Kisah Para Rasul 4:23–31. Bersaksi Terus Meski Banyak Tantangan


Nats: Kisah Para Rasul 4:23–31
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Pertanyaan Diskusi:

1. Ayat 33, dilepaskan dari apakah Petrus dan Yohanes? Kondisi baik atau buruk?

Jawab:
Petrus dan Yohanes dilepaskan dari penangkapan dan pengadilan para imam dan tua-tua Yahudi yang tidak suka nama dan karya Yesus diberitakan. Apabila jemaat mengatakan baik Petrus dan Yohanes dilepaskan dari kondisi “Buruk”, maka pertanyaannya: Apakah kesempatan yang Petrus dan Yohanes peroleh untuk memberitakan Injil dalam pengadilan itu adalah hal buruk? Diskusikan!

Jika sebaliknya jemaat mengatakan “baik”, maka pertanyaannya: Apakah ditangkap dan diadili adalah hal yang baik yang dapat dialami oleh orang Kristen? Diskusikan!

2. Kemana Petrus dan Yohanes pergi setelah dilepaskan?

Jawab:
Ayat 23 mencatat bahwa Petrus dan Yohanes dilepaskan kepada teman-temannya. Jangan jadikan lagu hymne berjudul “what a friend we have in Jesus” sebagai alasan bagi kita untuk tidak berteman dengan sesama kita seiman. Diskusikan mengapa orang Kristen kadang sulit untuk berteman dengan sesamanya!

3. Setelah Petrus dan Yohanes menceritakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka, apa yang teman-teman lakukan?

Jawab:
Mereka berseru kepada Tuhan (atau di ayat 31 digunakan istilah “berdoa”).

4. Apa isi dari seruan mereka kepada Tuhan? Ada empat hal yang mereka ingat! Apa saja itu?

Jawab:
Ada empat hal:

Pertama, Mereka mengingat pengakuan iman (kredo) mereka tentang Allah sebagai pencipta (ayat 24). Dalam hal ini, pengakuan iman adalah sesuatu yang dapat menolong pandangan orang Kristen di masa krisis, untuk tetap berada di jalur yang lurus dan tidak tergoda untuk hanyut dalam pelbagai angin pengajaran yang kedengarannya menjanjikan kelepasan sementara.

Kedua, Mereka mengingat Firman Tuhan dalam Perjanjian Lama yang adalah Alkitab mereka pada waktu itu, karena kanon Perjanjian Baru belum dikenali secara lengkap (ayat 25 – 26).

Ketiga, Mereka mengingat (menerima dan menghadapi) tantangan yang mereka alami (ayat 27). Menjadi orang Kristen yang senantiasa memandang perkara yang di atas, tidak membuat kita melupakan realita hidup kita. Dan tidak hanya mengingat realita hidup, kita pun menghadapinya. Jadilah tidak benar perkataan Karl Marx (tokoh Komunis berkebangsaan Jerman) yang mengatakan bahwa “agama adalah candu”. Bagi kita, iman Kristen bukan sekadar “tempat pelarian,” karena kita menghadapi realita kesulitan hidup dengan tabah, kreatif, dan berani.

Keempat, Mereka mengingat pengajaran Yesus Kristus (ayat 28). Bandingkan dengan Yohanes 17:12. Menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, baik dan buruk, tidaklah terlepas dari KEDAULATAN ALLAH, memberikan kepada kita penghiburan bahwa seburuk apapun hal yang menimpa kita, Allah bukannya sekadar menonton dari kejauhan, Dia mengontrol, meskipun nampaknya keadaan di sekitar kita “tidak terkontrol” (misalnya: pembantaian banyak orang). Dalam hal ini, kita harus berhati-hati dalam mempertanyakan keadilan Allah. Kalau kita hendak menuntut keadilan Allah atas kejahatan yang terjadi, ingatlah, bahwa akibat dosa kita, seharusnya kita mengalami hal yang lebih buruk daripada yang sekarang ini kita alami (tapi syukurlah Allah masih mengaruniakan anugerah umumNya, yaitu misalnya melalui lembaga-lembaga penegak hukum, untuk menahan kejahatan).

5. Ada dua hal yang mereka minta kepada Tuhan. Apakah kedua hal itu?

Jawab:
Dua hal yang mereka minta:

a. Minta keberanian untuk memberitakan Firman, dan bukannya minta kelepasan (ayat 29). Sekali lagi, agama bukan pelarian, melainkan dengan gagah berani kita menghadapi dengan tabah kesulitan karena nama Kristus.

b. Minta penyataan kuasa (mujizat) Tuhan (ayat 30). Hal ini ditujukan agar meneguhkan kesaksian mereka.
Perhatikan teladan dari seorang tokoh gereja awal bernama Polikarpus. Ia adalah salah seorang murid Rasul Yohanes dan uskup gereja di Smirna. Ia ditangkap prajurit Romawi, lalu ia meminta waktu satu jam untuk berdoa dan permintaannya mereka kabulkan. Akhirnya ia dibawa ke depan gubernur. Gubernur berkata kepadanya, “Celalah Kristus dan aku akan melepaskan kamu.” Polikarpus menjawab, “Delapan puluh enam tahun aku telah melayani Dia; Ia tidak pernah berbuat salah kepadaku. Bagaimana mungkin aku mengkhianati Rajaku yang telah menyelamatkan aku?” Akhirnya, Polikarpus mati sebagai martir.

6. Apa yang pada akhirnya menyebabkan mereka memberitakan Injil?

Jawab:
Mereka berani memberitakan Firman Tuhan karena Kepenuhan Roh Kudus. Orang Kristen dibaptis Roh Kudus hanya satu kali (yaitu ketika mereka lahirbaru, lambangnya yang kelihatan adalah baptisan kudus, walaupun belum tentu seseorang itu lahirbaru ketika dibaptis). Namun demikian, orang Kristen harus dipenuhi Roh Kudus setiap hari. Setiap pagi kita harus berdoa minta Roh Kudus memenuhi kita.

7. Apa pelajaran bagi kita dari semua diskusi ini, terutama dalam konteks keluarga? Diskusikan!

(Disampaikan dalam Ibadah Rayon Filadelfia GK Kalam Kudus Jayapura, Jumat, 17 Februari 2012)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

%d bloggers like this: