Yohanes 21:1-14. Yesus, Teladan Kita Melayani


Nats: Yohanes 21:1-14
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Masih dalam masa raya Paskah yang berakhir pada Hari Pentakosta, Mei besok, kita kembali belajar dari kisah-kisah di seputar kebangkitan Tuhan Yesus. Hari ini kita belajar dari Yohanes 21:1-14, yang dalam Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, diberi judul perikop, “Yesus Menampakkan Diri kepada Murid-muridNya di Pantai Danau Tiberias.”

Ada pertanyaan yang dapat kita ajukan! Mengapa para murid kembali ke Tiberias atau Galilea? Hendak apakah mereka di Galilea? Ada orang yang mengatakan bahwa para murid ini tidak tahu harus melakukan apa setelah penampakkan Yesus yang pertama kepada mereka, maka mereka pun kembali kepada hidup lama mereka; kembali kepada pekerjaan mereka, yaitu menjala ikan!

Namun apabila kita lebih teliti membaca Alkitab, maka kita akan menemukan jawabannya. Kalau kita ingat, rangkaian kotbah-kotbah pada minggu-minggu sebelumnya, Yesus menampakkan diri kepada para perempuan, dan salah satunya adalah kepada Maria Magdalena. Tokoh Maria Magdalena ini sangat menarik, karena ada tujuh catatan tentang dirinya, dan enam diantaranya menunjukkan pengiringannya kepada Yesus di masa-masa susah. Kepada para perempuan ini, Yesus memberikan perintah sebagaimana dicatat dalam Matius 28:10, “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudaraKu, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” Jadi, Yesus “janjian/nge-date” dengan para muridNya, untuk ketemu di Galilea.

Lalu kisah pun berlanjut dengan Yesus menampakkan diri kepada para muridNya. Ia menembus pintu yang terkunci dan hati yang tertutup dan penuh ketakutan. Yesus mengubahnya menjadi sukacita, dan mengarahkan gerak jiwa para murid yang semula centripetal (istilah Fisika yang menunjukkan gerak menuju pusat atau ke dalam) dan preoccupied dengan ketakutannya sendiri, menjadi gerak jiwa yang centrifugal (gerak menuju ke luar atau menjauhi pusat), dengan mengutus mereka. Dalam kisah seterusnya kita berjumpa tokoh Tomas. Tokoh Tomas ini menjadi contoh dari seseorang yang gerak jiwanya centripetal. Ia menjauhkan diri dari persekutuan dengan saudara seiman, dalam sikap sinisnya. Tapi hari ini, kita akan belajar tentang tokoh yang memiliki gerak jiwa yang berkebalikan dari Tomas, yaitu tokoh dengan gerak jiwa centrifugal; yang bergerak ke luar; mau melayani oranglain. Siapakah Dia?

Alkitab mencatat bahwa Yesus menampakkan diri di pantai Danau Tiberias, sebutan lain untuk Danau Galilea. Namun sebelum itu, dicatatlah peristiwa Petrus yang pergi untuk menangkap ikan. Murid-murid lain (Tomas atau Didimus yang namanya berarti “kembar”, Natanael, anak-anak Zebedeus, dan dua orang murid lainnya, kemungkinan Andreas dan Filipus) pun menyatakan ikut. Namun semalaman menjala ikan, mereka tidak menangkap ikan. Ketika hari mulai siang, sementara mereka sudah kembali ke dekat pantai, dari pantai Yesus berteriak kepada mereka dan bertanya, “Hai anak-anak (dalam bahasa aslinya, anak-anak kecil), adakah kamu mempunyai lauk-pauk (ikan)?” (ayat 5). Jawab para murid, “Tidak ada!” Lalu Yesus berkata lagi kepada mereka, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh” (ayat 6). Lalu mereka menebarkan jalanya dan mereka tidak dapat lagi menarik jalanya karena banyaknya ikan. Maka murid yang dikasihi Yesus (kemungkinan Yohanes) berkata, “Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar itu, ia lalu mengenakan pakaiannya sebab ia telanjang (tentu bukan telanjang bulat), lalu terjun ke dalam danau. Murid-murid yang lain pun menyusul ke pantai membawa ikan-ikan mereka (ayat 1-4).

Apabila kita membaca ayat 6, kita melihat bahwa Yesus telah melayani para murid dengan menolong mereka mendapatkan ikan. Yesus menolong para murid dengan mujizatNya, sehingga para murid mendapatkan banyak sekali ikan. Dan ini adalah pelayanan pertama Yesus kepada mereka.

Pada ayat 9 kemudian dicatat, “Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti.” Ketika para murid ke pantai, mereka menemukan bahwa Yesus sedang mengolah sarapannya sendiri. Yesus sudah memiliki ikanNya sendiri. Entah darimana Ia mendapatkan ikan. Apakah Yesus sebelumnya memancing; ataukah Ia membelinya; ataukah Ia menciptakan ikan tersendiri, kita tidak jelas. Satu hal yang pasti, Yesus sudah memiliki sarapanNya sendiri.

Ayat 9 ini membuat kita berpikir, lalu mengapa Yesus tadi bertanya, “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk (ikan)?” (ayat 5). Ketika Yesus menanyakan hal ini, siapa sebetulnya yang ada dalam pikiran Yesus? DiriNya sendiri? Tidak! Yesus bertanya begitu bukan karena Ia sedang mencari sesuatu untuk menjadi sarapanNya. Yesus bertanya begitu dengan pikiran yang mengarah kepada kepentingan murid-muridNya. Ia mencari tahu apakah murid-muridNya memiliki sesuatu untuk dijadikan sarapan atau tidak. Ketika para murid itu mengatakan, tidak ada lauk, maka Ia pun membantu mereka mendapatkannya.

Di pantai, Yesus kemudian berkata, “Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.” Seandainya Yesus itu kita gambarkan sebagai tuan rumah yang menyediakan makanan, maka para murid sedang Ia undang untuk berbagian menjadi tuan rumah dalam makan bersama pagi itu. Yesus kemudian mengolahkan ikan yang para murid bawa. Ia memasakkannya (menggoreng atau membakarnya) bagi mereka.

Alkitab mencatat bahwa para murid menangkap 153 ekor ikan besar. Banyak orang memperlakukan angka ini sebagai sesuatu yang simbolik. Tapi cukuplah bagi kita untuk mengartikan bahwa ketika kita taat kepada Yesus, Yesus akan memberkati kita kita dengan melimpah.

Ayat 12 kemudian mencatat perkataan Yesus, “Marilah dan Sarapanlah.” Lalu di ayat 13 dicatat, “Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu.” Yesus melayani para muridNya.

Sungguh menarik, karena di dalam konteks Injil Yohanes, kematian dan kebangkitan Yesus dihimpit oleh dua peristiwa tentang Yesus yang melayani:
1. Dalam Yohanes 13. Mencatat Yesus membasuh kaki murid-muridNya. Suatu pekerjaan seorang pembantu, untuk menyambut seorang tamu yang datang. Dan peristiwa ini terjadi dalam konteks makan malam.
2. Dalam Yohanes 21. Mencatat Yesus menolong para murid memperoleh makanan; mengolahkannya; dan menyuguhkannya bagi mereka. Dan peristiwa ini terjadi dalam konteks sarapan atau makan pagi.

Perhatikan sekali lagi, dua peristiwa yang menghimpit ini, terjadi dalam konteks makan bersama. Dalam kebudayaan Yahudi, makan bersama adalah tanda persekutuan. Itu sebabnya, orang Yahudi pernah mengkritik Yesus yang makan bersama para pelacur dan pemungut cukai. Jadi, di dalam dua nats tadi, Yesus bersekutu dengan murid-muridNya. Dan Teladan yang Yesus tunjukkan dalam kedua peristiwa makan bersama tadi adalah “melayani”. Jadi dahulu, sebelum Yesus mati dan bangkit, Dia melayani. Dan sesudahnya, setelah Yesus mati dan bangkit, Ia tetap melayani. Seolah Yesus hendak berkata, “Aku masih, seperti yang dulu!”

Ini tidak perlu mengherankan bagi kita, karena memang dalam Matius 20:28 dicatat, “Anak Manusia (Yesus Kristus) datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Perhatikan bahwa ada dua hal yang menjadi panggilan hidup Yesus, melayani dan menjadi tebusan bagi banyak orang. Sebetulnya, karya Yesus untuk menjadi tebusan bagi banyak orang adalah puncak pelayanan Yesus. Dan karya Yesus ini sangat unik, dan tidak seorang pun dapat menirunya; tidak seorang pun dapat melakukannya. Karena itu, pemberitaan tentang Pribadi Yesus, tidak dapat dipisahkan dari pemberitaan tentang karyaNya. Dan pemberitaan tentang karyaNya, pastilah mengingatkan kita akan PribadiNya. Kita mungkin dapat meneladani Yesus dalam hal melayani, tapi hanya Yesus yang dapat memberikan nyawaNya untuk menjadi tebusan bagi banyak orang. Kalau kita mati disalib, itu mungkin terjadi karena nyolong ayam, atau nyolong barang orang (sesuatu yang sangat mengerikan apabila sampai disalibkan), tapi Yesus mati disalib untuk menebus dosa-dosa kita, lalu Ia bangkit untuk keselamatan kita.

Kalau kita merenungkan Yohanes 21 ini, dimana dan kapan Yesus melayani? Apakah Yesus melayani dalam konteks pelayanan Sinagoge atau rumah ibadah? Kalau kita perhatikan, Yesus melayani membasuh kaki, juga mengupayakan pengadaan, pengolahan, dan penyajian makanan. Semua pekerjaan ini identik dengan pekerjaan seorang pembantu, yang harus menyambut tamu, belanja ke pasar, memasakkan makanan buat majikan, dan menyuguhkannya di meja makan. Ini adalah pekerjaan keseharian. Jadi Yesus memberi teladan melayani dalam konteks keseharian. Yesus memberi teladan melayani dan melakukan pekerjaan-pekerjaan seorang pembantu.

Ini semua mengajarkan kepada kita agar kita berhati-hati dengan bahaya sikap dikotomi, yaitu sikap memisahkan, seolah aktivitas di gereja baru bisa disebut pelayanan, sedangkan di luar gereja, itu bukan pelayanan dan kita bisa bersikap sesuka-suka hati kita; mencari nafkah sesuka-suka hati kita; berpikir siapa yang hendak makan; berpikir siapa yang hendak kita curangi dalam bisnis kita. Tidak bisa demikian! Seluruh hidup kita adalah pelayanan. Melayani adalah panggilan hidup Yesus. Demikian juga kita yang mengatakan hendak menjadi serupa Yesus, harus menjadikan jiwa pelayan sebagai identitas. Itu bukan sekadar fungsi kita di gereja. Karena itu kita tidak bisa berpikir bahwa saya sudah sekian persen memberikan waktu kita di gereja, maka sekian persen lainnya adalah milik kita; atau kita berpikir bahwa sekian persen harta kita adalah milik Tuhan, dan selebihnya milik Tuhan. Tidak bisa demikian.

Di dalam Lukas 17:10 dicatat perkataan Tuhan Yesus, “Demikianlah juga kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Jadi, ketika kita telah mengerjakan suatu tindakan pelayanan, mungkin bagi orang itu adalah tindakan yang hebat, tapi bagi kita itu biasa saja. Tidak perlu ada yang disombongkan karena memang itu sudah sewajarnya kita lakukan. Sebagai contoh, Sekolah Kristen Kalam Kudus Jayapura terkenal dengan kejujuran para gurunya dalam mengawasi Ujian Akhir Nasional. Banyak sekolah tidak suka dengan Kalam Kudus karena integritas kita. Tapi kita tidak boleh sombong. Itu memang sudah sewajarnya begitu. Justru mereka yang curang itulah yang tidak wajar. Jadi waspada dengan motivasi kita. Kalau Anda adalah seorang bos, ketika Anda melakukan suatu tindakan melayani, lakukan itu bukan untuk sok merakyat atau mencari muka.

Bagaimana dengan praktek keseharian kita? Misalnya di tengah-tengah keluarga. Kita para laki-laki sering bersikap ingin menjadi bos. Mungkin disini ada isteri-isteri yang mengeluh karena suaminya tidak mau membantu pekerjaan rumah. Tapi saya pribadi belajar untuk sadar, isteri saya telah bekerja dari Senin sampai Jumat; dari pagi sampai sore. Sabtu saya berusaha memberi dia waktu istirahat. Hari Minggu dia masih membantu saya pelayanan di gereja. Jadi saya harus sadar dan tanpa perlu disuruh, menyediakan waktu, misalnya Senin, untuk mencuci pakaian di rumah yang sudah agak banyak itu. Apa salahnya?

Dalam hal ini saya justru belajar dari tokoh Habibie lewat film Habibie dan Ainun. Dalam film itu ditampilkan sosok Habibie yang gentle sekali atau lembut sekali kepada isterinya. Itu di film, saya tidak tahu dalam kenyataannya. Saking cintanya kepada isterinya, ia sampai menuliskan kisah mereka ke dalam sebuah buku dan difilmkan. Bahkan ia sedang menuliskan buku yang kedua tentang isterinya.

Bagaimana sikap kita kepada anak-anak kita? Saya pernah menyaksikan satu film India. Perfilman India memang sedang mengalami perkembangan dan memunculkan karya-karya yang bagus sekali. Dan saya adalah rohaniwan yang senang nonton film, tapi bisa dipertanggungjawabkan. Dalam satu film itu dikisahkan tentang seorang anak SD penderita Disleksia bernama Ishaan. Disleksia adalah suatu keadaan akibat adanya masalah di otak atau syaraf otak anak. Anak itu tidak dapat membaca atau menulis dengan baik. Di dalam pandangannya, huruf-huruf itu seperti menari-nari. Ia tertukar, misalnya, antara huruf d dengan p atau angka 4 dengan angka 7. Tetapi orangtua dan gurunya tidak mengetahui masalahnya. Mereka mengira ketidakmampuan Ishaan disebabkan karena dia malas, tidak disiplin, nakal, dan mereka pun hanya bisa mencelanya, memarahinya, menghukumnya, menghakiminya. Mereka tidak tahu bahwa Ishaan mengalami Disleksia. Bahkan Ayah Ishaan pun kemudian mengasingkannya dan mengirimnya ke sebuah sekolah berasrama. Sampai kemudian datanglah seorang guru muda yang ganteng yang mungkin pernah belajar tentang siswa kebutuhan khusus. Guru muda bernama Nimbush itu kemudian mendidik Ishaan. Dan sang ayah pun suatu hari mendatangi Nimbush untuk memberitahu bahwa isterinya telah mencoba mencari di internet tentang apa itu Disleksia. Sang ayah mengatakan bahwa ia memberitahu hal ini kepada Nimbush agar Nimbush tahu bahwa mereka peduli kepada Ishaan. Tapi Nimbush kemudian memberitahu kepada sang ayah bahwa perhatian harus ditunjukkan melalui sentuhan dan kasih sayang yang dinyatakan. Lalu Nimbush menceritakan tentang satu suku di Kepulauan Salomon. Suku di pulau berniat membuka ladang. Tapi mereka tidak membakar atau menebangi pohon-pohon di hutan. Yang mereka lakukan adalah mengelilingi hutan itu lalu bersama-sama mengucapkan sumpah-serapah; hujatan; kata-kata kotor; kata-kata negatif, dan pepohonan di hutan itu pun layu sendiri. Kalau pohon saja layu apalagi manusia; apalagi anak-anak kita.

Bagaimana dengan praktek bergereja kita? Sebelum kebaktian di mulai, apakah Anda mau menyalami atau menyapa jemaat yang baru atau baru pertama kali Anda kenal? Anda bisa mencoba menyapa dan bertanya, “Sepertinya saya belum kenal Anda, boleh saya berkenalan?” Kita bisa menemaninya beberapa menit lalu kembali duduk di bangku kita, dan menyiapkan hati untuk beribadah. Ini bukan tugas majelis saja. Bahkan kadang majelis saja lupa melakukannya. Ini juga bukan tugas rohaniwan saja. Ini panggilan untuk kita semua. Kita tidak perlu menunggu untuk menerima jabatan dahulu, baru kemudian melayani. Marilah kita menciptakan komunitas gereja yang penuh kehangatan.

Bagaimana di dunia pekerjaan kita? Saya mempunyai sebuah cerita yang lucu, tapi waktu saya mengalaminya, sebetulnya tidak lucu. Suatu hari, ketika dilaksanakan kegiatan Kelas Yohanes [untuk anak-anak sekitar gereja], karena guru-guru tidak banyak yang hadir, saya dimintai tolong untuk menggantikan mengajar kelas 5 SD. Saya dimintai tolong untuk mengajar satu pelajaran yang sebetulnya tidak saya benci, hanya saja membuat saya trauma, yaitu Matematika. Dengan percaya diri saya mulai berbicara kepada anak-anak itu. Saya memberikan peraturan-peraturan kelas selama saya mengajar. Setelah itu saya membuka lembaran soal latihan Matematika yang disediakan pengurus.

Saya panik! Mengapa? Karena soal Matematikanya tentang pecahan, dan saya tidak mengerti soal pecahan. Yang mana pembilang dan yang mana penyebut, saya sudah lupa. Tapi saya juga gengsi untuk memberitahu anak-anak bahwa saya tidak bisa. Karena itu saya bertanya kepada rekan pengajar di kelas lain, yang mana penyebut. Lalu saya mencari akal, bagaimana agar bisa bertanya kepada guru di kelas lain. Kebetulan papan tulis yang ada pada saya tidak ada penghapusnya. Lalu saya mengatakan kepada anak-anak bahwa saya hendak mencari penghapus. Lalu saya pergi bertanya kepada guru lain, bagaimana mengerjakan soal pecahan itu. Sambil memperhatikan isi kertas yang saya sodorkan, guru itu lalu berkata, “Sebentar, Pak, saya pikir dulu!” “Waduh!” kata saya dalam hati. “Kalau saya terlalu lama meninggalkan kelas, anak-anak bisa bertanya, ‘Pak guru, kok, lama sekali mengambil penghapus?’”

Setelah saya tahu cara mengerjakan soal-soal pecahan itu, saya lalu kembali ke kelas dan dengan bersemangat, mengajak mereka mengerjakan soal-soal pecahan itu sambil bermain. Saya mengajarkan kepada mereka cara mengerjakan soal-soal pecahan itu. Tapi sepanjang kelas itu berlangsung, saya berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, tolong jangan sampai ada yang tanya, ‘Pak Guru, mengapa angka itu ada di situ?’” Saya sadar saya sedang dalam kondisi menjadi guru yang tidak baik, karena saya hanya mengajar cara saja. Padahal seorang guru yang baik, harus siap juga untuk mengajar konsep; menjelaskan mengapa sesuatu itu bisa begitu! Dan kalau guru pun tidak bisa menjawab, maka ia harus menjadi fasilitator dan bukannya gudang ilmu; ia harus bersedia meng-improve atau meningkatkan diri dengan mencari jawaban lalu belajar bersama para siswanya. Mungkin ada diantara Anda yang berkata, “Ah, itu, khan, teori! Dalam realitanya, yang penting bagi kita adalah nilai ulangan siswa-siswa kita baik, orang tua senang, guru pun senang.” Tapi kita adalah guru-guru Kristen di dalam pendidikan Kristen! Kita pun tidak bisa begitu saja memarahi anak kalau mereka bertanya “mengapa?!”

Tidak hanya menularkan konsep! Guru Kristen yang baik juga harus menularkan nilai-nilai. Kita ingin anak-anak kita menjadi anak yang disiplin. Dan kalau saya merenungkan, ada dua hal yang penting dilakukan:

1. Aturan. Tapi peraturan adalah sesuatu yang mengurung atau membingkai kita dari luar saja. Peraturan memberikan batas mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Manusia harus tetap diberi aturan karena kalau tidak bisa menjadi liar. Tapi itu tidak cukup! Orang bisa saja taat aturan selama ada di dalam, tetapi begitu keluar, menjadi liar.

2. Menanamkan nilai-nilai (values). Kita harus belajar menularkan nilai-nilai kepada anak kita. Nilai-nilai itulah yang akan mengubah dari dalam.

Kita harus memiliki nilai-nilai yang sama. Saya tahu Anda berasal dari latarbelakang yang berbeda; cita-cita yang berbeda; ambisi yang berbeda; sekolah yang berbeda; bahkan motivasi yang berbeda. Saya tahu tidak mudah untuk memiliki kesamaan nilai, tapi bukannya tidak mungkin! Kalau salah satu guru mengajarkan, “Jangan mengunyah-ngunyah di saat kebaktian!” Lalu guru yang lain cuek saja bahkan memberi pengumuman di depan sambil mengunyah-ngunyah, maka teladan guru yang mana yang akan diikuti anak? Anak akan bingung! Demikian jika ayah berkata A dan ibu berkata B, lalu teladan mana yang hendak diikuti! Harus ada kesatuan nilai-nilai.

Baru-baru ini isteri saya mengungkapkan kesedihannya dan menangis di depan saya, karena tahun ini ia harus meninggalkan tempat ia bekerja selama tiga tahun terakhir ini, untuk mengikuti suami. Ia sedih harus meninggalkan teman-temannya yang selama ini telah melayani dengan nilai-nilai yang sama; yang selama tiga tahun mereka melayani, mereka telah mengubahkan satu masyarakat! Bahkan kini, anak-anak yang masih tinggal di dalam honai, bisa bersikap hormat di tempat ibadah dan memiliki prestasi akademik yang meningkat. Sebagai isteri seorang rohaniwan, kemana pun suami pergi, ia harus mendampingi. Entah saya ke kota besar, entah ke pedalaman, bahkan juga kalau ke luar angkasa. Itu sebabnya dahulu sebetulnya ia tidak mau menikahi seorang hamba Tuhan. Ia tahu itu tidak mudah. Dia pernah bergumul tapi pergumulannya sudah lama selesai. Jadi, kini tidak ada penyesalan. Suatu hari saya berkata kepada dia, “Seandainya kamu tidak menikahi saya, mungkin kamu akan lebih kaya dari sekarang!” Tapi dia menjawab, “Saya tidak menyesal.” Itulah pelayanan dia sebagai seorang isteri.

Tuhan kita, Yesus Kristus, dahulu melayani murid-muridNya, namun setelah kematian dan kebangkitanNya, Ia tetap melayani. Bagaimana dengan kita? Marilah kita melayani! Dahulu ketika pertamakali kita mengenal Tuhan, kita melayani. Kini kita pun tetap melayani. Dan ke masa yang akan datang pun kita akan terus melayani. Amin.

(Disampaikan dalam Kebaktian Umum I-III GK Kalam Kudus Jayapura, Minggu/28 April 2013)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

%d bloggers like this: