Refleksi tentang Kitab Bilangan


Saya melihat anugerah Tuhan dari bagaimana Allah mengorganisir Bangsa Israel (pasal 1 – 9). Disini nampak betapa Allah betul-betul mempersiapkan bangsa Israel untuk menjadi umat kepunyaanNya sendiri, dimana Allah ada di tengah-tengah mereka, di dalam kekudusan hidup umat. Organisasi Allah dalam hal penempatan perkemahan sukusuku di seputar Tabernakel, misalnya, betul-betul menunjukkan hasrat hati Allah untuk menjadi Allah umat yang senantiasa hadir di tengah-tengah umatNya, dimana umat itu memancarkan kehadiran Allah melalui kehidupan yang kudus; menjadi pertunjukkan yang nyata akan kemuliaan Allah, bagi bangsa-bangsa di sekitarnya.

Adanya catatan penghitungan laskar Israel saja menunjukkan anugerah Allah, betapa Tuhan telah memberkati bangsa ini berlipat kali ganda dalam hal pemenuhan janjiNya akan keturunan. Bangsa yang tadinya hampir dibinasakan anak laki-lakinya, kini memiliki pasukan laki-laki, yang menjadi pasukannya Allah, untuk berjalan secara terorganisir, dengan kehadiran Allah di tengah-tengah mereka, untuk menjadi sarana penghakiman Allah atas Kanaan. Mereka pun berjalan sebagai pasukan, menuju Kanaan; disiapkan untuk menjadi alat keadilan Tuhan! Kehadiran tiang awan di siang hari dan yang nampak seperti api di malam hari, menjadi pertunjukkan spektakuler dan menggetarkan dimana Allah sungguh-sungguh memimpin langkah demi langkah dari bangsa ini, menuju Tanah Perjanjian. Disini saya melihat betapa Allah betul-betul terlihat rindu sekali untuk menunjukkan kepada umatNya, keseriusan hatiNya untuk bisa ada di tengah-tengah umat, dan bersekutu dengan mereka; menjadi pemimpin yang terbukti berhasil dalam kehidupan umat. Allah tidak hanya berteori dengan menyuruh umat membuat Tabernakel untuk tempat kediamanNya, namun Allah sungguh-sungguh membuktikan secara spektakuler, pimpinanNya dalam perjalanan umat, baik di siang hari maupun di malam hari.

Allah yang bergerak sekehendak hatiNya; ditandai dengan tiang awan dan tiang yang nampak seperti api, menunjukkan betapa Allah beranugerah untuk secara cermat bergerak sesuai waktu yang dikehendaki dan diketahuiNya sendiri. Allah tidak tergesagesa; dan tidak berjalan terlalu cepat ataupun terlalu lambat. Allah berjalan bersama-sama dengan umat. Ia menunjukkan kepemimpinanNya secara detil berkaitan dengan waktu. Ia akan memerintahkan Israel berangkat dan Israel pun berangkat; di lain kesempatan Ia memerintahkan Israel berhenti dan Israel pun berhenti. Semua berjalan sesuai pimpinan Tuhan di dalam waktu. Betul-betul Allah menuntun Israel langkah demi langkah di dalam kesabaran, seperti seorang ayah atau ibu menuntun anak balitanya berjalan.

Bahkan Tuhan menunjukkan bagaimana agar para imam Allah dapat bekerja dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan umat, dan Allah mengaruniakan ucapan berkat (Bilangan 6:24 – 26) yang melalui imam, Allah memberkati umatNya. Bahkan ucapan berkat tersebut sampai zaman sekarang ini, masih sering terdengar diucapkan oleh Pendeta di akhir kebaktian, menjadi sebuah warisan rohani yang penting untuk umat Allah dari abad ke abad.

Melalui Kitab Bilangan ini saya juga belajar poin penting tentang bagaimana ujian demi ujian yang Allah ijinkan terjadi dalam kehidupan umat, semata-mata hadir demi menghasilkan ketaatan dalam diri umat. Di dalam Kitab Bilangan (dan juga Keluaran) saya melihat bagaimana tantangan demi tantangan hadir dalam kehidupan umat, dan sepuluh kali umat jatuh mencobai Tuhan dan melawan Tuhan. Namun adanya sepuluh kali tantangan ini, saya melihat adanya sepuluh kali peluang untuk umat menunjukkan ketaatan mereka kepada Allah; sesuatu yang gagal Israel wujudkan dalam pengiringan mereka kepada Tuhan.

Jadi, Allah tidak bosan-bosannya terus mengingatkan Israel melalui ujian-ujian iman yang ada! Dan Allah bahkan menunjukkan tanda-tanda ajaib demi menolong Israel melampaui setiap ujian yang ada. Tanda ajaib demi tanda ajaib yang memungkinkan umat untuk belajar semakin percaya, percaya, dan percaya kepada Allah.

Ini semua menunjukkan kemurahan Allah dalam menuntun umat untuk dapat belajar percaya kepadaNya. Di setiap langkah Israel, Tuhan memberikan tanda ajaib, sebagai wujud kemurahan hatiNya, demi agar Israel semakin terlatih untuk mengembangkan sikap berserah diri dan percaya kepada Allah sepenuhnya. Ketika Israel memberontak kepada Tuhan diwakili oleh kesepuluh pengintai, Allah masih berbelaskasihan menyertai umat itu berjalan melintasi padang belantara selama 40 tahun. Allah tidak serta merta membuang mereka. Padahal selayaknya seperti barang bekas yang tidak berfungsi sesuai rencana, Allah pantas sekali untuk mencampakkan Israel. Namun kepada bangsa yang gagal dan pecundang ini, Allah mau bersabar sekali lagi, menyertai mereka di padang belantara selama 40 tahun. Allah tidak meninggalkan mereka, walaupun tentu Ia tahu bahwa orang-orang yang seangkatan dengan Musa akan binasa habis di padang gurun.

Kepada umat yang tegar tengkuk dan berkali-kali menyakiti Allah ini, Allah masih saja mau berbelaskasihan melindungi mereka dari kemungkinan kutukan dari dukun, Bileam, yang dipesan Balak, Raja Moab. Dengan ajaib, Allah mengubah ucapan kutuk yang harusnya keluar menjadi ucapan berkat atas Israel. Padahal kalau dibandingkan dengan pemberontakan Israel yang tiada habis-habisnya, mestinya Allah biarkan saja memakai Bileam untuk sekali lagi menghukum habis umatNya. Namun disini kita melihat, betapa rencana keselamatan Allah tidak mungkin digagalkan bahkan oleh kejahatan manusia. Allah terlalu ingin untuk terus dan terus memberkati umatNya.

Allah rindu sekali umatNya hidup di dalam berkat Tuhan.Dan akhirnya, saya membaca anugerah Allah yang sangat besar melalui peristiwa ular tembaga. Sungguh suatu kisah yang menggugah saya, mengingat kelak ular tembaga di atas tiang ini menjadi gambaran dari apa yang akan dikerjakan Kristus di atas kayu salib. Betapa Kristus telah menjadi yang terhukum, yang dipakukan di kayu salib.

Pelajaran tentang Ular Tembaga betul-betul menunjukkan kepada kita betapa Allah menyediakan jalan keluar kepada umatNya, dan yang Ia tuntut hanyalah agar umat (dengan anugerah Allah) memandang dan percaya, kepada cara yang Tuhan sediakan untuk menyelamatkan mereka.

(Ditulis untuk memenuhi tugas matakuliah Grace in The Old Testament yang diajar oleh David L. Talley, Ph.D.).

 

 

About these ads
Categories: Uncategorized | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

%d bloggers like this: