Posts Tagged With: Injil Lukas

Lukas 12:37. Berjaga-jaga


Nats: Lukas 12:37. Berjaga-jaga.
Oleh: Sdr. NT. Prasetyo, S.Sos.

Lukas 12:37, ”Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika Ia datang.”

Martin Luther pernah mengatakan, ”Sekalipun saya tahu besok dunia akan hancur berkeping-keping, saya akan tetap menanam pohon apel kecil saya dan melunasi hutang saya.” Sedangkan St. Francis Asisi mengatakan, ”Saya akan terus memangkas kebun sampai selesai.”

(Sabtu/2 Februari 2008)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , | Leave a comment

Lukas 5:27–32. Panggilan dan Pertobatan Lewi


Nats: Lukas 5:27-32. Panggilan dan Pertobatan Lewi
Oleh: Sdr. Tommy Lengkong

Entah kapan, Sdr. Tommy Lengkong berkotbah dari Luk.5:27–32. Ia mengungkapkan tentang penyebab perubahan Lewi: Panggilan Allah untuk hidup bagi Dia (effectual calling). “Ikutlah Aku!” kata Yesus kepada Lewi. Roma 8:30 menyatakan, “Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Surat 1 Kor.1:9 juga menyatakan, “Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.”

Ayat 28 menunjukkan keputusan untuk menanggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus. Darimana munculnya keputusan ini? Allahlah yang berinisiatif mengubahkan hati orang berdosa. Yehezkiel 36:26–27 mencatat, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.

Beliau juga menjelaskan pengertian “iman”:
1. Pengetahuan tentang Injil (notitia).
2. Persetujuan tentang Injil (assensus).
3. Komitmen dalam hidup untuk menghidupi Injil (fiducia).
Beliau lalu mengatakan, “mulai dari kesadaran akan dosa, itulah pertobatan.”

(Disampaikan tahun 2005 [?])

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , | Leave a comment

Lukas 18:9-14. Dua Respon yang Berbeda


Nats: Lukas 18:9-14. Dua Respon yang Berbeda
Oleh: Sdri. Yen Sin.

Rekanku Yen Sin berkotbah di chapel pagi, dan men-share-kan Lukas 18:9–14. Yen Sin menjabarkan bahwa ada dua hal tentang meresponi Allah:

1. Persamaan: Obyek yang sama; ke tempat yang sama; dan Allah yang sama
2. Perbedaan:

(a). Ahli Taurat:
(1). Datang dengan percaya/puas diri;
(2). Datang dengan perasaan layak/sombong, serta membandingkan diri dengan sesamanya; dan
(3). mengeluarkan kata-kata sembrono dan memandang rendah oranglain;

(b). Pemungut cukai:
(1). Datang dengan hati yang gelisah dan menyesal;
(2). Tidak layak, serta membandingkan diri dengan Allah sendiri; dan
(3). Mengeluarkan kata-kata hormat.

Bahan evaluasi kita:
– Kehidupan spiritual sejati, membawa kita semakin mengenal Allah. Perhatikan bahwa orang Farisi mengeluarkan kata “aku”, hingga lima kali. Ia justru sedang mempraktekkan, “religious activities that devide us from God.
– Kehidupan spiritual sejati, membuat kita semakin humble.
– Sebagai ilustrasi, ada pertanyaan, “have you ever pray for her?” Seorang theolog mengatakan:
– Tidak ada orang yang berbangga, dapat berdoa.
– Tidak ada orang yang mencela oranglain, dapat berdoa.
– Doa yang sejati adalah bagaimana kita menempatkan hidup kita di samping Allah. Tanyakan pada dirimu: Adakah aku sebaik Allah?
– Kehidupan spiritual sejati, semakin membuat kita sadar akan anugerah Allah.

(Disampaikan pada Ibadah Chapel Pagi STTRI Indonesia, Rabu/19 Januari 2005)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , | Leave a comment

Lukas 14:25-35. Beri yang Terbaik


Nats: Lukas 14:25-35. Beri yang Terbaik
Oleh: Sdr. Dandung

Pada intinya Mas Dandung hendak mengajarkan agar kita untuk memberikan yang terbaik kepada Kristus. Letakkan Kristus di pusat untuk mengendalikan sisi lemah kita. Kristus adalah penyeimbang. Di dalam Kristus, kita menemukan ukuran/standar yang benar.

(Disampaikan pada Ibadah Chapel Pagi STTRI Indonesia, Rabu/12 Januari 2005)

Categories: Tulisan | Tags: , , | Leave a comment

Lukas 2:8-20. Damai Sejahtera para Gembala


Nats: Lukas 2:8-20. Damai Sejahtera para Gembala
Oleh
:

Dalam Ibadah II Minggu di Gereja Kristus Cibinong, dikotbahkan Lukas 2:8–20 dan Efesus 2:14–18. Diawal kotbah, pengkotbah memberikan ilustrasi tentang Kaisar Agustus yang tidak bisa tidur nyenyak, sedangkan seorang pedagang yang sedang pailit malah tidur dengan nyenyak sekali. Kaisar kemudian berusaha membeli ranjang pedagang itu. Ini ilustrasi yang menggambarkan betapa orang mengejar damai sejahtera.

Bagi kita, bagaimana mendapatkan damai sejahtera? Kristus. Di zaman Perjanjian Lama, pekerjaan gembala dianggap sangat penting. Raja Daud dulunya adalah gembala. Namun di zaman Perjanjian Baru, pekerjaan gembala dipandang rendah. Salah satu perendahan mereka adalah bahwa di pengadilan mereka tidak bisa bersaksi. Namun kepada mereka, malaikat memberitakan berita damai sejahtera.

(Disampaikan pada Ibadah II Minggu Gereja Kristus Jemaat Cibinong, Minggu/26 Desember 2004)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , | Leave a comment

Lukas 11:27-28. Berbahagia karena Firman Allah


Nats: Lukas 11:27-28. Berbahagia karena Firman Allah
Oleh: Bpk. Chandra

Pak Chandra mengkotbahkan dari Lukas 11:27–28. Sebagai ilustrasi awal diceritakan bahwa ikan mas habitatnya di air. Saat dibiarkan kekeringan di darat, ia kemudian disiram dengan air, dan ia langsung menggelepar. Seolah ia mau berkata, “Aku baru sadar air itu berharga/membahagiakan sekali.” Apakah ini menjadi gambaran kita, yang menerima limpahan Firman Tuhan, namun tidak berbahagia di dalamnya?

Pak Chandra menceritakan bahwa ada tiga orang RRC tumbuh di kampung. Orang pertama adalah pejabat baik; orang kedua adalah mahaguru baik; dan orang ketiga adalah petani biasa. Mereka suka filsafat dan suatu hari berkumpul. Sang pejabat ingin cangkir porselen dengan teh yang wangi dan seekor kuda. Sang mahaguru ingin cangkir coklat manis dan mata yang baik. Sedangkan petani, ingin yang biasanya tetap ada. Kemudian terjadi gempa berkekuatan delapan skala richter. Akibatnya, seekor kuda mati dan sebuah cangkir teh pecah. Sebuah mata cacat dan sebuah cangkir coklat pecah. Sedangkan bagi si petani, yang biasa-biasa tiap hari masih ada. Ini mengajarkan kita untuk bersyukur dan berbahagia untuk hal-hal yang biasa. Biarlah kita memfokuskan diri kepada Firman Allah.

(Disampaikan dalam Ibadah Chapel pagi STTRII, Rabu/3 November 2004)

Categories: Tulisan | Tags: , , , | Leave a comment

Lukas 16:10. Karakteristik Orang yang Dapat Diandalkan


Nats: Lukas 16:10
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Berikut ini adalah pengembangan materi Pengembangan Karakter (Character Building) yang telah disiapkan oleh Ev. Evi. Topik yang kita bahas adalah tentang ‘karakteristik orang yang dapat diandalkan’, dan melalui materi ini saya mengajak kita belajar dari beberapa tokoh Alkitab, dan meneladani mereka terkait sikap ‘dapat diandalkan’.

Kemarin saya melalaikan tugas saya di Kelas Yohanes (kelas untuk anak-anak yang tinggal di lingkungan sekitar gereja) untuk mengajar Bahasa Inggris. Sore hari, ketika pelaksanaan kelas itu hampir berlangsung, saya ditelepon oleh ibu koordinator Kelas Yohanes. Waktu itu posisi saya sudah ada di tempat tinggal isteri saya yang terletak 26 km dari gereja, dan sedang bersiap bersama isteri saya untuk mengunjungi anggota jemaat yang sakit. Mengingat jarak yang jauh itu, tidak mungkin saya bisa datang mengajar di Kelas Yohanes tepat waktu.

Isteri saya menegur saya agar lain kali lebih teliti dengan jadwal. Saya merasa bertanggungjawab, karena itu saya berpikir-pikir, apa yang harus saya lakukan. Saya pun teringat dengan rekan guru saya, Pak Pical, yang biasanya mengajar Matematika. Lalu saya menelepon beliau, dan meminta tolong kepada beliau untuk bertukar jadwal dengan saya. Beliau menyanggupi, saya dan isteri pun lega, karena setidaknya saya telah berusaha bertanggungjawab untuk tidak membiarkan kelas itu kosong. Dalam kasus ini, Pak Pical menunjukkan sikap ‘sangat dapat diandalkan’.

Berikut ini beberapa karakteristik sikap yang dapat diandalkan beserta tokoh-tokoh –yang menurut pikiran saya– dapat kita teladani:

1. Selaras dengan hati dan pikiran Allah.

Tokoh yang dapat kita teladani adalah Imam Zadok. Dalam 1 Samuel 2:35 kita membaca Firman TUHAN melawan keluarga Imam Eli, “Dan Aku (TUHAN) akan mengangkat bagiKu seorang imam kepercayaan, yang berlaku sesuai dengan hatiKu dan jiwaKu”. Imam kepercayaan yang dimaksud dalam ayat ini, di kemudian hari digenapi dalam pribadi imam Zadok. Ia adalah imam yang melayani di masa Daud (lihat 2 Samuel 8:17; 15:24, 35; 20:25). Di masa Raja Salomo, Zadok menggantikan Abyatar menjadi Imam Besar (lihat 1 Raja-raja 2:35; 1 Tawarikh 29:22). Kepada Zadok yang setia, TUHAN berjanji untuk membangunkan baginya sebuah keluarga/dinasti imamat yang bertahan/setia.

Dalam realitanya, TUHAN menggenapi janjiNya kepada Zadok ini. Garis keimaman Zadok diteruskan oleh anaknya, Azarya (lihat 1 Raj. 4:2), dan tetap bertahan dalam pemandangan sejarah pada masa pembuangan dan kembalinya umat Allah dari pembuangan (lihat 1 Taw. 6:8-15; Ezra 3:2). Garis keimaman itu terus berlanjut pada periode intertestamental (antara Perjanjian Lama hingga masa Perjanjian Baru). Di masa intertestamental ini, seorang tokoh anti-Kristus bernama Antiokhus IV Epifanes (175-164 SM) menjual jabatan keimaman itu kepada Menelaus (dapat dibaca dalam Kitab Apokrifa, yaitu 2 Makabe 4:23-50). Sebagai catatan, Menelaus ini bukan berasal dari garis imam.

Alkitab menggambarkan Zadok sebagai tokoh yang dapat diandalkan karena hidup selaras dengan hati dan pikiran Allah. Meskipun Zadok hidup jauh sebelum zaman Nabi Yesaya, namun nampaknya ia telah hidup mencerminkan sikap orang yang memahami Firman ini, “Sebab rancanganKu bukanlah rancanganMu, dan jalanmu bukanlah jalanKu, demikianlah Firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu” (Yesaya 55:8, 9). Orang-orang yang dapat diandalkan adalah orang-orang yang mengikuti rancangan dan jalan-jalan TUHAN; orang yang seperti Zadok, berlaku sesuai hati dan jiwa TUHAN.

Orang-orang yang mengikuti rancangan dan jalan-jalan TUHAN ini, akan bergembira terutama karena TUHAN, dan bukan hanya karena perkara-perkara yang sementara. Tapi paradoksnya, justru ketika kita bergembira karena TUHAN, hal-hal yang kita inginkan itu justru mengikuti (tentu karena telah terlebih dahulu diluruskan oleh TUHAN). Mazmur 37:4 menjadi janji TUHAN bagi kita yang hidup selaras dengan hati dan pikiran Allah, seperti Zadok, “dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.”

2. Memiliki rasa hormat yang besar kepada Allah.

Tokoh yang dapat kita teladani adalah Panglima Benteng, Hananya. Kisahnya bermula dari tokoh Nehemia, yang sebagai juru minum Raja Arthasasta I (Artaxerxes I), diijinkan oleh raja untuk kembali ke Yerusalem dan membangun kembali reruntuhan Yerusalem. Nehemia bersama beberapa orang Israel pun kembali Yerusalem dan berjuang membangun kembali tembok-tembok dan pintu-pintu gerbang Yerusalem.

Setelah pembangun tembok dan pintu-pintu gerbangnya terselesaikan, Nehemia lalu mempercayakan pengawasan atas Yerusalem kepada Hanani, saudaranya, dan juga kepada Hananya, panglima benteng yang dapat dipercaya (berintegritas) dan takut akan TUHAN, melebihi yang kebanyakan oranglain lakukan. Demikian Nehemia 7:2 mencatat pesan Nehemia, “Pengawasan atas Yerusalem aku serahkan kepada Hanani, saudaraku, dan kepada Hananya, panglima benteng, karena dia seorang yang dapat dipercaya dan yang takut akan Allah lebih dari pada orang-orang lain.”

Orang yang dapat diandalkan adalah orang yang berintegritas dan takut akan TUHAN melebihi yang kebanyakan oranglain lakukan. Orang yang dapat diandalkan adalah orang seperti Hananya, si Panglima Benteng.

3. Setia dalam perkara-perkara yang kecil juga dalam perkara-perkara yang besar.

Tokoh yang dapat kita teladani adalah Hamba-hamba yang setia. Dalam Lukas 16:10, Tuhan Yesus mengingatkan bahwa, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.” Dalam Lukas 19:17 dan Matius 25:21, peringatan serupa juga Yesus ucapkan ketika menyampaikan perumpamaan tentang hamba-hamba yang setia dan hamba yang jahat.

Hamba-hamba yang setia, mengelola dan mengembangkan apa yang tuannya percayakan. Seberapa pun yang tuannya percayakan, bahkan meskipun hanya satu mina (ukuran berat yang kira-kira setara dengan 0,6 kg) atau bahkan dua talenta (ukuran berat yang kira-kira setara dengan 68 kg atau jumlah uang yang besarnya kira-kira setara dengan upah pekerja harian dalam satu hari dikalikan 6000), mereka tetap mengelolanya dan mengembangkannya.

Orang yang dapat diandalkan adalah orang yang setia dalam perkara-perkara yang dipercayakan kepadanya. Bahkan dimulai dari perkara-perkara yang kecil, orang yang dapat diandalkan akan setia untuk mengelolanya.

4. Memiliki sikap hati yang setia.

Tokoh yang dapat kita teladani adalah Abraham. Nehemia 9:8 mencatat kesaksian bahwa Abraham adalah orang yang, “Engkau (TUHAN) dapati bahwa hatinya setia terhadapMu dan Engkau mengikat perjanjian dengan dia”. Orang yang dapat diandalkan memiliki sikap hati yang setia seperti Abraham.

5. Menjaga rahasia.

Tokoh yang dapat kita teladani adalah Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Ketiganya telah diajak oleh Yesus untuk naik ke sebuah gunung. Dan di gunung itu, Yesus menampakkan diri dalam kemuliaan (transfigurasi), ditemani oleh Musa dan Elia. Lalu turunlah awan dan dari awan itu terdengar suara keras, “Inilah AnakKu yang telah Kupilih, dengarkanlah Dia” (Lukas 9:35). Apa yang kemudian terjadi, “Ketika suara itu terdengar, nampaklah Yesus tinggal seorang diri. Dan murid-murid itu merahasiakannya, dan pada masa itu mereka tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu” (Lukas 9:36). Mengapa mereka merahasiakannya?

Para murid Yesus merahasiakan hal itu, karena Yesus sendiri memerintahkan mereka! Dalam Matius 17:9 dicatat, “Pada waktu mereka turun dari gunung itu,Yesus berpesan kepada mereka: ‘Jangan kamu ceritakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati’” (Lihat juga Markus 9:9-10). Setelah kebangkitan Yesus dari antara orang mati, para murid pun kemudian memberitakan kepada semua orang apa yang telah mereka alami, karena karya Yesus yang sudah selesai akan mendemonstrasikan kebenaran dan kepenuhan karakterNya sebagai Mesias.

Orang yang dapat diandalkan adalah orang yang dapat menjaga rahasia, sampai pada saat yang tepat untuk mengungkapkannya. Orang yang dapat diandalkan belajar mempraktekkan Amsal 9:13, “Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara.

6. Tidak menceritakan kehebatan kepada oranglain.

Tokoh yang dapat kita teladani adalah Paulus. Dalam Amsal 20:6 dikatakan, “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” Dalam Kisah Para Rasul 20:17-38 dicatat kisah perpisahan yang mengharukan antara Paulus dengan para penatua Efesus. Dalam kata-kata perpisahannya, kita membaca kalimat-kalimat seolah-olah Paulus menceritakan kehebatan pelayanan yang telah dilakukannya selama ini, kepada para penatua.

Namun kalau kita berusaha meneliti dan merasakan konteks situasi saat itu, kita dapat memahami bahwa penekanan Paulus adalah untuk memberi pertanggungjawaban kepada para penatua (sebagai wakil jemaat) bahwa Paulus “tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah” kepada jemaat (ayat 27). Paulus menulis, “aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu” (ayat 20). Artinya, Paulus telah setia sampai akhir dalam melaksanakan tanggungjawabnya untuk memberitakan Injil dan membangun jemaat TUHAN. Jadi Paulus tidak bermaksud menceritakan kehebatan pelayanannya selama ini, melainkan memberikan pertanggungjawaban.

Selain itu, melalui kesaksian terakhirnya, Paulus juga bermaksud meninggalkan teladan. Dalam ayat 35 dicatat kalimat Paulus, “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu….” Jadi ia tidak bermaksud memamerkan kehebatan pelayanannya selama ini. Yang ia lakukan adalah untuk memberikan teladan.

Orang yang dapat diandalkan adalah orang yang setia dengan panggilan TUHAN atas hidupnya, dan dapat memberi pertanggungjawaban serta teladan untuk ditiru. Orang yang dapat diandalkan bukanlah orang yang hanya bisanya sesumbar menceritakan kehebatan dirinya kepada oranglain tanpa bukti pertanggungjawaban dan keteladanan.

7. Menyegarkan hati orang yang dilayaninya.

Tokoh yang dapat kita teladani adalah pesuruh yang setia. Amsal 25:13 mencatat, “Seperti sejuk salju di musim panen, demikianlah pesuruh yang setia bagi orang-orang yang menyuruhnya. Ia menyegarkan hati tuan-tuannya.” Orang yang dapat diandalkan adalah orang yang menyegarkan hati tuannya seperti pesuruh yang setia itu.

8. Tidak bercela dalam pekerjaannya.

Tokoh yang dapat kita teladani adalah Daniel. Dalam Daniel 6:5 dicatat, “Kemudian para pejabat tinggi dan wakil raja itu mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan, tetapi mereka tidak mendapatkan alasan apapun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak ada didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya”. Orang yang dapat diandalkan adalah orang yang tidak bercela dalam pekerjaannya.

9. Menangani dengan Bijak Setiap Sumber Daya dan Hubungan.

Tokoh yang sikapnya dapat kita teladani adalah Bendahara tidak jujur yang cerdik. Dalam Lukas 16:1-9 dicatat kisah tentang bendahara tidak jujur yang cerdik itu. Dia tahu bahwa di masa-masa yang akan datang dia akan menghadapi kesulitan karena relasinya dengan atasannya buruk. Karena itu, dia menangani dengan bijak setiap sumber daya dan hubungan yang ada, supaya di masa depan dia dapat memperoleh apa yang baik dari sumber daya dan hubungan itu.

Bendahara tidak jujur yang cerdik itu melunasi semua hutang dari orang-orang yang berhutang kepada tuannya dengan membayari hutang mereka, tapi ia membuat orang-orang itu kini berhutang kepada dirinya dengan angka yang lebih kecil (artinya, tidak hanya berhutang uang, tapi juga berhutang budi karena hutang mereka telah di-discount). Tujuan si bendahara tidak jujur yang cerdik ini adalah, agar ketika ia benar-benar dipecat tuannya, ia memiliki kolega-kolega “yang akan menampung aku di rumah mereka” (ayat 4).

Orang yang dapat diandalkan adalah orang yang dapat menangani dengan bijak setiap sumber daya dan hubungan demi kesejahteraan hidup di masa depan. Orang yang dapat diandalkan tidak boleh bersikap tidak jujur seperti bendahara itu, tapi harus meneladani sikap cerdiknya dalam mengantisipasi kemungkinan buruk di masa depan.

(Disampaikan dalam bentuk kuis tebak tokoh dalam Persekutuan Doa Pagi Guru Unit TKK Kristen Kalam Kudus Jayapura, Kamis/11 April 2013)

Categories: Tulisan | Tags: , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

%d bloggers like this: