Kisah Para Rasul 2:41-47. Kehidupan Kristen (Part One)


Nats: Kisah Para Rasul 2:41-47. Kehidupan Kristen (Part One)
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Seorang misionaris Amerika melayani di sebuah daerah pedalaman [Papua] bersama keluarganya [sebagaimana diceritakan sendiri oleh sang misionaris, klik http://www.youtube.com/watch?v=rYM-4mGYzzE ]. Ia mengerjakan banyak hal, ia membuka hutan dan membangun pondok-pondok tempat tinggal; ia membawa penduduk keluar dari hutan dan membawa mereka tinggal di desa yang dibukanya; ia mengajar; memberitakan Injil; membuka klinik kesehatan; membuka warung yang menjual garam sebagai bumbu masakan dan juga barang-barang keperluan lainnya; dan salah satu aktivitas penting untuk menopang kebutuhan pangannya di pedalaman adalah dengan berkebun.

Misionaris ini membawa bibit buah nanas yang cukup banyak. Ia mendapatkan seorang penduduk asli untuk membantunya menanam bibit-bibit tanaman nanas itu. Misionaris itu mengupah penduduk asli itu untuk membuka dan mengolah tanah yang luas, yang akan ditanami dengan bibit nanas.

Rasanya lama sekali untuk bibit-bibit nanas itu tumbuh menjadi besar dan menghasilkan buah nanas. Memerlukan waktu tiga tahun lamanya untuk bibit-bibit itu berbuah. Hidup di daerah pedalaman hutan membuat orang rindu untuk makan buah-buahan segar.

Akhirnya tibalah tahun ketiga. Misionaris itu dapat melihat buah-buah nanas segar bermunculan. Ia harus menunggu sampai akhir tahun karena pada saat itulah buah-buah nanas itu masak. Dan ketika akhir tahun tiba, misionaris itu berjalan-jalan di kebunnya untuk melihat apakah ada buah nanas yang cukup matang untuk dimakan.

Ia terkejut, karena ia tidak mendapatkan satu buah pun untuk dimakan. Penduduk setempat telah terlebih dahulu mencuri semua buah nanas yang ada. Misionaris itu sangat marah kepada penduduk pedalaman itu. Seakan dibutakan oleh nanas, misionaris itu memutuskan untuk menutup klinik kesehatan yang ada. Namun tetap saja, satu per satu buah nanas mulai masak, dan satu per satu hilang dicuri.

Misionaris sendiri pun tidak tahan lagi melihat penduduk yang sakit, dan akhirnya dia membuka kembali klinik kesehatannya. Klinik kesehatan dibuka kembali, tapi tetap saja buah nanas misionaris dicuri lagi, dan ia pun merasa jengkel lagi.

Akhirnya, misionaris itu mengetahui siapa yang melakukan pencurian tersebut. Pelakunya adalah orang yang telah menanam buah nanas itu; tukang kebun sang misionaris sendiri. Misionaris itu memanggilnya dan menginterogasinya. Tukang kebun itu menjelaskan hukum di antara penduduk pedalaman itu, jika mereka menanam sesuatu, berarti itu adalah milik mereka. Mereka tidak pernah mengenal ide tentang membayar untuk jasa. Misionaris dan orang pedalaman itu terus berdebat tentang siapa yang memiliki pohon-pohon nanas itu.

Dengan jengkel misionaris itu kemudian membuat kesepakatan dan membagi dua isi kebun nanas itu. Setengah kebun milik sang misionaris, dan setengahnya lagi diperuntukkan untuk si tukang kebun. Tukang kebun itu kelihatan seolah-olah mengerti persetujuan itu. Tetapi buah-buah nanas sang misionaris, tetap saja hilang dicuri.

Dengan perasaan sangat kesal, akhirnya misionaris itu memutuskan untuk memulai dari awal lagi. Dengan berat hati, misionaris itu membayar orang untuk mencabuti semua tanaman nanas itu dan membuangnya. Misionaris itu harus melewati tiga tahun lagi dengan tanaman nanasnya yang baru. Misionaris itu sangat bersyukur, membayangkan bahwa ia akan menikmati buah-buah nanas yang segar. Namun apa yang terjadi kemudian? Lagi-lagi semua buah nanasnya hilang dicuri.

Misionaris berpikir apa yang harus diperbuatnya kini. Ia pun memutuskan untuk menutup toko. Dari toko itu, penduduk mendapatkan garam dan barang-barang keperluan lainnya. Kini mereka tidak lagi dapat memperoleh barang-barang itu. Tapi apa yang kemudian dilakukan para penduduk itu? Mereka memutuskan untuk kembali tinggal di dalam hutan.

Kini tinggallah sang misionaris sendirian tanpa ada pelayanan. Akhirnya, sang misionaris kembali membuka tokonya, dan penduduk pun kembali tinggal di kampung. Misionaris harus memikirkan cara baru untuk menjaga kebun nanasnya. Ia mendapat ide.

Misionaris itu kemudian memelihara seekor anjing herder yang sangat besar. Semua penduduk takut kepada anjing herder itu. Ide anjing itu berhasil. Kebanyakan orang tidak ada yang berani datang lagi, dan keadaan misionaris itu kembali sama seperti ketika ia menutup tokonya. Tidak ada pelayanan.

Memelihara anjing ternyata juga tidak berhasil. Anjing itu pun mulai berkembang biak dengan anjing-anjing setempat dan menghasilkan anak-anak anjing setengah herder yang kelaparan. Agar tidak menjadi lebih membahayakan, akhirnya, misionaris itu terpaksa harus membuang anjing itu. Misionaris itu betul-betul telah habis akal.

Tibalah saat cuti, dan akhirnya misionaris itu pun kembali ke Amerika. Dalam seminar itu ia mendengar khotbah yang mengingatkannya bahwa kita harus menyerahkan semua yang kita miliki kepada Tuhan. Tuhanlah yang menjadi pemilik sesungguhnya dari segala sesuatu yang kita punya. Khotbah itu membuat sang misionaris itu merenung. Akhirnya dia memutuskan untuk belajar menyerahkan apa yang memang menjadi milik Tuhan.

Masa cuti selesai, misionaris itu pun kembali ke pedalaman. Ia belajar untuk menyerahkan kebun nanasnya kepada Tuhan. Melalui Firman Tuhan, Roh Kudus telah menanamkan nilai/prinsip baru dalam diri sang misionaris. Dan apa yang terjadi kemudian dengan kebun nanas misionaris? Kita lanjutkan kisahnya setelah pembahasan nats Kisah Para Rasul 2:41-47.

Dua minggu yang lalu kita telah memperingati peristiwa turunnya Roh Kudus ke atas para murid Yesus di Yerusalem. Apa pentingnya itu dan apa dampak dari peristiwa itu bagi kehidupan orang percaya?

Peristiwa Pentakosta penting karena melaluinya umat memperoleh nilai-nilai/standar hidup/pedoman/tujuan hidup yang semakin jelas, dengan hadirnya Roh Kudus dan Firman Tuhan bersama-sama.

Ayat 41 mencatat, “Orang-orang (Yang dimaksud adalah semua orang Yahudi dan semua orang yang tinggal di Yerusalem pada momen peristiwa “turunnya Roh Kudus”) yang menerima perkataannya itu (maksudnya perkataan/khotbah Petrus di Hari Raya Pentakosta) memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.

Turunnya Roh Kudus pada Hari Raya Pentakosta, ditandai dengan pemberitaan Firman Tuhan. Di dalam doktrin Kristen, memang keberadaan Roh Kudus tidak pernah dapat dipisahkan dari Firman Tuhan. Ada sebuah slogan yang indah sekali pernah saya baca dalam sebuah buku [berjudul "Pastoring with Passion"] demikian, “Firman tanpa Roh sama dengan Kekeringan (dry up); Roh tanpa Firman sama dengan meledak (blow up); dan Firman dengan Roh sama dengan bertumbuh (grow up).

Bagi penganut Agama Yahudi sendiri, Hari Raya Pentakosta adalah hari raya untuk memperingati pemberian Hukum Taurat oleh TUHAN kepada Musa, di atas Gunung Sinai. Hukum Taurat atau Firman Allah itu terukir pada dua bongkah batu; menjadi semacam naskah perjanjian (kovenan) antara Allah dan umatNya. Dalam Theologi Kristen, perjanjian itu menunjuk pada perjanjian yang lama. Dalam konteks Agama Yahudi ini, peringatan Pentakosta dirayakan dengan mempersembahkan gandum yang pertama, dalam bentuk dua bongkah roti yang terbuat dari tepung terbaik.

Bagi para murid Yesus, Hari Raya Pentakosta memiliki makna baru. Hari itu adalah untuk memperingat turunnya Roh Kudus ke atas umat pilihanNya. Roh Kudus itu mengukirkan Firman Tuhan, tidak lagi di atas bongkahan batu, seperti pada zaman Musa, tapi Roh Kudus itu mengukirkan Firman Tuhan di dalam hati manusia. Hati manusia menjadi naskah Perjanjian yang baru, seperti yang sudah dinubuatkan dalam Yeremia 31:31-33. Firman itu adalah Roti Hidup yang tinggal dalam diri semua orang percaya. Antara Roh Kudus dan Firman Allah, tidak dapat dipisahkan.

Peristiwa Pentakosta penting karena buah dari turunnya Roh Kudus dan hadirnya Firman Tuhan adalah munculnya perilaku manusia yang baru.

Roh Kudus dan Firman Allah menghasilkan perilaku manusia yang baru. Tiga ribu orang bertobat, memberi diri dibaptis, dan menjadi murid Kristus. Di dalam ayat 42, kita dapat membaca bahwa kehidupan komunitas yang muncul kemudian memiliki empat area kunci berikut ini:
1. Mereka bertekun (membaktikan dirinya) dalam pengajaran rasul-rasul (διδαχῇ τῶν ἀποστόλων, didachē tōn apostolōn).
2. Dan dalam persekutuan (κοινωνίᾳ, koinonia).
3. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti (κλάσει τοῦ ἄρτου, klasei tou artou).
4. Dan berdoa (προσευχαῖς, proseuchais).

Ada perilaku baru yang muncul dalam kehidupan umat Allah. Pertama-tama, orang yang memiliki Roh Kudus dan Firman dalam hidupnya, tekun untuk belajar, secara khusus belajar tentang kebenaran-kebenaran rasuli. Orang-orang yang memiliki Roh Kudus dan Firman dalam hidupnya, memiliki kerelaan dan kerendahan hati untuk dididik. Saya pernah mendengarkan khotbah dari seorang pendeta yang mengatakan bahwa ada satu master key yang Tuhan sediakan, kalau seseorang mau berhasil dan beruntung dalam hidupnya, yaitu “rendah hati untuk belajar.”

Jangan pikir orang-orang Yahudi yang berkumpul di Yerusalem itu buta kitab suci. Yang para rasul ajar ketika Hari Raya Pentakosta bukanlah orang-orang yang buta pengetahuan. Sudah menjadi tradisi bagi orang Yahudi, bahwa dari sejak kecil anak-anak dididik dalam kebenaran-kebenaran Firman Tuhan. Sekitar usia 12 tahun, dilangsungkanlah upacara keagamaan yang mengangkat anak-anak Yahudi menjadi anak-anak Taurat. Setelah usia 12, pembelajaran tentang Taurat terus berlangsung sampai kira-kira usia 30-an tahun. Jadi orang-orang Yahudi adalah orang-orang terpelajar dengan kemampuan belajar yang kuat. Namun, toh, ketika Roh Kudus dan Firman Tuhan tertanam dalam batin mereka (jadi bukan sekadar di otak saja), mereka diubahkan Tuhan menjadi orang-orang yang mau diajar dan mau belajar, bahkan meskipun guru-gurunya adalah nelayan-nelayan yang tidak terdidik seperti Petrus dan kawan-kawan sekalipun, mereka tetap sedia hati untuk belajar dan diajar.

Saya dan isteri rajin mendengarkan khotbah melalui siaran streaming radio melalui HP isteri saya. Saudara tahu siapa pengkhotbahnya? Bukan lulusan sekolah theologi, melainkan lulusan Jurusan Sejarah. Doktrinnya pun seringkali tidak konsisten dan banyak ajarannya yang tidak saya setujui. Tapi, ada banyak kesaksian-kesaksian dan penggalian-penggalian Alkitab yang pengkhotbah ini lakukan, yang memberkati saya dan isteri. Seringkali, kami mendengarkan khotbahnya sambil berbaring di ranjang; kami bergandengan tangan saling menguatkan di ranjang; terkadang mata kami sampai berkaca-kaca dan berurai air mata, mendengarkan kesaksian-kesaksiannya yang menguatkan kami dalam pergumulan kami.

Saya berpikir, tidak pernah rugi untuk menyediakan diri belajar dari oranglain. Dan Saudara-saudara pun harus mengerti, kalau misalnya suatu hari ada orang bertanya kepada Saudara, “Pak/Bu, bagaimana sih cara mengajar anak membaca di TK?” Belum tentu yang bertanya itu tidak tahu bagaimana cara mengajar. Seringkali orang bertanya seperti itu karena dia ingin menambah ilmu atau bermaksud membandingkan ilmu Saudara dengan ilmunya. Jadi jangan cepat berpikir bahwa orang yang bertanya itu berarti sudah pasti tidak tahu. Seringkali orang yang bertanya itu sudah punya ilmu, tapi dia tetap bertanya, karena mau tambah ilmu atau membandingkan ilmunya dengan ilmu Saudara. Ini pun bisa Saudara praktekkan di dalam ketulusan, kepada oranglain. Jadi meskipun Saudara sudah punya pengetahuan tentang sesuatu, tetapi Saudara tetap mau belajar dari oranglain, siapatahu ada hal-hal yang dapat memperkaya Saudara. Caranya? Ya, bertanya!

Meskipun terkadang itu menyinggung gengsi kita, tapi kita yang memiliki Roh Kudus dan Firman dalam batin kita, memiliki kesadaran baru, bahwa tema utama dalam kehidupan ini bukanlah tentang “Saya” atau “Kita”, sebaliknya, tema utama dalam kehidupan kita ini adalah tentang “Dia” (tentang TUHAN Allah di dalam Kristus Yesus). Jadi, tidaklah penting siapa kita atau siapa saya! Karena saya dan kita bukanlah tema besar dari kehidupan ini! Pengakuan Iman Westminster menyatakan bahwa tujuan hidup manusia yang utama? Memuliakan Allah dan menikmati Allah selama-lamanya. Bagian kita manusia hanyalah untuk rendah hati dan saling belajar.

Perilaku baru yang muncul kemudian adalah persekutuan. Bersekutu adalah tanda kedewasaan. Umumnya orang berpandangan bahwa kehidupan kanak-kanak ditandai dengan sikap bergantung (dependen) dan kedewasaan ditandai dengan sikap mandiri (independen). Tapi ada ahli yang kemudian menjelaskan bahwa kemandirian bukanlah titik akhir kedewasaan. Banyak orang yang terlalu mandiri, akhirnya malah bersikap kekanak-kanakkan, yaitu merasa sombong; angkuh; tidak butuh oranglain. Orang pun kemudian menemukan bahwa yang disebut orang dewasa adalah orang yang mau belajar hidup saling bergantung dengan oranglain, secara saling menguntungkan (mutual dependency). Orang dewasa adalah orang yang mengakui bahwa dirinya butuh oranglain, tetapi ketika berelasi dengan oranglain mengembangkan sifat yang saling memberi keuntungan (bukan memanfaatkan satu pihak demi kepentingannya sendiri). Di dalam persekutuan, kita dilatih TUHAN, untuk mengembangkan mutual dependency; di dalam persekutuan kita dilatih untuk menjadi orang dewasa. Saya butuh Saudara; Saudara butuh saya; di dalam TUHAN kita saling bertolong-tolongan menanggung beban (jangan sekadar memanfaatkan yang satu demi kepentingan yang lain).

Perilaku baru yang muncul kemudian adalah memecahkan roti. Pada zaman gereja mula-mula, perjamuan kudus tidak dilaksanakan sebagai upacara terpisah yang kelihatan sakral sebagaimana yang gereja praktekkan sekarang ini. Pada zaman gereja mula-mula, persekutuan jemaat itu selalu ditandai dengan makan bersama, dan di dalam konteks makan bersama itulah, berlangsung memecah roti (perjamuan kudus). Jadi, suasana perjamuan kudus di zaman gereja mula-mula itu adalah suasana makan bersama; menjadi bagian dari makan bersama. Ingat, di dalam konteks budaya Yahudi, makan bersama itu lambang persekutuan.

Melalui pengajaran, Firman Tuhan disampaikan secara verbal (kata-kata lisan). Namun melalui pemecahan roti, Firman Tuhan disampaikan secara aksi (perbuatan). Jadi, khotbah adalah Firman yang diberitakan; dan perjamuan kudus adalah Firman yang diperagakan. Karena itu, dalam kehidupan gereja mula-mula, antara khotbah dan perjamuan kudus senantiasa beriringan. Kalau khotbah disampaikan setiap minggu, maka perjamuan kudus pun dipraktekkan setiap minggu. Karena itu Yohanes Calvin (salah seorang reformator gereja abad pertengahan) mengajarkan bahwa perjamuan kudus itu dilangsung setiap minggu, seperti yang dipraktekkan Gereja Katolik sampai detik ini. Tapi karena ketidaksiapan jemaat untuk menyambut Perjamuan Kudus setiap minggu, akhirnya disepakati bahwa Perjamuan Kudus dilangsungkan empat kali saja dalam setahun.

Melalui aksi memecah roti (pemberitaan Firman dalam perbuatan ini), kita diajar untuk memberitakan Firman, tidak hanya secara verbal, namun juga melalui tindakan dan perilaku kita. Itu sebabnya ketika kita menerima roti dan anggur perjamuan kudus, pendeta selalu mengatakan, “melalui perjamuan kudus ini kita memberitakan kematian Tuhan sampai Tuhan datang kembali.” Melalui perjamuan kudus, kita memberitakan Firman. Perjamuan kudus menjadi sebuah tanda bahwa kita siap untuk memperagakan Firman Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita secara rutin mengikuti Perjamuan Kudus. Pertanyaannya, adakah kita memperagakan Firman dalam kehidupan kita sehari-hari?

Terakhir, perilaku baru yang muncul adalah kehidupan komunitas yang berdoa. Orang Kristen adalah orang-orang yang memiliki Roh Kudus dalam hidupnya, tekun belajar dan mempraktekkan Firman Tuhan, dan suka berdoa. Doa-doa kita menjadi sarana untuk Tuhan bekerja di dalam kehidupan dunia ini. Doa lebih merupakan kepercayaan dan kehormatan, karena sebetulnya, tanpa kita pun, Tuhan bisa langsung bekerja. Tapi ia berkenan memakai doa-doa kita sebagai saluran Tuhan bekerja.

Tentang doa ini kita harus ingat, bahwa Tuhanlah yang punya kerja; Tuhanlah yang punya proyek. Doa-doa kita hanya saluranNya untuk menggolkan proyek-proyekNya di atas muka bumi ini. Jadi, ketika kita berdoa, jangan pikir bahwa kita yang punya proyek. Ketika doa kita menjadi saluran untuk kita menggolkan proyek kita sendiri, maka pada detik itulah Tuhan berhenti bekerja. Karena apa? Karena salurannya kotor; tersumbat oleh proyek-proyek kita. Saya merenungkan, berdoa itu harus dengan murni hati; Tuhan yang punya proyek; kita dan doa-doa kita hanya salurannya saja.

Empat area kunci yang dihidupi para murid menghasilkan otoritas rohani Ilahi. Ayat 43 mencatat, “Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda.” Menurut penafsir Alkitab, kata “mereka” dalam ayat ini menunjuk pada orang-orang di sekitar orang-orang percaya. Ketika orang-orang percaya mempraktekkan keempat perilaku rohani di atas, TUHAN mengaruniakan otoritas Sorgawi yang nampak, dan otoritas itu diteguhkan dengan perkara-perkara ajaib, yaitu mujizat dan tanda. Disinilah kita melihat paradoks kebenaran Allah.

Orang dunia berpikir, untuk menjadi orang yang ditakuti dan disegani, kita harus tampil jadi orang yang serba tahu; kita harus jadi orang mandiri dan serba bisa untuk mengerjakan segala sesuatu sendiri; kita harus pandai beretorika; dan kita harus mengandalkan kekuatan kita sendiri. Ini cara pikir dunia! Ini cara orang dunia agar diri mereka ditakuti dan disegani. Tapi tidak demikian cara sorgawi!

Prinsip sorgawi malah memperlihatkan, ketika Saudara rendah hati mau belajar, orang justru segan kepada Saudara; ketika Saudara mau mengakui bahwa Saudara butuh oranglain, Saudara justru dihormati; ketika Saudara mau berusaha memperagakan Firman meski tidak pandai bicara, orang justru respect kepada Saudara; dan ketika Saudara memilih untuk berdoa dan menjadi saluran Tuhan yang bersih, justru Tuhan angkat tanduk Saudara di hadapan para lawan Saudara. Luarbiasa.

Ketika kita merendah, justru Tuhan bawa naik. Ketika dengan cara dunia Saudara berusaha naik, justru Tuhan akan seret turun. Saya sudah melihat dua contoh kisah nyata (bahkan lebih) yang memperlihatkan hal ini, tapi saya tidak dapat menceritakannya. Namun Saudara jangan main-main dengan prinsip ini. Kalau benar Saudara itu orang pilihan Allah, begitu Saudara meninggikan diri dan berusaha naik, Tuhan akan seret Tuhan. Sebaliknya, begitu Saudara merendahkan diri, Tuhan justru bawa naik. Pengalaman saya pribadi mengajarkan satu hal penting kepada saya, “Tuhan sayang orang yang merendahkan diri dan hatinya mau diajar.” Matius 5:5 menyatakan, “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

Peristiwa Pentakosta penting karena menjadi dasar munculnya kebiasaan rohani.

Roh Kudus dan Firman Allah di dalam batin kita memberikan kita prinsip-prinsip/nilai-nilai/tujuan hidup yang baru. Dari itu semua muncullah perilaku. Dan perilaku yang dipraktekkan berulang-ulang, menghasilkan kebiasaan.

Dalam ayat 44-47 a, kita membaca adanya perilaku-perilaku yang menjadi kebiasaan-kebiasaan. Ini dapat dilihat dari beberapa istilah yang digunakan:
• Ayat 44, “Dan semua orang yang telah menjadi percaya ‘tetap bersatu’ (perilaku menjadi kebiasaan), dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama.
• Ayat 45, “dan ‘selalu ada’ (perilaku menjadi kebiasaan) dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
• Ayat 46, “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul ‘tiap-tiap hari’ (perilaku menjadi kebiasaan) dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing ‘secara bergilir’ (perilaku menjadi kebiasaan) dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati…
• Ayat 47 a, “sambil memuji Allah.

Seorang teman saya pernah menasehati saya dan berkata, “Lakukan satu hal yang sama selama berturut-turut selama tiga minggu, maka itu akan menjadi kebiasaan.” Dahulu saya sering dengar kalimat begini, “Jangan beribadah hanya karena kebiasaan.” Tapi saya berpikir, justru kita harus membangun kebiasaan-kebiasaan rohani atau kebiasaan-kebiasaan yang baik. Firman Tuhan dalam 1 Korintus 15:33 menyatakan, “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Jadi, ada yang disebut ‘kebiasaan yang baik’. Dan Firman Tuhan menasehatkan kita untuk memeliharanya; jangan sampai kebiasaan baik itu dirusak oleh pergaulan yang buruk.

Memang ada jebakan dari sebuah kebiasaan. Kebiasaan dapat membuat apa yang kita lakukan kehilangan maknanya. Karena itu Alkitab menasehatkan kita untuk penuh oleh Roh Kudus, dan untuk dipimpin oleh Roh Kudus, supaya apa? Supaya apapun yang kita lakukan secara kebiasaan itu punya nilai/makna yang kekal; supaya kita tetap diberikan kesadaran akan nilai/makna dari yang kita kerjakan secara rutin.

Kebiasaan baik yang muncul sebagai buah pekerjaan Roh Kudus dan FirmanNya di dalam kita, menghasilkan budaya yang berdampak kekal bagi kehidupan oranglain/bagi dunia.

Ayat 47 b mencatat, “Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Budaya itu menunjuk pada karya manusia. Jemaat mula-mula berkarya bagi Tuhan dengan menampilkan satu kebiasaan hidup yang baru. Kebiasaan baru itu adalah hasil karya Roh Kudus dan Firman Allah yang bekerja di dalam kehidupan mereka. Karya mereka nyata dalam kehidupan masyarakat, dan menghasilkan dampak yang kekal dalam kehidupan masyarakat.

Saya akan menceritakan kembali kisah sang misionaris tadi? Seperti biasa, para penduduk setempat tetap saja mencuri buahnya. Dalam hati, misionaris itu berdoa, “Lihat, Tuhan! Bahkan Engkau sendiri tidak dapat mengendalikan mereka juga.”

Namun suatu hari, seorang penduduk setempat mendatangi sang misionaris dan bertanya, “Tuan! Tuan sudah menjadi Kristen sekarang?

Sang misionaris heran mendengar pertanyaan itu, maka ia pun bertanya balik, “Mengapa Kamu bertanya seperti itu?

Penduduk setempat itu menjawab, “Karena Tuan tidak marah-marah lagi setiap kali kami mencuri buah-buah nanas di kebun Tuan!

Mendengar pernyataan penduduk itu, sang misionaris tersadarkan. Para penduduk pedalaman itu selama ini melihat bahwa misionaris itu tidak hidup seperti yang ia sendiri khotbahkan. Tapi kini, mereka melihat bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam diri misionaris itu; sesuatu yang lebih konsisten.

Seorang penduduk setempat bertanya lagi, “Mengapa Tuan tidak marah-marah lagi?

Misionaris itu menjawab, “Karena saya sudah menyerahkan kebun saya kepada oranglain. Kebun itu bukan milik saya lagi. Jadi kalau kamu mencuri buah-buah nanas itu, kamu bukan mencuri buah-buah nanas saya. Saya tidak perlu marah lagi.

Salah seorang penduduk yang lain bertanya, “Milik siapa kebun itu sekarang?

Misionaris itu berkata, “Saya menyerahkan kebun nanas saya kepada Tuhan.

Para penduduk itu pun menjadi geger. Mereka berkata satu dengan yang lain, “Kita telah mencuri nanas-nanas milik Tuhan. Tidak heran kami tidak mendapat babi lagi ketika berburu; isteri-isteri kami mandul; kami mendapatkan kesusahan-kesusahan.

Para penduduk itu akhirnya menjadi takut akan Tuhan. Segera setelah peristiwa itu, banyak penduduk setempat yang menjadi Kristen. Mereka kini melihat juga bahwa apa yang disampaikan oleh sang misionaris, sama dengan yang dihidupinya. Nilai/prinsip baru dalam kehidupan sang misionaris, menghasilkan perilaku yang baru; dan perilaku yang baru ini menghasilkan kebiasaan yang baru; dan ketika para penduduk itu melihat ada kebiasaan yang berubah dari sang misionaris, mereka pun ikut berubah. Kebiasaan yang baru menghasilkan budaya yang baru.

Penduduk setempat mulai membawa barang-barang kepada sang misionaris untuk diperbaiki. Suatu hari ketika sang misionaris sedang memperbaiki kursi, seorang penduduk setempat menawarkan bantuannya. Sang misionaris bertanya dengan sedikit curiga, “Apakah kamu menawarkan bantuan karena mengharapkan sesuatu dari saya?” Penduduk setempat itu menjawab, “Tidak Tuan. Saya membantu karena Tuan telah membantu memperbaiki sekop saya.” Mereka kini telah menjadi orang-orang yang mengerti tentang balas jasa.

Dari cerita di atas, kita belajar bahwa Roh Kudus, melalui Firman Allah, memberikan prinsip/nilai hidup baru dalam diri seseorang. Itu lalu menghasilkan perilaku dan kebiasaan. Dan dari kebiasaan, lahirlah budaya yang baru. Pentakosta penting bagi kehidupan orang percaya. Kuasa Pentakosta sungguh membawa dampak bagi dunia. Kiranya dengan kuasa Pentakosta, Tuhan memberikan kepada kita prinsip/nilai hidup yang diperbarui; mengubah perilaku kita; dan menuntun kita mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baik, sehingga hidup kita membawa dampak yang bersifat kekal bagi kehidupan oranglain dan dunia. Amin.

(Disampaikan pada Ibadah Umum I-III, GK Kalam Kudus Jayapura, Minggu/2 Juni 2013)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

%d bloggers like this: