktikan bahwa pimpinanNya tidak salah, demikian juga kepemimpinan Musa.

Seluruh kisah pelajaran kepemimpinan di pasal 14 ini, ditutup dengan pernyataan, “Demikianlah pada hari itu TUHAN menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Mesir. Dan orang Israel melihat orang Mesir mati terhampar di pantai laut. Ketika dilihat oleh orang Israel, betapa besarnya perbuatan yang dilakukan TUHAN terhadap orang Mesir, maka takutlah bangsa itu kepada TUHAN dan mereka percaya kepada TUHAN dan kepada Musa, hambaNya itu.”

Sebuah pelajaran kepemimpinan! Selamat memimpin!

Categories: Tulisan | Tags: , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

%d bloggers like this: