Posts Tagged With: Kitab Kejadian

Kejadian 24:63. Lectio Divina


Kejadian 24:63, “Menjelang senja Ishak sedang keluar untuk berjalan-jalan di padang. Ia melayangkan pandangnya, maka dilihatnyalah ada unta-unta datang.” Praktek ‘berjalan-jalan’ disini bukanlah suatu perkara yang ringan. Ishak bukan sekadar hanging-out, seperti layaknya anak muda hanging-out ke mall.

Dalam terjemahan bahasa Inggris versi King James (KJV) ditulis, Ishak “Went out to meditate in the field at the eventide.” Jadi, frasa “berjalan-jalan” disini diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, “meditate“; meditasi.

Setiap kali mendengar kata ‘meditasi’, kita selalu mengidentikkannya dengan Budhisme atau Hinduisme. Namun sebetulnya dalam kekristenan pun dikenal istilah meditasi. Hanya saja yang perlu menjadi penekanan, meditasi Kristen bukanlah praktek mengosongkan pikiran, melainkan berdiam diri untuk merenungkan Firman Tuhan.

Di dalam tradisi Kristen, meditasi menjadi bagian dari praktek ‘lectio divina’ (bahasa Latin). Sederhananya, ‘lectio divina’ adalah pembacaan Ilahi. Pengertian yang lebih mendetil lagi, ‘lectio divina’ berarti ‘memusatkan perhatian pada nats tertentu agar melaluinya Allah sendiri berbicara’. Ini adalah sebuah praktek yang telah dimulai dari sejak masa hidup orang Kristen di abad-abad awal.

Bayangkan praktek ‘lectio divina’ ini sebagai praktek jamuan makan, dan menu makanannya adalah Firman Allah sendiri. Ada empat tahap sebagai berikut:

1. Lectio
, yaitu membaca secara perlahan. Ini diandaikan seperti kita sedang menggigit makanan.

2. Meditatio, yaitu merenungkan Firman Allah. Ini diandaikan seperti kita sedang mengunyah. Secara praktis, ini dilakukan dengan cara mengajukan setidaknya dua pertanyaan reflektif berikut sementara membaca Firman Allah:

a. Apa pesan yang Allah sampaikan kepadaku melalui nats tadi: Janji, peringatan, teladan, dan seterusnya.
b. Apa responku? Adakah hal-hal spesifik dalam hidupku kini yang disoroti oleh pesan Firman tersebut? Apa responku terhadap Firman itu agar menjadi bagian dari hidupku?

Ingat, ‘lectio divina’ bukan Penggalian Alkitab, jadi jangan terlalu memikirkan latar belakang Alkitab; konteks penulis; bahasa asli Alkitab. Itu semua dapat kita lakukan saat melaksanakan Penggalian Alkitab, tetapi tidak pada saat mempraktekkan ‘lectio divina’. Hasil ‘lectio divina’ tentu lebih merupakan konsumsi pribadi. Memang kita dapat saja membagikannya kepada oranglain, tetapi tentu kita jangan mengkhotbahkannya, karena kita bisa terjebak pada kesalahan: Menjadikan pengalaman sebagai doktrin. Hasil penggalian Alkitab lebih tepat untuk di khotbahkan.

3. Oratio (Doa hening). Ini diandaikan seperti kita sedang mengecap atau menikmati saripati dari apa yang kita kunyah.

4. Contemplatio (mendengarkan Allah melalui Roh KudusNya). Ini diandaikan seperti makanan dicerna dan menjadi bagian tubuh kita.

Ada perbedaan antara ‘meditasi’ dan ‘kontemplasi’. ‘Meditasi’ penekanannya pada merenungkan Kitab Suci; daya pikir dan refleksi kita sendiri lebih aktif. Sedangkan dalam ‘kontemplasi’, kita lebih pasif; menunggu kehadiran Tuhan; kita berdiam diri untuk memandang, mendengar, dan membuka diri untuk dorongan Roh Kudus.

Sebagai contoh, mari kita membaca bersama-sama di dalam hati masing-masing Yohanes 7:1-13 (bersama-sama praktekkan ‘lectio divina’). Dari nats ini, perhatian saya tertuju pada ayat 1-4. Ayat 1 menyatakan bahwa orang-orang Yahudi hendak membunuh Yesus. Namun pada ayat 3-4, dicatat adik-adik satu ibu dari Yesus -mungkin dengan sinis- mendorong Yesus untuk menunjukkan diriNya kepada dunia. Saya merenungkan, tidakkah saudara-saudara Yesus ini menyadari, bahwa kata-kata dorongan mereka dapat mengarah kepada terbunuhnya Saudara mereka?

Ini membuat saya berefleksi. Sebagai pemimpin rohani apakah saya telah memberi dorongan atau kata-kata motivasi yang justru menuntun orang pada kebinasaan? Saya merasakan di dalam batin saya, bahwa saya harus ‘bertelut’ di hadapan Tuhan, untuk meminta hikmat dan pengertian dariNya, dalam saya memberikan dorongan-dorongan kepada oranglain.

(Oleh Ev, NT. Prasetyo, M.Div., Persekutuan Pemuda, Kamis/16 Januari 2014).

Categories: Tulisan | Tags: , , , | Leave a comment

Kejadian 11:27–32. Pelajaran dari Silsilah Abraham


Nats: Kejadian 11:27–32. Pelajaran dari Silsilah Abraham
Oleh: Sdr. NT. Prasetyo, S.Sos.

Kejadian 1–11 berbicara tentang asal-usul alam semesta dan manusia secara umum. Sedangkan mulai pasal 12, sejarah keselamatan melalui Israel, mulai dibicarakan. Dan tokoh pertama yang menjadi nenek-moyang dalam sejarah keselamatan melalui Israel adalah Abram/Abraham.

Menarik, karena mengawali catatan tentang Abram/Abraham, Alkitab mencatat, “Sarai itu mandul, tidak mempunyai anak” (ayat 30). Ini menjadi sebuah tema utama yang mewarnai kehidupan Abram/Abraham seterusnya. Suatu kondisi yang pada zaman itu dianggap sebagai tanda “tidak diberkati” Tuhan.

Kondisi “tidak diberkati” ini kemudian dikontraskan dengan janji Allah kepada Abraham. Allah berjanji bahwa oleh keturunan Abraham, semua bangsa di bumi akan memperoleh berkat (Kejadian 22:17). Memang dalam konteks Abraham, keturunan yang dimaksud adalah Ishak. Namun dalam Surat Galatia 3:16, Paulus menyatakan bahwa yang dimaksud dengan keturunan disini adalah Yesus Kristus.

Allah setia pada janjiNya dan mewujudkannya bagi Abraham, dengan mengubah kondisi Abraham yang “tidak diberkati” menjadi “terberkati”. Kejadian 25:11 mencatat satu kalimat penting, “Setelah Abraham mati, Allah memberkati Ishak, anaknya itu.” Perhatikan, ada peralihan dari keadaan “Sarai mandul” menjadi “Allah memberkati Ishak”. Ada peralihan dari kondisi “tanpa berkat” menjadi “Allah memberkati.” Allah terbukti setia pada janjiNya dan terbukti sanggup mewujudkan berkat keselamatanNya bagi umatNya. Dalam hal ini, kesetiaan janji Allah dikaitkan dengan berkat Allah yang merupakan kebutuhan ultimat manusia, yaitu KESELAMATAN.

Kesetiaan Allah pada janjiNya kepada Abraham itu, terbukti pula dari kehidupan kita –bangsa-bangsa lain di muka bumi– yang pada akhirnya memperoleh berkat dari keturunan Abraham itu. Dan Allah hendak terus menggenapi janjiNya itu kepada banyak orang-orang lain dari bangsa-bangsa itu. Allah telah memakai Abraham dan Sarai, karena itu bagaimana dengan kita? Akankah kita menyerahkan diri kita untuk dipakai Tuhan membuktikan kesetiaan janjiNya kepada orang-orang lain dari bangsa-bangsa itu? Dalam kesetiaanNya, Ia sanggup mengubah keadaan “tidak diberkati” menjadi “yang diberkati“.

Kepada jemaat aku kemudian mengatakan, “Pak Citra hanyalah salah satu dari ribuan orang yang telah mengalami pengalaman dimana Allah telah terbukti setia menepati janjiNya.” Dan berkaitan dengan perayaan ulangtahun beliau, yang bisa jemaat lakukan adalah, “meneladani teladan yang Pak Citra telah tinggalkan, dimana dalam pelayanannya, Allah telah menunjukkan diriNya sebagai Allah yang setia menepati janjiNya.”

Bersyukur karena seorang jemaat merasa diberkati dengan kotbah ini. Sementara seorang rekan rohaniwan yang lain mengatakan bahwa melalui kotbah ini, Tuhan memberikan peneguhan kedua atas pergumulan yang sedang ia gumuli. Puji TUHAN.

(Disampaikan Ibadah Syukur dalam rangka Peringatan Hari Ulangtahuan Pdt. Yusuf Citra, Minggu/4 Mei 2008)

Categories: Tulisan | Tags: , , | Leave a comment

Kejadian 2:18-25. Reunion


Nats: Kejadian 2:18-25. Reunion
Oleh: Sdr. Alfred Jobeanto

Rekanku, Alfred Jobeanto, berkotbah dari Kejadian 2:18–25 dan 3:1, 6, 11–12. Disitu ia menunjukkan ada kontradiksi, ketika sebelum ada dosa, Adam bersukacita menemukan Perempuan, dan ini menunjukkan kebutuhannya akan Perempuan (Kej.2:23). Namun setelah ada dosa, Adam menyalahkan perempuan itu, menunjukkan betapa Hawa kini hanyalah ancaman (Kej.3:12). Jadi, titik perubahan Adam adalah pada sikapnya terhadap Hawa. Ini menunjukkan adanya relasi yang dihancurkan Iblis.

Dalam menemukan pasangan hidup, agar kita tidak salah memilih.Tanyakan, adakah perempuan itu punya modal yang tepat untuk mendukung pelayanan kita (secara mendasar, punya relasi dengan Kristus), dan untuk bisa bersatu?

Manusia seringkali bergerak karena survival instinct, termasuk dalam pernikahan. Namun sebenarnya, pernikahan adalah re-union; dari tulang rusuk Adam, keluar Hawa, lalu laki-laki itu menjadi satu lagi dengan perempuan.

(Disampaikan pada Ibadah Chapel Malam STTRII, Selasa/9 November 2004)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , | Leave a comment

Kejadian 3. Decreation


Kejadian 3. Decreation
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Di dalam Alkitab dinyatakan empat titik penting dalam sejarah manusia, yaitu:
(1). Creation/Penciptaan;
(2). Fall/Decreation/Kejatuhan/Pembalikkan Ciptaan;
(3). Redemption/Penebusan dalam Kristus Yesus; dan
(4). Glorification/Pemuliaan.
Inilah adalah isi iman Kristen; yang merupakan keunikan iman Kristen, dan ini membedakan iman Kristen dari agama dan kepercayaan lain.

Sekarang kita akan mempelajari lebih detil tentang Kejatuhan Manusia ke dalam Dosa. Kejadian 2:4b–5 mencatat, ”Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu.”

Menarik untuk diperhatikan bahwa:
1. Akhirnya, semak pertamakali dicatat keberadaannya, sebagai bagian dari kutukan Tuhan akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa – Kej. 3:17–18.
2. Tumbuhan di padang pertamakali dicatat keberadaannya, sebagai bagian dari kutukan Tuhan akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa – Kejadian 3:17–18. Ini menunjukkan kegersangan bukanlah bagian rencana Allah.
3. Hujan yang pertamakali jatuh ke atas bumi dicatat keberadaannya, sebagai bagian dari hukuman Tuhan atas kejahatan penghuni bumi di zaman Nuh – Kejadian 7:4.
4. Orang yang mengusahakan tanah dapat kita temukan pertamakali dalam figur Kain yang kemudian dikutuk Tuhan, karena membunuh adiknya, Habel – Kejadian 4:2, 12.

Singkatnya, dari Kejadian 2:4b–5 kita diberitahu bahwa ketika Tuhan Allah menjadikan bumi dan langit, belum ada dosa (Belum ada semak dan padang gersang; belum ada hujan untuk menghukum keberdosaan; belum ada kutukan terhadap manusia, sebagaimana yang terjadi terhadap Kain). Pada saat belum ada dosa itulah, Tuhan menciptakan manusia. Allah memberikan Taman Eden sebagai rumah manusia pertama (Kej.2:7–8).

Allah kemudian menjalin relasi dengan manusia ciptaanNya itu melalui sebuah Kovenan (Perjanjian) Kerja; menyatakan bahwa Adam harus “mengusahakan dan memelihara taman (Eden) itu” dan kepada Adam, Tuhan berfirman, “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kej.2:15 – 17).

Perlu diperhatikan! Ketika Allah memberikan perintah ini, Perempuan belum dijadikan, sehingga tidak mendengar langsung larangan itu. Kejadian 2:25 mencatat, “Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.” Ketika dosa belum masuk kedalam hidup manusia, ketelanjangan baik secara jasmani maupun rohani, bukanlah sesuatu yang memalukan. Ini terjadi karena memang, baik secara jasmani maupun rohani, tidak ada satu kelemahan pun yang perlu membuat manusia malu. Semua ada dalam kondisi baik, benar, dan suci. Tidak ada pikiran jahat atau kotor yang dapat membuat oranglain malu, dan tidak ada kejahatan moral yang perlu ditutup-tutupi. Ada kemuliaan Allah yang terpancar dengan jernihnya dari kehidupan manusia. Kita akan melihat kemudian, bagaimana akhirnya kemuliaan ini merosot akibat dosa, sebagaimana yang tercantum dalam Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan (merosot) kemuliaan Allah.

Perlu diperhatikan bahwa dalam Kejadian 2:25 dicatat kalimat, “manusia dan isterinya itu.” Jadi, setelah Tuhan membentuk Perempuan dari tulang rusuk Adam, Tuhan kemudian memberkati mereka. Demikian Adam dan Perempuan menjadi suami–isteri, dan barulah setelah Tuhan memberkati mereka, mereka diperintahkan (baru diijinkan) untuk beranak-cucu!

Iblis memakai ular untuk memperdaya manusia dan memancing manusia untuk melawan perintah Allah. Kejadian 3:1 mencatat bahwa ular adalah binatang yang paling cerdik, dan dalam kecerdikannya ular kemudian menipu Perempuan, mungkin sebagai strategi serangan dengan memperhitungkan bahwa Perempuan bukanlah pendengar pertama yang mendengarkan langsung larangan Allah.

Kejadian 3:6 mencatat bahwa Perempuan memakan buah dari pohon terlarang, lalu memberikannya kepada suaminya. Ternyata sudah dari sejak mulanya, Perempuan dapat menjadi sosok yang dapat sangat melemahkan daya pertahanan laki-laki.

Lalu darimanakah dosa itu berasal? Kejadian 3:6 menyiratkan bagaimana Hawa memiliki keinginan untuk memakan buah terlarang dan terpikat olehnya. Jadi keinginan menjadi awal dosa. Yakobus 1:14–15 mencatat, “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” Namun kekristenan tidak mengajar kita untuk menyingkirkan segala keinginan, melainkan menyediakan diri agar keinginan kita dikuduskan bagi Allah, sehingga keinginan kita selaras dengan kehendak Allah.

(Disampaikan dalam Sekolah Minggu Dewasa GK Kristen Kalam Kudus Jayapura, 2008. Telah disunting untuk kepentingan blog ini).

Categories: Tulisan | Tags: , | Leave a comment

Kejadian 4:17 & 26. Antara Henokh dan Enos


Nats: Kejadian 4:17 & 26.
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Dalam ibadah Komisi Pemuda di hari-hari Kamis sebelumnya, kita telah belajar bahwa manusia pertama, Adam, dan isterinya, mendapatkan seorang anak laki-laki bernama Kain, karena pertolongan TUHAN. Arti nama Kain adalah “telah mendapatkan”. Ini sesuai dengan pengakuan Hawa setelah ia melahirkan Kain, yaitu “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN” (Kejadian 4:1). Selanjutnya, Habel, adik Kain pun dilahirkan.

Kain yang harusnya bersyukur karena kehadirannya ke dunia adalah karena pertolongan TUHAN, justru hidup di dalam kejahatan. Dan dalam kejahatannya, ia membunuh adiknya Habel. Nama Habel yang artinya “kehampaan; kekosongan; atau nafas (uap nafas)” sungguh menggambarkan keadaan Habel yang memang hanya sebentar saja ada di dunia ini; seperti sehembus tarikan nafas saja.

Rencana TUHAN tidak gagal karena kejahatan Kain. TUHAN pun menghadirkan adik yang lain bagi Kain, kali ini diberi nama Set. Arti nama Set adalah “pengganti; penggantian; orang yang ditetapkan; atau pondasi atau dasar.” Nama ini tepat, karena memang untuk selanjutkan, Set menjadi seperti pondasi atau dasar untuk keberlanjutan keturunan Ilahi yang akan menggenapi rencana keselamatan TUHAN. Kelak, dari keturunan Set, Juruselamat kita, Yesus Kristus, akan lahir, menderita, mati di kayu salib untuk menggantikan dan menebus kita dari dosa-dosa kita, lalu bangkit dari kematian demi keselamatan kita.

Dalam ibadah Komisi Pemuda di hari-hari Kamis sebelumnya, kita juga telah belajar bahwa sebagai hukuman TUHAN atas kejahatan Kain, TUHAN mengutuk Kain, “terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah” Habel (Kej.4:11); Kain menjadi pelarian dan pengembara di bumi. Menjadi pengembara artinya Kain berjalan tanpa arah dan tujuan hidup yang jelas.

Sebagai seorang manusia yang berada di bawah kutuk TUHAN; yang arah dan tujuan hidupnya tidak jelas, Kain pun kemudian menetap di Tanah Nod (Kej.4:16). Nod artinya “pengembara; orang yang berkelana; atau pelarian”. Jadi Kain si pengembara menetap di tanah pengembara; Kain orang yang hidup tanpa arah dan tujuan, kini hidup di negeri pelarian.

Di Nod, “Kain bersetubuh dengan isterinya dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Henokh” (Kej.4:17). Timbul pertanyaan, siapakah isteri Kain? Ada gereja tertentu yang mengajarkan bahwa tidak mungkin Adam dan isterinya adalah manusia pertama. Menurut ajaran gereja itu, ada kelompok manusia lain selain Adam dan isterinya, sehingga Kain pun pastilah menikah dengan keturunan kelompok manusia lain tersebut.

Namun pandangan ini bukanlah yang diajarkan Alkitab. Alkitab menceritakan kepada kita bahwa Adam dan isterinya adalah manusia pertama. Pada zaman itu, nampaknya TUHAN mengijinkan untuk Kain menikah dengan saudarinya sendiri. Alkitab mencatat bahwa setelah melahirkan Kain dan Set, Adam dan isterinya masih memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan (Kej.5:4).

Mengapa menikahi Saudari sendiri masih dimungkinkan? Pertama, secara Psikologis, ikatan batin antara Kain dan adiknya mungkin tidak terlalu dekat mengingat usia manusia zaman itu sangat panjang, sehingga mungkin saja Kain menikahi adiknya yang jarak usianya jauh dengan dirinya, sehingga tidak terlalu terasa adanya kerisihan karena ikatan batin kekeluargaan. Kedua, Karena jumlah manusia masih sedikit, sedangkan mandat TUHAN adalah untuk manusia beranak cucu; bertambah banyak; dan memenuhi bumi. Mandat itu hanya mungkin tercapai apabila manusia di zaman itu, menikahi saudarinya sendiri. Tidak mungkin untuk memenuhi mandat itu, manusia lalu mengawini seekor Kambing atau Kuda. Jadi TUHAN mengijinkan manusia zaman itu untuk menikahi saudarinya sendiri, tanpa harus terkena penyakit tertentu. Saat ini, penyakit-penyakit yang ditimbulkan karena menikahi kerabat dekat atau keluarga dekat timbul, justru karena dengan tindakan-tindakan manusia semacam itu, mengancam mandat TUHAN untuk manusia memenuhi bumi. Saat ini jumlah manusia sudah banyak di seluruh penjuru bumi, jadi jika manusia hanya mau menikahi kerabat dekat atau keluarga dekatnya sendiri, itu artinya manusia akan cenderung terkumpul dalam satu kelompok di satu tempat tertentu saja, dan cenderung tidak menggenapi mandat TUHAN untuk memenuhi bumi. Jadi keberadaan Saudara yang saat ini ada di perantauan, menjadi salah satu cara TUHAN menggenapi rencanaNya dalam kehidupan Saudara.

Dalam Kejadian 4:17 kemudian dicatat bahwa Kain mendirikan suatu kota. Kata “kota” disini memakai bahasa Ibrani “ir” yang artinya “kota atau kota kecil.” Kain, yang dikutuk TUHAN, berusaha mencairkan kutukan TUHAN; Kain mengupayakan penebusan bagi dirinya sendiri, dengan caranya sendiri; Kain berusaha menyelesaikan masalah dosa yang dihadapinya dengan kekuatannya sendiri. Bukannya bertobat, Kain malah mengasihani diri sendiri (Kej.4:13), dan berusaha menyelesaikan masalah dosanya dengan caranya sendiri. Ia yang dikutuk menjadi pengembara tanpa arah dant tujuan, berusaha mengatasi hukuman TUHAN itu dengan menetap di tanah pengembaraan dan mendirikan sebuah kota.

Awalnya, kota itu hanya kota kecil saja. Tapi itu menjadi tanda cikal bakal pemberontakan manusia yang terus meningkat. Manusia mendirikan kota untuk melawan rencana TUHAN agar manusia memenuhi bumi. Mereka tidak mau terserak. Mereka melawan mandat TUHAN. Pada akhirnya, pemberontakan manusia mencapai puncaknya pada peristiwa Kota Babel yang menaranya tinggi sampai ke langit (Kej.11).

Kain menamai kota itu Henokh. Artinya kata Henokh adalah “dedikasi; prakarsa; guru.” Ki Hajar Dewantara pernah mengajukan satu semboyan bahwa seorang guru itu, “Ing ngarso sung tulodo; ing madya mbangun karsa; tut wuri handayani” (di depan memberi teladan; di tengah memberi semangat; di belakang memberi dorongan). Demikianlah, Henokh, ia menjadi teladan bagi generasi Kain yang selanjutnya. Ia adalah tokoh yang memprakarsai kehidupan pemberontakan melawan TUHAN dari keturunan-keturunan Kain selanjutnya. Dengan memberi nama kota itu dengan menggunakan nama anaknya, Henokh, Kain mewariskan pemberontakannya kepada TUHAN kepada keturunannya, dan Henokh menjadi penerus upaya Kain dalam meninggikan diri menyaingi TUHAN.

Apabila Kain dan anaknya, Henokh, mengupayakan pemberontakkan kepada TUHAN dan mandatNya, bagaimana dengan Set (pengganti Habel)? Alkitab mencatat bahwa Set memiliki anak bernama Enos. Enos artinya “Adam (manusia); manusia yang lemah (yang tidak bisa terhindar dari maut); mudah pecah (fragile; rapuh).” Dan menarikanya, Alkitab mencatat, “Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN” (Kej.4:26).

Kita melihat kontras disini; antara keturunan Kain dan keturunan Set. Keturunan Kain meninggikan diri di hadapan TUHAN; sedangkan keturunan Set, di dalam kerapuhan mereka sebagai manusia, mereka memanggil nama TUHAN. Dalam Alkitab bahasa Korea, kalimat di ayat 26 ini berbunyi, “Waktu itu barulah orang-orang memulai ibadah sambil memanggil nama TUHAN.”

Ini menjadi bahan refleksi bagi kita. Hendak menjadi seperti keturunan yang manakah kita? Keturunan Set? Ataukah Keturunan Kain? Keturunan Ilahi yang memanggil nama TUHAN di dalam kerapuhan kita? Ataukah keturunan ular yang meninggikan dirinya di hadapan TUHAN? Ketika sore ini kita mengadakan persekutuan doa seperti ini, sesungguhnya kita sedang belajar untuk menjadi seperti orang-orang di zaman Enos, yang meskipun kita ini rapuh, tapi hendak mengandalkan diri kita kepada kekuatan TUHAN.

(Disampaikan dalam Persekutuan Doa Komisi Pemuda GK Kalam Kudus Jayapura, Kamis/25 April 2013)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , | Leave a comment

Kejadian 4:11-16. Mengembara seperti Kain?


Nats: Kejadian 4:11-16
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Kain adalah manusia yang pertamakalinya dalam sejarah dikutuk oleh TUHAN. TUHAN mengatakan kepada Kain, “Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi” (Kejadian 4:12).

Kain dikutuk “terbuang jauh dari tanah“. Tentang tanah, kalau kita ingat Kejadian 3:17, dicatat di sana kutukan TUHAN atas tanah, “terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu“. Jadi tanah dikutuk, dan Kain masih dikutuk lagi sehingga jauh dari tanah. Dikatakan dalam Kejadian 4:12, “tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepada” Kain. Jadi, tanah sudah terkutuk dan manusia sulit mendapatkan rezeki daripadanya, dan Kain yang terkutuk menjadi lebih sulit lagi mendapatkan rezeki dari tanah yang sudah terkutuk itu, karena tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi baginya. Jadi, kesulitan yang dialami Kain dua kali lipat.

Kita bayangkan keadaan Kain. Sebelum Kain dikutuk, Kain sudah susah payah mendapatkan rezeki dari tanah, dan kini Kain dikutuk, dan itu membuatnya lebih sulit lagi mendapat rezeki dari tanah. Seandainya Kain mencoba menanam padi di sawah, maka sawah itu tidak akan sepenuhnya menghasilkan lagi. Kalau dia mencoba berkebun, kebun itu pun tidak memberi hasil yang sepenuhnya lagi. Kalau dari tanah, Kain sudah tidak dapat memperoleh rejeki, maka jalan satu-satunya adalah ia harus nomaden (hidup berpindah-pindah), misalnya untuk berburu, dan Alkitab menyebutnya dengan istilah “pelarian dan pengembara di bumi“.

Mengadakan perjalanan berbeda maknanya dengan mengembara. Ketika Yesus mengadakan perjalanan, Ia memiliki arah dan tujuan. Tujuannya jelas. Tapi ketika Kain mengembara, itu artinya tanpa arah dan tujuan. Karena keberdosaannya, Kain kini memiliki kehidupan yang tanpa arah dan tujuan. Berdosa saja sudah malang, apalagi kalau hidup tanpa arah dan tujuan! Bagaimana dengan Anda?

Apakah Anda sudah mengetahui arah dan tujuan yang jelas dalam hidup Anda? Apabila Anda belum jelas arah dan tujuan hidupnya, bisa berarti dua hal:

1. Anda masih hidup di dalam dosa, sehingga tidak jelas arah hidupnya.

2. Anda sudah hidup di dalam Tuhan, namun masih bergumul dan masih dalam proses untuk menemukan arah dan tujuan hidup.

Mari kita saling berbagi cerita agar lebih saling mengenal, bagaimana kondisi Anda saat ini? Kalau Anda masih belum jelas arah dan tujuan hidupnya, jangan malu untuk cerita! Kalau itu disebabkan karena kehidupan dalam dosa, bertobatlah! Percayalah kepada Tuhan Yesus yang telah mati menebusmu dari dosa-dosamu melalui pengorbananNya di atas kayu salib. Mintalah Ia memberikan kepadamu tujuan hidup yang jelas untuk mengarungi hidup ini. Kalau Anda sudah hidup di dalam Yesus, mungkin Anda masih dalam proses untuk menemukan arah dan tujuan hidupmu!

Saya pribadi, sudah jelas arah dan tujuan hidup saya. Ada ayat-ayat yang sejak bertahun-tahun lalu begitu berkesan bagi saya. Sebagaimana yang saya tuliskan dalam blog saya, arah dan tujuan hidup saya adalah untuk “memberitakan (karena saya punya karunia berkotbah dan menulis); memperlengkapi (karena saya punya karunia pengetahuan); dan menggembalakan (meski untuk yang satu ini, saya tidak menyukainya. Namun seringkali situasi, telah TUHAN pakai untuk mengurung kita agar melakukan panggilan tertentu).” Dan berapa tahunkah yang saya butuhkan untuk sampai pada arah dan tujuan ini? Lima belas tahun dari sejak pertobatan saya di masa SMA.

[Kesaksian dari masing-masing pengunjung ibadah]

Ketika kita lahirbaru dan percaya Tuhan Yesus, kita diciptakan baru untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan baik yang TUHAN sudah persiapkan sebelumnya (Efesus 2:10). Itulah panggilan kita; itulah arah dan tujuan kita hidup. Saya hidup sebagai orang Kristen, memiliki tujuan!

Tadi kita sudah mendengar kesaksian Andi yang mengatakan ingin melayani TUHAN; lalu Jimmy yang menyatakan baru sampai pada tahap untuk mengenal TUHAN lebih dalam lagi (sebuah proses yang juga masih menjadi bagian dari kehidupan kita semua); lalu Vivi dan kawan-kawan yang masih dalam proses bergumul menemukan arah dan tujuan hidup; kemudian Pak Leo yang menceritakan tentang panggilannya sebagai guru, dan ketika ia mencoba tawaran-tawaran pekerjaan lain, situasi-situasi telah TUHAN pakai untuk menuntun ia kembali lagi ke dalam panggilannya sebagai guru; lalu Pak Irvin yang terpanggil menjadi teolog. Semua kita memiliki panggilan yang berbeda-beda sesuai ukuran yang TUHAN berikan.

Saya pernah menyaksikan film Habibie dan Ainun. Di dalam film itu, saya menonton adegan dimana Habibie menyatakan cita-citanya, yaitu untuk membuat sebuah pesawat terbang. Ini menjadi tujuan hidupnya. Akhirnya tujuan itu tercapai, meskipun dalam adegan lainnya, sementara Habibie di kamar mandi, dua orang mengejek pesawat buatan Indonesia. Salah satu (wartawan) dari dua orang itu bercerita, “Suatu hari ada pesawat Amerika terbang melintasi negara lain, lalu ditembaki dan jatuh. Kemudian, pesawat dari Indonesia melintas negara itu, namun didiamkan saja. Orang lalu bertanya, ‘Mengapa tidak ditembak?’ Lalu sesamanya menjawab, ‘tidak usah ditembak, nanti juga jatuh sendiri!’” Ini adalah lelucon ejekan yang menunjukkan bahwa orang Indonesia tidak percaya diri dengan hasil anak bangsanya sendiri. Padahal cita-cita Habibie sangat luhur. Dalam sebuah adegan lain, sambil menangis Habibie berkata kepada Ainun tentang harapannya bahwa Indonesia sanggup memproduksi banyak pesawat sendiri, lalu dengan pesawat buatan sendiri itu, Indonesia sanggup menghubungkan pulau-pulau yang ada di tanah air, dan pembangunan pun akan maju. Apakah cita-cita ini kurang mulia? Padahal Habibie, bukan orang yang percaya!

Orang yang lain, bisa memiliki tujuan hidup yang sama luhurnya seperti Habibie, dan tetap tidak percaya Kristus, namun mengatakan bahwa apa yang ia perjuangkan adalah untuk kepentingan orang banyak; bangsa dan negara; dan untuk kepentingan TUHAN-nya! Pada saat yang sama, orang Kristen pun bisa memiliki tujuan hidup yang sama luhurnya, lalu mengatakan bahwa itu ia lakukan untuk kemuliaan TUHAN. Jadi baik yang tidak percaya Kristus, maupun yang percaya Kristus, sama-sama mengatakan bahwa tujuan hidup yang diperjuangkannya adalah demi Allah. Lalu apa bedanya? Saya percaya, bedanya adalah pada Allahnya! Persoalannya kini adalah, yang mana Allah yang sejati!

Kita percaya ketika kita hidup sesuai tujuan hidup kita, itu adalah untuk memuliakan Allah. Dan Allah kita adalah Allah yang sejati, yang membuat apa yang kita kerjakan bernilai kekal. Allah mana, yang karena kasihNya kepada umatNya, mau dan rela turun ke bumi menjadi manusia, dan mati menebus dosa umatNya, lalu bangkit dari kematian, dan naik ke sorga menyediakan tempat bagi kita di sorga. Hanya Allah kita di dalam Tuhan Yesus Kristus! Dan karena iman kita kepada Kristus, kita beroleh jaminan kepastian keselamatan, bahwa sekalipun saya mati hari ini, saya pasti mendapatkan sorga, karena Kristus telah menjaminnya bagi saya.

Namun pertanyaannya? Apakah kehidupan kita yang telah ditebus Kristus ini lebih bertujuan daripada mereka yang belum mengenal Kristus? Apakah kita mau seperti Kain, yang hidup dalam dosa sehingga dikutuk TUHAN, lalu menjalani kehidupan ini tanpa arah dan tujuan.

Bagaimana respon Kain sendiri setelah mendengar kutukan TUHAN? Dalam Kejadian 4:13-14, kita membaca bahwa Kain bukannya bertobat dan minta belas kasihan TUHAN, ia malah mengasihani diri sendiri (self-pity). Orang yang mengasihani diri sendiri beranggapan dirinya adalah orang yang sangat susah dan paling menderita di dunia. Sambil menatap langit ia mengasihani diri sendiri. Sambil menatap keluar jendela sementara hujan rintik-rintik membasahi kaca jendela, ia mengasihani diri sendiri. Inilah sikap kain, ia mengasihani diri sendiri, dan bukannya minta belaskasihan TUHAN.

TUHAN masih beranugerah kepada Kain. Ayat 15 mencatat bahwa TUHAN memberikan tanda agar Kain terlindung dari upaya pembunuhan. Ayat 16 kemudian mencatat, “Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden.” Kain pergi dari hadapan TUHAN. Keturunan Kain selanjutnya pun menjadi orang-orang yang “pergi dari hadapan TUHAN.” Ini akan kita pelajari dalam kesempatan dalam minggu-minggu yang akan datang!

Bagaimana kita menemukan panggilan hidup kita; arah dan tujuan yang TUHAN sudah persiapkan bagi kita untuk kita kerjakan?

1. Temukan apa karunia rohani dan talenta alamiahmu.

Tuhan memberikan panggilanNya bagi kita dengan memperlengkapi kita dengan karunia rohani dan talenta alamiah untuk memungkinkan kita mengerjakan panggilan itu dengan optimal. Saya, misalnya, memiliki panggilan untuk “memberitakan (karena saya punya karunia berkotbah dan talenta menulis); memperlengkapi (karena saya punya karunia pengetahuan); dan menggembalakan (meski untuk yang satu ini, saya tidak menyukainya. Namun seringkali situasi, telah TUHAN pakai untuk mengurung kita agar melakukan panggilan tertentu).”

2. Perhatikan pimpinan TUHAN melalui situasi yang mengurungmu.

Seperti yang dialami Pak Leo tadi. Saya sendiri, pernah melamar kerja menjadi tukang pijit, tapi situasi TUHAN pakai untuk menunjukkan bahwa itu bukan panggilan TUHAN bagi saya. Semasa SMA, saya bercita-cita jadi pilot, tapi kondisi gigi, buta warna, dan kemampuan Matematika saya tidak memungkinkan saya menjadi pilot. Kemarin saja saya dimintai tolong mengajar siswa kelas lima SD belajar pecahan, dan saya sudah kelabakan.

3. Perhatikan saran-saran dari oranglain yang dewasa rohani.

Seringkali saudara seiman kita lebih mengenal kita, melebihi kita mengenal diri kita sendiri.

4. Pada orang-orang tertentu, mereka juga mendengar suara TUHAN yang menunjukkan dengan jelas apa arah dan tujuan hidup yang Allah mau mereka kerjakan. [Atau dalam kasus saya, TUHAN berbicara melalui Firman TUHAN yang tertulis, yaitu Alkitab. Ada ayat-ayat tertentu yang begitu berkesan di dalam batin saya, yang seolah-olah menuntut untuk saya renungkan terus-menerus].

Jadi ingat Kain! Kain mengalami empat kemalangan:
1. Ia hidup dalam dosa dan dikutuk TUHAN.
2. Ia hidup tanpa arah dan tujuan.
3. Ia hidup mengasihani diri sendiri.
4. Ia pergi dari hadapan TUHAN, berikut keturunannya.
Apakah kehidupanmu seperti kehidupan Kain? Jika ya, bertobatlah, dan minta pertolongan TUHAN untuk menolongmu menemukan arah dan tujuan hidup yang Ia mau engkau hidupi dan jalani untuk kemuliaan TUHAN!

(Disampaikan dalam Persekutuan Komisi Pemuda, GK Kalam Kudus Jayapura, Kamis/18 April 2013)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , | Leave a comment

Kejadian 3:15. Dua ciri Keturunan Ular


Nats: Kejadian 3:15
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Tadi malam saya mendadak dihubungi untuk menggantikan pembicara yang harusnya hari ini berkotbah. Saya berpikir-pikir, “Tuhan, apa yang harus saya bagikan, ya?” Kalau mengikuti jadwal, harusnya saya berkotbah dari Kejadian 3:15. Tapi saya juga terdorong untuk berkotbah topik terkait kebangkitan Yesus, mengingat kita masih ada dalam masa raya Paskah, yang terentang dari sejak Februari hingga Pentakosta di bulan Mei besok. Puncak masa raya Paskah memang ada pada Minggu Kebangkitan kemarin, tapi masih terus kita peringati hingga Pentakosta di bulan Mei. Sementara saya mempertimbangkan, tadi malam sepulangnya dari ibadah, saya dan isteri dikejutkan oleh adanya seekor ular menggelantung di langit-langit dapur rumah saya. Ini kali kedua saya bertemu langsung dengan ular.

Dahulu ketika saya masih SMP, sementara saya dan ibu saya berjalan kaki di petang hari di jalan raya, kami berpapasan dengan seekor ular. Ibu saya menjerit dan menghentikan langkahnya, sedangkan saya -spontan- entah dengan kekuatan darimana melompati ular itu dan melompat dengan tinggi sekali. Dalam perjumpaan kedua dengan ular ini, saya tidak lagi dilindungi ibu saya, melainkan kini harus melindungi isteri saya. Meskipun saya sudah terlanjur bertelanjang dada, saya terpaksa tetap harus pergi ke rumah tetangga untuk meminta bantuannya mengatasi ular itu. Ternyata tetangga saya juga tidak tahu cara mengatasi ular itu. Akhirnya saya pinjam parangnya yang panjang dan sudah agak rusak. Tetangga saya membantu menjolok ular itu agar jatuh, dan ketika jatuh, dengan sigap saya membacoknya berkali-kali, dengan mengincar leher atau kepalanya.

Setelah itu, saya update status di situs jejaring sosial. Saya menulis, Sepulangnya melayani dlm ibadah rayon, aku dan istri mendapat anugerah pengalaman membunuh seekor ular yg bertengger di langit-langit dapur dgn bantuan pinjaman parang dari tetangga. Seusai aksi pembantaian itu, aku pun memohon kepada istriku, ‘Ly, karna ini peristiwa khusus, boleh donk aku update status?’ Isteriku yg biasanya tidak hobi update status langsung mengangguk dan berkata, ‘Ya ya ya, mestinya tadi difoto.’ Hehehe.” Salah seorang teman saya, orang Batak, menulis comment, “Bah!!!kau bantai rupanya ular itu?” Dan saya pun menjawabnya, “iya bro. kalo ada orang batak disini, itu ular pasti sudah di atas meja makan. kita santap bersama hehehe.” Kembali dia menjawab, “Huahahahhah!kirimkanlah kawan ke Jakarta kaloh begitu….

Isteri saya cukup takut dalam peristiwa itu. Ia mengatakan kepada saya, “Iya ya, entah bagaimana, ketika kita berhadapan dengan hewan bernama ular, pasti instink kita langsung mengatakan bahwa itu berbahaya.” Saya pernah membaca sebuah buku tentang Sains Kognitif. Dan dalam buku itu dijelaskan bahwa ketika kita berhadapan dengan hewan ular, entah bagaimana, instink kita secara alamiah akan mengatakan bahwa ini adalah binatang yang berbahaya. Alarm alamiah dalam diri kita langsung berbunyi. Antena radar kita langsung naik dan siaga. Instink ini muncul ketika kita berhadapan dengan ular, tapi tidak ketika kita berhadapan dengan kelinci, misalnya. Sehebat-hebatnya seorang pawang ular, jauh dalam dirinya pun tetap ada kesadaran bahwa hewan yang akrab dengan kehidupannya ini adalah sesuatu yang berbahaya. Bahkan meskipun ia tidur dengan ular sekalipun, ia tetap memiliki perasaan bahwa hewan ini mengandung ancaman atau bahaya. Bahkan meskipun seseorang hidup dan mendapatkan nafkahnya dari penjualan ular sekalipun (misalnya dengan menjual empedu ular, yang juga saya konsumsi untuk mencegah malaria), ia tetap memiliki perasaan bahwa hewan ini mengandung ancaman atau bahaya.

Apakah perasaan dan alarm bahaya ketika berhadapan dengan ular ini, muncul akibat Kejadian 3:15? Saya tidak tahu pasti. Kejadian 3:15 ini di sebut Proto-euangelion oleh Bapa Gereja Irenaeus. Proto artinya pertama (seperti pada kata prototype ketika engkau menciptakan suatu benda); lalu euangelion artinya kabar baik atau Injil. Jadi proto-euangelion disebut Injil yang pertama. Ternyata, jauh sebelum ada Kitab Matius, Markus, Lukas, Yohanes (empat kitab Injil), di dalam Kitab Kejadian, ada Injil yang pertama, yaitu dalam Kejadian 3:15.

Kejadian 3:15 menunjukkan realitas yang lebih besar lagi, dari sekadar “saya membunuh ular di langit-langit rumah.” Sesungguhnya Kejadian 3:15 ini menunjuk dan berpuncak pada karya Yesus Kristus di atas kayu salib. Yesus mati di atas kayu salib “meremukkan kepala ular” (bukan dalam arti hurufiah). Dan keturunan ular “meremukkan tumit” Tuhan Yesus (bukan dalam arti hurufiah). Kepala menunjukkan sesuatu yang vital. Ketika tumitmu diremukkan, itu tidak menimbulkan sesuatu yang fatal ketimbang kalau kepalamu diremukkan. Ketika tumitmu diremukkan, engkau tetap bisa hidup dan beraktivitas, tapi kalau kepalamu diremukkan, tidak mungkin engkau berjalan tanpa kepala.

Melalui karya Kristus di atas kayu salib, iblis mengalami kekalahan telak! Kita semua, umat Tuhan, tidak lagi ada dalam cengkeraman iblis, karena sudah ada korban tebusan yang berkuasa menebus kita. Iblis kehilangan mangsanya. Itu sebabnya, tepatlah apa yang digambarkan Mel Gibson dalam filmnya Passion of the Christ, ketika Yesus disalibkan dan mati, iblis berteriak kalah, dan bukannya tertawa.

Ada dua bagian Alkitab yang hendak kita baca, untuk belajar tentang dua ciri keturunan ular:

1. Tidak mengasihi Yesus.

Surat Yohanes 8:42-47, Yesus mengecam orang-orang Yahudi yang membenci Dia. Dalam ayat 42 dikatakan, “Kata Yesus kepada mereka: ‘Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah’.” Orang-orang Yahudi yang membenci Yesus tidak memiliki Allah sebagai Bapa mereka.

Yesus mengatakan lagi, “Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta” (ayat 44). Orang yang tidak memiliki Allah sebagai bapanya, tidak mengasihi Yesus. Dan orang yang tidak mengasihi Yesus, tidak mengerti bahasaNya; tidak dapat menangkap firmanNya. Ketika ia mendengar firman Tuhan, ia tidak antusias dan tidak mengerti. Seolah ada selubung yang menutupi pikirannya. Ia tidak nyambung dengan bahasanya Tuhan.

Orang yang saling mencintai, mengerti bahasa pasangannya. Tidak perlu pasangannya berkata-kata, hanya dengan kode mata, pasangannya sudah mengerti apa yang ia mau. Tapi memang ini perlu dilatih. Ketika saya dahulu masih berpacaran dengan isteri saya, kami biasa berpacaran di Mall Karawaci, karena dahulu isteri saya kuliah di Universitas Pelita Harapan. Proses pacaran kami sungguh tidak lepas dari pemeliharaan Tuhan. Dahulu kami pacaran jarak jauh, tapi Tuhan ijinkan ada program 100 sms gratis per bulan dari salah satu penyedia jasa telekomunikasi (saya tidak perlu sebut namanya karena saya tidak bermaksud promosi). Kemudian pacar saya diterima kuliah di UPH, dan itu membuat kami berhubungan jarak dekat. Karena saya pun masih berstatus mahasiswa (teologia), saya belum punya penghasilan tetap. Saya tidak tahu bagaimana mengapeli pacar saya di akhir pekan. Tapi Tuhan memelihara kami. Hampir setiap minggu, saya menerima undangan kotbah, dan ada saja rejeki dari Tuhan, sehingga kami bisa menjalin relasi. Kami pun biasanya berjalan-jalan dan makan di Mall Karawaci.

Suatu hari, saya mengajak isteri saya makan mie ayam. Padahal dia sebetulnya ingin makan ayam goreng. Dia sudah memberi isyarat kepada saya bahwa dia mau makan ayam goreng. Tapi saat itu saya tidak peka. Saya tetap mengajaknya makan mie ayam. Dia pun ngambek, lalu ketika saya tanya, dengan emosi dia mengatakan bahwa dia ingin makan ayam goreng, tapi saya tidak peka. Memang kepekaan mengerti bahasa dari pribadi yang kita cintai, perlu dilatih.

Evaluasi dirimu! Apakah Engkau memiliki antusiasme terhadap firman Tuhan? Ataukah Engkau selalu saja sulit memahami kebenaran seolah ada selubung menutupi pikiranmu? Bertobatlah! Mintalah Roh Kudus untuk memperbarui dirimu! Minta Tuhan menyingkap selubung dalam pikiranmu!

Dalam ayat 44 dikatakan bahwa iblis adalah pembunuh manusia dari sejak mulanya. Bukankah itu terjadi pada manusia pertama? Iblis, melalui ular, membunuh manusia pertama. Ketika manusia pertama melanggar perintah Tuhan; mereka jatuh dalam dosa; mereka menjadi seperti daun yang dipetik dari pohonnya. Daun itu tetap hijau, tapi telah terpisah dari sumber makanannya. Seperti itulah keadaan kita. Kita tampak hidup; hijau; tapi kita terpisah dari sumber hidup kita, yaitu Allah. Kita mati secara rohani. Tapi secara fisik pun, kita mati perlahan-lahan, seperti daun itu layu, kering, dan mati perlahan-lahan.

Iblis juga dikatakan pendusta dan bapa segala dusta. Anda yang kelas XII (3 SMA) akan mengikuti Ujian Akhir Nasional selama empat hari ke depan. Pertanyaannya, apakah Engkau akan mencontek dan itu berarti berdusta? Kalau engkau masih melakukan itu, jangan-jangan iblis adalah bapamu?

Inilah ciri pertama keturunan ular. Keturunan ular tidak mengasihi Yesus; Sang Kebenaran. Keturunan ular tidak hidup dalam kebenaran.

2. Tidak mengasihi Saudara.

Surat 1 Yohanes 3:10 mencatat, “Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikianlah juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.” Anak-anak atau keturunan iblis tidak mengasihi saudaranya. Seperti siapa? Seperti Kain (ayat 12). Dikatakan dalam ayat tersebut bahwa “Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya.” Jadi, Kain adalah keturunan ular; ia termasuk anak-anak iblis; dia berasal dari si jahat.

Itu sebabnya, Kejadian 3 dilanjutkan dengan Kejadian 4 yang menarasikan Kain dan Habel. Kejadian 4 menceritakan dua garis keturunan, yaitu keturunan ular dan keturunan perempuan. Keturunan ular membunuh keturunan perempuan atau keturunan ilahi. Dan ini masih terus berlangsung sampai sekarang. Anak-anak iblis senantiasa berusaha membunuh anak-anak Allah. Mungkin kita tidak membunuh dalam pengertian harafiah, tapi Tuhan Yesus berkata, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum….” (Matius 5:21-22).

Perhatikan teladan Tuhan Yesus. Masih dalam masa raya Paskah ini, saya mengajak Anda membuka Yohanes 20:17. Di sana dicatat perkataan Yesus kepada Maria Magdalena, “tetapi pergilah kepada saudara-saudaraKu dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada BapaKu dan Bapamu, kepada AllahKu dan Allahmu.” Setelah kebangkitanNya dari kematian, Yesus menyebut murid-muridNya, “saudara-saudaraKu”. Dan kepada saudaraNya inilah, Yesus telah mati dan menebus mereka dari dosa-dosa mereka.

Kita pun adalah murid-murid Kristus. Kita disebut saudara-saudaraNya. Bahkan kalau mengacu kepada peristiwa kebangkitan Yesus; kebangkitan Yesus dapat dikatakan sebagai ‘yang sulung, yg pertama bangkit dari antara orang mati’ (Kolose 1:18; Wahyu 1:5). Mengapa disebut yang sulung? Karena setelah itu, kita pun akan dibangkitkan mengikuti Dia, dan akan mengenakan tubuh kemuliaan seperti Yesus juga. Jadi, yang ke sorga bukan hanya roh kita saja, lalu kita gentayangan seperti Casper, tidak! Kita akan menghuni langit dan bumi baru dengan mengenakan tubuh kemuliaan. Dalam konteks kebangkitan kembali, Dia adalah yang sulung, dan kita adalah adik-adikNya. Dia adalah saudara kita dalam kebangkitan dari kematian.

Inilah ciri kedua keturunan ular. Orang-orang yang termasuk ke dalam keturunan ular, tidak mengasihi saudaranya.

Evaluasi dirimu:

1. Apakah engkau mengasihi Yesus?

Bagaimana sikapmu dalam beribadah? Apakah engkau menghormati Tuhan? Apakah engkau masih suka mengunyah-ngunyah permen dalam ibadah? Kamu harus belajar dari anak-anak Sekolah Dasar di SDN Inpres-Lentera Harapan, Kampung Harapan, Sentani, tempat isteri saya mengabdi sebagai guru. Di sekolah itu, isteri saya dan rekan-rekannya mendidik anak-anak dari berbagai suku, Wamena, Sentani, pendatang, dan sebagainya. Murid-murid isteri saya yang berasal dari Wamena, masih tinggal satu rumah dengan babi. Tapi ketika mereka datang beribadah, sikap mereka sopan sekali. Mereka tidak lagi mengunyah-ngunyah permen dan bersikap hormat dalam beribadah. Kalian di hadapan saya, adalah orang-orang kota, bahkan mungkin tidur di atas ranjang, tapi dalam hal sikap beribadah, perlu belajar dari anak-anak Wamena yang masih tidur satu atap dengan babi. Apakah engkau mengasihi Yesus? Ini menjadi salah satu ciri apakah engkau keturunan ular atau bukan?

2. Apakah engkau mengasihi saudaramu?

Apakah engkau menyimpan benci kepada kakakmu? Apakah engkau menyimpan kemarahan kepada adikmu? Bertobatlah! Dan minta Tuhan memperbarui hatimu dengan Roh KudusNya. Ingatlah, ini adalah ciri yang lainnya lagi dari keturunan ular.

(Disampaikan dalam Ibadah Komisi Remaja GK Kalam Kudus Jayapura, Minggu/14 April 2013)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Kejadian 4:1-11. Ekspresikan Imanmu Sesuai Perkenanan Allah


Nats: Kejadian 4:1-11
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Setelah peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa, Allah tetap berkenan memelihara kehidupan umat manusia. Adam dan Hawa pun mendapatkan seorang anak laki-laki, yang kemudian dinamai Kain. Dalam Kejadian 4:1 dicatat, “Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: ‘Aku telah mendapatkan seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN’.” Mengapa patut bagi Hawa untuk mengucapkan kalimat syukur itu?

Jika kita telah membaca Kitab Kejadian pasal 1-3, kita mendapati bahwa Hawa adalah wanita pertama di dunia yang melahirkan anak. Adam dan Hawa sendiri, ada di dunia tidak melalui proses persalinan. Jadi Hawa tidak memiliki rekan sesama perempuan untuk berbagi cerita pengalaman masing-masing ketika bersalin. Tidak ada! Hawa bertanya kepada Adam pun, Adam juga tidak pernah melihat sebelumnya seperti apa itu wanita melahirkan! Mereka berdua pun tidak dapat memperoleh informasi apapun tentang persalinan dari majalah atau koran atau internet atau buku, karena siapa yang akan menulis tentangnya, mengingat Hawalah wanita pertama yang melahirkan anak. Mereka betul-betul baru dengan pengalaman persalinan ini! Karena itu, adalah teramat sangat wajar jika kemudian Hawa bersyukur dengan mengatakan “Aku telah mendapatkan seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN!

TUHAN sendirilah yang menolong Hawa melahirkan anaknya. Kita tidak terang bagaimana teknisnya. Apakah Allah berteofani menyerupai seorang bidan? Ataukah Allah mengutus malaikatNya untuk menolong Hawa melahirkan? Ataukan Adam diberikan hikmat khusus untuk menolong Hawa melahirkan?! Kita tidak jelas! Yang pasti, Hawa mengakui, adalah karena pertolongan TUHAN, sehingga ia dapat melahirkan seorang anak laki-laki.

Anak laki-laki itu kemudian kita kenal bernama Kain. Tentu Kain harus sangat bersyukur dengan fakta bahwa kehadiranNya di dunia adalah karena pertolongan TUHAN. Ketika Habel adiknya muncul ke dunia (di ayat 2), mamanya tidak dicatat sampai mengucapkan syukur seperti ketika Kain dilahirkan. Ketika Hawa melahirkan Habel, Hawa sudah lebih berpengalaman ketimbang ketika ia melahirkan Kain. Jadi, peristiwa lahirnya Kain adalah peristiwa yang sangat penuh anugerah, dan sepantasnyalah Kain sangat bersyukur kepada TUHAN.

Ayat 3 kemudian mencatat bahwa Kain dan Habel mempersembahkan persembahan kepada TUHAN. Yang terjadi kemudian adalah persembahan Habel diindahkan TUHAN, sedangkan persembahan Kain tidak diindahkan TUHAN. Kisah selanjutnya, kita sudah banyak tahu. Kain pun membunuh Habel; membunuh saudara kandungnya sendiri.

Pertanyaan bagi kita, mengapa persembahan Habel diindahkan TUHAN? Diindahkan artinya diperkenan. Allah berkenan dengan persembahan korban Habel. Tapi mengapa? Ibrani 11:4 mencatat, “Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.

Penekanannya dalam nats ini adalah “karena iman“. Jadi Habel mempersembahan korban persembahannya berdasarkan iman. Ada kepercayaan kepada TUHAN. Dan kalimat berikutnya menyatakan, “Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain.” Jadi, iman Habel menuntun pada persembahan yang lebih baik. Seperti apa imanmu, itu terekspresi dari persembahan yang Engkau berikan!

[Memang ada teolog yang mengatakan bahwa yang menjadi masalah bukanlah bentuk atau wujud persembahannya, namun Allah mengajarkan bagaimana buah sebuah pohon menunjukkan pohonnya yang sesungguhnya; ekspresi juga mencerminkan isi. Dalam 1 Tawarikh 15:2 dicatat, "Ketika itu berkatalah Daud: 'Janganlah ada yang mengangkat tabut Allah selain dari orang Lewi, sebab merekalah yang dipilih TUHAN untuk mengangkat tabut TUHAN dan untuk menyelenggarakannya sampai selama-lamanya'." Namun umat Allah pernah teledor dalam mengekspresikan apa yang tepat dan Allah menyatakan murkaNya].

Di masa Daud, pernah terjadi Tabut Allah berada di Kiryat-Yearim, dan kemudian hendak dipindahkan ke kota tempat Daud tinggal. Namun cara yang umat gunakan adalah sebagai berikut, “Mereka menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru setelah mengangkatnya dari rumah Abinadab yang di atas bukit. Lalu Uza dan Ahyo, anak-anak Abinadab (inilah satu-satunya tempat di Alkitab, dimana nama saya disebut tapi tanpa “C”) mengantarkan kereta itu. Uza berjalan di samping tabut Allah itu, sedang Ahyo berjalan di depan tabut itu” (2 Samuel 6:3-4). Yang terjadi kemudian adalah kereta itu tergelincir, lalu Uza memegang tabut itu. TUHAN pun murka lalu menyambar Uza hingga mati (2 Samuel 6:6-8).

Cara Daud untuk memindahkan tabut itu tidaklah sesuai kehendak TUHAN. TUHAN berkehendak agar tabut dipindahkan dengan cara diangkat oleh orang-orang Lewi, bukan diletakkan di atas kereta. Dengan meletakkan tabut di atas kereta, sesungguhnya orang Israel meniru cara-cara orang Filistin waktu mengirim tabut itu ke daerah Israel [(1 Samuel 6:11)].

Habel telah mempersembahkan kepada TUHAN korban yang lebih baik, yaitu “anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya.” Ekspresi persembahan Habel mencerminkan imannya kepada TUHAN.

Dalam Kejadian 3:7, setelah sadar bahwa dirinya telah bersalah dan jatuh ke dalam dosa, Adam dan Hawa “menyemat daun pohon Ara dan membuat cawat“. Dengan upayanya sendiri mereka membuat bikini untuk menutupi keberdosaannya. Ini mencerminkan agama-agama buatan manusia yang manusia buat untuk “menutup” masalah keberdosaannya. Tapi Allah memandang apa yang manusia buat bukan merupakan solusi. Allah lalu membuatkan pakaian untuk mereka, dan Kejadian 3:21 mencatat, “Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.” Dari apa pakaian yang TUHAN buatkan dan kenakan kepada manusia? Dari binatang! Untuk itu, berarti harus ada binatang yang mati tersembelih; yang darahnya tercurah untuk menutupi dosa manusia.

Mengapa harus ada darah yang tercurah? Bukankah ini membuat Allah seperti seseorang yang berjiwa primitif?! Ini menunjukkan betapa seriusnya dosa manusia, sampai-sampai harus ada nyawa yang dikorbankan, dan mengingat nyawa mahluk ada di dalam darahnya maka itu berarti harus ada darah yang tertumpah ([(Ibrani 9:22, "tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan" dan Imamat 17:11, "Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa.")]

Dosa manusia begitu serius. Sebagai contoh adalah seperti apa yang dialami oleh rekan guru, rekan isteri saya [baca http://www.beritasatu.com/nusantara/106026-tegur-murid-guru-diancam-dibunuh.html%5D. Seorang rekan guru isteri saya, menegur seorang murid. Ditegur sang guru, murid itu bukannya diam, malah melawan [tepatnya mengancam akan mengadukan kepada keluarganya]. Murid itu mengadu kepada ibunya. Si ibu menelepon ke sekolah. Ia marah. Tak cukup dengan kemarahan, sang ibu mengirim kakak dari murid itu, seorang oknum polisi, untuk datang ke sekolah.

Oknum polisi ini langsung datang ke sekolah dan langsung masuk ke kelas tempat Kalvin mengajar. Oknum tersebut marah serta berusaha memukul Kalvin. Meski sempat dilerai oleh guru lainnya, rekan isteri saya itu tetap saja terkena dua pukulan dari oknum polisi itu, di hadapan para siswa-siswanya di kelas.

Kepala Sekolah Lentera Harapan bersama korban kemudian kemudian melapor ke Polres Sentani Timur (dan karena yang melakukan adalah seorang aparat, maka laporan itu tidak bisa dicabut). Hari berikutnya, oknum polisi itu datang kembali ke sekolah menebar ancaman. Ia menemui kepala sekolah dan korbannya. Ia mengancam, jika ia sampai dicopot atau dilepas dari jabatannya maka korban akan digantung di sekolah. Inilah kengerian dosa. Bukannya insaf, justru sebaliknya! Sudah salah, malah mengancam!

Di kemudian hari, apabila pemerintah daerah tetap tidak dapat memberikan jaminan perlindungan bagi para pengajar di sekolah itu, mungkin guru-guru di sekolah itu akan ditarik pulang ke daerah masing-masing. Yang mengalami kerugian tentu warga sekitar, karena terbukti, setelah kehadiran guru-guru baru dari Tangerang ini, minat belajar dan disiplin anak-anak meningkat! Orangtua murid pun mengakuinya. Jadi, gara-gara satu oknum polisi, banyak orang terkena dampak negatifnya. Inilah kengerian dosa.

TUHAN sangat memandang serius masalah dosa, sampai-sampai harus ada darah tercurah demi menyelesaikan masalah dosa itu. Dan penyelesaian itu berpuncak pada karya Yesus Kristus di atas kayu salib. Dia adalah Anak Allah yang turun ke dunia menjadi manusia untuk mati di kayu salib menggantikan kita. Dia adalah Anak Domba Allah yang disembelih karena dosa-dosa kita. Ia mati di kayu salib untuk menebus kita dari dosa-dosa kita, dan membayar hutang dosa kita kepada Allah Bapa.

Persembahan kita mengekpresikan iman kita kepada Allah. Bagaimana kita beribadah kepada Allah, itu juga mengekspresikan iman kita kepada Allah. Habel mengekspresikan imannya kepada Allah dengan memberikan persembahan yang lebih baik daripada Kain.

Kain bukannya bertobat dan insaf, justru membiarkan hatinya ditaklukkan oleh dosa. Dan akhirnya, Kain pun membunuh Habel. Ini berarti Kain telah membunuh seperempat isi dunia, mengingat waktu itu manusia hanya empat orang.

Ini semua memberikan kepada kita tiga pelajaran:
1. Ingatlah karya TUHAN kepada kita sehingga kita ada sebagaimana kita ada sekarang, dan bersyukurlah!
2. Ingatlah bahwa dosa-dosa kita begitu serius. “Bikini agama” yang kita buat bukanlah solusi, karena itu percayalah kepada karya pengorbanan Kristus yang telah Kristus kerjakan di atas kayu salib bagi kita.
3. Ekspresikan syukur kita kepada Allah dengan memperhatikan bagaimana kita beribadah kepada Allah.

(Dikotbahkan dalam Persekutuan Komisi Pemuda GK Kalam Kudus Jayapura, Kamis/4 April 2013)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , | Leave a comment

Kejadian 3:8-13. Berjalan-jalan dengan TUHAN


Nats: Kejadian 3:8-13
Oleh: Ev. NT Prasetyo, M.Div.

Saya memperhatikan, ketika kemarin kotbah dalam ibadah Sekolah Alkitab Liburan (SAL) Paskah disampaikan, banyak diantara kawan-kawan kalian yang ribut sendiri dan asyik ngobrol dengan temannya. Padahal, pada saat itu pengkotbah meminta kalian untuk mempraktekkan Lectio Divina; membaca satu ayat Alkitab, dan merenungkan Tuhan sedang berbicara apa kepada kita. Dan sementara pembicara turun dari panggung menghampiri dan menanyakan hasil perenungannya kepada anak-anak di sisi yang satu; anak-anak di sisi yang lain ribut sendiri dan asyik ngobrol dengan temannya. Ini menimbulkan pertanyaan, apakah kita sesungguhnya tidak memiliki kerinduan untuk bersekutu dengan TUHAN?

Putusnya relasi dengan TUHAN, Sang Pencipta, sudah terjadi sejak zaman Adam dan Hawa. Dalam Kejadian 3:8, kita membaca bahwa Allah sudah merendahkan diriNya dengan membatasi diriNya, demi bisa memberikan diriNya bersekutu dengan manusia di bumi. Kalau kita membaca Ayub 22:14, manusia zaman Ayub memiliki pengetahuan bahwa Allah itu berjalan-jalan atau ada di langit; di atas sana; jauh dari manusia. Dia adalah Allah yang transenden.

Frasa “Allah berjalan-jalan” bukan berarti menunjukkan bahwa Allah itu memiliki tubuh fisik seperti manusia. Dalam Yohanes 4:24 dikatakan bahwa Allah itu Roh. Dia tidak dibatasi ruang dan waktu. Allah kita bukan seperti Dewa Zeus yang berjanggut dan siap melontarkan halilintar ketika ia marah versi mitologi Yunani. Namun memang seringkali Allah kita digambarkan seolah-olah memiliki tubuh fisik seperti manusia, untuk menggambarkan aktivitas Allah sebagai Pribadi yang Hidup. Allah yang adalah Roh dan Transenden itu, rela merendahkan diriNya untuk bersekutu dengan manusia, dan turun ke Taman Eden, berjalan-jalan di Taman Eden, tempat tinggal manusia (Adam dan Perempuan).

Tapi apa artinya “berjalan-jalan”? Apakah Allah sekadar hanging out meninggalkan sorga karena di sorga tidak ada kerjaan? Apakah Allah berpikir, “Oh, di sorga tidak ada kejahatan yang harus diatasi, so Aku hanging out ke bumi saja!” Apakah demikian? Pikiran demikian memberi kesan bahwa “berjalan-jalan” nampak seperti sebuah aktivitas tanpa tujuan. Hanya untuk “berjalan-jalan”. Seperti kalau kita jalan-jalan di Mall Jayapura; kita cuci-mata, keliling-keliling, naik-turun lift berkali-kali, naik turun elevator berkali-kali. Apakah ini makna “berjalan-jalan” dalam Kejadian 3:8 ini?

Ada beberapa ayat Alkitab yang dapat memperjelas kepada kita, apa makna “berjalan-jalan” dalam Alkitab. Menurut Alkitab terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia, frasa “berjalan-jalan” juga muncul di Kejadian 24:63. Dalam ayat itu dikatakan bahwa Ishak berjalan-jalan di padang. Dalam Alkitab berbahasa Inggris versi King James, “berjalan-jalan” disini diterjemahkan sebagai meditasi. Jadi, Ishak “berjalan-jalan” artinya, Ishak bermeditasi. Ia merenungkan Firman TUHAN. Ia merenungkan karya TUHAN. Ia merenungkan bagaimana kehebatan TUHAN memungkinkan kehadiran dirinya dari seorang ibu yang mandul dan sudah tua. Ishak bersekutu dengan TUHAN. Jadi, “berjalan-jalan” artinya bersekutu dengan TUHAN.

Juga dalam Daniel 3:25 kita membaca tentang tiga orang laki-laki muda yang menolak menyembah berhala, lalu dilemparkan oleh penguasa ke dapur api. Mereka hendak dibakar hidup-hidup, tapi ternyata, orang yang menghukumnya melihat bahwa di dapur api itu ada empat orang sedang berjalan-jalan. Dan sosok yang keempat itu rupanya seperti anak Dewa. Bukan Hercules, anak Dewa Zeus, tapi saya percaya ini adalah figur Anak Allah (Yesus) yang tampil Perjanjian Lama. Keempat sosok ini dikatakan “berjalan-jalan”. Artinya, mereka sedang bersekutu. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego sedang bersekutu dengan Anak Allah yang hidup.

Jadi, Allah merendahkan diriNya, turun dari sorga, untuk bersekutu dengan manusia di Taman Eden. Tapi bagaimana respon manusia? Mereka sembunyi. Dimana manusia sembunyi? Di balik pohon-pohon dalam taman. Pohon-pohon yang tadinya harusnya dikelola oleh manusia, kini menjadi sarana manusia bersembunyi. Pohon-pohon yang daripadanya manusia beroleh makanan, kini menjadi sarana bagi manusia untuk bersembunyi. Dan itu terus terjadi sampai kini. Mungkin banyak diantara orangtua kita, yang kini sengaja bersembunyi di balik profesinya; aktivitasnya; dan pencarian nafkahnya, dan menjadikan itu alasan untuk tidak beribadah kepada TUHAN, apalagi untuk mengajak anggota keluarganya beribadah kepada TUHAN. Jebakan ini juga mengancam saya sebagai rohaniwan. Apakah aktivitas gerejawi saya justru menghalangi saya bersekutu dengan TUHAN?

Dalam Kejadian 3:9, Allah memanggil Adam, “Di manakah Engkau?” Apakah dengan pertanyaan ini, berarti Allah tidak tahu dimana Adam? Seandainya, sepulang sekolah kamu meletakkan sepatu sekolahmu sembarangan, lalu mamamu bertanya, “Tempat sepatu dimana ya?” Apakah ini berarti mama kita betul-betul tidak tahu dimana letak tempat sepatu? Bukankah ini sebuah kalimat sindiran, untuk menyadarkan kita bahwa posisi kita salah? Demikian juga pertanyaan TUHAN kepada Adam, “Di manakah Engkau?” adalah pertanyaan retoris yang bertujuan untuk menyadarkan Adam bahwa posisinya sedang keliru.

Adam pun mengakui di ayat 10, bahwa ia takut, karena itu ia sembunyi. Bukankah ini yang terjadi pada kita yang menyimpan dosa? Kita takut bersekutu dengan Allah! Kalau Anda sudah berkali-kali mengajak temanmu ke gereja, namun dia selalu saja menolak, mungkin dia sedang menyimpan dosa, karena itu ia merasa tidak layak untuk menghadap TUHAN!

Dalam ayat 11, Allah meminta pertanggungjawaban Adam atas dosanya. Apa yang Adam lakukan? Apa respon manusia menanggapi tuntutan pertanggungjawaban dari Allah? Respon manusia menunjukkan adanya empat keterceraian yang terjadi dalam kehidupan manusia:

1. Manusia tercerai dari Allah. Manusia berkata kepada Allah di ayat 12, “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku….” Jadi, Adam menyalahkan Allah karena telah memberikan perempuan itu kepadanya, padahal sebetulnya Adam sendirilah yang salah karena tidak mau menolak rayuan isterinya. Orang berdosa memang cenderung suka mencari kambing hitam. Kasihan sekali kambing yang berwarna hitam; sudah hitam, dijadikan kambing hitam lagi! Adam mengkambinghitamkan Allah atas keberdosaannya. Ia menyalahkan Allah. Mungkin ini juga sering kita lakukan! Kita menyalahkan Allah karena telah memberikan kita orangtua itu; karena memberikan kita kakak seperti ini; karena memberikan kita adik seperti itu; karena membiarkan kita lahir di keluarga yang tidak kaya; dan sebagainya. Sikap seperti ini sudah terjadi sejak Adam.

2. Manusia tercerai dari dirinya sendiri. Ketika manusia mengkambinghitamkan Allah dan perempuan, sebetulnya ia sedang menipu dirinya sendiri. Ia tahu ia telah salah, namun ia tidak mau mengakuinya dan menipu dirinya sendiri. Banyak orang berdosa karena menipu diri sendiri; berusaha menutupi dan tidak mau mengakui kekurangannya sendiri. Misalnya, Anda memiliki teman yang sombong, senang pamer ini dan itu. Mungkin sebetulnya itu disebabkan karena ia minder. Justru karena ia minder, maka untuk menutupi kekurangannya, ia menyombongkan ini dan itu. Ia tidak bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Dosa mengakibatkan kita tercerai dari diri sendiri.

Engkau juga sedang menipu diri sendiri ketika engkau mencontek di sekolah. Saya sudah belajar tidak mencontek, bukan setelah bertobat, tetapi justru sebelum bertobat. Jadi, sebelum jadi murid Kristus, saya sudah tidak mencontek. Karena pada dasarnya, semua manusia memang memiliki perasaan moral yang dapat dibangun. Karena itu, kalau Anda sebagai orang Kristen yang memiliki Roh Kudus ternyata masih suka menyontek, berarti Anda lebih buruk daripada mereka yang tidak percaya Kristus.

3. Manusia tercerai dari sesamanya. Ini jelas kelihatan ketika Adam menyalahkan Hawa. Ia menyalahkan perempuan. Orang Kristen yang tidak baik dalam relasinya dengan TUHAN dan dirinya sendiri, juga dapat mengalami kesulitan dalam relasinya dengan oranglain [contohnya kasus orang sombong yang saya bahas tadi].

4. Manusia tercerai dari alam. Ketika giliran Hawa dimintai pertanggungjawaban oleh Allah (ayat 13), Hawa melemparkan kesalahan kepada ular. Binatang ular adalah bagian dari alam ini. Jadi, manusia sejak saat itu tercerai dari alam. Saya memperhatikan, di Jayapura ini, banyak orang kota berperilaku seperti orang utan. Orang bisa kelihatan seperti orang kota, karena membaca mobil atau motor. Tapi seringkali perilakunya seperti orang utan yang ada di Kebun Binatang Ragunan. Anda tahu orang utan? Ketika mereka mengupas kacang kulit, apakah kemudian kulit kacangnya mereka kantongi? Tidak? Mereka membuangnya sembarangan. Demikian juga, saya sering menjumpai orang kota yang menaiki mobil, tiba-tiba dari dalam mobilnya melempar sampah ke luar; ke jalanan. Itu artinya, bergaya seperti orang kota, tapi berperilaku seperti orang utan.

Saya bersyukur, dalam kegiatan SAL Paskah hari kedua di STAKIN beberapa waktu lalu, kalian telah menunjukkan kemajuan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Meskipun kalian tidak membuang sampah tepat di tempat sampah, tapi setidaknya kalian tidak membiarkannya berserakkan. Itu sudah kemajuan, tapi memang sifat orang utan yang ada pada kita harus terus dikurangi.

Demikian, akibat dosa, persekutuan kita dengan TUHAN dan dengan banyak komponen lainnya, terceraikan! Padahal Allah rindu sekali bersekutu dengan kita. Dan puncaknya, Yesus Kristus, Anak Allah, turun dari sorga, menjadi manusia, untuk memulihkan persekutuan kita dengan Allah Pencipta kita. Yesus mati di kayu salib menggantikan kita menanggung hukuman Allah. Ia mati untuk menebus dosa kita. Dan apa yang terjadi ketika Yesus mati di kayu salib? Tirai bait Allah terbelah dua dari atas ke bawah. Artinya, melalui perantaraan Kristus, kini kita memiliki akses langsung untuk bersekutu dengan Allah Bapa. Tidak perlu lagi perantaraan imam manusia, karena Yesus telah menjadi imam Agung kita, sekali dan selamanya.

Marilah kita yang telah percaya kepada Tuhan Yesus, mengutamakan persekutuan dengan Kristus dalam kehidupan keseharian kita. Setiap minggu kalian ke gereja, namun apakah dari Senin sampai Sabtu, kita tidak menyentuh sedikit pun Alkitab kita? Kalau Anda tidak merasakan gairah dan nikmatnya bersekutu dengan TUHAN, bagaimana mungkin Anda akan terdorong untuk mengajak orang untuk menikmati gairah dan kenikmatan yang sama?

Seandainya di Papua ini ada Disneyland. Lalu kalian begitu menikmati sensasi wahana-wahana yang ada. Kalian menikmati sensasi perut dikocok-kocok ketika naik perahu Kora-kora; kalian menikmati sensasi kepala di bawah ketika naik halilintar; atau seperti ketika saya dimasa kuliah, pergi ke Dunia Fantasi (Dufan) di Jakarta bersama teman-teman, naik ontang-anting, lalu berteriak bersama-sama. Ketika kita begitu menikmati semua sensasi itu, tentu kita ingin pula mengajak teman-teman kita untuk kita bersama-sama menikmati sensasi yang ada. Seandainya saya hanya sendirian, mungkin saya malu, tapi kalau minimal ada empat orang yang berteriak bersama-sama; menikmati wahana yang ada; mungkin justru orang-orang lain akan tidak malu-malu untuk melakukan pula hal yang sama.

Seperti itulah kira-kira dalam persekutuan kita dengan TUHAN. Kalau kita tidak menikmatinya; kalau kita tidak mengalami menangis bersama TUHAN; atau gairahnya tertawa bersama TUHAN, bagaimana kita dapat mengajak oranglain menikmati hal yang sama?! Karena itu marilah kita belajar semakin tekun bersekutu dengan TUHAN. [Mari kita berjalan-jalan dengan TUHAN, yang telah lebih dahulu berinisiatif berjalan-jalan bersama kita].

(Dikotbahkan dalam Ibadah Komisi Remaja GK Kalam Kudus Jayapura, Minggu/7 April 2013)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , , , , | Leave a comment

Kejadian 1:28. Berkat dan Tantangan Keluarga


Nats: Kejadian 1:28
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Ketika kamu melihat upacara pernikahan Kristen di gereja, kamu akan melihat seorang pendeta menumpangkan tangan dan memberkati sepasang pengantin yang menikah. Aduh, pemandangan yang indah banget…. Tapi ngomong-ngomong, mengapa sih pendeta melakukan itu? Apa karena sekadar bagian dari sebuah liturgi gereja? Atau supaya kelihatan keren aja?

Kalau kita melihat Kejadian 1:28, kita akan membaca bahwa setelah Allah menjadikan LAKI-LAKI dan PEREMPUAN (Adam dan Hawa, laki-laki dan perempuan pertama di dunia), Allah kemudian MEMBERKATI mereka! Ini adalah pernikahan pertama di dunia! Jadi, ketika pendeta memberkati sepasang pengantin di gereja, itu ada dasar Alkitabnya!!!

Nah, terus…, apa sih “berkat” yang Tuhan berikan kepada pasangan pengantin itu? Apa sih “berkat” bagi keluarga baru itu? Menurut kalian, seperti apakah keluarga yang diberkati Tuhan itu? Apakah berkat Tuhan atas keluarga itu berwujud: Kesuksesan dalam karir suami? Ataukah ketika isteri bisa punya anak? Ataukah ketika anak-anak sukses dalam profesi? Ataukah ketika keluarga melimpah dalam harta dan uang? Seperti apakah keluarga yang diberkati Tuhan itu?

Menarik, karena ketika Alkitab mencatat, “Allah memberkati mereka” (Kej.1:28), Alkitab langsung mencatat, “lalu Allah berfirman kepada mereka”. O la la, ternyata berkat Tuhan yang terutama adalah ketika SANG PENCIPTA bersedia BERKOMUNIKASI dengan CIPTAAN-NYA. Bayangkan jika presiden terpilih Amerika Serikat, Barack Obama, tiba-tiba memilih kamu menjadi salah satu rekannya di Gedung Putih?! Dengan kata lain, dia bersedia BE-RELASI dengan kamu! Wah…wah…. Kehormatan bukan? Apalagi jika yang melakukannya adalah SANG PENCIPTA langit dan bumi. SANG PENCIPTA berelasi dengan setiap anggota keluarga, itulah berkat terbesar dalam keluarga; dalam kehidupan pernikahanmu!

Namun bagaimana cara Allah berkomunikasi kepada suami-isteri? Apakah mereka akan mendengar suara gaib di malam hari? Tentu tidak! Alkitab adalah Firman Allah yang menjadi otoritas tertinggi dalam kehidupan kita. Karena itu Alkitab harus menjadi pusat kehidupan rumah tangga kita! Segala keputusan, pergumulan, dan kerinduan, dalam hidup berkeluarga, hendaklah dihadapi dengan senantiasa mengharapkan tuntunan Allah melalui Alkitab, Firman Allah. Apakah ibadah keluarga itu masih menjadi bagian dalam kehidupan keluargamu sekarang? Bagaimana kelak? Karena itu penting bagimu untuk menikahi orang yang tepat, pada saat yang tepat, yaitu orang yang bisa bersama-sama denganmu membawa setiap anggota keluarga untuk beribadah kepada Tuhan. Bagaimana dengan orang yang menjadi pasanganmu saat ini? Akankah dia menjadi pasanganmu yang sepadan untuk membawa seisi rumahmu untuk datang beribadah kepada Tuhan? Sebagai orang yang percaya kepada Kristus, kita sudah diselamatkan oleh Tuhan, dan bagian kita setelah diselamatkan adalah menikmati karunia kehidupan dengan beribadah – melayani Tuhan (sekeluarga).

Sebetulnya, Kejadian 1:28 memberikan pelajaran yang lebih spesifik lagi, seperti berikut ini:

Bagan Artikel TUjuan pernikahan

Jadi, dosa telah merusak segala ciptaan Allah yang baik, bahkan relasi manusia dengan Allah, hancur. Untuk memulihkan segala sesuatu inilah, Kristus hadir bagi kita. Ia mati menggantikan kita! Ia bangkit! Ia naik ke sorga untuk kembali lagi kelak memulihkan segala sesuatu. Roma 8:19-21 menyatakan tentang kerinduan seluruh mahluk akan pemulihan segala sesuatu yang Allah akan kerjakan di dalam Tuhan kita Yesus Kristus! Pemulihan itu telah terjadi di dalam kita yang percaya kepadaNya, dan akan terus menuju kepenuhannya.

(Disampaikan dalam Persekutuan Komisi Pemuda GK Kalam Kudus Jayapura, Kamis/6 Nopember 2008, dan dimuat dalam Warta KomDa GK Kalam Kudus Jayapura, Kamis/13 November 2008).

Categories: Tulisan | Tags: , , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

%d bloggers like this: