Monthly Archives: April 2013

Yosua 18:1-28. Menilai Situasi di dalam Kepemimpinan Ilahi


Nats: Yosua 18:1-28
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Ayat 1 mencatat, “Maka berkumpullah segenap umat Israel di Silo, lalu mereka menempatkan Kemah Pertemuan di sana, karena negeri itu telah takluk kepada mereka.” Dapatkah Saudara menunjukkan lokasi Silo di peta? (Lihat Daerah Efraim).

Map-Canaan-Twelve-Tribes (1)

Dalam ayat 1 ini disinggung tentang Kemah Pertemuan atau Tabernakel. Tabernakel bukanlah tempat dimana umat Allah berkumpul untuk beribadah bersama, melainkan tempat dimana Allah sendiri berjumpa –dengan membuat janji, dan bukan kebetulan– dengan umatNya. Di dalam Tabernakel ada Tabut Perjanjian (The Ark of Covenant). Dan Tabernakel tetap ada di Silo hingga masa Samuel (1 Samuel 4:3).

Ayat 2 mencatat, “Pada waktu itu masih tinggal tujuh suku di antara orang Israel, yang belum mendapat bagian milik pusaka.” Ketujuh suku yang dimaksud adalah Benyamin, Simeon, Zebulon, Isakhar, Asyer, Naftali, dan Dan.

Apa kata Yosua kepada mereka? Ayat 3 mencatat, “Sebab itu berkatalah Yosua kepada orang Israel: ‘Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu?’” Apa maksudnya menduduki? Penaklukkan Kanaan harus diikuti dengan pendudukkan, yang mensyaratkan adanya sebuah survei (tiga orang dari setiap suku), lalu satu pembagian yang adil, dan kemudian satu penaklukkan sepenuhnya atas tanah itu (hal ini dipraktekkan oleh umat Israel. Lihat ayat 4-5 dan 8-9). Karenanya harus dibedakan antara perang-perang nasional untuk menduduki yang dipimpin oleh Yosua, dengan perang-perang suku meski juga untuk menduduki (Hakim 1-2).

Perhatikan! Bahkan ketika para pemimpin yang saleh seperti Yosua masih hidup, bangsa Israel sudah bermalas-malasan. Tuhan sudah melimpahkan berkatNya atas bangsa Israel, mereka tinggal mengeksekusi. Tapi mereka bermalas-malasan untuk melakukannya. Mengapa? Karena sikap puas diri. Mereka berpikir bahwa prestasinya sudah cukup baik, sementara Tuhan berkata belum. Lebih dari 40 tahun sebelumnya, mereka melakukan sebaliknya, ketika Tuhan bilang jangan maju, mereka malah berinisiatif maju (lihat Bilangan 14:39-45). Bangsa Israel tidak mau menuruti pimpinan Tuhan, lebih senang melakukan apapun yang benar menurut pandangannya sendiri.

Apa yang mereka lakukan ini sudah merupakan dosa isteri Adam beribu-ribu tahun sebelumnya, sebagaimana dicatat dalam Kitab Kejadian pasal 3. Setelah ular menggodanya, apa catatan Alkitab tentang isteri Adam? “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya” (Kejadian 3:6). Steve Jeffery, Mike Ovey, dan Andrew Sach, menulis, “Pemberontakan Hawa pada dasarnya adalah tindakan menggunakan otonomi, di mana ia menempatkan imannya bukan pada apa yang telah Allah nyatakan, melainkan pada penilaiannya sendiri terhadap situasi tersebut.”

Menghadapi suatu situasi dengan menempatkan iman kita pada penilaian kita sendiri terhadap situasi tersebut, bukan berdasarkan penilaian Tuhan, itulah ancaman yang selalu mengintai kehidupan umat Tuhan di sepanjang abad dan tempat. Dalam kasus bangsa Israel di zaman Yosua, mereka melakukan semua itu, bahkan ketika masih ada pemimpin-pemimpin yang saleh. Mereka melihat situasi, dan menilainya berdasarkan penilaian sendiri, lalu memilih untuk bermalas-malasan.

Yosua memerintahkan bangsa itu untuk mengeksekusi berkat Tuhan. Dan ayat 6 pun mencatat perintah Yosua, “Kamu catat keadaan negeri itu dalam tujuh bagian dan kamu bawa ke mari kepadaku; lalu aku akan membuang undi di sini bagi kamu di hadapan TUHAN, Allah kita.” Mungkin melalui Imam Besar sebagai petugas resmi tertinggi untuk membuang undi. Kemungkinan mereka menggunakan Urim dan Tumim (Kel.28:30; 1 Samuel 2:28). Lebih lanjut pada ayat 7, Yosua menjelaskan, “Sebab orang Lewi tidak mendapat bagian di tengah-tengah kamu, karena jabatan sebagai imam TUHAN ialah milik pusaka mereka, sedang suku Gad, suku Ruben dan suku Manasye yang setengah itu telah menerima milik pusaka di sebelah timur sungai Yordan, yang diberikan kepada mereka oleh Musa, hamba TUHAN.” Warisan orang-orang Lewi adalah pelayanan keimaman (lihat Yos.13:14 dan Ulangan 18:1-8).

Membaca ayat 6 ini tidakkah kita tersadarkan, sementara suku-suku Israel bermalas-malasan, para pelayan Tuhan pun terancam telantar. Semakin lama bangsa Israel bermalas-malasan untuk menetapkan batas-batas tempat tinggalnya, semakin lama pula para pelayan Tuhan mendapatkan tempat tinggal yang pasti, mengingat mereka harus tinggal tersebar di antara semua suku. Dan kalau pekerjaan para pelayan Tuhan terhambat, maka pelayanan kepada Tuhan pun terhambat.

Pada ayat 11-28 dicatat tentang wilayah yang diperuntukkan bagi Suku Benyamin. Perhatikan bahwa daerah hasil undi yang diperuntukkan bagi Suku Benyamin dan Dan (19:40-48) merupakan sebuah zona pemisah antara Suku Yehuda dan Suku Efraim, dua suku dominan di Israel. Kedua suku itu, yaitu Benyamin dan Dan, akan memainkan satu peran yang signifikan di dalam lingkaran kisah di Kitab Hakim-hakim (bdk. Hak. 3:12-36; 13:1-16:31).

Pada Kitab Hakim-hakim ini mencatat dua epilog (Bagian akhir dari sesuatu yang dibicarakan, yaitu pasal 17-18 tentang Mikha dan berhalanya dalam pengaruhnya kepada Suku Dan, serta pasal 19-21 tentang pengalaman mengerikan seorang Lewi di wilayah Suku Benyamin). Kedua epilog ini memiliki kesamaan:

1. Melibatkan orang Lewi yang melintas diantara Betlehem (di Yehuda) dan Efraim, melewati batas Benyamin-Dan.
2. Kedua epilog mencatat adanya 600 pejuang (yaitu mereka yang memimpin Suku Dan, dan mereka yang selamat dari antara Suku Benyamin).

Kedua epilog ini dicatat untuk memberikan gambaran kemerosotan yang terjadi di zaman Hakim-hakim, karena tidak adanya raja atau pemimpin. Setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri (suatu kalimat yang dicatat berulang-ulang di sepanjang Kitab Hakim-hakim). Dan kemerosotan mereka itu sebetulnya sudah dimulai dari zaman Yosua sebagaimana dicatat dalam Yosua 18 ini. Ada pemimpin saja mereka sudah malas, apalagi kalau tidak ada kepemimpinan?!

Semua ini memberikan kepada kita beberapa pelajaran:

1. Ketika Anda melihat situasi apapun, termasuk terkait kepemimpinan di atas Anda yang ada tanpa kepemimpinan yang rohani; jangan nilai situasi dengan sudut pandang Anda sendiri, melainkan berdoa dan minta pimpinan Tuhan!

Saya sendiri masih saja melakukan kesalahan ini. Ketika dahulu pihak yayasan pendidikan yang menaungi isteri saya menempatkan isteri saya untuk mengajar di Tangerang (sementara saya di Papua), saya marah-marah melalui email kepada pihak yayasan itu. Kemudian isteri saya dipindahkan ke Papua, tapi 26 km dari tempat saya tinggal. Itu pun saya marah-marah. Baru di kemudian hari saya tahu bahwa ada rencana Tuhan yang baik. Kini saya jadi malu kalau karena peristiwa itu.

2. Ketika Anda sudah mendapatkan pimpinan Tuhan dalam menilai situasi tertentu, taati, lakukan, dan jalani. Percaya Tuhan membuat segala sesuatu di bawah kepemimpinanNya dan waktuNya, baik adanya!

(Disampaikan dalam Persekutuan Doa Pagi, Unit SDK Kalam Kudus Jayapura, Rabu/1 Mei 2013)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Yohanes 21:1-14. Yesus, Teladan Kita Melayani


Nats: Yohanes 21:1-14
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Masih dalam masa raya Paskah yang berakhir pada Hari Pentakosta, Mei besok, kita kembali belajar dari kisah-kisah di seputar kebangkitan Tuhan Yesus. Hari ini kita belajar dari Yohanes 21:1-14, yang dalam Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, diberi judul perikop, “Yesus Menampakkan Diri kepada Murid-muridNya di Pantai Danau Tiberias.”

Ada pertanyaan yang dapat kita ajukan! Mengapa para murid kembali ke Tiberias atau Galilea? Hendak apakah mereka di Galilea? Ada orang yang mengatakan bahwa para murid ini tidak tahu harus melakukan apa setelah penampakkan Yesus yang pertama kepada mereka, maka mereka pun kembali kepada hidup lama mereka; kembali kepada pekerjaan mereka, yaitu menjala ikan!

Namun apabila kita lebih teliti membaca Alkitab, maka kita akan menemukan jawabannya. Kalau kita ingat, rangkaian kotbah-kotbah pada minggu-minggu sebelumnya, Yesus menampakkan diri kepada para perempuan, dan salah satunya adalah kepada Maria Magdalena. Tokoh Maria Magdalena ini sangat menarik, karena ada tujuh catatan tentang dirinya, dan enam diantaranya menunjukkan pengiringannya kepada Yesus di masa-masa susah. Kepada para perempuan ini, Yesus memberikan perintah sebagaimana dicatat dalam Matius 28:10, “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudaraKu, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” Jadi, Yesus “janjian/nge-date” dengan para muridNya, untuk ketemu di Galilea.

Lalu kisah pun berlanjut dengan Yesus menampakkan diri kepada para muridNya. Ia menembus pintu yang terkunci dan hati yang tertutup dan penuh ketakutan. Yesus mengubahnya menjadi sukacita, dan mengarahkan gerak jiwa para murid yang semula centripetal (istilah Fisika yang menunjukkan gerak menuju pusat atau ke dalam) dan preoccupied dengan ketakutannya sendiri, menjadi gerak jiwa yang centrifugal (gerak menuju ke luar atau menjauhi pusat), dengan mengutus mereka. Dalam kisah seterusnya kita berjumpa tokoh Tomas. Tokoh Tomas ini menjadi contoh dari seseorang yang gerak jiwanya centripetal. Ia menjauhkan diri dari persekutuan dengan saudara seiman, dalam sikap sinisnya. Tapi hari ini, kita akan belajar tentang tokoh yang memiliki gerak jiwa yang berkebalikan dari Tomas, yaitu tokoh dengan gerak jiwa centrifugal; yang bergerak ke luar; mau melayani oranglain. Siapakah Dia?

Alkitab mencatat bahwa Yesus menampakkan diri di pantai Danau Tiberias, sebutan lain untuk Danau Galilea. Namun sebelum itu, dicatatlah peristiwa Petrus yang pergi untuk menangkap ikan. Murid-murid lain (Tomas atau Didimus yang namanya berarti “kembar”, Natanael, anak-anak Zebedeus, dan dua orang murid lainnya, kemungkinan Andreas dan Filipus) pun menyatakan ikut. Namun semalaman menjala ikan, mereka tidak menangkap ikan. Ketika hari mulai siang, sementara mereka sudah kembali ke dekat pantai, dari pantai Yesus berteriak kepada mereka dan bertanya, “Hai anak-anak (dalam bahasa aslinya, anak-anak kecil), adakah kamu mempunyai lauk-pauk (ikan)?” (ayat 5). Jawab para murid, “Tidak ada!” Lalu Yesus berkata lagi kepada mereka, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh” (ayat 6). Lalu mereka menebarkan jalanya dan mereka tidak dapat lagi menarik jalanya karena banyaknya ikan. Maka murid yang dikasihi Yesus (kemungkinan Yohanes) berkata, “Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar itu, ia lalu mengenakan pakaiannya sebab ia telanjang (tentu bukan telanjang bulat), lalu terjun ke dalam danau. Murid-murid yang lain pun menyusul ke pantai membawa ikan-ikan mereka (ayat 1-4).

Apabila kita membaca ayat 6, kita melihat bahwa Yesus telah melayani para murid dengan menolong mereka mendapatkan ikan. Yesus menolong para murid dengan mujizatNya, sehingga para murid mendapatkan banyak sekali ikan. Dan ini adalah pelayanan pertama Yesus kepada mereka.

Pada ayat 9 kemudian dicatat, “Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti.” Ketika para murid ke pantai, mereka menemukan bahwa Yesus sedang mengolah sarapannya sendiri. Yesus sudah memiliki ikanNya sendiri. Entah darimana Ia mendapatkan ikan. Apakah Yesus sebelumnya memancing; ataukah Ia membelinya; ataukah Ia menciptakan ikan tersendiri, kita tidak jelas. Satu hal yang pasti, Yesus sudah memiliki sarapanNya sendiri.

Ayat 9 ini membuat kita berpikir, lalu mengapa Yesus tadi bertanya, “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk (ikan)?” (ayat 5). Ketika Yesus menanyakan hal ini, siapa sebetulnya yang ada dalam pikiran Yesus? DiriNya sendiri? Tidak! Yesus bertanya begitu bukan karena Ia sedang mencari sesuatu untuk menjadi sarapanNya. Yesus bertanya begitu dengan pikiran yang mengarah kepada kepentingan murid-muridNya. Ia mencari tahu apakah murid-muridNya memiliki sesuatu untuk dijadikan sarapan atau tidak. Ketika para murid itu mengatakan, tidak ada lauk, maka Ia pun membantu mereka mendapatkannya.

Di pantai, Yesus kemudian berkata, “Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.” Seandainya Yesus itu kita gambarkan sebagai tuan rumah yang menyediakan makanan, maka para murid sedang Ia undang untuk berbagian menjadi tuan rumah dalam makan bersama pagi itu. Yesus kemudian mengolahkan ikan yang para murid bawa. Ia memasakkannya (menggoreng atau membakarnya) bagi mereka.

Alkitab mencatat bahwa para murid menangkap 153 ekor ikan besar. Banyak orang memperlakukan angka ini sebagai sesuatu yang simbolik. Tapi cukuplah bagi kita untuk mengartikan bahwa ketika kita taat kepada Yesus, Yesus akan memberkati kita kita dengan melimpah.

Ayat 12 kemudian mencatat perkataan Yesus, “Marilah dan Sarapanlah.” Lalu di ayat 13 dicatat, “Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu.” Yesus melayani para muridNya.

Sungguh menarik, karena di dalam konteks Injil Yohanes, kematian dan kebangkitan Yesus dihimpit oleh dua peristiwa tentang Yesus yang melayani:
1. Dalam Yohanes 13. Mencatat Yesus membasuh kaki murid-muridNya. Suatu pekerjaan seorang pembantu, untuk menyambut seorang tamu yang datang. Dan peristiwa ini terjadi dalam konteks makan malam.
2. Dalam Yohanes 21. Mencatat Yesus menolong para murid memperoleh makanan; mengolahkannya; dan menyuguhkannya bagi mereka. Dan peristiwa ini terjadi dalam konteks sarapan atau makan pagi.

Perhatikan sekali lagi, dua peristiwa yang menghimpit ini, terjadi dalam konteks makan bersama. Dalam kebudayaan Yahudi, makan bersama adalah tanda persekutuan. Itu sebabnya, orang Yahudi pernah mengkritik Yesus yang makan bersama para pelacur dan pemungut cukai. Jadi, di dalam dua nats tadi, Yesus bersekutu dengan murid-muridNya. Dan Teladan yang Yesus tunjukkan dalam kedua peristiwa makan bersama tadi adalah “melayani”. Jadi dahulu, sebelum Yesus mati dan bangkit, Dia melayani. Dan sesudahnya, setelah Yesus mati dan bangkit, Ia tetap melayani. Seolah Yesus hendak berkata, “Aku masih, seperti yang dulu!”

Ini tidak perlu mengherankan bagi kita, karena memang dalam Matius 20:28 dicatat, “Anak Manusia (Yesus Kristus) datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Perhatikan bahwa ada dua hal yang menjadi panggilan hidup Yesus, melayani dan menjadi tebusan bagi banyak orang. Sebetulnya, karya Yesus untuk menjadi tebusan bagi banyak orang adalah puncak pelayanan Yesus. Dan karya Yesus ini sangat unik, dan tidak seorang pun dapat menirunya; tidak seorang pun dapat melakukannya. Karena itu, pemberitaan tentang Pribadi Yesus, tidak dapat dipisahkan dari pemberitaan tentang karyaNya. Dan pemberitaan tentang karyaNya, pastilah mengingatkan kita akan PribadiNya. Kita mungkin dapat meneladani Yesus dalam hal melayani, tapi hanya Yesus yang dapat memberikan nyawaNya untuk menjadi tebusan bagi banyak orang. Kalau kita mati disalib, itu mungkin terjadi karena nyolong ayam, atau nyolong barang orang (sesuatu yang sangat mengerikan apabila sampai disalibkan), tapi Yesus mati disalib untuk menebus dosa-dosa kita, lalu Ia bangkit untuk keselamatan kita.

Kalau kita merenungkan Yohanes 21 ini, dimana dan kapan Yesus melayani? Apakah Yesus melayani dalam konteks pelayanan Sinagoge atau rumah ibadah? Kalau kita perhatikan, Yesus melayani membasuh kaki, juga mengupayakan pengadaan, pengolahan, dan penyajian makanan. Semua pekerjaan ini identik dengan pekerjaan seorang pembantu, yang harus menyambut tamu, belanja ke pasar, memasakkan makanan buat majikan, dan menyuguhkannya di meja makan. Ini adalah pekerjaan keseharian. Jadi Yesus memberi teladan melayani dalam konteks keseharian. Yesus memberi teladan melayani dan melakukan pekerjaan-pekerjaan seorang pembantu.

Ini semua mengajarkan kepada kita agar kita berhati-hati dengan bahaya sikap dikotomi, yaitu sikap memisahkan, seolah aktivitas di gereja baru bisa disebut pelayanan, sedangkan di luar gereja, itu bukan pelayanan dan kita bisa bersikap sesuka-suka hati kita; mencari nafkah sesuka-suka hati kita; berpikir siapa yang hendak makan; berpikir siapa yang hendak kita curangi dalam bisnis kita. Tidak bisa demikian! Seluruh hidup kita adalah pelayanan. Melayani adalah panggilan hidup Yesus. Demikian juga kita yang mengatakan hendak menjadi serupa Yesus, harus menjadikan jiwa pelayan sebagai identitas. Itu bukan sekadar fungsi kita di gereja. Karena itu kita tidak bisa berpikir bahwa saya sudah sekian persen memberikan waktu kita di gereja, maka sekian persen lainnya adalah milik kita; atau kita berpikir bahwa sekian persen harta kita adalah milik Tuhan, dan selebihnya milik Tuhan. Tidak bisa demikian.

Di dalam Lukas 17:10 dicatat perkataan Tuhan Yesus, “Demikianlah juga kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Jadi, ketika kita telah mengerjakan suatu tindakan pelayanan, mungkin bagi orang itu adalah tindakan yang hebat, tapi bagi kita itu biasa saja. Tidak perlu ada yang disombongkan karena memang itu sudah sewajarnya kita lakukan. Sebagai contoh, Sekolah Kristen Kalam Kudus Jayapura terkenal dengan kejujuran para gurunya dalam mengawasi Ujian Akhir Nasional. Banyak sekolah tidak suka dengan Kalam Kudus karena integritas kita. Tapi kita tidak boleh sombong. Itu memang sudah sewajarnya begitu. Justru mereka yang curang itulah yang tidak wajar. Jadi waspada dengan motivasi kita. Kalau Anda adalah seorang bos, ketika Anda melakukan suatu tindakan melayani, lakukan itu bukan untuk sok merakyat atau mencari muka.

Bagaimana dengan praktek keseharian kita? Misalnya di tengah-tengah keluarga. Kita para laki-laki sering bersikap ingin menjadi bos. Mungkin disini ada isteri-isteri yang mengeluh karena suaminya tidak mau membantu pekerjaan rumah. Tapi saya pribadi belajar untuk sadar, isteri saya telah bekerja dari Senin sampai Jumat; dari pagi sampai sore. Sabtu saya berusaha memberi dia waktu istirahat. Hari Minggu dia masih membantu saya pelayanan di gereja. Jadi saya harus sadar dan tanpa perlu disuruh, menyediakan waktu, misalnya Senin, untuk mencuci pakaian di rumah yang sudah agak banyak itu. Apa salahnya?

Dalam hal ini saya justru belajar dari tokoh Habibie lewat film Habibie dan Ainun. Dalam film itu ditampilkan sosok Habibie yang gentle sekali atau lembut sekali kepada isterinya. Itu di film, saya tidak tahu dalam kenyataannya. Saking cintanya kepada isterinya, ia sampai menuliskan kisah mereka ke dalam sebuah buku dan difilmkan. Bahkan ia sedang menuliskan buku yang kedua tentang isterinya.

Bagaimana sikap kita kepada anak-anak kita? Saya pernah menyaksikan satu film India. Perfilman India memang sedang mengalami perkembangan dan memunculkan karya-karya yang bagus sekali. Dan saya adalah rohaniwan yang senang nonton film, tapi bisa dipertanggungjawabkan. Dalam satu film itu dikisahkan tentang seorang anak SD penderita Disleksia bernama Ishaan. Disleksia adalah suatu keadaan akibat adanya masalah di otak atau syaraf otak anak. Anak itu tidak dapat membaca atau menulis dengan baik. Di dalam pandangannya, huruf-huruf itu seperti menari-nari. Ia tertukar, misalnya, antara huruf d dengan p atau angka 4 dengan angka 7. Tetapi orangtua dan gurunya tidak mengetahui masalahnya. Mereka mengira ketidakmampuan Ishaan disebabkan karena dia malas, tidak disiplin, nakal, dan mereka pun hanya bisa mencelanya, memarahinya, menghukumnya, menghakiminya. Mereka tidak tahu bahwa Ishaan mengalami Disleksia. Bahkan Ayah Ishaan pun kemudian mengasingkannya dan mengirimnya ke sebuah sekolah berasrama. Sampai kemudian datanglah seorang guru muda yang ganteng yang mungkin pernah belajar tentang siswa kebutuhan khusus. Guru muda bernama Nimbush itu kemudian mendidik Ishaan. Dan sang ayah pun suatu hari mendatangi Nimbush untuk memberitahu bahwa isterinya telah mencoba mencari di internet tentang apa itu Disleksia. Sang ayah mengatakan bahwa ia memberitahu hal ini kepada Nimbush agar Nimbush tahu bahwa mereka peduli kepada Ishaan. Tapi Nimbush kemudian memberitahu kepada sang ayah bahwa perhatian harus ditunjukkan melalui sentuhan dan kasih sayang yang dinyatakan. Lalu Nimbush menceritakan tentang satu suku di Kepulauan Salomon. Suku di pulau berniat membuka ladang. Tapi mereka tidak membakar atau menebangi pohon-pohon di hutan. Yang mereka lakukan adalah mengelilingi hutan itu lalu bersama-sama mengucapkan sumpah-serapah; hujatan; kata-kata kotor; kata-kata negatif, dan pepohonan di hutan itu pun layu sendiri. Kalau pohon saja layu apalagi manusia; apalagi anak-anak kita.

Bagaimana dengan praktek bergereja kita? Sebelum kebaktian di mulai, apakah Anda mau menyalami atau menyapa jemaat yang baru atau baru pertama kali Anda kenal? Anda bisa mencoba menyapa dan bertanya, “Sepertinya saya belum kenal Anda, boleh saya berkenalan?” Kita bisa menemaninya beberapa menit lalu kembali duduk di bangku kita, dan menyiapkan hati untuk beribadah. Ini bukan tugas majelis saja. Bahkan kadang majelis saja lupa melakukannya. Ini juga bukan tugas rohaniwan saja. Ini panggilan untuk kita semua. Kita tidak perlu menunggu untuk menerima jabatan dahulu, baru kemudian melayani. Marilah kita menciptakan komunitas gereja yang penuh kehangatan.

Bagaimana di dunia pekerjaan kita? Saya mempunyai sebuah cerita yang lucu, tapi waktu saya mengalaminya, sebetulnya tidak lucu. Suatu hari, ketika dilaksanakan kegiatan Kelas Yohanes [untuk anak-anak sekitar gereja], karena guru-guru tidak banyak yang hadir, saya dimintai tolong untuk menggantikan mengajar kelas 5 SD. Saya dimintai tolong untuk mengajar satu pelajaran yang sebetulnya tidak saya benci, hanya saja membuat saya trauma, yaitu Matematika. Dengan percaya diri saya mulai berbicara kepada anak-anak itu. Saya memberikan peraturan-peraturan kelas selama saya mengajar. Setelah itu saya membuka lembaran soal latihan Matematika yang disediakan pengurus.

Saya panik! Mengapa? Karena soal Matematikanya tentang pecahan, dan saya tidak mengerti soal pecahan. Yang mana pembilang dan yang mana penyebut, saya sudah lupa. Tapi saya juga gengsi untuk memberitahu anak-anak bahwa saya tidak bisa. Karena itu saya bertanya kepada rekan pengajar di kelas lain, yang mana penyebut. Lalu saya mencari akal, bagaimana agar bisa bertanya kepada guru di kelas lain. Kebetulan papan tulis yang ada pada saya tidak ada penghapusnya. Lalu saya mengatakan kepada anak-anak bahwa saya hendak mencari penghapus. Lalu saya pergi bertanya kepada guru lain, bagaimana mengerjakan soal pecahan itu. Sambil memperhatikan isi kertas yang saya sodorkan, guru itu lalu berkata, “Sebentar, Pak, saya pikir dulu!” “Waduh!” kata saya dalam hati. “Kalau saya terlalu lama meninggalkan kelas, anak-anak bisa bertanya, ‘Pak guru, kok, lama sekali mengambil penghapus?’”

Setelah saya tahu cara mengerjakan soal-soal pecahan itu, saya lalu kembali ke kelas dan dengan bersemangat, mengajak mereka mengerjakan soal-soal pecahan itu sambil bermain. Saya mengajarkan kepada mereka cara mengerjakan soal-soal pecahan itu. Tapi sepanjang kelas itu berlangsung, saya berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, tolong jangan sampai ada yang tanya, ‘Pak Guru, mengapa angka itu ada di situ?’” Saya sadar saya sedang dalam kondisi menjadi guru yang tidak baik, karena saya hanya mengajar cara saja. Padahal seorang guru yang baik, harus siap juga untuk mengajar konsep; menjelaskan mengapa sesuatu itu bisa begitu! Dan kalau guru pun tidak bisa menjawab, maka ia harus menjadi fasilitator dan bukannya gudang ilmu; ia harus bersedia meng-improve atau meningkatkan diri dengan mencari jawaban lalu belajar bersama para siswanya. Mungkin ada diantara Anda yang berkata, “Ah, itu, khan, teori! Dalam realitanya, yang penting bagi kita adalah nilai ulangan siswa-siswa kita baik, orang tua senang, guru pun senang.” Tapi kita adalah guru-guru Kristen di dalam pendidikan Kristen! Kita pun tidak bisa begitu saja memarahi anak kalau mereka bertanya “mengapa?!”

Tidak hanya menularkan konsep! Guru Kristen yang baik juga harus menularkan nilai-nilai. Kita ingin anak-anak kita menjadi anak yang disiplin. Dan kalau saya merenungkan, ada dua hal yang penting dilakukan:

1. Aturan. Tapi peraturan adalah sesuatu yang mengurung atau membingkai kita dari luar saja. Peraturan memberikan batas mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Manusia harus tetap diberi aturan karena kalau tidak bisa menjadi liar. Tapi itu tidak cukup! Orang bisa saja taat aturan selama ada di dalam, tetapi begitu keluar, menjadi liar.

2. Menanamkan nilai-nilai (values). Kita harus belajar menularkan nilai-nilai kepada anak kita. Nilai-nilai itulah yang akan mengubah dari dalam.

Kita harus memiliki nilai-nilai yang sama. Saya tahu Anda berasal dari latarbelakang yang berbeda; cita-cita yang berbeda; ambisi yang berbeda; sekolah yang berbeda; bahkan motivasi yang berbeda. Saya tahu tidak mudah untuk memiliki kesamaan nilai, tapi bukannya tidak mungkin! Kalau salah satu guru mengajarkan, “Jangan mengunyah-ngunyah di saat kebaktian!” Lalu guru yang lain cuek saja bahkan memberi pengumuman di depan sambil mengunyah-ngunyah, maka teladan guru yang mana yang akan diikuti anak? Anak akan bingung! Demikian jika ayah berkata A dan ibu berkata B, lalu teladan mana yang hendak diikuti! Harus ada kesatuan nilai-nilai.

Baru-baru ini isteri saya mengungkapkan kesedihannya dan menangis di depan saya, karena tahun ini ia harus meninggalkan tempat ia bekerja selama tiga tahun terakhir ini, untuk mengikuti suami. Ia sedih harus meninggalkan teman-temannya yang selama ini telah melayani dengan nilai-nilai yang sama; yang selama tiga tahun mereka melayani, mereka telah mengubahkan satu masyarakat! Bahkan kini, anak-anak yang masih tinggal di dalam honai, bisa bersikap hormat di tempat ibadah dan memiliki prestasi akademik yang meningkat. Sebagai isteri seorang rohaniwan, kemana pun suami pergi, ia harus mendampingi. Entah saya ke kota besar, entah ke pedalaman, bahkan juga kalau ke luar angkasa. Itu sebabnya dahulu sebetulnya ia tidak mau menikahi seorang hamba Tuhan. Ia tahu itu tidak mudah. Dia pernah bergumul tapi pergumulannya sudah lama selesai. Jadi, kini tidak ada penyesalan. Suatu hari saya berkata kepada dia, “Seandainya kamu tidak menikahi saya, mungkin kamu akan lebih kaya dari sekarang!” Tapi dia menjawab, “Saya tidak menyesal.” Itulah pelayanan dia sebagai seorang isteri.

Tuhan kita, Yesus Kristus, dahulu melayani murid-muridNya, namun setelah kematian dan kebangkitanNya, Ia tetap melayani. Bagaimana dengan kita? Marilah kita melayani! Dahulu ketika pertamakali kita mengenal Tuhan, kita melayani. Kini kita pun tetap melayani. Dan ke masa yang akan datang pun kita akan terus melayani. Amin.

(Disampaikan dalam Kebaktian Umum I-III GK Kalam Kudus Jayapura, Minggu/28 April 2013)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Yohanes 20:24-29. Thomas, Contoh Orang dengan Gerak Jiwa Centripetal


Nats: Yohanes 20:24-29
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Malam ini kita belajar dari pengalaman tokoh Tomas yang disebut juga Didimus (ayat 24). Tokoh ini sangat terkenal karena sikap tidak percayanya. Namun menurut Anda, apakah sikap ragu-ragu itu selalu salah? Dan apakah segala sesuatu senantiasa harus dibuktikan baru kita dapat percaya?

Apabila segala sesuatu senantiasa harus dibuktikan, maka kita sulit hidup! Dalam banyak hal kita memerlukan dasar untuk berpijak. Ketika kanak-kanak, guru mengajarkan kepada kita bahwa Aceh ada di sebelah Barat Indonesia! Kita tidak harus membuktikannya lebih dahulu dengan terbang ke Aceh, baru setelah itu kita percaya! Ketika guru mengajarkan hal itu, kita percaya saja. Kita juga diajarkan bahwa bumi itu bulan (walau tidak betul-betul bulat), dan kita percaya saja! Saya harus percaya bahwa isteri saya adalah manusia dan bukan robot yang terbungkus kulit manusia, kalau saya mau memiliki relasi seperti apa adanya sekarang dalam pernikahan. Jadi tidak semua hal dalam hidup ini harus dibuktikan!

Dan apakah sikap ragu-ragu selalu salah? Kenyataannya, dengan adanya keragu-raguan, Anda lalu terdorong untuk mencari tahu! Karena Anda mencari tahu, maka ilmu pengetahuan pun dapat berkembang! Sikap ragu-ragu seringkali dapat diperlukan [bahkan dalam beberapa kasus dapat menyelamatkan kita dari bahaya]. Namun sebatas manakah sikap ragu-ragu itu boleh ada dalam diri kita! Sikap ragu-ragu melewati batas ketika keragu-raguan itu tidak lagi membuat kita percaya kepada Tuhan.

Dalam konteks Tomas, mengapa dia begitu menunjukkan sikap tidak percaya? Apa yang dapat kita pelajari dari keadaan jiwanya? Saya merenungkan bahwa Yohanes pasal 11 dapat menolong kita untuk lebih mengenal pribadi Tomas.

Dalam Yohanes 11 dikisahkan bahwa orang yang Yesus kasihi, yaitu Lazarus, sakit keras. Setelah sekian waktu, Yesus kemudian memutuskan untuk ke Yudea dan mengunjungi Lazarus. Murid-murid Yesus memperingati Dia bahwa baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Dia dengan batu! (ayat 8). Tetapi Yesus berkeras untuk tetap mengunjungi Lazarus. Dan mendengar jawaban itu, Tomas memberi respon sebagaimana dicatat di ayat 16, “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.” Menurut beberapa orang, respon ini merupakan wujud iman percaya dan keberaniannya, tetapi menurut saya, kalimatnya ini lebih bernada sinis!

Jadi, Tomas adalah pribadi yang sinis. Orang yang sinis adalah orang yang memandang segala sesuatu dalam kacamata yang negatif. Ia cenderung tidak memikirkan yang baik dari lingkungan sekitarnya. Ia adalah orang yang memiliki ukurannya sendiri tentang sekelilingnya, dan ketika sekelilingnya tidak terlihat seperti yang ia harapkan, ia akan memandangnya sebagai sesuatu yang tanpa harapan.

Tomas juga mungkin memandang komunitasnya, komunitas murid-murid Yesus, sebagai kumpulan orang-orang yang putus asa dan tanpa harapan. Sepeninggal Yesus, ia mungkin berpikir, “Buat apa aku kumpul-kumpul dengan orang-orang tak berpengharapan ini! Kami sudah kehilangan pemimpin; mereka sudah kehilangan pemimpin. Buat apa lagi bersama?” Mungkin itu alasan mengapa Tomas tidak terdapat diantara kelompok murid-murid Yesus, ketika Yesus pertamakali berjumpa dengan mereka setelah kebangkitanNya. Ia lebih memilih menarik diri dari persekutuan.

Murid-murid Yesus yang lain kemudian memberitahu Tomas, bahwa Yesus sudah bangkit. Dan masih dalam sinismenya, Tomas menjawab, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tanganNya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambungNya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (ayat 25). Delapan hari kemudian, para murid itu berkumpul, kali ini Tomas ada bersama mereka. Mungkin ia berpikir, “Yah, apa salahnya berada bersama teman-temanku yang tanpa harapan ini, mungkin pula hantu Yesus akan muncul pula dan terbukti bahwa mereka berhalusinasi saja.”

Dan benar, Yesus muncul. Dan Yesus berkata kepada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganKu, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambungKu dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah” (ayat 27). Dan Tomas yang sinis itu pun sampai mengucapkan satu kalimat yang menjadi puncak dari Injil Yohanes ini, karena dicatat menjelang Injil Yohanes berakhir, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (ayat 28). Sebuah kalimat yang penting, yang diucapkan oleh seorang yang sinis.

Kalau kita ingat renungan yang saya sampaikan Jumat lalu, tentang penampakkan Yesus yang pertama kepada para muridNya sebagaimana dicatat di Yohanes 20:19-23, kita belajar bahwa Yesus masuk menembus pintu rumah dan pintu hati yang terkunci. Membuat para murid yang egois dan memiliki gerak jiwa centripetal (mengarah ke dalam), akhirnya bergerak keluar (centrifugal) dan diutus Tuhan. Dalam nats yang kita pelajari malam ini, kita berjumpa dengan tokoh Tomas, yang memiliki gerak jiwa yang centripetal. Namun hari Minggu besok di mimbar gereja, saya akan mengkotbahkan tentang tokoh lain, yang memberikan teladan bagi kita untuk menjadi orang yang memiliki gerak jiwa centrifugal; melayani oranglain.

Nama Tomas sendiri berarti kembar. Nama lainnya yang disebut tiga kali dalam Injil Yohanes, yaitu Didimus, juga berarti kembar. Tapi Alkitab tidak mencatat identitas saudara kembarnya. Ada yang mengatakan bahwa namanya Yudas. Tapi kita tidak pasti tentang hal ini. Namun dari ketiadaan informasi dari saudara kembar Tomas, ini menjadi semacam celah bagi kita untuk berefleksi, jangan sampai kita menjadi saudara kembar identiknya Tomas, yaitu memiliki kemiripan dalam sinisme. Sebaliknya, biarlah kita menjadi saudara kembar yang tidak identik dan memiliki sifat kebalikannya, yaitu percaya; berpikir positif; tidak sinis.

Adakah kita sinis dan berpikir, “Ah, suamiku tidak mungkin berubah! Isteriku tidak mungkin bertobat! Lingkunganku tidak mungkin berubah!” Padahal tidak ada yang tidak mungkin untuk Tuhan ubahkan! Dengan kuasaNya, Tuhan sanggup mengubah keluarga atau lingkungan kita! Kita harus belajar percaya, karena “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1).

(Disampaikan dalam Persekutuan Rayon Filadelfia, GK Kalam Kudus Jayapura, Jumat/26 April 2013)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , | Leave a comment

Hidup sebagai Umat Kovenan Baru


Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Allah berelasi dengan umatNya di dalam bentuk Perjanjian/Kovenan. Di Taman Eden, Allah menjalin relasi Perjanjian Kerja dengan Adam (Hosea 6:7). Namun manusia merusak relasi itu ketika ia melanggar perintah Allah untuk pertamakalinya.

Manusia kini berada di bawah hukuman/murka Allah (Yohanes 3:18, perhatikan kata “telah berada di bawah hukuman”). Namun berkali-kali pula Allah berinisiatif menjalin relasi kasih dengan umatNya, pertama-tama melalui perjanjian dengan Nuh, lalu dengan Abraham dan keturunannya, kemudian dengan Musa, dengan Daud, dengan Salomo, dan pada akhirnya menjanjikan Perjanjian/Kovenan Baru dalam Yeremia 31. Itu sebabnya, Alkitab Kristen dibagi menjadi dua: Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Keempat Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) dikelompokkan ke dalam Perjanjian Baru. Namun sebetulnya,Kovenan/Perjanjian Baru barulah dimulai pada titik ketika Yesus Kristus mati di atas kayu salib. Darah Kristus, yaitu darah Kovenan Baru, menjadi meterai dan meneguhkan Kovenan yang Baru (Lukas 22:19 – 20; 1 Kor.11:23 – 26). Janji yang ditawarkan dalam Kovenan Baru ini adalah “kelegaan/istirahat/rest” (Matius 5:1 – 16; 11:28 – 30; Efesus 2:8 – 9). Dan Kewajiban yang harus dipenuhi dalam Kovenan Baru adalah “memikul salib bersama Kristus” (Matius 5:17 dst.; 11:28 – 30; dan Efesus 2:10).

Lalu apa maksud perkataan Yesus dalam Matius 5:17 – 20? F.F. Bruce menjelaskan bahwa bagi Tuhan Yesus, Hukum Taurat memang adalah pernyataan dari kehendak Allah, dan itu bersifat kekal dan tidak bisa diubah. Namun itu semua menjadi genap di dalam Pribadi dan kehidupan Kristus sendiri (Roma 10:4). Karena itu umat Kovenan Lama diperingatkan Tuhan untuk menganggap serius Taurat Tuhan (ayat 19 – 20), karena ketika Tuhan Yesus menggenapkan semua hukum itu, itu pun merupakan tindakan yang serius.

Jadi, kita yang sekarang hidup sebagai Umat Kovenan Baru, harus memfokuskan pandangan kita hanya kepada Yesus Kristus yang telah menggenapi Taurat itu! Sebagai contoh: Perintah untuk menguduskan Hari Sabat, bukannya dibatalkan, namun telah digenapi di dalam Kristus yang adalah Sabat (peristirahatan) kita yang kekal. Dan karena kita berfokus pada Kristus, maka kita berkumpul pada hari Minggu, karena Tuhan Yesus bangkit pada Hari Minggu. Begitu pulalah dengan segala aturan-aturan hukum lainnya, semua telah digenapi dalam Tuhan Yesus, karena itu yang berlaku bagi kita sekarang adalah Hukum Kristus (1 Kor.9:21; Galatia 6:2).

Jadi, F.F. Bruce menuliskan dua pelajaran bagi kita saat ini, yaitu bahwa:

(1). Cara yang benar untuk menaati hukum yang mana pun juga ialah dengan memenuhi tujuan untuk apa hukum itu diberikan.

Dalam poin ini, saya bisa menjelaskan bahwa hukum-hukum yang bersifat aturan upacara, aturan keagamaan tentang harta benda, atau juga hukum sipil dalam Perjanjian Lama, tidak lagi menjadi semacam aturan legal yang harus dilakukan secara literal dalam kehidupan umat Kovenan Baru. Meski demikian, Perjanjian Lama bukannya tidak berguna, karena isi Hukum Taurat bukannya dibatalkan, melainkan digenapkan! Yang menjadi pokok dari kehidupan umat Kovenan Baru adalah “semangat/spirit” yang mendasari hukum-hukum itu! (yaitu Hukum yang Utama dan Terutama, Matius 22:36 – 40; dan Kaidah Kencana/Golden Rule, Lukas 6:31). Jadi umat tidak boleh terjebak kepada legalisme.

(2). Tuhan Yesus menyatakan bahwa ketaatan atau ketidaktaatan pada Hukum Taurat dimulai dari dalam hati manusia.

Kita sebagai umat Kovenan Baru, kini hidup di bawah Hukum Kristus (1 Kor.9:21; Galatia 6:2). Hukum moral yang ada di Perjanjian Lama (seperti misalnya: hormati orangtua dan jangan mencuri) tetap berlaku, di dalam pengertian, bahwa kini kita menghidupinya sebagai ekspresi dari “Firman yang tertulis dalam batin manusia.”

Di dalam Galatia 6:2 dicatat salah satu penggenapan dari Hukum Kristus, yaitu “bertolong-tolongan dalam menanggung bebanmu.” Apa artinya ini? Artinya adalah bahwa umat Kovenan Baru yang hatinya telah terukir dengan Firman Allah (2 Kor.3:3; Yeremia 31:33 – 34), tidak akan membiarkan sesamanya menanggung beban kesulitan seorang diri (atau tidak akan membiarkan pekerjaan Tuhan telantar tanpa dukungan dana; tidak akan membiarkan hari-hari raya keagamaan terabaikan akibat kekurangan dukungan finansial; dst.). Firman yang terukir dalam batin orang percaya mendorongnya untuk cenderung membantu apa yang perlu untuk memajukan Kerajaan Allah dan menolong sesama yang membutuhkan. Mengapa demikian? Karena Firman Allah yang hidup di dalam batin orang tersebut tidak akan membuat orang tersebut tinggal diam, sebaliknya mendorong dia untuk melakukan sesuatu sebagai ekspresi kasih Kristus yang ada di dalam dirinya.

Inilah hebatnya Kovenan Baru. Di dalam Kovenan Lama, Firman Tuhan itu terukir di atas loh-loh batu. Namun di dalam Kovenan Baru, Roh Kudus mengukirkan Firman Tuhan itu di dalam hati umat pilihan Allah (2 Kor.3:3; Yeremia 31:33 – 34). Dengan kata lain, Firman Allah tinggal di dalam hati dan hidup orang percaya; berdenyut; bergerak; di tengah-tengah denyutan nadi dan gerak nafas orang percaya. Firman yang terukir di dalam hati itulah yang memampukan umat Kovenan Baru mengakui bahwa 100% hartanya adalah milik Allah; 100% waktunya adalah milik Allah; dan “dengan hati” mempersembahkan seluruh hidupnya untuk melayani Allah.

Terkait soal persembahan waktu, misalnya. Orang yang hidup dalam Kovenan Baru akan melihat bahwa semua hari adalah milik Tuhan, dan akan mempergunakan waktu yang ada secara arif dan saksama (Efesus 5:15 – 16). Sebuah artikel menulis,”Tanyalah pada diri anda, berapa jumlah waktu yang benar-benar anda gunakan untuk mengurus masalah kerjaan di kantor, selain waktu yang habis karena macet, ngobrol/nge-gosip,melamun, atau ngobrol dengan teman sekantor untuk membicarakan persoalan yang tidak ada kaitannya dengan urusan pekerjaan!?” Pertanyaan ini penting diajukan karena, “Mereka yang ngantor, belum tentu sungguh-sungguh bekerja, dan mereka yang tidak ngantor, belum tentu tidak bekerja!” Fenomena membuang-buang waktu di kantor ini, bisa terjadi di kantor mana saja! Di kantor kepresidenan, kantor pemerintahan, kantor perusahaan swasta, kantor guru di sekolah, bahkan di kantor gereja. Karena itu kita harus berhati-hati untuk menilai “kerja” seseorang berdasarkan kehadirannya menurut jadwal dan tempat tertentu. Sekali lagi: Mereka yang ngantor, belum tentu sungguh-sungguh bekerja, dan mereka yang tidak ngantor, belum tentu tidak bekerja!

Kalau ungkapan ini saya terapkan dalam konteks kehidupan rohaniwan yang melayani di gereja, misalnya, maka: tidak ngantor bukan berarti tidak melayani. Ada gereja tertentu yang menggilir jadwal ngantor rohaniwannya. Misalnya, hari Senin dan Rabu yang bertugas ngantor adalah rohaniwan A, dan hari Selasa dan Kamis yang bertugas ngantor adalah rohaniwan B. Apakah ini berarti, di luar jam ngantor itu, rohaniwan-rohaniwan tersebut berhenti melayani?! Tentu tidak otomatis demikian bukan?! Bukankah “di luar jam ngantor” pun seorang rohaniwan tetap bersedia mengunjungi dan melayani jemaat?! Jadi penekanan saya disini adalah: Kita harus berhati-hati untuk menilai “kerja” seseorang berdasarkan kehadirannya menurut jadwal dan tempat tertentu. Sekali lagi: Mereka yang ngantor, belum tentu sungguh-sungguh bekerja, dan mereka yang tidak ngantor, belum tentu tidak bekerja! Dalam semua ini, setiap orang percaya yang hidup dalam Kovenan Baru akan “dengan hati” mempergunakan waktu yang ada secara arif dan bijaksana.

Terkait dengan melayani Allah: Hidup dalam Kovenan Baru juga berarti tidak lalai mempergunakan karunia yang ada (1 Tim 4:14)! Dan dengan segenap karunia yang Roh Kudus karuniakan kepada kita, kita melayani Allah. Sebagai contoh: Pdt. Jonathan Edward adalah seorang tokoh Kebangunan Rohani tahun 1700-an di Amerika, namun penilaian pribadinya terhadap dirinya sendiri adalah bahwa “dia bukan seorang yang pandai bercakap-cakap dan [hanya] dengan berkotbah dan menulis-lah, dia dapat melakukan kebaikan paling besar untuk jiwa-jiwa manusia dan memajukan tujuan-tujuan Kristus.” Kira-kira seperti itu pulalah saya menggambarkan diri saya. Coba saja Anda coba berargumentasi dengan saya, maka yakinlah bahwa saya akan cenderung “gagap” dan tidak dapat membela diri dengan argumentasi yang baik. Namun melalui sarana kotbah serta menulislah (dan bukannya debat) saya – berharap – dapat lebih banyak memberikan manfaat bagi hidup orang-oranglain dan memajukan tujuan-tujuan Kristus, karena memang itulah karunia dan talenta saya. Bagaimana dengan Saudara?!

Demikianlah, hidup sebagai umat Kovenan Baru berarti hidup berfokus pada Tuhan Yesus Kristus saja! Dan hukum apa yang memerintah hidup kita saat ini? Hukum Kristus?! Bagaimana kita melaksanakannya?! Dengan memikul salib bersama Kristus, dan Firman yang tertulis dalam batin kita itulah yang akan terekspresi keluar dengan kekuatan Roh Kudus. Dan ujung dari semuanya itu adalah: REST (Istirahat yang kekal di dalam Tuhan).

(Dimuat dalam Warta Jemaat GK Kalam Kudus Jayapura, Minggu/13 November 2011. Sudah direvisi untuk blog ini)

Categories: Tulisan | Tags: , , , | Leave a comment

Senyap


Temaram memaksa sukma
Merenggut kerlipan cahaya di semesta kecil
Hidup akankah hidup?
Entah

Sampai Saudari terhenyak sadar
Bahwa petang telah datang
Melati mewarna
Sibuk menggubah nada
Entah

Senyap
Yang ada hanya senyap

(Desember 2009)

Categories: Tulisan | Tags: , | Leave a comment

1 Korintus 14. Karunia untuk Berkata-kata dengan Bahasa Roh


Nats: 1 Korintus 14.
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Di kalangan gereja tertentu kita menjumpai fenomena adanya orang-orang yang –menurut mereka– mendapatkan karunia untuk berkata-kata dengan Bahasa Roh. Saya sendiri (dan isteri) bertobat dan menyerahkan diri (percaya) kepada Tuhan Yesus melalui pelayanan dari orang-orang Kristen yang “getol” mempraktekkan “karunia bahasa Roh.” Saya pribadi mengaku PERNAH berdoa dengan berkata-kata dalam satu bahasa yang orang tidak pahami; suatu perkataan-perkataan yang mungkin di kalangan Kristen tertentu disebut sebagai “karunia bahasa Roh.”

Saya sendiri melihat ada dua masalah yang menjangkiti gereja-gereja di seluruh dunia terkait dengan karunia berkata-kata bahasa Roh ini:

1. Banyak gereja-gereja yang anti terhadap bahasa Roh dan menganggap bahasa Roh sudah tidak ada lagi di zaman ini.

2. Sebaliknya, banyak gereja-gereja yang mempraktekkan karunia bahasa Roh dengan SANGAT TIDAK TERTIB dan MENYALAHGUNAKANNYA, misalnya dengan menjadikannya sebagai ukuran dari kerohanian seseorang atau mengajarkannya sebagai sebuah rumusan yang dihafalkan. Studi saya atas kitab suci membuktikan bahwa apa yang dipraktekkan gereja-gereja tersebut juga keliru!

Ada hal-hal yang perlu saya tekankan berkenaan dengan topik Bahasa Roh ini:

1. “Bahasa Roh/lidah” (Yun.: glossolalia) adalah “salah satu karunia rohani.” Artinya: Bahasa Roh adalah pemberian cuma-cuma dari Allah Roh Kudus; Perhatikan frasa, “Roh memberikan” (1 Kor.12:4 – 6, 8, dst.).

2. Dan bahasa Roh hanya SALAH SATU dari banyak karunia lainnya. Jadi, ada banyak karunia dan terserah Roh Kudus hendak memberikan karunia yang satu atau karunia yang lain kepada siapa pun yang Ia kehendaki. Kita dapat mengusahakan (misalnya dengan meminta) karunia ini, tapi itu semua terserah kepada Sang Pemberi. Karunia bahasa Roh BUKANLAH karunia wajib yang harus dimiliki oleh semua orang-orang Kristen.

Seperti apakah “karunia bahasa Roh” itu?

1. Karunia bahasa Roh ditujukan kepada Allah, dan bukan kepada manusia (1 Kor.14:2).

2. Ketika seorang jemaat berdoa dengan menggunakan karunia bahasa Roh, tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya, karena oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia (1 Kor.14:2). Kalaupun ada yang menafsirkan bahasa Roh sehingga dipahami dan membangun jemaat, TETAP yang menjadi sasaran dari doa tersebut adalah Allah, bukan manusia! Sekali lagi: Berdoa dalam bahasa Roh ditujukan kepada Allah, dan bukan kepada manusia!

3. Ketika seseorang berdoa dengan menggunakan karunia bahasa Roh, ia berdoa dengan rohnya, tetapi bukan dengan akal-budinya (1 Kor.14:14). Bagian ini menyiratkan kepada kita bahwa karunia bahasa Roh TIDAK BISA dihafalkan atau diajarkan!!! Karunia bahasa Roh BUKAN mantra!

Ada dua bentuk karunia bahasa Roh:

1. Bahasa asing tapi masih merupakan bahasa dari salah satu suku bangsa yang ada di dunia (Kis. 2:4, 8 – 11).

2. Bahasa asing yang tidak ada sama sekali di dunia ini. Seorang sarjana Alkitab bernama Gordon D. Fee menyatakan bahwa kemungkinan yang ada di Jemaat Korintus adalah bahasa dalam jenis ini; suatu bahasa yang dapat dikategorikan sebagai “bahasa malaikat” (1 Kor.13:1). Walaupun ada juga pandangan yang menyatakan bahwa ungkapan “bahasa malaikat” disini adalah ungkapan hiperbola/melebih-lebihkan untuk menekankan pentingnya kasih. Namun melihat dari konteks perikop sebelum dan sesudahnya, nampaknya pandangan Gordon D. Fee bisa kita terima.

Penerima karunia bahasa Roh adalah orang-orang Kristen, atau tepatnya orang-orang yang telah mengaku percaya dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan Yesus (1 Kor.12:1 – 3); orang-orang yang statusnya adalah “anak-anak Allah” (Gal.4:6; Roma 8:15). Jadi, orang-orang yang beragama bukan Kristen, tidak dapat dikatakan memiliki karunia rohani. Itu sebabnya, setelah para rasul menginjili sekelompok orang, orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus itu menunjukkan tandanya dengan mempraktekkan karunia bahasa Roh (Kis.10:46 dan Kis.19:6). Data ini dapat memberi petunjuk kepada kita bahwa karunia rohani hanya diberikan kepada mereka yang telah percaya kepada Tuhan Yesus, apapun latarbelakang suku mereka (Yahudi maupun non-Yahudi).

Ketika kita berbicara tentang “karunia bahasa Roh/lidah,” kita berbicara dalam konteks “DOA” (1 Kor.14:14). Ada beberapa hal penting terkait dengan doa:

1. Orang Kristen harus senantiasa berdoa di dalam Roh Kudus (1 Tes. 5:16 – 18; Efesus 6:18). Perhatikan, ayat ini TIDAK mengatakan bahwa “kita harus senantiasa berdoa di dalam karunia bahasa Roh.” Berdoa dengan menggunakan karunia berkata-kata bahasa Roh hanyalah SALAH SATU WUJUD dari “berdoa di dalam Roh Kudus,” tapi bukan SATU-SATUNYA WUJUD yang harus ada.

2. Berdoa di dalam keheningan (berdiam diri) pun bisa merupakan wujud berdoa di dalam Roh Kudus (Roma 8:26 – 27). Ada saatnya persoalan hidup begitu menekan jiwa kita, sampai-sampai untuk berkata-kata pun kita tidak sanggup. Pada saat seperti inilah, dalam “diamnya kita,” Roh Kudus di dalam hati kita berdoa untuk kita kepada Allah Bapa di sorga.
Lalu apa artinya berdoa “di dalam Roh Kudus”? Artinya: Kita berdoa sesuai kehendak Allah (bdk. Roma 8:27).

Apa tujuan Allah Roh Kudus memberikan karunia ini? Untuk kepentingan bersama; untuk membangun tubuh Kristus (1 Kor.12:7, 12; 1 Kor.14:26). Namun demikian perlu kita ingat lagi, frasa “untuk kepentingan bersama” tidak berarti bahwa tujuan dari doa yang menggunakan bahasa Roh itu adalah manusia! Sekali lagi, bukan! Tujuannya tetaplah Allah! Hanya saja, oranglain yang mendengarnya dan kemudian mendengar tafsiran atas bahasa Roh itu, dapat menjadi terbangun, walaupun ucapan-ucapan doa itu tidak ditujukan kepadanya, melainkan kepada Allah!

Kalau kita menerima karunia berdoa dalam bahasa Roh, kita dapat belajar meneladani Paulus, yaitu:

1. Mengucap syukur kepada Allah (1 Kor.14:18);

2. Berdoa supaya kepada kita juga diberikan karunia untuk menafsirkan karunia bahasa roh itu sehingga jemaat dapat dibangun (1 Kor.14:5, 13);

3. Jika dalam perkumpulan jemaat kita mendapatkan karunia bahasa Roh, karunia itu harus diekspresikan secara tertib (bergantian), batas maksimal orang yang bisa menyampaikannya adalah tiga orang (1 Kor.14:27). Jadi, orang TIDAK BOLEH mengucapkan bahasa Roh beramai-ramai seperti yang dipraktekkan gereja-gereja tertentu di masa sekarang ini.

4. Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkan bahasa Roh, hendaklah orang yang mendapat karunia bahasa Roh itu berdiam diri dalam pertemuan jemaat, dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah (1 Kor.14:28). Pada prinsipnya Paulus mengajar kita agar dalam pertemuan jemaat, kita harus “lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa Roh” (1 Kor.14:19).

5. Jangan melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa Roh. Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan tertib (1 Kor.14:39 – 40). Salah satu bentuknya, dalam pertemuan jemaat tidak boleh ada orang yang berbahasa Roh secara bersamaan atau lebih dari tiga orang! Tidak boleh demikian.

6. Karunia Roh Kudus BUKANLAH karunia yang paling utama untuk dikejar (1 Kor.14:1). Paulus mengatakan bahwa ada karunia lain yang lebih utama untuk dikejar, yaitu karunia bernubuat.

7. Karunia-karunia rohani BUKANLAH jalan yang paling utama bagi orang Kristen (1 Kor.12:31). Jalan yang paling utama bagi orang Kristen adalah KASIH (Yun.: Agape). Kasih adalah salah satu aspek dari BUAH ROH (Gal.5:22 – 23). Jadi, orang Kristen harus mengutamakan BUAH ROH ketimbang KARUNIA ROH. Mengapa “kasih” adalah jalan yang utama? Karena karunia bahasa Roh akan lenyap ketika Yang Sempurna (Tuhan Yesus Kristus) datang dan kita melihat muka dengan muka dengan-Nya (1 Kor.13:8 – 12). Tetapi kasih tidak berkesudahan.

Kesimpulan:

1. Karunia bahasa Roh masih ada dan baru akan lenyap ketika Tuhan Yesus datang kembali ke dunia.

2. Karunia bahasa Roh harus dipraktekkan secara sopan dan tertib.

3. Yang terutama harus dikejar orang Kristen adalah BUAH ROH, secara khusus KASIH.

(Disampaikan dalam Ibadah Tunas Remaja GK Kalam Kudus, Jayapura, Minggu, 20 November 2011)

Categories: Tulisan | Tags: , , , | Leave a comment

1 Korintus 15:3-8. Kebangkitan Kristus dalam Sejarah


Nats: 1 Korintus 15:3-8
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Kebangkitan Kristus adalah doktrin yang sangat penting dalam kekristenan. Surat 1 Korintus 15:3-4 menyatakan, “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.” Namun doktrin ini bukannya tanpa tantangan. Berikut ini beberapa tantangan, tapi sekaligus dukungan para sarjana tentang fakta sejarah kebangkitan Kristus.

Slide1
Slide2
Slide3
Slide4
Slide5
Slide6
1 Korintus 15:3-8
Slide8
Slide9

Alkitab menunjukkan bahwa kebangkitan Kristus adalah sebuah peristiwa historis. Paulus mengindikasikan hal ini dengan menyaksikan adanya saksi mata atas peristiwa tersebut. Dalam 1 Korintus 15:5-8, Paulus menulis, “bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.”

Sebagaimana telah kita lihat, dalam sejarah selalu ada upaya-upaya untuk menunjukkan bahwa kebangkitan itu tidak pernah terjadi. [Bahkan di zaman para rasul sendiri, bertentangan dengan kesaksian Paulus yang mencatat bahwa Yesus telah menampakkan diri kepada Petrus dan kepada murid-muridNya, beberapa tahun sebelumnya, para pemimpin Yahudi telah merekayasa sebuah cerita bahwa mayat Yesus telah dicuri oleh murid-muridNya (Matius 28:11-15)]. Ada orang menuduh bahwa para murid hanya berhalusinasi tentang Kristus yang bangkit. Tapi sulit untuk membayangkan bahwa ada lima ratus orang lebih, berhalusinasi tentang hal itu. Ada juga orang yang menuduh bahwa para murid membuat berita bohong tentang Kristus yang bangkit. Namun sangat mengherankan jika ternyata banyak sekali murid Yesus yang sampai berani menderita, bahkan sampai mati, demi sebuah berita bohong. Paulus mati dipenggal oleh Kaisar Nero karena berita kebangkitan itu. Petrus mati disalib terbalik karena berita kebangkitan itu. Para rasul lain meninggal dengan berbagai cara yang mengerikan di wilayah yang tersebar di belahan bumi ini. Hanya Yohanes yang mati wajar, itupun masih melewati penderitaan dan siksaan karena imannya akan kebangkitan Kristus. Lebih masuk akal jika berita itu ternyata adalah benar, sehingga mereka berani menderita dan mati deminya.

Ketika di Athena Paulus memberitakan tentang kebangkitan orang mati kepada para cendekiawan dan filsuf Yunani, Kisah Para Rasul 17:32 mencatat respon para pendengarnya, “Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata: ‘Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu’.” Berita kebangkitan memang bukan berita yang mudah dipercaya, namun justru itu berita yang sangat penting dalam iman Kristen. Dan seperti dinyatakan oleh Pannenberg, kebangkitan Kristus adalah sebuah peristiwa yang ada dalam sejarah. Iman Kristen adalah iman atas peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sejarah. Orang bisa menyelidiki bukti-bukti sejarah apakah apa yang disaksikan oleh Alkitab benar atau tidak, meskipun iman kita tidak tergantung oleh bukti-bukti itu.

(Disampaikan dalam Ibadah Komisi Remaja GK Kalam Kudus Jayapura, Minggu/April 2012)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , | Leave a comment

Sekelumit Sejarah Theater dan Kekristenan (Semi-Ceramah)


Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Sekelumit Sejarah Theater dan Kekristenan
Slide2
Slide3
Slide4
Slide5
Slide6
Slide7
Slide8
Slide9
Slide10
Slide11
Slide12
Slide13
Slide14
Slide15

Slide16
Slide17
Slide18
Slide19
Slide20
Slide21
Slide22
Slide23
Slide24
Slide25
Slide26
Slide27
Slide28

(Disampaikan dalam Ibadah Pembukaan Pelatihan Theater SMA-SMP Kristen Kalam Kudus Jayapura, 10 Agustus 2010)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , | Leave a comment

Kisah Para Rasul 4:23–31. Bersaksi Terus Meski Banyak Tantangan


Nats: Kisah Para Rasul 4:23–31
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Pertanyaan Diskusi:

1. Ayat 33, dilepaskan dari apakah Petrus dan Yohanes? Kondisi baik atau buruk?

Jawab:
Petrus dan Yohanes dilepaskan dari penangkapan dan pengadilan para imam dan tua-tua Yahudi yang tidak suka nama dan karya Yesus diberitakan. Apabila jemaat mengatakan baik Petrus dan Yohanes dilepaskan dari kondisi “Buruk”, maka pertanyaannya: Apakah kesempatan yang Petrus dan Yohanes peroleh untuk memberitakan Injil dalam pengadilan itu adalah hal buruk? Diskusikan!

Jika sebaliknya jemaat mengatakan “baik”, maka pertanyaannya: Apakah ditangkap dan diadili adalah hal yang baik yang dapat dialami oleh orang Kristen? Diskusikan!

2. Kemana Petrus dan Yohanes pergi setelah dilepaskan?

Jawab:
Ayat 23 mencatat bahwa Petrus dan Yohanes dilepaskan kepada teman-temannya. Jangan jadikan lagu hymne berjudul “what a friend we have in Jesus” sebagai alasan bagi kita untuk tidak berteman dengan sesama kita seiman. Diskusikan mengapa orang Kristen kadang sulit untuk berteman dengan sesamanya!

3. Setelah Petrus dan Yohanes menceritakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka, apa yang teman-teman lakukan?

Jawab:
Mereka berseru kepada Tuhan (atau di ayat 31 digunakan istilah “berdoa”).

4. Apa isi dari seruan mereka kepada Tuhan? Ada empat hal yang mereka ingat! Apa saja itu?

Jawab:
Ada empat hal:

Pertama, Mereka mengingat pengakuan iman (kredo) mereka tentang Allah sebagai pencipta (ayat 24). Dalam hal ini, pengakuan iman adalah sesuatu yang dapat menolong pandangan orang Kristen di masa krisis, untuk tetap berada di jalur yang lurus dan tidak tergoda untuk hanyut dalam pelbagai angin pengajaran yang kedengarannya menjanjikan kelepasan sementara.

Kedua, Mereka mengingat Firman Tuhan dalam Perjanjian Lama yang adalah Alkitab mereka pada waktu itu, karena kanon Perjanjian Baru belum dikenali secara lengkap (ayat 25 – 26).

Ketiga, Mereka mengingat (menerima dan menghadapi) tantangan yang mereka alami (ayat 27). Menjadi orang Kristen yang senantiasa memandang perkara yang di atas, tidak membuat kita melupakan realita hidup kita. Dan tidak hanya mengingat realita hidup, kita pun menghadapinya. Jadilah tidak benar perkataan Karl Marx (tokoh Komunis berkebangsaan Jerman) yang mengatakan bahwa “agama adalah candu”. Bagi kita, iman Kristen bukan sekadar “tempat pelarian,” karena kita menghadapi realita kesulitan hidup dengan tabah, kreatif, dan berani.

Keempat, Mereka mengingat pengajaran Yesus Kristus (ayat 28). Bandingkan dengan Yohanes 17:12. Menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, baik dan buruk, tidaklah terlepas dari KEDAULATAN ALLAH, memberikan kepada kita penghiburan bahwa seburuk apapun hal yang menimpa kita, Allah bukannya sekadar menonton dari kejauhan, Dia mengontrol, meskipun nampaknya keadaan di sekitar kita “tidak terkontrol” (misalnya: pembantaian banyak orang). Dalam hal ini, kita harus berhati-hati dalam mempertanyakan keadilan Allah. Kalau kita hendak menuntut keadilan Allah atas kejahatan yang terjadi, ingatlah, bahwa akibat dosa kita, seharusnya kita mengalami hal yang lebih buruk daripada yang sekarang ini kita alami (tapi syukurlah Allah masih mengaruniakan anugerah umumNya, yaitu misalnya melalui lembaga-lembaga penegak hukum, untuk menahan kejahatan).

5. Ada dua hal yang mereka minta kepada Tuhan. Apakah kedua hal itu?

Jawab:
Dua hal yang mereka minta:

a. Minta keberanian untuk memberitakan Firman, dan bukannya minta kelepasan (ayat 29). Sekali lagi, agama bukan pelarian, melainkan dengan gagah berani kita menghadapi dengan tabah kesulitan karena nama Kristus.

b. Minta penyataan kuasa (mujizat) Tuhan (ayat 30). Hal ini ditujukan agar meneguhkan kesaksian mereka.
Perhatikan teladan dari seorang tokoh gereja awal bernama Polikarpus. Ia adalah salah seorang murid Rasul Yohanes dan uskup gereja di Smirna. Ia ditangkap prajurit Romawi, lalu ia meminta waktu satu jam untuk berdoa dan permintaannya mereka kabulkan. Akhirnya ia dibawa ke depan gubernur. Gubernur berkata kepadanya, “Celalah Kristus dan aku akan melepaskan kamu.” Polikarpus menjawab, “Delapan puluh enam tahun aku telah melayani Dia; Ia tidak pernah berbuat salah kepadaku. Bagaimana mungkin aku mengkhianati Rajaku yang telah menyelamatkan aku?” Akhirnya, Polikarpus mati sebagai martir.

6. Apa yang pada akhirnya menyebabkan mereka memberitakan Injil?

Jawab:
Mereka berani memberitakan Firman Tuhan karena Kepenuhan Roh Kudus. Orang Kristen dibaptis Roh Kudus hanya satu kali (yaitu ketika mereka lahirbaru, lambangnya yang kelihatan adalah baptisan kudus, walaupun belum tentu seseorang itu lahirbaru ketika dibaptis). Namun demikian, orang Kristen harus dipenuhi Roh Kudus setiap hari. Setiap pagi kita harus berdoa minta Roh Kudus memenuhi kita.

7. Apa pelajaran bagi kita dari semua diskusi ini, terutama dalam konteks keluarga? Diskusikan!

(Disampaikan dalam Ibadah Rayon Filadelfia GK Kalam Kudus Jayapura, Jumat, 17 Februari 2012)

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , , , , | Leave a comment

Sejarah Terlarang Dinosaurus dan Alkitab (Terjemahan Video Klip)


Terjemahan oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Saat ini di abad ke-21, kebanyakan orang telah diajarkan bahwa dinosaurus berkembang di bumi 65 miliar tahun lalu, dan secara misteri mati setelah sebuah komet menabrak bumi, bagaimana pun selama lebih dari jutaan tahun, dinosaurus yang selamat, berevolusi menjadi burung sebagaimana yang ada sekarang ini. Ide ini, meskipun diajarkan hampir di semua sekolah dan universitas utama, tidak didukung oleh bukti-bukti dari sejarah ataupun catatan geologis. Teori evolusi tidak dapat menjelaskan tentang ditemukan banyaknya kuburan berisi fosil-fosil yang diketemukan di seluruh dunia; teori ini tidak dapat menjelaskan tentang banyaknya binatang yang diketemukan dalam catatan fosil tersebut, masih hidup sampai saat ini.

Apakah ada penjelasan yang lebih baik? Apakah ada bukti arkeologis ilmiah yang dapat menjelaskan tentang apa yang terjadi pada dinosaurus? Dalam dokumentari ini Anda akan menemukan bukti-bukti bahwa dinosaurus senantiasa hidup bersama manusia. Anda akan menemukan bahwa manusia zaman dahulu sering berinteraksi dengan dinosaurus sepanjang catatan sejarah, dan Anda akan menemukan bukti-bukti yang menguatkan hal ini. Kepada Anda juga akan diperlihatkan bukti-bukti bahwa bisa jadi, ada jenis dinosaurus yang telah bertahan hingga masa kini.

Pada akhirnya, kita akan memeriksa catatan sejarah yang paling akurat dan terpercaya yang pernah diketahui manusia, yaitu Alkitab. Alkitab memberikan versi yang sangat jauh berbeda dari teori evolusi tentang apa yang terjadi pada sejarah manusia kuno yang menyebabkan kemusnahan dari kebanyakan dinosaurus. Kita akan melihat klaim-klaimnya di hadapan bukti-bukti yang dipresentasikan dalam dokumentari ini.

Sebelum kita mulai, sadari ini, kita semua memiliki daftar ide-ide tentang apa yang kita anggap benar. Ini disebut presuposisi. Seringkali presuposisi kita benar; dan seringkali pula salah. Ketika mempertimbangkan bukti-bukti, adalah sulit untuk menyingkirkan presuposisi yang kita pegang dan melihat bukti-bukti dengan pikiran terbuka yang tanpa bias. Kebenaran seringkali sulit diterima, khususnya jika berlawanan dengan apa yang kita percaya. Banyak bukti-bukti yang Anda akan lihat dalam video ini telah diabaikan oleh para ahli modern. Namun pemeriksaan mendetil tentang bukti-bukti itu akan menyingkapkan satu kesimpulan yang mengejutkan.

SEJARAH TERLARANG DINOSAURUS DAN ALKITAB

Tahun 1841 penggunaan pertama istilah DINOSAURIA, artinya: Kadal yang Mengerikan, telah diciptakan oleh akademisi dan paleontologis terkenal Inggris, Sir Richard Owen. Dia menggunakan istilah tersebut pertamakali pada pertemuan asosiasi Inggris untuk kemajuan Ilmu Pengetahuan yang diadakan di Plymouth. Setelah pertemuan itu, kata Dinosaurus dengan cepat menjadi istilah yang popular untuk menggambarkan kadal raksasa yang kemudian diteliti oleh para paleontologis.

Sepanjang 1900, setelah diketemukannya fosil dinosaurus raksasa yang pertama, para ilmuwan mulai meneliti bebatuan untuk mendapatkan petunjuk tentang apa yang terjadi pada kadal mengerikan ini dan mahluk-mahluk lain yang terkubur di bumi. Sayangnya mereka menjadi terlalu terfokus pada batu dan fosil yang terkubur, dan lalai untuk memeriksa sejarah untuk mencari bukti tentang apa yang terjadi pada mahluk-mahluk ini.

Jadi apa yang tepatnya disingkapkan catatan-catatan sejarah tentang dinosaurus. Ingat kata dinosaurus bahkan belum diciptakan hingga tahun 1841. Bahkan sampai tahun 1891, beberapa kamus tidak memuat kata dinosaurus. Lebih awal dari ini semua, dinosaurus lebih dikenal dengan nama lain. Setiap kebudayaan punya nama untuk dinosaurus. Sebagai contoh, nama yang mungkin paling familiar dengan Anda adalah DRAGON (NAGA). Meski begitu hingga tahun 1946, kata naga ditemukan di kamus, dan definisinya menunjukkan penggambaran seperti berikut ini: SAAT INI JARANG. Nama DRAGON di beberapa kebudayaan lain adalah termasuk seperti berikut ini:

Indonesia: Naga
China: Liong
Jepang: Ryu
Filipina: Bakunawa
Siberia: Yibelga
Turki: Ejderha
Yunani: Drakon
Portugal: Coca
Rumania: Balamr
Slavik: Zmeg, Drak, Smok
Hungaria: Sarkany
Inggris: Wyvern
Sardinia: Scultone
Wales: Y ddraig goch
Korea: Yong, Imoggi
Vietnam: Rong, Long
India: Neak
Persia: Azhdaha
Jerman: Lindworm
Tartar: Zilant

Sejarah Naga hampir bersifat universal di seluruh dunia dan kebudayaan kuno. Darimana konsep global ini berasal? Mengapa menjadi begitu universal (mendunia) diantara kebudayaan-kebudayaan yang terpisah oleh benua? Bagaimana masyarakat di seluruh dunia menjelaskan, mencatat, menggambarkan, dan bahkan mengukir mahluk ini dalam suatu keseragaman, jika mereka sendiri tidak menjadi saksi mata?! Mari kita pertama-tama memeriksa catatan sejarah yang tertulis sebagai bukti fisik.

CATATAN SEJARAH

Laporan tentang Naga terbentang dari mulai laporan catatan perjumpaan pribadi, makalah ilmu pengetahuan, sampai pada cerita-cerita legenda seperti manusia serigala (were wolf) dan monster Loch Ness. Sebuah buku ilmu pengetahuan kuno terkenal bernama Historia Animalium (Sejarah Binatang), mengklaim bahwa naga tidak punah pada tahun 1500, namun binatang itu dikatakan sudah sangat jarang dan sejak saat itu relatif berukuran kecil. Pada tahun 1572, seorang ilmuwan bernama Ulysses Androvandus, dengan hati-hati menggambarkan naga kecil yang telah dilihat seorang petani Italia Utara. Mahluk yang sudah jarang itu dibunuh oleh petani itu ketika petani itu memukulnya di kepala dengan tongkat jalannya. Aldrovandus datang untuk jasad mahluk yang sudah mati itu, dan membuat ukuran dan menggambar, dia bahkan menyimpan mahluk itu untuk museum. Mahluk itu punya leher panjang, ekor yang sangat panjang, dan tubuh yang gendut. Tengkorak dari beberapa reptil kuno seperti mahluk yang bernama TANYSTROPHEUS, memiliki kemiripan dengan penggambaran yang Aldrovandus berikan.

Satu cerita Naga dari sebuah negeri kuno, Sumer, di Babilonia (sekitar Irak), menceritakan tentang pahlawan, Gilgames, ia memutuskan untuk mengupayakan lahan bagi dirinya dengan mengadakan perjalanan ke negeri asing untuk menebang pohon-pohon Aras besar yang ia perlukan untuk kota yang ia dirikan. Ia mencapai hutan dengan 50 sukarelawan dan menemukan reptil seperti binatang yang sangat besar diantara pepohonan dan semak. Cerita ini hanya mengatakan bahwa Gilgames membunuhnya dan memenggal kepalanya sebagai trofi.

Ribuan cerita dan lukisan Naga dapat ditemukan di kitab-kitab dan karya seni Cina kuno. Salah satu legenda menceritakan tentang seorang pria Cina terkenal bernama Yu. Kisah itu menceritakan bahwa setelah AIR BAH (banjir besar yang mendunia), Yu menjelajahi Tanah Cina dan membaginya ke dalam bagian-bagian, ia membangun kanal untuk mengalirkan air ke laut, dan menolong membuat tanah dapat ditinggali lagi. Banyak ular dan NAGA dienyahkan dari tanah itu, ketika Yu menciptakan lahan pertanian.

Beberapa kitab Cina kuno bahkan mencatat tentang keluarga yang memelihara naga dan membesarkannya untuk memanfaatkan darahnya dan bagian tubuhnya untuk keperluan medis/pengobatan. Tahun 1611, kaisar memerintahkan untuk merebus lever Naga.

Seorang penulis Irlandia (pada tahun 900 Masehi) mencatat tentang perjumpaan dengan mahluk buas besar dengan cula di ekornya, kepalanya yang berbentuk kuda, dan memiliki kaki-kaki yang besar dengan cakar yang kuat. Detail ini cocok dengan gambaran dinosaurus seperti Kintrosaurus dan Stegosaurus yang punya empat cula tajam di ekornya, kaki yang besar, cakar yang kuat, dan tengkorak panjang seperti kuda.

Peneliti dan sejarawan Yunani yang dihormati, Herodotus, menggambarkan reptil terbang kecil di Mesir kuno dan Arabia. Binatang ini secara menakjubkan terdengar seperti Pteurodactyl kecil, Ramphorhynchus, yang mempunyai tubuh kecil seperti ular dan punggung dengan sayap. Banyak telah dibunuh di dekat kota Butho, di Arabia. Hewan ini nampak di lembah dengan banyak tulang punggung dan rusuknya. Herodotus mengatakan bahwa binatang ini terkadang dapat ditemukan di belukar tertentu, ukurannya kecil, dan sangat berwarna. Jumlah besar hewan ini terkadang berkumpul di pohon-pohon kemenyan. Ketika para pekerja hendak mengambil hasil bernilai dari pohon-pohon ini, mereka akan menggunakan asap berbau untuk mengusir hewan-hewan reptil ini pergi.

Filsuf Yunani yang terkenal dan dihormati, Aristoteles, mengatakan bahwa di masanya, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa hewan seperti ini juga ada di Ethiopia. Binatang yang mirip, 3 kaki panjangnya, juga digambarkan di India oleh Geografor, Strabo.

Dalam buku Pliny, Natural History (Sejarah Alam), ditulis tahun 70 Masehi, ia mengatakan bahwa Afrika menghasilkan gajah, namun Indialah yang menghasilkan yang terbesar, sebagaimana diantaranya NAGA.

Claudius Aelians, seorang penulis militer Yunani di abad kedua, menulis De Nature Animalium (Alam Binatang) di sekitar tahun 200 Masehi, dalam karyanya menyatakan bahwa sejarah Frigia juga mencatat bahwa naga-naga dilahirkan hingga mencapai 10 paces panjangnya. Sepuluh paces itu sekitar 30 kaki.

Kota Nourlake di Perancis dinamai ulang sebagai penghargaan atas pembunuhan naga di sana. Binatang ini dilaporkan lebih besar daripada Banteng dan memiliki tiga tanduk panjang yang runcing di kepalanya.

Pada tahun 1271 Masehi, penjelajah besar, Marcopolo, mencatat dalam tulisannya bahwa kaisar Cina memiliki naga yang menarik keretanya dalam acara-acara istimewa tertentu. Dan kemudian dalam bukunya, Perjalanan Marcopolo, Polo mencatat berikut ini tentang propinsi Cina, Karzan, dia menyatakan: Disini dapat dilihat naga-naga yang besar, panjangnya 30 kaki (10 paces), demikian juga tubuhnya. Di bagian depannya, dekat kepala, mereka punya dua lengan pendek, dengan tiga cakar seperti seekor harimau, dengan mata yang lebih besar dari sisi koin dan sangat terang. Taringnya cukup lebar untuk menelan seorang manusia, gigi-giginya besar dan runcing, dan keseluruhan tampilannya begitu mengerikan, sehingga tidak seorang manusia pun, juga binatang apapun, dapat mendekatinya tanpa rasa takut. Beberapa ekor lainnya berukuran lebih kecil, 24 kaki, 18 kaki, atau 15 kaki panjangnya…. (Perjalanan Marcopolo, Buku 2, Bab 40).

RIWAYAT ANGLO-SAXON 793 MASEHI

Riwayat Anglo-Saxon dari 793 Masehi melaporkan, “Tahun ini tibalah peringatan pendahuluan yang mengerikan atas Negeri Northumbrians, membuat orang-orang sangat takut, inilah pancaran sinar yang memenuhi udara dan angin dan naga-naga yang mengerikan beterbangan melintasi cakrawala.”

Alexander Agung melaporkan bahwa ketika ia menaklukkan bagian wilayah yang sekarang dikenal sebagai India pada tahun 326 Sebelum Masehi, prajuritnya digentarkan oleh seekor naga besar yang hidup di gua. Pada tahun 275 Masehi, legenda mengatakan bahwa George dari Lidia, seorang prajurit Romawi di dalam pasukan penjaga Kaisar Docletianus, membunuh seekor naga sementara ada di Lidia untuk Perang. Menurut legenda, pada abad ketujuh, seekor naga bernama Gorgue, muncul dari dalam air di sungai di Perancis. Berbeda dari naga pada kisah-kisah mitos, naga ini tidak mengeluarkan api, melainkan seekor naga air. Monster ini terdesak hingga tepian wilayah sekitar Paris. St. Romain, Uskup Agung Rowein, dengan ditemani oleh beberapa tahanan yang sedang dihukum, menetapkan diri untuk menghentikan monster itu. Mereka menangkap naga itu dan mengembalikannya ke Paris dimana disana naga itu disembelih dan dibakar. Bagaimana pun kepalanya disimpan dan terukir di gedung. Untuk mengenang peristiwa ini, arsitek mulai mendesain gorguestoud di dalam bentuk Gorgue. Dan akhirnya di dalam bentuk semua mahluk aneh yang sekarang disebut Gorguel.

Ada ribuan legenda lainnya dimana orang melihat dan membunuh naga di sepanjang sejarah. Sekarang mari kita lihat bukti-bukti fisik yang telah ditemukan, yang menunjukkan keberadaan dinosaurus bersama manusia. Apa yang akan Anda lihat, Anda tidak akan lihat di Discovery Channel; History Channel; buku teks sains; atau di publikasi sekular lainnya. Jika Anda melihat salah satu dari penemuan ini, Anda akan menemukan adanya usaha untuk menunjukkan bahwa penemuan ini palsu. Bagaimana pun, dengan pemeriksaan yang teliti atas fakta-fakta di sekitar penemuan ini, kebenaran yang ada tidak terbantahkan.

Peradaban kuno yang secara teknik sangat maju, Nazca, Indian, berkembang di sebelah Selatan pantai Peru, di sekitar 1 Masehi hingga 750 Masehi. Kebudayaan ini menghasilkan hasil karya dan teknologi yang indah, seperti keramik, tekstil, dan geoglis. Masih tidak diketahui bagaimana tepatnya Nazca menghasilkan Geoglis yang disebut “Garis-garis Nazca.” Mereka juga menghasilkan ribuan ukiran di batu-batu yang terkubur. Batu-batu ini terukir yang kemudian diketahui sebagai batu-batu Icha atau teka-teki. Ada lebih dari 16 ribu batu berukir yang luarbiasa ini telah ditemukan dalam jangka waktu 50 tahun terakhir. Batu-batu ini berisi ukiran kehidupan sehari-hari, gambaran situasi perang, praktek pertanian, prosedur medis, teknologi yang maju, dan yang paling menakjubkan DINOSAURUS. Banyak kaum skeptik telah mencoba mengabaikan batu-batu Icha dengan mengatakan bahwa batu-batu ini adalah hasil karya modern. Namun bukti-bukti mengindikasikan hal yang berbeda.

Tahun 1535, Pasukan Kerajaan Spanyol datang ke Peru, di area dimana orang-orang Indian, Nazci, telah hidup, mereka melaporkan bahwa mereka telah menemukan batu-batu dengan binatang-binatang aneh terukir di atas batu-batu itu. Desain dan pola batu-batu itu juga mengindikasikan bahwa batu-batu itu asli dari kebudayaan Nazci. Dan dari 16.000, hanya 500 yang berukirkan Dinosaurus di atasnya. Konsekuensinya, banyak ukiran-ukiran yang ada tidak ada hubungannya dengan Dinosaurus. Ukiran-ukiran itu hanya merupakan sebuah penggambaran kehidupan sehari-hari dari kebudayaan Nazci.

Di Ankembarel, Meksiko, sejak 1960, lebih dari 56.000 patung-patung tanah liat kuno telah ditemukan, banyak dari karya tanah liat ini adalah bentuk-bentuk dinosaurus, usia kira-kira dari patung-patung tanah liat ini adalah sekitar 4500 tahun. Banyak orang telah mempelajari patung-patung ini, dan pendapat akan keasliannya terbelah. Kebanyakan yang tidak memiliki kecenderungan bias percaya bahwa patung-patung ini asli, namun yang lain, yang percaya bahwa Dinosaurus mati jutaan tahun yang lalu, menyatakan bahwa mereka tetap skeptik, ketimbang mempercayai penanggalan Radio Karbon dan penyelidikan-penyelidikan atas bukti yang menunjuk pada keaslian patung-patung itu.

Arsitek-arsitek abad ke-16 menghasilkan patung-patung naga ini, wajahnya menggambarkan Dinosaurus seperti Tyranosaurus Rex. Beberapa orang Amerika Latin lainnya, di peradaban Amerika Tengah, telah menghasilkan patung-patung serupa.

Perbandingan sebelah-menyebelah ini benar-benar menyingkapkan sesuatu. Patung-patung ini betul-betul menggambarkan Dinosaurus seperti Tyranosaurus Rex dan Ceratosaurus. Dan patung Meksiko yang diciptakan di sekitar tahun 300 SM hingga 300 Masehi ini bisa jadi adalah replika dari Dinosaurus seperti Ankylosaurus.

Cina, satu negeri kuno yang dikelilingi oleh naga dan misterinya. Kalender Cina atau Zodiak, yang dikembangkan paling awal pada tahun 1000 SM, memiliki di dalamnya 12 binatang, dimana 11 yang masih hidup sampai saat ini. Namun yang ke-12, NAGA, hanyalah legenda atau juga berdasar atas binatang sungguhan yaitu Dinosaurus? Nampak tidak logis bahwa orang Cina kuno ketika menyusun zodiak mereka, akan memasukkan 1 hewan mitos diantara 11 hewan umum lainnya. Penjelasan yang lebih rasional ialah bahwa Naga yang sering disebut dalam sejarah Cina, kini punah atau sangat jarang. Inilah salah satu contoh tentang Naga Cina yang sangat nampak seperti Dinosaurus.

Mungkinkah ini semacam Sauropod seperti Brachiosaurus? Karya tanah liat Cina ini nampak mirip dengan Hadrosaurus. Dan kotak logam dari abad ke-3 SM ini, memperlihatkan empat Dinosaurus, Sauropods, dibuat sebagai keempat pegangannya. Naga berusia 2500 tahun ini nampak mirip dengan mahluk Diploticus.

Asia Tengah dengan hutan hujan dan belantaranya, adalah rumah dari banyak kisah tentang Dinosaurus aneh seperti monster. Dan karya-karya seni yang telah ditemukan cukup memberi penyingkapan. Kemiripan yang monster-monster dan naga-naga ini miliki dengan dinosaurus tidak dapat disangkal. Dan ditemani dengan kisah-kisah modern dan kuno tentang monster yang terus dilihat di hutan, membuat banyak orang percaya bahwa salah satu dari mahluk ini akan tertangkap atau terbunuh.

Candi Kamboja dari abad ke-12 Masehi yang dibangun pada 1186 Masehi adalah rumah dari karya seni dinosaurus yang sangat menarik. Candi ini ditutupi dengan desain unik dan ukiran batu sebagai bagian luarnya. Ukiran yang nampak seperti Dinosaurus bernama Stegosaurus ini, ditemukan di tembok Candi. Di akhir 1800-an, budaya Dayak di Kalimantan menghasilkan karya seni dengan gambar Dinosaurus. Sumber air di candi Hindu ini yang dibangun pada tahun 1800-an, nampak mirip dengan Triceratops. Ada banyak penemuan lain seperti ini di Asia, termasuk dua hasil karya tembaga Nepal dari abad ke-10 ini, yang nampak mirip seperti beberapa tipe Dinosaurus, Triceratops.

Sejarah Eropa diisi dengan karya-karya seni Naga, ini tidak hanya termasuk penampakan popular naga yang sering digambarkan pada hasil-hasil karya seni, namun juga termasuk mahluk-mahluk mengherankan lain yang mirip Dinosaurus. Mozaik Palestina dari sekitar 100 Masehi, memiliki beberapa binatang yang seharusnya sudah punah di zaman Prasejarah. Mengapa kebudayaan Roma meletakkan binatang-binatang prasejarah yang harusnya sudah musnah dalam dokumen sejarah dan karya seni mereka? Jawabannya yang jelas adalah karena mereka hidup bersama dan mereka mencatat apa yang mereka lihat. Disini kita lihat Dinohyde yang artinya: Babi yang Mengerikan. Dinohyde dianggap sudah punah sekitar 24 juta tahun lalu, namun disini kita melihat beberapa orang memerangi apa yang disebut Dinosaurus, Quaterpyde. Perhatikan juga Katedral Carlyle, di makam Uskup Richard Bell, yang meninggal pada tahun 1496, ada kedua ukiran ini.

Ini juga Dinosaurus yang diambil dari inskripsi Romawi abad ke-2. Bangsa Thracian adalah suku-suku Indo-Eropa yang berbicara dengan bahasa Ferician, dan bertahan dari 3200 SM – 500 SM. Helm Thracian ini dihias dengan hiasan yang mirip dengan Tsintaosaurus. Lihatlah hiasan helm ini dalam perbandingan dengan tengkorak dan gambar yang ada.

Banyak budaya kuno lain di sepanjang sejarah telah memberikan kepada kita karya seni yang menunjukkan keberadaan dinosaurus bersama-sama dengan manusia. Lihatlah kepada beberapa karya seni ini. Lukisan goa yang mengherankan ini telah ditemukan di Taman Nasional, Arizona, usianya sekitar 1000 tahun. Di Monumen Nasional Bridges di Utah, orang Indian, Anazazi, membuat lukisan gua ini beberapa tahun lalu. Perisai silinder kuno ini telah diketemukan di Mesopotamia.

Di dalam sebuah buku oleh A.M. Miller, ditulis 1725 – 1727, mencatat perjalanannya dari Roma ke Yerusalem, kemudian ke Troy, Mesir, Siria, dan Malta, telah ditemukan gambar banyak hal yang Miller lihat dan gambar selama perjalanan. Inilah gambar sesuatu yang dilihat Miller, nampak seperti naga terbang, nampaknya seperti sejenis Teresaurus.

Orang Indian, di sebelah Barat Daya Amerika, dan juga di sepanjang Amerika Tengah dan Selatan, menceritakan kisah-kisah tentang seekor burung guntur yang dari penggambarannya dan dari beberapa bukti Arkeologis, bisa jadi merupakan Terosaurus atau Pteurodactyl. Dan tongkat Indian yang masih digunakan sampai hari ini memiliki kepala Pteurodactyl di atasnya.

Video singkat ini hanya menyentuh sebagian kecil saja dari bukti-bukti fisik yang menunjukkan keberadaan Dinosaurus bersama-sama manusia. Dan di akhir video, akan diberikan referensi jika Anda mau menyelidiki lebih lanjut.
Sekarang setelah kita melihat sejarah, mari kita melihat masa kini dan bukti-bukti yang dapat diperiksa tentang Dinosarus yang mungkin masih hidup sampai saat ini. Jika ada dinosaurus yang masih hidup dan selalu hidup bersama manusia, ini berarti para ahli sains modern telah membuat kesalahan serius terkait tafsiran mereka atas data geologis dan paleologis. Ini juga berarti membuang kepercayaan yang selama ini dipegang teguh bahwa Dinosaurus telah lenyap 65 miliar tahun lalu ketika komet menghantam bumi.

Jadi apa yang sesungguhnya terjadi dengan Dinosaurus? Banyak orang terpelajar, termasuk orang muda, percaya bahwa kisah Alkitab tentang Air Bah berbicara tentang iman mereka. Alkitab mengatakan bahwa Nuh memasukkan dua dari setiap jenis hewan. Jika itu benar, maka Nuh juga mengikutsertakan Dinosaurus muda yang berukuran lebih kecil daripada sesamanya yang dewasa.

Lingkungan sebelum Air Bah sangat berbeda dan membuka kemungkinan banyak binatang untuk hidup dengan umur yang panjang. Semua reptil berkembang dari masa mereka lahir hingga waktu matinya, beberapa reptil berusia 600 – 900 tahun, dan menjadi hewan yang sangat besar, yaitu Dinosaurus. Dinosaurus yang lebih muda berukuran lebih kecil. Adalah logis bagi Nuh untuk memasukkan hewan yang lebih muda karena beberapa alasan: (1). Mereka sedikit makan; (2). Tidur lebih banyak; (3). Menghasilkan kotoran lebih sedikit; dan (4). Setelah air bah, mereka memiliki rentang hidup lebih panjang untuk berkembang biak.

Semua kehidupan di atas muka bumi, kecuali yang ada di dalam bahtera, binasa dan terkubur di dalam lapisan-lapisan batu yang terbentuk akibat bencara Air Bah yang mendunia. Catatan-catatan fosil yang banyak, yang kita lihat secara konsisten di hampir seluruh belahan dunia hari ini, adalah bukti terjadinya Air Bah yang mendunia ini. Menariknya, ada lebih dari 500 legenda dan kisah tentang Air Bah di seluruh dunia. Setelah Air Bah, keluarga Nuh dan binatang-binatang yang selamat, mulai memenuhi bumi kembali. Banyak kali, Dinosaurus, sebagaimana dengan hewan-hewan lainnya, diburu hingga hampir punah. Banyak juga yang punah karena Zaman Es dan perubahan iklim yang ekstrim yang muncul setelah Air Bah. Ada banyak alasan mengapa Dinosaurus yang selamat, dibunuh oleh manusia: (1). Dinosaurus sering digambarkan mengerikan dan ganas kepada manusia; (2). Juga mereka diburu sebagai makanan; (3). Dan akhirnya, mereka telah diburu demi kehormatan dan kemuliaan dari manusia yang telah berhasil membunuh mahluk mengerikan.

Jadi yang kita temukan adalah mahluk yang sangat jarang dan binatang hampir punah, yang hampir dipunahkan oleh manusia dan terdesak oleh lingkungan pasca Air Bah. Adalah logis untuk mencari tempat dimana manusia sulit untuk menjangkaunya; hutan yang hampir sulit ditembus dan perairan yang dalam di seluruh dunia, menjadi tempat yang baik untuk memulai.

Salah satu Dinosaurus yang paling umum, yang kita temukan buktinya ada di zaman kita, adalah Pliosaurus atau Elasmosaurus, yaitu satu tipe Dinosaurus yang utamanya hidup di air. Adalah lebih sulit bagi manusia untuk memburu mahluk ini karena kemampuan mahluk ini untuk menghabiskan hampir seluruh waktunya di dalam air. Juga dipercaya bahwa mahluk ini, seperti juga mahluk reptil yang punah lainnya, adalah bukan kura-kura, buaya, atau cayman, membuat mereka makin elusive.

Banyak kisah-kisah tercatat tentang orang yang melihat atau mengalami perjumpaan singkat dengan semacam Dinosaurus yang hidup di air. Tiga yang paling umum di negara-negara berbahasa Inggris adalah: (1). Monster Loch Ness; (2). Monster Danau, Ogopogo; dan (3). Monster Danau Champlain.

Monster Danau Champlain atau biasa disebut Champ, secara teratur dilihat di perairan Danau Champlain di York bagian atas. Kemungkinan ini bukan hanya satu mahluk, melainkan banyak mahluk yang berasal dari satu species, yang hidup di dalam perairan danau. Danau Champlain adalah danau Geisler yang sangat besar, yang memiliki kedalaman 400 kaki di beberapa tempat.

Ribuan orang, mundur ke zaman orang-orang Indian, Abunaki, mengklaim telah melihat mahluk-mahluk ini. Penampakan tercatat pertama yang dilaporkan, terjadi ketika Samuel de Champlain datang ke danau ini pada Juli 1609. Di sepanjang ekspedisi/penjelajahan, penjelajah Perancis ini menulis dalam buku hariannya kata-kata berikut ini: Seekor ular naga sepanjang 20 kaki, dengan sebuah kepala berbentuk kuda, dan tubuh yang sekurus a keg (?).

Perjumpaan dengan Champ yang terkenal terjadi 1977 oleh seorang wanita bernama Sandi Mansi dan keluarganya. Ia mengambil foto ini dan melihat mahluk ini selama lebih dari 10 menit. Dalam wawancara ia berkata, “Aku tahu bahwa yang kulihat adalah Dinosaurus!”

Seorang pria bernama Dr. James Miller dari Northfolks, New Yorks, adalah seorang sersan di Angkatan Udara Amerika, bermarkas di Markas Angkatan Udara Placebhorough, di Musim Panas tahun 1983. Ia dan tiga temannya menaiki kano di atas Danau Champlain ketika mereka melihat Champ. Mereka berkata, “Mahluk itu seperti seekor naga raksasa, bergerak naik dan turun, bukan dari sisi ke sisi seperti ikan. Ukurannya sepertinya lebih dari 30 kaki panjangnya.” Mereka melihat mahluk itu lebih dari 15 menit.

Danau Okenagon, danau sepanjang 80 mil di sebelah selatan Orantio Tengah, British Colombia, adalah rumah dari mahluk yang telah dinamai sebagai Ogopogo oleh masyarakat lokal. Catatan tentang keberadaan Ogopogo kembali ke tahun 1972 dan telah dilaporkan telah dilihat secara rutin sampai saat ini. Mahluk ini digambarkan 1 atau dua kaki diameternya, dengan panjang 15 – 20 kaki, kepalanya telah digambarkan seperti kuda ataupun kambing.

Habitat yang tinggal di area, termasuk di dalamnya orang Indian dan pemukim Inggris, keduanya telah berjumpa Ogopogo. Dan dicatat bahwa para pemukim bersenjata berpatroli di sepanjang pantai untuk mencegah adanya serangan dari mahluk itu. Pada tanggan 16 September 1947, Ogopogo dilihat oleh orang-orang dengan lebih dari 30 kendaraan di sepanjang pantai Ockenagen. Mahluk ini digambarkan memiliki tubuh yang panjang, 30 kaki panjangnya, tidak banyak mahluk seperti ini dapat dilihat sejumlah besar orang pada waktu yang bersamaan. Pada 17 Juli 1959, sekelompok orang melihat mahluk luarbiasa dengan kepala seperti ular dan hidung berdarah, berenang sekitar 200 kaki dari kapal motor mereka di Danau Ockenagen. Kelompok itu melihat mahluk itu selama lebih dari tiga menit, dimana setelah itu mahluk itu menyelam.

Loch Ness yang adalah sebuah danau di Skotlandia, adalah rumah dari monster Loch Ness. Telah ada ribuan penampakan di dalam air maupun di luar air selama lebih dari beberapa ratus tahun ini. Beberapa dari penampakan ini merupakan perjumpaan yang sangat dekat. Daftar dari orang-orang bereputasi yang telah menjadi saksi mata, mendekati ratusan, termasuk di dalamnya, dokter, pengacara, ilmuwan, petani, rohaniwan, dan banyak orang seperti Anda dan saya. Orang-orang ini, banyak diantaranya telah bersumpah bahwa mereka berkata benar atas apa yang mereka katakan, semua berkata bahwa mereka telah melihat mahluk yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya, dan banyak yang berkata bahwa wujud mahluk itu mirip Plesiosaurus. Untuk mempelajari lebih dalam tentang Dinosaurus Loch Ness, website http://www.nessie.co.uk adalah yang terbaik, website ini memiliki catatan ratusan saksi mata dan informasi untuk melanjutkan pencarian, untuk secara positif mengidentifikasi mahluk ini.

Danau Erie, telah menjadi rumah dari sejumlah penampakkan mahluk-mahluk aneh dan tak dikenal. Mahluk kecil ini ditemukan mati di sepanjang pantai Danau Erie oleh Taxodermis bernama Pete Peterson … Ohio. Panjang mahluk ini tiga kaki, punya empat sirip, kepala kecil, dan leher yang panjang. Pete mengambil mahluk itu dan mengawetkannya. Mahluk itu nampaknya adalah seekor bayi Plesiosaurus.

Pada tahun 1925, mahluk ini terlihat di pantai Kalifornia. E. I. Wallace, Presiden Masyarakat Sejarah Alam di British Colombia mengatakan, “Pemeriksaanku atas monster ini cukup menyeluruh. Mahluk itu tidak mempunyai gigi, memiliki kepala yang besar dan panjang seluruh lehernya 20 kaki…. Saya akan menyebutnya semacam Plesiosaurus.”

Saksi lainnya, Hakim W.R. Springer dari Santa Cruz merasa bahwa mahluk ini berasal dari masa prasejarah. Dia menambahkan ke atas pengamatannya, “…bukti dua kaki-kaki pendek atau sirip-sirip, dan mungkin menyelam dengan kepalanya terletak tinggi di atas air.”

Di sepanjang tahun 1930 – 1940-an, mahluk semacam ini banyak kali dilihat oleh para nelayan penangkap Sarden dari Monterey, dengan satu peristiwa disaksikan oleh krew satu kapal berisi 12 orang. Telah ada ribuan penampakkan yang terkonfirmasi dari mahluk-mahluk besar dengan leher panjang seperti ular, dari Amerika Serikat, Kanada, Skotlandia, Rusia, Norwegia, Kanal Inggris, Brazil, Jepang, Cina, dan Swedia. Beberapa mahluk mati yang tak dikenal dengan gambaran yang mirip telah ditemukan. Orang-orang skeptis membuat dalih atas penampakkan-penampakkan semacam itu, namun bukti-buktinya tetap tinggal. Jumlah yang besar dan juga kesaksian yang valid dari orang-orang yang bereputasi membuat penampakkan-penampakkan ini sulit disangkali.

Ditemukan di kedalaman hutan di Kongo, Afrika, adalah rawa terbesar di dunia, Danau rawa Wallace dengan luas ukuran 55.000 mil persegi. Ini memberitahukan kepada Anda betapa besarnya rawa ini. Sebanyak 80 % dari danau ini belum terjelajahi.

Sangat sedikit orang beradab memasuki rawa ini karena kondisinya yang keras. Namun suku-suku asli yang hidup di sekitar rawa mengatakan, bahwa ada beberapa mahluk yang hidup di danau itu, yang nampaknya seperti Dinosaurus hidup. Ketika mereka ditunjukkan gambar beberapa dinosaurus berbeda, mereka mengenali tanpa ragu Apatosaurus dan Triceratops, sebagai mahluk yang telah mereka lihat di rawa.

Apatosaurus yang telah dikenali oleh orang-orang asli ini disebut sebagai Mokele-Embembe. Suku-suku itu mengatakan bahwa mahluk itu kebanyakan terlihat di rawa dan terlihat sangat awal di pagi hari. Mokele-Embembe digambarkan sangat bersifat teroterial. Orang-orang asli ini tidak menyukai perjumpaan dengan mahluk ini, namun mereka mengatakan bahwa mereka pernah membunuh seekor Mokele-Embembe sebelumnya.

Kriptobiologis, Juan Markel, telah menjelajahi beberapa bagian dari Rawa Afrika dan telah menulis satu buku berjudul “Dinosaurus yang Masih Hidup.” Buku ini mencatat detil perjumpaan rutin yang orang-orang asli alami dengan Mokele-Embembe dan pencarian akan bukti keberadaannya. Mahluk ini telah dilihat oleh banyak orang, termasuk orang-orang asli Afrika, penjelajah dari Amerika Serikat, ahli Biologis dari Afrika, dan pejabat resmi pemerintah dari Republik Kongo. Sayangnya karena kerasnya lingkungan dan rawa yang luas, tidak ada foto dengan kualitas yang baik dapat diambil atas mahluk itu. Di sekitar area yang sama dari Kongo, orang-orang memberitahukan tentang mahluk bernama N’Goubou. Ketika orang-orang asli ditunjukkan gambar-gambar Dinosaurus, mereka mengenali mahluk yang mirip dengan Triceratops dan Terakosaurus. Mahluk itu digambarkan memiliki enam tanduk dan diketahui telah membunuh gajah dengan itu.

Menyeberangi bola bumi ke Amerika Selatan, Dinosaurus mirip Mokele-Embembe telah dilihat. Selama kira-kira 200 tahun, telah dilaporkan tentang orang-orang melihat mahluk reptil yang mirip seperti Dinosaurus yang telah punah yang ada dalam buku-buku teks.

Tahun 1907, Kolonel Piercie Fawcett dari Angkatan Bersenjata Inggris diutus ke perbatasan air antara Brazil dan Peru. Kolonel Fawcett adalah petugas Insinyur Kerajaan dan dikenal sebagai pencatat fakta yang meticilous. Menyusuri rawa-rawa, Kolonel Fawcett melihat mahluk yang ia percaya sebagai Diplodicus. Ia juga mencatat adanya kisah-kisah tentang mahluk yang mirip Dinosaurus Diplodicus dikonfirmasi oleh banyak suku.

Pterodactyl, reptil terbang yang dikira telah punah lebih dari 65 juta tahun lalu, dilihat di banyak bagian dunia sekarang ini dan beberapa waktu lalu. Banyak laporan yang dapat dipercaya telah dilaporkan sepanjang 200 tahun terakhir. Dari Santo Antonia, Texas, ke Amerika Selatan dan Hutan Hujan Amazon, hingga Pulau Papua Nugini, orang masih sering melihat reptil bersayap ini. Mahluk ini memiliki beragam nama di tempat-tempat yang berbeda di seluruh penjuru dunia. Di Papua Nugini, ada tiga spesies yang dikenal, yaitu Ropen, Indava, dan Seki-Bali, dan di Kongo disebut Kongomato. Mahluk ini jarang dilihat pada siang hari. Ini sudah dikonfirmasi di seluruh penjuru dunia. Bagaimana pun masih ada beberapa penampakkan yang muncul sampai hari ini.

Ropen di Papua Nugini, sering dilihat oleh orang-orang asli. Mereka melihat bahwa mahluk itu seperti reptil terbang tanpa bulu. Ketika diperlihatkan gambar-gambar burung dan dinosaurus yang berbeda, mereka mengenali Ropen sangat mirip dengan Pteurodactyl. Orang-orang di Nugini mengatakan bahwa Ropen adalah reptil terbang…. (?) Bersinar seperti memiliki semacam sumber kehadiran bakteri bioiluminescene…. (?)

Di Afrika Selatan dan Ethiopia, orang-orang asli menggambarkan satu mahluk seperti yang ada di Papua Nugini. Mereka menyebut mahluk itu Kongamoto. Mahluk itu sering terlihat di hutan Afrika Selatan; mereka digambarkan tanpa bulu…. (?)

Salah satu catatan dari tahun 1923 dari Frank H. Melland, seorang penjelajah dan pengarang, mengatakan bahwa ia mengkoleksi laporan dari orang-orang asli tentang reptil terbang yang agresif yang mereka sebut Kongomoto. Ia mengatakan bahwa orang-orang asli seringkali terluka oleh mahluk-mahluk ini dan mereka menggambar mahluk itu tanpa bulu dengan kulit yang licin, punya gigi besar, dengan panjang rentang sayapnya antara empat hingga tujuh kaki. Ketika mereka ditunjukkan gambar Pteurosaurus, H. Melland melaporkan, “setiap suku yang hadir dengan segera dan tanpa ragu mengambil dan mengenalinya sebagai Kongamato….”

Catatan lain diberikan oleh warga Montana, Duane Hodgkinson, Bapak Hodgkinson ada dalam kesatuan tentara pada tahun 1944 dan ditempatkan di Nugini. Sementara berada di jalur di desa lokal, seorang teman, seorang penduduk lokal, dan Bapak Hodgkinson mengamati seekor Pteurodactyl yang sangat besar beranjak terbang dari tanah dan terbang ke udara. Bapak Hodgkinson menyatakan bahwa ia tahu bahwa yang ia lihat adalah Pteurosaurus dan berikut ini adalah sketsa kasar tentang apa yang katanya ia lihat. Kisah kesaksiannya dapat dilihat secara online di Youtube.com.

Pada tahun 1971, Psychologist Australia, Brian Henesy, ada di Papua Nugini. Ia mengatakan bahwa ia dan orang yang bersamanya melihat satu mahluk besar yang terbang yang dari penampakkannya kelihatan berasal dari prasejarah. Ia menggambarkan mahluk itu: Tanpa bulu, warna hitam dan coklat gelap, dengan rentang sayap sekitar enam kaki. Ia juga mengatakan bahwa mahluk itu juga memiliki ekor yang sangat panjang. Banyak catatan saksi mata diberikan oleh banyak orang dari Afrika dan Nugini. Namun ada juga catatan saksi mata dari orang di seluruh penjuru dunia, yang telah melihat mahluk terbang yang sangat besar seperti Pteurosaurus.

Negara-negara Bagian di Amerika Serikat dimana kesaksian-kesaksian yang dapat dipercaya ini berasal, adalah termasuk di dalamnya dari: Alaska, Texas, Kalifornia, Karolina Selatan, dan Negara Bagian Washington. Koran di Negara Bagian Texas, San Antonio Light, melaporkan pada tanggal 26 Februari 1976, tiga orang guru sekolah lokal berkendara menuju tempat kerja melewati jalan yang terpencil menuju ke sebelah Selatan Kota pada tanggal 24 Februari, ketika mereka melihat seekor burung yang menakjubkan terbang rendah di atas mobil di jalan. Mereka melaporkan bahwa rentang sayap burung itu adalah 15 – 20 kaki, dengan sayap tanpa bulu. Setelah insiden ini, para guru yang terlibat, semuanya mengenali mahluk yang mereka lihat sebagai Pteurodactyl.

Para skeptis berdalih tentang penglihatan ini dengan penjelasan bahwa para saksi hanya melihat kelelawar buah raksasa. Masalah dari argumen ini adalah bahwa kelelawar buah raksasa atau rubah terbang tidak cocok dengan gambaran yang diberikan oleh kebanyakan para saksi. Gambaran umum yang diberikan tidaklah seperti kelelawar buah raksasa, diantaranya: Sebuah kepala seperti Pteurodactyl, ekor yang sangat panjang, kepakan sayap yang sangat pelan dibandingkan kelelawar, perut yang bercahaya, dan di dalam banyak kasus, ukuran tubuh yang lebih besar daripada kelelawar buah raksasa. Kelelawar buah raksasa, bergantung terbalik, sedangkan Ropen, menurut keterangan saksi mata, duduk dengan posisi tegak ketika hingga di pepohonan. Juga Pterosaurus ini ditemukan di daerah dimana kelelawar buah raksasa tidak ditemukan.

Contoh-contoh dan kesaksian-kesaksian yang telah diberikan disini adalah hanya fakta; satu ringkasan singat bukti-bukti bahwa mereka ada. Di akhir video ini, Anda akan diberikan daftar rujukan, termasuk buku-buku dan website, untuk Anda belajar lebih jika Anda menghendaki. Jika Anda melakukan riset Anda, Anda akan sampai pada kesimpulan Anda sendiri, dan membuat keputusan penting tentang apa yang Anda percaya; tentang dunia; tentang sejarah; tentang masa depan; dan tentang bagaimana Anda mencocokkan diri Anda dengan itu semua.

Jadi mungkin sekarang Anda akan bertanya kepada diri Anda sendiri: Bagaimana ini mungkin? Ini tidak cocok dengan apa yang kupelajari tentang Dinosaurus dalam sejarah. Dinosaurus harusnya sudah punah jutaan tahun lalu. Bagaimana mereka selamat? Mengapa bahkan ini menjadi persoalan?

Alkitab memberikan penjelasan sederhana dan rasional tentang semua pertanyaan ini, dan bahkan jawaban dari semua pertanyaan yang Anda mungkin miliki. Anda bertanya: Dapatkah Alkitab Dipercaya? Ini beberapa fakta tentang dapat dipercayainya Alkitab. Tidak ada dokumen-dokumen kuno lain yang mendekati Alkitab dalam memberikan bukti-bukti pendukung total di dalam keakuratan dan dapat dipercayainya, dalam hal penerusan informasi yang terkandung di dalamnya. Ada lebih dari 24.000 manuskrip kuno dari Perjanjian Baru yang ada saat ini. Perjanjian Lama yang juga disebut Taurat, telah lulus melintasi zaman juga. Dengan ditemukannya Naskah-naskah Laut Mati pada tahun 1947, ditemukan sekali untuk selamanya bahwa Taurat telah diterjemahkan dengan keakuratan melintasi zaman demi zaman.

Manuskrip ini menunjukkan bahwa penyalinan Alkitab melewati proses yang sangat hati-hati dalam penyalinannya dalam bahasa-bahasa kuno. Tidak ada sarjana yang kesulitan untuk mempercayai Novelnya Homer berjudul Iliad yang hanya memiliki 643 manuskrip pendukung, dimana salinan tertua yang ditemukan berusia 500 tahun setelah Homer mengerjakan naskah aslinya.

Hanya ada tujuh manuskrip dari karya Plato yang tinggal sampai hari ini. Namun tidak sarjana yang kesulitan untuk mempercayai ketujuh manuskrip ini atas keotentikan dan dapat dipercayainya, meskipun salinan tertua yang ada berusia 1000 tahun setelah naskah yang asli ditulis oleh Plato.

Dua sejarawan yang tulisannya diterima sebagai fakta adalah Herodotus dan Thucydides. Delapan Tulisan yang ada, adalah salinan demi salinan dan naskah tertuanya disalin 3000 tahun setelah yang asli, namun tidak ada seorang pun yang bermasalah untuk mempercayai manuskrip yang mereka tulis.

Coba pikirkan! Dua puluh empat ribu manuskrip Alkitab, di banyak tempat berbeda, selamat selama berabad-abad, itu dibandingkan. Karenanya Alkitab telah dengan akurat disalin dan diteruskan dari abad ke abad. Anda mungkin bertanya: Apakah semua salinan akurat ini berisi informasi faktual? Apakah yang ditulis di Alkitab sungguh-sungguh terjadi? Apakah tokoh dan tempat yang ada itu nyata? Lagipula, Novel Illiad-nya Homer hanyalah fabel, bagaimana dengan Alkitab?

Seorang arkeolog Yahudi bernama Nelson Glueck pernah berkata, “secara kategoris dapat dinyatakan bahwa tidak ada penemuan arkeologis yang pernah bertentangan dengan rujukan Alkitab. Sejumlah penemuan arkeologis telah dilakukan yang meneguhkan di dalam satu garis besar yang jelas atau detil yang tepat tentang pernyataan-pernyataan sejarah di Alkitab.”

Banyak kali, para pengkritik Alkitab telah menunjukkan kelemahan-kelemahan Alkitab, hanya penemuan-penemuan Arkeologi yang terkemudian, menyingkirkan argumen-argumen para pengkritik itu. Alkitab telah diteguhkan secara literal dengan ratusan penemuan, kalau bukan ribuan, artefak-artefak temuan dan penemuan-penemuan arkeologis. Banyaknya artefak dapat dibuat menjadi beberapa video yang panjang. Berikut ini beberapa diantaranya: Kubur Kayafas, Imam Besar, telah ditemukan oleh para pekerja yang membangun jalan, di sebelah Selatan Kota Suci, Yerusalem. Kayafas adalah Imam Besar yang menyerahkan Yesus kepada orang Romawi dan yang menganiaya gereja mula-mula. Dia disebut beberapa kali di Perjanjian Baru dan juga di Buku Sejarah Yosephus, yang disebut Antiquities.

Makam dari Raja Kores yang Agung disebut di dalam Kitab Yesaya, 2 Tawarikh, dan Ezra, telah ditemukan di Iran, diluar sebuah Kota Kuno. Selama lebih dari 50 tokoh menonjol yang disebut di Perjanjian Lama, diketahui di luar Alkitab, dari beberapa catatan. Dan 27 orang dari Perjanjian Baru, diketahui dari beberapa catatan lain.

Patung atau gambaran tentang 12 tokoh Perjanjian Lama telah ditemukan, termasuk di antaranya: Relief Shishak, Raja Mesir yang plunder Bait Suci di Kitab 1 Raja-raja; Yehu, Raja Israel, di Kitab 2 Raja-raja 9; Hazael, Raja Aram, musuh Israel, dari Kitab 1 Raj.19; Raja Ahasyweros I, Raja Persia, yang menjadi karakter kunci dari Kitab Ester; dan Sargon II, Raja Siria, disebut dalam Kitab 2 Raja-raja.

Beberapa struktur bangunan yang disebut di Alkitab, telah ditemukan dan digali juga. Beberapa diantaranya, termasuk: Istana Nebukadnezar di Babel, yang dapat ditemukan sekarang ini di Irak; Istana Raja di Samaria dimana raja Israel pernah hidup, disebut dalam Kitab 1 Raj.; Kolam Siloam di Yerusalem, dimana Yesus menyembuhkan orang buta; yang juga tidak pernah hilang adalah sumur Yakub, banyak disebut di Injil Yohanes, beberapa kali dalam sejarah, bangunan gereja dibangun di atasnya, lalu kemudian dihancurkan oleh negara-negara yang menyerang. Sekarang ini, Gereja Ortodoks Yunani telah membangun ruang doa dengan sumur itu di dalamnya.

Jadi untuk menjawab pertanyaan: Apakah orang-orang di Alkitab, tempat, dan peristiwa2 dapat dipercaya? Mari saya kutip perkataan Dr. Clifford Wilson, dahulu ketua Institut Arkeologi Australia, yang mengatakan, “Saya tahu tidak ada penemuan Arkeologi yang secara layak meneguhkan, yang berada bertentangan dengan Alkitab. Alkitab adalah buku teks sejarah paling akurat yang dunia pernah liat.”

Sir William Ramsay, Arkeolog terkenal dan seorang skeptik yang mengubah pandangannya tentang dapat dipercayanya Alkitab, setelah bekerja secara ekstensif di Timur Tengah, “Aku menetapkan diri untuk mencari kebenaran di negeri-negeri perbatasan dimana Yunani dan Asia bertemu, dan menjumpainya disana. Anda dapat meringkaskan tulisan-tulisan Lukas di dalam satu derajat yang melampaui para sejarawan manapun, dan tulisan-tulisan itu tetap bertahan terhadap the keenest scrutiny dan terhadap perlakukan yang keras.”

Dan akhirnya, William F. Albright, Arkeologis terkenal dunia, yang meneguhkan keaslian naskah-naskah Laut Mati, mengikuti hasil penelitiannya, berkata, “para pembaca dapat tinggal tenang dalam keyakinan bahwa tidak ada satu pun dari hasil penemuan para arkeolog dapat menggangu iman yang bertanggungjawab miliknya dan tidak ada hasil penelitian yang dapat membatalkan satu saja doktrin teologis Alkitab,Alkitab dapat bertahan untuk dirinya sendiri.”

Ya, Alkitab dapat bertahan untuk dirinya sendiri. Jadi sekarang, mari kita melihat bukti dari Alkitab tentang Dinosaurus dari catatan sejarah Alkitab. Pertama-tama, satu latarbelakang singkat tentang Penciptaan dan AIR BAH itu penting. Untuk memahami mengapakah Dinosaurus dan manusia senantiasa hidup bersama, dan mengapa kita menemukan hal-hal di bawah tanah seperti fosil, tambang, dan minyak.

Kejadian pasal 1 di Alkitab memberitahukan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu yang ada. Ini adalah penciptaan istimewa yang Allah tunjukkan dalam enam hari pada sekitar 6000 tahun lalu. Alkitab mengatakan bahwa Allah membuat segala sesuatunya dan sungguh amat baik (Kej.1:31). Ciptaan ini termasuk di dalamnya adalah manusia dan Dinosaurus.

Bumi sangat berbeda pada awalnya, dan telah diciptakan sempurna. Setelah beberapa waktu, manusia pertama, Adam dan Hawa, melanggar aturan yang telah Allah tetapkan untuk mereka patuhi. Ini menimbulkan perpisahan antara Allah dan manusia. Adam dan isterinya diusir dari Taman Eden, dan tubuhnya yang sempurna takluk kepada kematian, sakit penyakit, dan lingkungan keras di luar taman yang sempurna yang dahulu mereka diami. Selama lebih dari periode 2000 tahun, dunia ditinggali, dan derajat moral manusia menjadi sangat rendah. Dan bumi penuh dengan kekerasan, bahkan, Alkitab mencatat bahwa ada satu orang benar saja yang tertinggal, namanya adalah Nuh.

Alkitab mengatakan bahwa Allah turun menemui Nuh dan memberitahukan bahwa kehidupan di dunia akan dilenyapkan, karena kejahatan manusia. Allah memberikan Nuh instruksi untuk membuat satu bahtera yang sangat besar, untuk menyelamatkan dirinya dan keluarganya. Instruksi Allah termasuk perintah bahwa Nuh akan bertanggungjawab untuk membawa dua ekor dari setiap jenis hewan ke atas Bahtera. Supaya setelah Air Bah, hewan-hewan itu dan keluarga Nuh dapat mengisi kembali bumi. Jadi sekitar 4000 tahun lalu, Allah menghadirkan Air Bah ke atas bumi, dan menghancurkan kehidupan yang ada di atas bumi, kecuali nyawa mereka yang tetap ada di dalam Bahtera, yang Allah perintahkan untuk dibangun. Banjir ini meliputi seluruh bumi, dan negeri yang memiliki kehidupan yang tidak ada di dalam Bahtera terkubur di dalam Air Bah dan terkubur ke dalam lapisan batu yang tertinggal setelah Air Bah. Material organik inilah yang menghasilkan fosil, minyak, dan simpanan tambang yang kita temukan di bawah bumi saat ini.

Adalah menarik diketahui bahwa ada hampir 500 kebudayaan memiliki legenda tentang satu banjir besar yang mendunia, dimana hanya ada satu keluarga selamat. Alkitab mengatakan bahwa setelah Air Bah, baik manusia dan binatang mulai kembali mengisi bumi, dan mereka pun berkembang biang meliputi bumi, hewan-hewan termasuk Dinosaurus yang telah Nuh bawa di dalam bahtera kembali mengisi bumi dan bermigrasi juga.

Seperti dijelaskan sebelumnya, catatan sejarah dipenuhi kisah-kisah manusia memburu naga, naga mengerikan, dan mahluk-mahluk seperti reptile lainnya. Dengan latarbelakang ini, mari kita lihat pada lebih dari 35 rujukan yang Alkitab berikan terkait Dinosaurus.

Alkitab menggambarkan enam hewan berbeda. Yeremia 51:34 (King James Version = KJV), “Aku dimakan habis, dihamburkan oleh Nebukadnezar, raja Babel, diletakkan seperti mangkuk yang kosong. Ia menelan aku seperti ular naga, ia memenuhi perutnya dengan pengananku yang enak-enak, ia membuangkan aku.” Dan dari Mikha 1:8, “Karena inilah aku hendak berkeluh kesah dan meratap, hendak berjalan dengan tidak berkasut dan telanjang, hendak melolong seperti serigala (KJV = naga-naga) dan meraung seperti burung unta.”

Ada dua rujukan untuk naga terbang di Alkitab, yaitu Yesaya 14:29 (KJV), “Janganlah bersukaria, hai segenap Filistea, karena walaupun gada orang yang memukul engkau sudah patah, tetapi dari keturunan ular itu akan keluar ular beludak, dan anaknya akan menjadi ular naga terbang.” Dan Yesaya 30:6 (KJV), “Ucapan ilahi tentang binatang-binatang di Tanah Negeb. Melalui suatu negeri yang penuh kesesakan dan kesempitan, tempat singa betina dan singa jantan yang mengaum, tempat ular beludak dan ular naga terbang.” Perhatikan, disini dibedakan antara ular beludak, yang adalah ular yang berbisa dan naga terbang yang mengerikan, semacam reptil mengerikan yang punya kemampuan terbang.

Lima kali naga terbang disebutkan di dalam Alkitab. Dua rujukan adalah pada Bilangan 21:6 dan Ulangan 8:15. Bilangan 21:6, “Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung (KJV = ular naga mengerikan) ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati.” Ulangan 8:15, “dan yang memimpin engkau melalui padang gurun yang besar dan dahsyat itu, dengan ular-ular yang ganas (KJV = ular naga mengerikan) serta kalajengkingnya dan tanahnya yang gersang, yang tidak ada air.”

Lewiatan, yang disebutkan empat kali di Alkitab, nampaknya adalah mahluk yang sangat besar dan mengerikan, yang kemungkinan tinggal di air. Ayub 41 (KJV) menyatakan tentang Lewiatan, “Dapatkah engkau menarik buaya (KJV = Lewiatan) dengan kail, atau mengimpit lidahnya dengan tali? (v.1). Orang yang nekatpun takkan berani membangkitkan marahnya (v.10 a). Siapa dapat membuka pintu moncongnya? Di sekeliling giginya ada kengerian. Punggungnya adalah perisai-perisai yang bersusun (v.14 – 15 a). Dari dalam mulutnya keluar suluh, dan berpancaran bunga api. Dari dalam lubang hidungnya mengepul uap bagaikan dari dalam belanga yang mendidih dan menggelegak isinya (v. 19 – 20). Tidak ada taranya di atas bumi (v.33).”

Alkitab versi King James menyebut tentang Cockatrice lima kali. Alkitab bahasa Inggris yang awal menggunakan kata Cockatrice yang diterjemahkan dari bahasa Ibrani. Kata Ibrani untuk Cockatrice berarti ular (viper) atau naga bertanduk, seperti halnya mahluk reptil yang jarang lainnya, kebanyakan mitologi mengembangkannya sejalan waktu.

Inilah yang Alkitab tentang Cockatrice. Yesaya 14:29, “Janganlah bersukaria, hai segenap Filistea, karena walaupun gada orang yang memukul engkau sudah patah, tetapi dari keturunan ular itu akan keluar ular beludak (KJV = cockatrice), dan anaknya akan menjadi ular naga terbang.” Yeremia 8:17 menyatakan, “Lihatlah, Aku melepaskan ke antaramu ular-ular beludak (KJV = cockatrice), yang tidak dapat dimanterai, yang akan memagut kamu, demikianlah firman TUHAN.”

Dan kata terakhir yang kita temukan merujuk pada Dinosaurus adalah Behemoth. Behemoth hanya disebutkan satu kali Alkitab, di dalam Kitab Ayub, yang ditulis kira-kira 350 tahun lalu. Gambaran yang diberikan disitu sangat detil, dan akan diperbandingkan dengan binatang yang telah kita ketahui, yang akan menyingkapkan satu hasil yang menarik.

Kitab Ayub adalah kitab tentang seorang pria yang baik dan saleh yang kehilangan segalanya, termasuk keluarganya, kesehatannya, dan semua harta miliknya, yang tertinggal yang ia miliki hanyalah hidupnya. Di dalam proses perenungannya atas semua yang terjadi atasnya, dan karena terganggu karena situasinya, ia mempertanyakan Allah tentang tujuan Allah dalam berurusan dengan Ayub. Allah menjawab Ayub dan bagian dari jawaban Allah kepada Ayub, kita menemukan pernyataan yang mengagumkan ini, Ayub 40:15, “Perhatikanlah kuda Nil (KJV = Behemoth), yang telah Kubuat seperti juga engkau. Ia makan rumput seperti lembu.” Kata Ibrani “Behemoth” berarti “Quadrepad besar” (binatang berkaki empat). Jadi ini adalah binatang yang sangat besar berkaki empat yang makan rumput seperti lembu.

Ayat itu berlanjut, Ayub 40:16, “Perhatikanlah tenaga di pinggangnya, kekuatan pada urat-urat perutnya!” Mahluk ini sangat kuat dan mempunyai perut yang besar. Beberapa sarjana mengatakan bahwa mahluk ini adalah gajah atau kuda nil, karena penggambaran yang seperti di atas. Mari kita melihat lebih dekat. Gajah punya perut yang besar, kuda nil punya perut yang besar, tapi Dinosaurus seperti Sauropods punya perut yang paling besar daripada semuanya.

Ayat itu berlanjut, Ayub 40:17, “Ia meregangkan ekornya seperti pohon aras, otot-otot pahanya berjalin-jalinan.” Banyak terjemahan Alkitab lain menulis, “Ia meregangkan ekornya seperti pohon Aras, otot-otot pahanya yang terjalin menjadi satu.” Sekarang bandingkanlah, apakah ini mirip pohon Aras? Bagaimana dengan ini? Tidak. Bahkan mendekati pun tidak. Tidak ada binatang yang sekarang ini ada di sekitar kita, memiliki ekor seperti pohon Aras. Sepertinya inilah mahluk-mahluk yang Allah lukiskan dalam Kitab Ayub, nah itu mirip pohon Aras.

Berikut sisa dari ayat-ayat itu, Ayub 40:18 – 19, “Tulang-tulangnya seperti pembuluh tembaga, kerangkanya seperti batang besi. Dia yang pertama dibuat Allah, makhluk yang diberi-Nya bersenjatakan pedang.” Ini terdengar seperti mahluk yang sangat besar; sangat kuat; yang adalah pemimpin dari semua mahluk Allah. Sauropods. Jadi disinilah, kembali kepada binatang sebelumnya, Gajah dan Kuda Nil, tidaklah nampak mendekati sebagai pemimpin mahluk-mahluk Allah.

Berikutnya dikatakan Ayub 40:20 – 22, “ya, bukit-bukit mengeluarkan hasil baginya, di mana binatang-binatang liar bermain-main. Di bawah tumbuhan teratai ia menderum, tersembunyi dalam gelagah dan paya. Tumbuhan-tumbuhan teratai menaungi dia dengan bayang-bayangnya, pohon-pohon gandarusa mengelilinginya.” Kedengarannya bahwa ia hidup di rawa-rawa, dimana petunjuknya ada di ayat 23, “Sesungguhnya, biarpun sungai sangat kuat arusnya, ia tidak gentar; ia tetap tenang, biarpun sungai Yordan meluap melanda mulutnya.”

Jadi disini kita memiliki: (1). Binatang yang sangat besar; (2). Yang Makan rumput seperti lembu; (3). Memiliki ekor yang besar seperti sebuah pohon Aras; (4). Hidup di rawa-rawa; dan yang begitu besar sehingga dapat menangkap air banyak dengan mulutnya. Tidak ada binatang lainnya lagi, yang cocok dengan penggambaran yang diberikan disini, kecuali Dinosaurus seperti Diplodocus atau Branchiosaurus.

Dalam video ini, kamu telah diperlihatkan bukti-bukti sejarah, arkeological, Alkitab, bahwa Dinosaurus selalu hidup dengan manusia. Ada banyak pertanyaan yang Anda miliki. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu ada di luar sana. Kita hanya perlu membuka mata kita, dan pergi mencarinya.

Nah, Alkitab mengatakan bahwa Nuh membangun bahtera untuk menyelamatkan keluarganya dari penghakiman yang akan datang. Nuh percaya kepada perkataan Allah tentang Air Bah yang akan datang dan karenanya membangun bahtera. Penghakiman pun tiba, dan sebagai hasil dari kekerasan dan kejahatan manusia, segala sesuatu dihancurkan, kecuali mereka yang ada di dalam bahtera.

Ada penghakiman lain yang sedang datang. Alkitab mengatakan dalam Ibrani 9:27, “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.” Dalam Wahyu pasal 20 (KJV) kita mendapatkan gambaran tentang penghakiman yang akan dialami seluruh manusia itu seperti apa, “Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya. Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu … dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya. Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api.” (v. 11 – 14).

Apakah Anda tahu bahwa nama Anda telah tertulis di dalam Kitab Kehidupan? Mari kita mencari tahu. Sepuluh perintah Allah, menjadi standar tentang dalam hal apa manusia akan dihakimi pada pengadilan terakhir. Mari kita memeriksanya sebentar.

Perintah keenam: Jangan membunuh. Pernahkan Anda membunuh seseorang? Tidak! Pernahkah Anda membenci seseorang? Tidakkah Anda mengetahui bahwa Alkitab berkata, “Siapa saja yang membenci Saudaranya berarti membunuhnya,” dan tidak ada pembunuh yang memiliki hidup kekal di dalam hidupnya.

Bagaimana dengan yang satu ini? Perintah ketujuh: Janganlah kamu berzinah. Yesus bahkan membuat ini lebih keras lagi dengan berkata, Matius 5:27 – 28, “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah! Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.”

Bagaimana dengan perintah kesembilan: Jangan bersumpah palsu. Ini artinya: Jangan berdusta. Apakah Anda tidak pernah berdusta, bahkan dengan apa yang disebut dusta putih? Ini yang lainnya, hukum kesembilan: Jangan mencuri. Apakah Anda tidak pernah mencuri sesuatu apapun?

Berikutnya enam perintah lainnya:
Perintah I: Jangan ada Allah lain di hadapanKu! Apakah Anda meletakkan sesuatu mendahului Allah?
Perintah II: Jangan membuat bagimu Patung! Patung adalah segala sesuatu yang Anda letakkan mendahului Allah yang sejati. Apakah Anda memiliki berhala atau melayani hal lain seperti uang, olahraga, televisi?
Perintah III: Jangan menyebut nama TUHAN Allahmu dengan sembarangan. Apakah Anda pernah menggunakan kata Allah untuk mengekspresikan kekesalan atau kemarahan?
Perintah IV: Ingatlah dan kuduskanlah Hari Sabat. Apakah Anda memelihara hari yang terpisah bagi Allah?
Perintah V: Hormatilah ayahmu dan ibumu. Apakah Anda mengenal orang yang telah melaksanakan ini secara sempurna?
Perintah ke X: Jangan Iri. Iri berarti dengan cemburu menginginkan apa yang menjadi milik oranglain.

Jika Allah menggunakan sepuluh perintah Allah di Alkitab untuk menghakimi Anda dan saya, dan setiap orang di atas planet ini, kita akan dinyatakan BERSALAH, dan nama kita tidak akan dicantumkan di dalam Kitab Kehidupan, dan pada penghakiman terakhir, kita akan dilemparkan ke dalam lautan api yang menyala. Alkitab mengatakan Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,” dan juga Roma 6:23, “Sebab upah dosa ialah maut….” Dalam Kitab Yesaya 53:6 a mengatakan, “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri….” Tidak ada seorang pun yang sempurna, dan karena itu, kita semua bersalah dan akan dihakimi sebagai orang berdosa, dan tidak bisa menemukan nama kita tertulis dalam Kitab Kehidupan.

Tapi tunggu, ada harapan. Sama seperti Tuhan memberikan kepada Nuh jalan untuk selamat dari penghakiman Air Bah, demikian juga Allah telah menyediakan bahtera penyelamatan bagi kita, untuk selamat dari hari Penghakiman. Alkitab menubuatkan kedatangan Sang Juruselamat yang akan menyelamatkan manusia dari penghakiman atas dosa yang kita semua sebetulnya layak terima. Ribuan tahun menuju ke depan, Allah berbicara kepada para nabinya, dan memberitahukan bahwa Ia akan mengirim Juruselamat, dan Juruselamat ini akan menderita, dan mati, dan membayar hukuman atas dosa yang layak kita terima. Dan setelah menderita dan mati bagi dosa, Ia akan bangkit dari kematian.

Juruselamat itu adalah Yesus Kristus, TUHAN, Dia sempurna dalam segala jalanNya, namun toh manusia membunuhNya. Yesus telah melakukan apa yang oranglain tidak dapat lakukan ketika Ia mati bagi Anda dan saya. Dia membayar harga untuk dosa-dosa kita, sehingga kita dapat mendapati nama kita tertulis dalam Kitab Kehidupan. Yesus berkata dalam Yohanes 14:6, “Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Ini dia, mari saya ulangi, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Kunci agar nama Anda tertulis dalam Kitab Kehidupan adalah Anda harus percaya. Nah, kata percaya ini bisa menjebak, karena itu biarkan saya menjelaskan. Percaya kepada sesuatu tidak hanya sekadar mengetahui dengan otak Anda bahwa sesuatu itu benar. Tidak! Percaya yang benar adalah sesuatu yang mengubah siapa Anda. Jika Anda percaya kepada Yesus, itu mengubah cara Anda hidup (2 Korintus 5:17, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang”). Kepercayaan kepada Yesus berarti bahwa Anda tahu dengan otak Anda bahwa Yesus mati bagi dosa Anda, dan kemudian Anda berbalik dari dosa-dosa Anda, dan berbalik kepada Allah di dalam kasih.

Banyak kali di Alkitab Yesus mendorong kita untuk percaya. Ia berkata, Yoh.11:25, “Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.” Yesus juga berkata, Yoh.12:46, “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.” Alkitab juga berkata, Kis.10:43, “Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.”

Ini adalah kabar baik. Kita yang dahulu terhilang dan berada dalam jalan kita menuju lautan api menyala, kini memiliki hidup kekal dengan percaya di dalam Yesus Kristus, Sang Juruselamat. Bertobatlah sekarang, percayalah bahwa Yesus telah mati bagi dosa-dosa Anda, bahwa Ia telah dikubur dan dibangkitkan dari kematian. Jika Anda melakukan ini, Alkitab mengatakan bahwa Anda akan menjadi ciptaan baru, sesuatu yang berbeda dari apa adanya Anda dahulu. Dikatakan juga bahwa Roh Kudus Allah memenuhi Anda, dan nama Anda tertulis di dalam Kitab Kehidupan. Seperti halnya Nuh selamat dari penghakiman Air Bah tidak seperti dunia, dengan mengarahkan diri kepada Firman Allah, dan masuk ke dalam bahtera, demikianlah Anda dan saya dapat selamat dari penghakiman yang akan datang kepada semua manusia, dengan mencari perlindungan kita di dalam Yesus Kristus. Inilah hari keselamatan itu. Bertobatlah dan percayalah.

(Terjemahan video ini disampaikan kembali oleh Ev. NT. Prasetyo, M. Div. dalam Ibadah Siswa SMA Negeri 2 Skanto, Kabupaten Keerom, 11 Mei 2012)

Klik Video disini:
Video Sejarah Terlarang, Naga, dan Dinosaurus

Categories: Tulisan | Tags: , , , , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

%d bloggers like this: