Posts Tagged With: Kanaan

Yosua 15:1-19. Mengalahkan Raksasa dan Menerima Berkat Berlipat


Nats: Yosua 15:1-19
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Dalam bagian Alkitab ini, kita belajar tentang pembagian tanah kepada Suku Yehuda, dan secara khusus kepada Kaleb bin Yefune. Untuk menolong kita, mari kita melihat peta.

Map-Canaan-Twelve-Tribes

Perhatikan lokasi tanah Suku Yehuda ada!

Wilayah tempat Suku Yehuda ada ini, dahulu adalah wilayah yang dimasuki keduabelas pengintai dalam Bilangan 13. Dari kedua belas pengintai itu, hanya ada dua orang, yaitu Kaleb bin Yefune dari Suku Yehuda dan Yosua/Hosea bin Nun dari Suku Efraim, yang percaya kepada TUHAN. Sepuluh pengintai lainnya, meragukan TUHAN. Akhirnya, seluruh bangsa itu dihukum TUHAN berputar 40 tahun di padang gurun. Padahal mereka sudah sedikit lagi masuk ke Tanah Kanaan.

Di wilayah yang dimasuki keduabelas pengintai itu, terdapat raksasa-raksasa. Dan karena raksasa-raksasa inilah, mereka kemudian merasa takut. Bangsa Israel secara hiperbola sampai mengatakan bahwa tubuh mereka seperti belalang saja dibandingkan raksasa-raksasa itu. Raksasa dalam pikiran dan hati mereka, telah terlebih dahulu mengalahkan mereka. Mereka sudah kalah sebelum bertanding. TUHAN pun murka atas ketidakberimanan mereka, lalu menghukum bangsa Israel berputar 40 tahun di padang gurun.

Setelah 40 tahun, Yosua dipilih TUHAN untuk memimpin Israel menaklukkan seluruh Tanah Kanaan. Ketika tiba pembagian tanah kepada keduabelas suku, Suku Yehuda mendapatkan bagian paling Selatan dan negeri itu. Dan Yosua 15:13-14 mencatat bahwa terdapat kaum raksasa (orang-orang Enak) di sana. Kaleb yang dahulu berhasil mengalahkan raksasa-raksasa dalam pikiran dan hatinya, kini betul-betul mengalahkan raksasa yang sungguhan. Tidak tanggung-tanggung, ada tiga raksasa yang dienyahkannya, yaitu Sesai, Ahiman, dan Talmai.

Di sini kita belajar bahwa TUHAN memberikan upah kepada hamba-hambaNya yang setia. Tapi upah Kaleb tidak sampai di situ saja. Kalau kita membaca bagian-bagian Alkitab berikutnya, kita belajar bahwa TUHAN memberikan berkat dua kali lipat kepada Kaleb.

Ibu-ibu tentu pernah tahu kisah-kisah legenda atau dongeng yang menceritakan adanya sayembara demi mendapatkan seorang puteri raja. Dan biasanya, dalam cerita-cerita itu, seorang pangeran gantenglah yang mendapatkannya. Ternyata kisah semacam itu juga ada di dalam Alkitab.

Dalam Yosua 15:16, Kaleb membuat sayembara, dan menyatakan bahwa barangsiapa menggempur Debir atau Kiryat-Sefer, akan mendapatkan anak perempuan Kaleb, Akhsa. Dan ternyata, Otniel-lah yang ‘memenangkan’ sayembara itu. Dan tahukah Anda siapa Otniel?

Otniel adalah keponakan Kaleb. Jadi nampaknya pernikahan antar sepupu dimungkinkan dalam kebudayaan saat itu. Namun fakta yang lebih hebat lagi adalah Otniel ini di kemudian hari menjadi hakim pertama Israel. Kalau kita membaca Kitab Hakim-hakim 3:7-11, kita mendapati bahwa Otniel adalah hakim yang membebaskan Israel dari penindasan bangsa Aram-Mesopotamia. Dan sekali lagi, siapakah Otniel, sang pahlawan ini? Keponakannya Kaleb.

Jadi kita melihat disini, upah yang TUHAN berikan kepada Kaleb atas ketaatannya berlipat. Kaleb tidak hanya memperoleh kemenangan atas raksasa-raksasa; Kaleb tidak hanya beroleh tanah; tapi Kaleb juga beroleh menantu yang menjadi hakim pertama dan pahlawan Israel. Tapi semua diawali dengan berani mempercayakan diri kepada TUHAN, dan mengalahkan terlebih dahulu raksasa-raksasa di dalam hati dan pikiran kita. Saya tidak bisa bayangkan jika dahulu, Kaleb juga seperti kesepuluh pengintai yang murtad itu! Mungkin sekarang ini dia tidak memperoleh berkat berlipat kali ganda sebagaimana yang kini ia peroleh.

Sebagai kesaksian, ada waktu dimana saya – karena terlalu royal menolong orang – mengalami kesulitan keuangan. Di malam hari, saya mengeluh kepada TUHAN, dan bahkan isteri saya sampai menegur saya. Keesokan paginya, saya melayani di salah satu kantor guru. Pagi itu, guru-guru disitu sedang marah-marah dan menggosip karena masalah “kekurangan uang.” Saya saat itu ada di tengah-tengah mereka. Lalu salah seorang dari guru itu meminta saya mentraktir mereka minum. Tapi saya dengan lugas berkata, “Bu, uang saya di rekening BANK tinggal Rp. 50.000,-. Yang tersisa hanya uang di kantong celana saja. Dan saya harus bertahan hidup dengan uang di kantong itu. Bulan ini saya harus lebih lagi berjalan dengan iman.” Saya berharap, kata-kata saya itu dapat “menemplak” guru-guru yang semula sedang ribut tentang “kekurangan uang” itu. Saya pun tersadarkan, mungkin TUHAN sengaja mengijinkan saya ada dalam situasi kesulitan keuangan seperti itu, agar paginya saya dapat menegur oranglain yang melakukan dosa yang sama dengan saya, “mengeluh dan bersungut-sungut“. Saya pun kemudian merasa bersyukur kepada TUHAN.

Jadi kita belajar, ketika kita menghadapi tantangan, musuh pertama yang harus kita kalahkan adalah raksasa-raksasa ketakutan di dalam pikiran dan hati kita. Bagaimana kita dapat mengalahkan raksasa-raksasa yang sungguhan, jika kita sudah kalah lebih dahulu melawan raksasa-raksasa dalam pikiran dan hati kita?! Percayakanlah dirimu kepada TUHAN, kalahkan raksasa-raksasa ketakutan dan ketidakpercayaan dalam pikiran dan hatimu, karena sesungguhnya TUHAN telah menyiapkan berkat yang berlipat kali ganda sebagai upah, bagi anak-anakNya yang setia. Amin!

(Disampaikan dalam Persekutuan Doa Pagi Guru-guru Unit TKK Kristen Kalam Kudus Jayapura, Rabu/10 April 2013)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , , , | Leave a comment

Yosua 11:16-23. Facing the Giants!


Nats: Yosua 11:16-23
Oleh: NT. Prasetyo, M.Div.

Yosua dan bangsa Israel telah dipakai TUHAN untuk menghukum kejahatan bangsa Kanaan. Dan memberi diri dipakai TUHAN bukannya tanpa pengorbanan waktu. Waktu yang dibutuhkan oleh Yosua sendiri dicatat dalam ayat 18, “Lama Yosua melakukan perang melawan semua raja itu.” Butuh waktu lama, tapi Yosua tetap taat memberikan diri untuk dipakai TUHAN.

Ayat 20 pastilah menjadi bagian yang mengganjal nurani kita. Seperti biasa, jika Anda sudah mengambil posisi mencurigai TUHAN, maka seberapa pun gamblangnya penyataan Allah melalui FirmanNya, senantiasa menuntun Anda untuk mempertanyakan keputusan-keputusanNya. Dan alangkah bahayanya jika kita hanya menilai karakter TUHAN berdasarkan 1 ayat atau 1 perikop ini saja. Dikatakan di ayat 20, “Karena TUHAN yang menyebabkan hati orang-orang ini menjadi keras, sehingga mereka berperang melawan orang Israel, supaya mereka ditumpas, dan jangan dikasihani, tetapi dipunahkan, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.” Ayat ini dapat mengusik nurani kita dalam dua hal:

1. Dalam hal kekejaman terhadap Kanaan.

Namun kalau kita menyelaraskan perikop ini dengan beberapa ayat Alkitab lainnya, kita akan mulai belajar bahwa keputusan TUHAN justru seringkali menjawab perasaan keadilan kita. Beberapa ayat Alkitab lainnya yang perlu kita rujuk, misalnya Kejadian 15:13-16. Momen Yosua menaklukkan Negeri Kanaan ini adalah penggenapan dari Kejadian 15:16. Jadi pada masa Yosua memimpin penaklukkan atas Negeri Kanaan ini, kejahatan orang-orang Kanaan mencapai puncaknya. Dan salah satu bentuk kebiasaan jahat penduduk negeri itu (yang di kemudian hari diikuti oleh orang Israel) adalah mempersembahkan anak-anak untuk dibakar bagi berhala-berhala (2 Raj. 17:13-19). Jadi, Israel di zaman Yosua menjadi alat di tangan TUHAN untuk menghukum kejahatan penduduk Negeri Kanaan. Di kemudian hari, Israel sendiri pun akan dihukum oleh TUHAN karena meniru kejahatan penduduk-penduduk di sekitar mereka.

2. Pernyataan Alkitab lainnya yang cukup menggelisahkan mungkin adalah pernyataan bahwa “TUHAN yang menyebabkan hati orang-orang itu menjadi keras” (ayat 20).

Ini mengingatkan saya akan Firman TUHAN tentang Firaun yang hatinya juga dikeraskan TUHAN (Keluaran 4:21, dsb.) sehingga TUHAN pun menurunkan 10 tulah sebagai sebuah aksi tanding melawan ilah-ilah Mesir. Perang tanding antara TUHAN melawan ilah-ilah Mesir itu berlangsung dalam tiga babak (namun tidak akan saya terangkan dalam renungan kali ini).

Pernyataan “TUHAN mengeraskan hati” ini mungkin mengusik perasaan keadilan kita. Kalau ternyata TUHAN-lah yang mengeraskan hati Firaun, mengapa TUHAN masih saja menuntut pertanggungjawaban dari Firaun? Bukankah kalau “TUHAN yang mengeraskan hati Firaun“, berarti TUHAN-lah yang seharusnya bertanggungjawab atas dosa Firaun? Pertanyaan ini sebetulnya sama dengan pertanyaan, “Kalau TUHAN telah menentukan Yudas Iskariot untuk binasa, mengapakah Ia masih menuntut pertanggungjawaban kepada Yudas? Bukankah itu tidak adil?” Saya sudah pernah menjawab pertanyaan ini dalam diskusi rayon tentang Matius 26:17-25 dan hasil diskusi itu sudah saya publikasikan dalam blog saya http://ntprasetyo.wordpress.com/2013/03/18/matius-2617-25-ironi-perjalanan-iman-dan-isu-kedaulatan-allah/.

Namun untuk tulisan ini, pertanyaan gugatan di atas akan saya arahkan untuk menemukan jawabannya melalui sebuah bagian Alkitab lain, yaitu Roma pasal 9. Dalam pasal itu, pertanyaan gugatan kita di atas kembali diulangi (maksudnya terkait kasus pengerasan hati Firaun) dan jawaban atasnya telah diberikan dengan gamblang oleh Paulus.

Mengalahkan Raksasa-raksasa

Di ayat 21, Alkitab mencatat, “Pada waktu itu Yosua datang dan melenyapkan orang Enak dari pegunungan.” Yosua memimpin bangsa Israel untuk mengalahkan kaum raksasa yang sebelumnya telah menciutkan hati 10 pengintai Israel, yang menyebabkan Israel dihukum TUHAN untuk berputar di padang gurun selama 40 tahun (Bilangan 13:28). Pada peristiwa Bilangan 13 itu, hanya Yosua dan Kaleb yang beriman kepada TUHAN. Dan dalam kisah Yosua pasal 11 ini, kita melihat, Yosua yang dahulu ‘mampu’ mengalahkan raksasa di dalam pikirannya, kini ‘mampu’ mengalahkan raksasa yang sesungguhnya di dunia nyata. Jadi kemenangan Yosua atas raksasa-raksasa Kanaan, bukan dimulai dari Yosua pasal 11 ini, melainkan dimulai jauh sejak bertahun-tahun sebelumnya, yaitu dari sejak Bilangan 13; di dalam ketaatan dan kepercayaan Yosua kepada Allah.

Ayat 22 mencatat kemenangan total Yosua atas kaum raksasa Kanaan. Namun kaum raksasa itu ternyata masih tersisa, yaitu di Gaza, Gat, dan Asdod. Di kemudian hari, raksasa-raksasa terkenal dari Gat akan kembali mengancam umat Allah, dan itu dicatat dalam 1 Samuel 17:4 dan 2 Samuel 21:19. Dan seperti Yosua, TUHAN munculkan Daud dan juga Elhanan bin Yaare-Oregim, untuk mengalahkan raksasa-raksasa Gat yang sama-sama disebut sebagai Goliat itu. Sama seperti Israel yang harus mengalahkan raksasa-raksasa yang muncul lagi dan muncul lagi, demikian pula kita.

TUHAN akan mengalahkan dan menaklukkan kejahatan dan raksasa-raksasa yang menjadi musuh iman kita, namun kemenangan itu harus kita capai pertama-tama di dalam pikiran kita lebih dahulu; pikiran kita harus ditundukkan agar taat kepada Kristus dan kebenaranNya. Surat 2 Korintus 10:4-5 menyatakan kepada kita bahwa kita memiliki senjata rohani yang diperlengkapi dengan kuasa Allah untuk menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus. Roma 13:14 menyatakan bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah perlengkapan senjata terang yang harus kita kenakan. Efesus 6:13-18 mencatat perlengkapan senjata Allah yang harus dikenakan setiap anak-anak Tuhan yang pada intinya menunjuk pada Tuhan Yesus Kristus.

Jadi, Tuhan Yesus Kristus adalah senjata rohani kita, dan dengan senjata yang diperlengkapi kuasa Allah (atau Roh Kudus) ini, kita memiliki kekuatan untuk menaklukkan segala pikiran kepada Kristus, dimulai dari pikiran kita sendiri. Filipi 2:5 menyatakan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus“, dan biarlah melalui kuasa kematian Kristus yang menebus kita dan melalui kuasa kebangkitanNya yang menyelamatkan kita, kita dapat menggenapi ayat ini dalam kehidupan kita.

Bersama, melalui, oleh, dan di dalam Kristus dan kuasaNya, kita hadapi raksasa-raksasa kita (facing the giants) dan kalahkan raksasa-raksasa yang menjadi lawan iman kita, dimulai dari dalam pikiran kita. Untuk mencapai kemenangan itu memang butuh waktu, dan mungkin lama.

Yosua telah menjadi teladan Perjanjian Lama yang melalui kehidupannya kita dapat belajar. Ayat 23 kemudian mencatat, “Demikianlah Yosua merebut seluruh negeri itu sesuai dengan segala yang difirmankan TUHAN kepada Musa. Dan Yosua pun memberikan negeri itu kepada orang Israel menjadi milik pusaka mereka, menurut pembagian suku mereka. Lalu amanlah negeri itu, berhenti dari berperang.” Biarlah kemenangan pun kita peroleh dengan gilang-gemilang sebagaimana yang Yosua alami, dan kita pun tiba di negeri kekal warisan kita, yang aman dan tanpa ada peperangan.

(Disampaikan dalam persekutuan guru-guru SMA Kristen Kalam Kudus Jayapura dan persekutuan karyawan SKKK Jayapura, Rabu/20 Maret 2013).

Categories: Tulisan | Tags: , , , , | Leave a comment

Yosua 10. Karakter Allah yang Menuntut Respon Kita


Nats: Yosua 10
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Sebelum saya membahas nats ini saya akan membacakan bagi Bapak/Ibu sekalian, artikel yang saya peroleh dari internet berikut ini:

Bapak Harold Hill adalah presiden direktur dari perusahaan Curtis Engine, di Baltimore Maryland. Perusahaan beliau adalah bergerak di bidang pendidikan ke-antariksaan dan percobaan-percobaan yang berhubungan dengan semua masalah tata surya dan alam semesta.

Salah satu penemuan mereka yang dapat saya katakan menakjubkan adalah ketika mereka melakukan percobaan di Green Belt, Maryland. Percobaan mereka adalah men-cek kebenaran perhitungan manusia dalam sistem penanggalan yang dipakai sekarang ini, men-cek keabsahan dari posisi matahari, bulan, dan planet-planet di tata surya untuk jangka waktu 100 dan 1000 tahun ke belakang dari sekarang.

Sebenarnya inti utama dari percobaan mereka adalah agar mengetahui semua pergerakan alam semesta untuk masa yang akan datang, sehingga jika mereka akan mengorbitkan satelit, maka satelit tersebut akan diletakkan/di orbitkan pada posisi yang hampir tidak mungkin bertabrakkan dengan benda asing di alam semesta. Karena mereka berpikir bahwa sebuah satelit yang memakan biaya jutaan dollar Amerika, alangkah sayangnya jika sewaktu-waktu ditabrak misalnya oleh meteor atau komet.

Mereka menjalankan komputer untuk menghitung mundur untuk beberapa abad, tetapi hasil yang didapat adalah komputer selalu berhenti adalah sama, komputer mereka mengalami masalah penghitungan. Perlu anda ketahui, jika komputer tidak dapat melakukan suatu perhitungan, maka hasil yang didapat adalah aksi diamnya komputer, seperti tidak melakukan apa-apa. Mereka lalu memanggil ahli mekanik komputer, karena para ahli ini berpikir bahwa ini adalah kesalahan yang dibuat oleh komputer mereka.

Ketika para teknisi komputer memeriksa mesin komputer tersebut mereka tidak menemukan sedikit kesalahan pun pada mesin tersebut. Tetapi ketika para ilmuwan itu menunjukkan kesalahan yang dibuat oleh komputer,teknisi komputer juga bingung, “Apa masalahnya ya…”. Mereka terus mencari kesalahan yang dibuat oleh komputer mereka,akhirnya mereka menemukan sesuatu yang membuat komputer itu tidak bekerja. Mereka menemukan adanya HARI YANG HILANG dalam jangka waktu tertentu. Mengapa bisa demikian? Mereka tidak dapat menemukan jawabannya.

Akhirnya, salah seorang pekerja di perusahaan itu tetapi dari divisi yang berbeda dan seorang Kristen berkata kepada mereka, “Saya ingat ketika saya dulu sekolah minggu, guru sekolah minggu bercerita tentang matahari yang diam tidak bergerak satu hari penuh.” Orang-orang di sekitarnya tidak percaya apa yang dikatakan oleh orang Kristen tadi, kata mereka, “tolong buktikan dan tunjukkan kepada kami.”. Lalu orang tersebut membuka Alkitab dan menunjukkan pada mereka kitab Yosua 10:12-14, “Lalu Yosua berbicara kepada TUHAN pada hari TUHAN menyerahkan orang Amori itu kepada orang Israel; ia berkata di hadapan orang Israel: “Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, bulan, di atas lembah Ayalon!” Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh. Belum pernah ada hari seperti itu, baik dahulu maupun kemudian, bahwa TUHAN mendengarkan permohonan seorang manusia secara demikian, sebab yang berperang untuk orang Israel ialah TUHAN.

Alkitab menceritakan ketika pasukan Yosua dikelilingi oleh musuh-musuhnya, ia meminta kepada Tuhan agar tidak terjadi malam. Dan Alkitab mengatakan bahwa matahari, bulan, bintang dan semua tata surya diam tidak bergerak selama satu hari penuh. Setelah pembuktian tersebut, para ilmuwan berkata, “Inilah hari yang hilang itu!” Mereka kemudian melanjutkan penghitungan hari yang hilang itu agar komputer tidak lagi berhenti berproses.

Tetapi setelah program selesai diperbaiki, komputer tersebut tetap mengalami masalah, dan mereka menemukan kembali perhitungan yang baru bahwa hari yang hilang itu adalah 23 jam lebih 20 menit! Tidak 24 Jam atau satu hari penuh seperti yang dikatakan dalam Alkitab.

Berselang beberapa jam, pegawai Kristen tadi berkata kembali,”Saya ingat kejadian yang lain dalam Alkitab dimana matahari BERGERAK MUNDUR.” Ia membuka kitab II Raja-raja dimana Yesaya meminta kepada Tuhan agar matahari bergerak mundur sebanyak 10 derajat! Kitab 2 Raja-Raja 20:8-11, “Dan Hizkia bertanya kepada Yesaya, “Apakah yang akan menjadi tanda bahwa YAHWEH akan menyembuhkan aku dan aku akan pergi ke bait Allah pada hari yang ketiga?” Lalu Yesaya menjawab, “Ini akan menjadi tanda bagimu dari Tuhan, bahwa Tuhan akan melakukan suatu yang telah Dia katakan: Apakah bayang-bayang itu akan maju sepuluh tapak atau mundur sepuluh tapak?” Hizkia berkata, “Itu perkara mudah bagi bayang-bayang itu untuk memanjang sepuluh tapak. Sebaliknya, biarlah bayang-bayang itu mundur ke belakang sepuluh tapak.” Dan Nabi Yesaya berseru kepada Tuhan. Maka Dia membuat bayang-bayang itu mundur sepuluh tapak ke belakang melalui tapak bayang-bayang yang turun pada penunjuk matahari buatan Ahas.

Mereka terperanjat kaget, karena para ilmuwan tersebut tahu persis bahwa 10 derajat dari pergerakan matahari adalah tepat 40 menit! 24 jam permintaan Yosua kepada Tuhan dan 40 menit permintaan Yesaya kepada Tuhan adalah 24 jam dikurangi 40 menit = 23 jam lebih 20 menit. Hampir satu hari penuh alam semesta kehilangan harinya. Tepat seperti apa yang para ilmuwan hitung dengan komputernya. Artikel lain mengatakan bahwa NASA (Badan Antariksa Amerika Serikat) juga telah melakukan perhitungan serupa, dan membuktikan pandangan serupa.

Entah apakah cerita ini benar atau tidak, namun yang pasti setiap orang memiliki presuposisi, yaitu ide-ide tentang apa yang kita anggap benar. Bagi orang-orang Atheis, kisah dalam Yosua 10 dan banyak cerita spektakuler dalam Alkitab tidak mungkin terjadi. Mereka memiliki prepusosisi bahwa Alkitab tidak dapat dipercaya; mereka tidak mempercayai keberadaan Allah sebagaimana kita percaya. Sebaliknya, kita pun memiliki presuposisi bahwa Alkitab adalah Firman Allah, dan hanya cukup membaca Yosua 10 saja -tanpa harus ada bukti ilmiah- kita dapat percaya dengan apa yang Alkitab beritakan.

Apa yang dapat kita pelajari dari Yosua 10 ini? Yosua 10 diawali dengan kisah tentang Adoni-Zedek, raja Yerusalem yang memprakarsai suatu aksi militer terhadap Gibeon yang telah mengkhianati mereka. Nama Adoni-Zedek ini berarti “Tuhan adalah kebenaranku” mirip dengan nama Melkisedek yang berarti “Raja kebenaran”, seorang tokoh di zaman Abraham. Melkisedek adalah raja Salem, sementara Adoni-Zedek adalah penguasa di Yerusalem pada zaman Yosua.

Menghadapi tekanan dari lima kerajaan, bangsa Gibeon yang memiliki pahlawan-pahlawan itu meminta bantuan kepada bangsa penakluk mereka, Israel. Sudah menjadi hal yang lumrah di zaman itu, apabila satu bangsa membuat sebuah kovenan dengan bangsa taklukkan mereka, maka salah satu kewajiban bangsa penakluk adalah membantu bangsa yang ditaklukkan. Dan kovenan yang berkembang di zaman itu pulalah yang digunakan Allah untuk menjalin relasi dengan umatNya, sehingga kita mengetahui adanya kovenan antara Tuhan dan umatNya. Yosua pun datang berbondong-bondong dengan pasukanNya untuk membantu Gibeon.

Di dalam kisah ini, kita dapat membaca tindakan-tindakan yang menurut ukuran orang modern di zaman ini, nampak sebagai sebuah tindakan yang kejam. Misalnya dalam Yosua 10:24-26, “Setelah raja-raja itu dikeluarkan dan dibawa kepada Yosua, maka Yosuapun memanggil semua orang Israel berkumpul dan berkata kepada para panglima tentara, yang ikut berperang bersama-sama dengan dia: “Marilah dekat, taruhlah kakimu ke atas tengkuk raja-raja ini.” Maka datanglah mereka dekat dan menaruh kakinya ke atas tengkuk raja-raja itu. Lalu berkatalah Yosua kepada mereka: “Janganlah takut dan janganlah tawar hati, kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab secara itulah akan dilakukan TUHAN kepada semua musuhmu, yang kamu perangi.” Sesudah itu Yosua membunuh raja-raja itu, dan menggantung mereka pada lima tiang, dan mereka tinggal tergantung pada tiang-tiang itu sampai matahari terbenam.” Tidak ada orang modern yang mungkin mau melakukan tindakan sekejam ini, kecuali orang-orang garis keras.

Meski demikian, Tuhan ternyata mendukung pemusnahan yang Israel lakukan terhadap bangsa Amori (Kanaan) itu. Kalau kita membacanya hanya sudut pandang Kitab Yosua ini saja, maka akan jelas nampak bahwa Tuhan adalah Allah yang kejam. Namun kalau kita melihatnya dari perspektif keseluruhan Alkitab, maka kita akan menemukan bahwa seringkali itu menjawab “sense of justice” (perasaan keadilan) di dalam batin manusia.

Tuhan pernah berfirman kepada bangsa Israel dalam Kejadian 15:13-16, “Firman TUHAN kepada Abram: ‘Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya. Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak. Tetapi engkau akan pergi kepada nenek moyangmu dengan sejahtera; engkau akan dikuburkan pada waktu telah putih rambutmu. Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini, sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap’.” Jadi, setelah 400 tahun, keturunan Abram, yaitu Israel akan kembali ke negeri Kanaan, dan pada waktu itu, kedurjanaan atau kejahatan orang Amori menjadi genap atau mencapai puncaknya.

Pagi tadi pukul 04.30 WIT, sementara saya tidur-tidur ayam, tiba-tiba tetangga berteriak, “Tolong, tolong!” Saya mengira ada pertengkaran, karena lingkungan tempat saya tinggal sudah biasa melihat adanya pertengkaran. Namun kali ini, ternyata tetangga saya itu berteriak-teriak karena kemalingan. Maling itu memakai penutup wajah dan dengan pisau terhunus bersiap menusuk yang empunya rumah. Untunglah dia mengurungkan niatnya dan lari ke luar. Menghadapi kejahatan macam itu saja, kami tetangga-tetangga terpancing untuk memukuli maling itu seandainya tertangkap. Perasaan keadilan kita mendorong kita untuk membalas atau menghukum perbuatan jahat oranglain. Demikian, tindakan Allah untuk menghukum bangsa Kanaan akibat kejahatan mereka yang sudah mencapai puncaknya itu, justru menjawab perasaan keadilan kita [minimal perasaan keadilan dari korban-korban tindak kejahatan bangsa Kanaan].

Dukungan Allah untuk Israel menjadi alatNya menghukum kejahatan bangsa Kanaan, menjadi jelas dari dua bagian ayat-ayat berikut ini:

1. Ayat 11, “Sedang mereka melarikan diri di depan orang Israel dan baru di lereng Bet-Horon, maka TUHAN melempari mereka dengan batu-batu besar dari langit, sampai ke Azeka, sehingga mereka mati. Yang mati kena hujan batu itu ada lebih banyak dari yang dibunuh oleh orang Israel dengan pedang.” Disini dikisahkan bahwa yang mati akibat bebatuan lebih besar jumlahnya daripada yang dibunuh orang Israel. Jadi sebetulnya Tuhan dapat saja menghukum orang-orang Kanaan, cukup dengan melempari mereka bebatuan besar dari langit. Tapi tidak demikian adanya! Tuhan berkenan memakai umatNya untuk menjadi alat pekerjaanNya. Apabila murid-murid kita di sekolah bersikap bebal, Tuhan bisa saja turunkan batu dari langit untuk “menjitak” kepala mereka. Saat isteri yang kecil, kepalanya pernah terbentur, dan menurutnya ini bisa berakibat dua, yaitu bertambah pintar atau sebaliknya mengalami keterbelakangan mental. Puji Tuhan, isteri saya bertambah pintar. Demikian bisa juga Tuhan lakukan kepada murid-murid kita di sekolah. Namun tidak! Tuhan memakai cara lain. Ia berkenan memakai kita untuk menjadi alat kemuliaanNya, mendidik anak-anak itu!

2. Ayat 12-14, “Lalu Yosua berbicara kepada TUHAN pada hari TUHAN menyerahkan orang Amori itu kepada orang Israel; ia berkata di hadapan orang Israel: “Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, bulan, di atas lembah Ayalon!” Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh. Belum pernah ada hari seperti itu, baik dahulu maupun kemudian, bahwa TUHAN mendengarkan permohonan seorang manusia secara demikian, sebab yang berperang untuk orang Israel ialah TUHAN.” Disini dikisahkan bagaimana Tuhan mengijinkan Yosus melakukan “mujizat” terbesar di dunia, melebihi mujizat yang dilakukan Musa dengan membelah laut Merah. Meskipun bagi Israel, mujizat Musa tetaplah yang terpenting karena itu memiliki signifikansi langsung dengan Paskah atau penebusan.

Disini kita bisa belajar dua hal:

1. Tuhan sangat membenci kejahatan, dan Ia mau memakai kita menghambat pembusukkan dunia.
Cara Tuhan pada zaman Yosua untuk menghukum kejahatan adalah menggunakan bangsa lain. Tentu cara yang demikian tidak lagi berlaku pada zaman ini, dimana kini semangat dari hukum itulah yang lebih ditekankan. Bagi kita sebagai orang Kristen, Tuhan Yesus mengajarkan untuk menjadi “garam dan terang”. Menjadi terang artinya menjadi teladan, sedangkan menjadi garam, salah satu artinya adalah menjadi orang-orang yang Tuhan pakai untuk mencegah pembusukkan. Mungkin kita tidak mencegah pembusukan tidak lewat dunia militer, melainkan melalui dunia pendidikan. Disini kita harus belajar bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan masih berkenan memakai kita.

2. Tuhan sangat menepati janjiNya, dan Ia mau anak-anakNya juga setia pada janji mereka.
Pada Yosua 9, kita membaca bagaimana Yosua membuat perjanjian dengan bangsa Gibeon. Dan ketika di kemudian hari, Saul melanggar perjanjian itu, maka Tuhan pun murka dan menimpakan bencana kelaparan selama tiga hari kepada Israel. [Sampai kemudian Daud melakukan tindakan penebusan. Sebuah konsep yang mengingatkan kita bahwa atas kejahatan kita pun, kita memerlukan seorang Penebus untuk menyelamatkan kita, dan itu digenapi melalui peristiwa penyaliban Yesus].

[Melalui poin ini kita belajar bahwa sebagai pendidik, ketika kita memasuki institusi pendidikan tertentu, kita telah dengan tanpa paksaan mengikatkan diri pada komitmen atau perjanjian tertentu. Disinilah kita belajar untuk hidup konsekuen dengan komitmen yang telah kita buat. Demikian kita belajar dua karakter Allah, yaitu kemurahan hati dan kesetiaan Allah yang perlu kita teladani].

(Disampaikan pada Persekutuan Pagi Guru-guru SMA Kristen Kalam Kudus Jayapura).

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Refleksi dari Keseluruhan Kitab Keluaran


Berkat Allah di sepanjang Kitab Keluaran:
1. Israel ditebus dari Mesir (pasal 1 – 18).

1.A. Israel di Mesir (1:1 – 12:36).
Allah memelihara kehidupan keluarga besar Yakub, melalui anaknya, Yusuf, yang telah menjadi pejabat di Mesir. Sekitar 70 jiwa telah Tuhan pelihara terlepas dari ancaman kematian akibat bencana kelaparan. Betapa rencana keselamatan Allah melalui garis mesianis tidak mungkin digagalkan bahkan oleh bencana pangan (1:1 – 6).
Allah memultiplikasikan jumlah umatNya. Dapat dibayangkan, dari beberapa perempuan mandul bernama Sara; Ribka; dan Rahel, telah bermultiplikasi menjadi satu bangsa yang tentang mereka dikatakan, “mereka bertambah banyak dan dengan dahsyat berlipat ganda, sehingga negeri itu dipenuhi mereka” (1:7).
Allah memperkokoh kehidupan umatNya dengan terus memultiplikasikan jumlah mereka (1:8 – 12). Niat jahat dari raja Mesir yang sengaja hendak menghentikan jumlah umat Allah, justru Allah jawab dengan, “makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu” (1:12). Lucu sekali, umat Israel adalah budak-budak yang disegani.
Allah bekerja melawan penguasa dunia melalui orang-orang sederhana yang takut akan Allah, seperti bidan Sifra dan Pua (1:13 – 17). Ketika raja Mesir memperberat kerja paksa atas orang Israel, dan bahkan secara lebih spesifik memerintahkan bidan-bidan untuk membunuh anak laki-laki orang Ibrani, Allah pun bekerja secara lebih spesifik pula. DipakaiNya dua orang bidan yang takut akan Allah untuk “mengalahkan” rencana jahat raja Mesir. Seorang raja Mesir, dikalahkan oleh dua orang perempuan.
Allah menunjukkan upahNya kepada para bidan dan – sekali lagi – kepada bangsa Israel. Tuhan menganugerahkan berkat rumahtangga kepada kedua orang bidan yang takut akan Tuhan itu, dan semakinlah orang Israel bermultiplikasi, sampai-sampai akhirnya raja memerintahkan seluruh rakyatnya untuk melemparkan segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Israel ke Sungai Nil. Sebuah tindakan yang menunjukkan bahwa sang raja jahat itu frustasi. Hebat sekali Allah kita, membuat musuh-musuhNya frustasi. Jadi jika kita mengalami tantangan dari musuh-musuh Allah, dan tantangan itu makin berat, jangan-jangan itu terjadi karena Allah telah membuat musuh-musuhNya itu makin frustasi (1:18 – 22).
Allah memberkati satu keluarga kecil dengan seorang anak laki-laki yang cantik. Dan melalui perempuan-perempuan Ibrani yang menjadi obyek penindasan, raja Mesir diperdaya (2:1 – 4).
Allah – dengan lebih kreatif lagi – memakai, bahkan puteri Mesir sendiri, untuk menyelamatkan umatNya (secara khusus, Musa). Disinilah saya justru melihat peristiwa “merampasi orang Mesir” itu sudah terjadi (2:5 – 10).
Allah menyelamatkan Musa untuk kedua kalinya, meskipun kali ini disebabkan karena kebodohan Musa sendiri (2:11 – 15). Bahkan kebodohan yang orang percaya 2
lakukan pun tidak akan menggagalkan rencana penebusan Allah; dan sebaliknya bahkan menggunakan itu untuk kepentingan Allah sendiri. Luarbiasa.
Allah memelihara Musa dalam pelariannya, dengan sebuah kehidupan rumahtangga (2:16 – 22).
Allah mendengar umatNya mengerang, dan mengingat perjanjianNya, dan memperhatikan umatNya (2:23 – 25). Betapa Allah kita adalah Allah yang penuh kasih setia.
Allah memberikan anugerah pengutusan kepada Musa untuk memimpin umat Allah keluar dari perbudakan Mesir (3:1 – 12).
Allah memperkenalkan namaNya sendiri kepada Musa dan kepada Israel (3:13 – 20).
Allah akan memenuhi kebutuhan umat untuk umat melakukan apa yang Allah perintahkan. Ini dialami Israel dalam peristiwa “merampasi orang-orang Mesir” (3:21 – 22). Pada waktu kemudian, bangsa Israel bisa membangun Tabernakel karena ada peristiwa ini. Dengan harta orang Mesir, orang Israel dapat beribadah kepada Tuhan. Luarbiasa. Peristiwa ini menjadi nyata dalam 12:35 – 38.
Allah menyertai Musa dengan tanda-tanda ajaib, untuk Musa berbicara kepada Firaun (4:1 – 9).
Allah mengutus Harun sebagai berkat buat Musa, sehingga Musa kini memiliki juru bicara, dan Allah memberikan Musa kuasa, salah satunya melalui tongkat yang ada pada Musa (4:10 – 17).
Allah memberikan berkat kepada Musa melalui restu mertuanya, untuk Musa dan keluarganya bisa kembali ke Mesir (4:18 – 23).
Allah mengaruniakan kepada Musa, isteri yang baik, sigap dan berani, sehingga Musa sendiri terhindar dari hukuman mati dari Allah (4:24 – 26).
Allah mengaruniakan kepada Musa dan Harun, perhatian dari bangsa Israel (4:27 – 31).
Allah dengan tanda-tanda yang ajaib, bertempur dan mengalahkan semua ilah-ilah Mesir (5:1 – 12:36).
1.B. Perjalanan dari Mesir ke Sinai (12:37 – 18:27).
Allah menetapkan perayaan Paskah bagi umat Allah; suatu bayang-bayang dari peringatan akan karya Allah melalui Yesus Kristus di kemudian hari, dan juga menetapkan tentang anak sulung dan Hari Raya Roti Tidak Beragi (12:1 – 28; 43 – 51 dan 13:1 – 16).
Allah menuntun umatNya keluar dari Mesir, dengan dinaungi tiang awan dan tiang api (12:39 – 42 dan 13:17 – 22). Ini pasti menjadi pemandangan yang luarbiasa menakjubkan: Ada obor berjalan di malam hari, dan tiang awan yang bergerak di siang hari.
Allah membuat keajaiban menyelamatkan umatNya dengan membelah Laut Merah demi menuntun umatNya melintasi dataran kering, lolos dari kejaran pasukan Firaun (14:1 – 31). Satu perbuatan besar yang membuat bangsa-bangsa takjub dan gentar kepada Allah dan umatNya. Mahabesar Tuhan yang sanggup membuat segala perkara mengherankan ini!
Allah membuat umatNya bernyanyi memuji kebesaran Tuhan (15:1 – 21). Sesungguhnya ketika kita masih bisa memuji Tuhan, itu adalah anugerah Tuhan. 3
Allah membuat keajaiban dengan menolong orang Israel mendapatkan air yang layak minum, tidak hanya itu, disana Tuhan memberikan “ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan kepada mereka dan disanalah Tuhan mencoba mereka.” Bahkan kemudian mereka sampai ke dua belas mata air, suatu tempat yang perhentian yang tepat sama jumlahnya dengan jumlah Israel, dengan pohon-pohon korma yang tepat jumlahnya pula (15:22 – 27).
Allah memberkati mereka dengan manna, roti dari sorga, selama 40 tahun lamanya. Luarbiasa Allah memelihara sehari demi sehari, tidak pernah umatNya berkekurangan (16:1 – 36).
Allah sekali lagi menyatakan mujizatNya kepada Israel, kali ini dari sebuah bukit batu. Bangsa itu bisa memperoleh minum, meskipun bangsa bebal itu terus saja mempertanyakan kebaikan Tuhan (17:1 – 7).
Allah senantiasa menjadi pelindung bagi Israel. Mesir dibinasakan. Kali ini Amalek pun dikalahkan. Hanya melalui sebuah tongkat yang terangkat, Tuhan memberikan kemenangan bagi Israel (17:8 – 16).
Allah berkasih karunia memberikan hikmat kepada Musa melalui perantaraan Yitro, mertuanya, sehingga Musa bisa lebih efektif memimpin umat Tuhan (18:1 – 27). Sungguh Tuhan baik kepada Musa, karena telah memberikan kepada Musa keluarga yang mendukung dia.
2. Israel mendapat karunia Kovenan dengan Yahwe dan Hukum Allah di Sinai (19:1 – 40:38).

2.A. Kovenan Allah dengan Israel (19 – 24).
Allah mengaruniakan kehormatan kepada Israel sehingga bangsa itu diperkenankan Tuhan untuk melihat kemuliaan Tuhan dari kaki gunung Sinai (19:1 – 25). Sebuah pemandangan yang sudah cukup menggetarkan umat itu.
Allah mengaruniakan kehormatan kepada Israel dengan mengadakan Kovenan dengan mereka yang strukturnya adalah sebagai berikut:
20:1 – 2a : Pendahuluan 20:2b : Prolog historis. 20:3 – 17 : Ketentuan-ketentuan umum. 20:18 – 23:33: Ketentuan-ketentuan khusus. 25:1 – 22 : Penyimpanan naskah Kovenan dan pembacaan periodik. (Ul.30:19; 31:28: Doa para saksi) (Imamat 16: Kutuk dan Berkat) 24:1 – 3 : Sumpah dari para hamba untuk taat. 24:4 – 18 : Upacara yang hikmat.
2.B. Membangun Tabernakel (25 – 40).
Allah dengan begitu kreatif menuntun umatNya untuk membangun Tabernakel beserta segala isinya, dan menetapkan segala hal berkaitan dengan keimamatan di tengah-tengah kehidupan bangsa Israel. Sungguh ajaib Tuhan, karena semua hal yang dibuat memiliki makna mesianik, dimana unsur-unsur dalam Tabernakel dan keimamatan bangsa Israel menjadi tipologi yang menunjuk kepada Mesias dan karya-karyaNya di kemudian hari (25:1 – 40:33).
Allah begitu baiknya kepada bangsa Israel, karena Ia berkenan tinggal di tengah-tengah mereka, dan penyertaanNya nyata melalui tiang awan dan tiang api (40:34 – 38). Jauh sebelum Perjanjian Baru mengajarkan tentang Imanuel, Allah di tengah-tengah kita. Bangsa Israel telah terlebih dahulu mengecap pengalaman ini. Sungguh besar anugerah Tuhan! Tidak berkesudahan kasih setiaNya! Bagi Israel di masa lalu, dan tentunya bagi kita umatNya di masa kini yang juga sedang berada di dalam pengembaraan menuju Rumah yang Kekal, melalui kehadiran Roh Kudus di dalam hati kita.

(Ditulis untuk memenuhi tugas matakuliah Grace in The Old Testament yang diampu David L. Talley, Ph.D., 29 Juli 2011)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Refleksi tentang Kitab Yosua dan Hakim-hakim


Dari pelajaran tentang Kitab Yosua, saya diingatkan bahwa kitab sejarah ini bukan berfokus pada pribadi Yosua ataupun penaklukkan militer yang telah mereka lakukan. Sebaliknya, kitab sejarah ini memfokuskan perhatian kita kepada Yahweh yang berketetapan hati dan mampu untuk mewujudkan janji tanah yang dahulu dan turuntemurun Ia janjikan kepada Israel. Jadi, saya diingatkan untuk membaca Kitab Yosua dengan cara pandang yang lebih tepat, yaitu melihat apa yang Tuhan kerjakan, dan bukan fokus pada manusianya!

Dalam kitab sejarah ini saya melihat anugerah Allah kepada satu bangsa yang tegar tengkuk dan berkali-kali menyakiti hatiNya. Sebagai bangsa yang berulangkali Allah latih dan uji melalui berbagai tantangan namun berkali-kali pula gagal, bangsa Israel tetap mengalami anugerah Allah. Anugerah itu Allah tunjukkan dengan berkenan menepati janjiNya meski bangsa itu sudah berkali-kali tidak setia. Allah mendahului bangsa Israel sehingga membuat bangsa-bangsa di Kanaan menjadi takut. Allah sendirilah yang akan menghantar bangsa Israel menuju Tanah Kanaan. Semua instruksi berasal dari Tuhan. Saya melihat anugerah Allah dinyatakan sampai pada hal-hal yang sifatnya praktikal.

Bangsa Israel pun dapat berhasil memasuki Tanah Kanaan dengan pertolongan Tuhan yang berkuasa atas alam natural, dan mereka pun mendapatkan anugerah dimana Allah sendiri yang memberikan kepada mereka strategi tempur yang harus digunakan. Bahkan meskipun strategi itu nampak konyol, namun bangsa Israel justru mendapatkan kemenangan besar. Sebaliknya, ketika bangsa Israel tidak mengikuti strategi tempur yang Allah berikan, mereka mendapatkan kekalahan. Jadi, strategi Tuhan membawa kemenangan, sedangkan ketidaktaatan membawa kekalahan. Ini betul-betul menunjukkan anugerah Allah. Umat hanya diminta untuk percaya dan taat.

Allah juga memberi kemenangan demi kemenangan kepada Israel Melalui kampanye ke Selatan dan ke Utara, Tuhan menggenapkan janjiNya kepada Israel. Bahkan Tuhan mengatur agar Israel tidak sampai kalah jumlahnya dari binatang buas di hutan. Karena itu kemenangan demi kemenangan Israel, diberikan Allah tepat pada waktunya.

Ketika bangsa itu sudah mulai menduduki Tanah Kanaan, mereka ternyata tidak memusnahkan sepenuhnya, bangsa-bangsa yang tentangnya, Tuhan memerintahkan agar dimusnahkan. Jadi Israel tidak taat sepenuhnya, dan kelak ini akan menjadi jerat bagi Israel sendiri. Namun anugerah Allah tetap nyata karena meskipun Israel sudah tidak taat sepenuh hati, namun mereka tetap diijinkan Tuhan menduduki tanah itu. Jadi Allah tetap berkemurahan menggenapkan janjiNya kepada Israel, bahkan meskipun mereka terus berlaku tidak setia.

Dari keseluruhan kitab sejarah ini, saya memuji Tuhan karena kesetiaanNya dan perbuatanNya yang ajaib, dan karena Ia terus menuntun langkah dan perjalanan umatNya. Allah telah menunjukkan diriNya sebagai pahlawan yang diabaikan dan seringkali justru dikhianati oleh Israel melalui ketidaktaatan mereka. Namun herannya, Allah tidak pernah berhenti untuk menjadi pahlawan bagi mereka. Terpujilah Tuhan!

(Ditulis untuk memenuhi tugas matakuliah Grace in The Old Testament diajar oleh David L. Talley, Ph.D.)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , , | 1 Comment

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

%d bloggers like this: