Posts Tagged With: Khotbah

316


Nats: 2 Timotius 3:16

Apa yang kalian pikirkan ketika membaca angka 316?
Slide1
Membaca tiga angka ini, orang Kristen umumnya akan langsung teringat pada Injil Yohanes 3:16. Sebuah ayat penting yang berbicara tentang keselamatan orang percaya. Yohanes 3:16 menyatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Namun setelah kita menjadi jelas perihal keselamatan kita, what next? What are we going to do next? Disinilah kita penting mengingat, bahwa setelah Injil Yohanes 3:16, ada Surat 2 Timotius 3:16. Kita berkata kepada Tuhan, “Tuhan, saya sekarang sudah jadi anak Tuhan; saya sudah beroleh jaminan hidup kekal; saya sudah beroleh warisan Kerajaan Sorga; jadi mau donk, sekarang menikmati sorga!?!
Lalu Tuhan berkata, “Boleh! Berarti Kamu harus mati dulu, donk!
Kita pun terkejut dan menjawab, “Yah, Tuhan, kok, mati?!
Lah, iya, donk!” Kata Tuhan. “Bukankah peristiwa kejatuhan telah terjadi, dan kematian telah masuk ke dalam kehidupan manusia?! Dan itulah jalan yang harus manusia lewati untuk beralih kepada kehidupan yang selanjutnya!
Hmmm, tapi tidak bisakah aku seperti Henokh dan Elia, yang tidak harus mengalami kematian, dan langsung dibawa oleh Tuhan ke sorga?!” Tanya kita lagi.
Dan Tuhan pun menjawab, “Kepada mereka, Aku telah memberikan karunia tersendiri. Namun bagi manusia lainnya, cara yang harus dilewati, ya, cara yang sepatutnya.
Wah, kalau begitu, aku mau hidup aja dulu, deh, Tuhan! Namun harus bagaimanakah saya hidup mengisi status baru saya sebagai pengikut Kristus?
Dan Tuhan pun mengingatkan, “2 Timotius 3:15-17“.

Secara khusus, Surat 2 Timotius 3:16, mengingatkan kita manfaat Firman Tuhan, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” Masyarakat Amerika banyak yang menganut Filsafat Pragmatisme. Orang-orang dengan cara pandang pragmatis, menyoroti apa manfaat dari sesuatu. Kalau mereka berpandangan bahwa kekristenan atau iman Kristen atau Alkitab tidak bermanfaat, ya, mereka tidak mau menghidupinya. Segala sesuatu dinilai dari kemanfaatannya.

Bagi orang-orang yang berpandangan seperti ini, ada kabar baik. Surat 2 Timotius 3:16 menyatakan bahwa tulisan-tulisan Kitab Suci, yaitu tulisan-tulisan yang diilhamkan Allah, memiliki manfaat. Kata “diilhamkan” disini bermakna “dihembuskan” oleh Allah. Jadi ada kerja Roh Allah yang menghembusi para penulis Alkitab sehingga di dalam segala keunikan kepribadian mereka, mereka dipakai Tuhan untuk menuliskan Firman Tuhan.

Dalam konteks bahasa Ibrani, istilah “dihembuskan” ini berkaitan dengan kerja Roh (ruach), dan biasanya ini berhubungan pula dengan nafas (nefesh) Ilahi. Roh Allah telah menghembus dan menghasilkan karya-karya luarbiasa dari sejak awal kehidupan.
2 tim 316
Roh Allah bekerja bersama-sama dengan Firman. Di awal kehidupan manusia, Roh bekerja bersama Firman yang mencipta manusia. Kitab Ayub 33:4 menyaksikan perkataan ini, “Roh Allah telah membuat aku, dan nafas yang Mahakuasa membuat aku hidup.” Manusia kemudian jatuh dalam dosa. Dosa dan maut masuk ke dalam kehidupan manusia. Tuhan Allah berkarya untuk menyelamatkan manusia, dan Roh kembali bekerja, dan Firman pun menjadi manusia. Lukas 1:34 mencatat perkataan Ilahi kepada Maria, “Roh Kudus akan turun atasmu….” Maria mengandung dari Roh Kudus, bukan karena perbuatan laki-laki. Yesus, Buah Kandungnya, adalah Mesias, Juruselamat umatNya, yang kemudian mati di kayu salib, menebus dosa umatNya, bangkit dari kematian, dan naik ke sorga menyediakan tempat bagi setiap orang yang percaya kepadaNya. Di Alquran, Yesus atau yang disebut Isa Almasih ini disebut Kalimatullah (Firman Allah), dan hadir di dalam karya Rohullah (Roh Allah). Dan Roh Kudus kembali berhembus, seperti angin berhembus dan menggerakkan perahu layar, demikian Roh Allah berhembus dan menggerakkan para murid Yesus (rasul-rasul) untuk menuliskan Kitab Suci atau Alkitab, Firman Allah.

Alkitab, Firman Allah, yang merupakan hembusan Roh Kudus ini, memiliki manfaat yang luarbiasa. Surat 2 Timotius 3:16 mencatat ada empat manfaat Firman Allah:

1. Mengajar. Dalam bahasa Inggris, pengajaran disebut doktrin. Ada kaitannya dengan istilah doktor. Dalam dunia berbahasa Inggris, tidak dibedakan istilah doktor untuk pengajar/dosen, dengan doktor untuk bidang medis. Jadi, seharusnya ini menjadi peringatan bagi setiap dokter medis, untuk mengingat bahwa keberadaannya juga memiliki fungsi mengajar. Dan bagi seorang pengajar, mereka juga harus ingat bahwa keberadaannya juga memiliki fungsi “medik”. Sebagai dokter (baik di bidang pendidikan maupun medis), tindakan pertama yang harus dilakukan ketika berhadapan dengan peserta didik ataupun pasien adalah “memeriksa” atau “mendiagnosa.” Doktor harus mencari tahu seperti apa kondisi dari orang yang dihadapinya. Demikian juga manfaat Firman Tuhan bagi kita. Firman Tuhan sebagai pengajar berarti Firman Tuhan harus memeriksa kehidupan kita. Melalui Firman Tuhan, hidup kita didiagnosa. Melalui Firman Tuhan, marilah kita memeriksa keadaan diri kita. Unik, ketika Tuhan mengunjungi manusia setelah manusia (Adam) jatuh dalam dosa, yang Ia lakukan pertama adalah mengajukan pertanyaan diagnostik, “Adam dimanakah engkau?!” Suatu pertanyaan retoris, yang Tuhan ajukan bukan karena Tuhan betul-betul tidak tahu keberadaan Adam, melainkan suatu pertanyaan yang diajukan oleh Tuhan untuk membuat Adam memeriksa diri, “dimana” posisinya saat ini di hadapan Allah. Beres atau tidak beres?!

2. Menyatakan kesalahan. Bahasa aslinya, yaitu bahasa Yunani, bermakna: rebuke, reproach, reproof. Selayaknya seorang dokter medis, Firman Tuhan bermanfaat untuk menyatakan apa yang salah; apa yang sakit; apa yang menjadi persoalan dari kehidupan seseorang; dari kehidupan kita.

3. Memperbaiki kelakuan. Bahasa aslinya bermakna: improvement, correction. Selayaknya seorang dokter medis, Firman Tuhan bermanfaat untuk memperbaiki apa yang salah; mengobati apa yang sakit; mengorek luka atau kotoran yang dapat menimbulkan infeksi.

4. Mendidik orang dalam Kebenaran. Bahasa aslinya bermakna: training, discipline. Selayaknya seorang dokter medis, Firman Tuhan bermanfaat untuk melatih dan mendisipin kita untuk lebih disiplin dalam makan dan minum, dan lebih rutin berolahraga.

Sebagai contoh, suatu kamu sedang membaca Alkitab dan merenungkannya secara pribadi di pagi hari. Lalu matamu tertuju kepada satu nats Firman Tuhan, yaitu Amsal 30:27.
Amsal 30:27
Coba kamu terapkan 2 Timotius 3:16 ketika merenungkan ayat ini:
1. Coba periksa dirimu! Ketika Kamu antri di kantin, apakah kamu bisa bersikap tertib?!
2. Coba akui kesalahanmu! Ketika Kamu sadar bahwa kamu belum bisa tertib, coba akui dosa itu di hadapan Tuhan!
3. Coba “obati” masalahmu dengan Firman itu! Mohon ampun kepada Tuhan, dan minta Tuhan memberikan kekuatan untuk bisa berperilaku lebih dari belalang!
4. Coba latih dan disiplinkan dirimu dengan kebenaran itu!
Terapkan metode ini ketika merenungkan bagian-bagian Firman lain yang Kamu baca.

Kiranya, Firman Tuhan kali ini menguatkan kita semua! Ingat, 316! Setelah Yohanes 3:16, ada 2 Timotius 3:16.

Categories: Tulisan | Tags: , | Leave a comment

Kisah Para Rasul 2:41-47. Kehidupan Kristen (Part One)


Nats: Kisah Para Rasul 2:41-47. Kehidupan Kristen (Part One)
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Seorang misionaris Amerika melayani di sebuah daerah pedalaman [Papua] bersama keluarganya [sebagaimana diceritakan sendiri oleh sang misionaris, klik http://www.youtube.com/watch?v=rYM-4mGYzzE ]. Ia mengerjakan banyak hal, ia membuka hutan dan membangun pondok-pondok tempat tinggal; ia membawa penduduk keluar dari hutan dan membawa mereka tinggal di desa yang dibukanya; ia mengajar; memberitakan Injil; membuka klinik kesehatan; membuka warung yang menjual garam sebagai bumbu masakan dan juga barang-barang keperluan lainnya; dan salah satu aktivitas penting untuk menopang kebutuhan pangannya di pedalaman adalah dengan berkebun.

Misionaris ini membawa bibit buah nanas yang cukup banyak. Ia mendapatkan seorang penduduk asli untuk membantunya menanam bibit-bibit tanaman nanas itu. Misionaris itu mengupah penduduk asli itu untuk membuka dan mengolah tanah yang luas, yang akan ditanami dengan bibit nanas.

Rasanya lama sekali untuk bibit-bibit nanas itu tumbuh menjadi besar dan menghasilkan buah nanas. Memerlukan waktu tiga tahun lamanya untuk bibit-bibit itu berbuah. Hidup di daerah pedalaman hutan membuat orang rindu untuk makan buah-buahan segar.

Akhirnya tibalah tahun ketiga. Misionaris itu dapat melihat buah-buah nanas segar bermunculan. Ia harus menunggu sampai akhir tahun karena pada saat itulah buah-buah nanas itu masak. Dan ketika akhir tahun tiba, misionaris itu berjalan-jalan di kebunnya untuk melihat apakah ada buah nanas yang cukup matang untuk dimakan.

Ia terkejut, karena ia tidak mendapatkan satu buah pun untuk dimakan. Penduduk setempat telah terlebih dahulu mencuri semua buah nanas yang ada. Misionaris itu sangat marah kepada penduduk pedalaman itu. Seakan dibutakan oleh nanas, misionaris itu memutuskan untuk menutup klinik kesehatan yang ada. Namun tetap saja, satu per satu buah nanas mulai masak, dan satu per satu hilang dicuri.

Misionaris sendiri pun tidak tahan lagi melihat penduduk yang sakit, dan akhirnya dia membuka kembali klinik kesehatannya. Klinik kesehatan dibuka kembali, tapi tetap saja buah nanas misionaris dicuri lagi, dan ia pun merasa jengkel lagi.

Akhirnya, misionaris itu mengetahui siapa yang melakukan pencurian tersebut. Pelakunya adalah orang yang telah menanam buah nanas itu; tukang kebun sang misionaris sendiri. Misionaris itu memanggilnya dan menginterogasinya. Tukang kebun itu menjelaskan hukum di antara penduduk pedalaman itu, jika mereka menanam sesuatu, berarti itu adalah milik mereka. Mereka tidak pernah mengenal ide tentang membayar untuk jasa. Misionaris dan orang pedalaman itu terus berdebat tentang siapa yang memiliki pohon-pohon nanas itu.

Dengan jengkel misionaris itu kemudian membuat kesepakatan dan membagi dua isi kebun nanas itu. Setengah kebun milik sang misionaris, dan setengahnya lagi diperuntukkan untuk si tukang kebun. Tukang kebun itu kelihatan seolah-olah mengerti persetujuan itu. Tetapi buah-buah nanas sang misionaris, tetap saja hilang dicuri.

Dengan perasaan sangat kesal, akhirnya misionaris itu memutuskan untuk memulai dari awal lagi. Dengan berat hati, misionaris itu membayar orang untuk mencabuti semua tanaman nanas itu dan membuangnya. Misionaris itu harus melewati tiga tahun lagi dengan tanaman nanasnya yang baru. Misionaris itu sangat bersyukur, membayangkan bahwa ia akan menikmati buah-buah nanas yang segar. Namun apa yang terjadi kemudian? Lagi-lagi semua buah nanasnya hilang dicuri.

Misionaris berpikir apa yang harus diperbuatnya kini. Ia pun memutuskan untuk menutup toko. Dari toko itu, penduduk mendapatkan garam dan barang-barang keperluan lainnya. Kini mereka tidak lagi dapat memperoleh barang-barang itu. Tapi apa yang kemudian dilakukan para penduduk itu? Mereka memutuskan untuk kembali tinggal di dalam hutan.

Kini tinggallah sang misionaris sendirian tanpa ada pelayanan. Akhirnya, sang misionaris kembali membuka tokonya, dan penduduk pun kembali tinggal di kampung. Misionaris harus memikirkan cara baru untuk menjaga kebun nanasnya. Ia mendapat ide.

Misionaris itu kemudian memelihara seekor anjing herder yang sangat besar. Semua penduduk takut kepada anjing herder itu. Ide anjing itu berhasil. Kebanyakan orang tidak ada yang berani datang lagi, dan keadaan misionaris itu kembali sama seperti ketika ia menutup tokonya. Tidak ada pelayanan.

Memelihara anjing ternyata juga tidak berhasil. Anjing itu pun mulai berkembang biak dengan anjing-anjing setempat dan menghasilkan anak-anak anjing setengah herder yang kelaparan. Agar tidak menjadi lebih membahayakan, akhirnya, misionaris itu terpaksa harus membuang anjing itu. Misionaris itu betul-betul telah habis akal.

Tibalah saat cuti, dan akhirnya misionaris itu pun kembali ke Amerika. Dalam seminar itu ia mendengar khotbah yang mengingatkannya bahwa kita harus menyerahkan semua yang kita miliki kepada Tuhan. Tuhanlah yang menjadi pemilik sesungguhnya dari segala sesuatu yang kita punya. Khotbah itu membuat sang misionaris itu merenung. Akhirnya dia memutuskan untuk belajar menyerahkan apa yang memang menjadi milik Tuhan.

Masa cuti selesai, misionaris itu pun kembali ke pedalaman. Ia belajar untuk menyerahkan kebun nanasnya kepada Tuhan. Melalui Firman Tuhan, Roh Kudus telah menanamkan nilai/prinsip baru dalam diri sang misionaris. Dan apa yang terjadi kemudian dengan kebun nanas misionaris? Kita lanjutkan kisahnya setelah pembahasan nats Kisah Para Rasul 2:41-47.

Dua minggu yang lalu kita telah memperingati peristiwa turunnya Roh Kudus ke atas para murid Yesus di Yerusalem. Apa pentingnya itu dan apa dampak dari peristiwa itu bagi kehidupan orang percaya?

Peristiwa Pentakosta penting karena melaluinya umat memperoleh nilai-nilai/standar hidup/pedoman/tujuan hidup yang semakin jelas, dengan hadirnya Roh Kudus dan Firman Tuhan bersama-sama.

Ayat 41 mencatat, “Orang-orang (Yang dimaksud adalah semua orang Yahudi dan semua orang yang tinggal di Yerusalem pada momen peristiwa “turunnya Roh Kudus”) yang menerima perkataannya itu (maksudnya perkataan/khotbah Petrus di Hari Raya Pentakosta) memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.

Turunnya Roh Kudus pada Hari Raya Pentakosta, ditandai dengan pemberitaan Firman Tuhan. Di dalam doktrin Kristen, memang keberadaan Roh Kudus tidak pernah dapat dipisahkan dari Firman Tuhan. Ada sebuah slogan yang indah sekali pernah saya baca dalam sebuah buku [berjudul "Pastoring with Passion"] demikian, “Firman tanpa Roh sama dengan Kekeringan (dry up); Roh tanpa Firman sama dengan meledak (blow up); dan Firman dengan Roh sama dengan bertumbuh (grow up).

Bagi penganut Agama Yahudi sendiri, Hari Raya Pentakosta adalah hari raya untuk memperingati pemberian Hukum Taurat oleh TUHAN kepada Musa, di atas Gunung Sinai. Hukum Taurat atau Firman Allah itu terukir pada dua bongkah batu; menjadi semacam naskah perjanjian (kovenan) antara Allah dan umatNya. Dalam Theologi Kristen, perjanjian itu menunjuk pada perjanjian yang lama. Dalam konteks Agama Yahudi ini, peringatan Pentakosta dirayakan dengan mempersembahkan gandum yang pertama, dalam bentuk dua bongkah roti yang terbuat dari tepung terbaik.

Bagi para murid Yesus, Hari Raya Pentakosta memiliki makna baru. Hari itu adalah untuk memperingat turunnya Roh Kudus ke atas umat pilihanNya. Roh Kudus itu mengukirkan Firman Tuhan, tidak lagi di atas bongkahan batu, seperti pada zaman Musa, tapi Roh Kudus itu mengukirkan Firman Tuhan di dalam hati manusia. Hati manusia menjadi naskah Perjanjian yang baru, seperti yang sudah dinubuatkan dalam Yeremia 31:31-33. Firman itu adalah Roti Hidup yang tinggal dalam diri semua orang percaya. Antara Roh Kudus dan Firman Allah, tidak dapat dipisahkan.

Peristiwa Pentakosta penting karena buah dari turunnya Roh Kudus dan hadirnya Firman Tuhan adalah munculnya perilaku manusia yang baru.

Roh Kudus dan Firman Allah menghasilkan perilaku manusia yang baru. Tiga ribu orang bertobat, memberi diri dibaptis, dan menjadi murid Kristus. Di dalam ayat 42, kita dapat membaca bahwa kehidupan komunitas yang muncul kemudian memiliki empat area kunci berikut ini:
1. Mereka bertekun (membaktikan dirinya) dalam pengajaran rasul-rasul (διδαχῇ τῶν ἀποστόλων, didachē tōn apostolōn).
2. Dan dalam persekutuan (κοινωνίᾳ, koinonia).
3. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti (κλάσει τοῦ ἄρτου, klasei tou artou).
4. Dan berdoa (προσευχαῖς, proseuchais).

Ada perilaku baru yang muncul dalam kehidupan umat Allah. Pertama-tama, orang yang memiliki Roh Kudus dan Firman dalam hidupnya, tekun untuk belajar, secara khusus belajar tentang kebenaran-kebenaran rasuli. Orang-orang yang memiliki Roh Kudus dan Firman dalam hidupnya, memiliki kerelaan dan kerendahan hati untuk dididik. Saya pernah mendengarkan khotbah dari seorang pendeta yang mengatakan bahwa ada satu master key yang Tuhan sediakan, kalau seseorang mau berhasil dan beruntung dalam hidupnya, yaitu “rendah hati untuk belajar.”

Jangan pikir orang-orang Yahudi yang berkumpul di Yerusalem itu buta kitab suci. Yang para rasul ajar ketika Hari Raya Pentakosta bukanlah orang-orang yang buta pengetahuan. Sudah menjadi tradisi bagi orang Yahudi, bahwa dari sejak kecil anak-anak dididik dalam kebenaran-kebenaran Firman Tuhan. Sekitar usia 12 tahun, dilangsungkanlah upacara keagamaan yang mengangkat anak-anak Yahudi menjadi anak-anak Taurat. Setelah usia 12, pembelajaran tentang Taurat terus berlangsung sampai kira-kira usia 30-an tahun. Jadi orang-orang Yahudi adalah orang-orang terpelajar dengan kemampuan belajar yang kuat. Namun, toh, ketika Roh Kudus dan Firman Tuhan tertanam dalam batin mereka (jadi bukan sekadar di otak saja), mereka diubahkan Tuhan menjadi orang-orang yang mau diajar dan mau belajar, bahkan meskipun guru-gurunya adalah nelayan-nelayan yang tidak terdidik seperti Petrus dan kawan-kawan sekalipun, mereka tetap sedia hati untuk belajar dan diajar.

Saya dan isteri rajin mendengarkan khotbah melalui siaran streaming radio melalui HP isteri saya. Saudara tahu siapa pengkhotbahnya? Bukan lulusan sekolah theologi, melainkan lulusan Jurusan Sejarah. Doktrinnya pun seringkali tidak konsisten dan banyak ajarannya yang tidak saya setujui. Tapi, ada banyak kesaksian-kesaksian dan penggalian-penggalian Alkitab yang pengkhotbah ini lakukan, yang memberkati saya dan isteri. Seringkali, kami mendengarkan khotbahnya sambil berbaring di ranjang; kami bergandengan tangan saling menguatkan di ranjang; terkadang mata kami sampai berkaca-kaca dan berurai air mata, mendengarkan kesaksian-kesaksiannya yang menguatkan kami dalam pergumulan kami.

Saya berpikir, tidak pernah rugi untuk menyediakan diri belajar dari oranglain. Dan Saudara-saudara pun harus mengerti, kalau misalnya suatu hari ada orang bertanya kepada Saudara, “Pak/Bu, bagaimana sih cara mengajar anak membaca di TK?” Belum tentu yang bertanya itu tidak tahu bagaimana cara mengajar. Seringkali orang bertanya seperti itu karena dia ingin menambah ilmu atau bermaksud membandingkan ilmu Saudara dengan ilmunya. Jadi jangan cepat berpikir bahwa orang yang bertanya itu berarti sudah pasti tidak tahu. Seringkali orang yang bertanya itu sudah punya ilmu, tapi dia tetap bertanya, karena mau tambah ilmu atau membandingkan ilmunya dengan ilmu Saudara. Ini pun bisa Saudara praktekkan di dalam ketulusan, kepada oranglain. Jadi meskipun Saudara sudah punya pengetahuan tentang sesuatu, tetapi Saudara tetap mau belajar dari oranglain, siapatahu ada hal-hal yang dapat memperkaya Saudara. Caranya? Ya, bertanya!

Meskipun terkadang itu menyinggung gengsi kita, tapi kita yang memiliki Roh Kudus dan Firman dalam batin kita, memiliki kesadaran baru, bahwa tema utama dalam kehidupan ini bukanlah tentang “Saya” atau “Kita”, sebaliknya, tema utama dalam kehidupan kita ini adalah tentang “Dia” (tentang TUHAN Allah di dalam Kristus Yesus). Jadi, tidaklah penting siapa kita atau siapa saya! Karena saya dan kita bukanlah tema besar dari kehidupan ini! Pengakuan Iman Westminster menyatakan bahwa tujuan hidup manusia yang utama? Memuliakan Allah dan menikmati Allah selama-lamanya. Bagian kita manusia hanyalah untuk rendah hati dan saling belajar.

Perilaku baru yang muncul kemudian adalah persekutuan. Bersekutu adalah tanda kedewasaan. Umumnya orang berpandangan bahwa kehidupan kanak-kanak ditandai dengan sikap bergantung (dependen) dan kedewasaan ditandai dengan sikap mandiri (independen). Tapi ada ahli yang kemudian menjelaskan bahwa kemandirian bukanlah titik akhir kedewasaan. Banyak orang yang terlalu mandiri, akhirnya malah bersikap kekanak-kanakkan, yaitu merasa sombong; angkuh; tidak butuh oranglain. Orang pun kemudian menemukan bahwa yang disebut orang dewasa adalah orang yang mau belajar hidup saling bergantung dengan oranglain, secara saling menguntungkan (mutual dependency). Orang dewasa adalah orang yang mengakui bahwa dirinya butuh oranglain, tetapi ketika berelasi dengan oranglain mengembangkan sifat yang saling memberi keuntungan (bukan memanfaatkan satu pihak demi kepentingannya sendiri). Di dalam persekutuan, kita dilatih TUHAN, untuk mengembangkan mutual dependency; di dalam persekutuan kita dilatih untuk menjadi orang dewasa. Saya butuh Saudara; Saudara butuh saya; di dalam TUHAN kita saling bertolong-tolongan menanggung beban (jangan sekadar memanfaatkan yang satu demi kepentingan yang lain).

Perilaku baru yang muncul kemudian adalah memecahkan roti. Pada zaman gereja mula-mula, perjamuan kudus tidak dilaksanakan sebagai upacara terpisah yang kelihatan sakral sebagaimana yang gereja praktekkan sekarang ini. Pada zaman gereja mula-mula, persekutuan jemaat itu selalu ditandai dengan makan bersama, dan di dalam konteks makan bersama itulah, berlangsung memecah roti (perjamuan kudus). Jadi, suasana perjamuan kudus di zaman gereja mula-mula itu adalah suasana makan bersama; menjadi bagian dari makan bersama. Ingat, di dalam konteks budaya Yahudi, makan bersama itu lambang persekutuan.

Melalui pengajaran, Firman Tuhan disampaikan secara verbal (kata-kata lisan). Namun melalui pemecahan roti, Firman Tuhan disampaikan secara aksi (perbuatan). Jadi, khotbah adalah Firman yang diberitakan; dan perjamuan kudus adalah Firman yang diperagakan. Karena itu, dalam kehidupan gereja mula-mula, antara khotbah dan perjamuan kudus senantiasa beriringan. Kalau khotbah disampaikan setiap minggu, maka perjamuan kudus pun dipraktekkan setiap minggu. Karena itu Yohanes Calvin (salah seorang reformator gereja abad pertengahan) mengajarkan bahwa perjamuan kudus itu dilangsung setiap minggu, seperti yang dipraktekkan Gereja Katolik sampai detik ini. Tapi karena ketidaksiapan jemaat untuk menyambut Perjamuan Kudus setiap minggu, akhirnya disepakati bahwa Perjamuan Kudus dilangsungkan empat kali saja dalam setahun.

Melalui aksi memecah roti (pemberitaan Firman dalam perbuatan ini), kita diajar untuk memberitakan Firman, tidak hanya secara verbal, namun juga melalui tindakan dan perilaku kita. Itu sebabnya ketika kita menerima roti dan anggur perjamuan kudus, pendeta selalu mengatakan, “melalui perjamuan kudus ini kita memberitakan kematian Tuhan sampai Tuhan datang kembali.” Melalui perjamuan kudus, kita memberitakan Firman. Perjamuan kudus menjadi sebuah tanda bahwa kita siap untuk memperagakan Firman Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita secara rutin mengikuti Perjamuan Kudus. Pertanyaannya, adakah kita memperagakan Firman dalam kehidupan kita sehari-hari?

Terakhir, perilaku baru yang muncul adalah kehidupan komunitas yang berdoa. Orang Kristen adalah orang-orang yang memiliki Roh Kudus dalam hidupnya, tekun belajar dan mempraktekkan Firman Tuhan, dan suka berdoa. Doa-doa kita menjadi sarana untuk Tuhan bekerja di dalam kehidupan dunia ini. Doa lebih merupakan kepercayaan dan kehormatan, karena sebetulnya, tanpa kita pun, Tuhan bisa langsung bekerja. Tapi ia berkenan memakai doa-doa kita sebagai saluran Tuhan bekerja.

Tentang doa ini kita harus ingat, bahwa Tuhanlah yang punya kerja; Tuhanlah yang punya proyek. Doa-doa kita hanya saluranNya untuk menggolkan proyek-proyekNya di atas muka bumi ini. Jadi, ketika kita berdoa, jangan pikir bahwa kita yang punya proyek. Ketika doa kita menjadi saluran untuk kita menggolkan proyek kita sendiri, maka pada detik itulah Tuhan berhenti bekerja. Karena apa? Karena salurannya kotor; tersumbat oleh proyek-proyek kita. Saya merenungkan, berdoa itu harus dengan murni hati; Tuhan yang punya proyek; kita dan doa-doa kita hanya salurannya saja.

Empat area kunci yang dihidupi para murid menghasilkan otoritas rohani Ilahi. Ayat 43 mencatat, “Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda.” Menurut penafsir Alkitab, kata “mereka” dalam ayat ini menunjuk pada orang-orang di sekitar orang-orang percaya. Ketika orang-orang percaya mempraktekkan keempat perilaku rohani di atas, TUHAN mengaruniakan otoritas Sorgawi yang nampak, dan otoritas itu diteguhkan dengan perkara-perkara ajaib, yaitu mujizat dan tanda. Disinilah kita melihat paradoks kebenaran Allah.

Orang dunia berpikir, untuk menjadi orang yang ditakuti dan disegani, kita harus tampil jadi orang yang serba tahu; kita harus jadi orang mandiri dan serba bisa untuk mengerjakan segala sesuatu sendiri; kita harus pandai beretorika; dan kita harus mengandalkan kekuatan kita sendiri. Ini cara pikir dunia! Ini cara orang dunia agar diri mereka ditakuti dan disegani. Tapi tidak demikian cara sorgawi!

Prinsip sorgawi malah memperlihatkan, ketika Saudara rendah hati mau belajar, orang justru segan kepada Saudara; ketika Saudara mau mengakui bahwa Saudara butuh oranglain, Saudara justru dihormati; ketika Saudara mau berusaha memperagakan Firman meski tidak pandai bicara, orang justru respect kepada Saudara; dan ketika Saudara memilih untuk berdoa dan menjadi saluran Tuhan yang bersih, justru Tuhan angkat tanduk Saudara di hadapan para lawan Saudara. Luarbiasa.

Ketika kita merendah, justru Tuhan bawa naik. Ketika dengan cara dunia Saudara berusaha naik, justru Tuhan akan seret turun. Saya sudah melihat dua contoh kisah nyata (bahkan lebih) yang memperlihatkan hal ini, tapi saya tidak dapat menceritakannya. Namun Saudara jangan main-main dengan prinsip ini. Kalau benar Saudara itu orang pilihan Allah, begitu Saudara meninggikan diri dan berusaha naik, Tuhan akan seret Tuhan. Sebaliknya, begitu Saudara merendahkan diri, Tuhan justru bawa naik. Pengalaman saya pribadi mengajarkan satu hal penting kepada saya, “Tuhan sayang orang yang merendahkan diri dan hatinya mau diajar.” Matius 5:5 menyatakan, “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

Peristiwa Pentakosta penting karena menjadi dasar munculnya kebiasaan rohani.

Roh Kudus dan Firman Allah di dalam batin kita memberikan kita prinsip-prinsip/nilai-nilai/tujuan hidup yang baru. Dari itu semua muncullah perilaku. Dan perilaku yang dipraktekkan berulang-ulang, menghasilkan kebiasaan.

Dalam ayat 44-47 a, kita membaca adanya perilaku-perilaku yang menjadi kebiasaan-kebiasaan. Ini dapat dilihat dari beberapa istilah yang digunakan:
• Ayat 44, “Dan semua orang yang telah menjadi percaya ‘tetap bersatu’ (perilaku menjadi kebiasaan), dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama.
• Ayat 45, “dan ‘selalu ada’ (perilaku menjadi kebiasaan) dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
• Ayat 46, “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul ‘tiap-tiap hari’ (perilaku menjadi kebiasaan) dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing ‘secara bergilir’ (perilaku menjadi kebiasaan) dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati…
• Ayat 47 a, “sambil memuji Allah.

Seorang teman saya pernah menasehati saya dan berkata, “Lakukan satu hal yang sama selama berturut-turut selama tiga minggu, maka itu akan menjadi kebiasaan.” Dahulu saya sering dengar kalimat begini, “Jangan beribadah hanya karena kebiasaan.” Tapi saya berpikir, justru kita harus membangun kebiasaan-kebiasaan rohani atau kebiasaan-kebiasaan yang baik. Firman Tuhan dalam 1 Korintus 15:33 menyatakan, “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Jadi, ada yang disebut ‘kebiasaan yang baik’. Dan Firman Tuhan menasehatkan kita untuk memeliharanya; jangan sampai kebiasaan baik itu dirusak oleh pergaulan yang buruk.

Memang ada jebakan dari sebuah kebiasaan. Kebiasaan dapat membuat apa yang kita lakukan kehilangan maknanya. Karena itu Alkitab menasehatkan kita untuk penuh oleh Roh Kudus, dan untuk dipimpin oleh Roh Kudus, supaya apa? Supaya apapun yang kita lakukan secara kebiasaan itu punya nilai/makna yang kekal; supaya kita tetap diberikan kesadaran akan nilai/makna dari yang kita kerjakan secara rutin.

Kebiasaan baik yang muncul sebagai buah pekerjaan Roh Kudus dan FirmanNya di dalam kita, menghasilkan budaya yang berdampak kekal bagi kehidupan oranglain/bagi dunia.

Ayat 47 b mencatat, “Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Budaya itu menunjuk pada karya manusia. Jemaat mula-mula berkarya bagi Tuhan dengan menampilkan satu kebiasaan hidup yang baru. Kebiasaan baru itu adalah hasil karya Roh Kudus dan Firman Allah yang bekerja di dalam kehidupan mereka. Karya mereka nyata dalam kehidupan masyarakat, dan menghasilkan dampak yang kekal dalam kehidupan masyarakat.

Saya akan menceritakan kembali kisah sang misionaris tadi? Seperti biasa, para penduduk setempat tetap saja mencuri buahnya. Dalam hati, misionaris itu berdoa, “Lihat, Tuhan! Bahkan Engkau sendiri tidak dapat mengendalikan mereka juga.”

Namun suatu hari, seorang penduduk setempat mendatangi sang misionaris dan bertanya, “Tuan! Tuan sudah menjadi Kristen sekarang?

Sang misionaris heran mendengar pertanyaan itu, maka ia pun bertanya balik, “Mengapa Kamu bertanya seperti itu?

Penduduk setempat itu menjawab, “Karena Tuan tidak marah-marah lagi setiap kali kami mencuri buah-buah nanas di kebun Tuan!

Mendengar pernyataan penduduk itu, sang misionaris tersadarkan. Para penduduk pedalaman itu selama ini melihat bahwa misionaris itu tidak hidup seperti yang ia sendiri khotbahkan. Tapi kini, mereka melihat bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam diri misionaris itu; sesuatu yang lebih konsisten.

Seorang penduduk setempat bertanya lagi, “Mengapa Tuan tidak marah-marah lagi?

Misionaris itu menjawab, “Karena saya sudah menyerahkan kebun saya kepada oranglain. Kebun itu bukan milik saya lagi. Jadi kalau kamu mencuri buah-buah nanas itu, kamu bukan mencuri buah-buah nanas saya. Saya tidak perlu marah lagi.

Salah seorang penduduk yang lain bertanya, “Milik siapa kebun itu sekarang?

Misionaris itu berkata, “Saya menyerahkan kebun nanas saya kepada Tuhan.

Para penduduk itu pun menjadi geger. Mereka berkata satu dengan yang lain, “Kita telah mencuri nanas-nanas milik Tuhan. Tidak heran kami tidak mendapat babi lagi ketika berburu; isteri-isteri kami mandul; kami mendapatkan kesusahan-kesusahan.

Para penduduk itu akhirnya menjadi takut akan Tuhan. Segera setelah peristiwa itu, banyak penduduk setempat yang menjadi Kristen. Mereka kini melihat juga bahwa apa yang disampaikan oleh sang misionaris, sama dengan yang dihidupinya. Nilai/prinsip baru dalam kehidupan sang misionaris, menghasilkan perilaku yang baru; dan perilaku yang baru ini menghasilkan kebiasaan yang baru; dan ketika para penduduk itu melihat ada kebiasaan yang berubah dari sang misionaris, mereka pun ikut berubah. Kebiasaan yang baru menghasilkan budaya yang baru.

Penduduk setempat mulai membawa barang-barang kepada sang misionaris untuk diperbaiki. Suatu hari ketika sang misionaris sedang memperbaiki kursi, seorang penduduk setempat menawarkan bantuannya. Sang misionaris bertanya dengan sedikit curiga, “Apakah kamu menawarkan bantuan karena mengharapkan sesuatu dari saya?” Penduduk setempat itu menjawab, “Tidak Tuan. Saya membantu karena Tuan telah membantu memperbaiki sekop saya.” Mereka kini telah menjadi orang-orang yang mengerti tentang balas jasa.

Dari cerita di atas, kita belajar bahwa Roh Kudus, melalui Firman Allah, memberikan prinsip/nilai hidup baru dalam diri seseorang. Itu lalu menghasilkan perilaku dan kebiasaan. Dan dari kebiasaan, lahirlah budaya yang baru. Pentakosta penting bagi kehidupan orang percaya. Kuasa Pentakosta sungguh membawa dampak bagi dunia. Kiranya dengan kuasa Pentakosta, Tuhan memberikan kepada kita prinsip/nilai hidup yang diperbarui; mengubah perilaku kita; dan menuntun kita mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baik, sehingga hidup kita membawa dampak yang bersifat kekal bagi kehidupan oranglain dan dunia. Amin.

(Disampaikan pada Ibadah Umum I-III, GK Kalam Kudus Jayapura, Minggu/2 Juni 2013)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Markus 1:35-38. Tentang Idol


Nats: Markus 1:35-38. Tentang Idol
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Di televisi Kamu tentu tahu ada acara berjudul American Idols atau Indonesian Idols. Idol adalah kata Bahasa Inggris, yang dapat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi ‘idola’ atau juga ‘berhala’. Idola adalah sesuatu yang kita kagumi; namun ketika kekaguman itu sampai pada tahap dimana kita membaktikan diri kita atau menyembah pada sesuatu itu, maka sesuatu itu menjadi ‘berhala’.

Mengapa orang dapat memiliki idol? Saya merenungkan setidaknya ada dua sebab (Anda bisa memikirkan sebab-sebab lainnya):

1. Manusia adalah ciptaan Allah yang dicipta segambar dan serupa dengan Allah.

Allah itu kasih, maka manusia pun memiliki kasih di dalam dirinya, dan kasih itu harus ditujukan kepada obyek tertentu yang dapat menjadi sasaran baktinya, atau menjadi idol-nya. Sebagai ciptaan, manusia sadar bahwa ada kekuatan lain yang lebih besar dari dirinya. Namun di dalam keberadaannya yang sudah jatuh ke dalam dosa, pengetahuan manusia telah disesatkan oleh iblis, sehingga akhirnya manusia mengarahkan perhatiannya kepada kekuatan yang lebih besar yang berasal dari setan. Kepada kekuatan yang lebih besar inilah kemudian manusia mengarahkan baktinya dan cintanya. Kekuatan lain ini menjadi idol-nya. Sebagai gambar dan rupa Allah yang dapat mencintai, manusia bukannya mencintai Sang Pencipta yang menciptakannya, ia justru membaktikan diri untuk mencintai kekuatan lain yang berasal dari iblis.

Saya pernah menyaksikan sebuah film China, berjudul ‘Mural’. Dalam film itu digambarkan tentang seorang Ratu Khayangan yang memiliki kekuatan menciptakan atau membinasakan bidadari-bidadari cantik. Khayangan itu penuh dengan bidadari-bidadari cantik. Setiap pagi, Ratu Khayangan akan menyapa mereka dengan bertanya, “Bagaimana kabar kalian hari ini?” Mereka akan menjawab, “Baik.

Bagaimana penampilanku hari ini?” tanya Sang Ratu lagi. “Cantik sekali!” jawab para bidadari itu.

Bagian mana dari tubuhku yang cantik?” tanya Sang Ratu. “Mata Baginda terlihat cantik hari ini!” jawab salah seorang bidadari.

Sang Ratu Khayangan membuat peraturan yang melarang para bidadarinya jatuh cinta. Apa sebab? Karena ternyata dia pernah mengalami patah hati, karena itu dia tidak mau melihat ada bidadarinya yang dilukai laki-laki. Kalau mereka melawan, mereka akan dilemparkan ke neraka. Sampai kemudian terjadi pemberontakan di khayangan itu, karena diantara para bidadarinya ada yang jatuh cinta. Jadi, Ratu Khayangan pun membinasakan mereka semua; para bidadari beserta para pria yang mereka cintai.

Ratu khayangan itu seperti Allah kita, memiliki kekuatan untuk mencipta dan membinasakan. Hanya saja bedanya, Allah kita tidak melarang umatNya untuk jatuh cinta. Allah adalah kasih, dan sebagai gambar dan rupa Allah, manusia pun memiliki kemampuan untuk mengasihi. Kamu sendiri di masa SMP ini tidak dilarang jatuh cinta, bukan? Kamu memang tidak dianjurkan untuk pacaran; untuk berjalan bergandengan tangan dan berduaan kemana-mana selagi masih duduk di bangku SMP, tapi untuk jatuh cinta, itu adalah hak Kamu! Tapi masalahnya, kepada siapa Kamu mengarahkan kasihmu?

Allah itu kasih. Dan berbeda dengan Ratu Khayangan tadi, Ia bahkan mengaruniakan PuteraNya yang Tunggal, Yesus Kristus, mati di kayu salib untuk menebus dosa kita, dan bangkit demi keselamatan kita. Tidakkah selayaknya Ia menerima kasih kita?

2. Manusia memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi.

Manusia memiliki kebutuhan, dimulai dari kebutuhan yang mendasar yaitu kebutuhan jasmani, kemudian kebutuhan rasa aman, kemudian kebutuhan untuk dimiliki dan dicintai, dan seterusnya hingga kebutuhan akan eksistensi diri. Di dalam keterbatasannya, manusia tidak dapat selalu memenuhi apa yang jadi kebutuhannya. Karenanya, seringkali manusia memantulkan apa yang menjadi kebutuhannya dalam diri figur lain, misalnya artis.

Sebagai contoh, ada orang yang membutuhkan penerimaan dan penghargaan, dan dia melihat ada artis tertentu, misalnya Justin Bieber yang seolah mendapatkan itu semua. Ia lalu berusaha menjawab kebutuhannya akan penerimaan dan penghargaan itu dengan mengidolakan Justin Bieber. Segala gaya dan perilaku Justin Bieber ditiru, karena dengan berbuat demikian, seolah saya pun dapat memperoleh apa yang Justin Bieber peroleh. Jadi, mengidolakan Justin Bieber hanya menjadi pantulan dari apa yang sebetulnya jiwanya butuhkan. Ada orang yang ekstrim mengidolakan Bieber, sampai-sampai ketika suatu kali Bieber tidak juga membalas surat-suratnya, ia pun akhirnya berubah menjadi benci dan berniat membunuh Bieber. Akibatnya, kini Bieber harus dikawal kemana-mana oleh bodyguards.

Pelajaran-pelajaran apa saja yang dapat kita pikirkan tentang topik idol ini?

1. Milikilah Idola yang lebih bernilai kekal.

Yesus pun pernah menjadi idola. Markus 1:35-38 mencatat, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia (Yesus) bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.” Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Pagi-pagi sekali, Yesus sudah berdoa. Dan murid-muridNya menyusul Yesus dan memberitahukan bahwa semua orang mencari Dia. Yesus telah menjadi idola baru orang-orang Galilea. Yesus adalah A Galilean Idol.

Kalau kita membaca perikop-perikop sebelumnya, Yesus melayani di Galilea dan mengajar dengan kuasa; Ia juga menyembuhkan orang sakit, dan mengusir setan. Di tengah-tengah masyarakat yang membutuhkan berita kelepasan, tiba-tiba saja muncul sosok Yesus yang penuh kuasa. Dan dalam waktu singkat, Yesus telah menjadi seorang Galilean Idol.

Seperti yang saya katakan tadi, orang terdorong memiliki idol sebagai ekspresi pemenuhan kebutuhannya dalam hidup ini. Yesus pun sadar bahwa orang banyak mengidolakanNya karena Ia telah memenuhi kebutuhan mereka yang sementara. Tapi Ia tidak mau terjebak dan membiarkan oranglain mengidolakan Dia karena kebutuhan-kebutuhan yang sementara. Ia ingin agar mereka mengikuti Dia karena rindu memenuhi kebutuhan yang lebih bersifat kekal.

Semua ini membuat kita merenung, apakah idolamu menuntunmu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lebih bersifat kekal? Apakah idolamu dapat menuntunmu untuk menemukan pasangan hidup yang dapat memperlengkapimu untuk mengerjakan misi Allah dalam hidupmu? Apakah idolamu menuntunmu untuk semakin mengenal Tuhan lebih dalam lagi? Apakah idolamu menuntunmu untuk memiliki kepastian keselamatan dalam hidupmu?

2. Ketika engkau diidolakan, ingatlah tujuan hidupmu.

Bagaimana respon Yesus ketika banyak orang mencari Dia dan menjadikannya idola baru? Yesus bukannya memanfaatkan kesempatan itu untuk membesarkan namaNya, Ia malah menyingkir ke kota-kota lain. Apa alasan Yesus melakukan itu? Karena Yesus tahu apa tujuan hidupNya dengan jelas. Yesus tahu bahwa tujuan hidupNya adalah untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah. Itu menjadi misi hidupNya, dan Ia tidak membiarkan sesuatu yang lain membelokkanNya dari misi itu.

Yesus memiliki pandangan yang jelas tentang apa tujuan hidupNya. Bagaimana dengan dirimu? Apakah Engkau sadar apa tujuan hidupmu dalam kehidupan ini? Apakah tujuan hidupmu adalah untuk menjadi idola, ataukah Engkau memiliki tujuan hidup lain yang lebih bersifat kekal?

3. Ketika engkau diidolakan, perhatikan setiap tindak-tandukmu, dan arahkan orang untuk memiliki idola yang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka yang lebih bersifat kekal.

Ketika seseorang diidolakan, segala tingkah laku dan tindakannya akan menjadi sorotan, bahkan ditiru. Cara berpakaian; cara bicara; cara berperilaku, semua akan ditiru.

Karena itu Engkau harus berhati-hati, bahkan Engkau harus mengarahkan pandangan orang-orang yang mengidolakan dirimu kepada Tuhan Yesus saja. Arahkan pandangan oranglain bukan kepada dirimu, melainkan arahkan mereka untuk memiliki idola yang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka yang lebih bersifat kekal.

Ketika saya masih remaja, saya mengidolakan Ksatra Baja Hitam. Tembok kamar saya banyak saya tempel gambar-gambar Ksatra Baja Hitam. Saya meniru gaya-gayanya. Saya bersikap seolah-olah sayalah Ksatria Baja Hitam. Ksatria Baja Hitam menjadi cerminan kebutuhan saya untuk menjadi jagoan dan eksis di hadapan oranglain.

Mungkin ada diantaramu yang mengidolakan Barbie. Kamu membayangkan dirimu seperti Barbie, dijemput oleh Ken yang ganteng, yang datang ke rumahmu dengan mobil Ferrari yang mewah. Kamu mengidolakan Barbie, karena Barbie menjadi cerminan kebutuhan kamu untuk menjadi sosok yang cantik dan diperhatikan banyak pria.

Semua idola itu mencerminkan kebutuhan-kebutuhan kita yang bersifat sementara. Bahkan banyak diantara kita yang termakan iklan. Iklan mengatakan bahwa wanita yang cantik haruslah berkulit putih. Siapa bilang? Iklan mengatakan bahwa pria yang jantan haruslah merokok Rokok Marlboro? Siapa bilang? Iklan berusaha mempengaruhi cara pandang kita. Tapi belajar dari Tuhan Yesus, kita harus memikirkan apa yang menjadi tujuan hidupku, dan kita harus belajar memenuhi kebutuhan kita yang lebih bernilai kekal! Arahkanlah pula pandangan sesamamu pada kebutuhan-kebutuhannya yang lebih bersifat kekal.

(Disampaikan dalam Ibadah Siswa SMP Kristen Kalam Kudus Jayapura, Jumat/31 Mei 2013)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , | Leave a comment

2 Timotius 3:15. Selepas SMA


Nats: 2 Timotius 3:15. Selepas SMA
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Ketika anak-anakku sekalian melaksanakan upacara penamatan SMA pada sore hari ini, apa yang dapat kami pesankan kepada kalian semua, kecuali tiga hal ini:

Pesan pertama, bersyukurlah atas panduan iman Kristiani yang telah Anda terima selama ini.

Apa pentingnya panduan iman bagi kehidupanmu? Kisah berikut ini mungkin bisa memberikan gambaran bagi Anda. Ada seorang pendidik Kristen bernama Daniel E. Egeler, menuliskan pengalamannya ketika dahulu ia menempuh pendidikan S-3 di Amerika Serikat, dan harus berhadapan dengan profesor Sosiologi yang tidak percaya Tuhan.

Profesor itu memiliki pandangan bahwa berpegang pada ajaran gereja, berarti sama saja kita bunuh diri secara intelektual. Bagi sang profesor, iman dan intelek, tidak dapat diperdamaikan.

Akhirnya, ia bertumbuh menjadi seseorang yang tidak percaya Tuhan; ia tidak percaya Alkitab sebagai Firman Allah. Profesor ini menikah tiga kali, dan menjadi ayah. Tetapi ia tidak pernah menyediakan bagi anaknya suatu dasar moral (dan dasar iman) yang dapat menolong anaknya untuk mengambil keputusan-keputusan yang tepat di dalam hidup ini. Profesor ini tidak percaya adanya kebenaran yang absolut/mutlak, dan ia berpendapat bahwa anaknya dapat ia lepas begitu saja, dan membiarkan anaknya itu menemukan sendiri tuntunan-tuntunan moral bagi dirinya.

Dengan sikap yang begitu, apa akibatnya? Anak laki-lakinya dari pernikahannya yang ketiga ini, terlibat dalam pemakaian obat-obatan terlarang sehingga harus direhabilitasi. Mengapa? Karena anak ini tidak memiliki panduan moral (dan keagamaan) yang dapat menolong dia mengambil keputusan-keputusan yang tepat dalam hidup ini. Pada akhirnya, profesor yang tidak percaya Tuhan ini, sadar, bahwa keputusannya untuk membiarkan anaknya mencari panduan moral sendiri, adalah keputusan yang salah. Pandangan hidupnya terbukti sebagai pandangan hidup yang gagal. Setiap orang perlu dituntun secara moral; setiap orang memerlukan tuntunan iman.

Dalam suatu kesempatan, sang profesor yang tidak percaya Tuhan itu berdialog dengan Daniel yang Kristen. Di akhir dialog, ia berpesan kepada Daniel, “Anakku, jangan sampai hilang apa yang kamu punya (yaitu iman Kristen). Saya hanya berharap saya bisa melakukan lompatan iman yang sama, tetapi saya takut melakukan bunuh diri intelektual.” Lukas 18:24 mencatat perkataan Yesus, “Betapa sulit bagi orang kaya masuk ke sorga.” Dan tampaknya, betapa sulit pula bagi orang pintar untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sang profesor, lebih memilih untuk mengorbankan iman dan moralitas absolut, di atas altar ilmu pengetahuan.

Dari kisah di atas kita dapat merenungkan, bahwa adanya panduan moral dan iman itu sangatlah penting! Ketika Rasul Paulus sudah mendekati masa-masa akhir pelayanan dan kehidupannya, ia menuliskan pesan-pesan terakhir kepada Timotius, anak didiknya. Dan dalam 2 Timotius 3:15, salah satu pesan yang Paulus tuliskan adalah, “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.

Yang Paulus tuntut dari Timotius bukanlah agar Timotius mengingat pelajaran-pelajaran filsafat yang mungkin Timotius pernah dengar! Yang Paulus tuntut dari Timotius bukanlah agar Timotius mengingat pelajaran-pelajaran bisnis yang mungkin pernah Timotius agar dapat sukses di masa depan! Yang Paulus tuntut dari Timotius adalah agar Timotius ingat, bahwa dari kecil ada Kitab Suci, yang telah menjadi penuntun dalam kehidupan moral dan iman.

Dalam kehidupan iman; dalam konteks relasi dengan Allah Pencipta, Firman Allah telah menuntun Timotius kepada keselamatan oleh iman kepada Yesus Kristus. Timotius memiliki identitas yang jelas, yaitu sebagai anak Allah yang mewarisi Kerajaan Sorga, karena apa? Karena ada Kitab Suci yang menuntunnya.

Dalam konteks moral, Firman Allah telah dan akan terus, “bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakukan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Timotius 3:16-17). Timotius memiliki panduan moral dan iman dari sejak kecilnya, yang menolong dia untuk dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan baik.

Mendengar kisah Daniel tadi, seharusnya anak-anakku sekalian menyadari bahwa Anda memiliki alasan yang baik untuk mengucap syukur kepada Tuhan. Kalian yang tumbuh dan besar di Papua, memiliki akses yang sangat mudah untuk dapat mengenal dan belajar Firman Tuhan dari sejak muda. Bahkan mungkin orangtua kalian yang Kristen telah memperkenalkan Alkitab Firman Allah dari sejak kalian masih kanak-kanak. Dan lebih khusus lagi, kalian telah berkesempatan untuk mengecap pendidikan di satu sekolah Kristen yang dalam tiga tahun terakhir ini, telah berupaya mengintegrasikan iman Kristen dan mengintegrasikan kebenaran Alkitab, ke dalam kurikulum pembelajaran yang ada (meski masih perlu banyak pembenahan).

Anak-anakku, sadarkah kalian? Kesempatan untuk menempuh pendidikan di lembaga yang mengintegrasikan Firman Tuhan dengan elemen-elemen pendidikan lainnya, belum tentu akan kalian dapatkan dengan mudahnya di kemudian hari:
• Kalau kalian mau mencari tempat pendidikan dengan manajemen kelas yang kreatif, tidak perlu repot-repot cari di sekolah Kristen. Kalau motivasimu hanya ingin mencari manajemen kelas yang kreatif, kalian pun bisa mendapatkannya di sekolah-sekolah negeri binaan Muhamadiyah di luar sana.
• Kalau kalian mau mencari tempat pendidikan yang memiliki jadwal-jadwal ibadah siswa dan jadwal-jadwal konseling yang khusus, juga tidak perlu repot-repot cari di sekolah Kristen. Dahulu ketika saya sekolah di SMA Negeri pun, kami yang Kristen diberi waktu khusus untuk ibadah, yaitu setiap Jumat Siang, dan guru BP pun selalu siap kapan saja untuk ditemui.
Tapi yang menjadi anugerah besar buatmu adalah, ketika Kamu berkesempatan, menempuh pendidikan di sekolah dimana terdapat integrasi Firman Tuhan ke dalam setiap aspek kehidupan sekolah. Dan adanya integrasi itu tercermin, tidak hanya dari isi kurikulumnya, tapi juga dari karakter personil-personilnya; dari mulai ketua yayasannya, guru-gurunya, sampai dengan petugas kebersihan dan satpamnya, dan itu semua hanya dapat kalian peroleh di sekolah Kristen.

Jadi anak-anakku, inilah keunikan sekolah Kristen! Adanya integrasi Firman Tuhan di dalam Kristus! Dan selama tiga tahun belakangan ini kalian sudah sedikit-banyak mengecapnya, meski kamipun sebagai penyelenggara pendidikan masih harus terus melakukan banyak pembenahan di sana-sini. Tapi setidaknya, kalian punya alasan untuk bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan yang telah Tuhan berikan!

Pesan Kedua, waspadalah terhadap tantangan semangat jaman ke depan.

Paulus pernah menulis kepada jemaat di Efesus demikian, “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat iblis” (Efesus 6:11). Jadi apa tantangan yang harus kita hadapi dalam kehidupan kita? “Tipu muslihat” yang keluar dari pikiran iblis.

Kemanakah tipu muslihat itu diarahkan? Kepada pikiran-pikiran manusia! Dengan tipu muslihatnya, iblis menipu pikiran manusia, sehingga pikiran manusia membangun siasat dan membangun keangkuhan, yang menentang pengenalan akan Allah, di dalam Kristus Yesus. Jadi orang-orang yang tidak percaya Allah; dan yang tidak percaya Yesus Kristus, adalah orang-orang yang pikirannya termakan tipu muslihat iblis. Dan gawatnya, pikiran manusia dapat membentuk pikiran/semangat jaman, sehingga akhirnya, pikiran/semangat jaman kita pun adalah pikiran/semangat jaman yang menentang pengenalan akan Allah.

Apalagi dengan bombardir teknologi-komunikasi yang berkembang begitu pesat. Seorang futuris bernama Alvin Toffler, pernah membagi periode perkembangan kebudayaan manusia ke dalam tiga fase: (1) Fase pertanian; (2) Fase Industri; dan (3) Fase Teknologi-Komunikasi. Dalam konteks Indonesia, perkembangan kebudayaan kita belum lagi tuntas di fase pertanian dan industri, tapi kita sudah langsung diperhadapkan pada gempuran perkembangan teknologi-komunikasi.

Perkembangan teknologi-komunikasi memungkinkan Anda mengakses segala bentuk informasi, dari mulai yang bersifat sampah sampai pada yang bersifat kekal. Sampah-sampah seperti apa yang dapat kalian dapatkan dari pikiran/semangat jaman ini?

Saya pernah menyaksikan film James Bond, 007 yang berjudul “Skyfall”. Dalam film itu, seorang musuh James Bond menggambarkan kehidupan kita ini seperti kehidupan tikus-tikus di ladang petani. Pada suatu hari petani itu membuat sebuah jebakan tikus, dengan meletakkan sebongkah umpan makanan yang diletakkan di atas drum berisi cairan minyak. Seekor tikus mendekati umpan itu, lalu terjatuh ke dalam drum berisi cairan minyak itu. Tikus kedua juga mengalami hal yang sama. Demikian seterusnya dengan tikus ketiga, keempat, dan seterusnya. Pada akhirnya banyak tikus terjebak di dalam drum berisi cairan minyak itu.

Apa yang kemudian petani lakukan? Membakar tikus-tikus dalam drum itu sampai mati? Tidak. Ia membiarkan para tikus itu ada di dalam drum itu berhari-hari. Akhirnya, tikus-tikus itu saling memakan demi bertahan hidup. Tikus-tikus itu menjadi mahluk agresif yang memakan sesamanya sendiri. Sampai akhirnya tersisa beberapa tikus saja.

Lalu apa yang petani lakukan dengan tikus-tikus yang tersisa? Membunuh mereka? Tidak juga. Tikus-tikus yang telah berubah agresif itu dilepaskan ke ladangnya, dan justru menjadi pemangsa dari teman-temannya sesama tikus. Akhirnya, di ladang itu, tersisa hanya dua tikus saja. Dan dua tikus ini pun harus saling menghabisi demi bertahan hidup. Pada akhirnya, hanya akan tersisa satu tikus saja.

Kalau bukan karena adanya Firman Tuhan yang menopang dan menjadi panduan, bukankah sifat dasar kita sebagai manusia pun akan berubah menjadi seperti tikus-tikus tadi? Pikiran/semangat jaman ini mendorong kita untuk bersaing dan saling mengalahkan, mengejar jabatan, uang, popularitas, padahal Firman Tuhan mengatakan, “Tuhan yang mengangkat dan Tuhan yang menurunkan.” Pikiran/semangat jaman ini mendorong kita kepada segala bentuk pemuasan hawa nafsu, padahal Firman Tuhan mengatakan, “manusia hidup tidak hanya dari roti saja.”

Berapa banyak diantara kita yang mampu mengatasi semua gempuran informasi itu tanpa memiliki panduan moral dan iman yang jelas? Setiap manusia memerlukan tuntunan untuk dirinya. Semua gempuran informasi melalui teknologi-komunikasi dapat mengombang-ambingkan kita kesana-kemari, dan dapat mengkaramkan kapal iman kita! Dan di dalam semua gempuran gelombang informasi semacam itu, kita butuh batu karang tempat kita menautkan jangkar iman kita sehingga kita tidak terhanyut ke lautan lepas.

Batu karang itu adalah Kristus dan FirmanNya! Batu karang itu terletak di bawah lautan, tidak terlihat oleh mata, namun teguh menopang setiap jangkar iman orang percaya, sehingga kapal kehidupan Anda tidak hanyut dan terhilang di tengah-tengah lautan kehidupan yang ganas dan membuat putus asa ini. Batu karang itu juga digambarkan Alkitab terletak di dataran pantai, dan ketika Anda mau membangun rumah imanmu di atas batu karang itu (dan bukannya di atas bagian pantai yang berpasir), maka rumah imanmu pun tidak akan pernah roboh dihantam gelombang kehidupan yang ganas. Batu karang itu, yaitu Kristus dan FirmanNya, memberikan pondasi yang kokoh bagi bangunan imanmu.

Pesan ketiga, jangan pernah lupakan apa yang penting yang telah engkau sendiri terima, yaitu pendidikan Kristen.

Pesan ketiga ini bukan bermaksud mendorong Anda untuk senantiasa mengingat guru-guru Anda. Tidak! Pesan yang ketiga ini hendak mengingatkan kepada Anda bahwa keberadaan Anda juga adalah untuk melanjutkan tongkat estafet. Ketika generasi guru-gurumu mengakhiri tugas dan tanggungjawabnya, siapakah yang akan melanjutkan tugas dan tanggungjawab pendidikan Kristen? Kalau bukan Anda, anak-anakku, maka siapa lagi?

Seorang guru Kristen pernah memberikan kesaksian kepada saya, betapa pengaruh seorang guru terhadap kehidupan para muridnya, tidaklah kecil. Guru Kristen ini bercerita bahwa setiap kali ada siswanya yang terlambat masuk sekolah, ia berkata, “Ampun, deh! Ini lagi, terlambat lagi, terlambat lagi! Mau jadi apa Kamu?” Dan suatu hari ia terkejut, karena ketika ada beberapa muridnya yang terlambat, spontan, murid-muridnya yang lain; yang sudah datang lebih dahulu berkata, “Ampun, deh! Ini lagi, terlambat lagi, terlambat lagi! Mau jadi apa Kamu?” Jadi, sikap; gaya bicara; dan perkataan gurunya, ditiru persis oleh murid-muridnya.

Menjadi seorang guru, berarti mengambil kesempatan dan tanggungjawab, untuk menjadi orang-orang yang menanamkan pengaruh dalam kehidupan oranglain. Begitu besar pengaruh seorang guru, sampai-sampai dalam Yakobus 3:1 dikatakan, “Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.

Yakobus mengatakan, “Janganlah banyak”, artinya ada sedikit orang yang menjadi guru, dan sedikit orang itu memiliki tanggungjawab yang besar di hadapan Tuhan. Dan seandainya suatu hari kelak, ada di antara anak-anakku sekalian terpanggil dengan kuat untuk mengemban tugas dan tanggungjawab untuk menjadi seorang guru, bersyukurlah, dan jangan lupakan Sekolah Kristen Kalam Kudus di Jayapura! Dengan mengemban tanggungjawab pendidikan itu, berarti Anda termasuk sedikit orang yang akan melanjutkan tongkat estafet pendidikan Kristen di Indonesia, dan mungkin secara khusus pula, untuk melanjutkan tongkat estafet pendidikan Kristen di sekolah kita tercinta ini!

Undang-undang No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen telah membuka pintu untuk semua lulusan sarjana atau diploma 4 dari jurusan apapun dan dari fakultas apapun, bisa berprofesi sebagai guru. Jadi untuk menjadi guru, Anda tidak harus lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru); lulusan IKIP (Insitut Keguruan dan Ilmu Pendidikan); atau fakultas pendidikan. Kalau Anda membaca Rubrik Opini Kompas tanggal 29 Mei 2013, undang-undang ini menimbulkan kejengkelan mereka yang berlatarbelakang pendidikan guru. Tapi, undang-undang tetaplah undang-undang. Dari lulusan jurusan manapun Anda, seandainya kelak Anda terpanggil menjadi seorang guru, berilah dirimu diperlengkapi untuk menjadi guru Kristen yang betul-betul mengerti filsafat pendidikan Kristen, dan abdikanlah dirimu untuk pendidikan Kristen di Indonesia.

Tetapi bagi Anak-anakku sekalian yang tidak terpanggil untuk menjadi guru, tetaplah mendukung pendidikan Kristen di Indonesia, dan di seluruh dunia. Melalui apapun profesi yang Anda tekuni dan lewat jabatan apapun yang Anda emban, tetaplah dukung pendidikan Kristen di Indonesia, dan di seluruh dunia. Bahkan kalau Anda berkenan, ingatlah pula, bahwa ada upaya-upaya pendidikan Kristen di Sekolah Kristen Kalam Kudus Jayapura yang juga bisa Anda dukung! Ingatlah bahwa tongkat estafet pendidikan Kristen di Indonesia dan di Sekolah Kristen Kalam Kudus Jayapura, harus ada yang melanjutkan!

Akhir kata, anak-anakku, tetaplah bersyukur! Sambut masa depan dengan berpegang pada Firman Tuhan! Dan siapakah diantara Kalian yang terpanggil untuk menjadi guru dan mendukung pendidikan Kristen di Indonesia? Jangan pernah lupa bahwa tongkat estafet untuk keberlangsungan pendidikan Kristen, juga ada di tangan kalian semua. Amin!

(Disampaikan pada Ibadah Penamatan Siswa Kelas XII SMA Kristen Kalam Kudus Jayapura, Kamis/30 Mei 2013)

Categories: Tulisan | Tags: , , , | Leave a comment

Keluaran 1:22-2:10. Ironi Firaun


Nats: Keluaran 1:22–2:10. Ironi Firaun.
Oleh: Sdr. NT. Prasetyo, S.Sos.

Dari mulai matinya Yusuf hingga bangkitnya seorang raja baru, ada rentang waktu ± 200 tahun. Raja baru yang bangkit kemungkinan bernama Ahmose, pendiri dari Dinasti ke-18, yang berhasil mengenyahkan penguasa-penguasa asing di Mesir, yang berkuasa sebelumnya, yaitu orang-orang Semit yang disebut Hyksos. Raja ini bergelar Firaun, yang artinya: Rumah Besar.

Di bawah pemerintahan Firaun baru ini, bangsa Ibrani – yang juga tergolong orang Semit – ditindas dan dipaksa untuk mendirikan kota-kota penyimpanan bahan pangan, salah satunya Kota Rameses. Kota Rameses terletak di dekat pemukiman orang Ibrani. Bangsa Ibrani ditindas dengan kerja paksa yang berat, termasuk diantaranya memompa air Sungai Nil ke ladang-ladang untuk mengairi ladang-ladang.

Karena strateginya tidak berhasil mengurangi populasi bangsa Ibrani, Firaun lalu memerintahkan bidan-bidan – diantaranya bernama Sifrah dan Pua – untuk mengamat-amati (ketika mereka menolong persalinan di atas dua batu persalinan) apakah yang lahir dari seorang ibu Ibrani itu bayi laki-laki ataukah perempuan. Jika laki-laki, mereka harus membunuhnya. Dan Sifrah dan Pua tidak melakukan perintah Firaun, sehingga Allah pun memberkati rumahtangga mereka. Nama Sifrah dan Pua sendiri adalah nama Semitis, bukan nama Mesir.

Ironi:

1. Firaun memanfaatkan sungai Nil untuk membinasakan Bangsa Ibrani; namun justru melalui sungai Nil pulalah “juruselamat” bangsa Ibrani diselamatkan.

Firaun memerintahkan semua rakyatnya agar setiap anak laki-laki yang lahir, dibuang ke Sungai Nil (1:22). Sungai Nil menjadi sebuah sarana/alat untuk membinasakan semua bayi laki-laki Ibrani. Namun kita mengetahui kisah tentang pasangan Ibrani yang berasal dari Suku Lewi, menyelamatkan anaknya yang sudah disembunyikan selama tiga bulan ini, juga dengan menggunakan sarana/alat: Sungai Nil. Pasangan Lewi ini membuat “peti kecil” (bahasa Ibrani yang digunakan sama dengan yang digunakan untuk kata “bahtera” Nuh). Jadi bayi Musa yang berumur tiga bulan ini, diselamatkan dengan “bahtera mini”. Firaun memanfaatkan Sungai Nil untuk membinasakan Bangsa Ibrani; namun justru melalui Sungai Nil pulalah “juruselamat” bangsa Ibrani diselamatkan.

2. Firaun hendak membinasakan Bangsa Ibrani; namun justru menjadi orangtua dari “juruselamat” bangsa Ibrani.

Ketika “bahtera mini” itu hanyut, puteri Mesir menemukannya. Kemungkinan puteri yang dimaksud disini adalah puteri terkenal dari Dinasti ke-18, yang dikemudian hari dikenal sebagai Ratu Hatshepsut. Dengan cerdik Maryam, kakak perempuan Musa, yang berusia sekitar 11 tahun lebih tua dari Musa, menawarkan diri untuk mencarikan inang penyusu. Puteri Firaun setuju, lalu Yokhebed (ibu Musa sendiri) dipanggil untuk menjadi penyusu Musa, bahkan diberi upah untuk melakukan tugas itu.

Jadi Musa dari sejak lahir, tetap diasuh oleh keluarganya sendiri di dalam iman Ibrani mereka, bahkan mendapatkan biaya hidup dari Puteri Mesir. Setelah bayi Musa beranjak dewasa, ia dibawa ke Istana Firaun. Lalu puteri Firaun menamainya, “Musa”, dan mendidik Musa kecil ini di dalam seluruh hikmat orang Mesir, juga membesarkan Musa dalam seluruh kemewahan Mesir. Firaun yang tadinya hendak membinasakan Bangsa Ibrani; kini justru menjadi orangtua dari “juruselamat” bangsa Ibrani.

3. Firaun membinasakan semua anak laki-laki Ibrani, dan mempertahankan anak perempuan saja; namun justru melalui figur-figur perempuanlah, ia dikalahkan.

Figur-figur perempuan itu diantaranya:
1. Bidan-bidang (1:17)
2. Para Ibu Ibrani (1:19)
3. Ibu dan kakak perempuan Musa (2:3–4, 7–9).
4. Puteri Firaun (2:5).
Firaun membinasakan semua anak laki-laki Ibrani dan mempertahankan anak perempuan saja; namun justru melalui figur-figur perempuanlah, ia dikalahkan.

Pelajaran buat kita: Roma 8:28, “Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu, untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi Dia; bagi setiap orang yang terpilih seturut rencanaNya.” Dan unik, karena TUHAN menyingkapkan kebenaran ini melalui ironi dalam kehidupan Firaun.

(Disampaikan dalam Persekutuan Rayon II GK Kalam Kudus Jayapura, Jumat/23 Mei 2008).

Categories: Tulisan | Tags: , , , | Leave a comment

Ulangan 34. Musa, Seorang Pemimpin Besar


Nats: Ulangan 34. Musa, Seorang Pemimpin Besar
Oleh: Sdr. NT. Prasetyo, S.Sos.

Ulangan pasal terakhir menyatakan bahwa setelah Musa, tidak ada lagi nabi yang seperti dia. Ini artinya Musa memiliki kepemimpinan/kehidupan “yang tiada duanya”. Namun apa yang menyebabkan predikat itu dapat dikenakan kepada Musa?

Bila kita membandingkan dengan Bung Karno, Sang Pemimpin Besar Revolusi di Indonesia, kita bisa menemukan setidaknya dua hal yang menjadikan seseorang itu mendapatkan predikat “pemimpin besar”:

1. Pertama, pribadi yang hebat.
2. Kedua, karya-karya yang hebat.

Baik Musa maupun Bung Karno memiliki keduanya.

Perbedaannya, predikat pemimpin yang hebat dengan karya yang hebat, diperoleh Bung Karno karena apa yang telah dicapainya sebagai pribadi. Sedangkan dalam kasus Musa, predikat pemimpin yang hebat dengan karya yang hebat itu dikenakan kepada Musa karena apa yang telah Allah kerjakan DI DALAM dan MELALUI Musa. Jadi bukan Musanya sebagai pribadi yang hebat, melainkan Allahnya.

Lebih spesifik lagi, Musa menjadi Pemimpin Yang Tiada Duanya karena:
1. Ia adalah pemimpin “yang dikenal Tuhan muka dengan muka” (Ulangan 34:10).
2. Melalui Musa, Allah melakukan perkara-perkara besar (Ulangan 34:11 – 12).

Jadi aplikasi apakah yang bisa kita pelajari dari keberadaan Musa sebagai Pribadi yang Tiada Duanya? Dari Musa kita bisa belajar bahwa untuk memiliki kehidupan “Yang Tiada Duanya” bagi seorang anak Tuhan, terkait dengan bagaimana Allah berkarya DI DALAM dan MELALUI kita. Singkat kata, bagaimana kita memiliki kehidupan “Yang Tiada Duanya” adalah terkait dengan bagaimana relasi kita dengan Tuhan.

Ulangan 18:15, 18–19 menubuatkan bahwa akan ada nabi lain yang muncul sama seperti Musa. Kita memahami ayat ini sebagai nubuatan tentang Yesus Kristus. Tentang Yesus Kristus, Perjanjian Baru mencatat:
Perkataan Yesus: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya” (Mat. 11:27). Dalam konteks ini, Yesus mengungguli Musa, karena dalam Ulangan 34:10, masih nampak Allahlah yang lebih dominan mengenal Musa, sedangkan dalam Matius 11:27 ini, antara Anak dan Bapa memiliki pengenalan yang setara dan sama-sama dominan.

Pengakuan rasul Yesus, “Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu” (Yoh 21:25). Ayat ini saja sudah memberi petunjuk betapa Yesus nampaknya sudah mengungguli Musa dalam hal “karya”.

Kepada kita kini, Yesus disingkapkan sebagai Pribadi yang Tiada Duanya, dan Pribadi yang melakukan Karya Yang Tiada Duanya, sehingga apabila kita hendak memiliki kehidupan Yang Tiada Duanya, kita harus datang kepada Pribadi Yang Tiada Duanya yang jelas-jelas menungguli Musa dalam segala hal, yaitu Yesus Kristus.

(Disampaikan pada Ibadah Umum I & II GK Kalam Kudus Jayapura, Minggu/18 Mei 2008)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , | Leave a comment

Keluaran 3-4. Yang Lebih Membuat Musa Takut


Nats: Keluaran 3-4. Yang Lebih Membuat Musa Takut
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, S.Sos.

Menarik karena ketika di Midian, Tuhan mengutus Musa, lima kali Musa menjawab Tuhan dengan nada enggan dan mengekspresikan ketidakpercayaan dirinya. Dan menariknya lagi, dari lima kali ekspresi keengganan itu, empat yang terakhir menyiratkan ketidakpercayaan diri Musa untuk menghadapi bangsanya sendiri. Kalau kubaca Ibrani 11, jelas bahwa Musa tidak takut kepada Firaun. Namun ternyata yang paling ia takuti adalah bangsanya sendiri.

Musa sudah mengalami trauma, dimana dahulu pada 40 tahun awal kehidupannya, ia – di dalam segala background pendidikan, pelatihan, status sosial, kompetensi yang cemerlang di mata dunia – telah mengalami penolakan dari bangsanya sendiri, ketika ia bermaksud membela saudara sebangsanya sendiri dari orang Mesir yang menindas mereka.

Kisah Para Rasul 7 menjelaskan bagaimana Musa mengira bahwa saudara-saudara sebangsanya akan mengerti bahwa dirinyalah yang telah ditetapkan Allah untuk membebaskan mereka. Tetapi ternyata Musa mengalami penolakan, sehingga ketika Tuhan mengutus ia kembali, yang paling membuatnya enggan, bukanlah tugas itu sendiri; bukan Firaun maupun orang Mesir; melainkan bangsanya sendiri!

(Disampaikan pada Persekutuan Wanita GK Kalam Kudus Jayapura, Jumat/16 Mei 2008)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , | Leave a comment

Secuil Mutiara-mutiara Khotbah Bapak Gereja Augustinus


Aku menemukan mutiara-mutiara indah dari kumpulan kotbah Bapa Gereja Aurelius Agustinus. Dalam Sermo 378 yang diucapkan pada hari raya Pentakosta, Agustinus menulis tentang Pribadi Roh Kudus sebagai berikut, “Kristus pun telah memberi panjar kepada kita: Roh Kudus…. Memang lebih baik dinamakan panjar daripada petaruh…. Hanya, bila kamu menerima petaruh, petaruh itu harus kamu kembalikan setelah urusannya selesai. Tetapi jika panjar yang kamu peroleh, panjar itu tidak perlu dikembalikan. Tidak, sisa jumlahnya ditambahkan kepada panjar itu.”

Dalam Sermo 272B yang diucapkan pada hari raya Pentakosta, 10 Juni 417 di Hippo Regius, Agustinus menulis tentang relasi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sebagai berikut, “Dalam Perjanjian Lama rahmat itu dibayangkan, dalam Perjanjian Baru rahmat itu digenapi. Seorang seniman yang membentuk benda dari logam – perunggu atau perak – mula-mula membuat dari lilin bentuk-bentuk yang bakal dicornya, dan dengan buraman pertama membuat ruang untuk patung logam yang dibayangkannya. Dengan cara itu dibuatnya acuan-acuan yang kemudian diisinya penuh. Begitu pula Tuhan membuat rancangan dan maket bagi umat yang lama, dan menggenapinya bagi umat yang baru dengan pencurahan sempurna.”

Kemudian Agustinus menulis tentang “jari Allah”. Ia menulis, “Akan tetapi: Tuhan menjawab: “Jika Aku mengusir setan-setan dengan jari Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Lukas 11:20 menurut terjemahan Latin). Seorang penulis Injil yang lain memaparkan hal yang sama sebagai berikut: “Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Matius 12:28). Jadi, sementara penulis Injil yang satu mengatakan “jari Allah”, rekannya menjelaskannya, “untuk memperlihatkan kepada kita bahwa jari Allah itu Roh Kudus.”

Agustunis nampaknya senang sekali memakai metode alegori dalam menafsirkan bagian-bagian Alkitab. Dalam Sermo 266, yang diucapkan pada malam Pentakosta, antara tahun 397–410 di Cartago, Augustinus mengalegorikan Kisah Para Rasul 10 sebagai berikut: “Misteri ini jelas. Pinggan itu melambangkan dunia. Keempat tambang yang mengikat pinggan, adalah keempat mata angina yang dalam Injil disebut dengan kata-kata, “timur dan Barat, utara dan selatan”. Binatang-binatang itu adalah bangsa-bangsa. Turunnya pinggan sampai tiga kali menarik perhatian kita pada Tritunggal. Petrus adalah gereja. Maka Petrus yang lapar adalah gereja yang ingin supaya bangsa-bangsa beriman. Suara dari sorga adalah Injil yang kudus. “Sembelihlah dan makanlah”, artinya: bunuhlah mereka sebagaimana adanya mereka sekarang, dan jadikanlah mereka sebagaimana adamu sendiri.”

(Senin/5 Mei 2008)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Kejadian 11:27–32. Pelajaran dari Silsilah Abraham


Nats: Kejadian 11:27–32. Pelajaran dari Silsilah Abraham
Oleh: Sdr. NT. Prasetyo, S.Sos.

Kejadian 1–11 berbicara tentang asal-usul alam semesta dan manusia secara umum. Sedangkan mulai pasal 12, sejarah keselamatan melalui Israel, mulai dibicarakan. Dan tokoh pertama yang menjadi nenek-moyang dalam sejarah keselamatan melalui Israel adalah Abram/Abraham.

Menarik, karena mengawali catatan tentang Abram/Abraham, Alkitab mencatat, “Sarai itu mandul, tidak mempunyai anak” (ayat 30). Ini menjadi sebuah tema utama yang mewarnai kehidupan Abram/Abraham seterusnya. Suatu kondisi yang pada zaman itu dianggap sebagai tanda “tidak diberkati” Tuhan.

Kondisi “tidak diberkati” ini kemudian dikontraskan dengan janji Allah kepada Abraham. Allah berjanji bahwa oleh keturunan Abraham, semua bangsa di bumi akan memperoleh berkat (Kejadian 22:17). Memang dalam konteks Abraham, keturunan yang dimaksud adalah Ishak. Namun dalam Surat Galatia 3:16, Paulus menyatakan bahwa yang dimaksud dengan keturunan disini adalah Yesus Kristus.

Allah setia pada janjiNya dan mewujudkannya bagi Abraham, dengan mengubah kondisi Abraham yang “tidak diberkati” menjadi “terberkati”. Kejadian 25:11 mencatat satu kalimat penting, “Setelah Abraham mati, Allah memberkati Ishak, anaknya itu.” Perhatikan, ada peralihan dari keadaan “Sarai mandul” menjadi “Allah memberkati Ishak”. Ada peralihan dari kondisi “tanpa berkat” menjadi “Allah memberkati.” Allah terbukti setia pada janjiNya dan terbukti sanggup mewujudkan berkat keselamatanNya bagi umatNya. Dalam hal ini, kesetiaan janji Allah dikaitkan dengan berkat Allah yang merupakan kebutuhan ultimat manusia, yaitu KESELAMATAN.

Kesetiaan Allah pada janjiNya kepada Abraham itu, terbukti pula dari kehidupan kita –bangsa-bangsa lain di muka bumi– yang pada akhirnya memperoleh berkat dari keturunan Abraham itu. Dan Allah hendak terus menggenapi janjiNya itu kepada banyak orang-orang lain dari bangsa-bangsa itu. Allah telah memakai Abraham dan Sarai, karena itu bagaimana dengan kita? Akankah kita menyerahkan diri kita untuk dipakai Tuhan membuktikan kesetiaan janjiNya kepada orang-orang lain dari bangsa-bangsa itu? Dalam kesetiaanNya, Ia sanggup mengubah keadaan “tidak diberkati” menjadi “yang diberkati“.

Kepada jemaat aku kemudian mengatakan, “Pak Citra hanyalah salah satu dari ribuan orang yang telah mengalami pengalaman dimana Allah telah terbukti setia menepati janjiNya.” Dan berkaitan dengan perayaan ulangtahun beliau, yang bisa jemaat lakukan adalah, “meneladani teladan yang Pak Citra telah tinggalkan, dimana dalam pelayanannya, Allah telah menunjukkan diriNya sebagai Allah yang setia menepati janjiNya.”

Bersyukur karena seorang jemaat merasa diberkati dengan kotbah ini. Sementara seorang rekan rohaniwan yang lain mengatakan bahwa melalui kotbah ini, Tuhan memberikan peneguhan kedua atas pergumulan yang sedang ia gumuli. Puji TUHAN.

(Disampaikan Ibadah Syukur dalam rangka Peringatan Hari Ulangtahuan Pdt. Yusuf Citra, Minggu/4 Mei 2008)

Categories: Tulisan | Tags: , , | Leave a comment

Efesus 6:1–4. Memukul atau Tidak Memukul


Efesus 6:1–4. Memukul atau Tidak Memukul
Oleh: Ev. Evelyn Soedibyo, B.Sc.

Ev.Evelyn mengkotbahkan tema “Memukul atau Tidak Memukul”. Beliau membahas Efesus 6:1–4. Dari ayat ini Bu Evelyn mengajukan pertanyaan retoris, “Bagaimana kita bisa memukul anak kita, tanpa harus membangkitkan amarah di dalam hatinya?

Ada pepatah mengatakan bahwa “di ujung rotan ada emas,” artinya, It’s ok untuk memukul anak. Namun sejauh mana? Bu Evelyn memberikan pedoman dalam memukul anak, yaitu harus dengan kasih dan tepat. Orangtua yang punya kecenderungan abusive, tidak boleh memukul, karena bila ia memukul, akan cenderung bersikap abusive dan bukannya mendisiplin.

Bu Evelyn juga mengatakan bahwa berdasarkan buku-buku yang ia baca, usia yang baik bagi anak untuk menerima pukulan adalah antara 18 hari hingga Sembilan tahun. Di bawah 18 hari, memukul anak bisa mengakibatkan akibat fisik yang berbahaya. Sedangkan anak di atas Sembilan tahun, sudah tidak tepat lagi menerima disiplin dengan cara dipukul. Bentuk hukuman yang lebih tepat untuk anak dengan usia di atas Sembilan tahun, misalnya: Duduk satu jam untuk merenungkan kesalahannya, atau jam bermain dipotong untuk kerja.

Bu Evelyn kemudian memberikan tips bagaimana supaya anak tahu bahwa sesuatu itu berbahaya:
1. Langkah pertama: Katakan “Jangan!
2. Langkah kedua: Katakan “Jangan!” dengan lebih tegas lagi!
3. Langkah ketiga: Katakan “Jangan!” dengan cubitan!
Dan kalau harus sampai menerapkan hukuman fisik, harus diingat bahwa daerah tubuh yang masih aman untuk menerima hukuman adalah pantat dan jari.

Lalu bagaimana jika sesudah menerima hukuman, anak merajuk minta dipeluk? Haruskah kita memeluknya? Bu Evelyn mengingatkan satu prinsip, “Hate the sins, but love the sinners”. Praktisnya, orangtua jangan gengsi untuk kembali memeluk anak jika anak merajuk minta dipeluk setelah anak menerima hukuman. Sesungguhnya anak merajuk karena mencoba mencari tahu apakah orangtuanya masih mengasihi dia atau tidak! Justru ketika kita memeluk anak kita itulah, kita dapat mendidik dia. Kita dapat menjelaskan kepada dia tentang apa kesalahannya dan apa konsekuensi yang harus dia terima.

Namun Bu Evelyn kemudian memberikan empat alasan mengapa setelah kita menghukum anak dengan keras, masih ada kemungkinan ketidakberhasilan:
1. Bila hukum yang kita terapkan tidak tegas/tidak konsisten. Misalnya: Orangtua meminta anak untuk tidak merokok, namun orangtua sendiri merokok; atau jika orangtua memberi aturan berubah-ubah.
2. Kemauan anak lebih keras dari orangtua.
3. Pukulan terlalu lembut.
4. Anak hyper-active.

Dari semua pembahasan di atas, aku menangkap beberapa poin penting, yaitu:
1. Kalau mau memukul anak, perhatikan usia anak.
2. Dalam memberi hukuman, penting diingat adalah bahwa yang penting message sampai.
3. Orangtua jangan gengsi untuk menyatakan kasih kembali.
Sungguh, pelajaran-pelajaran yang sangat bermanfaat sekali bagiku.

(Disampaikan pada Persekutuan Gabungan Komisi Wanita dan Komisi Kaum Pria GK Kalam Kudus Jayapura, Jumat/2 Mei 2008)

Categories: Tulisan | Tags: , , , | Leave a comment

Proudly powered by WordPress Theme: Adventure Journal by Contexture International.

%d bloggers like this: